Makalah Perkembangan dan Prosesnya Masuknya Islam di Prancis

Advertisement
Makalah Perkembangan dan Prosesnya 
Prolog

Masyarakat Prancis, sudah lama mengalami kontak dengan Islam. tepatnya sejak Islam masuk pada abad ke-8 di bagian Selatan Prancis, yakni di saat transisi kekuasaan dari Dinasti Bani Umayyah ke Dinasti Bani Abbasiyah. Islam berkuasa selama kurang lebih 40 tahun. Demikian pula pada abad ke-10 Islam mencoba memperluas kekuasaan daerah kekuasannya, tetapi gagal sebab di abad pertengahan ini, Islam menghadapi “Crusades” (perang salib) dan akhirnya mereka meninggalkan Prancis. 

DalamTexbook untuk Perguruan Tinggi Agama Islam/IAIN, juga dijelaskan bahwa Prancis telah mengenal Dunia Islam sejalan dengan penjajahan yang dilakukannya terhadap wilayah-wilayah yang berpenduduk mayoritas Muslim di Aljazair, Maroko, Tunisia, Senegal, Mali, Libanon, Mesir dan selainnya. Seperti negara industri lainnya, Prancis juga membuka kesempatan kepada “just arbeiders” yaitu buruh tamu dari Tunisia, Marokko, Aljazair, Turki dan sebagainya untuk bermukin di Prancis.

John L. Esposito menyatakan bahwa kehadiran Islam di Prancis menjadi signifikan bersamaan dengan colonialisasi Afrika Utara yang dimulai pada tahun 1830 M. Para pedagang yang dikenal dengan istilahTurcos datang dari Aljazair setelah tahun 1850 M, menyusul kemudian imigran Maroko yang bekerja di Dermaga Marseilles, di kontruksi bagian Selatan. Selama perang Dunia I, para imigran yang berjumlah lebih dari 132.000 orang Afrika Utara berdomisili di Prancis sebagai pekerja sawah dan buruh di Pabrik senjata, serta lebih dari 15.000 orang diminta untuk terlibat dalam peperangan.

Perkembangan Masuknya Islam di Prancis

Seiring dengan perkembangan waktu, jumlah orang-orang Islam di Prancis (eropa) bertambah dan semakin plural. Hal ini ditandai dengan hadirnya pedagang Turki, Afrika (Senegal, mali, Mauritania), Timur Tengah (Iran, Afganistan, Pakistan).

Proses Islamisasi secara implisit di Prancis, telah dimulai sejak terjadinya perang salib, dan secara eksplisit proses Islamisasi di Perancis dimulai pada tahun 1830, yakni ketika imigran muslim berdatangan membawa barang dagangan mereka ke Prancis. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa proses Islamisasi di Prancis (eropa) pada awalnya melalui jalur peperangan dan proses selanjutnya adalah jalur perdagangan. Dalam masa-masa perkembangannya, proses Islamisasi di Prancis tetap berjalan, namun yang terakhir ini ia berproses melalui jalur dakwah dan perkawinan, karena di sana sudah banyak umat Islam yang menetap.

Proses Perkembangan Islam di Prancis

Menentukan secara pasti populasi umat Islam di Prancis (eropa), agaknya sulit, tetapi memperkirakannya dengan merujuk ke berbagai sumber boleh jadi dapat membantu dalam memprediksi secara akurat populasi tersebut. Berkaitan dengan ini, maka penulis terlebih dahulu akan mengungkap beberapa data, yakni;

John L. Esposito memperkirakan perkembangan Islam di Prancis mencapai puncaknya pada tahun 1968. Sayangnya, John L. Esposito di sini, tidak sempat mengungkap berapa populasi umat Islam di Prancis pada tahun itu. John L. Esposito memberikan data bahwa berdasarkan sensus 1990 jumlah umat Islam di Prancis adalah rinciannya sebagai berikut:.

· Imigran muslim ke Prancis sebanyak 614.207 orang berasal dari Aljazair; sebanyak 576.652 orang berasal dari Maroko; sebanyak 206.336 orang berasal dari Tunisia; dan sebanyak 197.712 orang berasal dari Turki. 

· Khusus imigran Aljazair, mereka terlebih dahulu datang dan menjadi warga Prancis, yakni sejak kemerdekaan Aljazair. Sehingga, populasi mereka (sebelum 1990) sudah berjumlah kurang lebih 500.000 orang. 

· “Prancis Baru”, yaitu muslim yang mendapatkan kewarganegaraan akibat kelahiran atau melalui naturalisasi. Mereka ini memiliki akses yang cukup luas untuk berkiprah di masyarakat Prancis. 

· Komunitas Prancis yang memeluk Islam. Komunitas ini memiliki peran penting dalam memberikan mediasi antara masyarakat muslim dengan masyarakat Prancis pada umumnya. Mereka inilah yang secara nasional dan natural dianggap sebagai penduduk asli Prancis yang mengetahui seluk beluk budaya dan perdaban masyarakat Prancis.

Mengingat bahwa umat Islam terus mengalami perkembangan dari tahun ke tahun, terutama melalui jalur dakwah dan pernikahan, maka diperkirakan bahwa untuk tahun-tahun berikutnya, populasi umat Islam di sana memiliki pertambahan yang signifikan.

Problematika Islam di Prancis

Meskipun Islam telah berkembang pesat di Prancis dan umat Islam hidup secara damai sesama intern umat Islam, bukan berarti bahwa umat Islam di sana hidup damai secara eksteren. Pluralisme masyarakat ekstern (non-muslim), adalah salah satu faktor utama memicu terjadinya konflik di tengah-tengah masyarakat, sekaligus merupakan problematika yang dihadapi oleh umat Islam Prancis dewasa ini.

Bermula dari peristiwa 11 September 2001 sebagai tragedi terdahsyat dunia di awal abad ke-21, maka seketika itu pula dua orang muslim Prancis bernama David dan Jerome yang barusan masuk Islam, ditahan karena tuduhan terlibat dalam jaringan terorisme internasional. Kasus dua pemuda mu’allaf tersebut diangkat sebagai bukti bahwa pemerintahan Prancis kelihatannya memiliki image (prasangka) negatif terhadap umat Islam yang menetap di negara Prancis.

Lebih dari itu, tantangan berat yang dihadapi umat Islam Prancis adalah adanya pelarangan penggunaan Jilbab di sana. Program anti jilbab telah meluas hingga pengusiran muslimah berjilbab di Prancis benar-benar telah diberlakukan. Larangan berjilbab ini, dalam bentuk lain, juga diberlakukan di berbagai kawasan Eropa lainnya dan di Amerika. Fenomena seperti ini, merupakan indikasi bahwa bangsa Eropa, termasuk Prancis memandang Islam sebagai makhātir (sesuatu yang bahaya).

Pertimbangan lain, masalah utama dibalik keluarnya undang-undang “pelarangan berjilbab” ialah ketakutan pemerintah negara-negara Barat terhadap semakin berkembangnya Islam negara-negara tersebut. Negara-negara Eropa Barat (termasuk Prancis) senantiasa berusaha untuk memburukkan citra Islam, di antaranya dengan menggambarkan bahwa Islam mengekang kaum muslimah dengan aturan-aturan agama yang ketat.

Implikasi lain yang ditimbulkan terhadap pengamalan ajaran Islam di Prancis menurut Abdul Salam Banesh, seorang warga Prancis asal Maroko yang merupakan imam masjid, mengatakan; “Islam selama ini telah diperkenalkan sebagai musuh Barat, namun kini perkembangan Islam di Barat malah semakin meluas karena Islam merupakan agama yang komprehensif dan mampu menjawab berbagai persoalan kehidupan. Perkembangan Islam inilah yang membuat Barat ketakutan.” Lalu, timbul pertanyaan yang sangat mendasar, ada apa dengan Prancis? Negeri yang dipandang memiliki tradisi intelektual luar biasa dan tradisi demokrasi yang menyejarah ini, tiba-tiba takut akan eksistensi Islam di sana? Padahal, Islam di Prancis dari sense sejarahnya sungguh telah eksis berabad-abad silam dan penganut agama ini yang bermigran dari multikulturalisme dan multibangsa hidup secara toleran dengan masyarakat non-muslim Prancis.

Prancis harus ingat, bahwa terhadap sejarah kaum muslimin yang telah berjasa membebaskan Raja Prancis I dari tangkapan musuhnya pada pertempuran Pavia tahun 1525. Berdasar pada pernyataan ini, kiranya sangat tidak bijak dan tidak arif, bilamana masyarakat dan apalagi pemerintah Prancis dewasa ini, tetap menganggap Islam sebagai musuh, serta menjadikan Islam sebagai agama yang termarginalkan.

Walaupun dalam kenyataannya pemerintah Prancis dan sebagian masyarakat non-Muslim Prancis tetap menganggap Islam sebagai sesuatu yang negatif, tentu dibalik itu semua memiliki nilai-nilai positif bagi citra Islam. Kenyataannya adalah, bahwa Islam di Prancis dewasa ini, tetap eksis, bahkan mampu bertahan hidup walaupun mereka harus berlawanan dengan masyarakat non-muslim pluralis yang sekuler.

Dalam praktik keagamaan sehari-hari, Aslam menyatakan bahwa aliran Islam di Prancis juga banyak mulai dari Wahabi, Salafi, Ikhwanul Muslimin, Jama’ah Tablig, dan lain-lain yang hidup dengan rukun. Namun, dalam pandangan penulis bahwa praktik keagamaan sehari-hari umat Islam Perancis tampak pada pola keberagamaan yang mayoritas menggunakan mażhab sunni karena mayoritas mereka berasal dari Afrika Utara yang kental dengan mażhab sunni.

Terbangunnya masjid-masjid di Prancis yang jumlahnya sampai 2.500 buah, juga merupakan salah satu indikasi bahwa kaum muslim Prancis dewasa ini senantiasa geliat dan antusias dalam menjalankan ibadah-ibadah secara rutin, terutama shalat berjamaah. Praktis bahwa ajaran Islam yang lain, semisal puasa dan zakat juga terlaksana dengan baik. 

Penutup

Dari uraian singkat di atas dapat disimpulkan bahwa Islam di Perancis mengalami perkembangan yang sangat pesat, eksis dan mampu bertahan di tengah kehidupan masyarakat pluralis dan sekuler. 

Referensi:

Lapidus, Ira M., Sejarah Sosial Umat Islam Bagian Kesatu dan Kedua, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1999. 

Esposito, John L., The Oxford Encyclopedia of The Modern Islam World, vol. 2 (New York: Oxford University Press, 1995.

Team Penyusun Textbook Sejarah dan Kebudayaan Islam Direktorat Jenderal Pem-binaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama RI, Sejarah dan Kebudayaan Islam, jilid II Ujung Pandang: IAIN Alauddin, 1982/1983

Wikipedia Indonesia http://id.wikipedia.org/wiki/Islam_di_Perancis

Beberapa tulisan yang terkait seperti “Islam di negeri Menara Eiffel” dan “Setiap Tahun 150 orang Masuk Islam di Eropa” (www.eramuslim.com), “Islam Perancis Terbesar di Eropa” (www.republika.co.id), “Perlahan-lahan Perancis menjadi Negara Muslim” (www.taqrif. info), dll.



0 Response to "Makalah Perkembangan dan Prosesnya Masuknya Islam di Prancis"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!