Hadis Kisah tentang Nabi Musa Mandi telanjang di depan Umum

Advertisement

Hadis Kisah tentang Nabi Musa Mandi telanjang di depan Umum

H.R. Muslim, no. 513

و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ قَالَ هَذَا مَا حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ عَنْ مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ أَحَادِيثَ مِنْهَا وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ يَغْتَسِلُونَ عُرَاةً يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى سَوْأَةِ بَعْضٍ وَكَانَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَام يَغْتَسِلُ وَحْدَهُ فَقَالُوا وَاللَّهِ مَا يَمْنَعُ مُوسَى أَنْ يَغْتَسِلَ مَعَنَا إِلَّا أَنَّهُ آدَرُ قَالَ فَذَهَبَ مَرَّةً يَغْتَسِلُ فَوَضَعَ ثَوْبَهُ عَلَى حَجَرٍ فَفَرَّ الْحَجَرُ بِثَوْبِهِ قَالَ فَجَمَحَ مُوسَى بِإِثْرِهِ يَقُولُ ثَوْبِي حَجَرُ ثَوْبِي حَجَرُ حَتَّى نَظَرَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ إِلَى سَوْأَةِ مُوسَى قَالُوا وَاللَّهِ مَا بِمُوسَى مِنْ بَأْسٍ فَقَامَ الْحَجَرُ حَتَّى نُظِرَ إِلَيْهِ قَالَ فَأَخَذَ ثَوْبَهُ فَطَفِقَ بِالْحَجَرِ ضَرْبًا[1]

“ ……….Bani Israil (kalau) mandi (bersama-sama dalam keadaan telanjang (sehingga) sebagian mereka dapat melihat aurat yang lain. Namun, Musa as mandi (selalu) menyendiri, (akhirnya) kemudian mereka berkata: “Demi Allah, Musa tidak mau mandi dan meletakkan pakaiannya di atas batu, lalu bergeraklah batu itu membawa pakainnya, Nabi saw (masih bercerita) berkata: “Musa mengejar batu yang membawa pakaiannya seraya berteriak “Wahai batu, pakaian saya…pakaian saya!!, (bat uterus bergerak) sampai kemudian (akhirnya) Bani Israil melihat kemaluannya)”. Kemudian batu berhenti hingga Musa dapat mengambil pakaiannya, lalu Musa memukul batu tersebut.”

Meskipun hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim, namun dari segi matn dinilai musykil oleh beberapa kalangan yang ingin mendistorsi kualitas hadis, karena tidak sejalan dan selaras dengan nalar atau logika manusia. Bagaimana mungkin seorang Nabi Musa as mandi di ruang terbuka dengan tanpa mengenakan pakaian sehelaipun, sehingga terlihat kemaluannya dihadapan umum? Selain itu, nagaimana mungkin sebuah batu dapat berjalan atau bergerak dengan sendirinya? Hal tersebut adalah aneh dan sulit diterima akal manusia.

Kemusykilan hadis dapat dihindari dengan memahami kandungan isi hadis tersebut melalui pendekatan historis. Dalam banyak hadis Nabi saw ditemukan keterangan informasi sejarah para Nabi dan Rasul sebelum Nabi saw serta segala sesuatu yang terjadi pada zaman mereka. [2]

H.R. Ahmad bin Hambal no. 8729 memberikan informasi sebagai berikut:

حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ فِي تَفْسِيرِ شَيْبَانَ عَنْ قَتَادَةَ قَالَ حَدَّثَ الْحَسَنُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانُوا يَغْتَسِلُونَ عُرَاةً وَكَانَ نَبِيُّ اللَّهِ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَام مِنْهُ الْحَيَاءُ وَالسِّتْرُ وَكَانَ يَسْتَتِرُ إِذَا اغْتَسَلَ[3]

“ Dari Abu Hurairah ra (berkata) bahwa Rasulullah saw bersabda sesungguhnya (kaum) Bani Isra’il mandi dalam keadaan telanjang, sementara Nabi Allah Musa as malu dan menutupi diri, dan ketika mandi, ia berlindung di balik tabir…..”

Dari hadis ini dapat diketahui bahwa hokum mandi pada zaman Nabi Musa as dengan bertelanjang dan dilakukan di terbuka tidak dilarang menurut syariat Musa as. Hanya saja, Nabi Musa as merasa malu dan selalu menggunakan penutup agar auratnya tidak dilihat orang lain.

Dengan demikian, hadis Nabi saw tentang Nabi Musa as mandi telanjang di depan umum tersebut memberikan titik tekan kepada sejarah mandinya Nabi Musa as dan kaumnya, untuk dijadikan pengetahuan kepada sahabat Nabi saw dan umatnya terhadap adanya ketersinambungan syari’at, khususnya mandi. Tradisi mandi telanjang yang dilakukan Bani Israil tersebut tidak dilestarikan dan diganti dengan aturan (syir’ah) baru dalam syariat Nabi Muhammad saw yang tidak memperbolehkan mandi telanjang bersama-sama.

Hadis Kisah tentang Nabi Musa

Mengenai ke-musykil-an batu yang dapat bergerak membawa pakaian Nabi Musa as, dalam perspektif teologi, maka hal tersebut termasuk dalam kekuasaan Allah untuk memproteksi dan membersihakn hamba-Nya (Musa) dari tuduhan dan cemoohan kaumnya.

Bertolak dari pemahaman tersebut dapat diketahui bahwa hadis tentang Nabi Musa as mandi telanjang di depan umum tidak mengandung ke-musykil-an dari perspekyif nalar atau llogika manusia.[4]

Catatan Kaki

[1] Imam Muslim, Sahīh Muslim, (Beirut: Dar Ibn Katsir). DVD al-Maktabah al-Syāmilah, Vol II, hlm. 240.
[2] Nizar Ali, Hadis Versus Sains; Memahami Hadis-hadis Musykil, (Yogyakarta: TERAS, 2008), hlm.79-80.
[3] Imam Ahmad, Musnad Ahmad, (Beirut: Dar Ibn Katsir). DVD al-Maktabah al-Syāmilah, Vol XVIII, hlm. 271.
[4] Nizar Ali, Hadis Versus Sains; Memahami Hadis-hadis Musykil (Yogyakarta: TERAS, 2008), hlm. 82-83.


0 Response to "Hadis Kisah tentang Nabi Musa Mandi telanjang di depan Umum "

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!