Makalah Penelitian Rijalul Hadis

Advertisement

 Makalah Penelitian Rijalul Hadis
(Mallingkai Ilyas)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang


Bagi umat Islam, hadis merupakan sumber pokok ajaran agama Islam setalah al-Qur’an. Ia identik dengan segala sesuatu yang berasal atau yang disandarkan pada Nabi saw., baik ucapan, perbuatan, ataupun penetapan. Dengan mempelajarinya, akan dapat diketahui telah sesuai atau belumnya kita dalam menjalankan syari’at Islam seperti yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw.

Para ahli hadis telah membuat berbagai klasifikasi dalam ilmu hadis. Sebagai suatu disiplin ilmu, ilmu Hadis juga memiliki cabang-cabang sebagaimana ilmu yang lain. Mempelajari cabang-cabang ilmunya merupakan langkah awal dalam memahami hadis lebih lanjut.

Hadis sebagai objek penelitian memiliki dua aspek yang sangat penting, yaitu penelitian matan dan sanad.[1] Urgensi sanad ini akan lebih tampak apabila kita mempelajari rijal al-hadis yang membentuk sanad itu sendiri. Dalam mempelajari rijal al-hadis dapat diketahui apakah silsilah rawi itu bersambung sampai kepada Nabi saw. atau tidak. Dapat diketahui pula, apakah masing-masing rawi dapat dipertanggungjawabkan pemberitaannya atau tidak, dan akhirnya dapat diketahui pula apakah hadis yang diriwayatkan itu dapat dinilai sebagai hadis sahih (otentik), hasan, dan dha’if [2].

Makalah Penelitian Rijalul Hadis

Rijal al-hadis sebagai salah satu disiplin ilmu keislaman yang memfokuskan kajian pada hadis-hadis Rasulullah saw, khususnya pada wilayah sanad (perawi) itu sendiri. Dan sebagai salah satu disiplin ilmu hadis, secara otomatis punya keterkaitan dengan disiplin-disiplin ilmu hadis yang lainnya. Meski demikian, dalam pemaparannya kelak hanya akan dilihat relasinya dengan ilmu al-jarh wa ta’dil sebagai salah satu ilmu turunan darinya.

Baca Juga Artikel Hadis Lainnya
  1. Kritik Hadis (Kemunculan, Perkembangan dan Sasaran Kritik Hadits )
  2. Faktor Pendorong ulama Meneliti Hadis

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, penulis membuat rumusan masalah sebagai kerangka acuan dalam pembahasan masalah ini, berikut adalah hal yang penulis maksudkan:

1. Bagaimana pengertian ilmu Rijal al-Hadis dan Jarh wa al-Ta’dil?
2. Bagaimana tehnik mentetapkan rijal al-hadis?
3. Bagaimana kaidah-kaidah jarh wa al ta’dil?

BAB II
II. PEMBAHASAN

A. Pengertian Ilmu Rijal al Hadis dan Ilmu al-Jarh wa al-Ta’dil

1. Rijal al Hadis


Kata Rijal al-Hadis| adalah suatu konsep (istilah) yang dalam ilmu hadis disebut sebagai orang-orang yang meriwayatkan hadis, pemakaian kata al-rijal sebenarnya merupakan ungkapan yang baku yang telah disepakati oleh ulama hadis untuk merujuk kepada orang-orang yang melakukan pentransferan hadis-hadis Nabi. Istilah ini sudah menjadi bagian khusus dalam ilmu hadis, bahkan sudah merupakan ilmu tersendiri dengan berbagai corak kedisiplinannya.

Kaitannya dengan ilmu hadis, maka rijal dimaksudkan sebagaimana yang diungkapkan oleh Muh. Zuhri sebagai ilmu yang membicarakan tentang tokoh atau orang yang membawa hadis, semenjak dari Nabi sampai dengan periwayat terakir.[3] Senada dengan apa yang diungkapkan oleh Munzier Suparta bahwa Ilmu Rijal al-Hadis ialah ilmu untuk mengetahui para perawi hadis dalam kapasitasnya sebagai perawi.[4]

Rijal al-Hadis bila dikaitkan dengan disiplin ilmu, maka ia adalah suatu ilmu yang membahas para periwayat hadis, baik dari kalangan sahabat, tabi’in maupun angkatan-angkatan sesudahnya yang disebut tabi’ al-tabi’in dalam kapasitas mereka selaku periwayat hadis.

Dengan kata lain dapat dikatakan:

عِلْمٌ يُبْحَثُ فِيْهِ عِنْ رُوَاةِ اْلحَدِ يْثِ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّا بِعِيْنَ وَمَنْ بَعْدَهُمْ.

“Ilmu yang membahas tentang keadaan para periwayat hadis baik dari kalangan sahabat, sahih, maupun generasi-generasi berikutnya”.[5]

Shubhi al-Shalih mendefinisikan ilmu Rijal al-Hadis| ini dengan:


عِلْمٌ يُعْرَ فُ بِهِ رُوَاةُ الحَدِ يْثِ مِنْ حِيْثُ اَنَهُمْ رُوَاةٌ لِلْحَدِيْثِ.

“Ilmu untuk mengetahui para periwayat hadis dalam kapasitasnya sebagai periwayat hadis”.[6]

Dari pengertian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa ilmu rijal al-hadis| ialah ilmu yang memposisikan atau menjadikan para perawi hadis sebagai objek kajian, khususnya yang berkaitan dengan biografinya.

2. Jarh wa al-Ta’dil

Tajrih atau jarh dalam pengertian bahasa, “Melukai tubuh ataupun yang lain dengan menggunakan benda tajam, pisau, pedang dan sebagainya”. Luka yang disebabkan kena pisau dan sebagainya dinamakan jurh. Dan diartikan pula jarh dengan memaki dan menistai, baik di muka ataupun di belakang.[7]

Para ahli hadis yang mendefinisikan al-jarh dengan:

الَطَّعْنُ فىِ رَاوِى الَحدِيْثِ بِمَا يَسْلُبُ أَوْيَخُلُّ بِعَدَالَتِهِ أَوْضَبْطِهِ.

“Kecacatan pada perawi hadis disebabkan oleh sesuatu yang merusak keadilan atau kedhabitan perawi.[8]

Al-Jarh menurut istilah ialah terlihatnya sifat pada seorang perawi yang dapat menjatuhkan ke’adalahan-nya dan merusak hafalan dan ingatannya, sehingga menyebabkan gugur riwayatnya, atau melemahkannya hingga kemudian ditolak.[9]

Sedangkan At-Ta’dil secara bahasa berarti at-taswiyah (menyamakan). Sedangkan menurut istilah berarti:

عَكْسُهُ هُوَتَزْ كِيَةُ الرَّاوِي وَالْحُكْمُ عَلَيْهِ بِأَ نَّهُ عَـدْ لٌ أَوْ ضَابِطٌ.

“Lawan dari al-jarh, yaitu pembersihan atau pensucian perawi dan ketetapan, bahwa ia adil atau dabit”.[10]

Sebagian ulama ada yang mendefinisikan al-jarh dan at-ta’dil dalam satu rangkaian definisi, yaitu ilmu yang membahas tentang perawi hadis dari segi yang dapat menunjukkan keadaan mereka, baik yang dapat mencacatkan atau membersihkan mereka, dengan lafaz tertentu.[11] Dari definisi tersebut, maka al-Jarh wa al-Ta’dil adalah ilmu yang menerangkan tentang cacat-cacat yang dihadapkan kepada para perawi dan tentang pen-ta’dilan-nya dengan memakai kata-kata yang khusus dan untuk menerima atau menolak riwayat mereka.

Tehnik Menetapkan Rijal al-Hadis

Keadilan seorang rawi dapat diketahui dengan salah satu dari dua ketetapan berikut ini:

Pertama, dengan kepopuleran di kalangan para ahli ilmu bahwa ia dikenal sebagai seorang yang adil (bi al-syuhrah).
Kedua, dengan pujian dari seorang yang adil (tazkiyah), yaitu ditetapkan sebagai rawi yang adil oleh orang yang adil yang semula rawi yang dita’dilkan itu belum terkenal sebagai rawi yang adil.

Penetapan keadilan seorang rawi dengan jalan tazkiyah dapat dilakukan oleh:

1. Seorang rawi yang adil. Jadi, tidak perlu dikaitkan dengan banyaknya orang yang men-ta’dil-kan sebab jumlah itu tidak menjadi syarat untuk penerimaan hadis.
2. Setiap orang yang dapat diterima periwatannya, baik laki-laki maupun perempuan, baik yang merdeka ataupun budak, selama ia mengetahui sebab-sebab yang dapat mengadilkannya.

Penetapan tentang kecacatan seorang rawi juga dapat diketahui melalui dua cara, yaitu: 

Berdasarkan berita tentang ketenaran rawi dalam keaibannya. Seorang rawi yang sudah dikenal sebagai orang yang fasik atau pendusta di kalangan masyarakat, tidak perlu lagi dipersoalkan. Cukuplah kepopuleran itu sebagai jalan untuk menetapkan kecacatannya.

Berdasarkan pen-tajrih-an dari seorang yang adil, yang telah mengetahui sebab-sebab dia cacat. Demikian ketetapan yang dipegang muhaditsin, sedangkan menurut para ahli fikih, sekurang-kurangnya harus ditajrih oleh dua orang laki-laki yang adil.

Maratib al-Lafzi al-Ta’dil wa al-Jarh

Tingkatan jarh dan ta’dil satu sama lainnya berbeda. Pembatasan tingkatan nilai dengan menyebutkan lafal-lafal telah dibuat oleh ulama kritikus hadis untuk menyebutkan keadaan perawi ‘adil atau jarh.

1) Tingkatan tertinggi, penyifatan rawi yang menunjukkan bentuk keta’dilan dan kedhabitan tertinggi (bentuk mubalaghah), seperti; “Ilaihi al-Muntaha fi al-Dabti wa al-Tas|abut”, maksudnya; ia sangat tinggi dalam segi ketelitian dan kecermatan. “La ahad afdalu minhu fi al-Hifz wa al-Tas|abut”, maksudnya tidak ada seseorang yang lebih hebat dari dirinya dalam segi hapalan dan kecermatan. “La a’rifu lahu nazhiran fi ‘adalatihi wa Dabtihi”, maksudnya saya tidak melihat orang yang setaraf dengannya dalam segi keta’dilan dan kedhabitan.

Di antara tingkatan itu ada sifat rawi yang menunjukkan bentuk tingkatan tertinggi (al-Tafdil), seperti, “Ausaqunnas”, yaitu orang yang paling terpercaya (tsiqat). “As|batuhum”, yaitu orang yang paling cermat. “A‘duluhum”, yaitu orang yang paling adil. “A‘zamuhum”, yaitu orang yang paling agung. “Wa laisa ‘inda al-Muhaddis|in Arfa’u darajatan min hazihi al-Darajah”, maksudnya menurut muhadditsin tidak ada derajat yang tertinggi selain derajat ini.

2) Tingkatan kedua, penyifatan rawi yang menunjukkan kemasyhuran dalam ke’tadilan dan kecermatan (al-Tasabut), seperti “Fulan La Tus’alu ‘anhu”, maksudnya seorang yang tidak dipertanyakan lagi. La yubhas|u ‘an halihi’, maksudnya seseorang yang tidak perlu dibicarakan keadaannya. “Wa man kafulanin?” maksudnya siapa yang menyerupai orang ini?

3) Tingkatan ketiga, penyifatan rawi yang menunjukkan kecermatan (tas|abut) dan memperkukuh sifat rawi dengan pengulangan sifat yang sama atau yang sepadan seperti “Hujjah hujjah”, maksudnya betul-betul hujah. “S|iqat s|iqat”, maksudnya betul-betul terpercaya, “S|abtun s|abtun”, maksudnya betul-betul cermat. “Hujjatun S|abatun”, maksudnya betul hujah dan terpercaya. “S|iqat Hujjatun”, maksudnya betul terpercaya dan hujah.“S|iqat S|abtun”, maksudnya betul terpercaya dan cermat.

4) Tingkatan keempat, penyifatan rawi yang menunjukkan keterpercayaan tanpa diulang, seperti hujjatun, s|iqatun s|abtun, imamun, dabitun mutqinun ‘adlun hafizun.

5) Tingkatan kelima, penyifatan rawi yang menunjukkan kebaikan keadaannya, seperti “La Ba’sa bihi”, maksudnya tidak mengapa. “Laisa bihi Ba’sun”, maksudnya tidak menjadi apa. “Ma’mun Sadaqun”, maksudnya terpercaya dan jujur. “Min Khiyar al-Nas”, maksudnya terpercaya masuk orang yang terpilih (orang-orang pilihan).

6) Tingkatan keenam, penyifatan rawi yang menunjukkan kelemahan, seperti “Huwa Syaikhun Wasatun”, maksudnya ia tokoh menengah. “Wasatun Salih al-Hadis”, maksudnya orang menengah yang salih hadisnya. “Jayyid al-Hadis”, maksudnya orang yang baik hadisnya. “Rawau ‘anhu”, maksudnya orang-orang meriwayatkan hadis darinya. “Yurwa hadis|uhu”, maksudnya hadisnya diriwayatkan atau “Yuktabu, maksudnya ditulis. Saduq Sii al-Hifzhi”, maksudnya jujur namun jelek hapalannya. “Saduq lahu Awham”, maksudnya jujur namun mempunyai keraguan. “Saduq Yukhthi”, maksudnya jujur namun ada kekeliruan. “Saduq Gairu Akhiru Hayatihi”, maksudnya jujur pada selain akhir kehidupannya. “Saduq Ikhtalata”, maksudnya jujur namun kacau hapalannya. “Saduq Lakinnahu Mutasyabi”, maksudnya jujur dan memuaskan, dan seterusnya.

7) Tingkatan ketujuh, penyifatan rawi yang tidak dipandang sebagai jarh (cacat), seperti “Salih al-Hadis|”, maksudnya hadisnya benar. “Arju an Yakuna Saduqan”, maksudnya saya mengharapkan ia jujur. “Saduq insya Allah”, maksudnya Insya Allah ia jujur. “Arju an La Ba’sa Bihi”, maksudnya saya mengharapkan, ia tidak mengapa. “Suwailuhun”, maksudnya sedikit benar (baik) dan “Maqbul Laisa ba’idan min al-Sawab”, maksudnya diterima, tidak jauh dari kebenaran. Dan ketiga perawi terakhir ini mendekati kepada jarh (cacat), tidak dijadikan hujjah (dalil) periwayatannya dan tidak ditulis hadisnya kecuali hanya untuk memberi contoh atau i’tibar ketika meneliti jalan hadis yang tunggal (fard) supaya untuk diketahui apakah hadisnya itu memiliki mutabi’ (pendukung) atau tidak. Atau untuk dikemukakan kepada hal-hal yang diperlukan dalilnya untuk penjelasan dan sebagainya.

Tingkatan Jarh

1) Tingkatan tertinggi, penyifatan rawi yang menunjukkan hanya sekedar dha’if atau tidak bisa dijadikan pegangan seperti lafal-lafal “Layyin al-Hadits”, maksudnya hadis lemah. “Fihi Da’fun”, maksudnya dalam hadisnya lemah. “Fi Hadis|ihi Da’fun”, maksudnya hadisnya lemah. “Laisa bi al-qawi”, maksudnya tidak kuat hadisnya. “Fihi Maqal Na’rifuhu minhu wa nunkiru”, maksudnya masih dalam pembicaraan hadisnya, ada yang kita akui dan ada pula yang kita tolak. “Laisa bi al-hujjah”, maksudnya hadisnya tidak bisa dijadikan hujah. “Laisa bi al-’umdah”, maksudnya hadisnya tidak bisa dijadikan pegangan. “Laisa Mardiyan”, maksudnya hadisnya tidak diterima. “Fihi Khalafun Takallamu fihi”, maksudnya di dalamnya dipertentangkan, hadisnya sedang dibicarakan. “Tha’anu fihi”, maksudnya mereka mencacat hadisnya. “Su’u al-Hifzi”, maksudnya jelek hapalannya. “Dha’if”, maksudnya hadisnya lemah. “Fihi layin”, maksudnya dalam hadisnya lemah, dan “Mat’un fihi”, maksudnya terdapat cacat hadisnya.

2) Tingkatan kedua, penyifatan rawi dengan tingkat kedha’ifannya yang lebih besar dari pensifatan yang sebelumnya atau yang menunjukkan sesuatu yang harus ditinggalkan seperti, “Da’if al-Hadis|”, maksudnya hadis dha’if. “Munkar al-Hadis|”, maksudnya hadis munkar. “Hadis|uhu Munkarun”, maksudnya hadisnya munkar. “Lahu Manakir”, maksudnya memiliki kemungkaran-kemungkaran. “Ruwiya lima Yunkaru ‘alaih”, maksudnya diriwayatkan untuk diingkarinya. “Mudatarab al-Hadis| Wahin La Yuhtajju bihi”, maksudnya hadisnya kacau dan lemah sehingga tidak bisa dijadikan hujah. Derajat perawi yang memiliki kedua sifat ini adalah mendekati derajat ‘adalah. Hadisnya diriwayatkan hanya dalam memberikan contoh saja, tidak bisa dijadikan hujah dan dalil dalam syara’.

3) Tingkatan ketiga, penyifatan rawi yang mengugurkan hadis, seperti “Mardud al-hadis|”, maksudnya hadisnya ditolak. “Raddu hadis|ahu”, maksudnya mereka menolak hadisnya. “Da’if Jiddan”, maksudnya lemah sekali. “Laisa bi sya’in”, maksudnya tidak ada sesuatu. “La Yusawi Syaian”, maksudnya tidak menyamai sesuatu sedikitpun.

4) Tingkatan keempat, penyifatan rawi yang menunjukkan tidak adil seperti, “Matruk al-Hadis|”, maksudnya hadisnya ditinggalkan. “Tarakuhu”, maksudnya mereka meninggalkan hadis. “Z|ahib al-Hadis|”, maksudnya mereka meninggalkan hadis. “Saqitun Halikun”, maksudnya gugur dan rusak. “Fihi Nazar”, maksudnya perlu diperhatikan. “Sakatu ‘Anhu”, maksudnya mereka mendiamkan. “La Yu’tabar bihi”, maksudnya tidak dianggap. “La Yu’tabar bihi”, maksudnya, “Laisa bi al-S|iqat”, maksudnya tidak tsiqat. “Gairu S|iqat”, maksudnya tidak tsiqat. “Gairu Ma’mun”, maksudnya “Hua Muttahamun bi al-kazib”, maksudnya ia tertuduh dusta. “Muttahamun bi al-Wadh’i, maksudnya ia tertuduh pemalsu. La Yuktabu Hadis|uhu”, maksudnya hadisnya tidak ditulis. “La Yahillu al-Akhzu ‘anhu”, maksudnya tidak boleh diambil hadisnya. Dan sifat-sifat lain yang menunjukkan sesuatu yang semata-mata jarh (cacat).

5) Tingkatan kelima, penyifatan rawi yang mencederakan dan mengugurkan keta’dilan, seperti “Hua Kadzab”, maksudnya ia pendusta. “Wada”, maksudnya ia pemalsu. “Yakzibu”, maksudnya ia pendusta. “Dajjal”, maksudnya ia pembohong. Dan “Wudhi’a Hadis|uhu”, maksudnya hadisnya palsu.

6) Tingkatan keenam, penyifatan rawi yang menunjukkan keterlaluan (al-Mubalagah) yang menggugurkan keta’dilan seperti, “Innahu Akzabun al-Nas”, maksudnya sesungguhnya ia adalah orang yang paling pendusta. “Ajra Wada”, maksudnya betul-betul pemalsu. “Akhtar min wad’i al hadis|”, maksudnya pemalsu yang sangat berbahaya. “Ilaihi al-Muntaha fi| al-wad’i”, maksudnya puncaknya pemalsuan. “Laisa mis|luhu fi al-Kizbi”, maksudnya tidak ada duanya dalam pendustaan. “Lamara kadzaban mitslahu”, maksudnya belum pernah saya melihat pendusta seperti dia dan “La Yuqaribuhu fi al-Wad’i Ahadun”, maksudnya tidak ada seorang pun yang menyamainya dalam pemalsuan hadis.[12]

Kaidah-kaidah al-Jarh wa al-Ta’dil

Menelusuri kecacatan rawi, bisa dilalui dengan cara mencermati perbuatan-perbuatannya, dan hal ini dikategorikan sebagai berikut:

a) Bid’ah, yaitu melakukan tindakan tercela (di luar dari ketentuan syariah). Orang tersebut digolongkan sebagai fasik. Bid’ah juga bisa digolongkan kafir, seperti golongan Rafidhah yang mempercayai bahwa Tuhan menyatu dengan Ali dan imam-imam lain, dan mempercayai bahwa Ali akan kembali ke dunia sebelum kiamat.
b) Mukhalaf, yakni berbeda dengan periwayatan dari rawi yang lebih s|iqah (gabungan dari sifat ‘adil dan dhabit) seorang rawi dengan rawi yang lain yang lebih kuat yang tidak dapat dikompromikan.
c) Galath, yakni selalu melakukan kekeliruan dalam meriwayatkan hadis, seperti lemah hafalan atau salah sangka, baik sedikit maupun banyak kesalahan yang dilakukan.
d) Jahalah al-hal, ialah tidak diketahui identitasnya secara jelas dan lengkap.
e) Da’wat al-inqitha’, yaitu diduga penyandaran (sanad-nya) tidak bersambung.[13]

Syarat pentarjihan dan penta’dilan adalah; berilmu, takwa, wara’ (salih), jujur, menjauhi fanatik golongan, mengetahui sebab-sebab ta’dil dan tarjih (mufassir).[14]

Menurut Ibnu Hajar al-Asqalani dan al-Sakhawiy, yang dikutip oleh Syuhudi Ismail bahwa dalam memahami kondisi perawi hadis maka bisa dengan cara “dabit” artinya meneliti perawi kaitannya dengan kekuatan hafal dan menyampaikan apa yang dihafalannya kepada orang lain kapan saja dia kehendaki. Dan pada posisi ini ditawarkan cara penelusuran sebagai berikut:

1) Ke-dabit-an periwayat diketahui berdasar kesaksian ulama.
2) Ke-dabit-an periwayat diketahui berdasarkan kesesuaian riwayatnya dengan periwayat yang lain yang telah dikenal ke-dabit-annya.
3) Apabila seorang periwayat sekali-kali mengalami kekeliruan, dia masih dapat dikategorikan dabit. Tetapi jika kekeliruan sering terjadi, maka periwayat yang bersangkutan tidak dapat lagi disebut periwayat dabit.[15]

Meski demikian, secara umum jarh dan ta’dilnya seorang perawi bisa diketahui melalui dua jalan, yaitu :

a. Popularitas para perawi dikalangan para ahli ilmu bahwa mereka dikenal dengan seorang yang adil, atau rawi yang mempunyai aib. Bagi yang sudah terkenal di kalangan ahli ilmu tentang ke-’adilan-nya, maka mereka tidak perlu lagi diperbincangkan ke-’adilan-nya, begitu juga dengan perawi yang terkenal dengan kefasikan atau dustanya maka tidak perlu lagi dipersoalkan.

b. Berdasarkan pujian atau pen-tajrih-an dari rawi lain yang adil. Bila seseorang rawi yang adil menta’dilkan seorang rawi yang lain yang belum dikenal ke-’adilan-nya, maka telah dianggap cukup dan rawi tersebut bisa menyandang gelar adil dan periwayatannya bisa diterima. Begitu juga dengan rawi yang di-tajrih. Bila seorang rawi yang adil telah mentajrihnya maka periwayatannya menjadi tidak bisa diterima.[16]

Mahmud Thahhan pun memberikan penjelasan bahwa imam ahli hadis dan fikih bersepakat mensyaratkan rawi hadis dengan dua syarat pokok, yaitu :

1) ke-’adilan-nya, maksudnya bahwa setiap perawi hendaklah orang muslim, baligh, berakal, selamat dari sebab kefasikan dan selamat dari noda-noda kesopanan.
2) Dhabit, maksudnya bahwa seorang rawi tidak menyalahi orang-orang kepercayaan, tidak jelek hafalannya, tidak banyak salah, tidak pelupa dan banyak persangkaan.

Mahmud Thahhan menyatakan bahwa, keadilan dapat ditetapkan dengan dua perkara, yaitu:

a) Adanya jaminan dari satu atau dua ulama bahwa yang bersangkutan (rawi) yang dimaksudkan adalah ‘adil.
b) Adanya pemberitahuan dan kemasyhuran kaitannya dengan perawi itu sendiri, dalam artian bahwa yang bersangkutan banyak yang memujinya.[17]

Sedangkan menurut M. Syuhudi Ismail bahwa ulama telah mengemukakan syarat-syarat bagi seseorang yang dapat dinyatakan sebagai Al-Jarh Wa al-Ta’dil yaitu:

1) Syarat-syarat yang berkenaan dengan sikap pribadi yang meliputi: bersifat adil, tidak bersikap fanatik terhadap aliran atau mazhab yang dianutnya, tidak bersikap bermusuhan dengan periwayat yang dinilainya, termasuk terhadap periwayat yang berbeda aliran dengannya.
2) Syarat-syarat yang berkenaan dengan penguasaan pengetahuan, ini meliputi: ajaran Islam, bahasa Arab, hadis dan ilmu hadis, pribadi periwayat yang dikritiknya, adat istiadat yang berlaku, dan sebab-sebab yang melatarbelakangi sifat-sifat utama dan tercela yang dimiliki oleh periwayat.[18]

Kitab-kitab Rujukan Penelitian Rijalul Hadis

Kitab-kitab tentang rijal al-hadis muncul dalam berbagai bentuk dan sifatnya, mulai dari yang bersifat umum sampai kepada yang bersifat khusus.

1. Kitab Rijal al-Hadis yang Bersifat Umum

Kitab Rijal al-Hadis yang bersifat umum, di antaranya Siyar A’lam al-Nubala’, karya Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Usman Al-Zahabiy (w. 748 H/1348 M), al-Tarikh al-Kabir, karya Al-Bukhari (w. 256 H/870 M), dan al-Jarh wa al-Ta’dil, karya Ibnu Abu Khatim al-Razi (w. 328 H). Kitab-kitab tersebut menguraikan nama-nama periwayat, baik yang s|iqah, dhaif, maupun yang diperdebatkan kualitasnya.

2. Kitab Biografi Para Periwayat Kitab-kitab Tertentu

Kitab-kitab yang termasuk daam kategori ini di antaranya:

a) Al-Hidayah wa al-Irsyad fi Ma’rifah ahli al-S|iqat wa al-Saddat dikarang oleh Abi Nashr Ahmad Ibn Muhammad Al-Kalabadi (wafat 318 W). Kitab ini dikhususkan pengarangnya hanya membahas biografi para periwayat dalam Shahih Bukhari.

b) Rijal al-Shahih Muslim, dikarang oleh Abi Bakr Ahmad Ibn Ali Al-Asfahani yang dikenal dengan nama Ibn Manjuyah (wafat 428 H). Kitab ini berisi para periwayat kitab Shahih Muslim secara khusus.

c) Kutub al-Tarajum al-Khassah bi Rijal al-Kutub al-Sittah, induk dari kitab-kitab yang termasuk dalam kelompok ini adalah kitab al-Kamal fi Asma al-Rijal, karangan Abdu Al-Gani Al-Maqdisi (wafat 600 H). Kitab ini merupakan kitab induk dalam kajian rijal al-hadis.

3. Kitab Rijal Khusus Menghimpun Periwayat S|iqah[19]

a) Ali ibn Abdullah Al-Madini (234 H) menghimpun periwayat hadis yang s|iqah dalam karyanya yang diberi judul al-s|iqat wa al-mus|abbitin yang terdiri dari sepuluh juz.

b) Abu Al-Hasan Ahmad Ibn Abdillah Ibn Shalih Al-‘Ijli (261 H) juga menghimpun periwayat hadis yang s|iqah dalam koleksinya yang diberi judul Kitab al-S|iqah. Di dalam kitab ini, nama-nama periwayat hadis disusun secara alfabetis.

c) Muhammad Ibn Ahmad Hibban Al-Busti (354 H) juga menghimpun periwayat hadis yang s|iqah dalam satu kitab tertentu, yang diberi nama Kitab al-S|iqat. Dalam kitab ini, nama periwayat disusun secara alfabetis.

4. Kitab rijal al-hadis khusus menghimpun periwayat dhaif.

a) Al-Hafiz al-Imam Abu Ahmad Abdillah bin Adiy (w.365 H) menghimpun periwayat dhaif dalam satu kitab tertentu yang diberi nama al-Kamil fi al-Du‘afa. Memuat nama para rawi yang mendapat sorotan negatif meskipun tidak merendahkan martabatnya.

b) Imam al-Zahaby menyusun kitab dengan judul Mizan al-I’tidal fi Naqd al-Rijal. Kitab ini disusun dengan berpegang kepada kitab al-Kamil sehingga membahas rawi, metodenya hampir serupa dengannya.

c) Ibn Hajar al-Asqalani menghimpun periwayat yang dhaif dalam kitabnya, Lisan al-Mizan. Kitab ini membahas para rawi yang ada dalam kitab Mizan al-I’tidal yang belum terbahas dalam dua karyanya; Tahzib al-Tahzib dan Taqrib al-Tahzib. Setiap pembahasan dimulai dengan keterangan al-Zahaby kemudian ditambah dengan komentar Ibn Hajar, baik untuk memperkuat, mengkritik atau menyempurnakannya[20].

BAB III
III. PENUTUP

A. Kesimpulan

Setelah mengamati pembahasan tentang rijal al-hadis tersebut, maka penulis menarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Ilmu rijal al-hadis| ialah ilmu yang memposisikan atau menjadikan para perawi hadis sebagai objek kajian, khususnya yang berkaitan dengan biografinya.

2. Keadilan seorang rawi dapat diketahui dengan kepopuleran di kalangan para ahli ilmu bahwa ia dikenal sebagai seorang yang adil (bi al-syuhrah) dan dengan pujian dari seorang yang adil (tazkiyah).

3. Tingkatan jarh dan ta’dil satu sama lainnya berbeda. Pembatasan tingkatan nilai dengan menyebutkan lafal-lafal telah dibuat oleh ulama kritikus hadis untuk menyebutkan keadaan perawi ‘adil atau jarh.

4. Kitab-kitab rijal al-hadis muncul dalam berbagai bentuk dan sifatnya, mulai dari yang bersifat umum sampai kepada yang bersifat khusus.

DAFTAR PUSTAKA

al-Shiddieqy, T. M. Hasbi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, Ed. II, Cet. IV; Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 1999.

al-Shalih, Shubhi, ‘Ulum al-Hadits wa Musthalahuh, Beirut: Dar al-‘Ilm li al-Malayin, 1988 M.

al-Thahhan, Mahmud, Taysir Mustalah al-Hadits, Beirut: Dar al-Qur’an al-Karim, 1979 M.

al-Qaththan, Manna’, Pengantar Studi Ilmu Hadits, terj. Mifdhol Abdurrahman Cet. I; Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2005.

Fayyad, Mahmud Ali, Manhaj al-Muhadditsin fi Dabt al-Sunnah, terj. A. Zarkasyi Chumaidy, Metodologi Penetapan Kesahihan Hadis, Cet. I; Bandung: CV. Pustaka Setia, 1998.

Ismail, M. Syuhudi, Kaidah kesahihan Sanad Hadis; Telaah Kritis dan tinjauan dengan Pendekatan Ilmu Sejarah, Cet. II; Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1995.

---------Metodologi Penelitian Hadis Nabi, Cet. II; Jakarta: Bulan Bintang, 2007.

Itr, Nuruddin, Manhaj al-Naqd fi Ulum al-Hadis, terj. Endang Soetari dan Mujiyo, Ulumul Hadis, cet. I; Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995.

Suparta, Munzier, Ilmu Hadis, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002.

Thahhan, Mahmud, Ulum Hadis Studi Kompleks Hadis Nabi, Cet. I; Yogyakarta: Titian Ilahi Press, 1997.

Zuhri, Muhammad, Hadis Nabi, Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1997.



0 Response to "Makalah Penelitian Rijalul Hadis"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!