Pola Dakwah dan Seruan Nabi Muhammad SAW di Mekkah dan Madinah

Advertisement

Pola Dakwa dan Seruan Nabi Muhammad SAW di Mekkah dan Madinah

A. Dakwah Nabi Muhammad SAW

Dakwan Muhammad SAW. Dapat dibagi dalam dua periode penting, yaitu periode Mekkah dan periode Madinah. Setoap periode memiliki karakteristik dakwah masing-masing. Oleh sebab itu, kjian tentang dakwah Nabi Muhammad SAW.didekati dengan periode diatas.

Pola Dakwah dan Seruan Nabi Muhammad SAW di Madinah

Islam sebagai agama yang kaafah dan syumul juga sangat memperhatikan konsep dan nilai dalam berkomunikasi. Sebab, dakwah Islam sendiri berpadu padan dengan komunikasi atau boleh dibilang dakwah itu salah satu bentuk komunikasi. Sementara itu, komunikasi memiliki seni tersendiri agar suatu informasi dapat diterima dengan baik, benar, dan tepat kepada komunikan. Sehingga, tidak keliru dalam memahami informasi yang dimaksud serta tidak salah memahami keinginan sang pemberi informasi tersebut.Dalam sejarah dakwah Islam, Rasulullah SAW juga sangat memperhatikan metode dakwah agar pesan dakwah dapat diterima dengan baik bagi mad’u (yang didakwahi). Hal itu dapat dilihat ketika Rasulullah saw melaksanakan wahyu Allah Ta’ala untuk mentauhidkan akidah umat yang keliru dengan menuhankan banyak Illah dan membersihkan peribadahan dari segala bentuk kesyirikan. Beliau secara khusus memiliki sebuah tugas mulia dengan jalan mendakwahkan dien Islam ini kepada umat melalui metode yang haq yaitu berupa cara-cara yang sesuai dengan petunjuk Allah Ta’ala. Diantara metode dakwah beliau saw adalah:

1. Bil hikmah wal mau’izhah

Allah Ta’ala berfirman, Artinya, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. an-Nahl, 16:125)

Hikmah ialah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil. Oleh sebab itulah Allah Ta’ala meletakkan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai asas pedoman dakwah bagi Rasulullah dan juga bagi tiap umat yang bertugas meneruskan dakwah beliau hingga akhir zaman.

Pada ayat tersebut diatas dapat dipahami bahwa cara berdakwah yang diperintah Allah Ta’ala adalah sebagai berikut,

1. Dakwah bil hikmah, yaitu metode dakwah dengan memberi perhatian yang teliti terhadap keadaan dan suasana yang melingkungi para mad’u (orang-orang yang didakwahi), juga memperhatikan materi dakwah yang sesuai dengan kadar kemampuan mereka dengan tidak memberatkan mereka sebelum mereka bersedia untuk menerimanya. Metode ini juga membutuhkan cara berbicara dan berbahasa yang santun dan lugas. Sikap ghiroh yang berlebihan serta terburu-buru dalam meraih tujuan dakwah sehingga melampaui dari hikmah itu sendiri, lebih baik dihindari oleh seorang pendakwah.

2. Dakwah dengan cara mau’izhah al-hasanah, yaitu metode dakwah dengan pengajaran yang meresap hingga ke hati para mad’u. Pengajaran yang disampaikan dengan penuh kelembutan akan dapat melunakkan kerasnya jiwa serta mencerahkan hati yang kelam dari petunjuk dien. Pada beberapa da’i, ada yang masih saja menggunakan metode dakwah yang berseberangan dengan hal ini, yaitu dengan cara memaksa, sikap yang kasar, serta kecaman-kecaman yang melampaui batas syar’i.

3. Dakwah dengan perdebatan yang baik, yaitu metode dakwah dengan menggunakan dialog yang baik, tanpa tekanan yang zalim terhadap pihak yang didakwahi, tanpa menghina dan tanpa memburuk-burukkan mereka. Hal ini menjadi penting karena tujuan dakwah adalah sampai atau diterimanya materi dakwah tersebut dengan kesadaran yang penuh terhadap kebenaran yang haq dari objek dakwah. Metode ini menghindari dari semata karena ingin memenangkan perdebatan dengan para mad’u.

2. Benar dan Tegas Tanpa Kompromi

Sesungguhnya dakwah Rasulullah merupakan dakwah yang tegas tanpa kompromi. Perkara yang beliau saw sentuh dalam dakwahnya adalah perkara yang paling pokok dan paling mendasar, laa ilaaha illallah, Muhammadur rasulullah. Beliau saw menyeru bahwa tidak ada yang wajib diagungkan, diibadahi, ditaati dan dicintai kecuali Allah Ta’ala. Begitu juga terhadap perkara hukum, tidak ada hukum yang wajib diterapkan dan dilaksanakan, kecuali hukum-Nya. Oleh karenanya perkara ini menjadi sangat penting dan oleh karena sifat pembangkangan umat kafir serta muslim yang munafik, maka dakwah ini juga akan menimbulkan kecaman, kemarahan, dan permusuhan.

Namun perkara yang tidak menyenangkan hati ini tidak menurunkan semangat beliau saw untuk tetap berjuang menyampaikan yang haq. Dengan penuh kesabaran dan sifat welas-asihnya, beliau saw beristiqomah membimbing umatnya yang keliru kepada jalan yang lurus. Disamping itu, ketegasan pun beliau saw tampakkan sehingga kebenaran yang hakiki tidak bercampur dengan kebatilan. Beliau saw juga tidak melazimkan hal-hal diluar syari’at yang akan menimbulkan ‘kecintaan’ dari umat yang dengan itu beliau saw akan memperoleh dukungan yang besar.

Allah Ta’ala berfirman, Artinya, “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (QS. al-Hijr, 15:94)

Tujuan dakwah Rasulullah adalah mengembalikan sifat penghambaan manusia kepada Rabb-nya semata dan menerapkan hukum yang berlaku di bumi kepada Sang Pembuat hukum Yang sebenarnya, yaitu Allah azza wa jalla. Perkara ini merupakan perkara yang amat berat yang akan menimbulkan ujian dan rintangan berupa penderitaan dan kesakitan, baik jiwa dan fisik.

3. Tidak menambah dan mengurangi satu huruf pun dari materi dakwah
Orang-orang kafir semasa Rasulullah senantiasa mencari jalan untuk menyelewengkan Rasulullah dari sifat dan karakter dakwahnya yang benar dan tegas. Mereka menginginkan agar Rasulullah mengikuti kehendak hawa-nafsu mereka dengan mengemukakan segala janji dan tipu-muslihat agar beliau saw meninggalkan prinsip dan bergeser dari jalan yang telah ditetapkan-Nya. Dalam al-Qur’an, sifat keengganan mereka mengikuti al-Qur’an dan sikap mereka yang berupaya agar Rasulullah mengganti petunjuk yang haq dengan yang mereka kehendaki yaitu pada firman-Nya,

Artinya, “Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata, “Datangkanlah al-Qur’an yang lain dari ini atau gantilah dia.” Katakanlah, “Tidaklah patut bagiku menggantinya dari sisiku sendiri. Aku tidak mengikuti kecuali yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat).” (QS. Yunus, 10:15)

Pola Dakwah Nabi Muhammad SAW di Mekkah

1. Muhammad SAW. Dan Tujuan Pengutusanya

Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir yang diutus Allah SWT. Beliau berasal dari nasaab yang mulia dari keturunan Nabi Ismail bin Ibrahim. Memperkenalkan diri beliau kepada umatnya dengan bertutur yang artinya:“Sesunggunya Allah memilih Kinanah dari anak Ismail as. Dan memilih Quraisy dari kinanah, dan memilih Quraisy bani Hasyim, dan memi;lihku dari bani Hasyim.”

Ibnu Al-Qoyyim mengatakan:”beliau(Nabi Muhammad SAW) adalah orang yang paling baik nasabnya di dunia, diakui oleh lawan-lawannya. Beliau di utus pleh Allah untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju alam yang terang benderang, menjadi penebar rahmad bagi sekalian alam dengan menjadikan perbaikan akhlak disegalah bidang sebagai program andalan, dan membawah kabar gembira bagi leluruh umat yang mau menerima ajarannya serta peringatan bagi yang menolak.

Mengingat tugas beliau yang berat, yaitu memperbaiki wajah dunia yang telah coreng-moreng dengan kejahiliahan, maka Allah SWT. Memilih Muhammad sebagai manusia yang paling layak untuk menerimah amanah ini dan mempersiapkanya dengan berbagai bekal tanpa disadari oleh Muhammad kecil. Di antara persiapan-persiapan kearah kenabian itu adalah:

a. Tempat tinggal muhammad kecil. Beliau tinggal disebuah desa yang jauh dari pengaruh kota, alam yang segar, dan suasana yang serbah alami. Semua pakar sepakat bahwa lingkungan adalah salah satu faktor penting bembentuk kepribadian anak.

b. Penyucian Nabi tahap satu di desa halimah, perkampungan bani Sa’ad. Dengan bekal hati yang suci, Muhammad kecil tidak pernah melakukan tindakan dapat merusak citranya dihadapan umatnya dikemudian hari.

c. Hidup dalam kepribadian, ditinggal baca sejak kecil, setelah ditinggal pula oleh ibunya, dan selanjut oleh kakenya yang begitu menyanyinya. Orang yang terbiasa dan telati dalam keprihatinan biasanya lebih tahan dan lebih kuat menjalani kehidupan yang penuh lintangan. Tugas kenabiaan adalah salah satu tugas yang memerlukan jiwa yang tegar.

d. Latihan kesabaran dengan pengembala kambing. Pengalaman memelihara kambing menjadikan Muhammad mampu sabar menghadapi masyarakat yang kadang lebih susah diatur daripada kambing.

e. Berperan aktif dalam kegiatan di masyarakat sejak kecil, ikut berserta paman-pamannya dalam Hilful fudhkhul Melibatkan diri dalam kegiatan positif bersama masyarakat adalah faktor penting dalam upaya pematangan kepribadian.

f. Menimba pengalaman internasional, ikut armada dagang suku Quraisy. Pengalaman internasional menjadikan Muhammad paham tentang konstelasi dunia. Beliau adalah orang yang memiliki wawasan global. Mustahil seorang yang di persiapkan menjadi percerah alam tidak mengetahui tentang dunia yang akan dicerahkannya.

g. Tidak pernah cacat di masyarakatnya. Selain karena terlahir dari keluarga mulia, Muhammad juga selalu dikenal hanya mengerjakan perbuatan yang mulia saja.

h. Memiliki prestasi yang diakui oleh umatnya sejak usia belia; menjadi pemersatu umat dalam peletakan kembali Hajar Aswad. Jika di usia belia Muhammad telah menjadi rujukan kaumnya, menolak kredibilitas beliau setelah menjadi Nabi menjadi tidak beralasan, apalagi menuduh beliau pendusta, tukang sihir, dan lain-lain.

i. Muhammad menjelang usia kematangannya (40 tahun), secara intensif melakukan perenungan tentang hakikat kehidupan. Beliau memilih gua Hira’ sebagai tempat perenungan karena posisi gua ini sangat strategis untuk menyaksikan sepak tanjang penduduk Mekkah yang semakin jauh dari sifat-sifat kemanusiaan.

Itulah poin-pion penting tentang Nabi Muhammad sebelum diutus. Meskipun segala kelebihan telah terkumpul pada diri Muhammad sebelum menjadi Rasul, tetapi hal itu tidak cukup untuk menghadapi tentangan masyarakat yang seolah-olah sepakat mendustakan Muhammad yang dahulunya secara aklamasi mereka akui kejujurannya.

Untuk memperkuat kepribadiannya, Allah SWT. Membekalinya dengan berbagai mukjizat, seperti peristiwa Isra’ dan Mi’raj, terbelahnya bulan, keluarnya air dari sela-sela jari beliau, bertambahnya makanan, turunnya hujan segara setelah beliau melakukan istisqa’, dan lain-lain. Mukjizat terbesar yang dikaruniakan Allah kepada beliau adalah Al-Qur’an. Tuntunan Allah kepada beliau dapat kita ketahui dari Al-Qur’an, diantaranya:

Ø Al-Qur’an diturunkan ke dalam dadanya, dan beliau tidak lupa selamanya-lamanya.tugas beliau adalah menerima Al-Qur’an dengan tenang dan tidak tergesa-gesa, menyampaikannya kepada para sahabat dan mengamalkannya dalam dunia nyata. Dengan Al-Qur’an itulah beliau meretas kehidupan baru bersama para sahabat.

Ø Bimbingan Allah lewat Al-Qur’an sangat nyata dalam setiap aktivitas dakwah beliau. Ketika masih bingung menentukan apa yang harus dilakukan setelah menerima wahyu pertama, turun ayat yang menegur beliau karena masih berselimut dan berdiam diri dirumah, lalu memerintahkan beliau untuk giat menyeru kepada keagungan Allah. Secara pribadi, beliau diwajibkan untuk shalat malam agar lebih tegar menghadapi masyarakatnya dan agar stres menghadapi sikap masyarakat yang membangkang, karena memiliki tempat pengaduan yang tidak ada masalah kecuali akan teratasi oleh-Nya.

Ø Setiap perkataan beliau dituntun oleh Allah SWT. Jika ada kekeliruan dalam tindakan beliau langsung ditegur oleh Allah. Ayat-ayat yang berisi teguran Allah kepada Nabi sering disebut ayat ‘itab. Kasus di Mekkah yang paling terkenal adalah kisah Abdullah bin Umi Makhtum yang datang kepada Nabi pada saat Nabi melakukan pembicaraan penting dengan pembesar Quraisy. Kelihatan ekspresi wajah beliau agak masam, turunlah ayat di surat Abasa menegur sikap Nabi tersebut, sehingga menjadikan Ibnu Ummi Makhtum sebagai salah seorang sahabat terdekat dengannya.

Pola Dakwah Nabi Muhammad SAW di Madinah

Seorang dai perlu mempunyai metode (uslub) dan sarana dakwah yang efektif sehingga ia dapat meyampaikan dakwahnya secara bijak dan arif.

Metode (uslub)

Uslub artinya cara, metode, atau seni, jika dikatakan “ia berada pada salah satu uslub dijadikan pegangan berbicara’ , artinya kaum menggunakan beberapa seni.

Uslub dakwah ialah ilmu yang yang mempelajari bagaimana cara berko,unikasi secara langsung dan mengatasi kendala-kendalnya.

Sumber-sumber pokok metode dakwah yang dijadikan pegangan para dai antara lain: Al quran. As sunnah, Siarah (sejarah) salafus shaleh dari kalangan sahabat, tabiin, dan ahli ilmu, serta imam.

1. Memeriksa dan mendiagnosis paien ( kalau dai diumpamakan dokter)
2. Menghilangkan syubhat
3. Memberikan semangat kepada audiens agar selalu meggunakan “obat” dan menerima yang hak.
4. Membimbing audiens dengan Al quran, As sunnah, dan siarah kaum salafus shaleh.
5. Menyampaikan cara-cara diatas dengan bijak, yakni melalui nasehat dan diskusi yang baik atau ( kalau memang diperlukan) dengan kekuatan. Namun, cara terakhir ini khusus bagi mereka yang menentang islam dan zhalim.

Sarana dakwah

Sarana ialah hal-hal yang dapat mengantarkan kepada sesuatu. Sarana dakwah ialah hal atau sesuatu yang membantu dai menyampaikan dakwahnya. Dari sudut penyampaian, ada dua macam sarana dakwah: sarana langsung dan saran tidak langsung. Dalam pembahasan ini, akan dimulai dari sarana tidak langsung.

1. Sarana tidak langsung-Yang dimaksud sarana tidak langsung disini adalah hal-hal yang menyangkut kesiapan dari seorang dai sebelum menyampaikan dakwah. Dua hal berikut ini termasuk dalam kelompok sarana tidak langsung:

a. sikap hati-hati dan senantiasa bertakwa kepada Allah - Sebelum berdakwah kepada orang lain, seorang dai perlu memberi peringatan kepada keluarganya agar hati-hati terhadap perbuatan maksiat, bahaya nafsu, kaum munafik, dan orang kafir.

b. meminta bantuan kepada oarang lain - Setelah meminta kepada Allah. Seorang dai perlu meminta bantuan kepada sesama manusia demi kelancaran dakwahnya.

c. disiplin - Seorang dai harus disiplin, termasuk dalam masalah waktu. Jangan sekali-kali ia membuang kesempatan. Ia harus memperhatikan kaidah-kaidah disiplin yang diperintahkan islam. Bekerja sedikit waktu tapi secara teratur dan berkesinambungan lebih baik dari pada bekerja dengan banyak waktu tapi tanpa arah dan tidak berkesinambungan.

2. Sarana langsung- Maksud sarana langsung disini adalah menyangkut teknik penyampaian (tabligh) melalui perkataan, perbuatan, dan perilaku dai yang dijadikan teladan oleh orang lain sehingga mereka berteriak kepada islam.

a. tabligh dengan perkataan - Tabligh dengan perkataan tabligh dua. Pertama, secara lisan, seperti: khutbah, ceramah, mengajar atau memberi kuliah, seminar, diskusi fatwa, dan nasihat. Kedua, secara menulis, seperti: surat, makalah, brosur, kitab, buku, majalah, surat kabar, dan sejenisnya.

Dalam menyampaikan dakwahnya seorang dai memerlukan berbagai macam saran yang bermanfaat. Namun perlu diketahui bahwa sebagai sarana adakalanya berguna pada suatu masa tapi tapi tidak berguna pada masa yang lain, bermanfaat bagi suatu masyarakat tapi tidak bagi masyarakat yang lain. Seorang dai bijak adalah yang mampu memilih-milih sarana yang cocok pada setiap zaman dan tempat.

Adapun teknik perkataan disampaikan dengan cara-cara sebagai berikut:

Pertama, pertemuan-pertemuan umum, seperti penyelenggaraan kuliah, diskusi, pengajaran di masji-masjid, sekolah atau lembaga-lembaga pendidikan, kenferensi, dan pertemuan-pertemuan yang dihadiri orang banyak.
Kedua, pertemuan-pertemuan khusus, seperti yang dilakukan oleh para mahasiswa, pelajar, ataupun nonpelajar.
Ketiga, dakwah perorangan, dengan memberi nasihat yang bersifat persaudaraan.
Keempat, media tulis atau cetak, seperti: surat, makalh, buku, kitab, brosur, dan sebagainya.
Kelima, media elektronik, seperti radio, televisisi, video, dan sebagainya.
Keenam, media khusus, seperti kaset, telek, faksimile, dan sebagainya.

Seorang dai yang bijak harus mampu menggunakan sarana-sarana diatas dengan benar. Dengan demikian, ia dapat berbicara kepada jutaan orang, hingga kepelosok dunia, baik di timur maupun di barat. Perkataan seorang dai harus jelas, gamblang, dan tetap mengacu pada Al quran, As sunnah, dan pendapat ulama. Bahasa seorang dai harus efektif sehinggah mudah dan enak didengar serta dipahami oleh audiens.

b. tabligh dengan perbuatan - Tabligh dengan perbuatan adalah suatu tindakan menumpas kemunkaran dan membela yang hak. Hal ini berlandaskan berdasarkan pada hadist nabi riwayat Muslim (telah dikutip sebeum ini), ‘yang artinya, “barangsiapa diantara kamumelihat kemunkaran, hendaknya mengubah dengan tangannya (kekuatannya) ; jika tidak mampu, hendaknya dengan lidahnya ; jika tidak mampu, hendaknya dengan hatinya. Dan yang terakhir itu merupakan selemah-lemahnya iman.

c. tabligh dengan perilaku - Diantara cara penting untuk menyampaikan dakwah dan menarik orang ke dalam islam adalah tabligh denga perilaku baik, perbuatan-perbuatan terpuji, sifat-sifat baik, akhlak mulia, dan komitmennya terhadap islam secara lahir batin sehingga ia menjadi panutan bagi oarang lain. Pengaruh perbuatan dan tingkah laku lebih efektif dari pengaruh perbuatan semasa.

Perilaku yang baik harus dilandasi dua hal pokok, yakni akhlak yang baik dan kesesuain antara perbuatan dengan perkataan.

Macam Metode-metode Dakwah Nabi Muhammad SAW


Metode dakwah sebenarnya dapat diklasifikasikan menjadi berbagai macam metode tergantung dari segi tinjauannya. Dari segi jumlah audien dakwah dibagi dalam dua cara :

1. Dakwah perorangan, yaitu dakwah yang dilakukan terhadap orang seorang secara langsung. Metode ini kelihatannya tidak efektif tapi nyatanya dakwah perorangan lebih efektif jika dilakukan terhadap orang yang mempunyai pengaruh terhadap suatu lingkungan.

2. Dakwah kelompok, yaitu dakwah yang dilakukan terhadap kelompok tertentu yang sudah ditentukan sebelumnya. Misalnya kelompok ibu-ibu dan sebagainya.

Dari segi cara penyampaiannya metode dakwah dapat digolongkan menjadi dua:

1. Cara langsung, yaitu dakwah yang dilakukan dengan cara tatap muka antara komunikan dengan komunikatornya.

2. Cara tidak langsung, yaitu dakwah yang dilakukan tanpa tatap muka antara da‟i dan audiennya. Dilakukan dengan bantuan sarana lain yang cocok. Misalnya dengan bantuan televisi, radio, internet dan lain sebagainya.

Dari segi penyampaian isi metode dakwah digolongkan menjadi

1. Cara serentak, cara ini dilakukan untuk pokok-pokok bahasan secara praktis dan tidak terlalu banyak kaitannya dengan masalah-masalah lain. Walaupun demikian da‟i tetap harus menjaga keutuhan permasalahan jangan sampai kecilnya pokok bahasan kemudian pembahasannya hanya sepintas kilas saja.

2. Cara bertahap, cara ini dilakukan terhadap pokok-pokok bahasan yang banyak kaitannya dengan masalah lain. Dalam hal pokok bahasan semacam ini da‟i harus pandai-pandai membagi pokokbahasan dalam sub-sub yang lebih kecil tapi tidak lepas dari pokok bahasan utamanya. Dalam penyampaiannya pun da‟i harus mampu mengurutkan mana-mana yang harus didahulukan dan mana yang berikutnya. Juga da‟i harus mampu menjaga kesinambungan sub-sub yang telah dibahas sebelumnya dengan sub-sub yang akan dibahas berikutnya.

Diantara metode-metode di atas, ada beberapa metode yang biasa dipakai dalam kehidupan sehari-hari yaitu:

1. Metode Ceramah

Metode ceramah adalah metode yang dilakukan dengan maksud untuk menyampaikan keterangan, petunjuk, pengertian, dan penjelasan tentang suatu masalah di hadapan orang banyak Dalam buku Metode Diskusi dalam Dakwah Abdul Kadir Munsyi mengemukakan, bahwa penggunaan metode ceramah ini akan berhasil dengan baik jika beberapa ceramah menguasai beberapa syarat:

a. Menguasai bahasa yang akan disampaikan dengan sebaik-baiknya
b. Bisa menyesuaikan bahan dengan taraf kejiwaan, juga lingkungan sosial dan budaya para pendengar
c. Suara dan bahasa diatur dengan sebaik-baiknya, meliputi ucapan, tempo, melodi ritme, dan dinamika.
d. Sikap dan cara berdiri duduk bicara yang simpatik
e. Mengadakan variasi dengan dialog dan Tanya jawab serta humor.

2. Metode Diskusi

Asmuni Syukir mengartikan diskusi sebagai penyampaian materi dakwah dengan cara mendorong sasarannya untuk menyatakan suatu masalah yang dirasa belum dimengerti dan da‟inya sebagai penjawabnya. Sedangkan Abdul Kadir Munsy mengartikan diskusi dengan perbincangan suatu masalah di dalam sebuah pertemuandengan jalan pertukaran pendapat diantara beberapa orang.

3. Metode propaganda

Metode propaganda yaitu suatu upaya untuk menyiarkan Islam dengan cara mempengaruhi dan membujuk. Metode ini dapat digunakan untuk menarik perhatian dan simpatik seseorang. Pelaksanaan dakwah dengan metode propaganda dapat dilakukan

melalui berbagai macam media, baik auditif, visual maupun audio visual. Ada beberapa teknik dalam propaganda, yang sebagian bertentangan dengan cara berdakwah, namun sebagian lain bisa diadopsi untuk melakukan dakwah. Teknik tersebut antara lain:

a. Name Calling, yaitu pemberian label buruk pada suatu gagasan, agar audien menolak dan mengutuk ide tanpa mengamati bukti.

b. Gittering Generalities, yaitu menggunakan kata yang baik, agar sesuatu dapat diterima oleh audien tanpa memeriksa bukti-bukti.

c. Transfer, yaitu metode yang digunakan oleh pembicara dengan membawa otoritas dukungan dan gengsi dari sesuatu yang dihargai dan disanjung kepada sesuatu yang lain,agar sesuatu yang lain tersebut dapat diterima.

d. Testimonials (kesaksian), yaitu memberi kesempatan pada orangorang yangmengagumi atau membenci untuk mengatakan bahwa sebuah gagasan atau program atau produk atau seseorang itu baik atau buruk.

e. Plain Folk (orang biasa), yaitu metode yang dipakai oleh pembicara dalam upayanya meyakinkan khalayak bahwa dia dan gagasannya adalah bagian dari rakyat biasa dan rakyat yang lugu.

f. Card Stacking, yaitu metode yang dilakukan dengan memilih argumen atau bukti yang mendukung sebuah posisi dan mengabaikan hal-hal yang tidak mendukung posisi itu.

g. Bandwagon, yaitu metode yang digunakan oleh pembicara dengan meyakinkan audiens bahwa semua anggota kelompok harus bergabung dengan kelompok tersebut.

4. Metode Karyawisata

Yaitu dakwah yang dilakukan dengan membawa mitra dakwah ke tempat-tempat yang memiliki nilai historis keislaman atau lembaga-lembaga penyelenggara dakwah dengan tujuan agar mereka dapat menghayati arti tujuan dakwah dan menggugah semangat baru

dalam mengamalkan dan mendakwahkan ajaran-ajaran Islam kepada orang lain.

5. Metode Keteladanan


Dakwah dengan menggunakan metode keteladanan atau demonstrasi berarti suatu cara penyajian dakwah dengan memberikan keteladanan langsung sehingga mad‟u akan tertarik untuk mengikuti apa yang dicontohkannya.Metode dakwah dengan demonstrasi ini dapat dipergunakan untuk hal-hal yang berkaitan dengan akhlak, cara bergaul, cara beribadah, berumah tangga, dan segala aspek kehidupan manusia

6. Metode pemberian bantuan sosial

Metode pemberian bantuan sosial merupakan metode yang dilaksanakan dengan jalan memberikan bantuan sosial kepada masyarakat dakwah yang sifatnya mengadakan perubahan perilaku masyarakatnya menjadi lebih baik (meningkat).

Dakwah Bijak Nabi Muhammad SAW di Jazirah Arab


Berdakwah bukan saja untuk orang kafir, tapi juga untuk-untuk orang islam berdakwah kepada sesama muslim tujuan intinya bagai mana agar ia tetap berpegang teguh kepada agamanya. Berdakwah kepada orang-orang islam harus dibedakan dengan berdakwah kepada orang-orang kafir. Adalah suatu yang tidak bijaksana jika kita berdakwah kepada orang-orang islam menggunakan cara-cara yang sama dengan berdakwah kepada orang-orang Ateis, penyembah Watsan,Yahudi,Nasrani dan sebagainya.

Umat islam terbagi dua bagian:

Pertama, umat islam yang memiliki pandangan objektif terhadap kebenaran. Cara berdakwah kepada kelompok ini, cukup menggunakan ilmu, amal, dan penjelasan akidah. Insaqallah meraka dengan cepat mau menerimanya.

Kedua, umat islam yang telah lalai mengikuti hawa nafsunya. Mereka disebut pula orang-orang islam yang sering kali berbuat maksiat. Untuk berdakwah kepada kelompok ini, kita perlu menggunakan cara-cara seperti yang akan kami bahas berikut ini yakni:

1. Nasehat yang baik dan macam-macamnya
2. Memberikan motifasi dan ancaman
3. Memberikan contoh-contoh yang bijak

Dakwah Nasihat Nabi Muhammad SAW di Jazirah Arab

Nasehat adalah memerintah atau melarang yang dibarengin dengan pemberian motofasi dan ancaman. Nasehat juga berarti mengatakan sesuatu yang benar dengan cara yang dapat melunakan hati.nasehat harus berkesan dalam jiwa atau mengikat jiwa dengan keimanan dan petunjuk. Allah berfirman:

“ dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan menguatkan(iman mereka).(Annisa:66).

“ Allah memperingatkjan kamu agar(jangan) kembali berbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman.(Annur:17)”

Ada dua macam nasehat. Pertama, nasehat yang berupa pengajaran.kedua, nasehat yang berupa pembinaan moral.

1. Nasehat Yang Berisi Pengajaran


Nasehat disini maksutnya menerangkan masalah-masalah yang berkenaan dengan akidah dan hukum-hukum syara’ seperti wajib, haram, sunah, makruh dan mubah. Dalam nasehat ini ditekankan intinya manusia berpegang pada hukum-hukum syara. Diperingatkan agar mereka tidak menyepelekan atau menganggap ringan hukum.

Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa nasehat setiap nasehat mampu menumbuhkan motifasi, melunakan hati, membangun gairah beramal, dsan sebainya. Salah satu contoh, bagaimana ketika Allah menyuru Nabi menjelaskan masalah haid dan wanita, seperti disebutkan dalam firmannya:

“ Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, ‘Haid adalah kotoran’ oleh sebab itu , hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita waktu Haid : dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu ditempat yang diperintahkan Allah kepada mu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. Isteri-isterimu adalah ( seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam. Maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu dan bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemuinya. Dan berlah kabar gembira oran-orang yang beriman.” Al-Baqarah: 222-223

Dalam ayat di atas Allah memerintahkan manusia agar bertakwa kepada-Nya setelah sebelumnya melarang mempergauli isteri-isteri yang dalam keadaan haid. Di lain pihak, Allah juga memerintahkan para suami agar tidak mengabaikan petunjuk Ilahi.

2. Nasihat yang Berisi Pembinaan Moral

Nasihat di sini maksudnya memberikan penjelasan mengenai akhlaq yang terpuji, seperti: kasih saying, bersikap ramah, sabar, mulia, dan sebagainya. Selain itu menjelaskan berbagai hal yang bermanfaat dan mendatangkan madarat bagi masyarakat; menjelaskan batasan-batasan akhlak yang terpuji dan mengajak mereka mengamalkannya; menjelaskan batasan-batasan akhlak yang buruk seperti marah, tergesa-gesa, bersedih, kikir dan sebagainya, serta mengajak mereka untuk meninggalkannya. Untuk menghindari sifat-sifat buruk ini, ada dua cara, yakni memberikan motivasi dan ancaman.

Dakwah dengan Memberikan Motivasi dan Ancaman

Pemberian motivasi dan ancaman ini sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an: “ Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan member kabar gembira pada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal shaleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar. Dan sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, kami sediakan bagi mereka azab yang pedih” (Al- Isra’ :9-10)

Al-Qur’an menujukkan jalan yang tepat, memberikan motivasi, kabar gembira dan menjanjikan pahala bagi oran-orang yang taat dan menjaga hokum-hukum Allah dengan sebaik-baiknya. Sebaliknya , Al-qur’an juga memberikan ancaman siksa yang amat menyakitkan bagi mereka yang menentang

Demikian Para Da’I setidaknya perlu memperhatikan masalah ini. Untuk lebih rinci lagi, dua metode di atas, yakni:

Ø Memberikan motivasi dan kabar gembira.
Ø Memberikan ancaman dan peingatan.

1. Memberikan Motivasi dan Kabar gembira
Metode ini dimaksud mengajak manusia agar taat kepada Allah sehingga mereka memporoleh keberuntungan di dunia dan akhirat. Pemberian motivasi ini di bagi lagi ke dalam dua bagian

a. Memberikan motivasi dengan janji

· Janji didalam dunia
· Janji didalam akhirat
· Janji pertolongan dan taufik-Nya dan sebagainya

b. Memberikan Motivasi Menyebutkan Bermacam-macam Ketaatan.

Motivasi ini dimaksudkan untuk mengajak manusia agar berlomba-lomba berbuat macam-macam ketaatan. Seorang dai sebaiknya tidak melawatkan masalah ini. Ia harus senantiasa mengajak dengan bijak, tentunya --- orang-orang agar mau mengerjakan shalat, zakat, puasa, haji, jihad, menegakkan kalimatullah, berbakti kepada kedua orangtua, silaturrahi, sedekah, mengucapkan salam, shalat malam, dan sebagainya.

Selain itu, seorang da’I juga perlu menjelaskan sikap-sikap yang harus dimiliki seorang muslim, seperti; berani, pemaaf, ramah, amanat, ikhlas, kasih saying, tawadhu’, sabar, mensucikan hati nurani, gemar berbuat baik kepads orang lain.

2. Memberikan Ancaman dan Peringatan


Penyebutan ancaman ini dimaksudkan agar manusia meninggalkan segela bentuk maksiat dan dosa. Ancaman ini dapat disampaikan dengan dua cara. Pertam, menyebutkan azab Allah bagi perlaku maksiat. Kedua menyebutkan azab Allah sebagai satu-satunya balasan atas segala dosa.

Di antara ancaman yang termasuk kelompok ini adalah;

a. Ancaman tidak diberikannya kebaikan tapi diturunknnya azab
b.Ancaman dan peringatan berupa datangnya azab
c.Ancaman dengan menyebutkan azab yang telah ditimpakan kepada umat yang mendustakan para rasulnya
d.Ancaman berupa azab yang akan diterima di akhirat kelak
e. Ancaman berupa gambaran siksa yang disiapkan Allah di akhirat nanti yang diperuntukkan bagi orang-orang kafir dan para pelaku dosa-dosa besar
f.Ancaman siksa mental pada hari kiamat
g.Ancaman dengan Menyebutkan Azab dan hukuman atas dosa-dosa

Dakwah dengan Memberikan contoh Bijak Nabi Muhammad SAW di Jazirah Arab

Agar setiap pembicaraan dapat meresapkan kedalam hati pendengar, para da’I sebaliknya menggunakan cara-cara berikut ini:

1. Menyampaikan kisah-kisah bijak

Kisah atau cerita yang baik umumnya cepat ditangkap oleh manusia, bahkan bisa meresap kedalam jiwa. Karena itu, keberadaan kisah sangat diperlukan bagi seorang da’i. setiap manusia cenderung menyenangi cerita, sebagaimana dikatakan Sayib Qutb “ Tidak diragukan lagi bahwa kisah0kisah itu mempunyai cirri khas dalam menyampaikan kebenaran. Ia dapat meresap ke dalam hati. Kisah-kisah tersebut merupakan gambaran--- atau mirip dengan—kehidupan nyata. Sebab itu, jika sebuah kebenaran disampaikan melalui kisah, ia dapat meresap kedalam jiwa”

2. Memberikan Perumpamaan atau contoh

Dalam Al-qur’an banyak diungkap perumpamaan yang ditujukan pada manusia. Misalnya, Allah mengumpamakan orang yang menafkahkan harta di jalan-Nya seperti orang yang menanam biji yang kamudian biji itu tumbuh tujuh cabang, dan pada setiap cabang ada seratus tangkai. Allah melipatgandakan hal yang demikian ini kepada orang yang dikehendaki-Nya sesuai dengan keikhlasan dari apa yang dinafkahkan

Allah juga membuat perumpamaan bagi orang yang menafkahkan hartanya tidak secara ikhlas tapi dengan sum’ah (mengharap pujian orang). Amalnya itu menjadi sia-sia seperti debu yang menempel di atas batu yang tiba-tiba lenyap karena disapu hujan lebat. Batu itu menjadi bersih tanpa bekas.

3. Melihat Sifat-sifat Orang Terpuji

Menyedorkan sifat-sifat terpuji dari orang-orang mukmin dapat memberikan pengaruh positif. Apalagi jika disebutkan bahwa kemenangan terbesar atau balasan tertinggi bagi mereka adalah Surga firdaus. Al-Qur’an sangat menjunjung tinggi sifat orang-orang mukmin,dan menyebutkan berbagai kenikmatan yang akan terima, baik di dunia maupun akhirat nanti

Seorang da’I sebaiknya jangan mengsampingkan masalah ini, sebab cara ini dapat membawa dampak positif, yakni dapat membuka jalan bagi datangnya taufiq Allah.

4. Melihat Peristiwa-peristiwa lampau

Melihat kembali peristiwa yang pernah dialami umat-umat yang zhalim pada masa lampau dapat menjadi pelajaran, teladan bagi orang-orang berpikir. Allah telah memerintahkan hamba-Nya untuk menelusuri, melihat, dan memikirkan tand-tanda kekuasaan-Nya banyak disebut dalam Al-Qur’an yang mulianya.

Kesimpulan

Segala puji bagi Allah yang telah memudahkan kami menyelsaikan makalah ini, dengan berjudul “ILMU DAKWAH,Menarik Massa dalam Kegiatan Dakwah”. Hanya bagi Allah-lah segala keutamaan dan pujian. Dakwan Muhammad SAW. Dapat dibagi dalam dua periode penting, yaitu periode Mekkah dan periode Madinah. Setoap periode memiliki karakteristik dakwah masing-masing. Oleh sebab itu, kjian tentang dakwah Nabi Muhammad SAW.didekati dengan periode Mekkah dan sangat menonjol pada masa itu.maka kita dapat tipe-tipe dalam dakwah ala Rasulullah SAW. Untuk menerapkan di masa yang penuh keancaman dan kerusakan peradaban Islami kareana ketinggalan masa jauh pada masa Nabi SAW. Dan alias akhir zaman kita lah sebagai da’I penurusnya.

Seorang dai perlu mempunyai metode (uslub) dan sarana dakwah yang efektif sehingga ia dapat meyampaikan dakwahnya secara bijak dan arif.ia juga harus mempersiapkan Ilmu, amal dan kebijaksanaan dalam menyampai meteri dakwahnya. Ilmu dakwah mempunyai metode yang khas dan istimewa,selain daripada metode Hikmah, Mujadalah,dan Muidhah Hasanah, Ilmu dakwah juga mempunyai berbagai-bagai metode yang kontemporer untuk menerapkan semasa demi semasa, yang harus menarik dan special kepada Mud’I (komunikan).

Bentuk Dakwah atau gerakan dakwah sekarang sangat beragam, ada gerakan bersifat personal dan tokoh ulama da’i, karismatik yang memiliki pengaruh besar di tengah masyarakat Indonesia sekarang. Tetapi tidak beraktif dengan total mendampak dakwah har iini kurang menarik dan efektifnya. Sesungguhnya Dakwah tidak pernah berhentu, baik dalam bentuk tabligh, taklim, ceramah, atau dalam bentuk yang semangat pengalaman Islam di skala pribadi maupun public. Meskipun gelombang penggusuran nilai-nilai islam sangat besar dan berakibat pada menlemahkan kekuatan pengenutnya----tetapi janji Allah untuk memilihara Al-qur’an dan memenangkan Islam selalu direalisasikan dengan menyiapkan para da’I yang aktif lagi a’rif, saleh, peduli pada pengalaman ajaran Islam dan bersemangat menyebarkan ajaran Islam. Maka kita harus memelihara identitas umat kita pada hari ini, dan jugalah membangkitkan semangat umat untuk bersebar menghadapi kondisi yang belum berpihak kepada Islam. Semoga !! Aminn Allah hu Akhbar3 Wal Hamdulillah hi Rabbil a’ laminn.

Daftar Pustaka

Sa’ad bin ali Al-Qahthani, DA’WAH ISLAM DA’WAH BIJAK,Penerjemah: Masykur Hakim; Ubaidillah, JakartaP: Gema insani,1994

Wahyu Ilahi, S.Ag, M.A, Harjani Hefni, Lc., M.A, PENGANTAR SEJARAH DAKWAH, Jakarta P: Kencana, 2007

Abdul Munir Mulkhan, IDEOLOGISASI GERAKAN DAKWAH, Yogyakarta, P: S press, 1995.

3 Responses to "Pola Dakwah dan Seruan Nabi Muhammad SAW di Mekkah dan Madinah"

  1. ssalamualaikum. Trims Bacaan anda. MEMAHAMI dakwah rasulullah pendiri islam. Bayangkan anda datang sendiri disuatu kota non muslim lagi banyak kesesatan dan bertuhan selain Allah dan menetap disana tidak ada pemberi dana. Bagaimana anda memulai dakwah ? bagaimana islam masuk indonesia ? sahabat nabi semula kafir .Maaf bila tak bermanfaat.Bersambung.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimah kasih atas pertanyaanya. Terkait dengan pertanyaan Sdr Heru mengenai pola dakwah di kota non muslim dan tidak memiliki dana. Pada artikel di atas telah disebutkan secara tersirat. Namun akan kami rincikan dengan 2 perilaku dakwah nabi di Mekah dan Madinah.

      1. Sebelum Nabi SAW medakwahkan Islam, nabi terkenal dengan sebutan Al-Amin.

      2. Nabi Memualai membangun Negara Madinah dengan memerintahkan beberapa sahabat untuk berdagang.

      2 pertimbangan di atas dapat dijadikan sebagai metode dakwah di daerah minoritas.

      Memasuki sebuah daerah dengan kondisi masyarakat yang memegang teguh keperayaan mereka (adat). Paling tidak langkah awal yang harus dilakukan dai adalah membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat. hal tersebut tercermin dari perilaku Nabi. yaitu Jauh sebelum Nabi SAW menyerukan islam, ia terkenal dengan sebutan al-Amin (dapat dipercaya). Hal ini dapat dikolaborasikan dengan perintah Allah SWT dalam (QS. an-Nahl, 16:125) yang telah kami jelaskan di atas. Ada beberapa kisah Nabi terkait kehidupan dengan non muslim yang kemudian memeluk islam karena kebaikan Nabi.

      Jika kendala kedua ada pada seorang da'i (materi yang belum ada) maka hal pertama yang harus dilakukan yaitu mengusahakan diri sendiri memiliki dana untuk hidup. Bercermin pada kisah nabi yang memerintahkan beberapa sahabat yang pintar berdagang untuk berniaga.

      Dakwah butuh proses terelebih lagi jika memasuki komunitas yang mayoritas. seperti halnya yang tertuang dalam kesabaran Nabi SAW.

      Mudahan bermanfaat



      Delete
  2. Alhamdulillah, . Saya setuju pendapat Anda. Awal Berdakwah Nabi tentu berperilaku baik dan rajin mencari nafkah diri dan mencari kelebihan untuk sedekah dan perjuangan menyelamatkan umat dari kesesatan dengan menyayangi mereka yang sesat untuk diluruskan semata mata pengabdian Nabi kepada Allah, Menghidupi agama bukan hidup dari agama, tidak menunggu diundang dakwah tetapi dirinya terus berperilaku dakwah dan menjadi teladan hingga menguasai mekah dan madinah
    (dijaman awal dakwah Nabi belum ada yang setia pada Nabi dan belum ada pencatat hadis karena belum ada yang setia pada nabl. Nabi Pendiri Islam , DAN YANG KEMUDIAN MENJADI SAHABAT NABI SEBELUMYA PENENTANG ISLAM )
    Tentu nabi tidak mengatakan kafir dan sesat pada mereka yang sesat (hanya disimpan dihati tidak disampaikan melalui lisan) Perlu dicatat akibatnya bila mengatakan pada mereka “ sesat, kafir, bidah, haram dan semacamnya’ justru nabi yang dianggap sesat oleh mereka karena membawa ajaran baru diluar kebiasaan mereka. Menentang kebiasaan atau pengetahuan umum beresiko Sebagaimana pernah galeleo dibunuh karena membuat pernyataan yang benar: “ Matahari merupakan pusat berputarnya Bumi” sementara pendapat umum pada saat itu sesat ;“ Bumi Pusat beredarnya alam semesta “
    Cara Rasulullah berdakwah sangat sangat super cantik dan sungguh sungguh Luar Biasa Kecerdasanya.
    Bagaimana islam masuk ke indonesia juga sangat cantik

    Mohon maaf saya masih baru belajar teori/ mengkaji ilmu sedang mengamalkan sangat sangatkurang. Allah mengetahui perbuatan tiap detik tiap saat walaupun sekecil zarrah biarpun kita dalam kesendirian ( malaikat mencatat apa niat dalam pikiran atau apa yang di pikirkan ketika sendirian).
    Mohon masukan bila ada yang perlu diperbaiki demi Mengurangi kesesatan saya dan meningkatkan/menambah jumlah perbuatan atau nilai taqwa kepada Allah . Tidak ada manusia sempurna hanya Allah Yang maha Sempurna.

    ReplyDelete

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!