Hadis Aktulisasi Tradisi Dzikir Sehari-hari dalam Kita Bukhari

Advertisement
Hadis Aktulisasi Tradisi Dzikir Sehari-hari dalam Kita Bukhari
(Kritik Matan Hadis tentang Dzikr Allah Shahih al-Bukhari Kitab al-Da’awat no. 5927)

A. Pendahuluan 

Meneliti kebenaran suatu berita, merupakan bagian dari upaya membenarkan yang benar dan membatalkan yang batil. Kaum muslim sangat besar perhatiannya dalam segi ini, baik untuk penetapan suatu pengetahuan atau pengambilan suatu dalil. Terlebih jika hal itu berkaitan dengan riwayat hidup Nabi mereka atau ucapan dan perbuatan yang dinisbahkan kepada beliau.[1]Hal ini merupakan langkah pertama dan upaya realistis yang harus dilakukan sebelum melakukan pemahaman dan kajian lebih lanjut.

Hal ini menandai bahwa keyakinan Muslim terhadap hadis yang merupakaan ‘kendaraan sunnah Nabi’ dan bahwa hadis merupakan tuntunan yang tidak dapat diabaikan dalam memamahami wahyu Allah, sebagai sumber otoritas Islam kedua setelah al-Qur’an yang memiliki pengaruh sangat besar yang sanagat menentukan dan menjadi sumber hukum dan inspirsi agama.[2]
Tradisi Dzikir Sehari-hari dalam Kita Bukhari

Kritik matan menjadi penting sebagai metode untuk menguji validitas keotentikan hadis Nabi, karena tidak jarang hadis yang secara sanad berkualitas shahih tetapi matan-nya rancu dan kontradiktif. Sebelum masuk kepada pemahaman yang lebih komprehensif dengan pendekatan multidisipliner tentu hadis perlu lolos ferivikasi terlebih dahulu dengan metode-metode kritik matan yang ditawarkan oleh intelektual kontemporer dalam bidang hadis.

B. Kritik Matan Hadis

Hadis Nabi Muhammad saw. dalam realitas sosial seharusnya tidak melulu dipandang secara sempit (narrow-minded), sehingga mendudukkan pemahaman hadis pada tempat yang proporsional (meskipun) adakalanya dipahami secara tekstual, kontekstual universal, temporal, situasional maupun lokalistik adalah hal yang penting, karena bagaimanapun juga pemahaman yang kaku, radikal dan statis sama artinya menutup keberadaan Islam yang shalih li kulli makan wa al-zaman. Tentang hal ini Fazlur Rahman (1919-1988 M.) menyebut hadis Nabi sebagai “sunnah yang hidup”, “formalisasi sunnah” atau “verbalisasi sunnah”, oleh karenanya pemahaman terhadap hadis Nabi harus dipahami dan ditafsirkan secara situasional dan diadaptasikan dengan situasi dewasa ini.[3] Menghadapi problem dinamisasi inilah kajian kritik matan hadis (Naqd al-Matn al-Hadis)[4] menjadi sangat penting guna menemukan tafsiran serta pemahaman yang benar yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

Pemahaman hadis, tentu selalu terikat dengan situasi dan kondisi yang selalu berbeda keadaan demikian menuntut para pemikir hadis untuk menyajikan pemahaman hadis yang kontekstual. Shalahu al-Din al-Adlabi adalah salah seorang pemikir hadis kontemporer yang telah mengkonsep model pemahaman hadis tentang bagaimana runut studi hadis khususnya pada kritik matan. Sebagaimana diketahui konsepsi beliau adalah sebagai berikut: 1) dengan memperbandingkan hadis dengan al-Qur’an; 2) tidak bertentangan dengan hadis yang semakna dan yang setema; 3) tidak bertentangan dengan akal sehat; 4) menunjukkan ciri-ciri sabda kenabian. Konsep inilah yang penulis gunakan untuk studi kritik matan pada hadis ini, yaitu hadis tentang dzikir kepada Allah. 

1. Hadis Tentang Dzikr Allah

حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا ابْنُ فُضَيْلٍ عَنْ عُمَارَةَ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ [5]

“ Diriwayatkan dari Zuhayr bin Harb, Dari ibn Fudhail dari ‘umarah dari Abi Zur’ah dari Abu Hurayrah, Rasululah saw. Bersabda: Dua Kalimat yang ringan untuk diucapkan dengan lisan, berat timbangannya (al-Mizan) dan Allah menyukai dua kalimat tersebut, yaitu; Subhanallah al-‘Azhim, Subhanallah wa bi hamdihi.” (HR. Al-Tirmidzi, no. 5927 )

Tema dari hadis ini adalah hadis yang berbicara tentang dzikir (mengingat Allah). Berbicara tentang dzikir, maka dzikir sebagaimana yang telah dikonsepsi oleh Hasbi al-Shiddiqi berdasarkan al-Qur’an dan sunnah, menurutnya dzikir adalah segala bentuk mengingat Allah swt, baik dengan cara membaca tahlil, tasbih, tahmid, takbir, Qira’ah al-Qur’an maupun membaca doa-doa ma’tsurat dari Rasulullah saw.[6]

2. Aplikasi Metode Shalah al-Din al-Adlabi pada Kritik Matan

1. Tidak Bertentangan dengan al-Qur’an

Al-Hadis salah satu fungsinya adalah menjelaskan apa yang terdapat di dalam al-Qur’an yang masih bersifat global, tidak mungkin suatu hadis kandungannya bertentangan dengan ayat al-Qur’an yang muhkamat, yang berisi keterangan-keterangan yang jelas dan pasti. Pertentangan seperti itu bisa terjadi karena hadis tersebut tidak shahih atau pemahamannya yang tidak tepat, sehingga pertentangannya itu sbersifat semu bukan hakiki.[7] Salah satu metode yang ditawarkan oleh al-Adlabi adalah dengan memperbandingkan ayat al-Qur’an, apakah ia bertentangan atau tidak. Dalam hal ini penulis akan menyertakan dalil/ ayat-ayat dari al-Qur’an yang tidak sama sekali bertentangan dengan al-Qur’an bahkan menspesifikasi dzikir-dzikir dengan beragam bentuknya. Hal ini menandai bahwa hadis ini berada menandai otentisitas hadis tentang Dzikr Allah, berikut adalah ayat-ayat yang berbicara tentang Dzikr Allah dengan varian yang beragam: 

Surah al-Ahzab Q.S. 40-42

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.” (Q.S. al-Ahzab).

Perbandingan terhadap al-Qur’an yang dilakukan menunjukkan makna dzikr yang diaktualisasikan dalam bentuk tasbih. Tentang hal ini penulis menyertakan beberapa pendapat para mufassir terkait dengan ayat ini guna memperjelas makna dan perluasan makna dari dzikr yang tersebut pada hadis di atas diatas. 

Tentang ayat di atas, al-Syaukani dalam tafsirnya Fath al-Qadir dalam hal ini memaknai ayat diatas sebagai perintah Allah kepada manusia untuk memperbanyak untuk berdzikir dengan bergam variannya, seperti tahlil , tahmid, tasbih, takbir atas segala sesuatu, lebih lanjut al-Syaukani menyertakan waktu yang termaksud pada ayat diatas yaitu pada waktu pagi dan petang, yaitu pada waktu awal dari siang dan akhir dari siang atau, dapat juga dimaknai dengan shalat subuh dan shalat maghrib.[8]

Surah al-Anfal Q.S. 45:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), Maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (Q.S. al-Anfal)

Ibn ‘Adil berpendapat ayat ini, ayat yang juga merupakan indikasi dari perintah dzikir kepada Allah, ibn ‘Adil memaknai dzikir seharusnya tidak hanya diucapkan tetapi juga aktualisasinya dalam bentuk ketaatan kepada Allah, syukur atas nikmat-ikmat Allah yang telah diberikan.[9]

Surah al-Baqarah Q.S. 152

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Q.S. al-Baqarah).

Badrud al-Din al-‘Aini, tentang ayat ini menjadikan hadis ini sebagai penguat argumen dari syarahnya, dan lebih lanjut dijelaskannya bahwa dzikir yang dimaksud adalah dengan berdoa’, thadarru’ dan menyampaikan risalah sebagai wujud dari kesempurnaan dzikirnya, dan juga bagi orang lain.[10]

Dzikr Allah yang dimaksudkan disini adalah dzikr yang tidak hanya dalam bentuk ibadah secara transenden tetapi juga dzikr dalam arti yang luas yaitu mengingat Allah dengan cara menyampaikan risalah/ perintah Allah kepada orang lain sebagai wujud dari sempurnanya dzikr.

2. Tidak bertentangan dengan Hadis yang Semakna maupun Setema dengan Zikir

1. Beristighfar lebih dari 70 kali dalam setiap harinya

حدثنا أبو اليمان أخبرنا شعيب عن الزهري قال أخبرني أبو سلمة بن عبد الرحمن قال قال أبو هريرة : سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول ( والله إني لأستغفر الله وأتوب إليه في اليوم أكثر من سبعين مرة ) [11]

“Demi Allah sesungguhnya saya beristighfar dan memohon ampun kepada Allah dalam setiap harinyalebih dari tujuh puluh kali.” (HR. Bukhari).

2. Istighfar yang dibaca Rasulullah

حدثنا محمد بن بشار حدثنا عبد الملك بن الصباح حدثنا شعبة عن أبي إسحق عن ابن أبي موسى عن أبيه : عن النبي صلى الله عليه و سلم أنه كان يدعو بهذا الدعاء ( رب اغفر لي خطيئتي وجهلي وإسرافي في أمري كله وما أنت أعلم به مني . اللهم اغفر لي خطاياي وعمدي وجهلي وهزلي وكل ذلك عندي . اللهم اغفر لي ما قدمت وما أخرت وما أسررت وما أعلنت أنت المقدم وأنت المؤخر وأنت على كل شيء قدير ) [12]

“Ya Allah ampunilah dosa-dosaku, kesalahanku, kebodohanku, kelampauanku dalam semua urusanku dan apa yang engkau lebih mengetahui daripada aku. Ya Allah ampunilah kesungguhan dan sendaku dan semuanya ada padaku. Ya Allah ampunilah dosaku yang telah lalu dan dosa yang aku rahasiakan dan aku tampakkan. Engkau tidak bermula dan tidak berakhir dan atas segala sesuatu Engkau Maha Kuasa.”(HR. Bukhari) 

3. Doa yang dibaca Rasulullah menjelang tidur

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ وَأَبُو كُرَيْبٍ قَالاَ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنِ الأَعْمَشِ عَنْ مُسْلِمٍ عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ « سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ ». قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا هَذِهِ الْكَلِمَاتُ الَّتِى أَرَاكَ أَحْدَثْتَهَا تَقُولُهَا قَالَ « جُعِلَتْ لِى عَلاَمَةٌ فِى أُمَّتِى إِذَا رَأَيْتُهَا قُلْتُهَا (إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ) ». إِلَى آخِرِ السُّورَةِ. [13]

“Aisyah r.a. berkata bersabda Rasulullah saw. perbanyaklah berdoa menjelang tidur dengan subhanaka astaghfiruka wa atubu ilaika kemudian Aisyah r.a berkata wahai Rasulullah saw. apakah dengan kalimat tersebut kita berdoa ? Nabi Muhammad saw. menjawab dijadikan pertanda bagi umatku dan jika engkau melihatnya maka bacalah ayat idza Ja’a nashrullah wa al-fath sampai akhir surat.” (HR. Muslim)

4. Selalu memohon Ampun 100 kali dan membaca doa

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنَا أَبِى حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ أَخْبَرَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا أَبُو إِسْحَاقَ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ كُنْتُ جَالِساً عِنْدَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَسَمِعْتُهُ اسْتَغْفَرَ اللَّهَ مِائَةَ مَرَّةٍ ثُمَّ يَقُولُ « اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى وَارْحَمْنِى وَتُبْ عَلَىَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ أَوْ إِنَّكَ تَوَّابٌ غَفُورٌ » [14]

“Ibn Umar berkata Rasulullah saw. berkata dalam suatu majlis berdzikir sebanyak 100 kali dengan diakhiri: Ampunilah dosaku dan terimalah taubatku sesungguhnya engkau maha pengampun dosa-dosa.” (HR. Ahmad)

A. Isti’adzah

1. Ketika bermimpi Jelek

حدثنا مسدد حدثنا عبد الله بن يحيى بن أبي كثير وأثنى عليه خيرا لقيته باليمامة عن أبيه حدثنا أبو سلمة عن أبي قتادة : عن النبي صلى الله عليه و سلم قال ( الرؤيا الصالحة من الله والحلم من الشيطان فإذا حلم فليتعوذ منه وليبصق عن شماله فإنها لا تضره )[15]

“Mimpi yang baik adalah dari Allah swt. Dan mimpi yang jelek adalah dari Syaithan, apabila engkau bermimpi jelek maka pindahlah posisi tidur mu dan mintalah perlindungan kepada Allah dari kejelekan mimpi tersebut maka engkau tidak akan takut.” (HR. Bukhari)


2. Ketika akan keluar rumah

أخبرني محمد بن قدامة قال حدثنا جرير عن منصور عن الشعبي عن أم سلمة : أن النبي صلى الله عليه و سلم كان إذا خرج من بيته قال بسم الله رب أعوذ بك من أن أزل أو أضل أو أظلم أو أظلم أو أجهل أو يجهل علي [16]

“Jika keluar dari rumahmu maka berdoalah: Dengan nama Allah, Ya Allah sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada-Mu agar aku tidak tersesat atau disesatkan, menghina atau dihina, menganiaya atau dianiaya, membodohi atau dibodohi orang.”(H.R. al-Nasa’i) 

B. Isti’adzah

1. Ketika mengendarai kendaraan

وعن عَلِي بن ربيعة ، قَالَ : شهدت عليَّ بن أَبي طالب - رضي الله عنه - ، أُتِيَ بِدَابَّةٍ لِيَرْكَبَهَا ، فَلَمَّا وَضَعَ رِجْلَهُ في الرِّكَابِ ، قَالَ : بِسْمِ اللهِ ، فَلَمَّا اسْتَوَى عَلَى ظَهْرِهَا ، قَالَ : الحَمْدُ للهِ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنينَ ، وَإنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ ، ثُمَّ قَالَ : الحمْدُ للهِ ، ثَلاثَ مَرَّاتٍ ، ثُمَّ قَالَ : اللهُ أكْبَرُ ، ثَلاثَ مَرَّاتٍ ، ثُمَّ قَالَ : سُبْحَانَكَ إنّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي إنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أنْتَ [17]

“ membaca doa ketika akan menaiki kendaraan dengan nama Allah sebanyak tiga kali, dan jika sudah menaikinya maka membaca doa segala puji bagi Allah Maha suci Allah zat yang menjinakkan kendaraan ini kepada kami sedangkan kami tidak bisa menjinakkannya. Dan kepada Allah kami kembali. Segala puji bagi Allah maha besa, maha suci engkau Ya Allah, sesungguhnya kami telah menganiaya diriku sendiri maka ampunilah daku, karena tidak ada yang sanggup mengamouni dosaku selain engkau.” (H.R. Abu Dawud) 

C. Tasbih

1. Tasbih setelah shalat

وَحَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عِيسَى أَخْبَرَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ أَخْبَرَنَا مَالِكُ بْنُ مِغْوَلٍ قَالَ سَمِعْتُ الْحَكَمَ بْنَ عُتَيْبَةَ يُحَدِّثُ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِى لَيْلَى عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مُعَقِّبَاتٌ لاَ يَخِيبُ قَائِلُهُنَّ - أَوْ فَاعِلُهُنَّ - دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ مَكْتُوبَةٍ ثَلاَثٌ وَثَلاَثُونَ تَسْبِيحَةً وَثَلاَثٌ وَثَلاَثُونَ تَحْمِيدَةً وَأَرْبَعٌ وَثَلاَثُونَ تَكْبِيرَةً [18]

“perkataan dan perbuatan yang disukai setelah melaksanakan shalat wajib lima waktu adalah tasbih (subhanallah) sebanyak 33 kali, tahmid (alhamdulillah) sebanyak 33 kali dan takbir (Allah Akbar) sebanyak 34 kali.”(H.R. Muslim)

2. Ketika malam hari

حَدَّثَنَا صَدَقَةُ بْنُ الْفَضْلِ أَخْبَرَنَا الْوَلِيدُ عَنِ الأَوْزَاعِىِّ قَالَ حَدَّثَنِى عُمَيْرُ بْنُ هَانِئٍ قَالَ حَدَّثَنِى جُنَادَةُ بْنُ أَبِى أُمَيَّةَ حَدَّثَنِى عُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « مَنْ تَعَارَّ مِنَ اللَّيْلِ فَقَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، لَهُ الْمُلْكُ ، وَلَهُ الْحَمْدُ ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ . الْحَمْدُ لِلَّهِ ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ . ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى . أَوْ دَعَا اسْتُجِيبَ ، فَإِنْ تَوَضَّأَ وَصَلَّى قُبِلَتْ صَلاَتُهُ [19]

“barang siapa yang bangun tengah malam lalu membaca La Ilaha Illa Huwa tiada Tuhan selain Allah, satu-satu-Nya, tiada sekutu bagi-Nya. Hanya baginyalah semua kekuasaan dan bagi-Nyalah segala puji dan atas segala sesuatu Dialah yang maha kuasa. Segala puji bagi Allah, maha suci Allah , tidak ada Tuhan selain Allah, Allah maha besar, tidak ada daya dan kekuatan melainkan hanya milik Allah. Kemudian diteruskan dengan berdoa Ya Allah ampunilah dosaku atau dosa apapun yang disukainya niscaya diampuni oleh Allah dan apabila berwudhu lalu shalat maka shalatnya diterima.” (H.R. Bukhari) 

D. Pujian Kepada Allah

1. Ketika akan dan ketika bangun tidur

حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ بْنِ مُجَالِدِ بْنِ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا أَبِى عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ رِبْعِىٍّ عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ رضى الله عنهما أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ قَالَ « اللَّهُمَّ بِاسْمِكَ أَمُوتُ وَأَحْيَا ». وَإِذَا اسْتَيْقَظَ قَالَ « الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَحْيَا نَفْسِى بَعْدَ مَا أَمَاتَهَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ [20]

“jika kalian hendak menuju tempat tidurmu berdoalah: dengan nama-Mu aku hidup dan mati dan jika bangun tidurlah hendaklah berdoa: segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan aku kembali setelah dimatikan dan hanya kepadanya aku kembali.” (H.R. Tirmidzi).

2. Ketika bersin

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَلِىُّ بْنُ مُسْهِرٍ عَنِ ابْنِ أَبِى لَيْلَى عَنْ عِيسَى عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِى لَيْلَى عَنْ عَلِىٍّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَلْيَرُدَّ عَلَيْهِ مَنْ حَوْلَهُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ. وَلْيَرُدَّ عَلَيْهِمْ يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ [21]

“jika kalian bersin maka ucapkanlah alhamdulillah dan bagi orang yang mendengar bersin maka ucapkanlah yarhamukallah (mudah-mudahan Allah merahmatimu) dan jika engkau mendengar orang mengucapkan yarhamukallah maka ucapkanlah yahdikumullah wa yushlih balahum (mudah-mudahan Allah memberi hidayah kepadamu dan memberi sebaik-baik imbalan ).” (H.R. Ibn Majah)

3. Tahlil

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنِ الأَعْمَشِ عَنِ الْمُسَيَّبِ بْنِ رَافِعٍ عَنْ وَرَّادٍ مَوْلَى الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ كَتَبَ مُعَاوِيَةُ إِلَى الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ أَىُّ شَىْءٍ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ إِذَا سَلَّمَ مِنَ الصَّلاَةِ فَأَمْلاَهَا الْمُغِيرَةُ عَلَيْهِ وَكَتَبَ إِلَى مُعَاوِيَةَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِىَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ ». [22]

“ jika selesai shalat berdoalah: Tidak ada Tuhan selain Allah swt. Yang maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Ya Allah tidak ada yang menghalang-halangi terhadap pemberian-Mu tiada manfaat kemanjuran kecuali kemanjuran pemberian anugerah dari-Mu.” (H.R. Abu Dawud).

3. Tidak bertentangan dengan akal sehat, indera dan fakta sejarah

Hadis tentang dzikir diatas , sebagaimana diungkapkan pada tafsir yang disebutkan diatas tentu dzikir merupakan amalan yang tidak terpisahkan antara hamba dan Tuhannya. Agama apapun mensyariatkan hamba sebagai ciptaan Tuhan untuk menyembah kepada Tuhannya. Dzikr dalam arti yang lebih luas dapat diartikan sebagai ketaatan hamba kepada Tuhannya. Dzikr merupakan bagian dari kegiatan spiritual. Kontekstualisasi dari kegiatan spiritual jika dikaitkan dengan keadaan manusia dewasa ini, dimana manusia modern telah dilanda kehampaan spiritual. Kemajuan pesat dalam lapangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedikit banyak telah mempengaruhi manusia semakin menjauhi nilai-nilai spiritual. Dalam al-Qur’an Allah memberikan pernyataan bahwa dengan berdzikirnya seseorang kepada Allah tentulah akan membuat hatinya menjadi tenang; الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ أَلا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ [23] tentang hal ini menurut Simuh, dzikir sebagai tuntutan syari’at Islam dan al-Qur’an adalah dengan menyebut dan mengingat Allah dalam setiap keadaan, melalui nama-namanya yang indah (al-Asma al-Husna), maka tujuan berdzikir adalah untuk menjalin ikatan batin (kejiwaan) antara hamba dan Tuhannya, sehingga timbul rasa cinta, hormat dan jiwa muraqabah (merasa dekat dan diawasi oleh Allah).[24]

Hal tersebut di atas, menandai dzikir berarti memiliki tujuan untuk menunjukkan pengabdian yang luhur sebagai manifestasi iman dan taat kepada Allah. Jadi siapapun yang beriman kepada Allah, sebagai wujud pengabdian dan ibadah kepada Allah semata dengan segala aktivitasnya tentu ingin mengharapkan keridhaan Allah swt. atas kesadaran inilah maka dzikir dengan makna memuji Allah dengan beragam variannya juga dzikir yang bermakna luas yang berarti ketaatan, sehingga sampai pada saat marak dijumpai majlis-majlis dzikir dan terus mengamalkannya yang terbagi menjadi tarekat-tarekat.[25] Dapat dipahami bahwa dzikir menjadi kebutuhan untuk memenuhi kehausan spiritual manusia. 

4. Matan Hadis menunjukkan ciri-ciri kenabian

Yang dimaksud dengan ciri-ciri sabda kenabian adalah bahwa matan hadis tidak janggal dan benar-benar mengindikasikan bahwa hadis tersebut benar-benar berasal dari Nabi saw. awal dari matan hadis ini adalah lafadz: (كلمتان)sebagaimana dikatakan oleh al-Manawiy dalam kitabnya Faydh al-Qadir kalimat ini bermakna al-Syahadah (kesaksian). Adapaun kalimat selanjutnya (خفيفتان على اللسان ثقيلتان في الميزان) menjelaskan makna tentang perbuatan yang sedikit akan tetapi memiliki banyak ganjaran, al-Thibbiy tentang hal ini mengatakan, ringan pada lisan yang dimaksud adalah mudah untuk diucapkan dan tidak memberatkan pada lisan orang yang berdzikir akan tetapi berat pada timbangan (al-Mizan). ( حبيبتان ) pada kalimat selanjutnya dari hadis ini dimaknai dengan محبوبتان (yang disenangi) yang artinya aktivitas tersebut (dzikir) merupakan aktivitas yang disenangi oleh Allah swt. yang Allah disebut dengan (إلى الرحمن) yang berarti sifat yang secara tsubut yang dimiliki oleh Allah swt. ditandai dengan Asma’ al-Husna yang digunakan pada hadis ini.[26]

Nabi dengan posisinya sebagai penyampai risalah adalah wajar memerintahkan umatnya untuk senantiasa mengingat Allah dengan dzikir, baik secara verbal ataupun dzikr dalam bentuk aktualisasi dalam bentuk perbuatan.

C. Kesimpulan

Setelah melakukan penelitian dengan menggunakan konsepsi Shalah al-Din al-Adlabi, secara numbering dapat kami simpulkan sebagai berikut:

1. Tidak ada pertentangan antara hadis yang diteliti dengan ayat-ayat al-Qur’an, bahkan banyak dari ayat al-Qur’an yang memerintahkan hamba-hambanya untuk senantiasa berdzikir kepada-Nya.

2. Tidak memiliki pertentangan antara hadis yang diteliti dengan hadis-hadis lain yang setema, yakni hadis-hadis yang juga berbicara tentang Dzikr Allah, bahkan banyak hadis yang memberikan perluasan makna tentang makna Dzikr Allah dengan beragam varian aktualisasi dari Dzikr Allah.

3. Hadis ini sama sekali tidak bertentangan dengan logika berfikir juga fakta sejarah. Karena, Hadis tentang dzikir diatas, adalah sesuatu yang wajar dan seharusnya jika dzikr menjadi amalan yang tidak terpisahkan antara hamba dan Tuhannya. Agama apapun mensyariatkan hamba sebagai ciptaan Tuhan untuk menyembah kepada Tuhannya. 

4. Hadis ini juga tidak bertentangan dengan sabda kenabian, analisis kebahasaan yang telah dilakukan oleh al-Manawiy dalam kitab syarahnya Faydh al-Qadir cukup jelas mengindikasikan bahwa matan hadis tersebut benar-benar ciri-ciri sabda kenabian. Posisi beliau yang juga sebagai seorang pemimpin adalah wajar jika beliau memerintahkan umat untuk senantiasa mengingat Allah dengan berdzikir.

5. Dengan beracuan pada konsep kritik matan yang ditawarkan oleh al-Adlabi dan telah melewati bagian-bagian kritik matan sehingga peneliti berkesimpulan hadis tersebut termasuk hadis dengan shahih al-Matn.

Demikianlah hasil yang bisa kami sampaikan perihal penelitian kritik matan hadis tentang Dzikr Allah Tentu dalam pembahasan kami di atas masih sangat jauh dari sempurna. Oleh karena itu saran konstruktif sangat penulis harapkan. 


Daftar Pustaka

Al-Suyuthi, Jalal al-Din. Tadrib al-Rawi fi Syarh al-Taqrib.DVD ROM al-Maktabah al-Syamilah ( Solo: Pustaka Ridwana, 2004). 

Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari. (CD- Mawsu'ah al-Hadits al-Syarif, Global Islamic Software ).

Al-Ghazali, Muhammad. al-Sunnah al-Nabawiyah baina Ahli al-Fiqh wa ahli al-Hadits, terj.Muhammad al-Baqir, Studi Kritis Atas Hadits Nabi SAW, (Bandung: Mizan, 1994).

Ash-Shiddiqieqy, Hasbi. Pedoman Zikir dan Doa. Jakarta: Bulan Bintang. 1961.

Al-Syaukani, Fath al-Qadir.DVD ROM al-Maktabah al-Syamilah ( Solo: Pustaka Ridwana, 2004).

Adil, Ibn. Tafsir al-Lubab.DVD ROM al-Maktabah al-Syamilah ( Solo: Pustaka Ridwana, 2004) hlm. 285. 

Al-‘Aini, Badrud al-Din. ‘Umdah al-Qari. DVD ROM al-Maktabah al-Syamilah ( Solo: Pustaka Ridwana, 2004).

Amin, Kamaruddin. Menguji Kembali Metode Kritik Hadis. Jakarta: Hikmah, 2009.

Al-Manawiy, Faydh al-Qadir, Juz 5, DVD ROM al-Maktabah al-Syamilah ( Solo: Pustaka Ridwana, 2004)

Bustamin M. Isa H. A. Salam, Metodologi Kritik Hadis, Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Mandzur, Ibn. Lisan al-Arab.DVD ROM al-Maktabah al-Syamilah ( Solo: Pustaka Ridwana, 2004).

Majah, Ibn. Sunan ibn Majah.DVD ROM al-Maktabah al-Syamilah ( Solo: Pustaka Ridwana, 2004)

Mulyati,Sri. Mengenal dan Memahami Tarekat-tarekat Muktabarah di Indonesia. Prenada Media, 2005.

Simuh, Tasawuf dan Perkembangannya dalam Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996.

Suryadi, Metode Kontemporer Memahami Hadis Nabi Persfektif Muhammad al-Ghazali dan Yusuf al-Qaradhawi. Yogyakarta: Teras.

Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi.DVD ROM al-Maktabah al-Syamilah ( Solo: Pustaka Ridwana, 2004)



0 Response to "Hadis Aktulisasi Tradisi Dzikir Sehari-hari dalam Kita Bukhari"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!