Inilah Pelaksanaan Pendidikan Rasulullah SAW Pada Periode Mekah

Advertisement
Dengan melihat karakteristik perkembangan pendidikan Isalam, maka period Mekkah dapat dibagi kepada tiga tahapan, sesuai dengan tahapan dakwah yang dilakukan Rasulullah saw. Di Mekkah.

Tahapan Sembunyi arau Perorangan

Muhammad saw. Mulai menerima wahyu dari Allah sebagai petunjk dan instruksi untuk melaksakan tugasnya, seaktu beliau telah mencapai umur 40 tahun, yaitu pada tanggal 17 Ramadhan tahun sebelum Hijrah (6 Agustus 610 M). Petunjuk dan instruksi dan instruksi tersebut seperti yang terdapat dalam surat al-Iqra’.

Dengan turunya wahyu tersebut, Rasulullah SAW mulai membimbing dan mendidik umatnya. Pada mulanya nabi melakukanya secara diam-diam di lingkungan sendiri dan di kalangan rekan-rekannya. Karena itulah, orang yang pertma kai menerima dkwahnya adalah keluarga dan sahabat dekatnya. Yang pertama menganut Islam adalah Khadijah istri Nabi Muhammad SAW, kemudian saudara sepupunya Ali ibn Abi Thalib, yang baru berumur 10 tahun. Kemudian Abu Bakar, sahabat karibnya sejak masa kanak-kanak. Lalu Zaid, bekas budak yang telah menjadi anak angkatnya. Ummu Aiman, pengasuh Nabi sejak ibunya Aminah masih hidup, juga termasuk orang yang pertama masuk Islam. Sebagai seorang pedagang yang berpengaruh, Abu Bakar berhasil mengislamkan beberapa orang teman dekatnya. Seperti, Zubair ibn Awam, ‘Abdur Rahman bi ‘Auf, saad ibn Waqash, dan Thalhah ibn Ubaidillah. Mereka dibawah Abu Bakar langsung kepada Nabi dan masuk Islam di hadapan Nabi sendiri. Dengan pembelajaran dan dakwah secara diam-diam ini, belasan orang telah memeluk agama Islam. Mereka juga diikuti pula oleh sebagian tokoh Quraisy. Sebagai lembaga pendidikan dan pusat kegiatan pendidikan Islam yang pertama ada di era awal ini adalah, “dar (rumah) Arqam ibn Abi al-Arqam”.

belajar islam melalui Nabi saw

Rumah Arqam inilah yang merupakan lembaga pendidika Islam pertama yang diselenggarakann di kota Mekkah. Tetapi tentu saja rumah Arqam tidak bisa dikatakan sebagai lembaga pendidikan Islam dalam arti sebenarnya, sebab yang disebut sebagai lembaga pendidikan tentunya keberadaanya telah mapan dan mantap di tengah-tengah masyarakat. Sementara rumah Arqam hanyalah merupakan rumah seorang sahabat yang bernama Al-Arqam ibn Abi al-Arqam r.a yang digunakan oleh Nabi SAW untuk menyampaikan dan mengajarkan agama kepada para pengikutnya ketika situasinya tidak memungkinkan untuk menyampaikan risalah Islam di muka Umum. Bahkan ketika Nabi SAW melakukan dakwahnya secara terang-terangan, sesuai dengan perintah Allah SWT, lembaga pendidikan dalam arti formal belum tumbuh secara sempurna. Alasanya karena para pengikut Nabi jumlahnya belum banyak ketika itu, kerapkali menghadapi berbagai macam siksaan dan ancaman dari orang-orang kafir Quraisy. 

Pendidikan yang dilakukan oleh rasuluallah SAW di rumah ini dianggap sebagai masa yang penting dalam sejarah pendidikan dan dakwah Islam di Mekkah, sehingga banyak diantara kaum Mulimin mencatat sejarah masuk Islamnya mereka dengan hari-hari Rasulullah menebarkan dakwahnya dari rumah milik al-Arqam ini. Pendidikan Islam ini tidak terbatas hanya diterima oleh mereka ssaja, tetapi disambut juga oleh kelompok lain dari kalangan para maula dan orang-orang kafir. Pendidikan pada fase ini dinamai dengan pendidikan individu (perorangan), dan mereka dikenal dengan “al-sabiqun al-Awwalun”, yakni kelompok pertama yang masuk Islam. 

Tahapan terang-terangan

Setelah beberapa lama, sekitar tiga tahun dakwah Islam disampaikan secara sembunyi, turunlah perintah Allah SWT. agar Nabi melaksanakan dakwah secara terang-terangan. Perintah ini didasarkan kepada Q.S. al-Hijr: 94 dan Q.S. Asy Syuara’: 214. Menurut Ibn Abbas bahwa pada saat Allah menurunkan ayat yang artinya “dan perintahkanlah sanak famili dan keluarga terdekatmu” Nabi menuju bukit shafa lalu berseru, “wahai sekalian manusia, berkumpullah kalian.” Orang-orang mulai berkumpul; ada yang datang langsung dan adapula yang di utus oleh tuannya. Rasulullah SAW berkata, “Wahai Bani Abdil Muthalib, wahai bani Fathur, apakah kalian percaya jika aku memberitahuan kalian bahwa ada sepasukan kuda yang keluar dari gunung ini untuk menyerang kalian?” mereka menjawab, “ya” beliau berkata, “ sesungguhnya aku adalah seorang yang memberi peringatan bagi kalian terhadap azab Allah yang sangat pedih.” Abu Lahab berkata: “celakalah engkau untuk selama-lamanya. Untuk inikah engkau mengumpulkan kami?”. Beberapa saat sesudah itu turunlah wahyu dan Allah SWT yang menjelaskan periha Abu Lahab dan istrinya, seperti yang tercantu, dalam al-Qur’an; surat al-Lahab ayat 1 sampai 5. 

Perintah dakwah secara terang-terangan dilakukan oleh rasulullah, seiring dengan jumlah sahabat yang semakin banyak dan untuk meningkatkan jankauan seruan dakwah, karena diyakini dengan dakwah tersebut, banyak kaum Quraisy yang akan masuk Islam. Di samping itu, keberadaan rumah Arqam ibn Abi-Arqam sebagai pusat lembaga pendidikan Islam, sudah diketahui oleh Quraisy.

Setelah dakwah terang-terangan dilakukan oleh Nabi SAW, Kuffar Quraisy berusaha menghentikan dakwah beliau dengan mendatangi pamannya Abu Thalib. Mereka mendatang Abu Thalib, sambil membawa Ammarah ibn al-Walid al-Mughirah. Mereka mengatakan, “Wahai Abu Thalib, ini adalah pemuda Quraisy yang paling bagus dan tampan. Ambillah dia sebagai anakmu dan dia menjadi milikmu. Lalu serahkanlah anak saudaramu kepada kami, yang telah menentang agama bapak-bapakmu, memecah belah persatuan kaummu serta membodoh-bodohkan harapan mereka, agar kami bisa membunuhnya. Penukaran ini sudah impas, satu orang dengan satu orang.” Abu Thalib berkata: “Demi Allah,” apa yang kalian tawarkan kepadaku ini benar-benar menjijikkan. Adakah kalian menyerahkan anak kalian kepadaku untuk kuberi makan demi kepentingan kalian, lalu kuberikan anakku untuk kalian bunuh? Demi Allah, ini sama sekali tidak akan kulakukan, “kata Abu Thalib.” Setelah upaya bujuk rayu tidak berhasil. Kemudian mereka melakukan tindakan kekerasan, misalnya dengan menghukum bahkan membunuh para budak yang masuk Islam. Tetapi usaha mereka sia-sia, bahkan berbagai hukuman tersebut semakin memperkokoh keimanan kaum Muslimin.

Pada saat-saat perlakuan Quraisy semakin keras dan membenci Islam, dua orang kuat dari suku Quraisy masuk Islam, yaitu Hamzah dan Umar ibn Khattab. Dengan masuk Islamnya dua tokoh besar ini posisi umat Islam semakin kuat. Menguatnya posisi umat Islam memperkeras reaksi kaum musyrik Quraisy. Mereke menempuh cara baru dengan melumpuhkan kekuatan Nabi Muhammad yang bersandar kepada perlindungan Bani Hasim. Mereke berkumpul di perkampungan Bani Kinanah untuk membuat kesepakatan bersama menghadapai Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Isi kesepakatan tersebut adalah alarangan menikah, berjual beli, berteman, berkumpul, memasuki rumah, berbicara dengan mereka, kecuali jika secara suka rela mereka menyerahkan Nabi Muhammad untuk dibunuh. 

Untuk keperluan ini mereka menuliskan lagi di atas selembar papan, yang berisi kesepakatan dan ketetapan untuk tidak menerima perjanjian dan Bani Hasyim dan tidak perlu ambil peduli terhadap keadaan mereka sebelum mereka menyerahkan Muhammad untuk dibunuh. Bani Hasyim dan Bani Muthalib bergabung menjadi satu baik yang kafir maupun yang mukmin. Pemboikotan berlangsung hingga tiga tahun. Papan piagam sudah terkoya dan isinya terhapus, yang dimulai atas kerjasama Hisyam ibn Amr dan Bani Amir ibn Lu’ay dan Zuhair ibn Abu Umaiyyah al-Makhziimi. 

Tahap Seruan Umum

Hasil seruan dakwah secara terangan-terangan yang berfokus kepada keluarga dekat, kelihatannya belum maksimum sesuai dengan apa yang diharapkan. Maka, Rasulullah mengubah strategi dakwahnya dari seruan yang berfokus kepada keluarga dekat beralih kepada seruan umum, umat manusia secara keseluruhan. Seruan dalam skala ‘international’ tersebut, didasarkan kepada perintah Allah, surat Al-Hijr ayat 94-95 yang antara lain isinya bahwa Allah SWT. memerintahkan kepada Rasulullah saw. agar melakukan dakwah secara terang-terangan. Sebagai tindaklanjut dari perintah Allah tersebut, pada musim haji Rasulullah mendatangi kemah-kemah para jemaah haji untuk berdakwah. Pada awalnya tidak banyak yang menerima, kecuali sekelompok jema’ah haji dari Yastrib, yaitu kabilah Khazraj, yang menerima dakwah secara antusias. Dari sinilah sinar Islam memencar kelurga Mekkah.

Penerimaan masyarakt Yastrib terhadap ajaran Islam secara antusias tersebut, dikarenakan beberapa faktor: (1) adanya kabar dan kaum Yahudi akan lahirnya, seorang Rasul; (2) suku Aus dan Khazraj mendapat tekanan dan ancaman dari kelompok Yahudi; (3) konflik antara Khazraj dan Aus yang berkelanjutan dalam rentang waktu yang sudah lama, oleh karena itu mereka mengharapkan seorang pemimpin yang mampu melindungi dan mendamaikan mereka. Berikutnya, di musim haji pada tahun ke-12 kerasulan Muhammad SAW. Rasulullah didatangi dua belas orang laki-laki dan seorang wanita untuk berikrar kesetiaan. Ikrar tersebut dikenal dengan “Bai’at al-Aqabah I”. Isi ikrar tersebut adalah bahwa mereka berjanji tidak akan menyembah selain kepada Allah SWT. Tidak akan mencuri dan berzina; tidak akan membunuh anak-anak, dan menjauhkan perbuatan-perbuatan keji serta firnah, selalu taat kepada Rasulullah dalam yang benar, dan tidak mendurhakan terhadap suatu yang mereka tidak inginkan. 

Musim haji berikutnya ditempat yang sama 73 orang jemaah haji dari Yastrib mendatangi Rasulullah. Mereka berikrar akan selalu setia dan melindungi Rasulullah SAW. Dan menetapkan keimanan kapada Alah dan Rasul-Nya serta akan membawa Rasulullah SAW ke Yastrib. Pelaksaan Bai’ah ini dikenal dengan “Bai’ah al-A’qabah II”. Inilah bentuk dakwah Rasulullah secara umum, dakwah kepada setiap umat manusia yang datang dari seluruh penjuru bumi berhaji ke Mekkah. Berkat semangat tinggi yang dimiliki para sahabat dalam mendakwahkan ajaran Islam, maka seluruh penduduk Yastrib masuk Islam kecuali orang-orang Yahudi.

Lembaga Pendidikan, Metode, dan Materi pendidikan Rasulullah SAW di Mekah.

Lembaga Pendidikan Islam

Adapun lembaga pendidikan Islam adalah rumah al-Arqam Ibn Abi Arqam. Rumah Arqam ibn Abi Arqam tempat pertama berkumpulnya kaum muslim beserta Rasulullah untuk belajr hokum-hukum dan dasar-dasar ajaran Islam. Rumah ini merupakan lembaga pendidikan pertama atau madrasah yang pertama sekali dalam Islam, adapun yang mengajar dalam lembaga tersebut adalah Rasulullah sendiri. Pendidikan di rumah Arqam Ibn Abi Arqam sangat sederhana sekali, dan pendidikan di lembaga ini dilaksanakan dalam bentuk ceramah dan kemudian diikuti dengan praktek beragama yang berkaitan dengan ibadah, terutama ibdah shalat.

Materi Pendidikan Islam

Dengan turunnya perintah kepada Nabi supaya mengajarkan Agama Islam kepada kerabat dekat Nabi dan kepada umatnya secara luas dan terang-terangan, maka Nabi bukan hanya berdakwah dilingkungan kaum keluarga di kalangan penduduk Makkah saja, tetapi juga kepada penduduk di luar makkah, terutama mereka yang datang ke makkah, baik dalam rangka ibadah haji maupun perdagangan. Dengan dakwah demikian, tantangan yang dihadapi oleh Nabi Muhammad SAW pun semakin terbuka pula. Tetapi semuanya itu dihadapinya dengan penuh kesabaran, dan dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan selalu memberikan petunjuk dan pertolongan dalam menghadapi tantangan tersebut. Sedangkan materi pendidikan Islam pada waktu itu adalah: 

1) Tauhid

Tugas Muhammad untuk memancarkan inar Tauhid dalam kehidupan umat manusia terutama bangsa Arab. Muhammad memperoleh kesadaran dan penghayatan yang mantap tentang ajaran Tauhid yang inti sarinya, sebagaimana tercermni dalam surat al-Fatihah yang berisi tentang:

a) Bahwa Allah pencipta alam semesta yang sebenarnya. Dialah satu-satunya yang menguasai dan mengatur alam ini, sehingga merupakan tempat yang mengatur kehidupan manusia, mendidik dan membimbingya, sehingga dia berhak mendapatkan pujian. Manusia harus memuji-Nya, tidak sperti kebiasaan masyarakat jahiliyah mmuji Allah dengan perantaraan berhala-berhala.

b) Allah telah memberikan nikmat, memberikan segala keperluan bagi semua makhluk-Nya dan khusus kepada manusia ditambah dengan petunjuk dan bimbingan agar mendapat kebahagian hidup dunia dan akhirat.

c) Allah telah membimbing dan mendidik manusia dengan penuh kasih dan sayang (al-Raahman dan al-Rahim) baik di dunia, maupun di akhirat.

d) Allah adalah malik (taja pada hari kemudian), tlah memberikan pengertian bahwa segala perbuatan manusia akan diperhitungkan. Perbuatan baik dan perbuatan jahat walaupun sebesar zarrah (atom) dibalas oleh Allah SWT. Hal ini bertentangan dengan kepercayaan bangsa Arab, bahwa hari pembalasan itu tidak ada.

e) Allahlah yang membimbing dan member petunjuk kepada manusia dalam mengarungi kehidupan dunia yang penuh dengan rintangan, tantangan dan godaan. Allah member petunjuk ke jalan yang lurus, jalan akan ditempuh oleh orang saleh.

f) Jalan selama ini, sekarang dan yang akan datang, jalan yang ditempuh oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani bukanlah jalan hidup yang dibenarkan Allah SWT.

Kemudian Nabi Muhammad SAW memerintahkan agar umatnya mencontok praktek pelaksanaan ajaran Islam sesuai dengan yang dicontohannya. Menurut Zuhairi, dkk. , pelaksanaan pendidikan tauhid tersebut bertentangan dengan praktek kehidupan sehari-hari umat yang dihadapinya, sehingga dengan dimikian wajarlah kalau pada mulanya ia mendapatkan tantangan yang hebat. Inilah sebabnya, kebijakan yang ditempuh oleh Nabi Muhammad SAW dalam usahanya menyampaikan ajaran tauhid dilakukanya secara bertahap, yang dimulai dengan keluarga terdekat, dan dengan sembunyi-sembunyi, baru kemudian secara terbuka dan kepada kalangan luas, dalam masyarakat Arab.

2) Al-Qur’an

Tugas Muhammad disamping mengajarkan Tauhid juga mengajarkan al-Qur’an kepada umatnya, dengan utuh dan sempurna, serta menjadi milik umatnya, yang selanjutnya akan mnjadi warisan ajaran secara turun-temurun, dan menjadi pegangan dan pedoman hidup bagi kaum muslimin sepanjang zaman. Pada umumnya ayat-ayat yang turun di Mekkah berisi materi tentang akidah dan ibadah. Ayat-ayat yang turun di Mekkah disebut Makiyah.

Dalam pembelajaran Al-Qur’an kepada umatnya Nabi Muhammad SAW selalu menganjurkan kepada para sahabatnya supaya al-Qur’an dihafal dan selalu dibaca, dan diwajibkan membacanya dalam salat, sehingga kebiasaan membaca al-Qur’an tersebut merupakan bagian dan kehidupan mereka sehari-hari, menggantikan kebiasaan membaca syair-syair indah pada masa sebelum Islam. Untuk menjaga agar al-Qur’an tidk bercampur dengan hal-hal lain, maka nabi Muhammad SAW memberikan perintah agar hanya al-Qur’an sajalah yang dituliskan. Sabda beliau atau pelajaran-pelajaran lain, misalnya penjelasan-penjelasan al-Qur’an pun dilarang untuk ditulis.

Selanjutnya untuk memantapkan al-Qur’an dalam hafalan mereka, Nabi Muhammad SAW sering mengadakan evaluasi terhadap hafalan para sahabat tersebut. Beliau menyuruh para sahabat untuk untuk membacakan ayat-ayat al-Qur’an dihadapanya, kemudian beliau membetulkan hafalan dan bacaan mereka, jika terjadi kekeliruan atau kesalahan. Nabi Muhammad SAW diwafatkan oleh Allah SWT. Di waktu al-Qur’an telah lengkap diturunkan, telah sempurna pula diampaikan/diajarkan kepada umatnya, telah dihafalkan oleh banyak pengikutnya dan semua ayat-ayat dan setiap surat telah disusun pula menurut tertib urutan yang ditunjukkan sendiri oleh Nabi Muhammad SAW.

Demikianlah pembelajaran al-Qur’an yang dilaksanakan oleh Nabi SAW sehingga benar-benar menjadi bacaan umatnya, yang lengkap, baik sebagai bacaan dalam arti hafalan maupun bacaan dan bentuknya tertulis.


0 Response to "Inilah Pelaksanaan Pendidikan Rasulullah SAW Pada Periode Mekah"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!