Pergerakan Organisasi Kebangsaan Awal Abad 20

Advertisement

Pergerakan Organisasi Kebangsaan Awal Abad 20

Latar Belakang Masalah

Bangsa Indonesia telah mengalami penderitaan akibat penjajahan mulai awal abad ke-17 sampai abad ke-20. Pada masa penjajahan bangsa Indonesia telah berusaha sekuat tenaga untuk mengusir penjajah dan bercita-cita menjadi bangsa yang merdeka bebas dari penjajahan. Berbagai bentuk perlawanan terhadap penjajah yang dilakukan oleh para raja, bangsawan maupun tokoh masyarakat, dan tokoh agama dilakukan dengan cara mengangkat senjata. Namun pada umumnya bentuk perlawanan semacam itu mengalami kegagalan.

Akibat kegagalan demi kegagalan itu, maka mulai awal abad ke-20 lahir pemikiran untuk mengubah strategi perjuangan dari perjuangan yang dilakukan sebelumnya. Kemudian lahir sistem perjuangan baru yang dikenal dengan kebangkitan nasional. Dengan adanya pergantian strategi perjuangan dalam melawan penjajah akhirnya bangsa Indonesia berhasil mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa untuk mengusir penjajah. Salah satu bentuk perjuangan baru yakni melalui organisasi-organisasi modern.

Dalam perjuangan mencapai kemerdekaan, bangsa Indonesia menempuh melalui berbagai bidang yaitu bidang budaya, sosial, ekonomi, dan politik. Di antara bidang-bidang tersebut, bidang politik yang paling menonjol, karena penjajah belanda menggunakan politik dalam segala bidang. Hal ini terjadi pada awal abad ke-20, pada waktu itu bangsa Indonesia telah mengubah cara perjuangannya, tidak lagi bersifat lokal, melainkan bersifat nasional. Dalam perjuangan bersifat nasional itu, peran organisasi sangat menetukan.

Kemunculan Pergerakan Kebangsaan Awal Abad ke-20

Timbulnya oraganisasi pergerakan nasional Indonesia tidak secara mendadak. Namun, melalui proses yang cukup lama dan dipengaruhi oleh berbagai peristiwa yang mendahuluinya. Baik peristiwa yang ada di dalam negeri maupun yang terjadi diluar negeri. Akan tetapi titik berat yang sangat menentukan adalah kejadian-kejadian yang terjadi di dalam negeri. Sedangkan peristiwa yang terjadi diluar negeri hanyalah mempercepat proses timbulnya pergerakan nasional.[1]

Faktor-faktor yang timbul dari dalam negeri dan bersifat nasional antara lain: 

1. Adanya tekanan dan penderitaan yang terus menerus, sehingga rakyat Indonesia harus bangkit melawan penjajah.
2. Adanya rasa senasib sepenanggungan yang hidup dalam cengkraman penjajah, sehingga timbul semangat bersatu membentuk negara.
3. Adanya rasa kesadaran nasional dan harga diri, menyebabkan kehendak untuk memiliki tanah air dan hak menentukan nasib sendiri.[2]

Adapun beberapa faktor ekstern, antara lain:

1. Kemenangan Jepang atas Rusia (1904 – 1905)

2. Partai Kongres India (Mahatma Gandhi) dengan garis perjuangan Swadesi, Ahimsa, Satyagraha, Hartal

3. Filipina di bawah Jose Rizal, pergerakan Nasional Liga Filipina dan melakukan perlawanan tehadap SPanyol

4. Gerakan nasionalisme Cina, Cina menentang Dinasti Manchu (1644-1912) melalui pemberontakan Tai Ping dan Boxer

5. Gerakan Turki Muda, dipimpin Mustafa Kemal Pasha 1908 menuntut pembaharuan dan modernisasi disegala sektor kehidupan[3]

Organisasi-organisasi pergerakan Kebangsaan awal Abad ke-20

1. Budi Utomo

Budi Utomo adalah organisasi pergerakan kebangsaan pertama di Indonesia. Didirikan oleh pelajar Stovia (School tot Opleiding Van Inlandsche Artsen) dibawah kepemimpinan R.sutomo. Sebelum Sutomo dan kawan-kawannya mendirikan perkumpulan Budi Utomo, terlebih dahulu terjadi pertemuan antara dr.Wahidin Sudirohusodo dengan R.Sutomo dan M.Soeradji pada akhir tahun 1907, dalam gedung stovia. Dalam pertemuan tersebut, dr.Wahidin banyak mengemukakan tentang ide-ide untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui studiefonds (dana pendidikan). Kalau bangsa sudah cerdas, maka memiliki wawasan luas yang timbul, sehingga tidak mudah untuk diadu domba, dan diatur oleh pihak penjajah.

Pergerakan Organisasi Kebangsaan Awal Abad 20

Tak lama Sutomo dengan Soeradji mengadakan pertemuan dengan kawan-kawan STOVIA lainnya untuk membicarakan organisasi yang bersifat nasional itu. Pertemuan diadakan di ruang anatomi STOVIA.[4] Hasil pertemua itu sangat positif dan berhasil mendirikan organisasi yang diberi nama perkumpulan budi utomo. 

Kemudian pada tanggal 3-5 Oktober 1908 diadakan Kongres I di Yogyakarta. Dalam kongres tersebut, Budi Utomo menghasilkan susunan Pengurus Besar Budi Utomo, AD/ART Budi Utomo, dan menentukan kantor pusat. Selanjutnya para pendiri Budi Utomo yang berdiri dari para pelajar STOVIA tersebut di atas, merupakan pengurus Budi Utomo cabang Betawi. Sedangkan kantor Pengurus Besar Budi Utomo berada di Yogyakarta, dengan ketua oleh Tirto Kusumo dan dr. Wahidin sebagai wakil ketua. Dengan demikian tampak jelas bahwa para pelajar STOVIA hanya sebagai pendiri saja, karena kepengurusan Budi Utomo dijabat oleh orang-orang yang lebih tua, yaitu para Bupati maupun pejabat yang lain.

Jangkauan gerak Budi Utomo terbatas pada penduduk pulau jawa dan pulau Madura dan baru kemudian meluas untuk penduduk Hindia seluruhnya dengan tidak memperhatikan perbedaan keturunan, jenis kelamin, dan agama. Sampai menjelang kongres pertama terdapat 8 cabang Budi Utomo yaitu di Jakarta, Bogor, Bandung, Yogya I, Yogya, II, Magelang, Surabaya, dan Probolinggo.

Setelah cita-cita Budi Utomo mendapat dukungan makin meluas di kalangan cendikiawan Jawa, maka pelajar itu menyingkir dari barisan depan. Sebagian karena keinginannya agar generasi yang lebih tua memegang peranan bagi gerakan itu. Ketika kongres Budi Utomo di buka di Yogyakarta, maka pimpinan beralih kepada generasi yang lebih tua, yang terutama terdiri dari priyayi-priyayi rendahan.[5] 

Setelah perdebatan yang panjang tentang corak Budi Utomo, maka pengurus besar memutuskan untuk membatasi jangkauan geraknya kepada penduduk Jawa dan Madura dan tidak melibatkan diri dalam kegiatan politik. Bidang kegiatan yang dipilihnya oleh karena itu adalah bidang pendidikan dan budaya. Budi Utomo menganggap perlu meluaskan pendidikan barat. Pengetahuan bahasa Belanda mendapat prioritas pertama, karena tanpa bahasa itu seseorang tidak dapat mengharapkan kedudukan yang layak dalam jenjang kepegawaian kolonial. Dengan demikian, maka Budi Utomo cenderung untuk memajukan pendidikan bagi golongan priyayi dari pada bagi penduduk pribumi pada umumnya.[6]

Dua pemimpinnya berbeda pendapat dengan anggota pengurus besar, yaitu Tjipto Mangunkusumo dan Surjodiputro, berhenti dari badan pengurus sebelum kongres yang kedua. Pengurus Besar Budi Utomo menjadi lebih seragam. Setelah persetujuan yang diberikan pemerintah kepada Budi Utomo sebagai badan hukum, maka diharapkan organisasi itu akan melancarkan aktivitas secara luas. Tetapi Budi Utomo menjadi lamban, yang disebabkan kesulitan keuangan. Lain daripada itu para bupati telah mendirikan organisasi sendiri, para pemuda STOVIA dan anggota muda lainnya berhenti sebagai anggotanya karena kecewa terhadap jalan yang telah ditempuh Budi Utomo. Namun, pada akhir tahun 1909 Budi Utomo telah mempunyai cabang di 40 tempat dengan jumlah anggota lebih kurang 10.000 orang.

Selanjutnya, perkambangannya menjadi lamban. Aktivitasnya hanya terbatas pada penerbitan majalan bulanan Goeroe Desa dan beberapa petisi yang dibuatnya kepada pemerintah berhubung dengan usaha meninggikan mutu sekolah menengah pertama.[7] ketika kepemimpinan pengurus pusat makin lemah, maka cabang-cabang melakukan aktivitas sendiri yang tidak banyak hasilnya. Pemerintah yang mengawasi perkembangan Budi Utomo sejak berdirinya dengan penuh perhatian dan harapan, akhirnya menarik kesimpulan bahwa pengaruh Budi Utomo terhadap penduduk pribumi tidak begitu besar. 

Karena Budi Utomo tidak pernah mendapat dukungan massa, kedudukannya secara politik kurang begitu penting. Namun suatu hal yang penting dari Budi Utomo adalah bahwa di dalam tubuhnya telah ada benih semangat nasional yang pertama dan karena itu ia dapat dipandang sebagai induk pergerakan nasional, yang kemudian muncul di dalam tubuh Sarekat Islam dan Indische Partij.

2. Sarekat Dagang Islam (SDI)

Mengenai kelahiran Sarekat Dagang Islam ada yang mengatakan berdiri lebih dulu dari Budi Utomo, yaitu pada 16 Oktober 1905, sebagaimana dikatakan oleh Moh.Roem dalam ceramahnya di Gedung Kebangkitan Nasional pada tanggal 23 Oktober 1977, dengan judul “Peranan Sarekat Islam dalam Pergerakan Kemerdekaan.”Namun dibantah oleh Deliar Noer dalam bukunya Gerakan Islam Modern di Indonesia.[8]

SDI dicetuskan pada pertemuan pertama tanggal 27 maret 1909 di rumah Tirto Adhi Soerjo di Bogor. Namun baru mendapat peresmian dari pihak pemerintah Hindia Belanda, pada tanggal 5 April 1909.

Ruang gerak SDI semula dalam bidang ekonomi/dagang, tapi kemudian bergerak ke arah politik. Dengan anjuran RM. Tirto Adhi Soerjo , maka di Solo berdiri SDI yang diketuai oleh H.Samanhudi. Bersamaan dengan penyusunan dasar SI pada tanggal 9 november 1911, maka kata “Dagang” pada sarekat Dagang Islam dihilangkan. Sehingga hanya menjadi Sarekat Islam saja. Sejak itulah sebenarnya organisasi itu mulai mengubah langkah pergerakannya, yaitu dari bidang ekonomi ke arah bidang politik. Dengan demikian, jelas bahwa SI merupakan perkembangan dari SDI yang pernah didirikan di Bogor pada Maret 1909 oleh Tirto Adhi Soerjo bersama keluarga Badjenet.[9]

SDI termasuk suatu organisasi pergerakan nasional yang ikut mewarnai perjuangan bangsa Indonesia untuk mencapai cita-cita nasional. Tirto adalah tokoh ulet dalam SDI dan juga sebagai pendiri pers nasional, yaitu “Medan Priaji”. 

Latar belakang ekonomis perkumpulan ini ialah perlawanan terhadap dagang-antara (penyalur) oleh orang Cina. Kejadian itu merupakan isyarat bagi orang Muslim bahwa telah tiba waktunya untuk menunjukkan kekuatannya.[10] Para pendiri Sarekat Islam mendirikan organisasinya tidak semata-mata untuk mengadakan perlawanan terhadap orang-orang Cina, tetapi untuk membuat front melawan semua penghinaan terhadap rakyat bumiputra. Ia merupakan reaksi terhadap rencana krestenings-politiek (politik pengkristenan) dari kaum zending, perlawanan terhadap kecurangan-kecurangan dan penindasan dari pihak ambtenar-ambtenar Bumiputra dan Eropa. Pokok utama Sarekat Islam ditujukan terhadap setiap bentuk penindasan dan kesombongan rasial. Berbeda dengan Budi Utomo yang merupakan organisasi dari ambtenar-ambtenar pemerintah, maka SI berhasil sampai pada lapisan bawah masyarakat, yaitu lapisan yang sejak berabad-abad hampir tidak mengalami perubahan dan paling banyak menderita.

Bila ditinjau menurut anggaran dasarnya, yang dapat dirumuskan seperti berikut: mengembangkan jiwa berdagang, memberi bantuan kepada anggota-anggota yang menderita kesukaran; memajukan pengajaran dan semua yang mempercepat naiknya derajat bumiputra; menentang pendapat-pendapat yang keliru tentang agama Islam, maka SI terang tidak berisikan politik. Tetapi dari seluruh aksi perkumpulan itu dapat dilihat, bahwa SI tidak lain melaksanakan suatu tujuan ketatanegaraan. Selalu diperjuangkan dengan gigih keadilan dan kebenaran terhadap penidasan dan keburukan bagi pihak pemerintah. Tanpa diragukan, periode SI itu dicanangkan oleh suatu kebangunan revolusioner dalam arti tindakan yang gagah berani melawan stelsel terjajah-penjajah.[11] Beberapa aspek perjuangan terkumpul menjadi satu dalam tubuh Si sehingga ada yang menamakan bahwa SI merupakan, “gerakan nationalistis-demokratis-ekonomis.” Itulah sebabnya SI perkembangan dan tumbuhnya sangat cepat sehingga SI menjadi organisasi massa pertama di Indonesia yang antara tahun 1917-1920 sangat terasa pengaruhnya di dalam politik Indonesia. [12]

3. Indische Vereniging

Indische Vereeniging berdiri atas prakarsa Gunawan Mangunkusumo, Moh. Hatta, Iwa Kusuma Sumantri, Sastro Mulyono, dan M.Sartono. mereka menyadari betapa pentingnya organisasi tersebut bagi bangsa Indonesia. Indische Vereeniging menerbitkan sebuah buletin yang diberi nama Hindia Poetera, namun isinya sama sekali tidak memuat tulisan-tulisan bernada politik. Pada tahun 1922, organisasi ini berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging.

Semula Indische Veregining bergerak di bidang sosial itu, tapi tidak lama bertahan, karena sejak tahun 1913 mulai diwarnai dalam pergerakan di bidang politik. Hal ini terjadi karena adanya pengaruh dari tokoh “tiga serangkai” (dr.ciptomangunkusumo. douwes dekker. Dan suwardi suryaningrat) pendiri IP yang dibuang ke negeri belanda. Suwardi suryaningrat sempat terpilih sebagai ketua IV pada periode 1917-1919. Sejak itulah, pergerakan IV mulai berani dan mengarah kepada perjuangan untuk Indonesia merdeka.

Adapun sebab2 perubahan pergerakan itu, dipengaruhi beberapa faktor:

1. Adanya perubahan kebijakan politik pemerintah di negara jajahan yang ingin menerapkan kehidupan denga sistem demokrasi liberal, yakni dengan membentuk Volksraad (semacam DPR colonial belanda).

2. Selesainya perang dunia I, tahun 1919 makin banyak para pelajar Indonesia yang datang ke negeri belanda.

Dengan situasi dan kondisi spt di atas, pergerakan IV tampak lebih terbuka. Sasaran dan cita-cita perjuangan yang bersifat nasionalis lebih tegas. Antara lain tentang perubahan nama organisasi yang dari indische Vereniging menjadi Indonesische Vereniging. Kata indische berarti Hindia. Dalam hal ini berarti orang-orang keturunan Belanda masih boleh masih sebagai anggota. Sedangkan kata Indonische, berarti seluruh anggotanya hanya terdiri dari orang Indonesia (bumiputera), jadi tidak boleh orang-orang keturunan Belanda masuk menjadi oraganisasi mahasiswa tersebut.

Para anggota Indonesische memutuskan untuk menerbitkan kembali majalah Hindia Poetra dengan Moh. Hatta sebagai pengasuhnya. Majalah ini terbit dwibulanan, dengan 16 halaman dan biaya langganan seharga 2,5 gulden setahun. Penerbitan kembali majalah ini menjadi sarana untuk menyebarkan ide-ide anti colonial. Dalam dua edisi pertama, Hatta menyumbangkan tulisan kritik mengenai praktek sewa tanah industry gula Hindia Belanda yang merugikan petana. Pata tahun 1924, saat M. Nazir Datuk Pamoentjak menjadi ketua, nama majalah Hindia Poetra berubah menjadi Indonesia Merdeka. Tahun 1925 saat Soekiman Wirjosandjojo menjadi ketua, nama organisasi ini resmi berubah menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Moh. Hatta menjadi ketua PI terlama, yaitu sejak awal tahun 1926 hingga 1930.

4. Indische Partij

Berdiri tanggal 25 Desember 1912 di Bandung. Pendirinya adalah dr.Cipto Mangunkusumo, Douwes Dekker, dan Suwardi Suryaningrat yang terkenal dengan sebutan Tiga Serangkai.[13]

Indische partij adalah organisasi pendukung gagasan revolusioner nasional. Organisasi ini juga ingin menggantikan Indische Bond sebagai organisasi kaum Indo dan Eropa di Indonesia yang didirikan pada tahun 1898. Perumus gagasan itu ialah Douwes Dekker kemudian terkenal dengan nama Danudirdja Setyabuddhi, seorang Indo, yang melihat keganjilan-keganjilan dalam masyarakat kolonial khususnya diskriminasi antara keturunan Belanda totok dan kaum Indo. Douwes Dekker meluaskan pandangannya terhadap masyarakat Indonesia umumnya, yang masih tetap hidup di dalam situasi kolonial. Nasib para indo tidak ditentukan oleh pemerintah kolonial tetapi terletak di dalam bentuk kerjasama dengan penduduk Indonesia lainnya. 

Untuk persiapan pendirian Indische Partij, Douwes Dekker mengadakan perjalanan propaganda di Pulau Jawa yang dimulai pada 15 September dan berakhir pada 3 Oktober 1912. Di dalam perjalanan inilah ia bertemu dengan dr.Tjipto Mangunkusumo., yang segera mengadakan pertukaran mengenai soal-soal yang bertalian dengan pembinaan partai yang bercorak nasionalis. Di bandung ia mendapat dukungan dari Suwardi Suryaningrat dan Abdul Muis yang pada waktu itu telah menjadi pemimpin-pemimpin Sarekat Islam cabang Bandung. Redaktur-redaktur surat kabar Jawa Tengah di Semarang dan Tjahaya Timoer di Malang juga menyokong berdirinya Indische Partij. Bukti nyata dari propaganda ini ialah didirikannya 30 cabang dengan anggota sejumlah 7300 orang, kebanyakan Indo-Belanda. Sedangkan jumlah anggota bangsa Indonesia adalah 1500 orang.[14] 

Tujuan IP adalah untuk membangunkan patrotisme semua “indiers” terhadap tanah air, yang telah memberi lapangan hidup kepada mereka, agar mereka mendapat dorongan untuk bekerjasama atas dasar persamaan ketatanegaraan untuk memajukan tanah air “Hindia” dan untuk mempersiapkan kehidupan rakyat yang merdeka. Indische partij berdiri di atas dasar nasionalisme yang luas menuju kemerdekaan Indonesia. Indonesia sebagai “national home” semua orang keturunan bumiputra, Belanda, Cina, Arab, dan sebagainya yang mengakui Hindia sebagai tanah air dan kebangsaannya.

Berbeda dengan organisasi sebelumnya, di mana organisasi sebelumnya bersifat sangat hati-hati, sedangkan organisasi ini bersifat keras dan langsung bergerak dalam bidang politik. Ini menonjol melalui tulisan-tulisannya yang dimuat dalam berbagai majalah. Suwardi Suryaningrat menulis dalam harian De express dengan judul Als ik eens nederlander was (Andaikata saya seorang Belanda). Tulisan ini sebenarnya ditujukan untuk menyindir pemerintah Hindia Belanda yang pada waktu itu akan mengadakan peringatan 100 tahun pembebasan negeri Belanda dari penjajahan Prancis. Dalam peringatan tersebut diperlukan biaya yang dipungut dari penduduk Hindia Belanda. Yang berarti penduduk di negeri jajahan, diajak untuk berfoya-foya dalam peringatan bangsa yang menjajah itu untuk kepentingan dirinya.

5. Pergerakan Muhammadiyah

Pergerakan Nasional tidak selalu dilancarkan melalui bidang politik. Walaupun pada dasarnya pergerakan dalam bidang politik adalah yang paling menonjol, tetapi bukan berarti pergerakan dalam bidang lain tidak berperan. Seperti yang ditempuh oleh Perguruan Muhammadiyah, yang menempuh bidang pendidikan dan sosial yang tetap berjiwa Islam.

Perguruan Muhammadiyah didirikan tanggal 18 November 1912 di Yogyakarta oleh KH. Achmad Dachlan. Organisasi ini cepat mendapat dukungan dari berbagai lapisan masyarakat, sebagaimana Sarekat Islam bahwa Muhammadiyah sebagai persatuan Islam juga mendapat perhatian besar oleh pihak pemerintah Kolonial Belanda. Namun berhubung langkah dan gerak Muhammadiyah tidak menjurus ke arah bidang politik, maka tidak dianggap berbahaya bagi pemerintah.[15]

Dapat dikatakan bahwa sistem pendidikan sebelumnya masih berlangsung secara tradisional. Baru menjelang Sumpah Pemuda tahun 1928 mulailah bangsa Indonesia berusaha keras untuk mempersatukan kembali cita-cita kebangsaan. Gerakan ini dipelopori oleh putra-putra Indonesia yang beragama Islam, tetapi belajar di negeri Belanda, dibantu oleh mereka yang belajar di mesir.[16]

Dari saat itulah masyarakat Islam Indonesia merasa berkepentingan untuk menambah materi pendidikan umum di sekolah-sekolah Islam. Sistem pendidikan diubah dari sistem halaqah menjadi berkelas-kelas sesuai dengan kurikulum yang berimbang antara pendidikan umum dan pendidikan agama.[17] Perubahan ini bisa terlihat pada perguruan-perguruan Muhammadiyah, al-Irsyad, dan Persis.

6. Partai Komunis Indonesia (PKI)

Ketika dalam waktu singkat Sarekat Islam mendapat hati di kalangan masyarakat dan merupakan organisasi massa besar di Indonesia yang berpengaruh dalam bidang politik. Akibatnya pemerintah Hindia Belanda khawtir terhadap perkembangannya, sehingga ruang gerak SI dibatasi dan tidak diperbolehkan mempunyai pengurus besar.

Usaha pemerintah Hindia Belanda untuk memecah persatuan SI tersebut ternyata tidak saja didorong oleh gerakan-gerakan di dalam negeri pemerintah jajahan saja, melainkan juga adanya pengaruh dari luar, yaitu gerakan Pan-Islamisme yang anti imperialis Barat dan akan membentuk persatuan semua umat Islam di bawah satu pemerintahan Islam pusat. Dan ternyata usaha ini berhasil dengan cepat, terutama dengan datangnya Tan malaka yang telah menganut paham Marxis. 

Dengan masuknya paham komunis ke dalam tubuh SI , maka pecahlah SI menjadi dua. Satu pihak menjadi SI di bawah kepemimpinan HOS. Cokroaminoto dan pihak lain di bawah kepemimpinan Semaun. Akhirnya, keduanya menjadi suatu organisasi politik, yaitu partai sarekat Islam (PSI) dan yang dibawah semaun menjadi PKI. Kedua partai ini berjuang dengan mengambil sikap non-kooperasi sejak tahun 1923. Namun PSI lebih lunak dibandingkan PKI.

Gerakan PKI selanjutnya sangat radikal dan selalu menggerakkan organisasi buruh untuk mogok, apabila tuntutan perbaikan nasib buruh tidak dipenuhi. Sebagai puncak kegiatan PKI untuk memperjuangkan nasib buruh adalah melancarkan pemogokan secara besar-besaran. Padahal cara-cara yang demikian, dapat dihindarkan dan dapat ditempuh dengan jalan lain. Oleh karena itu, dalam tubuh PKI itu sendiri pada awal tahun 1926 terjadi suatu perbedangan pandangan. Ada yang berpendapat harus dilakukan pemberontakan, tetapi ada yang tidak setuju pemberontakan. Pihak Tan Malaka bersikap tidak setuju, sedangkan pihak Alimin, Darsono, dan kawan-kawannya setuju melakukan pemberontakan. Akhirnya diputuskan untuk memberontak. Akan tetapi pemberontakan itu gagal dilakukan karena ditumpas oleh pihak pemerintah kolonial Belanda. 

7. Partai Nasional Indonesia (PNI) 

Sementara itu, di negeri jajahan kaum pergerakan tidak berani melakukan kegiatan yang bersifat politik atau menggerakkan massa. Dalam situasi yang demikian, maka muncul tokoh muda, yaitu Ir.Sukarno. Sejak tahun 1925 ia telah berhasil mendirikan perkumpulan pelajar yang ada di Bandung dengan nama Algemeene Studie Club. Dia banyak belajar dari terbitan-terbitan karya HOS Cokroaminoto tentang Islam dan sosialisme. Dari Ir. Sukarno sendiri timbul gagasan untuk bergerak yang menjurus kepada nasional murni. 

Oleh karena itu, Sukarno tampil sebagai pemimpin pergerakan nasional tidak canggung dan belum dicurigai oleh pemerintah Hindia Belanda. Terlebih pada saat itu juga telah banyak para anggota Perhimpunan Indonesia (PI) yang pulang ke tanah air. Kepulangan anggota PI ini ada yang memang sudah menyelesaikan studi di negeri Belanda, ada pula karena menghindari kejaran dari pemerintah di negeri Belanda setelah gagalnya pemberontakan PKI tahun 1926. Setelah di tanah air, para anggota PI itu banyak bergabung dengan Sukarno untuk melakukan pergerakan. Akhirnya pada tanggal 4 juli 1927 didirikan suatu organisasi politik dengan nama Perserikatan Nasional Indonesia (PNI), yang kemudian pada tahun itu juga berubah namanya, “Partai Nasional Indonesia” yang disingkat PNI. Adapun para pendiri PNI itu adalah gabungan dari para pelajar yang lulus di tanah air dan pelajar yang datang dari negeri Belanda. Mereka adalah Ir.Sukarno, Ir. Anwari, Mr.Iskaq Cokrohandisuryo, Mr.Sartono, Mr.Sunario, Mr.Budhiarto, Samsi, dan bukan dari kalangan intelektual, yaitu Tilaar dan Sudjadi. Adapun Tilaar dari karyawan swasta sedangkan Sudjadi dari pegawai negeri. 

PNI diharapkan menjadi partai pelopor dalam pergerakan nasional. Kalau PSI bersifat Islamis, PKI bersifat sosialis, dan marxis, sedangkan PNI bersifat nasionalis. Dengan demikian di dalam PNI tidak membedakan agama dan pandangan apapun.

Kesimpulan

Kemunculan organisasi pergerakan nasional Indonesia melalui proses yang lama dan dipengaruhi oleh berbagai peristiwa yang mendahuluinya, baik peristiwa yang ada di dalam negeri maupun yang terjadi diluar negeri. Akan tetapi titik berat yang sangat menentukan adalah kejadian-kejadian yang terjadi di dalam negeri. 

Di awal abad ke-20 lahir organisasi-organisasi pergerakan kebangsaan yang bertujuan untuk mencapai kemerdekaan bangsa Indonesia. Budi Utomo adalah organisasi pergerakan yang pertama kali lahir yaitu pada tanggal 20 Mei 1906. Lalu disusul oleh organisasi-organisasi lain, seperti Sarekat Dagang Islam (SDI) yang kemudian berubah nama menjadi Sarekat Islam (SI), Indische Veeriging, Indische Partij, Partai Komunis Indonesia (PKI), dan Partai Nasional Indonesia (PNI).

Daftar Pustaka
Karim, M.Abdul, Islam dan Kemerdekaan Indonesia, Cet.1, Yogyakarta: Sumbangsih Press, 2005.

Kuntowijoyo, Raja, Priyayi, dan Kawula Muda, Cet.I, Yogyakarta: Ombak, 2004.

Ma’arif, Ahmad Syafii, Studi tentang Percaturan dalam KonstituanteIslam dan Masalah Kenegaraan (Cet.I, Jakarta: LP3ES, 1985),

Poesponegoro, Marwati Djoened, Sejarah nasional Indonesia V, Cet.4, Jakarta: Balai Pustaka, 1993.

Sudiyo, Perhimpunan Indonesia, Cet.I; Jakarta: Penerbit Bina Adhiaksara, 2004.

Sudiyo, Pergerakan Nasional, Mencapai dan Mempertahankan Kemerdekaan, Cet.I, Jakarta: Penerbit Rineka Cipta, 2002.

Sunanto, Musyrifah, Sejarah Peradaban Indonesia, Cet.2, Jakarta: Rajawali Press, 2010.

Darsjaf Rachman, Kilasan Petikan Sejarah Budi Utomo, cet.I, Jakarta: Yayasan Idayu, 1975.

Soegeng Reksodihardjo, DR. Cipto Mangunkusumo, Cet.I, Jakarta: Depdikbud, Jakarta, 1992.



0 Response to "Pergerakan Organisasi Kebangsaan Awal Abad 20"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!