Makalah Nasab, Kelahiran dan Pekerjaan Nabi Muhammad SAW

Advertisement
Makalah Nasab, Kelahiran dan Pekerjaan 
Nabi Muhammad SAW
Oleh: Mallingkai Ilyas

A. Latar Belakang

Nabi Muhammad saw. adalah Nabi yang diutus sebagai penutup risalah para Nabi sebelumnya. Beliau adalah manusia paling mulia dan utama yang pernah ada di bumi ini. Sebelum beliau dilahirkan, disebutkan bahwa nanti di akhir zaman akan diutus seorang Nabi yang dilahirkan di Makkah, hijrahnya ke Madinah dan mempunyai kekuasaan di Negeri Syam, yaitu Muhammad saw.[1]

Nabi Muhammad saw. adalah nabi sekaligus rasul akhir zaman. pengertian akhir zaman adalah di mana setelah Nabi Muhammad tidak akan ada lagi rasul yang akan datang. Isu tentang akan turunnya Nabi Isa as. itu memang benar namun turunnya Nabi Isa kelak bukanlah sebagai Nabi pembawa syariat baru, Nabi Isa turun ke bumi untuk meluruskan syariat yang dibawa Nabi Muhammad saw.

Mengetahui sejarah Rasul Muhammad adalah penting bagi umat Islam karena dengan mengetahui sejarah Rasul kita bisa menjadikannya sebagai suri tauladan yang baik. Selain itu, dengan mengetahui sejarah perjuangan Rasul diharapkan kita, sebagai umatnya, sadar bahwa agama islam itu bukanlah agama yang main-main dan tidak memperlakukannya seperti mainan.

Said Ramadhan al-Buthi dalam pengantar buku Sirah Nabawi menjelaskan bahwa tujuan mengkaji Sirah Nabawiyah bukan sekedar untuk mengetahui peristiwa-peristiwa sejarah yang mengungkapkan kisah-kisah dan kasus yang menarik. Karena itu, tidak sepatutnya kita menganggap kajian fikih Sirah Nabawiyah termasuk sejarah, sebagaimana kajian tentang sejarah hidup salah seorang Khalifah, atau sesuatu periode sejarah yang telah silam.[2]

Tujuan mengkaji Sirah Nabawiyah adalah agar setiap Muslim memperoleh gambaran tentang hakekat Islam secara paripurna, yang tercermin di dalam kehiduapn Nabi Muhammad saw, sesudah ia dipahami secara konseptional sebagai prinsip, kaidah dan hukum. Kajian Sirah Nabawiyah hanya merupakan upaya aplikatif yang bertujuan memperjelas hakekat Islam secara utuh dalam keteledanannya yang tertinggi, Muhammad saw.

Lebih rinci Ramadhan al-Buthi membatasi dalam beberapa sasaran berikut ini:[3]

1. Memahami pribadi kenabian Rasulullah saw melalui celah-celah kehidupan dan kondisi-kondisi yang pernah dihadapinya, utnuk menegaskan bahwa Rasulullah saw bukan hanya seorang yang terkenal genial di antara kaumnya, tetapi sebelum itu beliau adalah seorang Rasul yang didukung oleh Allah dengan wahyu dan taufiq dari-Nya.

2. Agar manusia mendapatkan gambaran al-Matsatl al-A’la menyangkut seluruh aspek kehidupan yang utama untuk dijadikan undang-undang dan pedoman kehidupannya. Tidak diragukan lagi betapapun manusia mencari matsal a’la (tipe ideal) mengenai salah satu aspek kehidupan, dia pasti akan mendapatkan di dalam kehidupan Rasulullah saw secara jelas dan sempurna. Karena itu, Allah menjadikannya qudwah bagi seluruh manusia. Firman Allah Q.S. al-Ahzab: 21 “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu ...”

3. Agar manusia mendapatkan dalam mengkaji Sirah Rasulullah ini sesuatu yang dapat membawanya untuk memahami kitab Allah dan semangat tujuannya. Sebab, banyak ayat-ayat al-Quran yang baru bisa ditafsirkan dan dijelaskan maksudnya melalui peristiwa-peristiwa ynag pernah dihadapi Rasulullah saw dan disikapinya.

4. Melalui kajian Sirah Rasulullah saw ini seorang Muslim dapat mengumpulkan sekian banyak tsaqafah dan pengetahuan Islam yang benar, baik menyangkut aqidah, hukum ataupun akhlak. Sebab tak diragukan lagi bahwa kehidupan Rasulullah saw merupakan gambaran yang konkrit dari sejumlah prinsip dan hukum Islam.

5. Agar setiap pembina dan da’i Islam memiliki contoh hidup menyangkut cara-cara pembinaan dan dakwah. Adalah Rasulullah saw seorang da’i pemberi nasehat dan pembina yang baik, yang tidak segan-segan mencari cara-cara pembinaan yang pendidikan terbaik selama beberapa periode dakwahnya.

B. Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang tersebut di atas, penulis merumuskan beberapa persoalan sebagai berikut:

1. Bagaimana nasab Rasulullah saw.?
2. Bagaimana kelahiran Rasulullah saw.?
3. Bagaimana pekerjaan Rasulullah saw.? 
Makalah Nasb Nabi Muhammad SAW

BAB II
PEMBAHASAN

A. Nasab Rasulullah saw.


Sebelum kita membahas tentang kelahiran Nabi, terutama kita harus mengetahui nasab-nasab Nabi Muhammad saw. Ada tiga bagian tentang nasab Nabi saw.
Bagian yang disepakati oleh pakar biografi dan nasab, yaitu sampai Adnan.
Bagian yang mereka perselisihkan, yaitu antara nasab yang tidak diketahui secara pasti dan nasab yang harus dibicarakan, tepatnya Adnan ke atas hingga Ibrahim as.
Bagian yang sama sekali tidak diragukan bahwa di dalamnya ada hal-hal yang tidak benar, yaitu ibrahim ke atas hingga Adam as.[4]

Bagian pertama: Muhammad saw. bin Abdullah bin Abdul Muthalib (yang namanya Syaibah) bin Hasyim (yang namanya Amru) bin Abdu Manaf (yang namanya al-mughirah) bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ayy bin Ghalib bin Fihir bin Malik bin Nadhor bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrika bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan.

Bagian kedua: Adnan bin udad bin Humaisa‘ bin Salaman bin Aws bin Buz bin Qamwal bin Obai bin ‘Awwam bin Nashid bin Haza bin Bildas bin Yadlaf bin Tabikh bin Jahim bin Nahish bin Makhi bin Ayd bin ‘Abqar bin ‘Ubayd bin Ad-Da‘a bin Hamdan bin Sanbir bin Yathrabi bin Yahzin bin Yalhan bin Arami bin Ayd bin Deshan bin Aisar bin Afnad bin Aiham bin Muksar bin Nahith bin Zarih bin Sami bin Wazzi bin ‘Awda bin Aram bin Qaidar bin Nabi Ismail bin Nabi Ibrahim

Bagian ketiga: Ibrahim dan seterusnya, yaitu bin Trih (yang namanya Azar) bin Nahur, bin Saru’ atau Sarugh, bin Ra’u, bin falakh, bin aibar, bin Syalakh, bin Arfaksyad, bin Sam, bin Nuh as., bin Lamk, bin Matausyalakh, bin Akhnukh atau Idris as., bin Yard, bin Mahla’il, bin Qainan, bin yanisya, bin Syaits, bin Adam as.[5]

Nasab pertama inilah yang telah disepakati. Selebihnya dari yang telah disebutkan di atas masih diperselisihkan. Tetapi hal yang sudah tidak diperselisihkan lagi ialah, bahwa Adnan termasuk anak Ismail, Nabi Allah, bin Ibrahim, kekasih Allah. Dan bahwa Allah telah memilihnya (Nabi saw.) dari kabilah yang paling bersih, keturunan yang paling suci dan utama. Tak sedikitpun dar karat-karat jahiliyah yang menyusup ke dalam nasabnya.

B. Kelahiran Rasulullah saw.


Ketika Muhammad lahir, banyak kejadian-kejadian aneh namun istimewa yang menjadi tanda bahwa bayi yang dilahirkan akan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Seperti halnya bintang-bintang yang bergemerlapan dan seakan mendekat ke bumi untuk menyabut kelahiran manusia paling mulia ini.[6]

Selain itu, cahaya berkilauan yang memancar saat kelahiran Muhammad ke daerah Bushra di Syam. Yang mana daerah ini adalah daerah yang pertama kali yang akan mengalami perkembangan Islam di Negeri Syam.[7] Serta masih banyak hal istimewa yang terjadi pada saat kelahiran beliau yang menunjukkan betapa mulia kedudukannya di sisi Allah swt.

Ia dilahirkan dalam keadaan yatim. Bapaknya Abdullah meninggal ketika ibunya mengandungnya dua bulan. Lalu ia diasuh oleh kakeknya Abdul Muththalib, dan disusukannya sebagaimana tradisi Arab waktu itu kepada seorang wanita Bani Sa’d bin Bakar, bernama Halimah binti Dzu’aib.

Para sejarawan berbeda pandangan mengenai waktu kelahiran manusia paling utama ini. Namun, pendapat yang sering disampaikan bahwa Nabi Muhammad saw. dilahirkan pada hari Senin 20 April 571 M.[8]

Mengenai kelahiran Nabi saw. tahun 571 M ini bersumber dari riwayat Ibnu Amid yang redaksinya sebagai berikut: “Telah sampai juga riwayatnya Ibnu Amid dalam kitab Mukhtashar al-Tarikh bahwa Nabi Muhammad saw. telah berumur delapan tahun ketika Raja Kisra Anusyarwan wafat, yaitu pada tahun 579 M. Oleh karenanya kelahiran Nabi jatuh pada tahun 571 M”.

Sedangkan 20 April ini bersumber dari riwayat Imam Syams al-Din bin Salim dalam kitab al-Jafr al-Kabir, sebagai berikut: “Sungguh benar bahwa Nabi saw. lahir pada bulan Rabiul Awal pada 20 Nisan-nya Tahun Gajah dan pada masa kekuasaan Raja Kisra Anusyarwan”.

Pada riwayat tersebut dijelaskan bahwa Nabi saw. lahir pada 20 bulan Nisan. Adapun bulan Nisan ini merupakan nama salah satu bulan dari Kalender Suryani, yang dalam Kalender Masehi sama dengan bulan April. Oleh karena itu ditetapkan bahwa Nabi saw. lahir pada 20 April 571 M.

Pendapat ini dikuatkan oleh Syekh al-Khudhari yang mengutip pendapatnya sejarawan Mahmud Basya, sebagai berikut: “Syekh al-Khudhari menyebutkan bahwa ahli Falak Mahmud Basya telah meneliti tentang kelahiran Rasul yang jatuh pada pagi hari Senin 9 Rabiul Awal yang bertepatan dengan 20 April 571 M”.[9]

Riwayat ini menyatakan bahwa kelahiran Nabi saw. jatuh pada 9 Rabiul Awal yang bertepatan dengan 20 April 571 M, namun dalam terusan pernyataan Syekh al-Khudhari ini terdapat pendapat lain yang disampaikan oleh Ibnu Faris al-Razi bahwa 20 April 571 M tersebut bukanlah bertepatan dengan 9 Rabiul Awal, akan tetapi bertepatan dengan 10 Rabiul Awal. Adapun redaksinya seperti berikut: “Pada 20 April 571 M tersebut terdapat pendapat yang disampaikan oleh Ibnu Faris al-Razi bahwa Rasul lahir pada hari Senin pada 10 Rabiul Awal”.

Dari kedua pendapat di atas, dapat dipahami bahwa satu tanggal dalam kalender Masehi, yang dalam hal ini 20 April 571 M, bisa mempunyai dua tanggal dari Kalender Hijriyah, yakni 9 dan 10 Rabiul Awal. Hal seperti ini kiranya wajar karena dalam Kalender Hijriyah terdapat lebih dari satu sistem, ada yang menggunakan sistem Urfi, ada pula yang menggunakan sistem Istilahi dan ada yang menggunakan sistem Haqiqi bi al-Tahqiq. Di samping itu, dalam penentuan awal bulan Kamariah sendiri tergantung siapa yang memperhitungkannya.

Adapun mengenai hari Senin ini adalah acuan dalam menentukan waktu kelahiran Nabi Muhammad saw. Hal ini disebabkan beliau pernah menyatakan dalam hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Qatadah bahwasanya beliau lahir pada hari Senin. Hadis tersebut ialah sebagai berikut: “Dari Qatadah ra. bahwasanya Rasulullah saw. pernah ditanya prihal hari Senin. Beliau menjawab: hari Senin itu adalah hari di mana aku dilahirkan.”

Terdapat Hadis terkait lainnya dari ayahnya sahabat Qatadah, namun dengan redaksi yang agak berbeda. Yang mana Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dengan redaksi sebagai berikut:

Artinya: “Abu Qatadah al-Anshari berkata: Seorang a‟rabi bertanya kepada Rasulullah saw., bagaimana pendapatmu (Rasul) tentang puasa hari Senin? Rasul menjawab: hari tersebut adalah hari aku dilahirkan dan hari diturunkan wahyu kepadaku.” (HR. Muslim).[10]

Dalam riwayat yang lain, menyatakan bahwa hari Senin bukan merupakan hari kelahiran Nabi dan diturunkan wahyu saja, tapi hari tersebut juga merupakan hari di mana Rasulullah diangkat jadi Nabi dan hari Hijrah beliau. Hal tersebut terekam dalam riwayat sebagai berikut:

Artinya: “Di dalam kitab al-Irsyad karya al-Biruni dinyatakan bahwa Nabi pernah ditanya prihal hari Senin. Beliau menjawab: hari Senin itu adalah hari kelahiranku, hari aku diangkat menjadi Nabi, hari diturunkan wahyu kepadaku dan hari aku berhijrah.”

Dari sekian riwayat di atas, tidak diragukan lagi kalau Nabi Muhammad saw. dilahirkan pada hari Senin, karena hal tersebut bersumber langsung dari beliau yang tidak mungkin punya sifat bohong. Kemudian timbullah pertanyaan, jika Nabi lahir pada 20 April 571 M, maka bertepatan pada tanggal, bulan dan tahun berapakah dalam Kalender Hijriyahnya?. Untuk menjawab pertanyaan penting ini, ulama banyak yang berijtihad dalam menentukannya. Namun pendapat yang populer ialah Nabi saw. lahir pada 12 Mulud/ R. Awal Tahun Gajah.[11] Bahkan pendapat ini tergolong pendapat yang kuat/ unggul (rajih).[12]

Para perawi Sirah telah sepakat bahwa pedalaman Bani Sa’d pada waktu itu sedang mengalami musim kemarau yang menyebabkan keringnya ladang peternakan dan pertanian. Tidak lama setelah Muhammad berada di rumah Halimah, tinggal di kamarnya dan menyusu darinya, menghijaulah kembali tanaman-tanaman di sekitar rumahnya, sehingga kambing-kambingnya pulang kandang dengan perut kenyang dan sarat air susu.

Selama keberadaan Nabi saw di pedalaman Bani Sa’d terjadilah peristiwa pembelahan dada sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim kemudian ia dikembalikan kepada ibunya setelah genap berumur lima tahun.

Ketika sudah berumur enam tahun, ibunya Aminah meninggal dunia. Kemudian berada dalam asuhan kakeknya, Abdul Muththalib. Tetapi setelah genap berusia delapan tahun, ia ditinggal oleh kakeknya. Setelah itu dia diasuh oleh pamannya Abu Thalib. 

Makalah Nasb, Kelahiran dan Pekerjaan Nabi Muhammad SAW

C. Pekerjaan Rasulullah saw.

Kehidupan Nabi Muhammad sebelum diangkat menjadi rasul lebih didominasi oleh perdagangan, walaupun ada pekerjan lain yang ia lakukan sebagai manusia biasa. Nabi Muhammad telah memulai merintis karir dagangnya ketika berumur 12 tahun dan memulai usahanya sendiri ketika berumur 17 tahun. Pekerjaan ini terus dilakukan sampai menjelang beliau menerima wahyu (beliau berusia sekitar 37 tahun). Dengan demikian beliau telah berprofesi sebagai entrepreneur selama 25 tahun ketika beliau menerima wahyu.

Berikut ini adalah urutan masa Nabi Muhammad dalam berbisnis :

1. Masa Kecil Membentuk Jiwa Wirausaha
Beliau terlahir sebagai anak yatim. Ayahnya, Abdullah meninggal ketika Muhammad masih dalam kandungan ibunya. Muhammad kecil menjadi yatim piatu pada usia 6 tahun. Kemudian beliau diasuh oleh kakeknya Abdul Muthalib, setelah wafat, dilanjutkan pamannya Abu Thalib. Muhammad kecil harus membantu ekonomi keluarga dengan bekerja “serabutan” kepada penduduk Makkah. Pengalaman masa kecil itulah yang menjadi modal psikologis beliau di kemudian hari.

Pekerjaan menggembala ternak merupakan pekerjaan yang umum dilakukan oleh para Nabi dan Rasul, seperti Nabi Musa, Daud, dan Isa. Menurut catatan sejarah, di masa kecil Nabi Muhammad pernah menggembala ternak penduduk Makkah.

Fungsi Leadership penggembala :

a. Pathfinding (mencari) padang gembalaan yg subur
b. Directing (mengarahkan) menggiring ternak ke padang gembalaan
c. Controlling (mengawasi) agar tidak tersesat atau terpisah dari kelompok
d. Protecting (melindungi) dari hewan pemangsa dan pencuri
e. Reflecting (perenungan) Alam, manusia, dan Ciptaan Allah
(Muhammad SAW, Super Leader Super Manager, Dr. Muhammad Syafi’i Antonio M.Ec)

2. Perjalanan Dagang Nabi Muhammad
Karir bisnis Nabi Muhammad dimulai ketika beliau masih berusia 12 tahun. Beliau ikut pamannya berdagang “ekspor-impor” ke Syam. Sejak itulah Nabi Muhammad melakukan semacam kerja magang (intership) yang berguna kelak ketika beliau mengelola bisnisnya sendiri.

Menjelang usia dewasa, beliau memutuskan perdagangan sebagai karirnya. Beliau menyadari bahwa pamannya bukanlah orang yang kaya namun memiliki beban keluarga yg cukup besar. Oleh karena itu, Muhammad muda berpikiran untuk ikut meringankan beban pamannya dengan berdagang.

Agaknya, profesi menjadi pedagang ini telah dimulai lebih awal daripada yang telah dikenal umum dengan modal dari Khadijah. Ketika merintis karirnya tersebut beliau memulai dengan berdagang kecil-kecilan di kota Makkah. Beliau membeli barang-barang dari satu pasar kemudian menjualnya kepada orang lain.

Dalam melaksanakan bisnisnya tersebut beliau memperkaya diri dengan kejujuran, keteguhan memegang janji, dan sifat-sifat mulia lainnya sehingga penduduk Makkah mengenal Muhammad sebagai seorang yang terpercaya (al-amin).

Para pemilik modal (investor) di Makkah waktu itu semakin banyak yang membuka peluang kemitraan dengan Muhammad. Salah seorang pemilik modal itu adalah Khadijah yg menawarkan kemitraan berdasarkan mudharabah (bagi hasil). Dalam hal ini Khadijah bertindak sebagai pemodal (shahibul mal), sementara Muhammad sebagai pengelola (mudharib).

Lebih kurang selama 28 tahun Nabi Muhammad menjalankan usaha dagang ke Yaman, Syria, Busra, Iraq, Yordania, dan kota-kota di perdagangan di jazirah Arab lainnya. Dengan demikian, di usia muda, Nabi Muhammad sudah menjadi pedagang internasional, karena wilayah perdagangannya meliputi hampir seluruh jazirah Arab.

3. Bisnis Setelah Menikah

Setelah menikah, Nabi Muhammad semakin memperlebar sayap “kerajaan” bisnisnya. Namun sekarang beliau bertindak sebagai manajer sekaligus mitra dalam usaha istrinya. Untuk menjalankan bisnisnya, Nabi Muhammad melakukan perjalanan ke berbagai pusat perdagangan di seluruh penjuru negerinya dan negeri tetangga.

Perjalanan karir Nabi Muhammad sebagai seorang businessman dapat dirumuskan sebagai berikut.

Muhammad telah mengenal perdagangan di usia 12 tahun atau diistilahkan dengan magang (intership). Hal ini terus dilakukan sampai usia 17 tahun ketika beliau telah mulai membuka usaha sendiri. Dengan demikian pada usia ini beliau sudah menjadi “business manager”.

Dalam perkembangan selanjutnya, ketika pemilik modal Makkah mempercayakan pengelolaan perdagangan mereka kepada Muhammad muda, beliau menjadi “investment manager”.

Ketika beliau menikah dengan Khadijah dan terus mengelola perdangannya maka status beliau naik menjadi “business owner”.
Ketika usia beliau menginjak 30, beliau sudah menjadi “investor” sehingga beliau sudah mencapai tingkatan financial freedom (Kebebasan uang dan waktu).

Begitulah kondisi Nabi Muhammad sebagai panutan umat dari segi bisnis dan entrepreneur sebelum beliau diangkat menjadi Rasul oleh Allah swt pada usia 40 tahun.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari uraian singkat diatas bisa disimpulkan sebagai berikut:

1. Nasab nabi Muhammad yang disepakati oleh para sejarawan adalah nasab yang berakhir pada Adnan. Muhammad dilahirkan dalam keadaan yatim. Bapaknya, Abdullah meninggal ketika ia berusia 2 bulan dalam kandungan ibunya. Setelah ibunya meninggal pada usia 6 bulan, kemudian diasuh oleh kakeknya, setelah meninggal kakeknya diasuh oleh pamannya dan disusui oleh bani Sa’d, Halimatu al-Sa’diyah.

2. Para sejarawan berbeda pandangan mengenai waktu kelahiran Nabi Muhammad saw. Namun, pendapat yang sering dipakai adalah bahwa Nabi Muhammad saw. dilahirkan pada hari Senin 20 April 571 M.

3. Pekerjaan nabi Muhammad sebelum menerima risalah kenabian lebih didominasi oleh perdagangan. Ia mengenal dunia dagang sejak umur 12 tahun dan pada usia 17 tahun sudah membuka usaha sendiri.

B. Kritik dan Saran

Penulis telah memberikan gambaran umum tentang pengertian Nasab, Kelahiran dan Pekerjaan Rasulullah saw. Namun tidak menutup kemungkinan, banyak persoalan seputar terma yang diangkat yang belum tuntas, sehingga perlu tinjauan kembali dari teman-teman, dan lebih khusus dosen pemandu untuk memberikan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan makalah ini dan semoga menjadi bermanfaat bagi kita semua.

DAFTAR PUSTAKA


al-Bantani, Muhammad Nawawi, Madarij al-Shu’ud ila Iktisab al-Burud, Surabaya: Dar Ihya’ al-Kutub al-Arabiyah, 2001.
al-Barzanji, Sayyid Ja’far bin Hasan, Maulid al-Barzanji, Langitan: Percetakan PP. Langitan, 1992.
al-Buthi, Said Ramadhan, Fiqh al-Sirah al-Nabawiyah, Mesir: Dar al-Salam, 2006.
al-Dzahabi, Muhammad, al-Sirah al-Nabawiyah, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1988.
Fiyadh, Muhammad, al-Taqawim, Mesir: Nahdhah Mishr, 2003
al-Hasani, Muhammad Alawi, Mukhtashar fi al-Sirah al-Nabawiyah, Tuban: al-Mishbah, 2007.
al-Khayyath, Abd al-Rahman, Maulid al-Nabi saw., Kairo: Dar al-Afaq al-Arabiah, 2003.
Mahsun, Thaha, Tarikh Nabi Muhammad saw., Surabaya: Percetakan Kitab Salim bin Nabhan, 2011.
al-Mubarakfuri, Syaikh Shafiyurrahman, al-rahiq al-Makhtum, ed. Agus Suwandi, Jakarta: Ummul Qura, 2011.
al-Nadwi, Abu Hasan Ali al-Hasani, Sirah Nabawiyah, Terj. Muhammad Halabi Hamdi, “Sejarah Lengkap Nabi Muhammad saw.” Yogyakarta: Mardhiyah Press, 2001.
al-Syaibani, Abd al-Rahman, Maulid al-Diba’, Semarang: Karya Thaha Putra, 2008.
Syalabi, Ahmad, Mausu’at al-Tarikh al-Islami wa al-Hadharah al-Islamiyah, Mesir: al-Nahdhah al-Mishriyah, 1978.
Ridha, Muhammad, Muhammad Rasulullah saw., Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2010.


0 Response to "Makalah Nasab, Kelahiran dan Pekerjaan Nabi Muhammad SAW"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!