Sketsa dan Pemikiran Rasyid Ridha Terhadap Hadis

Advertisement

Sketsa dan Pemikiran Rasyid Ridha Terhadap Hadis

Majalah Al-‘Urwah al-Wutsqa yang diterbitkan oleh Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh di Paris pada tahun 1884 M, yang tersebar ke seluruh dunia Islam, ikut dibaca pula oleh Rasyid Ridha dan memberi pengaruh yang sangat besar pada jiwanya, sehingga mengubah sikap pemuda yang berjiwa sufi[1] ini menjadi seorang pemuda yang penuh semangat seperti yang ditulisnya:

“Setiap edisi majalah itu (Al-‘Urwah Al-Wutsqa), bagaikan kabel listrik yang bersambung denganku sehingga memunculkan kekagetan, kedasyatan, reaksi, kepanasan dan kebakaran pada diriku, yang melemparkan diriku dari satu tingkatan ke tingkatan lain dan dari satu kondisi ke kondisi lain. Saya belajar darinya bahwa Islam bukan hanya agama ruhani-ukhrawi semata, tetapi dia adalah agama ruhani dan jasmani, akhirat dan agama dunia, diantara tujuan-tujuannya adalah memberi petunjuk kepada manusia untuk memimpin bumi dengan kebenaran agar menjadi khalifah Allah SWT dalam menetapkan kecintaan dan keadilan, sehingga hatiku terfokus pada kewajiban memberi petunjuk umat Islam secara umum kepada kehidupan madani dan menjaga kepemilikan mereka, berlomba dengan umat yang maju dalam ilmu, seni, dan industri, serta segala hal mendasar dalam kehidupan. Aku pun menyiapkan diri untuk hal tersebut dengan persiapan yang sempurna”.[2]

Jika mulanya Ridha hanya terbatas pada usaha perbaikan aqidah, syariah masyarakatnya serta menjauhkan mereka dari kemewahan duniawi dengan melakukan zuhud, maka dengan membaca majalah tersebut beralih kepada usaha-usaha membangkitkan semangat kaum muslim untuk melaksanakan ajaran agama seutuhnya serta membela dan membangun negara dengan ilmu pengetahuan dan industri.

Tema sentral ide pembahuruan pemikiran dalam Islam terletak pada kata kunci I’adatul Islam, yakni keinginan masyarakat Muslim untuk mengembalikan peran dunia Islam dalam percaturan global peradaban dunia. Akan tetapi, meskipun Abduh dan Ridha sama-sama mempunyai tujuan yang senada, gagasan yang mereka tawarkan tidaklah sama. Jika Muhammad Abduh menjadikan Tajdid al-Fahm[3] (memperbaruhi pemahaman Islam) sebagai kata kunci dalam pola pemikirannya, Rasyid Ridha mempunyai konsep Tathbiq al-syari’ah, atau Tathbiq qanun al-Syari’ah. Konsep tersebut disiapkan untuk menyembuhkan penyakit imperialisme-kolonialisme yang membelunggu umat Islam, yakni dengan cara mengaplikasikan kembali atau mempraktikkan kembali materi undang-undang dan tatacara kenegaraan yang pernah dilakukan oleh generasi Muslim terdahulu.[4] Alur pemikiran inilah yang melandasi penilaian para cendekiawan bahwa pemikiran Ridha juga sangat terpengaruh pada Ibn Taimiyah (w. 1328).

pemikiran rasid ridha

Sebagai tokoh yang bekarakter reformis, Rasyid Ridha berpendapat bahwa pembaharuan mutlak dilakukan, karena tanpa itu umat Islam senantiasa berada dalam ke-jumud-an dan akan menjadi umat yang terlantar. Menurut Ridha islam telah dimasuki oleh faham-faham diluar Islam yang menyebabkan terjadinya dekadensi dalam dunia Islam seperti tahayyul, kurafat, fatalisme, bid’ah dan lain-lain yang tidak sesuai dengan semangat ajaran Islam. 

Dari berbagai pandangan diatas, kiranya telah jelas bahwa Rasyid Ridha mempunyai dua motivasi penting dalam pemikiran dan gerakanya. Pertama, Ridha mempunyai tekad untuk mempertahankan keajegan agama Islam, dan kedua, Ridha mempunyai cita-cita luhur dalam menghendaki perubahan dan kemajuan Islam. 

Pandangan dan sikap Ridha terhadap hadits

Perdebatan tentang hadis, merupakan perdebatan yang sangat kompleks yang dihadapai oleh para kritikus hadis baik dari kalangan orang islam maupun diluar kaum Muslim. Tema-tema yang diperdebatkan pun tidak hanya terbatas pada satu, dua atau tiga. Dimulai dari definisi, kriteria, kedudukan bahkan otentisitas hadis dijadikan diskursus yang problematis. Sehinga tidak heran, jika ditemukan semacam perdebatan sengit diantara ahli hadis yang memang merupakan sebuah keniscayaan dalam kajian hadis.

Mayoritas ulama sepakat bahwa hadis mempunyai kedudukan dan fungsi yang amat penting bagi al-Qur’an. Meskipun tidak semua hadis dapat diterima atau diamalkan, akan tetapi hadis yang merupakan manivestasi dari ucapan dan perbuatan Nabi diyakini mempunyai nilai penjelas al-Qur’an. Imam al-Syathibi mengatakan:”hadis mempunyai posisi dalam menafsirkan dan menjelaskan makna-makna yang terdapat dalam al-Qur’an. Penjelasan tersebut dapat berupa pengecualian, memperinci, menjelaskan kata-kata yang problematis dan sebagainya[5]”. 

Rasyid Ridha mengatakan bahwa Nabi adalah penjelas al-Qur’an baik melalui ucapan maupun perbuatannya. Penjelasan tersebut dapat berupa pengkhususan, pembatasan (taqyid), maupun perincian (tafsil). Namun demikian, menurut Ridha Nabi tidak dapat menggugurkan hukum-hukum yang terdapat dalam al-Qur’an atau merusak cerita-cerita di dalamnya. Oleh karena itu, dikatakan bahwa sunnah tidak dapat menghapus (naskh) al-Qur’an.[6] Sumber pokok ajaran dalam Islam adalah al-Qur’an dan sunnah amaliyah yang disepakati dan ditetapkan Nabi menempati posisi yang kedua, kemudian hadis-hadis ahad yang mempunyai riwayat yang banyak dan petunjuk-petunjuk menjadi sumber ajaran yang ketiga.[7]

Keyakinan Ridha terhadap hadis, dapat tergambar dari kutipan pernyataannya yang termuat dalam Al-Manar XXVII halaman 616, berikut:

“tiang iman adalah al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang diriwayatkan melalui hadis-hadis mutawatir; Sunnah ini merupakan sunnah amaliyah sepeti shalat dan upacara haji (manasik), dan sebagian sabda Nabi (ahadis qawliyah) yang telah diterima oleh sebagian besar leluhur yang mulia. Ijtihad dapat dilakukan atas hadis-hadis yang memiliki satu atau hanya beberapa isnad (ahad), yang periwayatannya meragukan atau yang tidak secara khusus menunjukkan sesuatu. Kita melihat bahwa beberapa imam madzhab dengan menggunakan pemikiran mereka sendiri telah menolak banyak hadis shahih, bahkan diantaranya hadis riwayat oleh Bukhari dan Muslim.” 

Dalam buku “ The Oxfort Encyclopedia of The Modern Islamic Word”, karya John. L. Espito dijelaskan bahwa terdapat tiga poin penting mengenai Muhammad Rasyid Ridha dalam memaknai hadis nabi, selalu menggunakan hadis-hadis yang otentik, ketika memahami sebuah teks, maka teks tersebut harus ditafsirkan kembali sesuai dengan kemaslahatan umat, kemudian sumber agama Islam yang dipakainya adalah al-Qur’an, sunnah, dan ijma’.” [8]

Otentisitas Hadis dalam Pandangan Rasyid Ridha

Langkah pertama yang harus dilakukan untuk dapat mengamalkan hadits adalah mentahkik (memeriksa, menguji) kesahihan hadits.[9] Rasyid Ridha dan Muhammad Abduh sama-sama memandang tinggi sunnah dan kodifikasinya dalam literatur hadits, tetapi sebagaimana gurunya, Ridha tidak bersandar pada kritik hadis dari masa-masa klasik. Ridha memandang sunnah sebagai akar kedua dari agama, dan karena itu hadis, sebagai registrasi sunnah harus mengalami penelitian yang seksama agar dapat diketahui mana yang sahih dan mana yang tidak sahih.[10]

Rasyid Ridha sangat berhati-hati dalam memahami hadis-hadis Nabi.[11] Meskipun suatu hadis terdapat dalam Sahih Bukhari atau Shahih Muslim, beliau lebih mengedepankan fakta historis, kajian ilniah dan logika sentris. 

Ridha berpandangan bahwa dosa-dosa kecil sebagian perawi lain yang dapat dipercaya, tidak menghalangi diterimanya semua hadis mereka, di lain pihak, semata-mata menegaskan bahwa mereka dapat dipercaya, bukanlah suatu kriteria yang memadai untuk menerima semua hadis mereka, tanpa meneliti hadis-hadis tersebut dengan seksama.[12]

Dalam mengomentari hadis-hadis ahad, Ridha menunjukkan penghargaan yang mendalam terhadapnya, meskipun terkadang isnad hadis-hadis tersebut tidak sahih. Beliau mengatakan “karya-karya agung yang menakjubkan, yang memperlihatkan kefasihan dan kearifan”. Kemudian, Ridha menanbahkan “hadis-hadis ahad dibutuhkan (dijadikan hujjah) dalam masalah-masalah akidah”[13].

Disamping itu, Ridha juga sangat kritis terhadap semua periwayatan hadis. Hadis riwayat Bukhari dan Muslim yang pada saat itu terkesan “sakral” dikalangan masyarakat Islam pun tidak terlepas dari kritiknya. Syarat dan prasyarat yang dikonsepsikan oleh para ulama terdahulu tidak membuatnya ittiba’ terhadap hipotesa yang telah ada.[14]

Sikap kritis Ridha terhadap hadis dapat tercermin dari penjelasannya tentang hadis dibawah ini:

1. Hadis tentang sihir

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا يَحْيَى حَدَّثَنَا هِشَامٌ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُحِرَ حَتَّى كَانَ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ صَنَعَ شَيْئًا وَلَمْ يَصْنَعْهُ[15]

Sebagaimana halnya Muhammad Abduh, Rasyid Ridha juga menolak adanya sihir seperti yang dipahami oleh masyarakat umum. Menurutnya, sihir tiada lain hanya tipu daya yang tidak mempunyai hakikat atau wujud sendiri. 

Mengenai hal ini Ridha menambahkan bahwa hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari diatas ditolak. Seorang “Hisyam”[16] yang terdapat dalam deretan rawi diatas mendapat sorotan dari ulama’ Al-Jarhu wa Al-Ta,dil.[17] Dari penjelasan tersebut terlihat Rasyid Ridha tidak sekedar menolak suatu hadis dengan tolak ukur akal semata-mata, akan tetapi juga menggunakan tolak ukur disiplin ilmu Hadis. 

2. Hadis tentang penciptaan alam semesta

حَدَّثَنِي سُرَيْجُ بْنُ يُونُسَ وَهَارُونُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَا حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ قَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي إِسْمَعِيلُ بْنُ أُمَيَّةَ عَنْ أَيُّوبَ بْنِ خَالِدٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ رَافِعٍ مَوْلَى أُمِّ سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِي فَقَالَ خَلَقَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ التُّرْبَةَ يَوْمَ السَّبْتِ وَخَلَقَ فِيهَا الْجِبَالَ يَوْمَ الْأَحَدِ وَخَلَقَ الشَّجَرَ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَخَلَقَ الْمَكْرُوهَ يَوْمَ الثُّلَاثَاءِ وَخَلَقَ النُّورَ يَوْمَ الْأَرْبِعَاءِ وَبَثَّ فِيهَا الدَّوَابَّ يَوْمَ الْخَمِيسِ وَخَلَقَ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَام بَعْدَ الْعَصْرِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فِي آخِرِ الْخَلْقِ فِي آخِرِ سَاعَةٍ مِنْ سَاعَاتِ الْجُمُعَةِ فِيمَا بَيْنَ الْعَصْرِ إِلَى اللَّيْلِ قَالَ إِبْرَاهِيمُ حَدَّثَنَا الْبِسْطَامِيُّ وَهُوَ الْحُسَيْنُ بْنُ عِيسَى وَسَهْلُ بْنُ عَمَّارٍ وَإِبْرَاهِيمُ ابْنُ بِنْتِ حَفْصٍ وَغَيْرُهُمْ عَنْ حَجَّاجٍ بِهَذَا الْحَدِيثِ[18]

Dalam pandangan Rasyid Ridha, hadis ini tidak dapat diakui kesahihannya, ia berkomentar: “Hadis Abu Hurairah ini tertolak karena matan-nya bertentangan dengan nash al-Qur’an. Adapun sanadnya maka anda janganlah terpedaya oleh riwayat Muslim, karena dia meriwayatkan dari Hajjaj bin Muhamad Al-A’war Al-Mashih dari Ibnu Juraij sedang yang bersangkutan telah berubah pikirannya (pikun) pada akhir usianya. Dan telah terbukti bahwa ia meriwayatkan hadis setelah perubahan akalnya itu seperti yang dikemukakan dalam kitab Tahdzib al-Tahdzib dan lain-lain. Agaknya hadis tersebut merupakan salah satu hadis yang diriwayatkannya setelah perubahan tersebut. Al-Hafidz Ibnu Katsir dalam tafsirnya menukil hadis diatas ketika menafsirkan ayat 54 dari Al-A’raf dan berkomentar: dalam hadis ini disebutkan ketujuh hari (dalam seminggu) sedang Allah berfirman “fi sittati ayyam” (dalam enam hari) dan oleh karena itu Bukhari dan beberapa ulama lain membicarakan hadis tersebut dan meyatakan bahwa ia bersumber dari abu Hurairah melalui Ka’ab Al-Akhbar dan bukannya suatu hadis yang marfu’ (bersumber dari Nabi)”.[19]

Yang patut digaris bawahi terhadap cara Rasyid Ridha dalam mengkritisi bahkan menolak suatu hadis adalah bahwa akal bukanlah satu-satunya instrumen yang digunakan Ridha, akan tetapi fakta historis serta disiplin ilmu-ilmu hadis acap kali disertakan demi menguatkan argumen-argumennya. Cara inilah yang tidak dilakukan oleh gurunya (Abduh) sehingga menunjukkan bahwa Ridha sedikit memiliki kelebihan dan keluasan dalam disiplin ilmu hadis. 

Tadwin dalam pandangan Rasyid Ridha

Penulisan hadis tidak luput dari wacana yang didiskusikan oleh Rasyid Ridha. Menurut Ridha para semua hadis yang memperbolehkan melakukan pencatatan kalau tidak lemah, dirujukkan terhadap kasus-kasus tertentu dan bagi orang-orang tertentu pula. Disamping itu, hadis-hadis yang menunjukkan adanya larangan pencatatan hadis ditemukan dalam beberapa riwayat dan yang paling shahih adalah riwayat Abu Sa’ia al-Hudhri:

حَدَّثَنَا هَدَّابُ بْنُ خَالِدٍ الْأَزْدِيُّ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَكْتُبُوا عَنِّي وَمَنْ كَتَبَ عَنِّي غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ وَحَدِّثُوا عَنِّي وَلَا حَرَجَ وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ قَالَ هَمَّامٌ أَحْسِبُهُ قَالَ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ[20]

Menghadapi dua hadis yang bertentangan,[21] Ridha menggagas diberlakukannya konsep naskh, yaitu menghapus satu teks dengan teks yang lain. Kedua teks tersebut harus ditentukan sejarah dimunculkannya. Yang datang lebih akhir menghapus hadis yang datang sebelumnya. 

Dalam hal ini, Ridha menganut pandangan bahwa penulisan hadits pada mulanya memang dibenarkan, tetapi kemudian datang hadis yang melarang adanya penulisan. Menurut teori Ridha, sebabnya ialah Nabi tidak memaksudkan hadis-hadis itu sebagai sumber hukum yang abadi ataupun sebagian dari agama. Karena itu kemudian menuliskan hadis, larangan itu menurut Ridha dita’ati oleh para sahabatnya. Khususnya oleh para khalifah empat yang pertama. Menurut Ridha karena itu berbagai hadis yang mengisyaratkan persetujuan atau apalagi anjuran menuliskan hadis adalah lemah dan dikemukakan hanya untuk tujuan tertentu.[22]

Dengan melihat semua fakta ini, Ridha cenderung beranggapan bahwa para sahabat tidak ingin memandang hadis memiliki otoritas ilahiyah, abadi, universal seperti al-Qur’an. Dengan kata lain menurut Ridha hadis hanya ketentuan-ketentuan sementara tentang agama, tidak berlaku selamanya (temporal). Anggapan itulah yang mendasari larangna penulisan hadis.

Kritik terhadap Pemikiran Rasyid Ridha

Tema sentral yang digagas oleh Ridha dan kemudian mendapatkan apresiasi para ulama setelahnya adalah teori naskh dalam memahami hadis kontradiktif tentang kodifikasi hadis. Banyak diantara mereka yang menolak terhadapnya dan tidak sedikit juga para pembaharu yang menanggapi positif teori tersebut.

Al-Siba’i berpendapat bahwa itu banyak membuka pintu bagi orang lain sesudahnya untuk bersikap inkar pada hadis termsuk menimbulkan heboh dikalangan ulama’ hadis. Penolakan juga datang dari Azami seorang pakar hadis kontemporer dengan beberapa argumen yang tidak berbeda jauh dan dilengkapi dengan data-data yang lebih lengkap.[23]

Berbeda dengan Al-Siba’i dan yang lainnya (baca: ulama-ulama yang menolak teori Ridha), bagi Nur Khalis Majid, Rasyid hanyalah salah satu dari banyak sarjana yang mempersoalkan hadis. seluk-beluk teori ini tidak menjadikan inkar melainkan nanti potensial melahirkan wacana baru ilmu kritik tentang hadis.[24] Senada dengan pendapat Cak Nur, Jalaluddin Rahmat mempunyai pandangan bahwa sikap Ridha yang demikian itu, pada gilirannya Ridha mengecap penutupan pintu ijtihad yang manapun (ijtihad mutlak atau bukan) mengikuti gurunya Abduh.[25] Bagi Ridha taqlid bukan perbuatan terpuji, karena akan berakibat pada terbengkalainya akal, terputusnya pengembangan ilmu dan terhalanginya kemajuan pemikiran.

Bagi penulis, selain tema tadwin, penolakan Rasyid Ridha terhadap hadis tentang sihir dengan menggunakan kata kunci ”Hisyam” patut diperhatikan serius. Ungkapan Ridha bahwa Hisyam merupakan perawi yang dipersoalkan bagi penulis kurang bisa dipertanggung jawabkan. Sejauh pembacaan penulis, dalam beberapa kitab Rijal kebanyakan para ulama hadis menilai Hisyam sebagai rawi yang tsiqah dan dapat dipercaya.[26]

Catatan Kaki

[1] Meminjam bahasa Muhammad ‘Imarah pola pikir Rasyid Ridha pada waktu itu cendrung mengarah pada manhaj al-manqul. Lihat: Muhammad ‘Imarah,Syahsyiyat laha Tarikh, terj. Ahmad Syakur, 45 Tokoh Pengukir Sejarah, (Solo: Era Intermedia, 2007), hlm. 231. 

[2] Lihat: Muhammad ‘Imarah,Syahsyiya...hlm. 232. 

[3] Pandangan inilah yang nantinya akan menelurkan gagasan-gagasan progresif dengan memberkukan beberapa istilah baru seperti reinterpretasi, reaktualisasi, reorientasi, kontekstualisasi dan sebagainya. 

[4] Amin Abdullah, Islamic...hlm. 250-251. 

[5] Mahmud Abu Rayah, Adhwa ala al-Sunah al-Muhammadiyah, (Kairo: Dar al-Ma’arif, tt), hlm. 14. 

[6] Ketidak dapatan hadis untuk menghapus hukum dalam al-Qur’an dalam pandangan Ridha menunjukkan perbedaan persepsinya dengan sebagian ulama yang meyakini bahwa hadis-hadis mutawatirah dapat menghapus sebagian hukum hadis. 

[7] Mahmud Abu Rayah, Adhwa...hlm. 14-15. 

[8] John. L. Esposito, The Oxford Encyclopedia of The Modern Islamic Word, Vol, 3 (New York: Oxford University, 1995), hlm. 411. 

[9] Para ulama hadis sepakat bahwa terdapat lima kriteria yang harus dipenuhi agar suatu hadis dapat disebut shahih. selain Ketersambungan sanad, hadis dapat dikatakan sahih jika perawi yang meriwayatkannya adil dan dhabit, serta tidak adanya illat dan juga tidak ditemukan syadz dalam hadis tersebut. Baca: M. Ajaj Al-Khatib, Ushul al-Hadis, (Kairo: Dar al-Fikr, 2006), hlm.200-201. 

[10] G.H.A. Junynboll, The Aunticity of the Tradition Literature Discussions, terj. Ilyas Hasan, Kontroversi Hadits di Mesir, (Bandung: Mizan, 1999), hlm.30-31. 

[11] Dalam kesimpulannya, Ridha menegaskan bahwa hadis-hadis yang tidak dipraktikkan oleh umat itu, atau yang tidak diterapkan oleh Khalifah-khalifah pertama atau sahabat-sahabat yang lain tidak perlu diteliti dan dikaji oleh setiap Muslim. Baca: G.H.A. Junynboll, The Aunticity...hlm. 42. Jika diperhatikan lebih lanjut, pendapat tersebut merupakn bahasa lain yang digunakan oleh Ridha untuk menolak hadis-hadis amaliyah yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat Nabi dan tidak dapat dibuktikan oleh sejarah. Pandangan ini merupak hasil turunan dari gurunya Muhammad Abduh. 

[12] G.H.A. Junynboll, The Aunticity...hlm. 42. 

[13] Pandangan inilah yang menunjukkan adanya perbedaan kerangka Rasyid Ridha dengan gurunya Abduh. Jika Abduh dengan tegas menyatakan bahwa hadis-hadis ahad (sekalipun berkualitas shahih) tidak dapat diterima dalam masalah akidah, maka hal tersebut tidak diikuti oleh Ridha. Lihat: M. Ismail al-Syarbiny, Raddu Syubhat haula ‘Ismah al-Nabi, CD ROM al-Maktabah al-Syamilah, juz I, hlm. 346. 

[14] Ridha tidak dapat menerima persyaratan-persyaratan ahli-ahli hadis zaman dulu tanpa terlebih dahulu mengkaji sendiri persyaratan-persyaratan tersebut. Sering dia tiba pada kesimpulan mengenai kesahihan sanad yang berbeda dengan kesimpulan yang dirumuskan ulama-ulama klasik . semata-mata menegaskan bahwa seorang perawi memiliki ‘adalah, tidaklah mencukupi untuk menerima segala yang diriwayatkannya. Harus selalu dilakukan studi yang seksama terhadap isnad dan matn sebelum menerima hadis. Lihat : G.H.A. Junynboll, The Aunticity... hlm. 80. 

[15] Hadis riwayat Imam Bukhari no: 2939. Hadis tersebut juga terdapat pada riwayat bukhari no: 3029, Muslim no: 4059, Ibnu Majah no: 3535, Imam Ahmad no: 23165, 23211, 23509. 

[16] Nama lengkapnya adalah Hisyam bin Urwah bin al-Zubair bin al-Awam dengan kunyah Abu al-Mandzur (w. 145 H) di Baghdad. Beliau merupakan seorang tabiin kecil. (CD al-Mausuah al-Syarif). 

[17] M. Quraisy Syihab, studi kritis Tafsir Al-Manar....hlm. 79. 

[18] Hadis riwayat Imam Muslim no: 4497. Hadis ini juga dapat dijumpai pada hadis riwayat Imam Ahmad no: 7761. 

[19] M. Quraisy Syihab, studi kritis Tafsir Al-Manar....hlm. 84. 

[20] Hadis riwayat Imam Muslim no: 5327. Juga dapat ditemukan pada: Tirmidzi: 2589, Ibnu Majah: 37, Ahmad 10663; 19731; 10916; 10976; 11001; 11110, Al-Darimi: 451. 

[21] Salah satu hadis yang bertentangan tersebut adalah hadis kontradiktif tentang tadwin al-ahadis. 

[22] Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya, (Jakarta: Firdaus, 1994), hlm. 47-48. 

[23] Untuk lebih jelasnya dapat diteliti pada kitab-kitab karyanya. 

[24] Nur Khalis Majid, Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah, (Jakarta: Paramadina, 1995)hlm. 215. 

[25] Dalam suatu tulisan disebutkan bahwa Ridha menyatakan “kita tidak menemukan manfaat apapun dari penutupan pintu ijtihad. 

[26] Diantara ulama yang menta’dil-nya adalah: Muhammad bin Sa’ad; tsiqah, Ya’qub bin Syibah; tsiqah tsabat, Abu Hatim al-Razi: tsiqah Imam al-Hadis, Ibnu Khuraisy; shiddiq, Al-Ajly; tsiqah, Ibnu Hibban; mutqin hafidz. Pendapat ini dapat dikonsumsi dari beberapa kitab Rijal. Lihat: CD. ROM, Al-Maktabah Al-Syamilah, Ibnu Hajar al-asqalani, Tahdzib al-Tahdzib, Juz VI, hlm. 136-137. Dan kitab yang lain.


0 Response to "Sketsa dan Pemikiran Rasyid Ridha Terhadap Hadis"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!