Hubungan Nabi Muhammad Dengan Kristen dan Yahudi

Advertisement

Hubungan Nabi Muhammad Dengan Kristen dan Yahudi
(Mallingkai Ilyas)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang 

Sesungguhnya hubungan antara Muhammad saw. dengan agama samawi telah diisyaratkan oleh Allah dalam al-Qur’an Q.S. 95/1-3: Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Mekah) ini yang aman.[1]

Dalam ayat tersebut Allah bersumpah atas empat tempat yang merupakan tempat para nabi dan rasul menerima tuntunan Allah, yaitu para nabi yang hingga kini memiliki pengaruh dan pengikut terbesar, yaitu pengikut agama Islam, Kristen dan Yahudi. Adapun tempat-tempat dimaksud adalah al-Tin, yaitu nama bagi pohon tempat pendiri agama Budha menerima tuntunan ilahi; al-Zaitun adalah sebuah gunung di Yerussalem; Turisinin tempat Nabi Musa diselamatkan dan juga merupakan tempat Nabi Musa menerima Kitab Taurat; sedangkan al-Balad al-Amin yang berarti kota yang aman adalah Makkah, tempat nabi Muhammad saw. Menerima wahyu pertama.[2]

Penganut Kristen yang disebut dalam al-Qur'an dengan kaum Nashara (Nasrani)[3] atau Ahli Kitab[4], pada dasarnya telah mempunyai hubungan dengan penganut Islam (muslim), seperti yang disebutkan dalam surah al-Māidah ayat 5 yaitu al-Qur'an membolehkan kaum muslimin memakan makanan Ahli Kitab dan menikahi wanita-wanita mereka yang tetap beragama Nasrani dan Yahudi. Ini adalah landasan normatif tentang hubungan dan kerjasama antara Kristen dan Islam.
Nabi Muhammad Dengan Kristen dan Yahudi

Sementara itu ketika Rasulullah mengalami tekanan dan penyiksaan dari kaum Quraisy Mekah, terutama yang diarahkan kepada orang-orang yang lemah, Rasulullah memerintahkan hijrah ke Habasyah yang pada waktu itu dipimpin oleh Raja Najasyi, seorang raja Nasrani yang terkenal dengan keadilan dan memberikan perlindungan kepada orang yang teraniaya. 

Tulisan ini berusaha mengupas tentang hubungan Muhammad dengan agama Samawi seperti Kristen dan Yahudi yang sudah terjalin sejak Muhammad mendapat risalah, mulai dari Mekkah ke Madinah sampai terjadi ekspansi ke belahan dunia Timur dan Barat. Juga menjelaskan peristiwa hijrah ke Habasyah yang pertama dan kedua dan Hijrah Rasulullah bersama kaum muslimin ke Taif.

B. Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang tersebut di atas, penulis merumuskan beberapa persoalan sebagai berikut:

1. Bagaimana Hubungan Muhammad dengan penganut Kristen?
2. Bagaimana Hubungan Muhammad dengan penganut Yahudi?
3. Bagaimana hijrah kaum Muslimin ke Habasyah dan Taif?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Hubungan Muhamad dengan Penganut Kristen 

1. Pertemuan Nabi saw. dengan Pendeta Bakhira 

Ketika berusia dua belas tahun, Muhammad bersama dengan pamannya melakukan perjalanan dagang dari Makkah ke negeri Syam. Ketika kafilahnya sampai di kota Basrah, mereka bertemu dengan seorang pendeta Nasrani bernama Bukhairah. Pendeta itu melihat wajah Nabi Muhammad saw. dengan pandangan yang dalam. Kemudian dia berwasiat kepada Abu Thalib agar mengawasi dan menjaga baik-baik anak laki-laki yang dibawanya karena itu kelak akan menjadi penutup sekalian nabi dan rasul Tuhan, dan kelak akan dimusuhi oleh kaum dan bangsanya. Pendeta itu berkata demikian karena pada diri Muhammad saw., terdapat tanda-tanda sebagaimana yang termaktub dalam kitab sucinya, yaitu Injil. 

2. Pertemuan Nabi dengan Pendeta Mastura 

Ketika berumur dua puluh lima tahun, Muhammad saw. melakukan perjalanan yang kedua kalinya ke negeri Syam membawa barang dagangan Khadijah, dan ditemani Maisara. 

Diriwayatkan, ketika Nabi saw. sampai di kota Syam, turunlah beliau di Pasar Busra, yaitu satu tempat pemberhentian kafilah di kota itu. Di tempat itu, beliau menyendiri, tidak berkumpul dan bersama-sama dengan kawan-kawannya, dan beliau lalu beristirahat di suatu tempat dan bernaung seorang diri di bawah sebuah pohon besar yang letaknya dekat pasar. Mengetahui hal itu, Maisara diam saja, tidak barani bertanya dan tidak pula berani mengajak beliau beristirahat dan berteduh di tempat lain. Dan beliau pun di tempat itu diam saja, sambil melihat dan memperhatikan keadaan-keadaan di sekitar tempat itu.[5] Sebagai seorang pedagang yang sudah berkali-kali ke negeri Syam, beliau mempunyai banyak kenalan di sana. Karena itu, ketika Nabi saw. sedang beristirahat di bawah pohon, Maisara meninggalkannya dengan maksud menemui kenalannya, yaitu seorang pendeta Nasrani yang bernama Mastura. Pendeta Nasrani itu bertanya kepada Maisara tentang pemuda yang duduk di bawah pohon tersebut. Lalu Maisara menjawab bahwa pemuda itu berasal dari Makkah dan keturunan suku Quraisy. Selanjutnya pendeta itu bertanya kepada Maisara bahwa apakah di kedua mata pemuda itu, terdapat tanda-tanda merah. Maisara menjawab bahwa memang di kedua mata Muhammad saw. terdapat tanda merah. Pendeta Mastura berkata : "Itu dia, dan dia itulah penghabisan nabi-nabi Allah. Mudah-mudahan aku nanti dapat mengetahui di kala ia diangkat menjadi nabi," demikian kata pendeta itu. Selanjutnya, dia berkata: "Tidak ada seorangpun yang berani berteduh di bawah pohon itu, melainkan dia adalah seorang yang akan menjadi pesuruh Allah". Kemudian pendeta itu berlari menemui Nabi saw. di bawah pohon itu, dan sesudah mengetahui sifat-sifat atau tanda-tanda yang ada di wajah beliau, ia seketika itu mencium kepala dan kaki beliau, lalu berkata, "aku percaya kepada engkau dan aku menyaksikan bahwasanya engkaulah yang disebutkan Allah dalam Taurat."[6]

3. Pertemuan Nabi saw. dengan Waraqah bin Naufal 

Setelah kembali dari gua Hira, Muhammad dibawa oleh Khadijah kepada Waraqah untuk berkonsultasi atas kejadian yang dialaminya di gua Hira. Waraqah sama sekali tidak sangsi bahwa Muhammad telah menerima wahyu dari Tuhan Musa, Tuhan Isa dan Tuhan nabi-nabi lainnya. Waraqah menyatakan kesediaannya untuk membantu Muhammad bila kelak tiba saatnya untuk menjadi rasul, karena Muhammad saw. akan dimusuhi dan disiksa oleh kaumnya sebagaimana halnya dengan nabi-nabi sebelumnya. Namun Waraqah telah wafat sebelum Muhammad menjadi rasul. Keyakinan Waraqah akan kenabian Muhammad saw. diperoleh dari Kitab Injil yang dimilikinya karena di dalam kitab Injil yang asli tersebut nama Ahmad sebagai seorang rasul sesudah Isa Al-Masih. 

Hal ini diberitahukan oleh al-Quran Q.S. 61/6: Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata : "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammmad)" Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: " Ini adalah sihir yang nyata." [7]

Muhammad saw. adalah nabi yang dipersiapkan oleh Allah untuk melanjutkan kenabian Isa as. Tetapi tidak lagi untuk Bani Israil, melainkan diutus untuk bangsa Arab dan kepada umat manusia seluruhnya. Sebelum terjadinya peristiwa Isra dan Mi'raj, Nabi Muhammad saw. melakukan salat dan mengeluarkan zakat berdasarkan syariat risalah Nabi Isa. Dalam hal ini Nabi Muhammad saw. melanjutkan syariat Nabi Isa as. Suatu hal yang patut diperhatikan bahwa sejak diutusnya Muhammad saw. menjadi Rasul, umat Islam menjadikan Baitul Maqdis sebagai kiblat sampai turun ayat yang memberitahukan menjadikan Ka'bah sebagai kiblat. Sesudah Nabi Isa wafat, syariat Nabi Isa tidak berlaku lagi. Nabi Musa as. diutus kepada Bani Israil untuk mengajak mereka mentauhidkan Allah dan diberi kitab Taurat. Begitu juga Daud as. diutus ke Bani Ismail dan diberi kitab Zabur. Semua kitab tersebut diturunkan dalam bahasa Ibrani. Sesudah Nabi Daud as., diutus lagi beberapa nabi kepada Bani Israil, yang terakhir adalah Nabi Isa as. 

Muhammad saw. datang melanjutkan syariat Nabi Isa as. tidak lagi diutus kepada Bani Israil, tetapi diutus kepada bangsa Arab dan seluruh umat manusia di atas dunia sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S. 21/107: Dan tidaklah kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.[8]

Sesungguhnya suku Quraisy dan Bani Israil adalah bangsa yang bersaudara. Karena mereka berasal dari satu bapak yaitu Ibrahim as. Oleh karena itu, sangatlah adil Allah karena telah mengutus Muhammad saw. yang berasal dari suku Quraisy untuk memperbaiki bangsa Arab, agar menyembah kepada Allah semata, dan meluruskan akhlak mereka. Para nabi yang menerima kitab dari Allah dalah turunan Nabi Ibrahim as. Oleh karena itu sangatlah tepat ungkapan yang mengatakan bahwa Ibrahim adalah bapak para nabi. Dari puteranya Ishak, melahirkan beberapa orang Nabi. Dan Nabi Ismail as. menurunkan Nabi Muhammad saw. sebagai keturunan yang kedua puluh empat dari Nabi Ibrahim as. 

4. Raja Habsyah Memeluk Islam 

Kaum muslimin yang hijrah ke Habsyah dihasut oleh kafir Quraisy kepada Raja Habsyah bahwa mereka kaum muslimin adalah pelarin-pelarian yang bersalah. Mereka itu tidak mau memuja dewa-dewa bangsa dan nenek moyang mereka, krena mereka telah mengikuti agama baru. Hasutan kafir Quraisy itu kemudian diklarifikasi oleh Raja Habsyah kepada kaum muslimin dan terjadilah dialog antara Raja Habsyah dan kepala rombongan kaum muslimin yaitu Ja'far Bin Ai Thalib. Raja Habsyah bertanya kepada Ja'far Bin Abi Thalib tentang agama baru yang dianut oleh mereka, dan Ja'far bin Abi Thalib pun menjawabnya. Setelah Raja Habsyah memperhatikan penjelasan Ja'far, ia pun bertanya lagi "apakah ada padamu sesuatu yang didatangkan oleh utusan itu? Ja'far menjawab dengan tegas ia. Raja lalu berkata : coba bacakan kepadaku. Lalu Ja'far membaca surah Maryam dari ayat satu sampai dengan ayat 36". Setelah raja dan pendeta memperhatikan dengan seksama ayat-ayat yang dibacakan oleh Ja'far Bin Abi Thalib, bercucuranlah air mata mereka, dan mereka berkata: Demi Allah, sesungguhnya ini dan yang dibawa oleh Isya, nyata kedua-duanya keluar dari satu jendela. Lalu Raja Habsyah bertanya lagi "apa kata sahabatmu (Muhammad) tentang anak Maryam?" Ia mengatakan bahwa anak Maryam itu Roh Allah dan Kalimah-Nya. Allah telah mengeluarkannya dari gadis (Maryam) yang belum pernah didekati oleh seorang manusia pun. Mendengar jawaban itu mengertilah Raja dan sekalian pendetanya dan seketika itu mereka memeluk Islam. 

Mengenai Islamnya Raja Habsyah, Allah mewahyukan kepada Nabi Muhammad sebagaimana yang tersebut dalam Alquran Q.S. 5/82-86: Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya, kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, 'sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani.' Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri. Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka bercucuran air mata disebabkan kebenaran (Al-Qur'an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri) seraya berkata 'Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Qur'an dan kenabian Muhammad saw.). mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami kedalam golongan orang-orang yang saleh?' Maka, Allah memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya sedang mereka kekal di dalamnya. Dan, itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya). Dan orang-orang kafir serta mendustakan ayat-ayat Kami mereka itulah penghuni neraka.[9]

B. Hubungan Muhammad dengan Yahudi

1. Muhammad Tidak berhubungan dengan Yahudi di Mekah

Meskipun sulit dipungkiri adanya sejumlah saudagar Yahudi yang berdagang ke Mekah dan tinggal disana untuk urusan berbisnis, namun tidak ada fakta yang menyebutkan bahwa Rasulullah pernah berhubungan dengan mereka, terlebih lagi dalam masalah agama.

Kabar tentang masayarakat Yahudi tentu diketahui, bahkan dikuasai dengan baik oleh Rasulullah. Selain cepat atau lambat, pasti akan berhubungan dengan penganut Taurat tersebut, harapan Rasulullah untuk menemukan alternatif pusat dakwah Islam selain Mekah, mendesak beliau untuk mengetahui lebih detail kondisi masyarakat­ masyarakat di sekitarnya, termasuk Madinah.

Karena itu, saat menemui sekelompok pemuda Khazraj di Mina, pertanyaan pertama yang beliau sampaikan adalah, “Apakah kalian orang-­orang yang beraliansi dengan Yahudi?”. Tampaknya beliau sudah sangat menguasai seluk beluk karakter sosial Madinah, termasuk hubungan Aus dan Khazraj dengan klan­klan Yahudi yang tinggal berdampingan dengan mereka itu.

2. Dakwah Rasulullah kepada Masyarakat Yahudi

Hubungan dakwah Rasulullah dengan Yahudi Madinah terjalin sejak dini. Riwayat Bukhari dan Ibn Ishaq mengisyaratkan kedatangan Abdullah bin Salam, seorang ulama Yahudi Bani Qainuqa`, dan keputusannya memeluk Islam terjadi hanya beberapa saat setelah beliau menetap di Madinah. Peristiwa ini pula yang memicu undangan Rasulullah kepada masyarakat Yahudi untuk mengajak mereka memeluk Islam dan menjadikan Abdullah bin Salam sebagai bukti pembenarannya. 

3. Perjanjian dengan Yahudi

Tetangga yang paling dekat dengan kaum Muslimin di Madinah adalah orang Yahudi. Sekalipun memendam kebencian kepada kaum Muslimin, namun mereka tidak berani menampakkannya. Latar belakang masyarakat Madinah yang sangat majemuk, karena terdiri dari beberapa etnik Arab dan Yahudi mendesak adanya peraturan umum yang mengatur kehidupan bersama dengan baik. 

Al-Mubarakfuri merangkum pasal Piagam Madinah yang mengatur hubungan masyarakat Muslim dengan Yahudi seperti berikut:

1. Yahudi Bani `Auf merupakan satu komunitas bersama masyarakat Mu’min. Orang-­orang Yahudi berhak menjalankan agama mereka dan orang-orang muslim berhak menjalankan agama mereka, begitu juga klan-­klan Yahudi lainnya diluar Bani `Auf.
2. Masyarakat Yahudi harus menanggung biaya hidupnya sendiri dan orang-­orang muslim juga harus menanggung biaya hidupnya sendiri.
3. Masyarakat Yahudi dan Muslim harus saling bahu membahu melawan musuh yang menyerang pihak yang menandatangani Piagam ini.
4. Mereka juga harus saling memberi saran dan nasihat dalam kebaikan, tapi tidak demikian dalam kejahatan.
5. Siapapun tidak boleh berbuat jahat terhadap orang yang sudah terikat dengan perjanjian ini. 
6. Siapa pun yang dizalami maka wajib ditolong.
7. Masyarakat Yahudi dan Mu’min harus bersatu padu ketika diserang musuh.
8. Yasrib adalah kota yang dianggap suci oleh setiap orang yang menyetujui perjanjian ini.
9. Jika terjadi perselisihan atau pertikaian antara pihak­-pihak yang menyepakati Piagam ini, sehingga khawatir akan merusak hubungan, maka keputusannya harus dikembalikan kepada hukum Allah azza wa jalla dan Muhammad, utusan Allah.
10. Siapa pun tidak boleh memberi suaka (perlindungan) kepada Quraisy dan pendukungnya 
11. Mereka harus saling tolong menolong dalam menghadapi orang yang hendak menyerang yasrib.
12. Perjanjian ini tidak boleh dilanggar, kecuali dia memang orang yang zalim atau jahat.[10]

C. Hijrah Nabi Muhammad ke Habasyah dan Taif

1. Hijrah ke Habasyah yang pertama

Pada tahun ketujuh Sebelum Hijriah (SH)/615 M atau tahun kelima setelah kenabian, terjadi sebuah peristiwa penting dalam sejarah Islam. Saat itu, para sahabat yang baru memeluk Islam mendapat teror dan siksaan dari kaum kafir Quraisy. Rasulullah saw. lalu memerintahkan para sahabat untuk menyelamatkan diri ke Habasyah.

‘’Sesungguhnya di Negeri Habasyah terdapat seorang raja yang tak seorangpun yang dizalimi di sisinya, pergilah ke negerinya, hingga Allah membukakan jalan keluar bagi kalian dan penyelesaian atas peristiwa yang menimpa kalian,’’ ujar Nabi saw. (Fathul Bari 7;189) 

Menurut Dr. Sayuqi Abu Khalil dalam Athlas Hadith al-Nabawi, wilayah al-Habasyah, saat ini dikenal dengan nama Ethiopia atau Eritrea. Masyarakatnya dikenal sebagai al-Habasy yakni bangsa Sudan atau bangsa berkulit hitam.

Habasyah merupakan wilayah yang penting bagi perkembangan agama Islam di tahap-tahap awal. Sebab, negeri yang dipimpin Raja al-Najasyi itu telah menjadi penyelamat akidah para sahabat di awal masa perkembangan Islam. 

Kaum muslimin yang berhijrah ada sebelas orang laki-laki dan empat orang wanita. 'Utsman bin 'Affan dan istrinya Ruqayyah bintu Rasulullah Sholallahu 'alaihi wasalam termasuk orang-orang yang berhijrah pertama kali ke Habasyah.

Setelah sampai di negeri Habasyah, mereka mendapat sambutan yang baik dari raja Najasyi (Negus). Perlakuan raja Najasyi terhadap kaum muslimin sangat baik. Ia mengijinkan umat muslim untuk beribadah dengan sebaik-baiknya. Tatkala kaum kafir Quraisy datang meminta raja Najasyi untuk mengembalikan umat Islam ke Mekah, ia menolaknya dan bahkan kaum muslimin diberikan tempat tinggal dan diperbolehkan tinggal selama-lamanya dengan aman.

2. Hijrah ke Habasyah yang Kedua

Orang-orang yang berhijrah ke Habasyah mendengar berita bahwa penduduk Makkah telah masuk Islam. Maka mereka pun kembali ke Makkah. Di antara mereka ada 'Utsman bin Mazh'un. Kemudian mereka mendapati bahwa berita itu tidak benar. Sehingga mereka kembali lagi ke Habasyah. Jumlah kaum muslimin yang hijrah juga bertambah. Ada delapan puluh tiga laki-laki dan delapan belas wanita.

Quraisy mengirim dua utusan kepada Raja Najasyi. Mereka adalah 'Amr bin Al 'Ash dan Abdullah bin Abi Rabi'ah. Mereka meminta agar Najasyi mengembalikan kaum muslimin kepada mereka di Makkah. Namun Najasyi menolak karena ia melihat kebenaran ada di pihak kaum muslimin.

Mayoritas orang yang berhijrah ke Habasyah berhijrah ke Madinah setelah agama Islam kokoh di Madinah. Ja'far bin Abi Thalib r.a. dan beberapa orang tertinggal di Habasyah. Mereka baru ke Madinah pada saat penakhlukan Khaibar, di tahun ketujuh hijriyyah.

3. Hijrah Rasulullah Ke Taif

Setelah merasakan berbagai siksaan dan penderitaan yang dilancarkan kaum Quraisy, Rasulullah saw berangkat ke Thaif mencari perlindungan dan dukungan dari bani Tsaqif dan berharap agar mereka dapat menerima ajaran yang dibawanya dari Allah.

Setibanya di Thaif, beliau menuju tempat para pemuka bani Tsaqif, sebagai orang-orang yang berkuasa di daerah tersebut. Beliau berbicara tentang Islam dan mengajak mereka supaya beriman kepada Allah. Tetapi ajakan beliau terebut ditolak mentah-menta dan dijawab secara kasar. Kemudian Rasulullah saw bangkit dan meninggalkan mereka, seraya mengharap supaya mereka menyembunyikan berita kedatangannya ini dari kaum Quraisy, tetapi merekapun menolaknya.

Mereka lalu mengerahkan kaum penjahat dan para budak untuk mencerca dan melemparinya dengan batu, sehingga mengakibatkan cidera pada kedua kaki Rasulullah saw. Zaid bin Haritsah, berusaha keras melindungi beliau, tetapi kewalahan, sehingga ia sendiri terluka pada kepalanya.

Setelah Rasulullah saw sampai di kebun milik ‘Utbah bin Rabi’ah kaum penjahat dan para budak yang mengejarnya berhenti dan kembali. Tetapi tanpa diketahui ternyata beliau sedang diperhatikan oleh dua orang anak Rabi’ah yang sedang berada di dalam kebun. Setelah merasa tenang di bawah naungan pohon anggur itu, Rasulullah saw mengangkat kepalanya seraya mengucapkan doa berikut:

“Ya Allah kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku kurangnya kesanggupanku, dan kerendahan diriku berhadapan dengan manusia. Wahai Dzat Yang Maha Pengasih ladi Maha Penyayang. Engkaulah Pelindung bagi si lemah dan Engkau jualah pelindungku! Kepada siaa diriku hendak Engkau serahkan? Kepada orang jauh ynag berwajah suram terhadapku, atau kah kepada musuh yang akan menguasai diriku? Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka semua itu tak kuhiraukan, karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung pada sinar cahaya wajah-Mu, yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan di dunia dan di akherat dari murka-Mu yang hendak Engkau turunkan dan mempersalahkan diriku. Engkau berkenan. Sungguh tiada daya dan kekuatan apa pun selain atas perkenan-Mu.“

4. Beberapa Pelajaran dari Hijrah Rasulullah ke Taif

Dari peristiwa hijrah yang dilakukan Rasulullah sw ini dan dari siksaan dan penderitaan yang ditemuinya dalam perjalanan ini, kemudian dari proses kemblainya Rasulullah saw ke Mekah, kita dapat menarik beberapa pelajaran berikut:[11]

Pertama, bahwa semua bentuk penyiksaan dan penderitaan yang dialami Rasulullah saw, khususnya dalam perjalanan hijrah ke Thaif ini hanyalah merupakan sebagian dari perjuangan tabligh-nya kepada manusia. Diutusnya Rasulullah saw bukan hanya untuk menyampakan aqidah yang benar tentang alam dan penciptaannya, hukum-hukum ibadah, akhlak, dan mu’amalah tetapi juga untuk menyampaikan kepada kaum Muslimin kewajiban bersabar yang telah diperintahkan Allah dan menjelaskan cara pelaksanaan sabar dan mushabarah (melipatgandakan kesabaran) yang diperintahkan Allah dalam al-Quran

Kedua, jika kita perhatikan setiap peristiwa Sirah Rasulullah saw bersama kaumnya, akan adan dapati bahwa penderitaan yang dialami oleh Rasulullah saw kadang sangat berat dan menyakitkan. Tetapi pada setiap penderitaan dan kesengsaraan yang dialaminya selalu diberikan penawar yang melegakan hati dari Allah swt. Penawar ini dimaksudkan sebagai hiburan bagi Rasulullah saw agar faktor-faktor kekecewaan dan perasaan putus asa tidak sampai merasuk ke dalam jiwanya.

Ketiga, apa yang dilakukan oleh Zaid bin Haritsa, yaitu melindungi Rasulullah saw dengan dirinya dari lemparan batu orang-orang bodoh bani Tsaqif sampai kepalanya menderita beberapa luka, merupakan contoh yang harus dilakukan oleh setiap kaum Muslimin dalam bersikap terhadap pemimpin dakwah. Ia harus melindungi pemimpin dakwah dengan dirinya sekalipun harus mengorbankan kehidupannya.

Keempat, apa yang dikisahkan oleh Ibnu Ishaq tentang beberapa jin yang mendengarkan bacaan Rasulullah saw ketika sedang melakukan shalat malam di Nikhlah, merupakan dalil bagi eksistensi jin, dan bahwa mereka mukallaf (dibebani kewajiban melaksanakan syariat Islam). Di antara mereka terdapat jin-jin yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, di samping mereka yang ingkar dan tidak beriman. Dalil ini telah mencapai tingkatan qath’i (pasti) dengan disebutkannya di dalam beberapa nash al-Quran yang jelas.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari uraian singkat di atas bisa disimpulkan sebagai berikut:

1. Hubungan antara Nabi Muhammad saw. dan agama samawi dapat dilihat dalam dua hal. Pertama, dari segi nasab, bahwa Muhammad adalah senasab dengan para rasul pembawa agama samawi lainnya; kedua, misi kerasulan Muhammad saw. adalah melanjutkan syariat Nabi Isa as. Sedangkan Nabi Isa as. melanjutkan tugas Nabi Musa as. 

2. Tidak ada fakta yang menyebutkan adanya hubungan antara nabi dengan Yahudi selama di Mekah dan kondisi berbeda ketika nabi berada di Madinah apalagi setelah mendapatkan ancaman dan pengkhianatan oleh kaum Yahudi sehingga dibuatlah perjanjian antara kaum Muslimin dan Yahudi. 

3. Untuk menghindari penyiksaan yang dilakukan oleh orang-orang Quraisy Mekah terhadap kaum muslimin terutama yang lemah, Rasulullah memerintahkan hijrah ke Habasyah dan Taif. 

B. Kritik dan Saran

Penulis telah memberikan gambaran umum tentang pengertian Hubungan Muhammad dengan agama samawi dan Hijrah ke Habasyah dan Taif. Namun tidak menutup kemungkinan, banyak persoalan seputar terma yang diangkat yang belum tuntas, sehingga perlu tinjauan kembali dari teman-teman, dan lebih khusus dosen pemandu untuk memberikan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan makalah ini dan semoga menjadi bermanfaat bagi kita semua. 

DAFTAR PUSTAKA

Baqi, Muhammad Fuad Abd., Mu'jam al-Mufahras li al-Faz al-Qur'an al-Karim, Darul Kitab al-Misriyah, 1945.

al-Buthi, Said Ramadhan, Fiqh al-Sirah al-Nabawiyah, Mesir: Dar al-Salam, 2006. 

al-Dzahabi, Muhammad, al-Sirah al-Nabawiyah, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1988.

al-Khayyath, Abd al-Rahman, Maulid al-Nabi saw., Kairo: Dar al-Afaq al-Arabiah, 2003.

Halil, Munawir, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad, Jilid I, Jakarta: Gema Insani, 2001.

al-Mubarakfuri, Syaikh Shafiyurrahman, al-rahiq al-Makhtum, ed. Agus Suwandi, Jakarta: Ummul Qura, 2011.

al-Nadwi, Abu Hasan Ali al-Hasani, Sirah Nabawiyah, Terj. Muhammad Halabi Hamdi, “Sejarah Lengkap Nabi Muhammad saw.” Yogyakarta: Mardhiyah Press, 2001.

al-Syaibani, Abd al-Rahman, Maulid al-Diba’, Semarang: Karya Thaha Putra, 2008.

Shihab, M. Quraish, Tafsir al-Qur'an al-Karim, Tafsir atas Surat-Surat Pendek Berdasarkan Urutan Turunnya Wahyu, Cet. Kedua; Bandung: Pustaka, 1999.

Syalabi, Ahmad, Mausu’at al-Tarikh al-Islami wa al-Hadharah al-Islamiyah, Mesir: al-Nahdhah al-Mishriyah, 1978.



0 Response to "Hubungan Nabi Muhammad Dengan Kristen dan Yahudi"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!