Makalah Islami, Diskursus Kedudukan Hadis Sebagai SUmber Ajaran Islam

Advertisement

Diskursus Kedudukan Hadis Sebagai Sumber Ajaran Islam
Oleh: Abdullah Hanapi 

Pendahuluan

Mayoritas umat Islam menyepakati bahwa hadis adalah sumber ajaran kedua setelah al-Qur’an karena kedudukan dan fungsinya sebagai penafsir teks Qur’ani yang bersifat gamblang. Nampaknya rentan waktu yang begitu panjang dari masa Nabi hingga sekarang memunculkan sekelompok orang yang ingin berbeda anggapan mengubah mindset yang selama ini menjadi dogma normatif sebagaimana diyakini oleh kebanyakan, imbasnya para pemikir Muslim menghadapi banyak tantangan berulang terhadap gagasan Islam klasik

Gemuruh pemikiran didunia Muslim telah mendorong meluasnya pengujian kembali sumber-sumber klasik ideologi Islam. Karena orang Muslim telah berjuang untuk memelihara, menyesuaikan, dan mengaflikasikan kembali norma-norma sosial dalam menghadapi perubahan

Di Indonesia, pembarhauan Islam yang dimulai sejak abad ketujuh belas oleh ulama kosmopolitan mengembangkan wacana keagamaan yang urgen mengenai telaah hadis dan mencapai klimaksnya pada awal abad 20 dengan munculnya berbagai lembaga pendidikan agama dan dakwah yang didirikan oleh organisasi islam.

Fakta ini menunjukan bahwa refleksi untuk menjadikan hadis sebagai sumber ajaran Islam sangat dominan mewarnai kancah pemikiran hadis di indonesia dengan kemunculan fenomena kontroversial kalangan yang menggugatnya.

Makalah ini hadir mencoba menyelami seberapa dalam permukaan wacana yang berkembang dengan mengeksplorasi mengenai hadis sebagai sumber ajaran Islam.

Otoritas Hadis: Kedudukan Dan Fungsinya Dalam Islam

Hadis Nabi SAW, diyakini oleh mayoritas umat Islam sebagai bentuk ajaran yang paling nyata dan merupakan realisasi dari ajaran al-Qur’an al-Karim. Dalam hubungan antara keduanya hadis berfungsi sebagai penjelas al-Qur’an. Interpretasi terhadap petunjuk Allah ini diwujudkan dalam bentuk nyata dalam kehidupan Nabi, sabda, perilaku, dan sikapnya terhadap segala sesuatu, serta terkadang menjadi hukum tersendiri yang tidak ditemukan dalam al-Qur’an.

Diskursus Kedudukan Hadis dalam Islam

Kedudukan hadis tidak dapat dipisahkan dari peran Rasulullah SAW, Nabi sebagi sumber ajaran Islam dalam pandangan mayoritas umat Islam, berkaitan dengan ayat-ayat al-Qur’an yang berisi perintah untuk mentaati Nabi. Didalam al-Qur’an terdapat dua kata yang digunakan untuk menjelaskan keharusan mentaati Nabi yaitu taah dan ‘ittiba. Dua kata ini memiliki muatan makna yang sama yaitu patuh, tunduk, mengikuti dan mencontoh.[1]

Kedua, Rasulullah merupakan teladan yang baik bagi setiap Muslim 

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَة[2]ٌ

Ketiga, Rasulullah diutus untuk ditaati

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَوَلَّوْا عَنْهُ وَأَنْتُمْ تَسْمَعُونَ[3]

Keempat, Rasulullah berwenang menetapkan aturan, dan aturan yang Beliau tetapkan pada hakekatnya adalah wahyu Allah[4]

Dari penjelasan diatas maka jelaslah bahwa hadis menempati posisi yang sangat urgen dalam Islam, sedangkan fungsinya terhadap al-Qur’an merupakan fungsi yang tidak dapat dipisahkan. Mengikuti sunnah juga inti dari spiritualitas Islam, sebab Nabi adalah prototype dari manusia sempurna, kehidupan Nabi menjadi potret yang rincianya direnungkan oleh kaum Muslim sepanjang hidupnya. 

Hubungan Hadis Dengan Al-Qur’an

Hadis memiliki hubungan yang sangat erat dengan al-Qur’an karena memiliki beberapa fungsi terhadap al-Qur’an. Dengan mengutip pendapat ‘Abd al-Halim Mahmud, Quraish Shihab menyatakan bahwa ada dua fungsi hadis yang tidak diperselisihkan, yaitu bayan ta’kid (menggaris bawahi kembali apa yang ada dalam al-Qur’an atau menguatkanya) dan bayan tafsir (memperjelas, merinci, bahkan memperinci lahir ayat-ayat al-Qur’an). [5]

Quraish Shihab mengemukakan dua kelompok yang memiliki jawaban yang berbeda. Pertama, menerima dengan argumentasi bahwa banyak ayat-ayat al-Qur’an yang memberikan kewenangan kepada Nabi dan bahwa Beliau terjaga dari kesalahan dalam menetapkan syari’at. kedua menolak dengan alasan bahwa tiada hukum kecuali dari Allah dan Nabi pun merujuk kepada-Nya ketika menetapkan hukum. [6]

Diskursus Otoritas Hadis; Sarjana Muslim Indonesia Vs Orientalis

Sejak pertengahan abad kesembilan belas, para pemikir Muslim menghadapi banyak tantangan berulang terhadap gagasan Islam klasik pergolakan didunia Muslim telah mendorong meluasnya pengujian kembali sumber-sumber klasik hukum Islam. Karena orang Muslim telah berjuang untuk memelihara, menyesuaikan, dan mengaflikasikan kembali norma-norma sosial dan hukum dalam menghadapi perubahan.[7]

Pemikiran Muslim untuk kembali kepada sumber agamanya merupakan upaya umat Islam untuk menjadi modern tanpa harus sekuler, ketika sedang giat melakukan islamisasi ilmu, budaya, ekonomi hukum dan masyarakat tentu tidak bisa tidak harus merujuk kepada hadis dan sunah (tentu saja sesudah Al-Qur’An ), bahkan ketika merujuk kepada al-Qur’anpun harus melihat hadis sebagai sumber ajaran Islam kedua. dengan demikian sunah adalah penjelas sebagaian ayat dalam al-Qur’an yang mana sebagain ayat-ayatnya adalah dalam bentuk garis-garis besar.[8]

Menurut G.H.A Juynboll salah satu isu utama abad ini yaitu mengenai problematika keontentikan dan otoritas hadis.[9] Kedudukan otoritas Rasulullah SAW menjadi masalah penting bagi para pemikir keagamaan Muslim. Desakan untuk dilakukanya reformasi pada gilirannya menghasilkan tekanan untuk mengkaji kembali fondasi esensial kewenangan agama didalam Islam. Keprihatinan mengenai hadis Nabi SAW menjadi titik pusat dalam proses pengkajian kembali.[10]

Perseturuan Barat-Timur pada stadium awal merupakan murni kultural-Intelektual. kemudian berubah menjadi kontak fisik sebagai akibat reaksi inferior Barat terhadap superior Islam. Tragedi perang Salib yang berlangsung selama dua ratus tahun lebih menjadi bukti sejarah yang cukup transparan. Terkait dengan background Psiko-Historis inilah sejumlah institusi peradaban Barat lahir. Diantara institusi tersebut adalah apa yang populer dengan sebutan Orientalisme..

Pada awalnya Orientalis memfokuskan kegiatannya pada bidang studi keislaman, dan semakin semaraknya ekspedisi Barat kewilayah Timur, ladang garapannya beralih kepada studi berbagai Agama, adat istiadat serta budaya secara umum. Namun demikian mereka tetap menjadikan Islam sebagai pokok kajian utama.[11]

Menurut pemikir indonesia Syamsudin Arif, gugatan orientalis telah berhasil mempengaruhi pemikiran Islam. Maka munculah gerakan anti-hadis di pakistan, India, Mesir, dan Asia Tenggara(Indonesia). Pada 1906 sebuah gerakan yang menamakan dirinya sebagai ahl-Qur’an yang dipimpin oleh Abdullah Cakrawali menolak hadis secara keseluruhan dengan klaim bahwa al-Qur’an saja sudah cukup untuk menjelaskan semua perkara agama.[12]

Tidak sedikit dari kaum Orientalis yang melakukan kajian terhadap hadis Nabi, tetapi hanya J. Schacht dan Ignaz Goldziher yang lebih mengemuka. Hal ini berdasarkan kenyataan bahwa keduanya yang paling serius dalam mempelajari hadis dan pendapat keduanya menjadi pegangan bagi kalangan orientalis.[13]

Pokok-pokok fikiranya tentang hadis tertuang dalam bukunya yang mengatakan bahwa Muhammad sebagai Rasul, dia sekaligus bertindak sebagai pembuat hukum. Padahal yang demikian itu diluar wewenangnya sebagai penyampai (Rasul). Penetapan hukum ini juga dilakukan oleh Khalifah Rasyidin. Dalam penetapan hukum ini mereka tidak mengambil dari sumber hukum pertama (al-Qur’an), tetapi memproduk sendiri hukum masyarakat.[14]

Seputar Pro-Kontra Hadis/Sunnah di Indonesia

Tidak semua umat Islam di indonesia bisa menerima segala apa yang berasal dari Nabi sebagai sumber ajaran Islam. Menurut Ahmad Husnan dan Daud Rasyid mereka mengelompokan para pengingkar sunnah menjadi 3 kelompok, hal ini sejalan dengan penjelasan al-Syafi’i pada masanya terdapat beberapa kelompok yang mengingkari sunnah[15]. Mereka terbagi menjadi tiga kategori yaitu: (1) Golongan yang menolak seluruh Sunnah; (2) Golongan yang menolak sunnah kecuali sunnah itu memiliki kemiripan dengan petunjuk al-Qur’an; (3) golongan yang menolak sunnah yang ahad, dan menerima yang mutawatir.[16]

Pertama adalah kelompok yang menolak sunah keseluruhan atau secara mutlak. Di Indonesia yang memiliki pandangan seperti ini adalah kelompok yang dipimpin oleh Ir. M. Ircham Sutarto. Mereka menyebut diri mereka sebagai golongan qur’aniyyun, dan mengajarkan ajaran-ajaranya di Jawa barat, Tasikmalaya dan Jakarta.[17]

Kelompok kedua, kelompok ini menurut M Tasrif sebenarnya tidak sepenuhnya benar bila dikatakan sebagai kelompok yang menolak sunah, kelompok ini bisa dikatakan sebagai kelompok yang skeptis terhadap hadis-hadis yang tidak mencapai derajat yang meyakinkan perbedaanya dengan kelompok pendukung adalah hanya terletak pada perbedaan kriteria dalam melakukan kritik hadis.

Kelompok ketiga, kelompok ini di indonesia yang termasuk tokoh ini adalah Nur Hasan Ubaidah Lubis. Mereka berpendapat bahwa sebuah hadis bisa diterima bila sanadnya bersambung melalui guru atau Imam mereka.[18]

Pada masa Nabi (w. 632 H), umat Islam sepakat bahwa sunah merupakan salah satu sumber ajaran Islam disamping al-Qur’an belum atau tidak ada bukti sejarah yang menjelaskan bahwa pada zaman Nabi ada dari kalangan umat Islam yang menolak sunnah sebagai sumber ajaran Islam. Bahkan pada masa Khulafaur Rasyidin ( 632-661M) dan bani Umayyah( 661-750 M ), belum terlihat jelas adanya kalangan umat Islam yang menolak sunnah sebagai salah satu sumber ajaran Islam. Barulah pada awal masa Abasyiah (750-1258), muncul secara jelas sekelompok kecil umat Islam yang menolak sunnah. Mereka itu kemudian dikenal sebagai orang-orang yang berfaham inkar al-Sunnah dan munkir al-Sunnah.[19]

Sesudah zaman al-Syafi’i sampai saat ini, baik secara terselubung maupun terang-terangan mereka yang berfham inkar al-Sunnah, baik yang mereka ingkari itu seluruh sunnah ataupun sebagianya saja, muncul diberbagai tempat, misalnya di Mesir (antara lain dokter Taufiq Sidqy; w. 1920); di Malaysia (Kassim Ahmad, mantan ketua partai Sosialis Rakyat Malaysia); sedangkan di Indonesia sendiri(antara lain Muhammad Ircham Sutarto).[20]

Argumen Kelompok Pendukung 

Kelompok penulis hadis di Indonesia, berpandangan bahwa hadis merupakan sumber ajaran Islam kedua setelah al-Qur’an, kelompok yang menolak hadis sebagai sumber ajaran Islam kedua merupakan kelompok minoritas.[21] Kelompok pendukung ini menggunakan argumentasi yang terbagi menjadi dua kategori: Normatif dan logis, argumentasi normatif didasarkan kepada al-Qur’an, hadith, fatwa sahabat, konsensus ulama, sedangkan argumentasi logis merupakan konsekwensi dari penerimaan argumentasi normatif. Argumentasi normatif pertama didasarkan pada ayat-ayat al-Qur’an (semua pendukung hadis sebagai ajaran Islam menggunakan argumentasi ini), ayat-ayat al-Qur’an yang dijadikan dasar adalah yang berbicara tentang hal-hal sebagai berikut kewajiban beriman kepada Allah dan Rasulnya, yaitu :QS al-Nisa 136; al-A’raf 158, al-Nur 62; Ali Imran 179[22].

Adapun argumen logis yang dikemukakan adalah (1) Ijma’ para sahabat untuk menjadikan nabi sebagai pedoman dan panutan dalam melaksanakan ajaran agama mereka, (2) pengakuan akan kerasulan Nabi mengimplikasikan keharusan untuk mengikuti ajaran-ajaranya.

Argumen para pengingkar sunnah

Mereka yang berfaham menolak al-Sunnah, baik mereka yang hidup pada masa al-Syafi’i maupun yang hidup pada zaman sesudahnya memiliki banyak argumen alasan kenapa berideologi demikian. Dari berbagai argumen yang banyak jumlahnya itu, ada berupa argumen teks dan ada berupa argumen-argumen non-Teks, salah satu argumen teks yang dijadikan saduran pemikiran mereka sebagai berikut :

نَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ[23]

Menurut mereka, ayat tersebut telah menunjukan bahwa al-Qur’an telah mencakup segala sesuatu berkenaan dengan ketentuan agama, dengan demikian tidak diperlukan adanya keterangan-keterangan lain, misalnya dari sunnah

Bagi mereka yang menolak sunnah, sesuatu yang zhann(sangkaan)tidak bisa dijadikan sebagai hujah. Hadis pada umumnya bertatus zhann dan sedikit sekali yang berstatus Qath’i, kalau agam berdiri diatas sesuatu yang zhann berarti agama berdiri diatas dasar yang tidak pasti. Hal itu tidak boleh terjadi, karenanya hadis atau sunnah bukanlah sumber ajaran Islam. Sumber ajaran Islam haruslah yang berstatus pasti(qath’i) yakni al-Qur’an.[24]

Disamping itu cukup banyak argumen yang diajukan oleh mereka yang menolak sunah sebagai sumber ajaran Islam, diantara yang penting adalah ;

1. Al-Qur’an diwahyukan kepada abi Muhammad melalui malaikat Jibril dalam bahasa Arab. Orang-orang yang memiliki kemampuan bahasa Arab mampu memahami al-Qur’an secara langsung, tanpa bantuan penjelasan hadis Nabi. Dengan demikian hadis Nabi tidak diperlukan untuk memahami petunjuk al-Qur’an.

2. Dalam sejarah, umat Islam telah mengalami kemunduranUmta Islam mundur karena berpecah belah. Perpecahan itu terjadi karena mereka berpegang teguh kepada hadis Nabi, jadi menurut pengingkar sunnah hadis nabi merupakan sumber kemunduran umat Islam, agar umat Islam maju maka mereka harus meninggalkan sunnahnya.

3. Menurut Taufiq sidqi, tiada satupun hadis Nabi yang dicatat pada masa Nabi. Pencatatan hadis Nabi terjadi pada masa setelah Nabi wafat. Dalam masa tidak tertulisnya hadis itu, manusia berpeluang untuk merusak dan memalsukan hadis sebagaimana yang telah terjadi.[25]

5. Respon masyarakat Indonesia (reaksi terhadap para mereka yang menolak as-Sunah) 

Gaung inkar al-sunnah juga sampai ke Nusantara. Di Indonesia gerakan ini telah dilarang oleh para ulama dan pemerintah, sebagaimana tertera dalam fatwa hasil keputusan komisi fatwa Majelis Ulama Indonesia Pusat tahun 1983 dan keputusan Jaksa Agung Republik Indonesia, nomor 169/J.A/9/1983[26] telah melarang penyebaran ajaran yang dibawa ‘Abd Rahman dan pengikutnya, serta melarang peredaran tulisan tangan M Ircham Sutarto.

Selanjutnya pada tahun 1985 Jaksa Agung kembali mengeluarkan larangan peredaran buku-buku yang ditulis oleh Nazwar Syamsu dan Dalimi Lubis yang berisi penolakan terhadap sunah.

Adapun di Malaysia gerakan anti hadis dipelopori oleh Kasim Ahmad yang intinya meragukan otentisitas hadis dan sekaligus menolak otoritasnya pada 8 Juli 1986, buku ini dilarang peredarannya oleh kementrian dalam negeri malysia meskipun agak seedikit terlambat dan mengelurkan fatwa yang melarang masyrakat mengikuti gerakan sesat ini 1993.[27]

Upaya Para Pembela Sunah Dalam Melestarikan Hadis

Usaha untuk melestarikan sunnah di Indonesia bermacam-macam dan sesuai dengan tuntutan zamannya. Walau demikian ada beberapa usaha yang terus berlangsung dari generasi ke generasi yakni dengan mempelajari, memahami, dan menyebarkan pengetahuan yang berkaitan dengannya, diantara upaya untuk melestarikannya sebagai berikut:

-upaya kegiatan kritik sanad dan matan
-Upaya penciptaan berbagai istilah, kaidah dan cabang pengetahuan sunnah

Untuk menghindarkan kesalahan-kesalahan dalam meneliti dan memahami, maka para ahli sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing, telah menciptakan berbagai cabang pengetahuan. 

Hal yang melatarbelakangi kegiatan ini karena sunnah merupakan salah satu sumber ajaran Islam dan tidak semuanya telah tertulis resmi sejak zaman Nabi. Dalam sejarah, telah terjadi kegiatan berbagai pemalsuan oleh banyak pihak dengan berbagai cara.

Kesimpulan

Sebagaimana paparan pada pembahasan-pembahasan di atas, persoalan hadis sebagai sumber ajaran Islam memang merupakan persoalan urgen untuk dikedepankan persoalan semakin menjadi komplek karena keberadaan hadis itu sendiri dalam banyak aspek menyisakan berbagai macam pertanyaan dan keraguan (skeptisisme) seiring dengan perubahan setting sosio–kultural dengan kondisi sosial saat Nabi hidup. 

Maka hadis merupakan penafsiran al-Qur’an dalam praktek atau penerapan ajaran Islam secara faktual dan ideal. Hal ini mengingat bahwa pribadi Nabi merupakan perwujudan dari al-Qur’an yang ditafsirkan untuk manusia, serta ajaran yang dijabarkan dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa hadis tidak mungkin umat Islam bisa melaksanakan pesan al-Qur’an yang disebutkan secara garis besarnya saja. 

Dalam persoalan inkar al-Sunah, pernyataan tokoh kenamaan Indonesia kiranya patut diketengahkan : “Wahai jiwa-jiwa yang tenang jangan sekali-kali kamu, mencoba jadi Tuhan dengan mengadili dan menghakimi, bahwasanya kamu memang tak punya daya dan upaya, serta kekuatan untuk menentukan kebenaran yang sejati”*

Penutup

Inilah kiranya yang dapat pemakalah sampaikan, tak lupa ucapan terima kasih kepada Dr. Agung Danarta selaku pengampu mata kuliah Hadis di Indonesia, tersadari ataupun tidak apa yang ditulis ini masih belum dikatakan sempurna oleh karena itu semangat kearah perbaikan harus senantiasa dipupuk oleh pemakalah.

Catatan Kaki

al-Insan, No.2, Vol.1. Jakarta: Gema Insani Press. 2005.

Syah, Ismail Muhammad. Filsafat Hukum Islam. Jakarta: Bumi Aksara. 1999. 

Juynboll, G.HA. Kontroversi Hadis di Mesir, terj. Ilyas Hasan Bandung: Mizan. 1999.

W Brown, Daniel. Menyoal Relevansi Sunnah dalam Islam Modern, terj. Jaziar Radianti dan Eutia Suryani Muslim. Bandung: Mizan. 2000.

al-Siba’i, Musthafa. Membongkar Kepalsuan Orientalis. Terj Ibnu Burda. Yogyakarta: Mitra Pustaka. 1997.

Ilyas, Yunayar & M. Mas’udi. Pengembangan pemikiran terhadap hadis. Yogyakarta: LPPI Universitas Muhamadiyyah Yogyakarta. 1996.

Azami, Musthafa. Hadis Nabbawi; Sejarah dan Kodifikasinya. Terj. Musthafa YA’qub. Jakarta: Pustaka Firdaus. 1994.



0 Response to "Makalah Islami, Diskursus Kedudukan Hadis Sebagai SUmber Ajaran Islam"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!