Panduan Ta'aruf Islami: 3 Bulan Meraih Keluarga Sakinah

Advertisement
Saat ada pertanyaan "Berapa sih idealnya jangka waktu ta'aruf (pranikah) hingga menikah?" Kebanyakan mungkin akan menjawab, "Kalau sudah cocok sebaiknya disegerakan" atau "Tidak perlu proses yang berlama-lama", tanpa menyebutkan jangka waktu yang pasti Kalau saya yang ditanya, bisa saya jawab "Insya Allah cukup 12 pekan saja" Bagaiman caranya? Berikut ini saya sampaikan beberapa tahapan yang bisa dipraktikkan.

Panduan ta'aruf dalam al-quran dan hadis
Foto: Aisyahumairo.wordpress.com


Sebelum mengikuti panduan berikut, ada baiknya Anda membaca Ta'aruf dalam Islam, Adakah? Bagaimana dengan Pacaran? 

Tahap Persiapan Ta'aruf Islami

Seperti kata-kata bijak yang cukup sering didengar "Gagal merencanakan berarti merencanakan untuk gagal"; begitu pula dalam ikhtiar ta'aruf ini. Sebelum melangkah jauh dalam ikhtiar ta'aruf tentunya ada beberapa aspek yang perlu dipersiapkan, antara lain :

1. Persiapan Diri

Abdullah Ibnu Mas'ud Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda pada kami: "Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia kawin, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu."(Muttafaq Alaihi)

Kesiapan ilmu, mental, psikologis, finansial, dll. wajib dipenuhi sebelum berikhtiar ta'aruf. Cukup banyak konselor pernikahan yang memberikan pencerahan seputar persiapan diri ini sehingga tidak perlu saya sampaikan panjang lebar, silakan mengambil referensi dari apa yang telah mereka sampaikan. Anda juga bisa mengikuti kajian dan seminar pranikah, ataupun kursus pranikah yang diadakan beberapa lembaga Islam untuk persiapan diri ini.

2. Pengkondisian Orang Tua

Pengkondisian ke orang tua terkadang dilupakan sebagian rekan dalam ikhtiar ta'arufnya, padahal faktor orang tua bisa menjadi salah satu penyebab lamanya proses ta’aruf karena orang tua belum terkondisikan. Banyak yang berproses ta'aruf terlebih dulu, baru setelah bertemu dengan yang cocok mereka baru menyampaikan bahwa sudah punya calon ke orang tua mereka. Bisa jadi hal ini akan membuat 'kaget' orang tua, dan akhirnya proses ta'aruf pun tidak berlanjut. Idealnya pengkondisian orang tua harus dijalani dulu, baru setelah orang tua terkondisikan proses ta’aruf bisa dimulai. 

Orang tua yang sudah terkondisikan bagi seorang wanita adalah wali yang siap menikahkan apabila sudah ada yang cocok, tidak perlu menunggu lama-lama, bagi seorang ikhwan dalam bentuk restu menikah dalam waktu dekat. Meskipun orang tua merestui untuk menikah tapi menikahnya baru boleh sekian tahun lagi berarti masih belum terkondisikan. Kondisikan dan mintalah restu ke orang tua sebelum berikhtiar ta'aruf, insya Allah akan dimudahkan proses ikhtiarnya.

3. Membuat Biodata/CV Ta'aruf

Dengan alasan kemudahan proses, metode tukar menukar biodata biasa digunakan dalam mengawali mediasi proses ta'aruf. Biodata dalam bentuk softcopy akan lebih mudah diproses karena bisa saling ditukarkan lewat email, dan membutuhkan waktu yang lebih singkat bila dibandingkan dengan tukar menukar biodata dalam bentuk hardcopy. 

4. Mencari Perantara/Pendamping

Dari Jabir Bin Samurah Radhyallahu'anhu, dari Rasulullah bersabda : "Janganlah salah seorang dari kalian berdua-duaan dengan wanita, karena syaitan akan menjadi ketiganya" (Hadits Riwayat Ahmad dan Tirmidzi).

Aktivitas berduaan/khalwat antara non mahram rawan sekali akan bisikan setan. Tidak hanya dalam bentuk "khalwat real/nyata", tetapi juga dalam bentuk "khalwat virtual/maya" lewat media sosial ataupun media komunikasi lainnya. Karena itu, proses ta'aruf perlu didampingi oleh pihak ketiga yang akan 'mengawal' selama berjalannya proses sekaligus menjembatani komunikasi pihak-pihak yang berta’aruf agar proses bisa lebih terjaga. Selain itu, perantara/pendamping ini dapat berfungsi juga sebagai 'informan' dalam tahap 'observasi pra-ta’aruf' di tahap persiapan selanjutnya.

5. Observasi Pra-ta'aruf

Observasi pra-ta'aruf berfungsi untuk menggali sebanyak-banyaknya informasi mengenai sosok yang sekiranya cocok dengan kriteria yang anda dan orang tua anda harapkan. Perhatikan lingkungan sekitar, baik itu lingkungan rumah, lingkungan kantor, lingkungan organisasi yang diikuti, atau bisa juga lewat media sosial yang anda gemari. Cari ‘target’ yang anda nilai masuk kriteria yang anda sepakati dengan orang tua, yang tentunya faktor agama jadi prioritas nomer satu.

Lakukan observasi ini secara tertutup, tidak perlu si target tahu. Bisa anda sendiri yang melakukan, lewat pendamping anda, ataupun dari rekan terdekat si target. Apakah si target sudah siap menikah? Apakah si target sudah boleh menikah? Apakah si target tidak dalam proses lamaran? dan informasi lainnya. Kalau kondisinya 'available', tinggal pastikan lewat penelusuran informan bahwa kriteria yang si target harapkan juga ada di diri anda agar saat 'pengajuan ta'aruf' nanti berpeluang besar untuk diterima.

Sudah mantapkah persiapannya? Banyak-banyak berdoa ke Allah SWT agar dimudahkan ikhtiarnya, mantapkan hati, dan bismillaahirrahmaanirrahiim, saatnya eksekusi!

Tahap Pelaksanaan Ta'aruf Islami

1. Pekan 1 : Proses Tukar Menukar Biodata

Awali proses dengan mengajukan biodata anda ke pendamping/perantara ta'aruf agar yang bersangkutan menyampaikannya ke si target yang sudah anda tetapkan, dan mintakan juga biodatanya untuk sama-sama istikhoroh-kan. Teknis proses tukar menukar biodata secara lengkap bisa dilihat di tautan ini.

Agar diingat juga anjuran di hadits ini :Rasulullah saw bersabda : "Rahasiakan pinangan, umumkanlah pernikahan (Hadits Riwayat Ath Thabrani)

Pinangan/lamaran pernikahan diperintahkan untuk dirahasiakan, tentunya proses ta'aruf yang mendahului pinangan tersebut juga perlu dirahasiakan. Tetap jaga kerahasiaan proses ta’aruf yang anda jalani hingga pengumuman pernikahan anda nanti.

2. Pekan 2 : Proses Mediasi Ta'aruf Online

Adanya kemajuan teknologi internet bisa dimanfaatkan dalam tahapan proses ta’aruf ini. Untuk lebih memantapkan hati, pendamping ta'aruf bisa memfasilitasi diskusi dan tanya jawab lewat perantaraan email pendamping di pekan kedua. Teknisnya bisa seperti ini : Akhwat menyampaikan pertanyaan yang ingin didiskusikan lewat email ke email si pendamping -> Pendamping meneruskan pertanyaannya ke email Ikhwan -> Ikhwan menjawab pertanyaan Akhwat sekaligus menyampaikan pertanyaan ke Akhwat lewat email pendamping -> Akhwat menjawab pertanyaan Ikhwan sekaligus menyampaikan pertanyaan tambahan ke Ikhwan -> dan seterusnya hingga kedua pihak merasa mantap hatinya untuk melanjutkan proses.

3. Pekan 3 : Proses Ta'aruf Langsung/Mediasi Ta’aruf Offline

Dari Al-Mughiroh bin Syu'bah radhiyallahu'anhu bahwasannya beliau melamar seorang wanita maka Nabi Muhammad shallallahu'alaihiwasallam pun berkata kepadanya "Lihatlah ia (wanita yang kau lamar tersebut) karena hal itu akan lebih menimbulkan kasih sayang dan kedekatan diantara kalian berdua."

Pekan ketiga dapat dimanfaatkan untuk proses ta'aruf secara langsung/ta'aruf offline perdana, tentunya setelah kedua belah pihak merasa mantap untuk lanjut proses setelah proses tukar menukar biodata dan bertanya jawab lewat email. Sosok si target mungkin saja selama ini hanya dikenal lewat media sosial saja, sehingga perlu anda ketahui bahwa sosoknya memang nyata. Atau mungkin sudah kenal, tapi hanya kenal selintas saja dan belum terlalu jauh. Dengan adanya ta’aruf offline maka kondisi nyata pihak yang berta’aruf dapat diketahui lebih jauh dibandingkan dengan hanya melihat beberapa halaman biodata saja.

4. Pekan 4 : Proses Istikhoroh

Pekan keempat dapat anda gunakan untuk istikhoroh, menimbang-nimbang kembali proses yang telah anda jalani, apakah mantap untuk melanjutkan proses atau tidak. Pekan ini bisa anda manfaatkan juga untuk menggali informasi lebih jauh ke rekan terdekat si target, bisa dari saudaranya, tetangganya, ataupun rekan kerjanya. Apabila sama-sama menemukan kemantapan untuk melanjutkan proses, maka dapat dilanjutkan ke proses ta'aruf ke keluarga di pekan berikutnya.

5. Pekan 5 : Proses Ta'aruf Ikhwan ke keluarga Akhwat

Pekan kelima bisa mulai dimanfaatkan untuk bersilaturahim ke keluarga masing-masing, karena sejatinya proses ta’aruf tidak hanya melibatkan si ikhwan dan si akhwat saja, tetapi juga keluarga kedua belah pihak. Untuk awalan proses ta'aruf keluarga, si ikhwan bisa bersilaturahim ke pihak akhwat terlebih dulu dengan didampingi rekan terdekat, belum perlu membawa serta pihak keluarga ikhwan agar keluarga akhwat tidak ‘kaget’ karena kedatangan keluarga besar ikhwan yang baru sekali itu bertemu. Kesempatan pertama diberikan ke si ikhwan dengan pertimbangan keluarga akhwat yang cenderung lebih banyak pertimbangan dibandingkan pihak keluarga ikhwan yang cenderung menyerahkan urusan jodoh ke si ikhwannya sendiri.

Di agenda silaturahim ini, pihak keluarga akhwat berkesempatan untuk lebih mengenal si ikhwan, gali sebanyak-banyaknya informasi mengenai si ikhwan sehingga pihak keluarga akhwat bisa mengetahui seperti apa profil si ikhwan ini. Bagi ikhwan yang ‘kreatif’ bisa saja dibuat semacam ‘video testimonial’ dari saudara, tetangga kanan kiri, pengurus masjid, ataupun rekan kerjanya, dan diputarkan saat silaturahim untuk menggambarkan sosok si ikhwan menurut pandangan keluarga, tetangga, pengurus masjid, dan lingkungan kerja. Bagaimana kebiasaannya di rumah, bagaimana interaksinya dengan tetangga, bagaimana aktifnya dia di masjid, dan bagaimana pula aktivitasnya dalam dunia kerja bisa diketahui dari beberapa orang tersebut.

Apabila dalam satu kali silaturahim belum bisa meyakinkan pihak keluarga akhwat, bisa diagendakan beberapa kali silaturahim di pekan ini, tentunya tetap dengan adanya pendamping. Bisa juga pihak keluarga akhwat dipersilakan untuk menelusuri secara langsung ke orang-orang tersebut, ataupun lewat ‘utusan’ keluarga yang tepercaya agar informasi yang didapat lebih valid.

6. Pekan 6 : Proses Ta'aruf Akhwat ke Keluarga Ikhwan

Apabila tanggapan keluarga akhwat positif, maka gantian pihak akhwat yang didampingi untuk bersilaturahim ke keluarga si ikhwan di pekan keenam. Agendanya serupa, yaitu agar keluarga pihak ikhwan bisa mengetahui seperti apa profil si akhwat itu. Sama seperti proses silaturahim sebelumnya, beri kesempatan pihak keluarga ikhwan untuk lebih mengenal si akhwat, gali sebanyak-banyaknya informasi mengenai si akhwat sehingga pihak keluarga bisa mengetahui seperti apa profil si akhwat ini.

7. Pekan 7 : Proses Ta'aruf Antar Kedua Keluarga

Apabila tanggapan keluarga ikhwan juga positif ke si akhwat, maka di pekan keenam bisa diagendakan silaturahim antar kedua keluarga. Pihak ikhwan bersilaturahim ke keluarga pihak akhwat dengan didampingi keluarganya, untuk awalan tentunya belum perlu membahas masalah khitbah dan pernikahan agar keluarga pihak akhwat tidak 'kaget'. Manfaatkan agenda ini untuk ta'aruf antar kedua keluarga, berikan kesempatan kedua keluarga untuk mengenal lebih jauh kondisi keluarga yang lain.

8. Pekan 8 : Proses Khitbah/Lamaran

Apabila tanggapan kedua keluarga positif, si ikhwan tidak perlu ragu lagi untuk menyatakan keseriusan dalam bentuk khitbah/lamaran di pekan kedelapan. Pihak keluarga besar ikhwan (dengan jumlah keluarga yang lebih banyak dari silaturahim sebelumnya) bersilaturahim ke pihak akhwat untuk mendampingi pihak ikhwan dalam menyatakan lamarannya. Karena sebelumnya sudah dikondisikan dan sama-sama positif tanggapannya, insya Allah proses lamaran akan berjalan lancar & lamaran akan diterima. Jangan lupa sepakati tanggal menikah juga di acara lamaran ini, tentunya diikhtiarkan sesuai target awal yaitu sebulan lagi. Kalaupun kedua keluarga menginginkan acara yang cukup besar yang membutuhkan banyak persiapan, bisa dikondisikan agar bulan depan setidaknya bisa diselenggarakan akad nikah dulu dan walimahnya bisa menyusul setelahnya.

9. Pekan 9 - 11 : Proses Persiapan Pernikahan

Proses persiapan pernikahan cukup dalam rentang waktu ini. Insya Allah dengan koneksi anda yang luas akan ada banyak rekan yang siap membantu. Berkoordinasilah dengan calon pasangan dalam hal-hal yang diperlukan seperti halnya dalam menyiapkan undangan dan penyebarannya, berapa anak yatim dan dari panti asuhan mana yang akan diundang untuk diberi santunan, menyiapkan jamuan, dekorasi, dan hal-hal lain yang penting dikoordinasikan.

Tidak perlu menanyakan “Apakah akhi sudah shalat subuh di masjid?” atau “Apakah ukhti sudah selesai tilawah 1 juz hari ini?” yang membuat desiran hati yang belum ‘halal’ selama masa penantian, karena insya Allah calon pasangan yang anda pilih karena agamanya tidak akan melupakan hal itu. Tetaplah jaga hati dan interaksi hingga hari pernikahan tiba, karena sebelum ijab kabul terucap syariat tetaplah membatasi. Bila khawatir tidak dapat menjaga hati, koordinasikanlah persiapan pernikahan dengan perwakilan pihak keluarga calon pasangan, tidak langsung dengan si calon pasangan.

10. Pekan 12 : Hari Pernikahan 

Apabila semua tahapan proses berjalan lancar, insya Allah ijab kabul dapat terucap di pekan keduabelas. 

“Baarakallahu laka wa baaraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fii khair (Semoga Allah memberi berkah padamu, dan semoga Allah memberi berkah atasmu, dan semoga Ia mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan)”

7 Panduan Menjadi Mediator Proses Taaruf

Taaruf dengan menggunakan biodata tentunya masih belum mencukupi, perlu diadakan sesi lanjutan sebagai sarana penggalian informasi lebih jauh kedua belah pihak yang bertaaruf. Saya menyebutnya sesi Taaruf Offline, bisa disebut juga taaruf langsung, atau 'face to face', yaitu sesi di mana pihak-pihak yang bertaaruf dipertemukan dalam satu tempat dengan didampingi mediator, dan dilanjutkan dengan pencarian informasi secara langsung ke anggota keluarga kedua belah pihak. 

Bagi rekan-rekan yang berniat membantu ikhtiar taaruf rekannya namun masih belum memiliki gambaran prosesnya seperti apa, berikut ini saya tuliskan beberapa panduan yang bisa dijadikan referensi.

1. Persyaratan Mediator Taaruf

Persyaratan menjadi seorang mediator taaruf tidak jauh berbeda dengan persyaratan yang terkait dengan aktivitas muamalah lain dalam islam, di antaranya : 

- Islam; yang non islam tidak dapat dijadikan mediator.
- Baligh; tentu anak kecil tidak bisa menjadi mediator.
- Berakal sehat; seseorang yang kondisi kejiwaannya tidak sehat tentunya tidak bisa menjadi mediator.
- Amanah; proses taaruf adalah proses yang bersifat rahasia dan tidak untuk disebarluaskan, sehingga yang menjadi moderator haruslah yang amanah, bisa menjaga kerahasiaan biodata taaruf, kerahasiaan proses taaruf, dan hal-hal terkait privasi masing-masing pihak yang bertaaruf.
- Mengetahui adab-adab taaruf; mediator perlu mengetahui adab-adab taaruf sehingga bisa menjaga proses taaruf berjalan syar'i, seperti meluruskan niat bertaaruf karena Allah, tidak berkhalwat (berduaan), menjaga rahasia kedua belah pihak, menjunjung kejujuran dalam menyampaikan informasi, sopan dalam berbicara, memutuskan proses dengan cara yang baik, dan lain-lain. 
- Sudah menikah; dengan pengalaman taaruf yang sudah dijalani sang mediator diharapkan bisa mengarahkan taaruf agar sejalan dengan syariat, juga memberikan saran dan solusi seandainya ada masalah selama proses berjalan.

Seperti yang dijelaskan di tulisan sebelumnya, yang belum menikah saya sarankan dijadikan pilihan terakhir saja, asalkan masih mahramnya dan tentunya tidak 'lintas gender, misalnya seperti :

- Kakak laki-laki yang belum menikah menjadi mediator taaruf adik perempuannya dengan seorang ikhwan.
- Adik perempuan yang belum menikah menjadi mediator taaruf kakak laki-lakinya dengan seorang akhwat.

Dengan demikian tidak ada kemungkinan seseorang yang diperantarai justru pada akhirnya malah berproses dengan perantaranya, yang tentunya dapat meninggalkan prasangka buruk bagi pihak lain yang diperantarai.

Bagi seorang akhwat, ayah/walinya-lah yang sebaiknya menjadi mediator/perantara proses tersebut, namun kebanyakan orang tua memberikan amanah ke sang anak untuk mencari sendiri si calonnya, alternatifnya bisa minta bantuan saudara, guru ngaji, sahabat dekat, atau pihak lainnya untuk menjadi mediator. Apabila sudah memiliki guru ngaji sendiri tentunya perlu diprioritaskan, namun apabila belum punya maka bisa minta bantuan pihak lainnya untuk menjadi mediator asalkan syarat-syarat di atas terpenuhi.

2. Tugas dan Kewenangan Mediator

Dalam menjalankan tugasnya, ada beberapa kewenangan mediator yang perlu diketahui dan disepakati oleh pihak-pihak yang bertaaruf. Komunikasi dan interaksi antara kedua belah pihak tentu akan dibatasi oleh kewenangan mediator tersebut. Beberapa tugas dan kewenangan mediator taaruf di antaranya : 

- Mengatur dan memantau jalannya proses taaruf sehingga tetap berjalan sesuai syariat yang ada.
- Memerantarai komunikasi selama proses taaruf berjalan untuk menghindari kemudharatan komunikasi langsung.
- Memberikan nasihat apabila ada masalah yang dihadapi kedua belah pihak selama proses taaruf berjalan

Dengan niat membantu ikhtiar rekan lain dalam pencarian jodohnya dan mengharap pahala dari Allah SWT semata insya Allah semuanya akan ringan untuk dijalani. 

3. Manfaat Taaruf Offline

Aktivitas utama taaruf offline adalah mempertemukan, yaitu mempertemukan ikhwan dan akhwat yang ingin mengenal satu sama lain dengan niat menjalin hubungan yang lebih serius dalam ikatan pernikahan. Kalaupun kedua belah pihak sudah saling mengenal, kondisikan seakan-akan mereka dalam posisi yang belum pernah mengenal sebelumnya, sehingga proses taaruf offline ini dapat dijadikan sebagai sarana perkenalan lebih jauh kedua belah pihak. 

Dari Al-Mughiroh bin Syu'bah radhiyallahu'anhu bahwasannya beliau melamar seorang wanita maka Nabi Muhammad shallallahu'alaihiwasallam pun berkata kepadanya "Lihatlah ia (wanita yang kau lamar tersebut) karena hal itu akan lebih menimbulkan kasih sayang dan kedekatan diantara kalian berdua."

Tentu bukan hanya hak ikhwan yang ingin melamar untuk mengetahui siapa yang akan dilamarnya, tapi juga hak akhwat untuk mengenal siapa yang akan melamarnya. Foto yang dipasang di biodata mungkin belum menggambarkan kondisi fisik yang sebenarnya, karena itu perlu dipastikan dalam sesi taaruf offline ini. Informasi yang tertulis di biodata pun mungkin hanya sedikit, sehingga perlu disampaikan lebih jelas dalam sesi taaruf offline ini. Dengan adanya taaruf offline maka kondisi nyata pihak yang bertaaruf dapat diketahui lebih jauh dibandingkan dengan hanya melihat beberapa halaman biodata saja. 

4. Persiapan Taaruf Offline Perdana

Taaruf offline perdana adalah proses taaruf offline paling awal yang perlu dijalani pihak yang bertaaruf sebelum melanjutkan ke proses yang lebih jauh. Karena sifatnya baru awalan, maka proses taaruf ini cukup dihadiri oleh mediator dan kedua pihak yang bertaaruf. Dalam sesi taaruf perdana ini, mediator perlu mempersiapkan hal-hal berikut ini : 

- Menentukan Lokasi Pertemuan

Lokasi pertemuan disepakati bersama antara mediator, pihak ikhwan, dan pihak akhwat sebelum pertemuan dilaksanakan dengan mempertimbangkan domisili masing-masing pihak. Lokasi pertemuan sebisa mungkin lebih dekat dengan domisili pihak akhwat dengan pertimbangan kondisi akhwat yang lebih rawan dari sisi keamanan diri, beda dibanding kondisi pihak ikhwan yang dapat dikatakan tanpa batasan ke manapun dan sejauh apapun dia bepergian. Kalaupun terpaksanya tidak bisa maka lokasi pertemuan yang lebih dekat dengan domisili pihak ikhwan dapat dijadikan pilihan terakhir, itupun bila pertimbangan keamanan pihak akhwat bisa terjamin, dan akan lebih baik lagi bila pihak akhwat didampingi mahramnya. 

Area masjid bisa dijadikan prioritas pertama untuk lokasi pertemuan dengan mempertimbangkan kondisi masjid apakah kondusif untuk dijadikan lokasi pertemuan atau tidak, karena situasi yang terlalu ramai akan mengganggu jalannya diskusi dan tanya jawab yang dilakukan. Alternatif lain selain masjid bisa di rumah mediator, rumah pihak akhwat, ataupun di lokasi lain yang dinilai kondusif.

- Menentukan Waktu Pertemuan

Tanggal pertemuan dan jam pertemuan disepakati bersama antara mediator, pihak ikhwan, dan pihak akhwat sebelum pertemuan dilaksanakan dengan mempertimbangkan keluangan waktu masing-masing pihak. Berdasarkan pengalaman, satu sesi taaruf offline perdana ini memerlukan waktu setidaknya 1-2 jam, tergantung seberapa banyak pertanyaan yang diajukan kedua belah pihak. Dari perkiraan kebutuhan waktu tersebut, waktu yang optimal untuk pertemuan adalah pagi hari hingga sebelum Dhuhur, dan ba'da Dhuhur hingga menjelang Ashar. Ba'da Ashar hingga menjelang Maghrib adalah pilihan terakhir, kecuali bila lokasi pertemuan dekat dengan kediaman pihak akhwat sehingga bisa diperkirakan pihak akhwat bisa sampai rumahnya sebelum malam tiba terkait kondisi akhwat yang cukup rawan dari sisi keamanan diri.

- Meminta Kedua Pihak Untuk Menyiapkan Pertanyaan

Sesi taaruf offline dimanfaatkan sebagai sarana kedua belah pihak menggali lebih jauh profil, karakter, cara pandang, keseharian, dan informasi lain yang diperlukan. Semakin banyak tanya jawab ataupun diskusi yang dijalani, maka akan semakin banyak pula informasi yang bisa digali antara kedua belah pihak. Dari informasi yang didapat tersebut maka akan ada 'pencerahan' bagi kedua belah pihak, apakah banyak kecocokan sehingga mantap untuk lanjut proses, ataukah memutuskan untuk mengakhiri proses karena banyak ketidakcocokan. 

Mediator perlu menyampaikan pesan kepada kedua belah pihak untuk menyiapkan sebanyak-banyaknya pertanyaan yang ingin disampaikan ke pihak lainnya saat pertemuan offline ini. Entah karena grogi saat pertama bertemu atau sebab lainnya, tak jarang kedua belah pihak lupa apa saja pertanyaan yang akan diajukan ke pihak lainnya saat pertemuan berlangsung. Karena itu, kedua belah pihak dipesankan juga agar mencatat apa saja pertanyaan yang ingin ditanyakan ke pihak lainnya nanti, sehingga saat taaruf offline tinggal disampaikan ke pihak yang lain. 

5. Gambaran Proses Taaruf Offline Perdana

Setelah lokasi pertemuan dan waktu pertemuan sudah disepakati, serta pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan sudah dipesankan ke pihak yang bertaaruf, maka tibalah saat hari pertemuan itu. Mediator perlu datang lebih awal dari jam yang telah disepakati untuk memastikan lokasi pertemuan kondusif dan mencari lokasi yang nyaman untuk pertemuan, apabila sudah ditemukan maka tinggal menghubungi kedua belah pihak dan menanti kedatangan mereka di lokasi yang telah ditentukan.

Berikut ini gambaran sesi taaruf offline yang dijalani : 

- Ucapkan salam saat bertatap muka pertama kali, jabat tangannya, diteruskan dengan obrolan santai untuk lebih mengakrabkan diri dengan pihak-pihak yang akan bertaaruf. Mediator ikhwan mengakrabkan diri ke pihak ikhwan, dan mediator akhwat ke pihak akhwat. Tanyakan kabarnya, bagaimana dia datang ke lokasi taaruf, dan obrolan santai lainnya.

- Setelah berada di lokasi taaruf pilihan, ambil posisi senyaman mungkin untuk sesi tanya jawab ini dengan posisi pihak-pihak yang bertaaruf dipisah oleh mediator dan pasangannya. Jangan terlalu dekat, namun jangan pula terlalu jauh agar suara kedua belah pihak masih bisa terdengar jelas. 

- Awali sesi taaruf offline dengan bismillah, selanjutnya persilakan pihak ikhwan untuk mengawali sesi taaruf dengan pembacaan ayat suci Al Quran beberapa ayat sehingga bisa diketahui apakah memang ikhwan ini lancar bacaannya atau tidak, yang mungkin bisa jadi penilaian tersendiri bagi pihak akhwat. 

- Mediator memperkenalkan dirinya dan pasangannya (apabila belum pernah kenal sebelumnya), dilanjutkan dengan memberikan arahan dan pengantar singkat seputar proses taaruf yang dijalani dan menjelaskan adab-adab taaruf yang mungkin belum diketahui pihak yang bertaaruf.

- Mediator mempersilakan pihak ikhwan untuk memperkenalkan dirinya terlebih dulu, dilanjutkan dengan perkenalan dari pihak akhwat. Bila suara dari kedua belah pihak dirasa kurang keras, mediator perlu mengingatkan agar suaranya diperkeras supaya tidak menimbulkan kesalahpahaman karena suara yang tidak jelas. Ingatkan juga agar kedua belah pihak jangan terlalu tegang dalam sesi taaruf offline ini, anggap saja seperti perkenalan dengan teman biasa sehingga bisa lebih santai menjalaninya.

- Sesi tanya jawab dimulai. Mediator mempersilakan salah satu pihak untuk mengajukan pertanyaan ke pihak yang lainnya, misalnya pihak akhwat terlebih dulu. Persilakan pihak akhwat untuk membuka 'contekan' pertanyaan yang telah dipesankan sebelumnya, beri kesempatan pihak ikhwan untuk menjawab pertanyaannya. Setelah pihak ikhwan menjawab, gantian pihak ikhwan yang mengajukan pertanyaan, demikian seterusnya. Maksimalkan sesi ini untuk menggali lebih dalam profil, cara pandang masing-masing pihak mengenai suatu hal sehingga terlihat apakah memang banyak kecocokan pandangan atau malah banyak perbedaan, yang nantinya bisa dijadikan pertimbangan lebih lanjut untuk meneruskan proses atau tidak.

- Mediator diperbolehkan juga untuk bertanya ke pihak-pihak yang bertaaruf untuk melengkapi 'contekan' pertanyaan yang telah mereka siapkan. Pertanyaan bertemakan 'studi kasus', dengan awalan semacam 'bila kelak kedua belah pihak berjodoh' atau 'kalau nanti berjodoh', bisa disampaikan mediator untuk mengetahui pandangan masing-masing pihak mengenai suatu hal, misalnya : "Bila kelak kedua belah pihak berjodoh, pihak akhwat ingin tetap berkarir meskipun sudah punya anak, bagaimana pendapat pihak ikhwan?", "Kalau nanti berjodoh, pihak ikhwan meminta pihak akhwat untuk berhenti kerja dan tinggal di rumah saja bagaimana?", dan pertanyaan semacam itu.

- Tidak ada batasan berapa lama sesi ini dijalankan, karena tergantung dari banyak sedikitnya pertanyaan yang disampaikan masing-masing pihak. Lebih banyak pertanyaan yang disampaikan tentunya lebih bagus, karena masing-masing pihak bisa lebih mengetahui cara pandang pihak yang lainnya. Namun bila karena satu dan lain hal, misalnya terpotong waktu Dhuhur atau Ashar, maka sesi taaruf dihentikan sementara dan bisa dilanjutkan setelah sholat nanti.

- Bila sudah tidak ada lagi pertanyaan yang ingin diajukan pihak-pihak yang akan bertaaruf, mediator menyampaikan pesan penutup untuk mengakhiri sesi taaruf offline ini. Setelah taaruf offline ini, persilakan masing-masing pihak untuk istikhoroh, menimbang-nimbang lagi informasi-informasi yang telah didapat dari pihak-pihak yang bertaaruf di sesi tanya jawab yang telah dilaksanakan. Bila masing-masing pihak masih memerlukan informasi yang lebih jauh, pihak-pihak yang bertaaruf bisa menghubungi mediator untuk menanyakan hal tersebut, selanjutnya mediator akan meneruskan pertanyaan tersebut ke pihak yang lainnya.

- Mediator perlu mengingatkan juga bahwa keputusan lanjut atau tidaknya untuk berproses sekitar satu minggu dari pertemuan offline, karena terlalu lama menunggu tidak baik untuk keduanya. Tak perlu ragu untuk meminta saran dan nasihat dari mediator apabila masih ada keraguan dalam memutuskan lanjut atau tidaknya ke proses berikutnya. Tak lupa juga sampaikan bahwa bila nantinya proses taaruf tidak berlanjut karena salah satu atau keduanya merasa belum cocok, maka sesi taaruf offline ini kita anggap sebagai sarana silaturahim antar saudara sesama muslim, dan diharapkan masing-masing pihak bisa ikhlas menerima apapun keputusannya. Namun bila kedua belah pihak sama-sama ingin lanjut proses, maka mediator akan memberikan arahan selanjutnya untuk sesi taaruf offline lanjutan ke pihak keluarga masing-masing. 

- Mediator menutup sesi taaruf offline dengan bacaan hamdalah, mohon maaf apabila ada kesalahan selama proses taaruf berjalan. Dampingi kedua belah pihak sambil bicara santai saat kepulangan, mediator ikhwan dengan pihak ikhwan dan mediator akhwat dengan pihak akhwat. Pastikan agar kedua belah pihak tetap terjaga, tidak pulang berduaan hingga 'titik perpisahan'. 

6. Keputusan Proses Taaruf Perdana

Sekitar satu minggu setelah pertemuan, mediator mengingatkan ke masing-masing pihak mengenai hasil istikhorohnya, apakah ingin tetap lanjut proses atau tidak. Mediator sebaiknya menanyakan keputusan pihak ikhwan dulu apakah lanjut atau tidak, kalau dari pihak ikhwan memutuskan lanjut maka tinggal ditanyakan ke pihak akhwat apakah berniat juga untuk lanjut proses atau tidak. Apabila keputusan pihak ikhwan tidak lanjut, informasikan ke pihak akhwat bahwa pihak ikhwan tidak berkenan untuk lanjut proses, sampaikan bahwa insya Allah keputusan tersebut adalah yang terbaik menurut Allah SWT untuk menguatkan hati pihak akhwat yang mungkin sebenarnya dalam posisi yang mantap untuk lanjut proses. Bila ternyata pihak akhwat dalam posisi yang juga memilih untuk tidak lanjut proses maka kondisinya aman, karena kedua belah pihak sama-sama tidak berkenan untuk lanjut proses. Bila keduanya sepakat untuk lanjut proses maka dapat diarahkan ke proses taaruf keluarga.

7. Taaruf Keluarga

Proses taaruf tidak hanya melibatkan si ikhwan dan si akhwat yang dipertemukan di pertemuan offline saja, tetapi juga keluarga kedua pihak yang bertaaruf. Bila berjodoh, yang duduk di pelaminan tentu bukan hanya dua orang tersebut, melainkan juga didampingi oleh orang tua/keluarga kedua belah pihak di sisi kanan dan kiri mereka. Karena itu, keluarga kedua belah pihak juga berhak mendapatkan sesi tersendiri dalam proses taaruf keluarga. 

Untuk awalan proses taaruf keluarga, berikan kesempatan ke sang ikhwan untuk bersilaturahim ke pihak akhwat dengan didampingi mediator, tidak perlu membawa serta pihak keluarga ikhwan. Kesempatan pertama diberikan ke si ikhwan dengan pertimbangan keluarga akhwat yang cenderung lebih banyak pertimbangan dibandingkan pihak keluarga ikhwan yang cenderung menyerahkan urusan jodoh ke si ikhwannya sendiri. Sama seperti proses yang dijalani si akhwat, beri kesempatan pihak keluarga akhwat untuk lebih mengenal si ikhwan, gali sebanyak-banyaknya informasi mengenai si ikhwan sehingga pihak keluarga bisa mengetahui seperti apa profil si ikhwan ini. 

Bagi keluarga yang pemahaman keislamannya baik tentunya proses seperti di atas wajar saja, namun bagi keluarga yang masih awam menganggap proses taaruf seperti di atas cukup aneh bagi mereka, karena selama ini mereka hanya mengetahui aktivitas pacaran hingga anaknya menikah. Pengkondisian dan penyikapan ke keluarga yang masih awam ini tentu berbeda. Bagi mereka sekali silaturahim masih belum cukup, perlu beberapa kali pertemuan hingga pihak keluarga yakin akan pilihan anaknya. Dalam kondisi seperti ini tentu si anak perlu menyesuaikan diri, silaturahim bisa diagendakan selama beberapa kali, tentunya tetap dengan adanya pendamping dan tujuannya juga jelas, untuk lebih memperkenalkan diri ke pihak keluarga. Misalnya minggu pertama dikhususkan taaruf ke si bapak, minggu ke dua ke si ibu, minggu ketiga ke si kakak, minggu ke empat ke si adik, dan semacamnya, yang intinya agar pihak keluarga lebih mengenal. 

Setelah silaturahim dijalani, sampaikan ke si akhwat untuk menanyakan ke keluarganya apakah cocok dengan si ikhwan atau tidak. Kalau tidak cocok tentunya proses tidak bisa berlanjut, dan kedua belah pihak harus menerimanya karena bagaimanapun juga restu keluarga lebih utama. Kalau cocok, gantian pihak akhwat yang didampingi untuk bersilaturahim ke keluarga si ikhwan dengan agenda yang sama juga, yaitu agar keluarga pihak ikhwan bisa mengetahui seperti apa profil si akhwat itu. Setelah silaturahim dijalani, sampaikan ke si ikhwan untuk menanyakan ke keluarganya apakah cocok dengan si akhwat atau tidak. Kalau tidak cocok tentunya proses tidak bisa berlanjut, dan kedua belah pihak harus menerimanya karena bagaimanapun juga restu keluarga lebih utama. Kalau cocok juga maka taaruf bisa berlanjut ke tahap yang lebih serius lagi, yaitu taaruf antara kedua keluarga. Pihak ikhwan silaturahim ke keluarga pihak akhwat dengan didampingi keluarganya, untuk awalan tentunya belum perlu membahas masalah khitbah dan pernikahan agar keluarga pihak akhwat tidak 'kaget', namun bila memang kedua keluarga sudah sama-sama cocok berdasarkan informasi yang telah disampaikan oleh si ikhwan dan si akhwat, tentu tidak ada salahnya pembahasannya bisa lebih serius lagi. Apabila khitbah sudah terucapkan maka peran mediator beralih ke kedua pihak keluarga dalam mempersiapkan pernikahan. Pesankan ke si ikhwan dan si akhwat agar tetap menjaga hati hingga hari pernikahan tiba, karena sebelum ijab kabul terucap syariat masih membatasi.

Artikel dengan judul Ta'aruf dalam Islam, Adakah? Bagaimana dengan Pacaran? Jika Memang Ada Bagimana Tuntunanya dalam Islam telah di modifaksi oleh admin yang dirangkum dari tulisan Maswahyu, S.T. yang dikumpulkan dari situs Taaruf.myQuran.net dan Myquran.or.id. Mudahan Bermanfaat