Metode dan Rukun Amar Ma'ruf Nahi Mungkar

Advertisement

Artikel Islami, Metode dan Rukun Amar Ma'ruf Nahi Mungkar

Dalam hadits Rasulullah disebutkan bahwa iman ialah membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badannya. Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa iman bukan sekedar percaya, namun apa yang diperintahkan oleh yang kita percayai juga harus kita amalkan. Salah satu perintah Allah yang sering disebut-sebut dalam al Qur'an maupun hadits ialah tentang amar ma'ruf nahi munkar, yakni memerintah pada kebaikan dan mencegah pada kemunkaran. Hal ini merupakan tanggung jawab social setiap manusia dalam kehidupan masyarakat. Selain untuk mewujudkan tatanan hidup yang baik dan bermoral, kami ingatkan sekali lagi bahwa amar ma'ruf nahi munkar ini merupakan perintah Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya, sebab Allah menginginkan kehidupan hamba-Nya dalam kedamaian.

Rukun Amar Ma'ruf Nahi Mungkar

Untuk dapat benar-benar menjadi hamba yang beriman pada Allah, maka sebaiknya anda perlu untuk melakukan amar ma'ruf nahi munkar. Di sini penulis akan mencoba memaparkan tentangnya disertai pula dengan metode-metode yang dapat membantu anda, agar dalam beramal kebaikan ini anda benar-benar berhasil menjalankannya. 

1. apa hubungan iman dengan amar ma'ruf nahi munkar?
2. apa saja rukun amar ma'ruf nahi munkar?
3. bagaiman metode yang ditempuh dalam beramar ma'ruf nahi munkar?

Hadits tentang amar ma'ruf nahi munkar

لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ

Artinya: Betul-betul supaya kamu memerintahkan yang ma'ruf dan melarang yang munkar, atau (jika kemunkaran itu dibiarkan) niscaya Allah akan secepatnya menjatuhkan siksa pada kalian, kemudian kalian berdoa kepada-Nya, namun Allah tidak mengabulkan doa kalian. (HR. Turmudzi)

Pada hakikatnya amar ma'ruf nahi munkar merupakan konsep pembinaan masyarakat. Konsep ini terdiri dari dua unsur.[2] Pertama, unsur amar ma'ruf itu sendiri, yang mengandung perintah membangun masyarakat atau sistem social yang didasarkan pada nilai-nilai luhur. Kedua, unsur nahi munkar, untuk menjaga masyarakat yang sedang dibangun itu dari berbagai keburukan atau rong-rongan baika dari luar maupun dalam masyarakat itu sendiri.

Dalam pelaksanaanya, amr ma'ruf tampak lebih sulit dibandingkan nahi munkar.[3] Sebagai misal, memerangi para koruptor negara adalah nahi munkar, namun akan lebih sulit untuk amar ma'rufnya, yakni membangun pemerintahan yang bersih.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat berbagai kemunkaran terjadi di sekelilling kita. Seorang mu'min harus meyakini akan wajibnya menegakkan yang ma'ruf dan mencegah kemunkaran, yang dibebankan pada setiap muslim yang mukallaf, mampu, dan mengetahui kebaikan sudah tidak lagi ditegakkan atau bisa dikatakan bahwa ia menyaksikan kemunkaran. Seperti pernyataan dari mantan Syeikh Al Azhar Syeikh Mahmud Syaltut dalam buku Min Tanjihat al Islam, menunjukkan bahwa amar ma'ruf nahi munkar merupakan tuntutan iman. Ia tak akan terwujud tanpa iman karena ia sesungguhnya merupakan manifestasi dari kesejatian iman.

Menegakkan yang ma'ruf dan melumpuhkan kemunkaran merupakan hal yang penting di dalam iman kepada Allah SWT. Sebab Allah sendiri telah menyebutkannya bersamaan di dalam kitab-Nya QS. Ali Imran: 104.

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

" kalian sebaik baik umat yang diutus di tengah-tengah manusia sebagai umat yang memerintahkan berbuat ma'ruf dan melarang berbuat munkar dan beriman kepada Allah."

Anjuran Terhadap Orang-Orang Mu'min dan Janji Allah Kepada Mereka

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ 

" dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian dari mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang ma'ruf, mencegah yang munkar, mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah, sesungguhnya Allah maha perkasa lagi maha bijaksana " (QS.At Taubah:71).

Dari ayat di atas kita dapat menyimpulkan bahwasannya seorang mu'min tidak hanya cukup mengatakan bahwa ia telah beriman kepada Allah, namun iman itu sendiri juga menuntut adanya suatu kewajiban yang di dalamnya termasuk amar ma'ruf nahi munkar. Dan tentunya Allah juga tidak akan menyia-nyiakan hambanya begitu saja yang telah mengerjakan amal-amal yang telah diperintahkan-Nya, dalam ayat tersebut Allah menjanjikan akan datangnya rahmat kepada kita. Sehingga kita sebagai umat Islam tidak perlu lagi merasa enggan ataupun ragu akankah amal baik kita ini berguna atau tidak. Yakinlah bahwa Allah itu maha bijaksana.

Rukun Amar Ma'ruf Nahi Munkar

Perlu diketahui bahwa amar ma'ruf nahi munkar memiliki tiga rukun, yakni muhtasib (orang yang mencegah), muhtasab 'alaih (orang yang dicegah), muhtasab fihi ( sesuatu yang dicegah).[4]

Syarat-syarat muhtasib 'alaih itu sendiri adalah muslim, mukallaf, dan adil. Untuk syarat ketiga ini para ulama' berbeda pendapat mengenainya. Ada yang mengatakan orang yang beramar ma'ruf nahi munkar harus adil, namun sebagian yang lain tidak mensyaratkannya, dan itulah yang banyak diikuti. Sebab manusia berbeda pendapat mengenai 'ismah (keterpeliharaan) para nabi dari dosa-dosa kecil, maka mana mungkin diharapakan adanya "ismah pada orang lain? Jika harus 'ismah kemungkinan akan berakibat [ada ditinggalkannya amar ma'ruf nahi munkar, sebab syaratnya belum terpenuhi. Seperti seseorang suka berkata kotor, kemudian ia tidak diizinkan untuk menasehati. Jika begitu akan sedikit sekali orang yang akan mengingatkan orang lain untuk tidak berbuat dosa, padahal Allah menyuruh hambanya untuk saling menasehati.

Rukun kedua adalah muhtasab 'alaih, syaratnya adalah muslim secara umum. Oleh karena itu anak kecil pun juga harus dicegah dari minum khmar. Memang betul ada beberapa perbuatan yang tidak merupakan kemunkaran bagi anak kecil dan orang gila, misalnya saja tidak puasa di bulan Ramadhan, dan keduanya tidak perlu dicegah dari hal tersebut selama belum memenuhi syarat yang telah ditetapakan untuk melakukannya. 

Kemudian untuk rukun ketiga, yaitu " perbuatan yang dicegah" adalah merupakan sesuatu yang telah jelas tanpa memerlukan ijtihad, atau tidak ada perbedaan di antara imam madzhab. Jadi pengikut Syafi'i tidak perlu mencela pengikut Hanafi yang meminum anggur yang tidak memabukkan.

Metode Amar Ma'ruf Nahi Munkar

Di bawah ini pemakalah akan menjelaskan tentang tata cara beramar ma'ruf nahi munkar. Di antaranya ialah:

1. Dengan ilmu

Seseorang yang beramar ma'ruf nahi munkar hendaknya mengetahui apa yang memang seharusnya diperintahkan dan apa apa saja yang harus ditinggalkan menurut syara', sebagaimana harus benar-benar mengerti tentang hakikat kemunkaran yang dilarang dan yang mau diubah. Sebab jika seseorang tidak memiliki cukup pengetahuan akan hal ini tentu ia tidak akan mudah untuk beramar ma'ruf nahi munkar, bagaimana ia akan dipercaya ucapannya jika di mata orang-orang ia adalah orang bodoh. Maka dari itu ilmu juga sangat berpengaruh penting dalam kelancaran amr ma'ruf nahi munkar.

2. Bersikap wara' terhadap hal yang diharamkan

Bersikap wara' terhadap hal yang diharamkan, dan tidak meninggalakan apa yang diperintahkan oleh Allah, juga diperlukan bagi orang yang menyuruh kebaikan dan malarang kemunkaran.[5] Sebab Allah berfirman dalam kitab-Nya QS. Ash- Shaf: 2 dan juga dalam QS. Al Baqarah:44.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ 

" Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?"

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

"mengapa kamu suruh orang lain mengerjakan kebaktian, sedangkan kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca al Kitab (Taurat), maka tidakkah kamu berfikir."

3. Berlemah lembut 

Hendaknya berakhlaq mulia, menyampaikannya dengan kasih sayang, melarang dengan lemah lembut, tidak kecewa jika mendapat penghinaan, tidak marah bila mendapat cacian dalam beramar ma'ruf nahi munkar. Hal ini seperti yang telah dicontohkan oleh nabi Saw sendiri, bagaimana beliau menyebarkan agama Allah dengan sepenuh hatinya tak peduli dengan segala apa yang menghadang. Beliau tak pernah marah ataupun membalas orang-orang yang telah mencaci maki beliau. Bahkan beliau mendoakan mereka agar mendapat ampunan Allah. Dan dengan cara seperti ini akhirnya kita dapat melihat agama Islam tersebar luas ke seluruh penjuru dunia. Mengenai hal ini Allah berfirman dalam QS. Ali Imran: 159.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ 
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ 

"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmmu, karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai oranh-orang yang bertawakkal kepada-Nya."

Dan juga hendaknya dalam beramar ma'ruf nahi munkar itu dengan cara yang baik. Apabila seseorang yang disuruh berbuat ma'ruf itu tidak melaksanakan, dan yang dicegah dari berbuat munkar juga tidak meninggalkannya, maka nasehatilah dengan nasehat yang dapat menyentuh kalbu, baik yang menyenangkan maupun yang menakutkan yang sejalan dengan bukti-bukti syara'.[6] Apabila belum juga tercapai, maka di sini kita diperbolehkan menggunakan kata-kata intimidasi dan tekanan atau kata-kata yang keras. 

4. Sabar

Sabar adalah merupakan hal yang sangat penting dalam menegakkan agama Allah. Bagaimana bisa terjadi kelancaran jika kita tidak mampu sabar, bagaimana jadinya jika kita mudah putus asa jika baru mendapat cobaan. Itu sebabnya Allah selalu menganjurkan hamba-hambanya untuk selalu bersabar dalam QS. Luqman: 17.

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ
مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ 

" Hai anakku, dirikanlah zakat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan mencegah yang munkar dan bersabarlah terhadapa apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan Allah

5. Dengan cara yang dianjurkan Nabi

Seperti apa yang telah disabdakan Rasulullah sebagai berikut:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ 
وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

Artinya: barang siapa di antara kalian melihat kemunkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu maka dengan lisannya. Jika tidak mampu juga maka dengan hatinya. Dan mengubah dengan hati adalah selemah-lemahnya iman. ( HR.Bukhari)

Nabi Muhammad telah mengajarkan kepada kita tata cara untuk mencegah suatu kemunkaran, seperti apa yang telah beliau ungkapkan dalam hadits di atas. Jika mengubah kemunkaran dengan tangan atau lisan terasa lemah atau berat karena khawatir terhadap jiwa, harta, harga dirinya, dan dia sudah tidak sabar melihat kemunkaran yang terjadi, maka cukuplah diubah dengan hatinya.

Kesimpulan

Dari makalah yang telah dipaparkan di atas, kini kita dapat mengambil beberapa point sebagai berikut:

a. Kewajiban amar ma'ruf nahi munkar dibebankan pada setiap umat Islam yang mukallaf, mampu, dan telah dapat membedakan yang baik dan buruk.

b. Allah SWT telah memberi anjuran kepada orang-orang beriman untuk beramar ma'ruf nahi munkar, sekaligus menjanjikan suatu balasan yang setimpal dalam QS. At Taubah: 71.

c. Amar ma'ruf nahi munkar memiliki tiga rukun, yakni muhtasib (orang yang mencegah), muhtasab 'alaih (orang yang dicegah), muhtasab fihi ( sesuatu yang dicegah).

d. Metode beramar ma'ruf nahi munkar, yakni dengan ilmu, bersikapa wara' terhadap hal yang diharamkan, berlemah lembut, sabar, dan sebagaimana yang telah diajarkan rasul Saw.

Daftar Maraji
Jazair, Abu Bakar Jabir el. Pola Hidup Muslim terj. Ahmad Sumpeno dan Rahmat Djatnika. Bandung: Remaja Rosda Karya, 1993.

Ismail, A. Ilyas. Pintu Kebaikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997.

Al Ghazali, Imam. Mutiara Ihya' Ulumuddin terj. Irwan Kurniawan. Bandung: Mizan, 1997.

Departemen Agama. Al Qur'an dan Terjemahnya. Bandung: Jumanatul Ali-Art, 2007.

Iwadh, Ahmad Abduh. Fii Hujjah al Ahadits al Qudsiah. Kairo: Markaz al Kitab an Nasyar, 2006.




0 Response to "Metode dan Rukun Amar Ma'ruf Nahi Mungkar"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!