Daftar 7 Aliran Teologi (Aqidah) Islam yang Wajib Anda Ketahui

Advertisement
PERBANDINGAN ALIRAN
Iman dan Kufur, Akal dan Wahyu, Perbuatan Tuhan, Perbuatan Manusia,
Kalamullah, Antropomorphisme dan Melihat Tuhan di Akhirat
Oleh: Muh Ilham
Daftar 7 Aliran Teologi Islam dalam hadis
Ilustrasi: kangmujib.tk
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Suatu anggapan yang keliru ketika menganggap penyelewengan dalam agama diakibatkan oleh kesalahan memahami hukum-hukum fikih, atau kegegabahan sekelompok orang yang menganggap dirinya sebagai mujtahid dalam peng-istinbathan hukum, baik itu yang bersumber dari al-Qur’an maupun sunnah. Lebih dari itu permasalahannya bukan terletak pada kesalahan dalam memahami hukum fikih atau kegegabahan kelompok juhala dalam mengistinbathkan sebuah hukum. Akan tetapi hal itu diakibatkan oleh kesalahan dalam memahami dasar-dasar akidah dan ta’assub mazhab yang seringkali tidak mengakui doktrin aliran selainnya.[1]

Hal ini mengindikasikan bahwa permasalahan yang sifatnya far’iyah (parsial) akan tetap menjadi permasalahan yang tidak begitu berarti ketika disandingkan dengan permasalahan ushuliyah (pokok) yang sifatnya urgent dan membutuhkan solusi sedini mungkin.

Dalam sejarah pemikiran Islam terdapat pelbagai aliran dengan ide dan penafsiran yang beragam seputar masalah akidah dan tak jarang mengakibatkan pengkafiran dikalangan umat Islam itu sendiri. Perpecahan di dalam kubuh umat Islam itu sendiri jauh sebelumnya sudah diisyaratkan oleh Rasulullah saw. sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ashab al-sunan dari Abu Hurairah yang berbunyi:

عن ابي هريرة قال: ان رسول الله قال: افترقت اليهود علي احدي وسبعين فرقة وتفرقت النصاري علي اثنتين وسبعين فرقة وتفترق امتي علي ثلاث وسبعين فرقة

Artinya: kaum Yahudi terbagi kepada tujuh puluh satu golongan, dan kaum Nashrani terbagi kepada tujuh puluh dua golongan, sementara umatku terbagi kepada tujuh puluh tiga golongan.[2]

Diantara sebab yang melatar belakangi munculnya pelbagai sekte dalam kubuh Islam adalah adanya perbedaan dalam memahami ayat al-Qur’an maupun hadis yang sifatnya ambigu. Terma yang seringkali diperdebatkan adalah terma iman dan kufur, akal dan wahyu, perbuatan Tuhan dan manusia, kalammullah, antropomorphisme, serta ru’yatullah.[3]

Perselisihan yang terjadi pada periode silam hingga kini masih subur dikalangan umat Islam. Hal itu tidak hanya berlaku dilingkungan tokoh ulama dan akademisi. Lebih dari itu perselisihan itu mendapat ruang yang cukup besar dikalangan masyarakat awam serta dampak yang ditimbulkan tidak kalah dari apa yang terjadi dilingkungan tokoh ulama dan akademisi. Mulai dari marginalisasi hingga ketingkat pengkafiran.

Umat Islam belakangan ini, sudah sangat rabun melihat seberapa rumitnya masalah yang terjadi pada tataran akidah. Bukan hanya masyarakat kalangan awam, bahkan kebanyakan pelajar dalam jurusan ilmu Islam pun ikut merasa tabuh untuk mencari penafsiran yang lebih konprehensif yang tetap konsisten pada koridor islam.

B. Rumusan masalah

Dalam makalah ini, penulis ingin lebih menekankan pada aspek ideologi yang menjadi perdebatan dikalangan setiap aliran dengan melihat argumen yang menjadi pijakan tiap aliran, bukan tendensi yang melatar belakangi ideologi yang mereka kultuskan dan mendemonstrasikan pengkajian yang obyektif sebagai jembatan untuk memahami serta memberikan pemahaman terhadap eksistensi setiap faham dalam Islam.

Dari deskripsi di atas, maka penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut: 

1. Bagaimana pandangan kaum Khawarij, Murjiah, Asy’ariah, Mu’tazilah, Maturidiah Samarkand dan Bukhara mengenai kosep iman dan kufur? 
2. Bagaimana pandangan kaum Asy’ariah, Mu’tazilah, Maturidiah Samarkand dan Bukhara mengenai kosep akal dan wahyu? 
3. Bagaimana pendapat para aliran teolog terhadap perbuatan Tuhan, perbuatan manusia, Kalamullah, antromorphisme dan melihat Tuhan di akhirat? 

C. Signifikansi Pembahasan

Kajian tentang aliran dalam Islam, sangat urgen untuk kita angkat dalam sorotan kajian ilmiah para pelajar muslim yang notabenenya berkonsentrasi pada studi Islam. Permasalah ini sejatinya di letakkan diatas meja pengkajian yang tak bertendensi. Sebagai proses menjembatani setiap perselisihan dikalangan generasi umat Islam berikutnya. Penulis berharap makalah ini mampu memberikan solusi dan menarik benang merah dari setiap penafsiran dengan menganalisa setiap argument seputar problematika keislaman, khususnya kajian terhadap setiap terma dalam pemikiran Islam.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Iman Dan Kufur

Dalam sumber hukum Islam, terdapat dalil-dalil yang mengisyaratkan klasifikasi dosa kepada dosa besar dan dosa kecil. Diantaranya Q.S An-nisa : 31 “ Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar yang terlarang bagi kalian, niscaya kami akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosa kecil) lalu kami akan memasukkanmu ke dalam tempat yang mulia (surga )” dan Q.S An-najm : 32 “ orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji selain dari kesalahan-kesalah kecil, sesungguhnya Tuhan-mu Maha luas ampunannya “. Selain itu juga terdapat dalam hadits Nabi saw. : “Antara Ramadhan ke Ramadhan, dari jum’at ke jum’at merupakan penghapus dosa, selama terhindar dari dosa-dosa besar “. 

Sudah menjadi kesepakatan dikalangan ulama bahwa taubat menghapuskan dosa terdahulu dan orang yang bertaubat layaknya tak ternodai oleh dosa. Disamping itu, mereka juga sepakat bahwa orang yang membenarkan suatu kemaksiatan atau mengingkari suatu ketetapan agama maka ia digolongkan kafir. Namun mereka berbeda pandangan mengenai pelaku dosa besar yang tidak membenarkan hal tersebut dan mengerti hukum terkait hal itu kemudian meninggal tanpa didahului taubat.[4]

1. Aliran Teologi (Aqidah) Khawarij

Awal kemunculan sebuah aliran terkadang mendahului bangunan pemikiran di dalamnya, akan tetapi setelah ia mampu mempertahankan eksistensinya dikancah pergolakan pemikiran dengan sejumlah pendukungnya, maka lahirlah tokoh dengan mengusung bangunan pemikiran yang apik.[5]

Sebentuk ideologi yang mengukuh dan mengokoh menjadi mazhab resmi tentunya tidak meraksasa begitu saja. Butuh proses dan waktu yang membuatnya kian besar hasil akumulasi pergumulan pemikiran, Demikian halnya yang terjadi dalam kubuh khawarij.

Aliran ini merumuskan dasar-dasar pemikirannya untuk berdiri tegak ditengah pergolakan, baik yang sifatnya external maupun internal aliran. Hal ini mengindikasikan adanya perpecahan dalam kubuh khawarij, namun tetap memiliki kesamaan mengenai pokok-pokok ajaran. Diantara pokok ajaran tersebut ialah persoalan pelaku dosa besar.[6]Berbicara masalah dosa besar maka secara tidak langsung hal itu berkaitan dengan persoalan Iman dan Kufur.

Khawarij, terlepas dari pelbagai aliran di dalamnya, menganggap bahwa menjalankan perintah agama seperti shalat, puasa, kejujuran, serta menegakkan keadilan merupakan bagian dari iman. Menurut pandangan mereka, iman tidak hanya terbatas pada keyakinan dalam hati. Maka ketika seseorang meyakini keesaan Allah dan nabi Muhammad sebagai rasul tetapi tidak menjalankan perintah agama dan melakukan dosa besar maka menurut pandangan Khawarij mereka termasuk dalam kategori kafir.[7]

Hal itu tidak mengherankan, karena kebanyakan penganut aliran tersebut dari kalangan Arab baduwi sehingga As-syahrastani memberikan gelar kepada mereka sebagai golongan yang taat berpuasa dan shalat serta seringkali mengucilkan pembohong dan pelaku maksiat.[8]

Mereka beranggapan bahwa iman adalah pengakuan hati serta penuturan lidah mengenai keesaan Allah dan Muhammad adalah rasulnya, menunaikan kewajiban serta menghindari perbuatan dosa besar.[9] Meskipun subsekte Khawarij yang sangat ekstrim, Azariqah menggunakan istilah yang lebih mengerikan daripada kafir yaitu musyrik bagi siapa saja yang berada diluar golongan mereka.

Sedangakan pelaku dosa besar telah beralih keimanannya menjadi kafir millah dan kekal di neraka. Begitu halnya dengan subsekte Najdah yang memberikan predikat musyrik bagi pelaku dosa kecil secara berkesinambungan dan predikat kafir bagi pelaku dosa besar yang tidak dilakukan secara kontinyu.[10] Berdasarkan hal tersebut, yang menjadi titik temunya ialah Khawarij menilai orang yang melakukan dosa besar keimanannya serta merta akan hilang dan orang yang kehilangan keimanannya itu berarti termasuk dalam golongan kafir. 

Namun, tak bisa dipungkiri adanya subsekte Khawarij yang tergolong moderat yaitu Ibadiyah. subsekte ini berpendapat bahwa pelaku dosa besar tetap sebagai muwahhid (yang mengesakan Tuhan), tetapi bukan mukmin. Ia tetap disebut kafir tapi hanya merupakan kafir nikmat (mengingkari nikmat) bukan kafir millah (agama). Siksaan yang akan mereka terima di akhirat nanti adalah kekal di dalam neraka bersama orang-orang kafir lainnya.[11]

2. Aliran Teologi (Aqidah) Al-Murji’ah

Pandangan Murji’ah dalam hal iman dan kufur ada keterkaitan dengan kesenjangan yang terjadi dalam kubuh umat Islam setelah peristiwa pembunuhan khalifah ketiga Usman bin Affan r.a. Berbeda dengan beberapa aliran lainnya yang berakar politik dan kemudian membentuk bangunan pemikiran teologi, faham Murji’ah sebagai gerakan non blok yang tidak memihak kepada kelompok tertentu. 

Kata Murji’ah itu sendiri merupakan derivasi dari kata arja’a yang mempunyai makna yang beragam. Diantaranya berarti mengakhirkan sesuatu. Berdasarkan makna ini, maka Murji’ah ialah faham yang menganggap bahwa perselisihan yang terjadi dikalangan umat Islam terkait pembunuhan Usman bin Affan, keputusannya di tangguhkan hingga hari kiamat.

Kata arja’a juga berarti membangkitkan sebuah harapan. Berangkat dari makna ini, maka Murji’ah adalah mereka yang berkeyakinan bahwa perkara iman dan kufur adalah perkara hati. Sehingga slogan mereka ialah لا تضر مع الايمان معصية كما لا تنفع مع الكفر طاعة “ Dosa tidak berarti apa-apa selama masih ada iman. Demikian halnya ke-kufuran tidak berarti apa-apa selama masih ada ketaatan”.

Ibnu ‘Asakir menguraikan pandangan kelompok Murji’ah terkait fitnah kubra yang terjadi dikalangan sahabat bahwa setelah mereka kembali ke Madinah dari peperangan dan seusai peristiwa terbunuhnya khalifah ketiga, mereka mengatakan “pada saat kami meninggalkan Madinah kalian dalam keadaan bersatu dan tak ada perpecahan diantara kalian. Setelah kami kembali, kalian dalam keadaan berselisih.

Diantara kalian ada yang menganggap bahwa Usman bin Affan yang merupakan sahabat yang paling adil terbunuh. Sebagian menganggap Ali merupakan sahabat yang paling benar. Kami (Murji’ah) tidak meragukan kejujuran para sahabat. Kami tidak memihak atau menyalahkan salah satu diantara mereka. Perkara itu kami serahkan kepada Allah.[12]

Dalam hal ini, Mereka menilai bahwa keimanan ialah keyakinan terhadap Allah dan Rasulnya. Maka barangsiapa yang mengikrarkan dalam hati kalimat syahadat, maka hal itu sudah cukup untuk memasukkan mereka kedalam barisan orang-orang yang beriman meskipun ia mengaku kafir, menyembah berhala dan mati dalam keadaan tersebut meskipun tidak mendemonstrasikannya dalam ucapan maupun tindakan.

Demikian halnya Perbuatan dosa tidak dapat menciderai keimanan, sebagaimana ketaatan pun tidak memberi pengaruh terhadap keimanan. Dalam pandangan mereka, iman sifatnya statis dan tidak terpengaruh oleh prilaku seseorang karena prilaku bukan bagian dari Iman. 

3. Aliran Teologi (Aqidah) Al-Mu’tazilah

Mu’tazilah merupakan salah satu aliran yang paling menonjol dikancah pemikiran Islam. Ia mengkristal dengan bangunan pemikirannya di akhir abad pertama hijriah. Pentas pemikiran saat itu tidak sunyi dari berbagai pemikiran lainnya yang ikut mewarnai langit pemikiran saat itu. Dalam kondisi demikian, Mu’tazilah hadir dengan lima tiang dasar pemikirannya. Al-‘adl, at-tauhid, al-wa’du wa al-wa’id, al-manzilah bain al-manzilatain, al-amr bi al-ma’ruf wa an-nahyu ‘an al-munkar.[13]

Berdasarkan al-Ushul al-Khamsah ini. Khususnya Al-wa’du wa al-wa’id, Mu’tazilah menganggap bahwa iman tidak hanya sekedar pengakuan hati akan tetapi harus disertai perbuatan yang merupakan bukti pengakuan hati. Dalam hal ini mereka sejalan dengan khawarij yang juga mendefenisikan keimanan sebagai sesuatu yang tidak hanya sekedar keyakinan tanpa wujud nyata dalam pengamalan nilai.

Adapun persoalan pelaku dosa besar. mereka menolak pandangan Khawarij yang mengkafirkan pelaku dosa besar. Juga murji’ah yang menganggap dosa besar tidak sedikitpun mengeruhkan keimanan seseorang, serta pendapat gurunya Hasan al-Bashri yang menggolongkan pelaku dosa besar sebagai munafik.

Dalam pandangan Mu’tazilah, pelaku dosa besar tidak termasuk dalam kategori beriman dan tidak pula termasuk golongan kafir ataupun munafik akan tetapi fasik. mereka berada diantara golongan orang beriman dan kafir, ia kekal dalam neraka sebagaimana halnya orang kafir. Akan tetapi siksaan yang mereka dapatkan di neraka derajatnya lebih rendah dibandingkan dengan siksaan terhadap orang kafir.[14]

Ini berarti, disatu sisi terdapat kemiripan antara Khawarij dan Mu’tazilah mengenai makna iman. Kedua aliran tersebut menganggap bahwa iman memiliki tiga rukun. Yang pertama pembenaran hati, yang kedua pengakuan lisan dan yang ketiga pembuktian melalui perbuatan.

Oleh karena itu iman dalam pandangan kedua aliran tersebut tidaklah statis sebagaimana yang diyakini oleh Murji’ah. Namun juga terdapat perbedaan yang tipis antara Khawarij dan Mu’tazilah mengenai pelaku dosa besar. Khawarij menganggap orang yang tidak menunaikan kewajiban termasuk dalam golongan kafir. Sedangkan Mu’tazilah tidak menganggapnya beriman ataupun kafir. Akan tetapi mereka berada diantara keduanya.

4. Aliran Teologi (Aqidah) Asy’ariyah

Sangat sulit untuk memahami makna iman dalam pandangan Abu Al-Hasan Al-Asy’ari, sebab didalam karya-karyanya seperti dalam kitab Maqalat, Al-Ibanah, Al-Luma’, ia mendefenisikan iman secara berbeda-beda. Dalam Maqalat dan Al-Ibanah, ia menyebutkan bahwa iman adalah qawl dan amal (ucapan dan perbuatan), dapat bertambah dan berkurang.

Dalam Al-Luma’, iman diartikannya sebagai tashdiq bi Allah. Argumentasinya, bahwa kata mukmin seperti disebutkan dalam al-Qur’an surat Yusuf ayat 7 memiliki hubungan makna dengan kata shadiqin dalam ayat itu juga. Dengan demikian, menurut al-Asy’ari, iman adalah tashdiq bi al-qalb (pembenaran dengan hati).

Diantara defenisi iman yang dimaksudkan al-Asy’ari dijelaskan oleh Asy-Syahrastani, salah seorang teolog Asy’ariah. Asy-Syharastani mengatakan:

“Al-Asy’ari berkata, “… iman (secara esensial) adalah tashdiq bi al-janan (pembenaran dengan hati). Sedangakan pembuktian secara lisan dan melakukan berbagai kewajiban utama (‘amal bi al-arkan) hanyalah merupakan furu’ (cabang-cabang) iman.

Oleh sebab itu, siapa pun yang membenarkan keesaan Tuhan dan utusan-utusannya beserta apa yang dibawanya dengan kalbu, maka iman semacam itu adalah iman yang sahih, dan keimanan seseorang tidak akan hilang kecuali jika ia mengingkari salah satu dari hal-hal tersebut.

Keterangan Asy-Syahrastani tersebut, disamping mengonvergensikan kedua defenisi yang berbeda yang diberikan oleh al-Asy’ari dalam Maqalat, al-Ibanah dan al-luma’ kepada satu titik pertemuan, juga menempatkan ketiga unsur iman (tashdiq, qawl, dan ‘amal) pada posisinya masing-masing. Jadi, bagi Al-Asy’ari dan juga Asy’ariah, persyaratan minimal untuk adanya iman hanyalah tashdiq yang jika diekspresikan secara verbal berbentuk syahadatain.[15]

Pernyataan Asy-Syahrastani ini tidak mengherankan, karena seperti halnya setiap aliran, konsep iman dalam pandangan Asy‘ariah sangatlah berkaitan dengan term mengenai kekuatan akal dan fungsi wahyu. Mereka berkeyakinan bahwa akal manusia tidak dapat memahami Tuhan secara independen sebelum adanya syariat yang menjelaskan hal tersebut. Berdasarkan hal tersebut, Asy’ariah beranggapan bahwa orang yang tidak sampai kepadanya risalah, jika ia tidak beriman, maka ia tidak akan mendapat siksa atas hal tersebut.

Dengan mengutip dalil al-Qur’an, Surah al-Isra’:15. “ Kami tidak akan menyiksa (seseorang), hingga kami mengutus kepadanya seorang rasul”.[16] Olehnya, iman bukan merupakan ma’rifah ataupun ‘amal. Manusia dapat mengetahui hal tersebut berdasarkan wahyu. Wahyulah yang menerangkan kepada manusia mengenai kewajiban mengetahui Tuhan, dan manusia harus menerima kebenaran berita ini. Oleh karena itu, iman dalam pandangan Asy‘ariah adalah al-tasdiq bi Allah.[17] Dengan kata lain, hilangnya sesuatu yang bukan merupakan syarat wujud sesuatu tidak serta merta menghilangkan esensinya.[18]

Berdasarkan hal ini, maka dosa besar, tidak serta merta menghilangkan keimanan seseorang dan hal tersebut tidak menyebabkannya kafir. Karena dalam pandangan Asy’ariah perbuatan bukan merupakan syarat iman akan tetapi sebagai penyempurna. oleh karena itu, maka frekwensi keimanan seseorang tidak bersifat statis, akan tetapi bersifat dinamis sesuai amal perbuatan seseorang. 

5. Aliran Teologi (Aqidah) Al-Maturidiyah

Munculnya aliran al-Maturidi pada dasarnya memiliki kesamaan dengan aliran Asy’ariyah. Kedua tokoh aliran tersebut memiliki persamaan dalam hal perkembangan pemikiran kalamnya. Keduanya sama-sama dihadapkan pada pemikiran kalam yang cukup menggoncangkan spritualitas ideologi umat Islam kala itu, terlebih setelah peristiwa al-Mihnah.[19]

Dalam masalah iman, aliran Maturidiyah Bukhara mempunyai faham yang sama dengan kaum Asy’ariah. Keduanya beranggapan bahwa akal tidak dapat sampai kepada kewajiban mengetahui adanya Tuhan. Olehnya itu iman tidak bisa mengambil bentuk ma’rifah atau ‘amal, tetapi haruslah merupakan tasdiq bi al-qalb wa al-lisan.[20] Adapun pengertian iman menurut Maturidiah Samarkand, iman adalah tashdiq bi al-qalb, bukan semata-mata iqrar bi al-lisan. 

Apa yang diucapkan oleh lidah dalam bentuk pernyataan iman, menjadi batal bila hati tidak mengakui ucapan lidah. Namun, lebih dari itu, menurutnya tasdiq harus diperoleh dari ma’rifah. Tasdiq hasil dari ma’rifah ini didapatkan melalui akal, bukan sekedar berdasarkan wahyu. Ia mendasari pandangannya pada dalil naqli surat al-Baqarah ayat 260. Surat tersebut menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim meminta kepada Tuhan untuk memperlihatkan bukti dengan menghidupkan orang yang sudah mati.

Dalam pandangan al-Maturidi, permintaan tersebut tidaklah berarti bahwa Nabi Ibrahim belum beriman. Akan tetapi ia mengharapkan agar iman yang telah dimilikinya dapat meningkat menjadi iman hasil ma’rifah. Meskipun demikian, ma’rifah menurutnya sama sekali bukan esensi iman, melainkan faktor kehadiran iman. Mengenai fluktuasi iman, al-Maturidi tidak memberikan pandangan secara jelas. Namun, komentarnya terhadap al-Fiqh al-Akbar, karya Abu Hanifah, tentang fluktuasi iman, cukup memberi isyarat penolakan Al-Maturidi terhadap fluktuasi iman.

Berbeda dengan Abu Hanifah, al-Maturidi mengamini perbedaan individual dalam hal iman. Hal itu dibuktikan dengan penerimaannya terhadap hadis Nabi yang menyatakan bahwa skala iman Abu Bakr lebih berat dan besar daripada skala iman seluruh manusia. Sedangkan Maturidiyah Bukhara mengembangkan pendapat yang berbeda. Al-Bazdawi menilai bahwa iman tidak dapat berkurang, tetapi bisa bertambah dengan ibadah-ibadah yang dilakukan, dengan membuat analogi bahwa ibadah yang dilakukan berfungsi sebagai bayangan dari iman. Jika bayangan itu hilang, esensi yang digambarkan oleh bayangan itu tidak akan berkurang. Sebaliknya, dengan kehadiran bayang-bayang (ibadah) itu, iman justru menjadi bertambah.[21]

Mengenai pelaku dosa besar, al-Maturidiyah tidak menggolongkannya kedalam golongan kafir selama ia masih mempercayai Tuhan. Karena dalam pandangan mereka, tasdiq bi al-qalb adalah esensi iman.

B. Akal dan Wahyu

Menurut Muhammad Abduh akal adalah suatu daya yang hanya dimiliki manusia, dan oleh karena itu dialah yang membedakan manusia dengan makhluk lain. Akal adalah tonggak kehidupan manusia dan dasar kelanjutan hidupnya.[22]

Wahyu mengandung arti pemberitahuan secara sembunyi dan dengan cepat, tetapi kata itu lebih dikenal dalam arti apa yang disampaikan Tuhan kepada Nabi-nabi.[23] Dalam kata wahyu, terkandung arti penyampaian sabda Tuhan kepada orang pilihan-Nya agar diteruskan kepada ummat manusia untuk dijadikan pegangan hidup, yang juga mengandung ajaran, petunjuk dan pedoman yang diperlukan umat manusia dalam perjalan hidupnya baik di dunia ini maupun di akhirat nanti.

Teologi sebagai ilmu yang membahas terma ke-Tuhanan dan kewajiban-kewajiban manusia terhadap Tuhan, sangat erat kaitannya dengan otoritas akal dan wahyu. Akal berusaha keras untuk sampai kepada Tuhan. Sementara wahyu sebagai berita dari alam metafisika turun kepada manusia dengan membawa keterangan-keterangan terkait Tuhan dan kewajiban-kewajiban manusia terhadap Tuhan.

Tuhan berada di puncak alam wujud dan manusia di kakinya berusaha dengan akalnya untuk mencapai-Nya dan Tuhan sendiri dengan belas kasihnya menolongnya dengan menurunkan wahyu melalui Nabi dan Rasul. Namun, yang menjadi persoalan selanjutnya ialah sampai dimanakah kemampuan akal manusia untuk mengetahui Tuhan dan kewajiban-kewajiban manusia? Dan sampai dimana fungsi wahyu dalam hal ini?

Persoalan kemampuan akal dan fungis wahyu sangat terkait dengan dua permasalahan. Permasalahan Pertama ialah Ma’rifatullah (mengetahui Tuhan). Hal ini juga terkait dengan hushulu al-ma’rifah (proses mengetahui Tuhan) dan wujub ma’rifatu Allah (kewajiban mengetahui Tuhan). dan permasalahan yang kedua ialah al-husnu wa al-qubhu (kebaikan dan keburukan).

Hal ini juga terkait dengan ma’rifah al-husnu wa al-qubhu (cara mengetahui kebaikan dan keburukan) dan wujub I’tinaq al-hasan wa ijtinab al-qabih (kewajiban mengerjakan kebaikan dan menjauhi keburukan). Yang manakah diantara keempat masalah tersebut yang menjadi wilayah akal dan yang mana wilayah wahyu?[24] Beragam komentar muncul dengan argument yang beragam pula dari berbagai sekte.

1. Aliran Teologi (Aqidah) Asy’ariyah

Asy’ariyah dalam hal ini Abu al-Hasan berpendapat bahwa segala kewajiban manusia hanya dapat diketahui melalui wahyu. Akal tidak dapat membuat sesuatu menjadi wajib dan mengetahui perkara baik-buruk karena kebaikan adalah kebaikan menurut syariat begitu juga dengan keburukan.[25] Manusia tak dapat mengetahui bahwa kewajiban mengerjakan yang baik dan menjauhi yang buruk adalah wajib bagi manusia.

Akal memang dapat mengetahui Tuhan, namun wahyulah yang mewajibkan manusia mengetahui Tuhan. Juga dengan wahyulah manusia dapat mengetahui pahala dan murka-Nya bagi orang yang melanggar perintah-Nya[26]. Olehnya itu, meskipun manusia dengan akalnya mampu mengetahui Tuhan, namun ia tidak wajib mengetahui Tuhan (beriman) sebelum datangnya risalah.[27] Meskipun akal dalam pandangan Asy’ariah merupakan unsur penting. Namun, dalam menghadapi persoalan yang memperoleh penjelasan yang kontradiktif dari akal dan wahyu. Abu al-Hasan lebih mengutamakan wahyu.[28]

Berdasarkan keterangan diatas, maka terkait empat permasalah pokok yang diperdebatkan Asy’ariah dalam hal ini Abu al-Hasan berpendapat bahwa yang dapat diketahui hanya wujud Tuhan. Dan akal merupakan penopang terhadap keterangan-keterangan wahyu dan berada diposisi kedua dalam hal akidah.

2. Aliran Teologi (Aqidah) Mu’tazilah

Bagi kaum Mu’tazilah, akal dapat mengetahui segala sesuatu dan akal wajib mengetahui Tuhan meski tanpa ada keterangan wahyu. Abu al-Huzail, salah seorang tokoh Mu’tazilah menegaskan bahwa sebelum turunnya wahyu, orang telah berkewajiban mengetahui Tuhan dengan akalnya. Demikian halnya dengan tokoh Mu’tazilah lainnya, semisal al-Nazzam dan Al-Jubba’i. Golongan al-Murdar bahkan berpandangan lebih jauh dengan mengatakan bahwa orang yang tidak mengetahui hal tersebut akan kekal di dalam neraka.[29]

Dalam hal kebaikan dan keburukan, Mu’tazilah juga berpendapat bahwa Akal mempunyai kekuasaan tinggi yang diberikan Tuhan kepada manusia sebagai bentuk keadilan Tuhan dan fasilitas yang diberikan kepadanya untuk dapat membedakan antara kebaikan dan keburukan dan melakukan kebaikan serta menjauhi keburukan. Kebaikan dan keburukan merupakan sesuatu yang murni (natur) yang dapat diketahui oleh akal murni, beriman atau tidak.

Agama tidak mampu merubah hakikat kebaikan dan keburukan. Olehnya itu agama mencela keburukan karena hal itu merupakan sesuatu yang hina dan menganjurkan kebaikan karena kebaikan adalah hal yang terpuji. Bukan sebaliknya. Sesuatu tidak serta merta menjadi baik atau buruk karena agama memerintahkan atau melarang hal tersebut. karenanya, manusia wajib mengerjakan kebaikan dan menjauhi keburukan. 

Mu’tazilah mengadopsi doktrin rasionalisme tersebut dari salah seorang murid Yuhanna Ad-Dimasyq yang bernama Tsabit bin Qurrah yang gigih membuktikan doktrin Kristen dengan menggunakan logika murni. Dengan dasar ini, Mu’tazilah meneriakkan slogan yang terkenal “al-Fikr Qabla al-Sam’i (Logika sebelum wahyu)”.[30]

3. Aliran Teologi (Aqidah) Maturidiyah

Al-Maturidiyah yang dipelopori oleh Abu Manshur al-Maturidi dalam pemikirannya banyak dipengaruhi oleh Imam Abu Hanifah yang banyak memakai rasio dalam pandangan keagamaanya. [31]Mengenai terma akal dan wahyu, al-Maturidi berpendapat bahwa akal dapat mengetahui kewajiban manusia.

Perintah dan larangan Tuhan sangat erat kaitannya dengan sifat dasar (natur) suatu perbuatan, pahala dan hukuman tergantung pada sifat yang terdapat dalam perbuatan tersebut. olehnya itu akal dalam pandangan al-Maturidi dapat mengetahui sifat baik dan sifat buruk yang terdapat pada suatu perbuatan. 

Dengan demikian, akal juga tahu bahwa berbuat baik adalah baik dan berbuat buruk adalah buruk. Pengetahuan akal inilah selanjutnya yang melazimkan adanya perintah dan larangan Tuhan. Namun, Abu Manshur tidak memberikan penjelasan mengenai wajibnya mengerjakan kebaikan dan meninggalkan keburukan.[32]

Berbeda dengan Mu’tazilah, al-Maturidi tidak menganggap bahwa pengetahuan akal manusia mengenai baiknya perbuatan baik dan jahatnya perbuatan jahat yang meyebabkan adanya perintah dan larangan menjadikan sesuatu itu wajib. Akan tetapi akal hanya berfungsi sebagai alat untuk mengetahui baik buruknya sesuatu bukan mewajibkan sesuatu.[33]

C. Perbuatan Tuhan dan Perbuatan Manusia 

Salah satu persoalan kalam yang juga menjadi bahan perdebatan diantara aliran kalam adalah perbuatan Tuhan dan perbuatan manusia. Hal ini merupakan rangkaian permasalahan dari perdebatan ulama mengenai iman dan kafir.

Siapa sebenarnya yang menciptakan perbuatan manusia, apakah Tuhan? atau manusia sendiri? ataukah keduanya punya andil terhadap suatu perbuatan? Persoalan ini kemudian meluas hingga memunculkan pertanyaan, apakah Tuhan memiliki kewajiban-kewajiban tertentu atau tidak? dan apakah perbuatan Tuhan hanya terbatas pada hal-hal yang baik saja ataukah perbuatan Tuhan tidak terbatas pada yang baik saja tapi juga mencakup hal-hal yang buruk? 

1. Aliran Teologi (Aqidah) Mu’tazilah

Salah satu kerangka dasar pemikiran Mu’tazilah yang dikenal dengan istilah al-Ushul al-Khamsah adalah al-‘Adl (keadilan). Terkait dengan term keadilan, aliran ini menilai bahwa yang dimaksud dengan keadilan Tuhan ialah Tuhan tidak menyukai kerusakan, tidak punya peran terhadap perbuatan seorang hamba, dan tidak memerintahkan sesuatu yang tidak ia inginkan. Akan tetapi manusia bertindak sesuai keinginannya dengan potensi yang diberikan kepadanya.

Perintah-Nya adalah keingingannya sebaliknya larangan-Nya adalah sesuatu yang tidak ia inginkan. Dalam segala hal, Tuhan wajib memberikan sesuatu yang terbaik untuk hambanya.[34] Termasuk kewajiban menepati janji-janji-Nya, mengirim rasul untuk memberi petunjuk, memberi rezeki dan sebagainya. Terma al-‘Adl (keadilan) merupakan kata kunci mengenai kewajiban Tuhan dalam pandangan Mu’tazilah. Namun imbas dari terma al-‘Adl (keadilan) ini seakan menempatkan Tuhan pada wilayah yang terbatas.[35]

Mu’tazilah sebagai aliran yang bercorak rasional juga berpendapat bahwa perbuatan Tuhan hanya terbatas pada hal-hal yang dikatakan baik. Namun, ini tidak berarti bahwa Tuhan tidak mampu melakukan perbuatan buruk. Tuhan tidak melakukan perbuatan buruk karena ia mengetahui keburukan perbuatan tersebut.[36]

Mengenai perbuatan manusia, Mu’tazilah berpandangan bahwa manusia mempunyai daya dan kebebasan. al-Jubba’i menegaskan bahwa manusia menciptakan perbuatannya atas kehendaknya sendiri. Namun, apakah daya manusia yang mewujudkan perbuatannya atau daya Tuhan juga punya peran dalam perbuatan manusia? ‘Abd al-Jabbar menegaskan dalam kitabnya al-Majmu’ bahwa yang dimaksud dengan “Tuhan membuat manusia sanggup mewujudkan perbuatannya” ialah bahwa Tuhan menciptakan daya dalam diri manusia dan pada daya inilah wujud perbuatan manusia bergantung.[37]

2. Aliran Teologi (Aqidah) Asy’ariah

Menurut aliran Asy’ariah, faham kewajiban Tuhan yang di lontarkan oleh kaum Mu’taziah tidak dapat diterima, Karena hal itu bertentangan dengan faham kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan yang mereka anut. Olehnya itu Tuhan tidak mempunyai kewajiban apa-apa.[38] Karena percaya pada kekuasaan mutlak Tuhan dan berpendapat bahwa Tuhan tak mempunyai kewajiban apa-apa, aliran Asy’ariah menerima faham pemberian beban diluar kemampuan manusia.

Berdasarkan hal tersebut, maka Tuhan tidak mempunyai kewajiban menepati janji dan menjalankan ancaman yang tersebut dalam al-Qur’an dan hadis. Ketika diperhadapkan dengan teks-teks agama yang secara tegas menyebutkan bahwa siapa yang berbuat jahat akan masuk neraka, Asy’ariah menginterpretasikan kata-kata Arab “man, allazina”, dan sebagainya tidak dengan arti semua orang tapi sebagian. Dengan interpretasi tersebut, Asy’ariah mengatasi persoalan wajibnya Tuhan menepati janji dan menjalankan ancaman.[39]

Mengenai perbuatan manusia, Asy’ari menempatkan manusia pada posisi yang lemah. Ia ibaratnya anak kecil yang tidak memiliki pilihan dalam hidupnya. Olehnya itu, aliran ini lebih dekat dengan faham Jabariyah dibandingkan dengan faham Mu’tazilah. Asy’ari menjelaskan kelemahan serta ketergantungan manusia kepada kemauan dan kekuasaan mutlak Tuhan dengan menggunakan teori al-kasb (acquisition, perolehan). 

Arti iktisab menurut al-Asy’ari sendiri ialah bahwa sesuatu terjadi dengan perantaraan daya yang diciptkan dan kemudian menjadi perolehan (al-kasb) manusia yang dengan dayanya perbuatan itu terealisasi. Al-kasb atau perolehan mengandung makna keaktifan. Dengan demikian manusia bertanggung jawab atas perbuatannya. Namun, keterangan bahwa kasb itu adalah ciptaan Tuhan, menghilangkan arti keaktifan itu, sehingga pada akhirnya manusia bersifat pasif dalam setiap tindakannya.

Argumen yang menjadi pijakan al-Asy’ari dalam mengusung term al-kasb adalah ayat : والله خلقكم وما تعملون kata wa ma ta’malun disini diartikan oleh al-Asy’ari “apa yang kamu perbuat” bukan “apa yang kamu buat”. Jadi, perbuatan-perbuatan manusia dalam pandangan Asy’ari merupakan ciptaan Tuhan. Dengan kata lain, yang mewujudkan kasb atau perbuatan manusia adalah Tuhan sendiri.

Ia menganalogikan dengan perbuatan-perbuatan involunter (harakah al-idhtirar). Dalam perbuatan-perbuatan involunter terdapat dua unsur, penggerak yang mewujudkan gerak dan badan yang bergerak. Penggerak yaitu pembuat gerak sebenarnya (Tuhan) dan yang bergerak adalah manusia. al-Asy’ari menilai bahwa al-kasb tidak mungkin terealisasi kecuali melalui daya yang diciptakan Tuhan dalam diri manusia. Dengan demikian manusia adalah tempat terealisasinya perbuatan-perbuatan Tuhan. Namun al-Asy’ari tidak menyandingkan antara al-kasb dengan perbuatan involunter.

Dalam perbuatan involunter terdapat unsur keterpaksaan tetapi dalam al-kasb, tidak terdapat unsur keterpaksaan. Ia menganalogikan dengan gerak manusia yang berjalan pulang pergi berlainan dengan gerak manusia yang menggigil karena demam.[40] Kedua memiliki perbedaan yang sangat jelas.

3. Aliran Teologi (Aqidah) Maturidiyah

Mengenai perbuatan Tuhan, terdapat perbedaan dalam kubuh Maturidiyah. Maturidiyah Samarkand sebagaimana halnya Mu’tazilah, berpandangan bahwa kekuasaan dan kehendak Tuhan hanya terkait dengan hal-hal baik saja. Dengan demikian Tuhan mempunyai kewajiban memberikan yang baik dan terbaik kepada manusia. Dengan demikian pengiriman rasul, menepati janji dan memberi hukuman dipandangnya sebagai suatu kewajiban Tuhan.

Berbeda halnya dengan Maturidiyah Samarkand, Maturidiyah Bukhara lebih cenderung kepada pendapat Asy’ariah yang memandang bahwa Tuhan tidak mempunyai kewajiban. Namun, sebagaimana penuturan al-Bazdawi, Tuhan pasti menepati janji-Nya walaupun Tuhan mungkin saja membatalkan ancaman bagi orang yang berdosa besar. Adapun pengiriman Rasul, Maturidiyah Bukhara berpandangan bahwa hal itu tidaklah bersifat wajib akan tetapi bersifat mungkin. 

Mengenai pemberian beban diluar batas kemampuan manusia (taklif ma la yutaq) sekte Bukhara mengamini hal tersebut. al-Bazdawi berpendapat bahwa Tuhan tidaklah mustahil meletakkan kewajiban-kewajiban yang tak dapat dipikul manusia. Sebaliknya sekte Samarkand cenderung kepada pendapat Mu’tazilah.

Menurut Syarh al-Fiqh al-Akbar, al-Maturidi tidak mengamini pendapat Asy’ari dalam hal pembebanan manusia dengan sesuatu yang tak dapat dipikulnya. Pemberian beban yang tak terpikul dapat sejalan dengan faham golongan Samarkand bahwa manusialah sebenarnya yang mewujudkan perbuatan-perbuatannya bukan Tuhan. Dengan demikian, janji dan ancaman Tuhan pasti terjadi kelak.[41]

Dalam hal perbuatan manusia, dalam kubuh Maturidiyah juga terdapat perbedaan. Sekte Samarkand lebih dekat dengan faham Mu’tazilah. Sedangkan sekte Bukhara lebih cenderung kepada pendapat yang diamini oleh Asy’ariah. Kehendak dan daya berbuat pada diri manusia, menurut sekte Samarkand adalah kehendak dan daya manusia dalam arti yang sebenarnya bukan kiasan.[42]

Perbedaannya dengan Mu’tazilah adalah bahwa daya untuk berbuat tidak diciptakan sebelumnya tapi bersama dengan perbuatannya. Daya yang demikian porsinya lebih kecil daripada daya yang terdapat dalam faham Mu’tazilah. Oleh karena itu, manusia dalam faham al-Maturidi tidaklah sebebas manusia dalam Mu’tazilah.

Maturidiyah Bukhara dalam banyak hal sependapat dengan Maturidiyah Samarkand. Hanya saja golongan ini memberikan tambahan mengenai masalah daya. Menurutnya untuk perwujudan suatu perbuatan, diperlukan dua daya. Manusia tidak mempunyai daya untuk melakukan perbuatan, hanya Tuhanlah yang dapat mencipta, dan manusia hanya dapat melakukan perbuatan yang telah diciptakan Tuhan baginya.[43]

4. Aliran Teologi (Aqidah) Jabariyah

Sesuai penamaannya, kaum jabariyah berpendapat bahwa manusia tidak mempunyai kemerdekaan dalam menentukan kehendak dan perbuatannya.[44] Namun, sebagaimana halnya Mu’tazilah, Jabariyah juga terbagi menjadi dua subsekte, Jabariyah ekstrim berpendapat bahwa segala perbuatan manusia bukan merupakan perbuatan yang timbul dari kemauannya sendiri, tetapi perbuatan yang dipaksakan atasnya.

Bahkan Jahm bin Shafwan salah seorang tokoh jabariyah ekstrim, mengatakan bahwa manusia tidak mampu berbuat apa-apa. Ia tidak mempunyai daya, kehendak, dan juga pilihan.[45] Manusia dalam pandangannya terikat pada kehendak mutlak Tuhan. Manusia dalam setiap tindakannya terpaksa dan telah ditentukan oleh qadha dan qadar Tuhan (fatalisme atau predestination).[46]

Adapun jabariyah Moderat, menganggap bahwa Tuhan menciptakan perbuatan manusia, baik maupun buruk tapi manusia mempunyai peran di dalamnya. Potensi yang diciptakan dalam diri manusia mempunyai efek untuk mewujudkan perbuatannya.

Inilah yang disebut dengan kasb (acquisition). Olehnya itu, manusia bukanlah wayang yang dikendalikan oleh dalang dan tidak pula menjadi pencipta perbuatan, tetapi manusia memperoleh perbuatan yang diciptakan Tuhan.[47] Diantara pemuka Jabariyah moderat ialah al-Husain bin Muhammad al-Najjar.[48]

5. Aliran Teologi (Aqidah) Qadariyah

Menurut Ghailan ad-dimasyq, salah seorang tokoh sekte Qadariyah, manusia berkuasa atas perbuatannya. Manusia sendirilah yang melakukan perbuatan baik dan buruk. Manusia merdeka dalam segala tindakannya.[49] Faham takdir dalam pandangan Qadariyah bukanlah dalam pengertian takdir yang umumnya difahami oleh bangsa arab priode awal.

Menurutnya, takdir adalah ketentuan Allah yang diciptakan-Nya untuk alam semesta beserta seluruh isinya sejak awal. Yaitu hukum Allah yang dalam istilah al-Qur’an adalah Sunnatullah. Aliran Qadariyah berpendapat bahwa tidak ada alasan yang tepat untuk menyandarkan perbuatan manusia kepada Tuhan. Diantara ayat al-Qur’an yang menjadi pijakannya ialah surah Al-Kahfi (18) : 29, Ali ‘Imran (3) : 165, Ar-ra’du (13) : 11.[50]

D. Kalamullah, Antromorphisme, Ru’yatullah

Truth claim merupakan sesuatu yang tidak tabuh lagi dalam kubuh setiap aliran demi sebuah obsesi menauhidkan Tuhan. Tiap aliran mengaku bahwa kerangka berfikir yang diusungnya merupakan jalan yang tepat untuk mengesakan Tuhan. Perdebatan antar aliran kalam dalam hal ini juga mencakup persoalan, antromorphisme, ru’yatullah dan esensi al-Qur’an.[51]

1. Aliran Teologi (Aqidah) Mu’tazilah

Mu’tazilah berpendapat bahwa jika Tuhan mempunyai sifat, sifat itu mestilah kekal seperti halnya zat Tuhan. Hal ini membawa kepada faham banyak yang kekal (ta’addud al-qudama) yang mengakibatkan faham syirk atau politheisme. Suatu hal yang tak dapat diterima dalam teologi. Sehingga Washil bin Atha menegaskan bahwa faham tersebut menganggap adanya dua Tuhan. Mu’tazilah menekankan bahwa Tuhan tidak memiliki sifat. Bukan berarti bahwa Tuhan tidak memiliki kekuasaan, pengetahuan dan sebagainya.

Mereka tidak memisahkan antara zat Tuhan dan sifat-Nya. Abu al-Huzail mengungkapkan bahwa : “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dengan pengetahuan, Maha kuasa dengan kekuasaan, Maha hidup dengan kehidupan. Pengetahuan, kekuasaan, dan kehidupan-Nya itu adalah zat-Nya sendiri. Oleh sebab itu, Mu’tazilah menafsirkan ayat-ayat yang memberi kesan bahwa Tuhan bersifat jasmani secara metaforis. Misalnya kata” istawa” pada surah T|aha ayat 5 diartikan dengan “menguasai dan mengalahkan” dan kata “aini” pada ayat 39 ditakwilkan dengan “ilmi” (pengetahuanku), dan sebagainya.

Selanjutnya, Mu’tazilah berpendapat bahwa Tuhan, karena bersifat immateri maka ia tidak dapat dilihat dengan mata kepala. Mu’tazilah beralasan bahwa, Tuhan tidak menempati ruang sehingga tak dapat dilihat. Dan bila Tuhan dapat dilihat dengan mata kepala, hal itu berarti Tuhan dapat dilihat didunia sekarang. Namun kenyataannya tak seorang pun yang dapat melihat Tuhan di alam ini. Ayat-ayat yang menjadi pijakan mereka ialah ayat 103 surah al-An’am, ayat 23 surah al-Qiyamah, ayat 14 surah al-A’raf ayat 7, ayat 110 surah al-Kahfi, dan ayat 51 surah asy-Syu’ara.

Mengenai hakikat al-Qur’an, aliran Mu’tazilah berpendapat bahwa al-Qur’an adalah makhluk sehingga ia tidak kekal. Mereka berargumen bahwa al-Qur’an tersusun dari kata-kata dan kata-kata itu sendiri tersusun dari huruf-huruf.

Adanya proses mendahului dan didahului pada huruf, ayat serta surah menunjukkan bahwa al-Qur’an itu sifatnya baharu.[52] Di dalam al-Qur’an terdapat perintah dan larangan, janji dan ancaman. Hal tersebut merupakan sesuatu yang bertolak belakang. Tidak mungkin yang satu mengandung sesuatu yang beragam dan bertolak belakang.[53]

2. Aliran Teologi (Aqidah) Asy’ariah

Pendapat Asy’ariah berlawanan dengan faham mu’tazilah. Mereka dengan tegas mengatakan bahwa Tuhan mempunyai sifat. Sifat-sifat tidak dapat diingkari karena adanya perbuatan. Namun, ayat-ayat yang mengindikasikan sifat-sifat jasmani dalam al-Qur’an tidak diartikannya secara harfiah tetapi secara simbolis. sifat-sifat Tuhan itu unik, olehnya itu tidak dapat dibandingkan dengan sifat-sifat manusia. Tuhan dalam pandangannya, memiliki mata, wajah, tangan serta bersemayam di singgasana namun semuanya itu tidak diketahui bagaimana cara dan juga dan batasnya.

Untuk menghindari adanya faham ta’addud al-qudama dalam faham ini, kaum Asy’ariah mengatakan bahwa sifat-sifat itu bukanlah Tuhan, tetapi tidak pula lain dari Tuhan. karenanya keberadaan sifat-sifat itu tidak membawa kepada faham banyak kekal.

Mengenai ru’yatullah, Asy’ariah berbeda pendapat dengan Mu’tazilah. Asy’ariah mengatakan bahwa Tuhan dapat dilihat di akhirat kelak dengan mata kepala. Asy’ari menegaskan bahwa sesuatu yang dapat dilihat adalah sesuatu yang mempunyai wujud. Karena Tuhan mempunyai wujud, maka ia dapat dilihat. Ayat-ayat yang menjadi pijakannya adalah surah al-Qiyamah ayat 22-23, surah al-A’raf ayat 143, dan surah Yunus ayat 26. 

Dalam hal esensi al-Qur’an, Asy’ariah menegaskan kekekalannya dan tidak menerima kemakhlukan al-Qur’an. Olehnya itu, al-Qur’an menurutnya bukanlah yang tersusun dari huruf dan suara, tetapi sesuatu yang berada dibalik susunan huruf dan suara tersebut. Ayat-ayat yang digunakan untuk menopang pendapatnya ialah surah ar-Rum ayat 25, surah al-A’raf ayat 54, surah Yasin ayat 82, dan sebagainya.[54]

3. Aliran Teologi (Aqidah) Maturidiah

Berkaitan dengan masalah sifat Tuhan, terdapat persamaan antara al-Maturidi dan al-Asy’ari. Tuhan mempunyai sama’ dan bashar. Namun, pengertian Maturidi tentang sifat Tuhan bukanlah sesuatu yang berbeda dari zat-Nya sebagaimana klaim Asy’ari. Menurut al-Maturidi, sifat tidak dikatakan esensi-Nya dan bukan pula lain dari esensi-Nya. Sifat Tuhan itu mulazamah (inheren) zat tanpa terpisah.

Mengenai melihat Tuhan, Maturidiyah sependapat dengan Asy’ariah bahwa Tuhan dapat dilihat. Namun hal itu tidak dapat dijelaskan bagaimana cara melihatnya. Adapun tentang esensi al-Qur’an, mereka menilai bahwa ia kekal dan tidak dicipta. Namun al-Qur’an adalah sesuatu yang berdiri dengan zat-Nya, bukan yang berbentuk surah dan mempunyai awal dan akhir.

Kesimpulan 

Berdasarkan uraian dalam pembahasan makalah ini, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Iman dan Kufur, Khawarij berpendapat bahwa semua orang yang terlibat dalam dan menerima tahkim adalah kafir karena telah melakukan dosa besar, sedangkan Murjiah berpandangan lain, bahwa orang yang menerima tahkim bukanlah kafir, mereka tetap mukmin karena mereka masih memiliki keyakinan terhadap Tuhan. Berbeda dengan Mu’tazilah yang berpendapat bahwa orang yang melakukan dosa besar bukanlah kafir dan bukan pula mukmin tetapi fasiq. Sedangkan Asy’ariah mengatakan bahwa orang yang melakukan dosa besar bukanlah kafir tapi mukmin yang fasiq dan hukumannya itu tergantung kepada Tuhan.

Akal dan Wahyu, Mu’tazilah memberikan penekanan yang besar pada akal dari pada wahyu dalam mengkaji pemikiran keagamaan, seperti mengetahui Tuhan, kewajiban mengetahui Tuhan berbuat baik dan buruk dan kewajiban berbuat baik dan menjauhi yang buruk, hal sama dengan apa yang di kemukakan oleh Maturidiah Samarkand cuman aliran ini tidak memasukkan kewajiban berbuat baik dan menjauhi yang buruk, karena itu hanya bisa deketahui melalui wahyu. Berbeda dengan Asy’ariah yang memberikan penekanan yang lebih besar kepada wahyu dari pada akal. Menurutnya akal hanya mampu mengetahui Tuhan, sedangkan kewajiban mengetahui Tuhan, mengetahui baik dan buruk dan kewajiban berbuat baik dan menjauhi yang buruk hanya dapat diketahui melalui wahyu karena akal tidak mampu mengetahuinya. 

3. Lain halnya dengan Maturidiah Bukhara, bahwa akal dan wahyu memiliki porsi yang sama, dengan akal manusia dapat mengetahui Tuhan dan mengetahui baik dan buruk, sedangkan dengan wahyu manusia dapat mengetahui kewajiban mengetahui Tuhan dan kewajiban mengejakan yang baik dan menjauhi yang buruk.

4. Dalam hal perbuatan Tuhan, kaum Mu’tazilah dan Maturidiah Samarkand sependapat bahwa Tuhan mempunyai kewajiban terhadap manusia yang pada intinya kewajiban berbuat baik dan terbaik bagi manusia. Sedangkan kaum Asy’ariah dan Maturidiah Bukhara mengatakan bahwa Tuhan tidak memiliki kewajiban bagi manusia. Kemudian persoalan perbuatan manusia, kaum Qadariah dan Mu’tazilah menganggap bahwa manusia memiliki kemampuan untuk berkehendak dan memilih perbuatannya. Sedangkan kaum Jabariah dan Asy’ariah, bahwa manusia tidak memiliki daya untuk memilih dan berbuat.

5. Mengenai Kalamullah, Mu’tazilah memahami bahwa Kalamullah adalah makhluk, sedangkan Asya’ariah memahami bahwa Kalamullah itu qadim. Sementara Maturidiah Bukhara berpandangan lain bahwa apa yang tersusun dan disebut sebagai al-Qur’an bukanlah Kalam Allah, tapi sebagai tanda dari Kalam Allah. Kalaupun disebut Kalamullah itu bukan arti yang hakiki tapi dalam arti kiasan.

6. Antropomorphisme, bagi Mu’tazilah dan Maturidiah Samarkand, bahwa Tuhan bersifat immateri dan tidak memiliki sifat-sifat jasmani. Adapun mengenai ayat-ayat yang menujukkan sifat-sifat jasmaniah Tuhan itu harus diberi interpretasi lain. Sedangkan Asy’ariah dan Maturidiah Bukhara menolak pandangan bahwa Tuhan memiliki sifat-sifat jasmani yang sama dengan manusia, adapun ayat-ayat yang menujukkan sifat-sifat jasmaniah Tuhan, merekan meyakini akan hal itu namun tidak boleh diberikan interpertasi.

7. Meliahat Tuhan di akhirat, bagi Mu’tazilah bahwa hal itu tidak mungkin, karena Tuhan bersifat immateri dan tidak mungkin dilihat dengan mata kepala. sedangkan Asy’ariah dan Maturidiah Samarkand dan Bukhara mengaakan bahwa Tuhan dapat dilihat di akhirat.

Catatan Kaki
[1] Muhammad sa’id ramadhan al-Buthi, Mazahib al-tauhid wa al-falsafat al-mu’asharah , (Cet. II; Damaskus: PT Dar al-fikr, 2008), h.12. 
[2] Muhammad said ramadhan al-Buthi, Mazahib al-tauhid wa al-falsafat al-mu’asharah , (Cet. II; Damaskus: PT Dar al-fikr, 2008), h. 24. 
[3] Muhammad anwar hamid isa, Al-syiah bain al-I’tidal wa al-ghuluw, (Cet. II; Mesir: PT Dar al-kutub al-mishriyah, 2006), h. 22. 
[4] Muhammad sayyid ahmad al-musayyar, Qadiyah al-takfir fi al-fikri al-islami, (Cet. II; Mesir: PT Maktabah al-Iman, 2003), h. 86, 87. 
[5] Ibid, h. 12. 
[6] Muhammad Imarah, Tayyarat al-fikri al-islami, (Cet. II; Mesir; PT Dar al-syuruq, 2007), h.21. 
[7] Muhammad Imarah, Tayyarat al-fikri al-islami, (Cet. II; Mesir; PT Dar al-syuruq, 2007), h.308. 
[8] Ibid., h.311. 
[9] Ahmad amin, fajr al-Islam, (Cet. I; Mesir; PT Dar al-syuruq, 2009), h.331. 
[10] Abdul Rozak, Rosihon Anwar, Ilmu kalam, (Cet. II: CV Pustaka Setia. 2006). h. 143. 
[11] Abdul Rozak, Rosihin Anwar. Op.cit. 
[12] Ahmad amin, fajr al-islam, op. cit. 
[13] Muhammad Imarah, Izalat al-syubhat an ma’ani al-musthalahat,( Cet. I; Mesir; PT Dar al-salam, 2010), h.649,650. 
[14] Ibid., h.651. 
[15] Abdul Rozak, Rosihin Anwar. Op.cit., h. 148, 149. 
[16] Muhammad anwar hamid isa. Op.cit., h. 40. 
[17] Harun Nasution, Teologi Islam (Cet.5; Jakarta: UI-Press, 1986), h. 147, 148. 
[18] Muhammad Imarah, Tayyarat al-fikri al-islami, Op.cit., h. 183. 
[19]Noer Iskandar Al-Barsany, Pemikiran kalam Abu Mansur al-Maturidi, (Cet. I; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), h. 89. 
[20] Harun Nasution. Op. cit., h. 148. 
[21] Abdul Rozak, Rosihin Anwar. Op.cit., h. 151. 
[22]Harun Nasution, Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu'tazilah (Cet, I ; Jakarta: UI Press, 1987), h. 44. 
[23] Muhammad ‘Abid al-Jabiri, Madkhal ila al-Qur’an al-Adzim fi Ta’rif al-Qur’an (Cet, II ; Beirut : Markaz Dirasat al-Wahdah al-Arabiyah, 2007), h. 112. 
[24] Harun Nasution. Op. cit., h. 79, 80. 
[25] Mustafa Muhammad yahya abduh, Af’aluhu Ta’ala Fi Dhaui Tahsin al-Aqli wa Taqbihihi Isbatan wa Nafyan. (Kairo: Maktabah Al-Iman, .), h. 11. 
[26] Op.cit., h. 81, 82. 
[27] Muhammad anwar hamid isa. Op.cit., h. 40. 
[28] Abdul Rozak, Rosihin Anwar. Op.cit., h. 122. 
[29] Harun Nasution. Op. cit., h. 80, 81. 
[30] Abdul Al-Syamali, Dirasat fi Tarikh al-Falsafat al-'Arabiyah Al-Islamiyah wa Atsari Rijaliha, (Cet. I, Beirut: Dar Al-Shadr, 1978), h. 196, 197. Baca juga Ahmad amin, fajr al-islam, op. cit., h. 350. 
[31] Harun Nasution, Op. cit., h. 76. 
[32] Ibid., h. 88, 89. 
[33] Mustafa Muhammad yahya abduh. Op.cit., h.69. 
[34] Muhammad said ramadhan al-Buthi. Op.cit., h. 76. 
[35] Harun Nasution, Op. cit., h. 128. 
[36] Abdul Rozak, Rosihin Anwar. Op.cit., h. 153. 
[37] Harun Nasution, Op. cit., h. 102. 
[38] Op. cit., h. 128. 
[39] Abdul Rozak, Rosihin Anwar. Op.cit., h. 156, 157. 
[40] Op. cit., h. 108. 
[41] Ibid., h. 157-159. 
[42] Ibid., h. 166. Lihat juga Harun Nasution, Teologi islam, h. 112. 
[43] Ibid. 
[44] Harun Nasution, Op. cit., h. 31. 
[45] Abdul Rozak, Rosihin Anwar. Op.cit., h. 160. 
[46] Harun Nasution, Op. cit., h. 31. 
[47] Abdul Rozak, Rosihin Anwar. Op.cit. 
[48] Harun Nasution, Op. cit., h. 34. 
[49] Ibid., h. 33. 
[50] Abdul Rozak, Rosihin Anwar. Op.cit., h. 161, 162. 
[51] Op.cit., h. 167. 
[52] Ibid., h. 167-172. 
[53] Abduh al-Syamali, Op, cit., h. 193. 
[54] Abdul Rozak, Rosihin Anwar. Op.cit., h. 173-176.

Demikianlah Makalah Daftar 7 Aliran Teologi (Aqidah) Islam yang Wajib Anda Ketahui. Mudahan bermanfaat.