Memangkas Jenggot dan Kumis, Apakah sebuah Keharusan?

Advertisement
Hadis tentang Hukum Memelihara Jenggot dan Kumis

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مِنْهَالٍ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ وَفِّرُوا اللِّحَى وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ إِذَا حَجَّ أَوْ اعْتَمَرَ قَبَضَ عَلَى لِحْيَتِهِ فَمَا فَضَلَ أَخَذَهُ 

Asbab al-wurudh al-hadits

Bukhori Muslim menceritakan dari Maimun bin Mahran yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar berkata bahwasannya Rasulullah ingat akan orang Majusyi yang selalu membiarkan misai (kumis) dan memangkas jenggotnya. Maka Rasulullah pun menyuruh untuk berbeda dengan mereka. Diceritakan dari Ibn Al-Nujjar yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas berkata, ada seseorang datang menemui Rasulullah dari negri ‘ajam, Ia memangkas jenggotnya dan memelihara kumisnya. Maka Rasulullah pun bersabda: “jauhilah hal semacam itu. Akan tetapi potonglah kumis kalian dan biarkan jenggot kalian”. dalam versi yang lain di sebutkan bahwa Muslim No. 380 juga memiliki asba al-wurudh yakni sebagai berikut ;

Bazzar menceritakan dari Hadis yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah bahwasannya Rasulullah melihat seseorang yang kumisnya panjang (lebat). Kemudian beliau berkata : “Maka bersihkanlah sebagaimana engkau bersiwak. Jadikanlah siwak hanya pada mulut dan jangan sampai melebihi batas. Oleh karena itu cukurlah kumismu.”

hadis memangkas kumis dan jenggot
Kumis dan Jenggot (foto:nurulhedayat.blogspot.com)
Syarah al-hadits Memangkas Jenggot dan Kumis

Perbedaan pemahaman diantara ulama’ salaf tentang hukum memotong kumis dan memanjangkan jenggot sangatlah beragam. Sejauh penelusuran penulis, fuqoha’ abad pertengahan cenderung memaknai hadis ini secara tekstual sesuai dengan yang tersurat dalam zahir hadis (meskipun ada yang menyalahinya seperti yang akan dipaparkan nanti). Yaitu dengan mengatakan bahwa memotong kumis dan memelihara jenggot adalah sebuah keharusan bagi orang muslim. Walaupun banyaknya ragam lafadz yang dipakai dalam menunjukkan makna “memotong”, juga menjadi sesuatu hal yang menimbulkan banyak pertentangan di antara mereka. 

Ibn Hajar berkata: “Dengan pengertian bahwa makna a’fu (aslinya) adalah membiarkan, maka membiarkan jenggot berarti “memperbanyak”nya. ini adalah pendapat jumhur yang benar (di antara pendapat lainnya). 

Meninjau Ulang Hadits Memelihara Jenggot dan Kumis; dalam Pemahaman Masyarakat

Banyak orang mengatakan bahwa memanjangkan jenggotnya merupakan sebuah keharusan demi mendapatkan predikat bahwa ia telah mengikuti sunah sebagaimana yang di syariatkan oleh agama islam. 

Disadari memang, hadis tersebut oleh sebagian umat Islam mereka pahami secara tekstual. Mereka berpendapat bahwa Nabi telah menyuruh semua kaum laki-laki untuk memelihara kumis dengan memangkas jenggot dengan memanjangkannya. Mereka memandang bahwa ketentuan itu merupakan salah satu kesempurnaaan dalam mengamalkan ajaran Islam. 

Perintah Nabi tersebut memang relevan untuk orang-orang Arab, Pakistan, dan lain-lain yang secara ilmiah mereka dikaruniai rambut yang subur, termasuk di bagian kumis dan jenggot. Tingkat kesuburan dan ketebalan rambut milik orang-orang Indonesia tidak sama dengan milik orang-orang arab tersebut. Banyak orang Indonesia yang kumis dan jenggotnya jarang.

Atas kenyataan itu, maka hadis tersebut harus dipahami secara kontekstual. Kandungan hadisnya bersifat lokal. Dengaan mengutip sejumlah hadis Nabi di atas, ternyata pemahaman terhadap pelbagai petunjuk hadis Nabi bila dihubungkan dengan latar belakang terjadinya, ada yang harus diterapkan secara tekstual dan ada yang harus diterapkan secara kontekstual. Dalam pada itu, kandungan hadis diatas tidak bisa dipahami hukumnya secara universal.