Inilah Biografi Muhammad Hussein Haikal, Pemikir Hadis ya Menimbulkan Pandangan Kontroversial

Advertisement

Hegemoni pemikiran orientalis dalam dunia Islam sudah sangat kuat, dimana mereka sekehendak hati mengutak-atik dan memutarbalikkan fakta sehingga dengan sendirinya mampu menimbulkan keraguan dalam diri kaum Muslimin akan ajaran agamanya. Keadaan ini sangat mengkhawatirkan. Apalagi setelah diketahui bahwa para cendekiawan muslim pun, yang seharusnya mampu menahan dan mengamankan keadaan ini, ternyata malah terpesona dan terpengaruh pemikiran mereka. Generasi intelektual muslim pun mengalami apa yang dinamakan kejumudan serta kekerdilan berpikir. Mereka kemudian menilai Islam dari luar, bukan dari kacamatanya sendiri sebagai orang dalam, orang Islam.

Kemudian di tengah-tengah masa yang suram tersebut, muncullah para pemikir Islam modern, seperti M. Abduh dan Rasyid Ridha yang mendobrak semua itu. Mereka menawarkan pembaharuan, tajdid dan rekonstruksi, dimana mereka menjadikan sikap kritis sebagai dasar dari semua itu. Banyak pemikir setelahnya yang terinspirasi oleh pemikiran mereka ini, termasuk salah satunya M. Hussein Haekal, pengacara dan penulis berbagai karya monumental, sekaligus pemikir terkemuka dari Mesir.

Makalah ini akan mencoba mengaduk-aduk karya Hussein Haekal, terutama pemikirannya di bidang hadis melalui kitab karangannya Hayat Muhammad. Untuk selanjutnya, makalah ini akan berbicara seputar diri Haekal, kitab Hayat Muhammad, dan pemikirannya yang tersirat dalam kitab. 

Biografi Muhammad Husain Haekal

Nama lengkap beliau adalah Muhammad Husain Haekal. Dilahirkan di desa Kafr Ghanam bilangan distrik Sinbillawain di propinsi Daqahlia, delta Nil, Mesir, pada tanggal 20 Agustus 1888. 

Setelah selesai belajar mengaji al-Qur’an di madrasah desanya, ia pindah ke Kairo guna memasuki sekolah dasar lalu sekolah menengah sampai tahun 1905. Kemudian meneruskan belajar hukum hingga mencapai lisensi dalam bidang hukum (1909). Selanjutnya ia meneruskan ke Fakultas Hukum di Universite de Paris di Perancis, lalu dilanjutkan pula sampai mencapai tingkat doktoral dalam ekonomi dan politik dan memperoleh Ph. D. pada tahun 1912 dengan disertasi berjudul "La Dette Publique Egyptienne". Di tahun itu juga ia kembali ke Mesir dan bekerja sebagai pengacara di kota Mansura, kemudian di Kairo sampai tahun 1922.

Sejak mudanya Haekal tidak pernah berhenti menulis; dari masalah politik, kritik sastra sampai beberapa biografi, dari Cleopatra sampai Mustafa Kamil di Timur, dari Shakespeare, Shelley, Anatole France, Taine sampai kepada Jean Jacques Rousseau dengan gayanya yang khas dan sudah cukup dikenal. Setelah mencapai lebih setengah abad usianya, perhatiannya dicurahkan kepada masalah-masalah Islam. Bukunya yang berjudul "Hayat Muhammad" (Sejarah Hidup Muhammad) dan “Fi Manzil al-Wahyi" (Di Lembah Wahyu) menjadi sangat terkenal. “Dua buku yang sungguh indah dan baru sekali dalam cara menulis sejarah hidup Muhammad." Studinya itu kemudian berlanjut pada penelitian akan Abu Bakr dan Umar. 

Semasa masih mahasiswa hingga menjalankan profesinya sebagai pengacara, ia terus aktif menulis dalam harian Al-Jarida yang dipimpin oleh Ahmad Lutfi as Sayyid, As-Sufur dan Al-Ahram. Umumnya ia memang menulis tentang masalah-masalah sosial dan politik, di samping juga memberikan kuliah dalam bidang ekonomi dan hukum perdata (1917-1922). Tahun itu juga ia terpilih sebagai pemimpin redaksi harian As-Siasah sebagai organ resmi Partai Liberal. Tahun 1926, ia mendirikan mingguan As-Siasa, yang dalam bidang kultural besar sekali pengaruhnya ke seluruh negara-negara Arab. Ia aktif dalam bidang jurnalistik sampai tahun 1938.

Biografi Muhammad Husai Haekal, Pemikir Hadis
Ilustrasi: Saripedia.wordpress.com
Karya-karya Haekal menduduki tempat penting dalam banyak perpustakaan berbahasa Arab. Penulisan novel modern dimulai oleh Haekal. Ia juga menulis serangkaian sejarah Islam dan biografi di samping masalah-masalah politik sebagaimana telah penulis sebutkan sebelumnya. Buku-bukunya dalam sejarah Islam merupakan sumber penting dalam studi keislaman. 

Novelnya Zainab, yang mengisahkan kehidupan petani Mesir, mula-mula ditulisnya semasa ia masih mahasiswa di Paris, dan sebagian ditulisnya di London dan di Jenewa, Swis pada hari libur; telah dibuat film dan dalam festival film internasional di Jerman (1952). Die Liebesromanze der Zenab yang ditulisnya sebagai kenangan kepada tanah air dan masyarakat di kampungnya ini, dalam dua kali pertunjukan telah mendapat sambutan yang luar biasa dan telah terpilih pula sebagai film yang paling berhasil, dilukiskan sebagai “Egyptische Welturauffuhrung in Berlin”.

Tahun 1938 ia menjabat Menteri Negara, kemudian Menteri Pendidikan, lalu Menteri Sosial. Sesudah itu menjadi Menteri Pendidikan lagi dalam tahun 1940 dan 1944. Pada permulaan tahun 1945 ia terpilih sebagai ketua Majelis Senat sampai tahun 1950.

Pada tahun 1943, ia terpilih sebagai ketua Partai Liberal Konstitusi (Liberal Constitutional Party), yang dipegangnya sampai tahun 1952.

Berkali-kali mengetuai delegasi yang mewakili negaranya di PBB, konferensi-konferensi internasionalnya, dalam Interparliamentary Union dan secara pribadi terpilih pula sebagai anggota panitia eksekutif lembaga tersebut.

Beberapa buku dan disertasi tentang sejarah hidup Dr. Haekal telah terbit, diantaranya:

1) Beberapa studi tentang Dr. Haekal, oleh beberapa penulis (1958).
2) Mohammed Hussein Haekal, oleh Baber Johansen, sebuah thesis, Universitas Berlin, 1962.
3) Dr. Mohammad Hussein Haekal, oleh Taha Wadi’, thesis, Universitas Kairo (Fakultas Sastra), 1965.
4) Dr. Mohammed Hussein Haekal, oleh Charles Smith, sebuah thesis, Universitas Michigan, Amerika Serikat, 1968.

Dr. Haekal seorang pengarang yang produktif, baik dalam bidang sastra, kemasyarakatan, maupun politik, yang disiarkan selama ia aktif dalam jurnalistik. Banyak juga naskah-naskahnya yang belum disiarkan. Kembali aktif menulis dalam harian-harian Al-Mishri, dan Al-Akhbar sejak 1953 hingga wafatnya.

Pada mulanya Sejarah Hidup Muhammad ini telah menimbulkan reaksi hebat dan kritik tajam di kalangan bangsa Mesir dan dunia Islam umumnya. Tapi semua itu dihadapinya dengan tenang dan di mana perlu dijawabnya dengan penuh tanggung jawab dan rasional sekali. Meninggal pada 8 Desember 1956.[1]

Karya-karyanya Muhammad Hussein Haikal

Karya Muhammad Hussein Haekal selama hidupnya adalah sebagai berikut:

a. Bidang Sejarah

Hayat Muhammad (1935), Fi Manzil al-Wahyi (1937), Asy-Shiddiq Abu Bakr (1942), Al Faruq ‘Umar (1944-1945) sebanyak dua jilid, ‘Uthman bin ‘Affan (1964),dan Al-Imbraturiah al-Islamiyah wa al-Amakin al-Muqaddasah fi al-Syarq’ al-Aushat (Commonwealth Islam dan tempat-tempat Suci di Timur Tengah) berupa kumpulan studi (1960).

b. Bidang Sastra

Yaumiyyat Baris (1909), Zainab (1914), Tsaurah al-Adab (1933), Waladi
(1931), Hakadza Khulliqat (1955), Fi Auqat al-Firag (1925), Asyarata Ayyam fi al-Sudan (1927), dan Qishas Mishriyyah (1969).

c. Bidang Politik

Jean Jacques Rousseau (1921-1923) sebanyak dua jilid, Tarajim Mishriyyah wa Gharbiyah (1929), Al-Mishriyyah wa al-Inqilab al-Dusturi (1931), Al-Hukumah al Islamiyah (1935), Asy-Syarq al-Jadid (1963), dan Mudhakkirat
fi al-Siasah al-Mishriyyah (1951-1953) sebanyak dua jilid. 

d. Bidang Agama

Al-Iman wa al-Ma’rifah wa al-Falsafah (1965).[2]

Sekilas Tentang Kitab Hayat Muhammad

1. Latar Belakang Penulisan

Banyak buku-buku sejarah tentang kehidupan Nabi itu yang telah ditambah-tambahi dengan hal-hal yang tidak dapat diterima akal hanya demi menguatkan bukunya tersebut. Apa yang ditambah-tambahkan itulah yang dijadikan pegangan oleh kalangan Orientalis dan oleh mereka yang mau mendiskreditkan Islam dan Nabi, juga oleh mereka yang mau mengecam umat Islam; dijadikannya itu tongkat penunjuk dalam kecaman mereka yang cukup memanaskan hati setiap orang yang berpikir jujur.

Dalam berbagai macam bidang beberapa ulama Islam telah tampil dan berusaha menangkis tuduhan orang-orang Barat yang fanatik itu. Dan nama Syaikh Muhammad Abduh tentu yang paling menonjol dalam bidang ini. Tetapi mereka ini tidak menempuh metode yang ilmiah ~seperti didakwakan oleh penulis-penulis dan ahli-ahli sejarah Eropa~ sebab hanya merekalah yang memakai cara itu pada masa itu.[3] Menurut Haekal, untuk membungkam tuduhan para orientalis ini harus dipakai cara yang sama sebagaimana yang mereka agungkan selama ini. Secara tersirat, tujuan ditulisnya buku Hayat Muhammad ini adalah untuk menangkis semua tuduhan-tuduhan orientalis yang tak berdasar seputar kehidupan Muhammad itu secara rasional serta demi mendongkrak semangat para pemuda penerus Islam yang masih diselimuti oleh kekerdilan dan kebekuan berpikir yang terlalu terpesona akan pemikiran orientalis.

Sementara menurut Charles Smith, yang mempersembahkan tesis doktornya (Ann Arbor, 1968) kepada Haekal, menyatakan bahwa Haekal menulis biografi tentang Nabi Muhammad sebagian besar sebagai sarana untuk memperoleh dukungan politik bagi Partai Konstitusionalis Liberal dalam berhadapan dengan rezim Ismail Shidqi. Penggunaan Islam sebagai senjata politik oleh Partai Konstitusionalis Liberal itu dimulai pada akhir 1920-an, ketika Partai ini berusaha mengubah citra dirinya yang dianggap menentang agama setelah kehebohan yang terjadi menyusul Fi al-Syi’r al-Jahili karya Thaha Husain.[4]

2. Isi/Cakupan Kitab

Setelah penulis mencoba mengkaji kitab Hayat Muhammad ini secara lebih mendalam, penulis coba mengklasifikasikan isi kitab ini ke dalam lima bagian, yaitu: [5]

a. Biografi Pengarang Kitab

b. Pengantar dan beberapa Pra-Kata seputar latar belakang penulisan termasuk diantaranya pemaparan berbagai tuduhan orientalis terhadap Muhammad.

c. Penjelasan seputar keadaan bangsa Arab Pra-Islam.

d. Pemaparan berbagai peristiwa dan kejadian selama hidup Nabi SAW dari lahir hingga wafatnya diselingi dengan komentar para orientalis dan ulama Islam masa itu, serta komentar dari pengarang kitab sendiri akan suatu peristiwa yang terjadi.

e. Tambahan dan lampiran.

3. Metode dan Sistematika Penulisan Muhammad Hussein Haikal

Penulisan kitab Hayat Muhammad ini sejalan dengan metode ilmiah modern di Barat ~sebuah metode yang mana mengharuskan seorang peneliti bersikap netral dan mengkosongkan prasangka keyakinan dalam hidupnya sebelum melakukan penelitian, kemudian melakukan observasi yang sistematis, terukur, dan rasional~, bertujuan demi kebenaran, dan untuk kebenaran semata. Metode ini dipilih Haekal untuk menepis pandangan orientalis yang menganggap bahwa Islam adalah agama yang tidak rasional dan dipenuhi mitos dan takhayul. 

Di dalam kitab tersebut dipaparkan beragam peristiwa dan kejadian sepanjang hidup Nabi Muhammad. Peristiwa dan kejadian tersebut dijelaskan secara logis dan rasional oleh Haikal. Beberapa buku yang dikaji Haikal terkait kehidupan Muhammad diantaranya adalah Sirat ibn Hisyam, Tabaqat oleh Ibn Sa’d, al-Maghazi oleh al-Waqidi, demikian juga buku Syed Ameer, Ali The Spirit of Islam. Kemudian juga buku-buku beberapa Orientalis, seperti Dermenghem dan Washington Irving.[6] Namun rujukan utama Haekal dalam penulisan kitab ini tetaplah al-Qur’an al-Karim sebagai sumber paling otentik terkait berbagai peristiwa yang dialami Nabi.

Adapun sistematika kitab ini terdiri atas:

· Biografi Pengarang 
· Kata Pengantar oleh Syaikh Muhammad Mustafa Al-Maraghi
· Prakata 
· Pengantar Cetakan Kedua
· Pembahasan Sejarah Hidup Muhammad dari lahir hingga wafat yang dibagi ke dalam bab-bab yang berjumlah 31 bab.
· Informasi dan lampiran lainnya

Corak dan Metode Berpikir Muhammad Hussein Haikal

Dinamika pemikiran hadis di Dunia Islam modern, khususnya di Mesir, banyak dipengaruhi oleh pemikiran Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha., dimana mereka mengajak umat Islam berpikir kritis atas turats salaf dan juga mengajak pada aplikasi hadis yang tidak hanya taklid buta. Mereka mempromosikan penggunaan akal dengan beragam tingkat kekuatan demi menentang pemikiran muslim tradisional yang menolak menerapkan kritik keras terhadap literatur hadis.[7] Tulisan mereka ini berpengaruh besar pada diri Hussein Haekal hingga kemudian lahir dari tangannya sebuah karya monumental historiografi Nabi Muhammad SAW berjudul Hayat Muhammad.

Sebagai pengikut Abduh, Haekal amat mengutamakan kemerdekaan individu dan kebebasan berpikir. Menurutnya Islam itu mengajarkan kebebasan berpikir, tak ada pertentangan antara agama dan ilmu dan tak akan pernah terjadi pertentangan antar keduanya. Pendapatnya ini dimuat dalam bukunya Al-Iman wa al-Ma'rifah wa al-Falsafah.

Dalam menulis karya-karyanya, Haekal memilih menggunakan metode ilmiah modern yang menurutnya merupakan cara yang baik dalam pandangan ilmu pengetahuan sekarang. Lebih mudahnya, dalam buku-buku terdahulu tidak dibenarkan akan adanya kritik seperti sekarang ini. 

Haekal menerapkan metode ilmiah modern tersebut guna mendukung pemikiran-pemikirannya. Ia hendak meneliti suatu studi yang sesuai dengan metode ilmu pengetahuan sekarang dengan harapan bahwa dia akan membuka jalan untuk keberadaan penyelidikan lebih lanjut dan mendalam di bidang yang sama ataupun lebih luas guna menghantarkan manusia pada peradaban modern yang dicari. Dengan mengadakan penyelidikan demikian, Haekal yakin, banyak rahasia yang semula diduga tak dapat dipecahkan akan terungkap. 

Menurut Haekal, kalangan orientalis telah banyak yang melakukan aktivitas ini, namun sayangnya dalam penelitian dan penyelidikan tersebut, temperamen dan kecendrungan nafsu masih membayangi mereka. Dalam pengujian akan studi mereka, walau sudah berusaha jujur dan teliti, pasti tetap akan terbayang di depan mereka peristiwa-peristiwa yang diciptakan oleh khayal mereka sendiri. Sekiranya orang mau berusaha menurut kemampuannya untuk melepaskan diri dari hawa nafsu dan berpegang pada cara-cara ilmiah saja, tentu hasil studi dan tulisan mereka akan berpengaruh kuat bagi penikmatnya.

Pemikiran Haekal tentang Hadis

Hussein Haekal menaruh perhatian lebih pada matan hadis ketimbang sanad hadis. Dia adalah pengikut Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Haikal tidak percaya dengan hadis-hadis yang tidak masuk akal. Dia juga sangat kritis terhadap hadis-hadis Isra' Mi'raj. Dia mengutip beberapa hadis yang dianggapnya shahih secara matan, meski sanadnya lemah. Seperti matan dari riwayat Aisyah, Ummu Hani, dan Muawiyah adalah shahih walau sanadnya lemah. Karena semua matannya sesuai dengan Alquran: al-Isra: 60, al-Kahfi: 110, an-Nisa: 68. 

Segala usaha penelitian telah dilakukan oleh para penghimpun hadis selama ini, tapi masih banyak hadis yang oleh mereka sudah dinyatakan sahih itu, dinilai oleh beberapa ulama lain masih dinyatakan tidak otentik. Dalam Syarah Muslim, an-Nawawi menyebutkan: 

“Ada golongan yang mencoba mengoreksi hadis-hadis Bukhari dan Muslim tapi golongan tersebut tidak menghiraukan syarat-syarat acuan keduanya dan mengurangi pula makna yang menjadi pegangan mereka, yaitu kriteria mereka yang disandarkan pada sanad (askripsi) dan pada kepercayaan mereka kepada sumber cerita sebagai dasar untuk menerima atau menolak hadis itu. Ini memang suatu kriteria yang berharga. Tetapi hanya itu saja tentunya tidak cukup.”

Menurut Haekal, kriteria yang baik dalam mengukur otensitas hadis ~dan mengukur setiap berita yang berhubungan dengan Nabi~ ialah seperti yang pernah diriwayatkan Nabi SAW suatu ketika:

“Kamu akan berselisih sesudah kutinggalkan. Oleh karena itu, apa yang dikatakan orang tentang diriku, cocokkanlah dengan al-Qur’an. Mana yang cocok itu dariku dan mana yang bertentangan, itu bukan dari aku.”

Ini adalah suatu kriteria yang tepat, yang sudah menjadi pegangan pemuka-pemuka Islam sejak permulaan sejarah Islam. Dan sampai sekarang mereka sebagai ahli pikir masih berpegang pada ini. Seperti dikatakan oleh Ibn Khaldun: 

“Saya tidak percaya akan kebenaran sanad sebuah hadis, juga tidak percaya akan kata-kata seorang sahabat terpelajar yang bertentangan dengan Qur’an, sekalipun ada orang-orang yang memperkuatnya. Beberapa pembawa hadis dipercayai karena keadaan lahirnya yang dapat mengelabui, sedang batinnya tidak baik. Kalau sumber-sumber itu dikritik dari segi matan (teks), begitu juga dari segi sanadnya, tentu akan banyaklah sanad-sanad yang akan gugur karena matan. Orang sudah mengatakan bahwa tanda hadis maudhu' itu ialah yang bertentangan dengan kenyataan Qur’an atau dengan kaidah-kaidah yang sudah ditentukan oleh hukum agama (syariat) atau dibuktikan oleh akal atau pancaindra dan ketentuan-ketentuan aksioma lainnya.”

Kriteria inilah yang terdapat dalam hadis Nabi tersebut. Dan apa yang dikatakan oleh Ibn Khaldun tadi sesuai sekali dengan kaidah kritik ilmiah modern sekarang.[8]

Hadis-hadis itu dipalsukan orang karena memang ada maksud politik atau kemauan-kemauan insidentil lainnya. Demikian banyaknya hadis-hadis palsu itu sehingga kaum Muslimin kemudian terkejut sekali, karena ternyata banyak pula yang tidak cocok dengan yang ada dalam Kitabullah. Usaha untuk menghentikannya pun sudah banyak pula dikerahkan pada zaman Umayyah, tapi tidak juga berhasil.

Pada masa dinasti Abbasiyyah dan Ma’mun yang berkuasa saat itu, dua abad kemudian sesudah Nabi wafat, puluhan atau ratusan ribu hadis-hadis maudhu’ itu sudah tersebar ~diantaranya terdapat banyak yang lemah dan kontradiksi sekali~. Oleh karena itu, untuk menentukan validitas dan keotentikan hadis tersebut apakah benar-benar bersumber dari Nabi atau bukan, maka harus dicocokkan dengan Qur’an. Mana yang cocok maka itu dari Nabi, mana yang bertentangan harus ditinggalkan.

Sekiranya kriteria itu dipakai dengan penelitian sebagaimana mestinya, segala yang sudah ditulis oleh para penghimpun hadis sebelumnya itu niscaya akan berubah. Kritik ilmiah menurut metode modern sama sekali tidak berbeda dari kriteria ini. Akan tetapi situasi masa itu mengharuskan tokoh-tokoh tersebut menyesuaikan kriteria mereka itu untuk sesuatu golongan. Kalau orang mau berlaku jujur terhadap sejarah, tentu mereka akan menyesuaikan hadis itu dengan sejarah hidup Nabi, baik dalam garis besar, maupun dalam perinciannya, tanpa mengecualikan sumber lain yaitu al-Qur'an, hukum alam dan akal. Yang tidak cocok dengan yang ada dalam Qur’an dan tidak sejalan dengan hukum alam ~setelah dilakukan pembuktian terlebih dahulu~, tidak perlu mereka catat. 

Pendapat ini telah dijadikan pegangan oleh para imam terkemuka dari kalangan Muslimin dahulu, dan banyak imam di zaman sekarang. Syaikh Muhammad Mustafa al-Maraghi dalam kata perkenalan buku ini menyebutkan: “Kekuatan mukjizat Muhammad s.a.w. hanyalah dalam Qur’an, dan mujizat ini sungguh rasional adanya." 

Almarhum Sayyid Muhammad Rasyid Ridha, Redaktur majalah Al-Manar dalam menjawab kritik orang yang menentang kitab ini, menulis: "Qur’anlah satu-satunya pembuktian Tuhan yang positif khusus tentang kenabian Muhammad SAW. dan kenabian para nabi yang lain. Ciri-ciri mereka pada zaman kita sekarang ini tak dapat dibuktikan tanpa kenyataan ~keberadaan al-Qur'an~ tersebut."[9]

Studi Kritis Ata Pemikiran Hussein Haekal tentang Haids

Sebagai manusia, terlepas dia disegani atau tidak, terkenal ataupun tidak, pastilah memiliki kelebihan dan kekurangan dalam dirinya. Apalagi menyangkut buah pemikirannya yang tak akan terlepas dari unsur subjektivitas pemikirnya. Adakalanya pemikiran seseorang itu dinilai salah atau ketinggalan zaman oleh orang semasanya ataupun generasi setelahnya. Namun terlepas dari semua itu, sebagai generasi Islam hendaklah kita selalu mengapresiasi dengan baik berbagai pemikiran yang muncul di dunia Islam sebagai khazanah keilmuan Islam yang berharga.

Berbicara mengenai pemikiran Haekal kali ini, penulis coba untuk menganalisa sejauhmana pemikiran tersebut dapat diaplikasikan di masa sekarang. Beberapa kelebihan yang penulis temukan akan pemikiran Haekal ini, yaitu sebagai berikut:

a. Sikap kritisnya akan riwayat-riwayat sejarah dan sirah. Sikapnya ini tercermin ketika beliau membahas dalam kitabnya Hayat Muhammad beberapa riwayat yang terkesan merusak citra Islam karena bertentangan dengan ilmu dan akal. Ada dua faktor yang membuatnya tidak sembarang menerima riwayat mengenai biografi Nabi. Pertama, adanya perbedaan riwayat dalam kitab-kitab sirah dan hadis mengenai biografi Muhammad, baik itu tahun lahir, wafat, dan hal-hal lain, khususnya yang terkait mukjizat. Kedua, waktu penulisan sirah Nabi yang terlambat. Kitab sirah pertama ditulis setelah seratus tahun Nabi wafat bertepatan dengan masa Islam yang penuh konflik.

b. Haekal menggunakan metode ilmiah dengan berbagai pendekatan dari beragam disiplin ilmu modern. Banyak serangan dan pendapat orientalis yang dibantah Haekal dengan menggunakan pendekatan ilmu modern, seperti kedokteran, psikologi, dan lain-lain.

c. Bahasa yang digunakan mengandung sastra yang tinggi tapi tetap mudah dipahami. Hal ini wajar mengingat Haekal juga sastrawan.

d. Sumber yang dijadikan rujukan dalam Hayat Muhammad hanya sumber-sumber berbahasa Arab dan tidak mengambil dari tulisan orientalis. Dia menjadikan al-Qur'an sebagai sumber sejarah pertama yang tak ada keraguan di dalamnya. Haekal hanya mengambil tulisan orientalis sebagai sumber untuk dibandingkan saja atau dijadikan pelurus pendapat yang beliau kritik.

Di balik kelebihan pasti ada kekurangan, itulah hukum alam. Beberapa poin yang perlu penulis garisbawahi seputar pemikiran Haekal ini adalah:

a. Pola pikir Haekal terlalu rasional hingga seolah-olah tidak mempercayai adanya mukjizat Nabi yang menurut beliau bertentangan dengan rasio.

b. Ukuran keshahihan yang terlalu sempit. Tidak semestinya langsung menolak hadis yang matannya tampak bertentangan dengan al-Qur'an, hukum alam, dan akal secara serta merta. Adakalanya memang pemahaman dan pemikiran manusia belum mampu menangkap makna tersirat di baliknya.

c. Sedikit menyebutkan sumber-sumber primer atau sanad-sanad riwayat penyusunan biografi Nabi dalam Hayat Muhammad.

Kritik Terbuka akan Kitab Hayat Muhammad

Secara khusus penulis ingin mengkritisi kitab Hayat Muhammad, baik dari segi isi maupun metodenya. Terlepas apakah nantinya pemikiran penulis ini benar atau salah, penulis hanya ingin mengungkapkan ganjalan di hati ketika sedikit membaca kitab Hayat Muhammad. Pada sebagian pertama, kitab ini tak ada bedanya dengan tulisan seorang orientalis Barat walau penulisnya menyatakan bahwa dia membela Rasulullah dari berbagai tuduhan dan serangan orientalis yang tidak berdasar. 

Di dalam kitabnya Haekal seringkali menuliskan perbedaan pendapat baik itu yang datang dari para ulama ataupun orientalis, tapi kemudian tidak ada analisis lebih lanjut yang menyatakan kebenaran salah satunya, baik menurutnya sendiri ataupun kesepakatan ulama. Jadi, hanya sebatas menyebutkan pendapat dan sedikit penjelasan. 

Dengan berdalih seakan-akan ia adalah seorang pahlawan yang menggunakan metode ilmiah dan metode modern, ia kemudian menyusun kitabnya, padahal pada kenyataannya ia hanya memulai mengulang kembali apa yang telah diselesaikan oleh para ulama sejak abad pertama, semisal penjelasan beliau pada peristiwa Gharaniq yang hanya mengutip kembali perkataan Ibn Ishaq (w. 151 H), “Sesungguhnya itu adalah pemalsuan (karangan) orang-orang zindiq”. Jadi hendaknya metode ilmiah dan modern apa yang dimaksud Haekal, itu semestinya perlu dipertanyakan bentuknya dan kejelasannya.

Mengenai metode modern dan metode kontemporer yang beliau usung dalam penyusunan kitab itu sendiri, tidak dijelaskan lebih lanjut mengenai alur dan jalan-jalannya, tidak digariskan rambu ataupun tanda-tandanya. Sejak awal terlihat bahwa peristiwa-peristiwa dan analisanya diuraikan tanpa metode dan batasan yang jelas. Peristiwa-peristiwa tersebut hanyalah berupa kumpulan narasi yang dipilih berdasarkan perasaan pengarangnya dan sesuai pendapat si pengumpulnya.[10] Sementara apabila kita melihat orang-orang yang disebutkan dan diremehkan oleh penulis ~para ahli hadis dan sirah~ selama ini, kita tahu mereka adalah orang-orang yang memiliki metode, aturan, dan kriteria yang sudah jelas dan diakui di masanya. Metode mereka tercatat dalam buku-buku musthalah dan biografi para periwayat (kutub al-rijal) yang sampai pada kita. 

Kemudian mengenai pengakuan Haekal yang menyatakan bahwa sumber sirah paling otentik adalah al-Qur'an, hal ini perlu dikritisi dan ditinjau ulang karena dalam pembahasan kitab tersebut tidak tampak bekas atau pengaruh ayat-ayat al-Qur'an.[11]

Kesimpulan

Secara garis besar, ada beberapa hal mendasar yang dapat disimpulkan di sini. Penulis membaginya dalam beberapa poin, yaitu sebagai berikut:

Dengan latar belakang riwayat hidup Haekal yang kebanyakan berkutat di bidang politik dan jurnalistik, tak mengherankan banyak karya fenomenal lahir dari tangannya.

Kitab Hayat Muhammad yang merupakan salah satu hasil goresan penanya adalah sebuah historiografi tentang Muhammad yang disusun dengan metode ilmiah modern, sebagaimana pengakuan pengarangnya sendiri. Kitab ini menjadi pedoman banyak kalangan untuk mengetahui alur sejarah kehidupan Rasulullah. Walau kemudian pada kenyataannya memang harus diakui bahwa kitab ini memiliki kelebihan dan kekurangan juga sebagaimana semua hal di dunia ini.

Sebagaimana disebutkan selintas dalam kitabnya tersebut, Haekal termasuk orang yang lebih memperhatikan matan hadis ketimbang sanadnya. Menurutnya, hadis akan diterima apabila matannya tidak bertentangan dengan al-Qur’an, hukum alam, dan akal. Ini didasarkannya dengan mengutip riwayat dari Nabi sendiri dan penjelasan lebih lanjut dari Ibn Khaldun.

Demikian sedikit hal yang bisa penulis sampaikan melalui makalah ini. Terlepas apakah keterangan penulis dapat diterima ataupun tidak, hanya inilah yang mampu penulis sajikan. Oleh karena itu, untuk selanjutnya, penulis sungguh mengharap kritik dan saran dari Bapak Dosen dan teman-teman semua untuk rekonstruksi makalah yang akan darang.

Wallahu A’lam!

Catatan Kaki

Fathoni, Ahmad Atha’illah. 2007. Leksikon Sastrawan Arab Modern: Biografi dan Karyanya. Yogyakarta: Datamedia.
Haekal, Muhammad Hussein. 2008. Sejarah Hidup Muhammad. Pustaka online MEDIAISNET.
Haekal, Muhammad Hussein. Hayat Muhammad. Beirut: Dar al-Qalam.
Hamidah, Faruq. 1998. Kajian Lengkap Sirah Nabawiyah. Jakarta: Gema Insani.
Juynboll, G. H. A. 1999. Kontroversi Hadis di Mesir, terj. Ilyas Hasan. Bandung: Mizan.
Munawwir, Ahmad Warson. Kamus al-Munawwir: Arab-Indonesia. Surabaya: Pustaka Progressif.
Speight, R. Marston. 2002. "Hadis" dalam Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern terj. Eva Y. N. Dkk. Bandung: Mizan.

[1] Muhammad Hussein Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, (pustaka online MEDIAISNET), hlm. i. 
[2] Ahmad Atha’illah Fathoni, Leksikon Sastrawan Arab Modern: Biografi dan Karyanya, (Yogyakarta: Datamedia, 2007), hlm. 111 
[3] Sejarah Hidup Muhammad,, hlm. 6. 
[4] G. H. A. Juynboll, Kontroversi Hadis di Mesir, terj. Ilyas Hasan, (Bandung: Mizan, 1999), hlm. 53. 
[5] Perlu diketahui kalau yang menjadi rujukan utama makalah ini adalah kitab Hayat Muhammad yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Sejarah Hidup Muhammad oleh Ali ‘Audah, di mana di dalamnya terdapat biografi pengarang. Sementara pada kitab original Hayat Muhammad sendiri terbitan Dar al-Qalam, biografi pengarang, sejarah pembentukan mushaf al-qur’an menurut ahli sejarah non-muslim, dan kotbah 'arafat tidak ditemukan. 
[6] Sejarah Hidup Muhammad, hlm.5. 
[7] R. Marston Speight, "Hadis" dalam Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern terjemah Eva Y. N. dkk (Bandung: Mizan, 2002), hlm. 129. 
[8] Sejarah Hidup Muhammad, hlm. 13. 
[9] Sejarah Hidup Muhammad, hlm.14. 
[10] Faruq Hamidah, Kajian Lengkap Sirah Nabawiyah(Jakarta: Gema Insani, 1998), hlm. 154 
[11] Rekan Haekal, al-Ustadz al-Sayyid Ahmad Luthfi telah memberikan kepadanya sekumpulan ayat yang diklasifikasikan dalam tema-tema kehidupan Nabi SAW. Namun, tidak tampak pengaruh ayat-ayat tersebut dalam pembahasan malahan ia memuat ayat tersebut bukan pada tempat semestinya dan menjadikannya argumen yang tidak nyambung.



0 Response to "Inilah Biografi Muhammad Hussein Haikal, Pemikir Hadis ya Menimbulkan Pandangan Kontroversial"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!