Kenali pengertian Qana’ah sebagai Obat Penyakit Hati

Advertisement
Kenali pengertian Qana’ah sebagai Obat Penyakit Hati 
Tulisan Pernah dipublikasikan oleh Khairun Nisa

Qanaah merupakan obat dari penyakit-penyakit hati seperti rakus, tamak, putus asa, malas, sombong, dan kikir / bakhil. Sebab dengan qanaah, manusia akan selalu merasa puas dengan apa yang sekedar dibutuhkan.Ia tidak akan tamak terhadap yang dimiliki oleh orang lain, tidak melihat apa yang ada di tangan mereka, dan tidak menjadi rakus mencari harta benda dengan menghalalkan cara apa pun.

Abu hazim berkata, “tiga perkara siapa yang berada di dalamnya, maka sempurnalah akalnya: orang yang mengenal siapa dirinya, menjaga lidahnya, dan puas terhadap apa yang dianugerahkan Allah SWT.”

Seorang bijak berkata, “Engkau adalah orang yang mulia selagi engkau berselimut kepuasan diri.” Dan ada juga pepatah yag menyatakan, “Tamak itu menghinakan seorang pemimpin dan putus asa bisa meninggikan orang miskin.”[1]

Orang yang qana’ah juga akan selalu suka mendermawankan hartanya, murah hati, dan mau menafkannya untuk orang yan membutuhkan, sebab ia tahu bahwa semua harta yang diperolehnya adalah berasal dari Tuhannya, Allah SWT. Orang yang kesusahan berhak akan hartanya. Hartanya hanyalah sebuah titipan dari-Nya. Bila sikap dermawan ini mulai mekar dalam pribadi seseorang, maka hal itu berarti suatu gejala terlepasnya sikap bakhil. Dan jaminan keberuntungan orang yang terlepas dari penyakit kikir atau bakhil, dikemukakan Allah dalam Al-Quran: Artinya: “….dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9) [2]
qanaah sebagai obat hati

Salah satu sebab yang membuat hidup ini tidak tenteram adalah terpedayanya diri oleh kecintaan kepada harta dan dunia. Orang yang terpedaya harta akan senantiasa merasa tidak cukup dengan apa yang dimilikinya. Akibatnya, dalam dirinya lahir sikap-sikap yang mencerminkan bahwa ia sangat jauh dari rasa syukur kepada Allah Sang Maha Pemberi Rezeki. Ia akan takabbur atau sombong, sedangkang sombong termasuk sikap mental yang buruk dan tercela. Sikap tersebut adalah memandang rendah orang lain, sementara memandang tinggi dan mulia diri sendiri.[3] Sikap ini menyebabkan kerugian hidup di dunia juga di akhirat. Di dunia ia akan jauh dari orang-orang sekitarnya karena sudah pasti banyak orang yang tidak suka dengan sifat sombongnya. Sedangkan di akhirat, sifat ini bisa menghalangi orang masuk surga. Seperti yang dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW:
لايدخل الجنة من كان في قلبه مثقال ذرة من كبر رواه مسلم

Artinya: “Tidak akan masuk ke dalam surga orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar zarrah.”

Lain halnya jika orang tersebut telah “akrab” dengan sifat qana’ah, ia merasakan kecukupan dan kepuasan atas harta dan dunia miliknya. Ketenteraman hidup sesungguhnya hanya dapat diraih melalui penyikapan yang tepat terhadap harta dan dunia, sekecil dan sebesar apa pun harta yang dimilikinya. Hal ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang qana’ah.

Orang yang qana’ah juga akan terhindar dari sifat malas apalagi putus asa. Sebab orang-orang yang memiliki sikap qanaah tidak berarti fatalis menerima nasib begitu saja tanpa ikhtiar. Orang yang qanaah hidupnya senantiasa bersyukur. Makan dengan garam akan terasa nikmat tiada tara, karena ia tidak pernah berpikir tentang daging yang mungkin tidak akan pernah “mengunjungi” perutnya. Jika pun ada daging, ia pun akan sangat bersyukur lalu dengan senang hati akan berbagi dengan orang lain.

Semua hal yang telah ada dan terjadi pada orang yang qana’ah akan terasa nyaman dan indah. Ia tidak akan menyalahkan Tuhan atas apa yang telah ditetapkanNya pada hidupnya, sebab ia tahu masih banyak orang yang lebih tidak beruntung darinya.

اانظروا الى من هو اسفل منكم ولا تنظروا الى من هو فوقكم فانه اجدر ان لا تزدادوا نعمة الله عليكم  رواه مسلم و الترمذي

Artinya: “Lihatlah orang yang di bawah kalian dan janganlah melihat orang yang di atas kalian, karena yang demikian itu lebih layak bagi kalian untuk tidak memandang hina nikmat Allah yang dilimpahkan kepada kalian.”

Korelasi Iman Dengan Qana’ah 

حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَدَّثَنَا حَيْوَةُ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو هَانِئٍ أَنَّ أَبَا عَلِيٍّ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَمِعَ فَضَالَةَ بْنَ عُبَيْدٍ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ طُوبَى لِمَنْ هُدِيَ إِلَى الْإِسْلَامِ وَكَانَ عَيْشُهُ كَفَافًا وَقَنَعَ


Artinya: “Beruntunglah orang yang diberi petunjuk kepada Islam dan kehidupannya tercukupi dan ia puas.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan jalur sanad yang semuanya termasuk tsiqah. Hal ini menjadikan hadits ini shahih, meski takhrij atau yang meriwayatkan dari jalur lain cuma ada satu, yakni periwayatan Al-Turmudzi:

حَدَّثَنَا الْعَبَّاسُ الدُّورِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ الْمُقْرِئُ أَخْبَرَنَا حَيْوَةُ بْنُ شُرَيْحٍ أَخْبَرَنِي أَبُو هَانِئٍ الْخَوْلَانِيُّ أَنَّ أَبَا عَلِيٍّ عَمْرَو بْنَ مَالِكٍ الْجَنْبِيَّ أَخْبَرَهُ عَنْ فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ طُوبَى لِمَنْ هُدِيَ إِلَى الْإِسْلَامِ وَكَانَ عَيْشُهُ كَفَافًا وَقَنَعَ قَالَ وَأَبُو هَانِئٍ اسْمُهُ حُمَيْدُ بْنُ هَانِئٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ 

Kontekstualisasi Hadits 

Hadits di atas, setelah menyebutkan bahwa keberuntungan adalah milik orang yang telah mendapatkan hidayah dari Allah berupa Islam, kemudian disertai dengan orang yang hidupnya hanya sekedar tercukupi, tidak berlebih, dan ia puas. Ini menunjukkan ada hubungan antara orang yang Islam (mencakup trilogi agama: Iman, Islam, dan Ihsan).

Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa orang yang beragama Islam harus mempunyai Iman, Islam, dan Ihsan. Maka dia harus mengimani apa-apa yang harus diimani sebagai muslim dengan menjalankan syariat Islam secara Ihsan. Jika Tuhan memerintahkan “ini”, maka ia akan melaksanakannya dengan sepenuh hati, sebab ia percaya akan kebenaran perintah Tuhan yang termaktub dalam kitab suci-Nya atau ada pada sunnah-sunnah utusan-Nya sebagai petunjuk untuk kehidupannya.

Qana’ah adalah salah satu dari perintah atau petunjuk-Nya untuk kebaikan kehidupan hamba-hambaNya. Maka sebagai hambaNya, sudah seharusnya untuk menjalankan perintahNya. Artinya: “benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezki yang baik. Dan Sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezki.” [QS. Al-Hajj: 58]

Menurut sebagian penafsir, bahwa yang dimaksud dengan rizki yang baik adalah qana’ah.[4] Juga dalam ayat:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُون

"Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan ia beriman, maka sesungguhnya akan Kami karuniakan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka lakukan." [QS. An-Nahl: 97]

Yang dimaksud dengan حَيَاةً طَيِّبَةً pada ayat di atas, mesurut sebagian ahli tafsir adalah qana’ah. Orang yang beriman jelas akan mau melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah. Ia juga akan beribadah dengan ikhlas semata-mata hanya karena Allah. Maka untuk membalas amal yang telah dilakukan oleh hamba-Nya tersebut, Allah memberi nikmat berupa حَيَاةً طَيِّبَةً dan $YZ|¡ym $»%ø—Í‘ yang berarti qanaah.

Karena dengan qana’ah, orang akan selalu bahagia dalam keadaan apapun. Baik miskin atau kaya ia akan selalu merasa tercukupi dan puas dengan apa yang ada. Qana’ah merupakan pemberian Allah SWT yang sangat berharga, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:

القناعة كنز لا يفنى

Artinya: “Qana’ah merupakan kekayaan yang tiada pernah sirna.”[5]

Dalam kitab Zabur difirmankan: “Orang yang qana’ah adalah orang kaya walaupun ia lapar”. Allah SWT menjadikan lima perkara dalam lima tempat:

Kemuliaan dalam taat,
Kehinaan dalam maksiat,
Kharisma dalam sahalat malam,
Hikmah dalam batin yang sunyi, dan
Kaya dalam qana’ah.[6]

Orang yang beriman dan melakukan amal shalih menghadapi keberuntungan dengan rasa syukur dan sikap yang membuktikan kesungguhan syukur itu. jika menghadapi bencana maka ia akan bersabar dan berperilaku yang membuktikan kesungguhan kesabaran itu. Dengan demikian, hal itu dapat membuahkan di hatinya kesenangan kegembiraan dan hilangnya kegundahan, kesedihan, kegelisahan, kesempitan dada dan kesengsaraan hidup. Selanjutnya, kehidupan bahagia akan benar-benar menjadi realita baginya di dunia ini. Dan itulah qana’ah yang tumbuh dalam hati seseorang sebab kuatnya kadar imannya.

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمُقْرِئُ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي أَيُّوبَ حَدَّثَنِي شُرَحْبِيلُ وَهُوَ ابْنُ شَرِيكٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ(رواه مسلم و التترمذي و احمد)

Artinya: “ Beruntunglah orang yang memasrahkan diri, dilimpahkan rizki yang sekedar mencukupinya dan diberi kepuasan oleh Allah terhadap apa yang diberikan kepadanya.

Sedangkan orang yang di hatinya tidak ada seberkas iman, menghadapi kesenangan hidup dengan kecongkakan, kesombongan dan sikap melampui batas. Lalu, melencenglah moralnya. Ia menyambut kesenangan hidup seperti halnya binatang yang menyambut kesenangan dengan serakah dan rakus. Seiring itu, hatinya tidak tenteram. Hatinya kacau balau sebab dilanda oleh rasa cemas dan khawatiran terhadap sirnanya segala kesenangan. Ia terus gandrung kepada keinginan-keinginan lain, yang kadangkala dapat terwujud dan kadangkala tidak dapat terwujud. Jika tidak dapat terwujud, maka hal itu ia anggap sebagai cobaan yang sangat berat. Ia pun menyambut cobaan yang sulit dengan rasa gelisah, keluh kesah, khawatir dan gusar. Akibatnya, hidupnya dipenuhi dengan kesedihan dan kesedihan. نعوذ بالله من شر ذلك

Catatan Kaki

[1] Ibnu Qudamah, Mukhtashar Minhajul Qashidin terjemahan Kathur Suhardi (Jakarta: Pustaka Kautsar, 2007), cet. 13, hal. 248. 
[2] Hamzah Ya’qub, Tingkat Ketenangan Dan Kebahagiaan Mu’min (Jakarta: Bina ILmu, 1980), cet. 2, hal. 125 
[3] Hamzah Ya’qub, Tingkat Ketenangan…,hal. 125 
[4] Imam Al-Ghazali, Raudhah: Taman Jiwa Kaum Sufi terjemahan Mohammad Luqman Hakiem (Surabaya: Risalah Gusti, 1995), cet. 2, hal. 160. 
[5] Imam Al-Ghazali, Raudhah: Taman Jiwa Kaum Sufi terjemahan...,hal. 159. 
[6] Imam Al-Ghazali, Raudhah: Taman Jiwa Kaum Sufi terjemahan...,hal.160.



0 Response to " Kenali pengertian Qana’ah sebagai Obat Penyakit Hati "

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!