Inilah Hukum Takziyah, Antara Empati dan Keharaman?

Advertisement

Hukum Takziyah
Sebuah Representasi Hubungan Iman Dan Empati

Oleh: Mus’idul Millah (07530058)

Sesuai fitrah, kita diciptakan oleh Allah SWT sebagai makhluk sosial. Interaksi dengan orang lain menjadi kebutuhan mutlak. Sehingga bisa terjadi sosialisasi, saling tolong menolong dan saling melengkapi sesuai kemampuan yang melekat pada diri masing-masing.

Pernahkah kita memikirkan saat kita menikmati makanan, berapa jumlah orang yang telah berkontribusi terhadap kita? Makanan yang kita makan melibatkan sekian orang petani, peternak, nelayan, pedagang bahan makanan, pengemudi kendaraan yang mengangkut bahan makanan. Untuk mengolah bahan makanan diperlukan bahan bakar berupa gas atau minyak tanah. Ribuan orang bekerja di pabrik pengolah gas, kilang minyak tanah, dan sumur penambangan gas dan minyak bumi. Kompor, panci, wajan untuk mengolah makanan diproduksi di pabrik yang juga melibatkan sekian banyak pekerja. Subhanallah, rahmat Allah SWT diturunkan kepada kita dengan perantaraan sekian banyak orang, sehingga kita bisa menikmati makanan yang merupakan kebutuhan hidup.

hukum takziyah
Ilustrasi: Foto.uii.ac.id

Ilustrasi di atas sebagai sekedar contoh. Ternyata satu jenis nikmat Allah SWT kepada kita datang dengan berbagai cara dan jalan yang dikehendaki-Nya. Padahal nikmat-Nya tak terhitung banyaknya. Orang-orang di sekitar kita dan di tempat lain yang tidak kita ketahui telah memberikan manfaat untuk kita. Sewajarnya kita tidak perlu merasa hebat. Keberhasilan kita dalam berbagai hal tidak bisa dianggap karena peran sendiri. Orang lain ikut berperan sesuai kemampuannya. 

Orang bijak mengatakan, ”Lupakanlah kebaikan-kebaikan kita kepada orang lain. Namun ingatlah selalu kebaikan-kebaikan orang lain pada diri kita. Lupakan pula kesalahan-kesalahan orang lain pada diri kita, sebaliknya ingatlah selalu kejelekan-kejelekan yang telah kita lakukan terhadap orang lain. ”

Mengapa Harus Berempati?

Fenomena kehidupan dunia saat ini sangat hedonis. Dampaknya, manusia mempunyai kecenderungan untuk bersifat egoistik. Lebih mementingkan diri sendiri dan mengabaikan kepentingan orang lain. Banyak contoh nyata egoisme yang ditemui sehari-hari dalam kehidupan. Bisa jadi, kita telah melakukan praktek-praktek egoisme tersebut secara sadar ataupun tidak. Harus disadari bahwa egoisme adalah suatu penyimpangan dari jalan yang diridhoi-Nya.

Untuk mengantisipasi sifat egoistik yang ada pada diri kita diperlukan suatu ikhtiar, yaitu dengan menumbuhkan empati. Empati merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam interaksi antar pribadi. Dengan empati, kita bisa saling memahami apa yang dirasakan oleh orang lain. Sehingga kita tidak akan meraih tujuan yang menyebabkan penderitaan dan kesengsaraan pada orang lain. Pada dasarnya, empati itu telah tertanam pada diri setiap manusia. Suatu sunatullah yang telah dilekatkan pada penciptaan manusia oleh Allah SWT.

Saling memahami antar pribadi yang timbul dari empati akan meningkatkan kesadaran akan saling ketergantungan. Karenanya akan timbul keinginan saling bekerjasama. Selanjutnya akan timbul keinginan untuk mendahulukan kepentingan orang lain. Akhirnya terjalin rasa belas kasihan dan tenggang rasa terhadap sesama hamba Allah SWT.

Empati Rasulullah SAW dalam Kehidupan Sehari-hari

Rasulullah SAW, panutan kita, mempunyai empati yang dalam terhadap orang lain seperti yang tergambar dalam ayat berikut ini. “ Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. ” (QS At Taubah [9]:128).
“sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul daru kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat blas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”.

Mengapa Manusia Perlu Berempati

Dalam satu riwayat, Rasulullah pernah bersabda: “ Seorang muslim bersaudara dengan sesama Muslim lainnya, tidak boleh menganiaya dan tidak boleh dibiarkan dianiaya oleh orang lain. Dan barangsiapa yang menyampaikan hajat saudaranya, niscaya Allah akan menyampaikan hajatnya. Dan barangsiapa membebaskan kesukaran seorang Muslim di dunia, niscaya Allah akan membebaskan kesukarannya di hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi kejelekan seorang Muslim, niscaya Allah akan menutup kejelekannya di hari kiamat. ” (HR Bukhari Muslim).

Cuplikan terjemahan hadis di atas menekankan tentang pentingnya empati dengan memahami permasalahan yang dihadapi oleh orang lain. Kepedulian terhadap kesulitan orang lain merupakan indikator sejauh mana rasa ukhuwah seseorang terhadap orang lain. Dalam hal ini atribut-atribut duniawi seperti pangkat, kedudukan ataupun status sosial harus ditanggalkan. Harus disadari bahwa kita semua adalah hamba Allah SWT.

Kita selalu membutuhkan bantuan orang lain dalam berbagai hal. Kondisi tidak bisa berbuat sesuatu, seperti saat kelahiran atau saat kematian menunjukkan contoh betapa pertolongan orang lain sangat kita butuhkan. ” Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. ” (QS Al-Maa-idah [5]:2)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melnggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatng-binatang had-nya, dan bintng-binatang qalaa’id, dan jangan pula mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keridhoan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, makah bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjid al-Haram, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, ssungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”.

Manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang sempurna dan terbaik dibandingkan dengan makhluk yang lainnya (QS. 95:4), karena sangat tergantung pada hatinya: “Kalau hati itu baik maka baiklah seluruh badannya, tapi kalau hati itu rusak, maka rusaklah seluruh badannya” (HR. Muttafaq’alaih). Sedang Prof. DR. Dr. Rusdi Lamsudin seorang guru besar di Fakultas Kedokteran UGM menyatakan dalam teori kedokteran tidak ada seorang dokterpun yang berani menegaskan hati yang mana yang dimaksudkan Rasulullah itu. Untuk itu kita akan mempelajari dan mendalami ilmu Allah yang tertebar di alam ini.

Potensi Hati yang diberikan oleh Allah berfungsi untuk memahami ayat-ayat Allah, baik yang tertulis (kitab suci) maupun yang tidak tertulis (alam semesta). Menurut Imam Al Ghozali hati dibedakan menjadi dua, hati yang kasar (fisik) yang berupa liver/hepar/heart, sedangkan hati yang halus (non fisik) disebut dengan akal. Potensi fitrah yang akan kita kuatkan di sini adalah hati yang halus itu (akal), dengan demikian yang kita maksudkan dengan membangun kecerdasan hati disini adalah membangun kecerdasan hati yang halus yaitu kecerdasan akal.[1]

Iman, Rasio, dan Rasa.

Orang yang berakal adalah orang yang berdzikir, berfikir, dan ikhtiyar, sehingga akal dapat terdiri dari 3 bagian pentin, yaitu: Iman, Rasio, dan Rasa. Secara pemahaman Iman melahirkan SI (Spiritual Intelligence), yaitu kecerdasan spiritual, sedang Rasio melahirkan EI (Emotional Intelligence), yaitu kecerdasan intelektual, dan Rasa melahirkan EI (Emotional Intelligence), yaitu kecerdasan emosi.[2]

Untuk memahami potensi fitrah yang merupakan kesempurnaan manusia, maka perlu difahamkan dan dikuatkan kembali katiga potensi (unsur) dasar/fitrah manusia, yaitu Iman, Rasio, Rasa. Dr. Taufik Pasiak mengistilahkan dengan Otak Rasio, Otak Intuitif, dan Otak Spiritual. Sebagai perbandinga, Malaikat punya Iman tapi tidak punya rasa, sehingga malaikat tidak pernah menyimpang (selingkuh), sedangkan binatang punya sejenis rasa (instink) tapi tidka punya rasio, sehingga tidak bisa dibedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Potensi pertama adalah Rasio (Otak Rasional). Rasio inilah sebagai sarana untuk kita untuk mengindera semua yang ada di alam jagad raya ini, misalnya kita dapat melihat manusia, rumah, mobil, kedudukan. Otak rasio ini cenderung otak kiri (Short Term Memory) yang cara kerjanya antara lain: konvergen, digital, abstrak, proporsional, analitik, linear, rasional, dan obyektif. Potensi Fikir/Rasio yang melahirkan IQ tetap harus dimiliki, karena inilah yang memberikan sentuhan pada kehidupan manusia dari aspek pemahaman (Faqih) ilmu dan teknologi untuk dapat mengelola alam ini denganbaik. Ini dapat dilatih dengan memahami dan menganalisa permasalahan yang dihadapi setiap saat atau dengan mengamati langsung baik melihat secara nyata (QS. 3:137) maupun dengan tayangan multi media. Namun kalau hanya dengan rasio (otak kiri) saja, ini tidaklah cukup, karena hal ini sering menjebak manusia kalau sekedar mengukur keberhasilan manusia hanya berdasar IQ saja (Sri Gunung), karena ternyata dalam suatu penelitian diperoleh hasil bahwa maksimum IQ hanya 20 % memberi kontribusi terhadap keberhasilan manusia. Tapi untuk membangun IQ manusia susah payah melakukan pengamatan, penyelidikan bertahun-tahun, namun bagaimana dengan menyadarkan potensi yang lain?

Potensi Kedua yang ada pada manusia adalah Rasa (Otak Intuitif), yaitu kemampuan seseorang untuk dapat merasakan apa yang ada pada sekelilingnya sehingga lahirlah kecerdasan emosi (EI). Kecerdasan rasa (otakintuitif) ini cenderung menggunakan otak kanan (Long Term Memory), yang cara kerjanya antara lain: divergen, analogi, primer, konkret. sintetik,holistik, relasional, subjektif. Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasullullah SAW terhadap seorang sahabatnya, sebagai berikut: “Ada dalam suatu riwayat diceritakan bahwa seorang sahabat menghadap Rasulullah SAW, dia secara IQ sudah faham bahwa berzina itu tidak boleh bahkan hafal ayatnya (QS. 17:32), tetapi dia tetap minta izin pada Rosul untuk berzina. Rosul faham bahwa sahabat tersebut kecerdasan emosinya (EI)nya rendah, sehingga sahabat tadi diajak merasakan dengan ditanya: bagaimana kalau suatu saat Ibumu yang dizinai orang lain?, bagaimana kalau suatu saat saudara perempuanmu yang dizinai orang lain?, bagaimana kalau istrimu yang dizinai orang lain?, dan bagaimana kalau anak kamu yang dizinai orang lain, boleh?. Semuanya ditentang oleh sahabat tadi, yang akhirnya dia tidak jadi berzina, karena dia sadar kalau dia menzinai seorang perempuan pasti ada orang lain yang tidak setuju dan kalau ketahuan akan dibunuh, seperti yang dia rasakan dan pikirkan, apakah itu anaknya, saudaranya, suaminya, atau bapaknya dari perempuan yang dia ajak berzina.

Kecerdasan Emosi (EI) untuk merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain (empati) atau kalau Rosulullah bersabda: tidaklah beriman kalian kalau kalian tidak mencintai orang lian seperti kaian mencintai dirimu sendiri, ini semua tidaklah cukup dilatih dengan sekedar difikirka, tetapi harus berinteraksi dan merasakan secara langsung sehingga diperoleh suatu penghayatan (Tafakur). Proses mengolah rasa ini memerlukan penjagaan yang terus menerus secara kontinue, oleh karena itu membutuhkan pengkondisian hati dengan suatu yang nampak (real), misalnya dengan terjun langsung pada akar permasalahan yang kita hadapi (tidak cuek).

Potensi Ketiga adalah Iman (Otak Spiritual), inilah potensi fitrah yang selalu melekat pada diri manusia, siapapun dia pasti menginginkan masuk syurga, hidup dalam kedamaian, keikhlasan, kasih sayang dan mendapatkan keridhoan dari Sang Pencipta. Iman inilah yang melahirkan kecerdasan Spiritual (SI) yang dapat dilatih dengan merenung dan memaknai hidup ini dengan benar sesuai dengan aturan Sang Pencipta sehingga lahirlah pemaksanaan yang benar (Dabara) dalam hidup di Bumi Allah ini. Namun kesadaran ini kadang muncul kadang tenggelam. Saat muncul manusia mampu mendengarkan suara hatinya yang telah diturunkan oleh Allah dari nama dan sifat Allah ke dalam jiwanya, maka kemulian hidupnya dapat bermanfaat bagi kehidupan orang lain. Namun ketika suara hari nuraninya hanya sayup-sayup terdengar dan bahkan akhirnya tenggelam tidak muncul, artinya terhalangi oleh penyimpangan kehidupan manusia yang datangnya hawa nafsu jelek manusia yang berupa: penyimpangan naluri (ketuhanan, kemanusiaan, kealaman), penyimpangan tabiat (kesukuan, lingkungan, pola hiudup), dan syahwat (harta, tahta, biologis), maka hidupnya tidak menentu (split personality), seperti pribadi tanpa petunjuk dan hidupnya akan banyak permasalahan.

Potensi keimanan ini sebenarnya telah tertanam di dalam jiwa manusia sejak kita di alam Ruh, sebagaimana Firman Allah (QS. 91:8-10): “maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan (kejelekan) dan ketaqwaannya (kebaikan), sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa it, dan sesungguhnya merugilah orang yang mnegotorinya” Jiwa bersemayam didalam hati, maka jiwa inilah tumpuan amal kebaikan dan keburukan manusia. Manusia diberikan kebebasan untuk mengelola jiwa, apakah mau disucikan atau dikotori?, dan bahkan perubahan (reformasi) suatu kaum/negara/lembaga tidak akan terjadi kalau tidak diawali perubahan dari masing-masing jiwa manusia yang terlibat dalam negara/lembaga itu sendiri (QS. 13:11).

Kata kunci untuk menyucikan/membersihkan semua yang menghalangi kefitrahan hari manusia itu adalah dengan ikhlas. Tetapi untuk membangun keikhlasan sehingga manusia berbuat hanya untuk Allah semata dan mampu mendekati dan menyatu dengan kehendak dan sifat Allah, tidaklah ssemudah membalikkan tangan kit, maka diperlukan suatu pengkondisian dan latihan yang kontinue setelah adanya penyadaran bahwa Allah-lah Sang Pencipta alam semesta beserta dengan isinya termasuk manusia, Allah-lah Sang Pemilik, dan yang berhak mengatur kehidupan di alam semesta ini. Ibarat kita pemilik rumah, maka kitalah yang berhak mengaturnya, dan kalau ada orang lain yang masuk tak diundang, merusak, mencuri, maka akan kita usir dan kita panggilkan polisi kalau perlu dibawa ke penjara. Betapa Maha Pengasih dan Penyanyangnya Allah terhadap manusia, karena banyak manusia yang melakukan perbuatan kesalahan di bumi Allah, tapi Allah masih memberikan kesempatan kepada manusia untuk memperbaiki diri dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Bijaksana.

Suatu proses membangun kecerdasan hati agar selalu ikhlas dengan cara mensinergikan ketiga potensi fitrah manusia itu, yaitu antara Rasio (IQ) sehingga cerdas dan melahirkan simpati, Rasa (EI) sehingga lahirlah trampil dan melahirkan empati, dan Iman (SI) sehingga taqwa dan lahirlah telepati, diperlukan suatu koordinasian dengan suatu model pelatihan dengan didukung multi media untuk membangun kecerdasan hati mensinergikan kecerdasaan intelektual, emosi dan spiritual dengan harapan dapat dijadikan stimulasi untuk mendukung terciptanya manusia unggul (Ulil Albab) terpada antara IQ, EI, dan SI

Kajian Matan Hadits tentang Hukum Takziyah

Dalam pembahasan kali ini penulis ingin mengangkat satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Tirmidzi untuk kemudian melakukan takhrij al-hadits secara sederhana dan memberikakn sedikit penjelasan sebelum berbicara lebih lanjut mengenai takziyah.

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ بْنُ أَسْبَاطِ بْنِ مُحَمَّدٍ الْقُرَشِيُّ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ الْأَعْمَشِ قَالَ حُدِّثْتُ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ فِي الدُّنْيَا يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ عَلَى مُسْلِمٍ فِي الدُّنْيَا سَتَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ ابْنِ عُمَرَ وَعُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ وَقَدْ رَوَى أَبُو عَوَانَةَ وَغَيْرُ وَاحِدٍ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَهُ وَلَمْ يَذْكُرُوا فِيهِ حُدِّثْتُ عَنْ أَبِي صَالِحٍ[3]

Secara singkat, matan hadits tersebut dapat diterjemahkan sebagai berikut:

“Barang siapa yang membebaskan seorang muslim dari satu kesulitan diantara sekian banyak kesulitan di dunia, maka Allah akan membebaskan ia dari kesulitan diantara berbgai kesulitan pada hari kiamat. Dan barang siapa memberikan kemudahan pada orang yang kesulitan di dunia, maka Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan di akhirat. Dan brang siapa yang menutui (aib) seorang muslim di dunia, maka Allah akan mentupi aibnya di dunia dan di akhirat. Dan Allah senantisa menolong hambanya selama ia mau menolong sesama saudaranya”

Takhrij dan Tahqiq Hadits Takziyah

Adapun transformasi hadits diriwayatkan oleh al-Tirmidzi dari Ubaid bin Asbath, dari Asbath bin Muhammad, dari al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, sampai kpada Rasul saw. Sebenarnya, jika kita analisa kualitas ruwwat hadits ini satu-persatu, hampir semuanya diberi penilaian tsiqah oleh para ulama, kecuali Ubaid bin Asbath yang diberi penilaian shaduq. Akan tetapi ternyata sanad hadits tersebut terputus diantara Abu Shalih dan al-A’masy, sehingga hadits ini disebut dengan hadits munqathi’. Kendati demikian, ternyata terdapat jalur lain -bahkan al-Tirmidzi sendiri memiliki jalur lain yang dinilai shahih- yang bisa mendukung kualitas hadits ini dan menjadi indikator bahwa hadits ini memiliki landasan dan hujjiyah baik dari segi ahwal al-sanad wa al-ruwwat dan esensi yang terkandung di dalam hadits. 

Apakah ada Korelasi Takziyah dan keimanan?

Kata takziyah berasal dari bahasa Arab ta’ziyah (تعزية) yang merupakan bentuk masdar dari kata ta’azzā-yata’azzā (تَعَزَّى) yang berarti sabar. Kata ini sering diidentikkan dengan kematian, sehingga ketika mendengar kata ini hal yang pertama kali muncul di benak adalah hal-hal yang berkaitan dengan kematian. Banyak memang, cara yang bisa dilakukan untuk bertakziyah bahkan setiap daerah memiliki ciri tersendiri dalam menyelenggarakan acara takziyah, namun tentunya bukan itu yang menjadi titik tekan pembahasan pada makalah ini.

Dalam Islam terdapat ajaran untuk mengingat kematian karena umat Islam pun harus mengimani kematian sebagai suatu hal yang pasti datangnya dan mistik (baca: gaib) karena tidak ada satu pun yang tahu kapan kedatangannya.

Berkaitan dengan penggunaan kata ini yang dipakai sebagai ungkapan turut berduka cita kepada keluarga mayit adalah dikarenakan komposisi yang terkandung di dalamnya seperti menganjurkan untuk bersikap sabar, menenangkan keluarga mayit dengan janji Allah akan pahala, mendo’akan mayit, dan lain-lain. Ini semua merupakan hal-hal yang disyari’atkan dalam dunia Islam, dan dalam pembahsan kali ini penyusun ingin mengangkat sebuah hadits yang berkaitan dengan takziah dan perangkat-perangkat yang menopagnya sebagai sesuatu hal yang memang min al-umūr al-masyrū’iah dan memiliki landasan keimanan.

Korelasi Tazkiyah dan Empati

Empati berasal dari bahasa Yunani “empetia” yang artinya “dapat merasakan”. Dalam pengertuan yang umum/ empati diartikan sebagai kemampuan seseorang di dalam memahami, memikirkan, dan merasakan perasaan (emotion) orang lain. Atau kemampuan mengidentifikasi persoalan orang lain dengan cara memahami perasaan dan alasan-alasan orang lain. Jadi, empati baru terbangun jika didahului oleh suatu relasi dan dialog. Empati merupakan sikap tang lebih dalam dibandingkan dengan simpati. Sikap empati lahir dari pribadi yang sehat, karena kepribadian yang sehat akan memacu tumbuhnya kepedulian sosial yang tinggi terhadap sesamanya.

Jika kita tilik dari hakikat takziyah maka apa yang terdapat dalam empati sepantasnya bisa muncul melaui takziyah. Ada banyak peristiwa yang pasti sarat hikmah seandainya kita mau berpikir lebih dalam. Karenanya, akan tumbuh pula yang disebut dengan kepekaan sosial. Waspadalah jika hati tak merasakan lagi keterenyuhan saat melihat kaum dhuafa yang hidup kekurangan. Curigailah ketika hati tak bergeming saat melihat perlakuan tidak manusiawi di depan mata. Jangan-jangan cahaya hati telah redup, atau bahkan mati. Banyak ber-takziyah, mengasah hati semakin peka, memelihara rasa kemanusiaan tepat pada tempatnya.

Kesimpulan

Bangsa kita yang sedang bangkit dari keterpurukan, harus menumbuhkan empati antar pribadi dalam berbagai aspek kehidupan. Egoisme dibuang jauh-jauh demi tujuan bersama yang lebih mulia yaitu kemajuan dan kejayaan bangsa. Pejabat saling berempati dengan rakyat, antar pejabat saling berempati, pimpinan saling berempati dengan bawahan dan seterusnya. Sifat tolong menolong dikedepankan. Dengan kondisi seperti ini, atas izin Allah SWT berbagai permasalahan bangsa dapat teratasi.

Takziyah merupakan satu diantara sekian banyak media untuk menumbuhkan kepekaan dalam berempati; merasakan kesedihan yang dirasakan oleh orang lain, dan berusaha menenangkan dan menghiburnya, dan memberinya motifasi untuk tetap tegar menghadapi hidup merupakan hal yang mulia.

Daftar Pustaka

Agustian, Ary Ginanjar, 2001, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual, Jakarta: Penerbit Arga.

Al-Nawawi, Abu Zakaria, t.th, Riyadh al-Shalihin, Surabaya: Dar al-Ilm.

Al-Jurjawi, Ali Ahmad, 1997, Hikmah al-Tasyri’ wa Falsafatuhu, Beirut: Dar al-Fikr.

Arifin, Bey, 1994. Hidup Sesudah Mati, Jakarta: CV. Kinta.

Sabiq, Sayyid. 1983, Fiqh al-Sunnah, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah.

Catatan Kaki

[1]Sigit Indriyono, Berempati dan Saling Tolong-Menolong , dalam www.masjidkotabogor.com. Diakses pda tanggal 29 Mei 2008. 

[2] Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual (Jakarta: Penerbit Arga, 2001), hlm. 56. 

[3] CD Mausu’ah al-Hadits al-Syarif, Sunan al-Tirmidzi, no. 1853.



1 Response to "Inilah Hukum Takziyah, Antara Empati dan Keharaman?"

  1. Memang benar ustadz, bahwa Takziyah merupakan pelaksana Quran, berempaty terhadap kebutuhan orang lain yang sedang amat membutuhkan merupakan amal shalaeh yang tak terasa, jika membiasakan diri kita sebagai orang beriman, kita telah menyimpan ATM akhirat, sewaktu-waktu dalam kesulitan kitapun dengan mudah dimunculkan Allah simpanan ATM kita. sungguh indah hidup saling menghargai, akan terjadi selamanya kedamaian purna didunia ini, hal ini bisa terjadi jika Egoisme (kesombongan) bis diubah menjadi nafsul muthmainnah, pasti kelak dipanggil Allah menjadi Hamba yang di ridhai Allah swt.

    ReplyDelete

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!