Makalah Islami, Pengertian Korelasi Iman dan Kejujuran

Advertisement
Artikel Islami, Iman dan Kejujuran
Disusun oleh: Kholila Mukaromah 

BAB I
PENDAHULUAN 

Latar Belakang 

Jika ada orang yang bertanya tentang inti dan akar gerakan dakwah Islam, maka jawaban yang tepat adalah menyeru manusia kepada “ keimanan”. Sebab satu-satunya tujuan al-Qur’an diturunkan serta adanya risalah Nabi Muhammad saw. tak lain adalah dakwah Islam menuju “keimanan”. Isi al-Qur’an menyampaikan nasehat, peringatan, janji, ancaman, uraian, dalil-dalil, kisah, dan hikayat semata-mata bertujuan hanya untuk mengajak pada “iman”. Kemudian al-Qur’an juga menyatakan bahwa dirinya hanya akan menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa, yakni orang-orang yang senantiasa beriman terhadap rukun iman.[1]

Pengertian Korelasi Iman dan Kejujuran 2

Al-Qur’an juga memuat konsep-konsep akhlak yang indah sebagai tuntunan bagi umat Islam dalam berperilaku sehari-hari. Salah satu komponen yang penting dalam pembentukan kepribadian seorang mukmin adalah sifat jujur. Jujur merupakan akhlak utama seorang mukmin sebagaimana perkataan Al-Harist al muhasibi rahimahullah : “Ketahuilah semoga Allah memberi rahmat kepadamu, sesungguhnya jujur dan ikhlas adalah pondasi segala sesuatu”. Jujur akan melahirkan beberapa sifat seperti sabar, qana’ah, zuhud, dan ridha. Dan dari sifat ikhlas tercabanglah beberapa sifat seperti yakin, khauf ( takut), mahabbah( cinta), ijlal ( membesarkan), haya’ (malu), dan ta’dzim ( pengagungan).[2] Sehingga, sifat jujur ini menjadi sifat yang dianjurkan bagi umat muslim, sebagaimana telah diperintahkan Allah swt. dan Rasulullah saw. dalam al-Qur’anul Karim dan Hadis Nabawi. Sifat jujur ini banyak berkaitan dengan cabang-cabang keislaman, baik itu akidah, akhlak, maupun muamalah. Pada akhirnya dampak sifat jujur yang berhubungan erat dengan cabang-cabang islam tersebut mengantarkan manusia kepada tujuan dakwah islam, seperti yang telah dikemukakan di atas, yaitu “keimanan”. 

Rumusan masalah 

Pembahasan tentang iman dan kejujuran kali ini akan berusaha mencari konsep dari hadis-hadis nabawi, sebagai Risalah Muhammad saw. Beliau yang merupakan utusan yang dianugerahi sifat shiddiq, dan juga digelari “al-Amin” atau yang dipercayai. Selanjutnya pembahasan akan kami batasi pada poin-poin di bawah ini.

1. Apa definisi iman dan kejujuran?
2. Bagaimana hadis berbicara tentang konsep kejujuran?
3. Apa saja kaitan antara iman dengan kejujuran?
4. Bagaimana peng-aplikasi-an kejujuran yang ada dalam kehidupan sehari-hari?

BAB II 
PEMBAHASAN 

A. Definisi tentang Iman dan Kejujuran

Kata iman secara etimologi berasal dari kata اَمن - يؤمن – ايمانا.yang artinya “percaya”. Sedangkan pengertian tentang iman itu sendiri adalah membenarkan dalam hati, mengikrarkan dalam lisan dan mengamalkan dengan rukun-rukun. Dalam mendefinisikan iman kita juga dapat merujuk kepada salah satu hadis shahih dalam kitab shahih Bukhari :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا بَارِزًا لِلنَّاسِ فَأَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِيمَانُ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكِتَابِهِ وَلِقَائِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ الْآخِر[3]ِ

Abu Hurairah r.a berkata, pada suatu hari ketika Nabi duduk bersama sahabat, tiba-tiba datang seorang bertanya : Apakah iman? Jawab Nabi S.A.W :”Iman adalah percaya pada Allah , dan malaikat-malaikatnya , dan akan berhadapan dengan Allah, dan pada Nabi utusan-Nya dan percaya pada hari bangkit dari kubur.

Penjelasan dalam hadis tersebut lebih memperjelas ruang lingkup iman. Bukan berarti deskripsi tentang iman hanya terbatas pada hal tersebut. Percaya kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, liqa’ dengan Allah, percaya pada Nabi dan RasulNya, serta percaya pada hari kebangkitan setelah kematian merupakan ajaran pokok dan dasar yang harus dipercayai oleh umat islam, bukan hanya sekedar percaya , tetapi lebih cocok jika dipakai kata iman terhadap hal tersebut.

Selanjutnya , kata kejujuran yang berasal dari kata “jujur” dalam bahasa Indonesia berarti keselarasan antara berita dengan kenyataan yang ada .Jadi ketika kita mendapati sebuah berita yang sesuai dengan keadaan, maka hal itu dapat dikatakan jujur atau benar, sedangkan kebalikan dari jujur adalah dusta. Kejujuran itu ada pada ucapan, dan juga perbuatan, yang tentunya selaras dengan yang ada dalam batin. Seorang yang melakukan riya’ tidak bisa dikatakan orang yang jujur, karena dia telah menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang disembunyikannya dalam batinnya. Demikian juga orang munafik tidaklah dikategorikan orang yang jujur , karena dia seolah-olah menampakkan dirinya sebagai seorang yang bertauhid kepada Allah, padahal sebaliknya. Allah telah menjelaskan dalam firmanNya bahwa tidak ada yang bermanfaat bagi seorang hamba dan yang mampu menyelamatkannya dari adzab, kecuali kejujurannya ( kebenarannya) .[4] Allah berfirman : Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.[5]

B. Konsep Kejujuran dalam Hadis Nabi.

Penulis mengambil konsep hadis dari kitab Riyadhus Salihin karangan Imam Nawawi dalam pembahasan makalah ini. Beliau menyebutkan enam hadis dalam bab shiddiq. Tetapi, penulis hanya akan memilih beberapa hadis, yang dianggap sebagai hadis utama yang akan dibahas pada makalah ini:

أ‌- عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الصِّدْقَ بِرٌّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِنَّ الْكَذِبَ فُجُورٌ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ كَذَّابًا . مُتَّفَقٌ عَلَيهِ

Artinya : Dari Abdullah bin Mas’ud r.a , dari nabi Muhammad saw, bahwa sanya beliau bersabda:” Sesungguhnya siddiq ( jujur) itu membawa kepada kebaikan , dan kebaikan menunjukkan pada surga. Dan Seseorang berperilaku siddiq(jujur), hingga ia tercatat sebagai seorang yang siddiq di sisi Allah. Semntara kadzib(dusta) akan membawa kepada keburukan , dan keburukan akan mengantarkan pada api neraka , Dan seseorang yang berperilaku kadzib ( dusta) akan tercatat sebagai seorang yang kadzib(pendusta).[6]

Hadis ini merupakan hadis shahih yang diriwayatkan oleh seluruh a’immat ashab kutub al-sittah, kecuali Imam Nasa’i.[7]

Gambaran isi hadis

Hadis ini menggambarkan adanya dua hakekat yang berbeda, antara kata الصدق dan الكذب . Term pertama adalah الصدق yang mempunyai beberapa arti yang saling melengkapi. Shiddiq dapat diartikan dengan : benar, jujur, dapat dipercaya, ikhlas, tulus, keutamaan, kebaikan dan kesungguhan. Rasulullah menggambarkan bahwa shiddiq merupakan pintu gerbang kebaikan yang akan mengantarkan manusia menuju surga. Shiddiq di sini lebih dekat pengertiannya dengan sikap pembenaran terhadap apa yang datang dari Allah swt.yang disertai dengan ucapan dan juga tindakan atau perbuatan. Sedangkan manakala ucapannya masih bertentangan dengan amal perbuatannya, maka ia termasuk kategori term yang kedua, yakni الكذب yang berarti dusta. Sikap ini dianggap sebagai pintu gerbang keburukan yang mengantarkan pada neraka.[8]

ب‌- عَنْ أَبِي الْحَوْرَاءِ السَّعْدِيِّ قَالَ قُلْتُ لِلْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ مَا حَفِظْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ حَفِظْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ

Artinya: Dari Abu Muhammad, yaitu Alhasan bin Ali bin Abu Thalib radhiallahu'anhuma, katanya: "Saya menghafal sabda dari Rasulullah s.a.w. yaitu: "Tinggalkan apa-apa yang menyangsikan hatimu - yakni jangan terus dilakukan - dan berpindahlah kepada apa-apa yang tidak menyangsikan hatimu.[9]

Hadis ini mengindikasikan bahwa shiddiq menyebabkan ketenangan. Sedangkan berdusta itu menyebabkan kesangsian. Jadi bila kila meragu-ragukan sesuatu, sebaiknya kita tinggalkan saja dan beralih pada yang sesuatu yang tidak meragu-ragukan, misalnya sesuatu yang belum terang hukumnya yakni samar-samar atau syubhat, maka lebih baik untuk ditinggalkan. Selanjutnya Rasulullah saw. Bersabda: 

ت‌- أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِه

Bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda:"Barangsiapa yang memohonkan kepada Allah Ta'ala supaya dimatikan syahid dan permohonannya itu dengan shiddiq (secara yang sebenar-benarnya), maka Allah akan menyampaikan orang itu ke tingkat orang-orang yang mati syahid, sekalipun ia mati di atas tempat tidurnya." (Riwayat Muslim).[10]

Berdasarkan hadis ini, menunjukkan bahwa Allah memberikan respon yang sangat tinggi kepada orang yang shiddiq. Karena ia menetapkan hatinya dengan sungguh-sungguh (shiddiq) dalam berdo’a kepada Allah saw. Bahkan derajatnya disamakan dengan orang yang mati syahid.

ث‌- حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ حَمْزَةَ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ صَالِحٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَخْبَرَهُ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو سُفْيَانَ أَنَّ هِرَقْلَ قَالَ لَهُ سَأَلْتُكَ مَاذَا يَأْمُرُكُمْ فَزَعَمْتَ أَنَّهُ أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالصِّدْقِ وَالْعَفَافِ وَالْوَفَاءِ بِالْعَهْدِ وَأَدَاءِ الْأَمَانَةِ قَالَ وَهَذِهِ صِفَةُ نَبِيٍّ

Artinya : Dari Abu Sufyan bin Shakhr bin Harb r.a. dalam Hadisnya yang panjang dalam menguraikan ceritera Raja Hercules. Hercules berkata: "Maka apakah yang diperintah olehnya?" Yang dimaksud ialah oleh Nabi s.a.w. Abu Sufyan berkata: "Saya lalu menjawab: "Ia berkata: "Sembahlah akan Allah yang Maha Esa, jangan menyekutukan sesuatu denganNya dan tinggalkanlah apa-apa yang dikatakan oleh nenek-moyangmu semua." Ia juga menyuruh supaya kita semua melakukan shalat, bersikap benar, menahan diri dari keharaman serta mempererat kekeluargaan." (Muttafaq 'alaih).[11]

Hadis ini menjelaskan tentang ajaran-ajaran pokok Islam yang yang dikabarkan Rasulullah untuk Raja Herkules. Dan poin shiddiq (bersikap benar) merupakan salah satu poinnya. Hal ini menunjukkan bahwa dalam menjalankan agama, sifat shiddiq penting untuk menjaga agama, setelah berikrar Islam.

C. Kejujuran Sebagian dari Iman

Jika kita ingin mengkaitkan atau menghubungkan antara iman dan kejujuran, kita akan menemukan beberapa hal yang saling terkait. 
Iman bermakna tashdiq(benar/jujur). 

Seperti yang telah dijelaskan tentang pengertian iman sebelumnya. Maksud tashdiq di sini adalah membenarkan ajaran –ajaran yang datang dari Allah, bukan hanya menetapkannya dalam hati, tetapi juga mengekspresikannya dalam perkataan ,serta mengaplikasikannya dalam perbuatan sehari-hari.Bahkan dalam sebuah riwayat Rasulullah bersabda:

حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ حَدَّثَنَا أَبُو الْأَسْوَدِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ رَافِعٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَجْتَمِعُ الْإِيمَانُ وَالْكُفْرُ فِي قَلْبِ امْرِئٍ وَلَا يَجْتَمِعُ الصِّدْقُ وَالْكَذِبُ جَمِيعًا وَلَا تَجْتَمِعُ الْخِيَانَةُ وَالْأَمَانَةُ جَمِيعًا[12]

Artinya:Hasan ibn Musa telah menceritakan kepada kami, Ibn Lahii’ah telah menceritakan kepada kami, Abu al-Aswad telah menceritakan kepada kami, dari Abd Allah ibn Rafi’ , dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah s.a.w bersabda : “ Iman dan kekufuran tidak akan berkumpul dalam hati seseorang , kebenaran dan kebohongan tidak akan berkumpul bersama-sama, dan khianat dan amanah tidak akan berkumpul bersama-sama.

Ditegaskan tentang hubungan antara Iman dan Kejujuran adalah sangat erat. Iman yang berkaitan erat dengan kebenaran (kejujuran), serta amanah merupakan sesuatu yang sangat bertentangan dengan kekufuran, kebohongan, dan khianat, sehingga tidak akan pernah saling bertemu atau bercampur. [13] 
Jujur adalah sifat orang yang beriman. 

Orang yang memiliki keimanan kepada Allah swt., cenderung menaati segala perintah dan menjauhi laranganNya. Allah sendiri telah memerintahkan hambanya untuk senantiasa menjadi orang yang benar dan jujur.

119. Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar[14].

Selain itu Rasulullah juga bersabda :

يا رسو ل الله, أيكون المؤمنون جبانا ؟قال نعم, فقيل له : أيكون المؤمن كذابا ؟ قال : لا

Artinya: Ya Rasulullah, apakah orang beriman ada yang takut? Beliau menjawab, ‘ya’. Maka ada yang bertanya kepada beliau ,” Apakah orang yang beriman ada yang bakhil( pelit, kikir)”. Beliau menjawab “ya”. Ada lagi yang bertanya , “Apakah ada orang beriman yang pendusta ?”. Beliau menjawab, ‘Tidak’.[15]

Hadis di atas menunjukkan adanya klaim dari nabi , bahwa beliau tidak menafikan adanya mukmin yang mempunyai sifat tidak terpuji seperti bakhil, tetapi beliau menolak bahwa seorang mukmin terjerumus dalam kebohongan, karena hal itu sangat jauh dari pribadi seorang mukmin. 

D. Aplikasi Shiddiq Jujura dalam Kehidupan Sehari-hari.

Aspek Teologis 

Ketika kita mengikrarkan islam sebagai agama keyakinan kita, dengan mengucapkan syahadat , berarti kita telah men-tashdiq-kan agama islam, dan juga pertanda bahwa kita siap untuk berkomitmen terhadap ajaran-ajaranNya, yakni mentaati perintah-perintah serta menjauhi larangan-laranganNya. 

Aspek Individu 

Dalam menjalankan kewajiban-kewajiban beribadah, seperti shalat, puasa, zakat, haji misalnya, sebenarnya kita telah dilatih agar bersikap jujur. Dalam shalat dzuhur, kita selalu mengerjakannya sebanyak empat raka’at, karena syari’at menyuruh untuk dikerjakan empat raka’at. Walaupun kita mengerjakannya di tempat yang sepi, kita akan tetap mengerjakannya empat raka’at. Begitu juga ibadah puasa, mengajarkan kejujuran. Tidak ada yang tahu, apakah kta puasa atau tidak. Hanya diri kita sendiri yang tahu. Demikian pula ibadah haji, apakah kita melangggar ketentuan sewaktu berihram, hanya diri kita yang tahu. Semua mengajarkan kejujuran. Kita melakukannya dengan jujur, karena meyakini bahwa sebenarnya Allah senantiasa melihat semua perbuatan kita.

Dalam pelaksanaan sikap ini ,perlu disertai dengan komponen ikhlas.Karena seseorang yang jujur, tapi tidak ikhlas, bisa dikatakan dengan riya’. Karena dhahirnya saja yang kelihatan jujur (benar), padahal niatnya tidak ikhlas(murni), yakni untuk menunjukkan salah satu kelebihannya kepada orang lain. 

Aspek Sosial 

Pelaksanaan kejujuran dalam hal ini dinilai kurang jika hanya dilakukan oleh personal saja. Ketika sifat ini masuk ke dalam wilayah bersama atau social, perlu adanya kerjasama dalam berlaku jujur. Hal ini dapat kita perhatikan dalam fakta pemerintahan Negara kita. Indonesia yang notabene Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia , juga menjadi salah satu Negara ber-korupsi di dunia. Kejujuran perlu diaplikasikan dalam system, dalam hal ini, kejujuran dari masyarakat bawah hingga kepada pejabat pemerintahan merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan. 

Sikap jujur merupakan salah satu sikap yang harus diterapakan dalam kehidupan bermasyarakat.Hal ini menjadi dasar yang fundamental dalam membangun komunitas masyarakat, Tanpa kejujuran, maka ikatan masyarakat akan terlepas. Karena tidak mungkin membentuk suatu komunitas masyarakat , tanpa adanya hubungan antar sesama dengan jujur. Berbagai aspek sosial, mulai dari aspek politik-pemerintahan, ekonomi, pendidikan , dan bahkan keamanan, sangat memerlukan adanya kejujuran dari berbagai pihak. Adanya korupsi para pejabat pemerintahan maupun para pegawai perkantoran, pelanggaran dalam pembayaran pajak, jual beli dengan riba, dan bahkan adanya ketidakjujuran siswa dalam menjawab soal-soal ujian bagi siswa-siswi sekolah, merupakan bentuk-bentuk ketidakjujuran yang kerap kali terjadi. Hal inilah yang menyebabkan jalannya pemerintahan serta keadaan masyarakat menjadi kacau. 

Untuk selanjutnya , perlu adanya pembenahan , terutama bagi generasi muda. Kita kerap kali terjebak dalam dunia pendidikan. Terutama dari pendidikan anak dalam keluarga sebagai lingkungan pendidikan dini. Kadangkala orangtua melakukan kebohongan agar anak mematuhi perintahnya, walaupun, hal itu hanyalah masalah kecil , dan kelihatannya kurang berdampak. Tapi tanpa disadari, hal itu akan membuat anak juga akan terbiasa berbohong.Maka perlu adanya perubahan sistem pembelajaran bagi anak sebagai generasi muda. Beberapa sekolah telah menerapkan sistem kejujuran dengan adanya “kantin kejujuran”. Hal ini perlu diacungi jempol, karena pada akhirnya dapat menjadi latihan yang baik untuk membiasakan kejujuran bagi siswa-siswi.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasrkan uraian tentang iman dan kejujuran di atas, penulis menyimpulkan bahwa :

a) Iman adalah membenarkan dalam hati, mengikrarkan dalam lisan dan mengamalkan dengan rukun-rukun. Sedangkan pengertian sifat jujur adalah keselarasan antara berita dengan kenyataan yang ada.

b) Beberapa hadis tentang kejujuran (shiddiq) yang penulis kutip dari kitab Riadhus Shalihin,

· menjelaskan tentang hakekat shiddiq adalah kebaikan yang akan mengantarkan pada surga.
· Shiddiq menyebabkan ketenangan.
· Allah menyamakan derajat orang shiddiq dengan orang yang mati syahid.
· Sifat shiddiq merupakan salah satu sifat yang diwasiatkan Rasulullah kepada raja Herkules, dalam permulaan mempelajari Islam. Shiddiq sangat dianjurkan ketika bertauhid kepada Allah swt.dan setelahnya. 

c) Kaitan antara iman dan kejujuran diantaranya adalah:

v Iman bermakna tashdiq(benar/jujur).
v Jujur adalah sifat orang yang beriman.

d) Aplikasi kejujuran dalam kehidupan sehari-hari dapat kita lihat dari beberapa kejadian sebagai berikut:

§ Aspek teologis : Syahadat kita sebagai seorang muslim.
§ Aspek individu: umat islam dalam menjalankan kewajiban-kewajiban agama seperti shalat, mzakat, puasa, dan haji, serta perbuatan-perbuatan yang lain.
§ Aspek social : meliputi bidang politik pemerintahan, ekonomi, pendidikan, bahkan juga keamanan. Partisipasi seluruh komponen masyarakat untuk senantiasa jujur , karena jujur yang diperlukan bukan hanya jujur secara personal, tapi yang universal. Hail ini menjadi salah satu penentu ketentraman, ketenangan, dan keamanan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Abul A’la Maududi, Dasar-Dasar Iman,(Bandung: Pustaka, 1986), hal.27-28. 
[2] Islam House, Kejujuran , dalam www.haurafashion, pada Minggu , 21 Maret 2010 diakses pukul 11:28:32. 
[3] Mausu’ah Hadis As-Syarif, Shahih Bukhari,No.48, kitab iman bab sualu Jibrilu an-nabiyya ‘an al-iman wal islam wal ihsan. 
[4] Tim Opini Penulis Dunia Maya, Sebuah Kejujuran,dalam www. bdmalhikmah.com, diakses pada Minggu, 21 maret 2010 pukul 11:30:12 
[5] Q. S.Az-Zumar : 33 
[6] Imam Nawawi, Riadush Shalihin Juz 1,terj. Salim Bahreisy, (Bandung: Al-Ma’arif, 1986), hal.78. 
[7] Mausu’ah al-Syarif, Global Islamc Software Company . 
[8] Rikza Maulan, Menggapai Derajat Siddiqin,Dalam www.dakwatuna.com, diakses pada Minggu, 21 Maret 2010, pukul 11:17:22. 
[9] Imam Nawawi, Riadush Shalihin Juz 1,terj. Salim Bahreisy,hal.78 
[10] Imam Nawawi, Riadush Shalihin Juz 1,terj. Salim Bahreisy,hal.78 
[11] Imam Nawawi, Riadush Shalihin Juz 1,terj. Salim Bahreisy,hal.80. 
[12] Mausu’ah Hadis As-Syarif , Musnad ahmad,No.8238, Kitab Baqi Musnad al-Muktsiriin , Bab Baqi al-Musnad al-Sabiq. 
[13] Muhammad Yusuf, Metode dan Aplikasi Pemaknaan Hadis, (Yogyakarta:Bidang Akademik UIN SU-KA,2008), hlm.107-108. 
[14] Q.S At- Taubah :119. 
[15] Islam House, Kejujuran , dalam www.haurafashion, pada Minggu , 21 Maret 2010 pukul 11:28:32


0 Response to "Makalah Islami, Pengertian Korelasi Iman dan Kejujuran"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!