Mengenal Perkembangan Ilmu Tarekat Qodiriyah

Advertisement

Mengenal Perkembangan Ilmu Tarekat Qodiriyah

Tumbuhnya tarekat dalam Islam sesungguhnya bersamaan dengan kelahiran agama Islam itu sendiri, yaitu sejak Nabi Muhammad saw diutus menjadi Rasul. Fakta sejarah menunjukkan bahwa pribadi Nabi Muhammad saw sebelum diangkat menjadi Rasul telah berulang kali melakukan tahannust dan khalwat di Gua Hira’ di samping untuk mengasingkan diri dari masyarakat Makkah yang sedang mabuk mengikuti hawa nafsu keduniaan. Tahhanust dan Khalwat nabi adalah untuk mencari ketenangan jiwa dan kebersihan hati dalam menempuh problematika dunia yang kompleks tersebut.

Proses khalwat nabi yang kemudian disebut tarekat tersebut sekaligus diajarkannya kepada Sayyidina Ali ra. sebagai cucunya. Dan dari situlah kemudian Ali mengajarkan kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya sampai kepada Syeikh Abdul Qodir Jaelani, sehingga tarekatnya dinamai Qodiriyah. Sebagaimana dalam silsilah Tarekat Qadiriyah yang merujuk pada Ali dan Abdul Qadir Jaelani dan seterusnya adalah dari Nabi Muhammad saw, dari Malaikat Jibril dan dari Allah Swt.
Perkembangan Ilmu Tarekat Qodiriyah

Tarekat ini menempati posisi yang amat penting dalam sejarah spiritualitas Islam karena tidak saja sebagai pelopor lahirnya organisasi tarekat, tetapi juga cikal bakal munculnya berbagai cabang tarekat di Dunia Islam.

Oleh karena itu, pada makalah ini penulis akan mencoba memaparkan bagiamana seluk beluk tarekat Qadiriyah, serta bagaimana manhaj/metode mereka dalam memahami hadis Nabi Saw. Semoga bermanfaat.

Sejarah Perkembangan Tarekat Qodiriyah

1. Pendiri

Syaikh ‘Abd al-Qadir lahir di desa Naif kota Gilan tahun 470/1077 M, yaitu wilayah yang terletak 150 km timur laut Baghdad. Ibunya seorang yang saleh bernama fathimah binti ‘Abdullah al-Shama’i al-Husayni, ketika melahirkan Syaikh ‘Abd al-Qadir Jailani ibunya berumur 60 tahun, suatu kelahiran yang tidak lazim bagi wanita yang seumurnya. Ayahnya bernama Abu Shaih, yang jauh sebelum kelahirannya ia bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, yang diiringi oleh para sahabat, imam Mujahidin, dan wali.[1]

Adapun namanya bernasab sampai kepada baginda Rasulullah Saw yakni : Nama lengkap beliau (fullname) Abu Muhmmad ‘Abd al-Qadir, putera dari syekh Abi Saleh; putra dari Syekh Musa; putera dari jankidoust, putera dari syekh Abi Abdillah; putera dari Syekh Dawud; putera dari Syekh Musa; putera dari Syekh Abdullah al-Machdy; putera dari Syekh Chasa al-Mutsanna; Putera dari Chasan (putera Siti Fatimah dan cucu rasulullah SAW); putera dar Sayyidina Ali r.a (menantu Nabi); putera dari Abi Thalib (Paman Nabi besar Muhammad SAW)[2]

Semenjak kecil, beliau sudah diramalkan oleh banyak orang akan menjadi manusia luar biasa kelak di kemudian hari. Suatu ciri keluarbiasaannya, terlihat pada masa bayi yang tidak mau menyusui di siang hari di bulan Ramadhan. Dan setelah menginjak dewasa di mulai pergi menuntut ilmu dan mendatangi setiap orang yang memiliki keutamaan lagi alim, dan dia sangat cerdas dalam mencari dan menangkap ilmu, diibaratkan lebih cepat dari pada larinya burung kasuari jantan atau melebihi kecepatannya langkah kuda dalam gelanggang pacu.

Syaikh ‘Abdul Qadir wafat dalam usia 90 tahun di Baghdad pada tahun 561/1166 M. Meskipun sudah meninggal, namun sosok beliau—khususnya di kalngan kalangan kaum sufi—diakui sebagai sosok yang menempati hierarki mistik yang tertinggi (al-Ghawats al-A’zham), yang menduduki tingkat kewalian yang tertinggi. Dalam kepercayaan rakyat, syaikh ‘Abdul Qadir adalah wali terbesar, yang diberikan wewenang untuk menolong manusia lain dalam bahaya. Dicintai rakyat, dimana-mana orang tua menceritakan riwayat tentang kekeramatannya kepada anak-anak mereka dan hampir setiap upacra keagamaan tradisional, orang menghadiahkan pembacaan al-Fatihah kepadanya.[3]

Ketinggian ilmunya, kekuatan pengaruhnya, kepribadiannya yang sangat menarik, artikulasi bahasa yang bagus menjadikan dia tokoh yang amat dihormati dan dikenang sepanjang zaman. Dia adalah tokoh yang terkemuka dalam bidang tasawuf dan seklaigus pendiri Tarekat Qadiriyah. Dia juga tokoh yang melakukan pembaruan tasawuf dalam Islam karena sebelumnya para sufi lebih menekankan pada amalan individu tidak berkelompok dan terorganisir dengan baik.

Kontribusinya terhadap tradisi spiritualitas dalam Islam memang amat besar karena Syekh Abdul Qadir Jaliani adalah yang pertma kali mendirikan gerakan spiritual yang bersifat masif dan terorganisasi dengan baik.

Tarekat Qadiriyah bermula dari ribath dan madrasah Syekh Abdul Qadir Jailani, tempat dia menyampaikan ajaran-ajaran taswufnya. Dia memimpin tempat tersebut sejak tahun 521 H hingga wafatnya 561 H. Setelah itu ribath diteruskan kepemimpinannya oleh anak-anaknya kemudian dilanjutkan oleh murid-muridnya dengan zawiyah sebagai pusat kegiatannya, yaitu suatu temapt dimana para sufi melatih diri dalam betasawuf. Dari Zawiyah inilah Tarekat Qadiriyah mengalami perkembangam pesat.

Di tempat tersebut para murid mendapatkan ajaran dan pembinaan rohani yang sesuai dengan ajarannya, bagi murid yang sudah tamat akan diberikan ijazah yang berupa Khirqah dengan melakukan janji untuk meneruskan ajarannya yang telah didapat. Bagi Syekh Abdul Qadir Jaliani sendiri tentang perolehan khirqah tidak terlalu penting, pembentukan jiwa sufi lebih utama dan dianggap cukup. Murid-muridnya banyak memegang peran penting dalam penyebaran ajaran tasawufnya. Ada beberapa nama muridnya yang diketahui menyebarkan ajarannya yaitu: Muhammad bin ‘Abd al-Samaddi Mesir, Muhammad al-Bata’ihi dan Taqiy al-Din al-Yunini di Suriah, dan Ali al-Hadad di Yaman. Pada abad ke-15 tarekat ini masuk dan berkembang di anak benua India.

Pada abad ke-15,tarekat ini masuk dan berkembang di anak benua India. Perkembangan yang sama terjadi di Afrika Utara.Pada tahun 1550 M, tarekat ini tersebar di Afrika Timur.Pada abad ke-17, tarekat ini mulai masuk ke Turki.Penyebar didaerah ini bernama Ismail Rumi (wafat 1631 atau 1643 M), dia kira-kira mendirikan 40 pusat tarekat di Istambul dan sekitarnya. Tareqat Qodiriyah tersebar di Asia Kecil dan Eropa Timur, setelah beberapa desawarsa kemudian di Indonesia tareqat ini adalah yang pertamakali masuk menurut sumber-sumber yang ada di Indonesia.

Tarekat Qadiriyah sebagai organisasi

Setelah Sultanul Auliya Syekh Abdul Qadir Jailani meninggal dunia, maka anak-anak dan murid-muridnya mendirikan suatu organisasi yang betujuan menanamkan ruh ke-Islaman yang sejati dan membetulkan ajaran-ajaran Islam di tengah-tengah umat manusia, atau yang disebut kemudian “Tarekat Qadiriyah”, hingga sampai saat ini terkenal dengan keteguhannya di dalam memegang syari’at Islam. Tarekat inipun telah memberikan andil besar kepada Islam dan ilmu kebatinan di dalam Islam.

Pada perkembangannya Tarekat Qadiryah, pengistilahan “Tarekat” dipakai untuk dua hal yang secra konseptual berbeda. Maknanya yang asli (secara harfiah “jalan”) merupakan paduan yang khas dari doktrin, metode dan ritual, namun istilah inipun sering dipakai untuk mengacu kepada organisasi (formal atau informal). Di Timur Tengah. Istilah tha’ifah (keluarga atau persaudaraan) terkadang lebih disukai untuk organisasi, sehingga lebih mudah untuk membedakan antara satu dengan yang lain, tetapi di Indonesia kata “Tarekat” kadang mengacu kepada keduanya. Namun, penting diingat bahwa dua hal itu sebenarnya tidak sama.

Tahap II (Tarekat). Abad ketiga belas. Masa pemerinthan Bani Seljuk. Yakni perkembangan aliran-aliran tasawuf dengan pengajaran berkesinambungan, gerakan birjuis berusaha menyesuaikan dan menjinakkan semangat mistik dalam tasawuf yang terorganisasi menuju pembakuan tradisi dan legalisme

Tahap II (Tha’ifah). Abad kelima belas. Masa Utsmani. Yakni transmisi persumpahan setiab (bai’at) di sisi doktrin dan aturan. Tasawuf menjadi suatu gerakan keraktyatan. Dasar-dasar baru dlam garis Tarekat terbentuk dan terjadi percabangan ke dalam sejumlah besar himpunan atau aliran, dan sepenuhnya meleburkan diri ke dalam arus kultus wali.

Adapun tarekat dalam pengertian kedua yakni sebagi organisasi/pergerakan khususnya Qadiriyah. Sebagimana diketahui, bahwa Tarekat Qdiriyah berpusat di Baghdad tetapi cabangnya terdapat di seluruh dunia, sehingga selain Qadiriyah merupakan sebuah tarekat, juga tampil sebagai organisasi atau pergerakan. Qadiriyah sebagai organisasi atau pergerakan adalah pengikut atau cabang-cabang dari Tarekat Qdiriyah berusaha mengumpulkan dan mengirimkan bantuannya ke pusat dalam hal ini Baghdad, demi keperluan-keperluan amal yang tertentu.

Perkembangan Tarekat Qadiriyah di Indonesia

Orang yang pertama menganut tarekat Qodiriyah dari Indosesia ialah Hamzah Fansuri (wafat sekitar 1590 M) dia masuk tarekat Qodiriyah antara Baghdad dan Syahr-I Naw (Ayuthia, ibukota Muangrtai). Hamzah memperoleh ilmu Syekh Abdul Qodir Jailani melalui jalan ruhani. Setelah Hamzah Fansuri, tarekat ini berkembang di Aceh. Melalui Syekh Yusuf Makasari singgah di Aceh dalam perjalanannya di Sulawesi ke Mekkah dan ia masuk tarekat didaerah tersebut., seperti yanh ditulisnya dalam risalah Safinah al-Najat. Tarekat Qodiriyah di Aceh berhubungan dengan tarekat yang lahir di India (Gujarat )tarekat di Indonesia juga mendapat pengaruh dari Yaman.

Namun, sebenarnya pengaruh Tarekat Qadiriyah sudah sejak lama di Jawa sebelum Hamzah Fansuri. Menurut tradisi rakayat daerah Cirebon, Syaikh ‘Abdul Qadir Jailani sendiri pernah datang ke Jawa, bahkan orang dapat menunujukkan kuburannya.

Selain itu, juga terdapat indikasi lain bahwa pengaruh Qadiriyah ada di Banten dengan adanya pembacaan kitab-kitab manaqib Syaikh ‘Abd al-Qadir Jaliani pada kesempatan tertentu yang sudah sejak lama menjadi bagian dari kehidupan beragama di sana. Dan dalan serat Centhini, salah seorang tokohnya bernama Danadarma, mengaku pernah belajar kepada “Seh Kadir Jalena” di perguruan di Gunung Karang Banten. Dari indikasi-indikasi di atas, setidaknya menunjukkan bahwa ilmu Syaikh ‘Abdul Qadir Jaelani telah diajarkan di Cirebon dan Banten sejak abad ke 17.

Banyak sekali keunikan-keunikan yang menjadi ciri khas Tarekat Qadiriyah di Indonesia, khususnya di daerah Banten. Yakni guru-guru yang menguasai ilmu-ilmu kesaktian dan kekebalan. Dalam tradisi rakayat di hampir seluruh dunia Islam, kekebalan dihubungkan dengan nama wali besar, Syaikh Abdul Qadir Jailani. Tidak mengherankan kalau mereka (terutama Syekh Abdul Qadir Jailani) populer di kalangan orang Jawa yang sanagt tertarik pada kekuatam magis. Misalkan saja, permainan debus di Banten dan di beberapa tempat di Indonesiadipengaruhi oleh Tarekat Qadiriyah kendati dalam beerapa aspek ada juga pengaruh dari tarekat Sammaniyah dan Rifa’iyah. Kekebalan dan kesaktian sejak pra Islam memang sudah merupakan bagian terpenting, terutama untuk menandingi pengaruh jampi-jampi Hindu dan Budha.[4]

Namun, sekarang debus dan ilmu kekebalan tubuh lebih banyak berorientasi hiburan daripada tarekat murni. Seakan-akan sudah terputus hubungan antara tarekat dan debus karena debus sudah menjadi hiburan rakyat biasa. Di sasmping itu, ilmu Tarelkat Qadiriyah yang dicari sekarang tidak lagi berorientasi pada ilmu kekebalan, tetapi ilmu untuk mensucikan hati. Ini tentu tidak lepas dari keadaaan sosial politik yang berkembang sekarang. Orang menganggap bahwa perjuangan tidak lagi lewat fisik, tetapi lewat perjuangan bathin dan pensucian diri.

Selanjtnya, tarekat Qadiriyah ini kemudian dikembangkan oleh Syaikh Ahmad Khatib Sambas menjadi Tarekat Qadiriyah dan Naqsyabandiyah. Setelah Syaikh Ahmad Khatib Sambas belajar beberapa lama di Mekkah, dia mlai mengajarkan Tarekat Qadiriyah dan Naqsyabndiyah secara utuh. Dia tidak mengajrkan kedua tarekat ini secara terpisah, tetapi dalam beberapa hal terdapat perbedaan dan inovasi dalam ajaran Tarekat Qadiriyah dan Naqsyabandiyah, seperti membayangkan kehadiran guru ketika berdzikir atau boleh melakukan dzikir dengan keras atau lembut. Karena itu tarekat ini dapat dikatakan cabang baru dari tarekat Qadiriyah.

Tarekat Qadiriyah sangat mungkin berkembang dan bahkan membuat cabang baru karena seorang mursyid diberi wewenang untuk mengemabnagkan amalan wirid tersendiri dan tidak lagi terkait dengan metode riyadhah yang diberikan oleh mursyid yang terdahulu.

Dasar-dasar Tarekat Qadiriyah

Pada dasarnya ajaran Tarekat Qadiriyah ini tidak ada perbedaan yang mendasar dengan ajaran pokok Islam, terutama golongan Ahlusunnah wal jama’ah. Sebab, Syaikh ‘Abdul Qadir adalah orang yang sangat mengahargai para pendiri mazhab fikih yang empat dan teologi Asy’ariyah. Dia sangat menekankan pada tauhid dan akhlak yang terpuji. Akidah tarekat ini-pun adalah ittiba’ (mengikuti tuntunan Rasulullah), bukan ibtida’(berbuat bid’ah), serta berkomitmen dengan al-Quran dan Sunnah dlam segala hal. Selain itu juga Syaikh Abdul Qadir telah meletakkan tujuh dasar bagi tarekatnya: mujāhadah, tawakal, akhlak yang baik, syukur, ridha, dan benar (jujur). Beliau meminta para murīd-nya untuk menjaga dan berkjalan di atas dasar-dasar tersebut.

a. Mujāhadah - Mujāhadah ini berdasarkan firman Allah Swt QS. Al-‘Ankabut:69

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ [5] Pokok pada mujahadah adalah melawan hawa nafsu dan mengendalikannya dengan takwa dan takut kepada Allah. Mujahadah tidak akan sempurna tanpa murāqabah, yakni beribadah kepada Allah seolah-olah melihat-Nya, meski kita tidak dapat melihat-Nya, tapi Dia melihat semua gerak-gerik kita. Murāqabah tidak akan sempurna tanpa empat makrifat: 1) makrifat kepada Allah; 2) makrifat kepada Musuh Allah, yaitu Iblis; 3) makrifat kepada nafsu yang menyruh kepada kejahatan; 4)makrifat terhadap amal karena Allh Swt., yakni melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya[6]

b. Tawakal

Tawakal adalah menyerahkan segala urusan kepada Allah dan membersihkan diri dari gelapnya pilihan , tunduk dan patuh kepada hukum dan takdir. Sehingga dia yakin bahwa tidak ada perubahan dalam bagian, apa yang merupakan bagiannya tidak akan hilang dan apa yang tidak ditakdirkan untuknya tidak akan diterima. Maka hatinya merasa tenang karenannya dan merasa nyaman dengan janji Tuhannya. Dasar tawakal ini adalah firman Allah QS: Al-Thalaq:3

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا....[7]

c. Akhlak yang baik

akhlak yang baik adalah perilaku uatama seorang hamaba. Akhlak yang baik kepada Allah adalah melaksankan segala peintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, selalu mentaati-Nya dalam segala hal, menerima segla takdir yang diberikan oleh-Nya, selalu mengesakan-Nya, dan memercayai segala janji-Nya.

d. Syukur

Hakikat sykur menurut Syiakh Abdul Qadir Jaliani adalah mengakui nikmat Allah karena Dia-lah pemilik karunia dan pemberian sehingga hati mengakui bahwa segala nikmat berasal dari Allah dan patuh kepada syari’at-Nya. Dengan demikian, syukur adalah pekerjaan hati dan anggota badan.[8]

e. Ridha

Ridaha adalah kebahagiaan hati dalam menerima ketetapan (takdir). Secara umum para Sālik berpendapat bahwa orang yang ridha adalah orang yangg menerima ketetapan Allah dengan berserah diri, pasrah tanpa menunjukkan penentangan terhadap apa yang dilakukan oleh Allah. Syaikh Abdul Qadir mengutip ayat al-Quran tentang perlunya sikap ridha ,

يُبَشِّرُهُمْ رَبُّهُمْ بِرَحْمَةٍ مِنْهُ وَرِضْوَانٍ وَجَنَّاتٍ لَهُمْ فِيهَا نَعِيمٌ مُقِيمٌ

Artinya : “Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari-Nya, keridhaan dan surga. Mereka memperoleh di dalmnya kesenangan yang kekal”[9]

Kemudian Rasulullah bersabda .”yang akan merasakan manisnya iman adalah orang yang Ridha Allah menjadi Tuhannya, Islam menajdi agamanya, dan Muhammad menjadi Rasulnya” . tidak diragukan lagi bahwa ridha dapat menentrakan jiwa manusia dan memasukkan faktor kebahgiaan dan kelembutan di dalamnya.

f. Jujur

Kejujuran merupakan derajat kesempurnaan manusia yang tertinggi dan seseorang tidak akan berlaku jujur, kecuali jika dia memilki jiwa yang baik, hati yang bersih, pandangan yang lurus, sifat yang mulia, lidah yang bersuh, dan hati yang dihiasi dengan keimanan, keberanian dan kekuatan. Syaikh Abdul Qadir Jailani mengutip ayat al-Quran untuk menjelaskan pentingnya sikap jujur ini dilaksanakan, “hai orang-ornag yang beriman bertakwalah kamu kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-ornag yang benar. (at-Taubah:119)[10]

g. Taubat


Taubat adalah kembali kepada Allah dengan mengurai ikatan dosa yang terus menerus dari hai kemudian melaksankan setiap hak Tuhan.Syaikh Abdul Qadir menganggap taubat bagaikan air yang menghilangkan dosa dan kotoran maksiat. Taubat ini sangat dianjurkan kepada setiap orang mukmin sebagimana firman Allh “dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah hai orang-orang yang beriman supoaya kamu beruntung”[11]. Menurut beliau, taubat itu ada dua macam, yaitu:

1. Taubat yang berkaitan dengan hak sesama manusia. Taubat ini tidak terealisasi, kecuali dengan menghindari kezaliman, memberikan hak kepada yang berhak, dan mengembalikan kepada pemiliknya.

2. Taubat yang berkaitan dengan Allah. Taubat ini dilakukan dengan cara selalu mengucapkan istighfar dengan l;isan, menyesal dalam hati, dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi di masa mendatang.[12]

Aspek Praktis Tarekat Qadiriyah

Di antara praktik spiritual yang diadopsi oleh Tarekat Qadiriyah adalah zikir (terutama melantukan asma ‘Allah berulang-ulang).

Zikir pokok tarekat Qadiriyah yaitu membaca Istighfar paling sedikit dua kali atau duapuluh kali dengan lafadz Astaghfir Allah al-ghafur al-Rahim. Kemudian membaca shalawat sebanyak itu pula dengan lafadsz Allahuma shali’ala sayyidina Muhammad wa’ala alihi wa shahbihi wa sallim. Setelah itu membaca La ilaha illallah seratus enampuluh kali setelah selesai shalat fardhu. Pengucapan lafadz Lailaha illallah memiliki cara tersendiri, yaitu kata la dibaca sambil dibayangkan dari pikiran ditarik dari pusat hingga otak, kemudian kata ilaha dibaca sambil menggerakkan kepala kesebelah kanan, lalu kata illallah dibaca dengan keras sambil dipukulkan kedalam sanubari, yaitu kebagian sebelah kiri. Setelah selesai melakukan zikir itu lalu membaca Sayyidina Muhammad Rasul Allah Shalallah ‘alaihi wa sallam.lalu membaca shalawat Allahuma shalli’ala sayyidina Muhammad shalatan Tunjina biha min jami al-ahwal wa al-afat hingga akhirnya.kemudian membaca surat Al-Fatihah ditujukan kepada Rasulullah SAW dan kepada seluruh Syekh-syekh tarekat Qadiriyah serta para pengikutnya juga seluruh orang Islam.

Sebelum dan ketika melakukan zikir tersebut seorang murid membayangkan wajah guru (mursyid) didepanya dan limpahan karunia Allah kepada Nabi dan Syekh.Bagi setiap orang yang menganut tarekat Qadiriyah harus berpegang kepada akidah para sahabat, tabi’in dan tabi;it tabi;in yaitu yang disebut akidah al-salaf al-salih. Berpedoman kepada Al-Quran dan sunnah Rasulullah SAW, agar dalam menjalani tarekat tidak tersesat. Bagi pemula (mubtadi, agar memiliki sifat bersih hati, jernih muka, suka memberi kebajikan, menghapus kejahatan, sabar dalam kekafiran, menjaga kehormatan syekh, bergaul baik sesame ikhwan, memberi nasihat kepada orang kecil dan orang besar, menjauhi permusuhan dan berkorban dalam masalah agama dan dunia.

Selain persyaratan tersebut diatas,setiap orang yang hendak mengikuti tarekat Qadiriyah harus menjalani dua tahapan.
Pertama , yaitu tahap permulaan yang terdiri dari :
1.Mengikuti dan menerima bay’at guru sebagai pertemuan pertama antara guru dan murid.
2.Penyampaian wasiat oleh guru kepada Murid.
3.Pernyataan guru membay’at muridnya diterima menjadi murid dengan lafadz tertentu.
4.Pembacaan do’a oleh guru yang terdiri dari do’a umum dan do’a khusus.
5.Pemberian minum oleh guru kepada murid sambil dibacakan beberapa ayat Al-Quran.
Setelah pemberian minum tersebut ,maka selesailah tahap permulaan.dan dengan demikian maka resmilah seorang murid menjadi pengikut tarekat Qadiriyah.

Kedua, tahap perjalanan, maksudnya ialah tahap murid menuju Allah melalui bimbingan guru. Murid harus melalui tahap dalam waktu yang bertahun-tahun sebelum ia memperoleh karunia Allah yang dilimpahkan kepadanya.selama perjalanan itu,murid masih menerima ilmu hakikat dari gurunya.selain itu dia dituntut untuk berbakti kepadanya, dan menjauhi larangannya.murid harus terus berjuang untuk melawan nafsunya dan melatih diri (mujahadah dan Riyadhah ).

Apabila murid telah berhasil melalui tahapan tersebut, maka guru memberikan ijazah dan memberikan talqin tauhid kepada muridnya, dengan telah diterima ijazahnya maka murid menyandang gelar guru atau syekh dalam tarekat Qadiriyah.

Seorang murid yang telah menjadi syekh sudah tidak terikat lagi dengan gurunya, akan tetapi dia masih boleh untuk mengikutinya. Dan berdasarkan petuah Syekh Abdul Qodir Jailani bahwa murid yang telah menjadi syekh boleh mandiri dan yang menjadi walinya adalah Allah.

Manhaj Tarekat Qadiriyah dalam Memahami Hadis

Umumnya, ajaran Tarekat Qadiriyah ini tidak ada perbedaan yang mendasar dengan golongan Ahlusunnah wal Jama’ah. Ketika muncul permasalahan yag tidak ditemukan dalam al-Quran, muncullah fikih di kalangan para tokoh yang ikhlas, lalu mereka melakukan istinbatah, menyusun, dan menerangkannya pada orang-orang.[13] Dan landasan utama fikih ini adalah sebagin besar mengacu kepada Hadis Nabi SAW.

Syaikh Abdul Qadir adalah sosok ulama yang memahami hadis dan periwayatan hadis. bahkan beliau banyak menggunakan hadis dalam berbagai pengjarannya, nasihat-nasihatnya, dan buku-bukunya. Bahkan beliau mengutip sebanyak 386 hadis pada bagian pertama dari kitab Al-Ghunyah 493 hadis pada kedua kitab tersebut. Akan tetapi, beberapa ulama seperti Ibn Taimiyyah dan Ibn Katsir mengatakan bahwa Syaikh Abdul Qadir Jailani banyak mengutip hadis-hadis dhaif, terutama mengenai keutamaaan hari, bulan, shalat, zikir, serta mengenai sifat-sifat surga dan neraka.[14]

Namun meskipun begitu, metode mereka dalam memahami dan mengamalkan hadis tetap mendahulukan arti penting keshahihan sebuah hadis. mereka tetap menolak hadis-hadis yang dinilai dloif, Setidaknya mereka tidak menjadikan hadis dlo’if sebagai hujjah apalagi diamalkan, namun terkadang mereka menolerir hadis-hadis dlo’if—dengan ketentuan penyebab kedlai’fannya tidak parah—sebagai fadhail amal.

Berikut ini penulis lansir salah satu contoh hadis yang dikritik keshahihannya, yakni hadis tentang bacaan waku berbuka puasa.

Hadits Pertama

Artinya: “Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan : Allahumma Laka Shumna wa ala Rizqika Aftharna, Allahumma Taqabbal Minna Innaka Antas Samiul ‘Alim (artinya : Ya Allah! UntukMu aku berpuasa dan atas rezeki dariMu kami berbuka. Ya Allah! Terimalah amal-amal kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Mengetahui).” [Riwayat: Daruqutni di kitab Sunannya, Ibnu Sunni di kitabnya 'Amal Yaum wa-Lailah No. 473. Thabrani di kitabnya Mu'jamul Kabir].

Sanad hadits ini sangat Lemah/Dloif.

Pertama:Ada seorang rawi yang bernama : Abdul Malik bin Harun bin ‘Antarah. Dia ini rawi yang sangat lemah.

Kata Imam Ahmad bin Hambal : Abdul Malik Dlo’if.
Kata Imam Yahya : Kadzdzab (pendusta).
Kata Imam Ibnu Hibban : Pemalsu hadits.
Kata Imam Dzahabi : Dia dituduh pemalsu hadits.
Kata Imam Abu Hatim : Matruk (orang yang ditinggalkan riwayatnya).
Kata Imam Sa’dy : Dajjal, pendusta.

Kedua:
Di sanad hadits ini juga ada bapaknya Abdul Malik yaitu : Harun bin ‘Antarah. Dia ini rawi yang diperselisihkan oleh para ulama ahli hadits. Imam Daruquthni telah melemahkannya. Sedangkan Imam Ibnu Hibban telah berkata: “Munkarul hadits (orang yang diingkari haditsnya), sama sekali tidak boleh berhujjah dengannya.”

Hadits ini telah dilemahkan oleh Imam Ibnul Qoyyim, Ibnu Hajar, al-Haitsami dan al-Albani dan lain-lain.

Periksalah kitab-kitab:

Mizanul I’tidal 2/666.
Majmau Zawaid 3/156 oleh Imam Haitsami.
Zaadul Ma’ad di kitab Shiyam/Puasa oleh Imam Ibnul Qoyyim.
Irwaul Ghalil 4/36-39 oleh Muhaddist al-Albani.

Hadits Kedua

Yang artinya: “Dari Anas, ia berkata : Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila berbuka beliau mengucapkan : Bismillahi, Allahumma Laka Shumtu Wa Alla Rizqika Aftartu (artinya : Dengan nama Allah, Ya Allah karenaMu aku berbuka puasa dan atas rezeki dariMu aku berbuka)”. [Riwayat : Thabrani di kitabnya Mu'jam Shagir hal 189 dan Mu'jam Awshath].

Sanad hadits ini Lemah/Dlo’if.

Pertama:
Di sanad hadist ini ada Ismail bin Amr Al-Bajaly. Dia seorang rawi yang lemah.

Imam Dzahabi mengatakan di kitabnya adl-Dhu’afa: Bukan hanya satu orang saja yang telah melemahkannya.
Kata Imam Ibnu ‘Ady: Ia menceritakan hadits-hadits yang tidak boleh diturut.
Kata Imam Abu Hatim dan Daruquthni: Lemah
Saya berkata Dia inilah yang meriwayatkan hadits lemah bahwa imam tidak boleh adzan (lihat : Mizanul I’tidal 1/239).

Kedua:
Di sanad ini juga ada Dawud bin az-Zibriqaan.

Kata al-Albani : Dia ini lebih jelek dari Ismail bin Amr al-Bajaly.
Kata Imam Abu Dawud, Abu Zur’ah dan Ibnu Hajar : Matruk.
Kata Imam Ibnu ‘Ady : Umumnya apa yang ia riwayatkan tidak boleh diturut (lihat Mizanul I’tidal 2/7).
Saya berkata : al-Ustadz Abdul Qadir Hassan membawakan riwayat Thabrani ini di kitabnya Risalah Puasa akan tetapi beliau diam tentang derajat hadits ini?

Hadits Ketiga

Yang artinya: “Dari Muadz bin Zuhrah, bahwasanya telah sampai kepadanya, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan : Allahumma Laka Sumtu …..” [Riwayat : Abu Dawud No. 2358, Baihaqi 4/239, Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Sunniy]

Lafadz dan arti bacaan di hadits ini sama dengan riwayat/hadits yang ke-2 kecuali awalnya tidak pakai “Bismillah“.

Dan sanad hadits ini mempunyai dua penyakit.

Pertama:
“Mursal, karena Mu’adz bin (Abi) Zur’ah seorang Tabi’in bukan shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (hadits Mursal adalah; seorang Tabi’in meriwayatkan langsung dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa perantara shahabat).

Kedua:
“Selain itu, Mu’adz bin Abi Zuhrah ini seorang rawi yang Majhul. Tidak ada yang meriwayatkan dari padanya kecuali Hushain bin Abdurrahman. Sedang Ibnu Abi Hatim di kitabnya Jarh wat-Ta’dil tidak menerangkan tentang celaan dan pujian baginya.”

Hadits Keempat

Yang artinya: “Dari Ibnu Umar, adalah Rasulullah SAW apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan : Dzhaba Adz-Dzamā’u wabtallati al-‘Urūqu wa tsabatil ajru InsyāAllāh (artinya : Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan/urat-urat, dan telah tetap ganjaran/pahala, Insya Allah). [Hadits HASAN, riwayat Abu Dawud No. 2357, Nasa'i 1/66. Daruquthni dan ia mengatakan sanad hadits ini HASAN. Hakim 1/422 Baihaqy 4/239].

Sanad hadits ini Hasan.

al-Albani menyetujui apa yang dikatakan Daruquhni.

Saya (Abdul Hakim bin Amir Abdat) berkata: Rawi-rawi dalam sanad hadits ini semuanya kepercayaan (tsiqah), kecuali Husain bin Waaqid seorang rawi yang tsiqah tapi padanya ada sedikit kelemahan (Tahdzibut-Tahdzib 2/373). Maka tepatlah kalau dikatakan hadits ini HASAN.

Dari keterangan tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Hadits yang ke-1,2 dan 3 karena tidak sah (tidak shahih, sangat dloif dan dloif) maka tidak boleh lagi diamalkan.

2. Sedangkan hadits yang ke-4 karena riwayatnya telah sah (shahih) maka bolehlah kita amalkan jika kita suka (karena hukumnya sunnat saja). [15]

Dari contoh hadis yang penulis cantumkan di atas, Penulis menyimpulkan bahwa mereka (tarekat Qadiriyah) tetap mengedepankan aspek-aspek keshahihan hadis dan mengutamkan kritik hadis sebelum hadsi tersebut diamalkan.

Kesimpulan dan Penutup

Tarekat Qadiriyah merupakan tarekat yang ajarannya tidak jauh berbeda dengan ahlusunnah wal jama’ah. Yakni mengedepankan aspek-aspek moral keislaman serta kerohanian Islam. Begitupun dalam hal memahami hadis, meski adanya penggunaan hadis-hadis yang dinilai dloif tidak dapat dipungkiri, tetapi mereka tetap saja mengutamakan hadis-hadis shahih dan menolak pengamalan hadis yang dlo’if.

Kiranya Demikianlah makalah yang dapat penulis sajikan, penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dan kekeliruan, sehingga masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran pembaca sangat penulis harapkan guna perbaikan selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Razzaq al-Kailani, Syaikh Abdul Qadir Jaliani:Guru Para Pencari Tuhan, Bandung: Mizania, 2009

Sri Mulyati, Mengenal dan Memahami Tarekat-tarekat Muktabarah di Indonesia Jakarta: Kencana, 2006

Syarifuddin, “Kontribusi Syekh K. H. Muh. Shaleh dalam Perkembangan Tarekat Qadiriyah di Mandar”, Skripsi Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2001

www.Qodiriyah.wordpress.com



0 Response to "Mengenal Perkembangan Ilmu Tarekat Qodiriyah"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!