Ruang Lingkup Pengertian Fikih

Advertisement

Pengertian Fikih - Fikih secara harfiah berarti memahami atau mengerti tentang sesuatu dan dalam pengertian ini fikih dan paham adalah sinonim. Kata fikih pada mulanya oleh orang-orang Arab bagi seseorang yang ahli dalam mengawinkan unta yang mampu membedakan mana yang betina dan mana yang jantan. Dengan sendirinya, ungkapan fikih di kalangan mereka sudah lumrah digunakan.[1] Dari ungkapan ini, dapat diberi pengertian “pemahaman dan pengertian yang mendalam tentang suatu hal’.[2] Al-Qur’an menggunakan kata fikih dalam pengertian “memahami” secara umum sebanyak 20 kali.[3] Ungkapan al-Qur’an menunjukkan bahwa pada masa Rasul istilah fikih tidak hanya digunakan dalam pengertian hukum saja, tetapi mempunyai arti yang lebih luas mencakup semua aspek kehidupan dalam Islam, baik teologis, ekonomi dan hukum. Pada periode awal ditemukan sejumlah istilah seperti fikih, ilmu, iman, tauhid, tazkir dan hikmah, yang digunakan dalam pengertian yang sangat luas, tetapi dikemudian hari arti yang banyak itu menyatu dalam pengertian yang sangat sempit dan khusus.

Alasan terjadinya perubahan ini adalah karena masyarakat muslim semasa hidup Rasul tidaklah kompleks dan beraneka ragam sebagaimana tumbuh berkembangnya Islam kemudian. Pada masa awal Islam istilah fikih dan ilmu sering digunakan bagi pemahaman secara umum. Rasul pernah mendoakan Ibnu Abbas dengan mengatakan (ya Allah berikanlah dia pemahaman dalam agama).[4] Dari statemen tersebut bisa ditangkap bahwa maksud dari pemahaman tersebut adalah bukan hanya bidang hukum semata, melainkan juga pemahaman tentang Islam secara luas.[5] Perlu diketahui juga bahwa kalam dan fikih tidak dapat dipisahkan sampai masa awal al-Makmun (w. 218). Berarti hingga abad ke-2 Hijrah fikih mencakup masalah-masalah theologis dan masalah-masalah hukum. Dalam kitab fikih al-akbar, karya Imam Abu Hanifah menyanggah kepercayaan pengikut Qadariyyah tentang prinsip-prinsip dasar Islam, seperti keimanan, keesaan Allah, sifat-sifat-Nya, kehidupan alam akhirat dan lain-lain.[6] Masalah-masalah ini adalah masalah-masalah kalam dan bukan masalah-masalah hukum, hal demikian menunjukkan bahwa kalam juga dicakup oleh istilah fikih pada masalah-masalah awal Islam, dikarenakan artinya yang umum dan komprehensif.

definisi hukum

Berdasarkan pengertian etimologis inilah bahwa terminologi fikih berarti memahami dan mengetahui wahyu (baik al-Qur’an maupun sunah) dengan menggunakan penalaran akal dan metode tertentu sehingga diketahui bahwa ketentuan hukum dari mukallaf (subjek hukum) dengan dalil-dalil yang rinci. Metode yang digunakan untuk mengetahui dan memahami ketentuan hukum ini kemudian menjadi disiplin ilmu tersendiri yang dikenal dengan ushul fikih, yang dapat diterjemahkan dengan teori hukum Islam. Usul fikih memuat prinsip-prinsip penetapan hukum berdasarkan kaidah-kaidah kebahasaan (pola penalaran bayani), kaidah yang berdasarkan rasio (penalaran tahlili) dan kaidah pengecualian (penalaran istihsani).[7] Akan tetapi dalam perkembangan berikutnya, muatan terminologi fikih tidak lagi bersifat umum, melainkan bersifat khusus pada hukum-hukum syariah yang berkaitan dengan perbuatan manusia.

Secara istilah definisi fikih yang dikemukakan oleh fukaha bekisar:

العلم بالأحكام الشرعية العملية المكتسب من أدلتها التفصلية

Ilmu tentang hukum syarak yang bersifat amaliah yang ditemukan dari dalil-dalil yang rinci.[8]

Berdasarkan definisi tersebut, paling tidak ada empat hal yang membedakan istilah fikih sebagai salah satu disiplin ilmu keislaman dengan selainnya, yaitu:

Pertama, fikih adalah suatu ilmu, sebagai suatu ilmu, fikih memiliki tema pokok dengan kaidah-kaidah serta prinsip-prinsip khusus. Karenanya, dalam mengkaji fikih mujtahid para manggunakan metode-metode atau pendekatan tertentu, seperti kias, istihsan, maslahah mursalah, atau metode ijtihad lainya.

Kedua, fikih adalah ilmu tentang hukum-hukum syariah, penggunaan kata “tentang hukum-hukum syariah” menunjukkan bahwa kajian dan ruang lingkup fikih menyangkut ketentuan-ketentuan yang bersifat syar’I dan tidak mencakup pada persoalan di luar hukum syarak, seperti hukum-hukum akal. Seperti satu adalah separuh dari dua, tidak termasuk ke dalam pengertian fikih menurut istilah.

Ketiga, fikih adalah ilmu-ilmu syarak yang bersifat ‘amaliah. Kata ‘amaliah menunjukkan bahwa hukum-hukum fikih selalu berkaitan dengan perbuatan yang dilakukan manusia baik dalam bentuk ibadah maupun muamalah. Dengan demikian hukum-hukum di luar ‘amaliah, seperti masalah-masalah yang berkaitan dengan masalah iman (I’tiqadiyah) serta cabang-cabangnya tidak termasuk dalam kajian fikih.

Keempat, fikih adalah ilmu tentang hukum-hukum syarak yang bersifat amaliah yang ditimbulkan dari dalil-dalil yang tafsili. Artinya hukum-hukum fikih diambil atau digali dari sumbernya yaitu nas al-Qur’an dan hadis melalui proses istidlal (pencarian hukum dengan dalil), atau istinbat (deduksi atau penyimpulan), atau nazar (analisis). Pengetahuan tentang kewajiban salat lima waktu, salah satu contoh, bukan termasuk dalam pengertian fikih, karena itu secara langsung (tekstual) dapat ditemukan dalam nas. Adapun kata tafsili dimaksudkan adalah satuan dalil yang masing-masing menunjukkan kepada suatu hukum dari suatu perbuatan tersentu, apakah wajib, haram, makruh dan kategori hukum lainnya (baca: pengertian hukum islam).[9]

Penjelasan definisi fikih tersebut dapat dipahami bahwa fikih berbeda dengan syariah. Perbedaan itu dapat dilihat, antara lain dari segi masa di mana syariah itu bersifat tetap dan pasti karena berasal dari kehendak Allah (sebagai Syari’ atau pembuat syariah), seperti ditegaskan bahwa hanya Allah swt. yang berhak menetapkan hukum syarak, sementara fikih, tidak bersifat tetap. Fikih bisa saja berubah sesuai dengan perbedaan tempat, perubahan waktu, serta lingkungan dan dinamika kultur masyarakat tersebut diterapkan.

Kebenaran dan keadilan fikih tidak besifat pasti akantetapi relatif atau nisbi, sifat fikih demikian disebabkan fikih adalah interpretasi terhadap hukum syarak. Berdasarkan fakta sejarah pembentukan fikih, bahwa factor sosio cultural, politik, dan factor lainnya ikut mempengaruhi bagaimana bentuk dan corak suatu fikih.

Syariah bukan pengertian fikih, akan tetapi hubungan keduanya sangat erat dan tidak dapat dipisahkan, karena syariah adalah asal, pokok sari atau inti, ajaran yang ideal serta berlaku universal, sementara fikih adalah cabang (furu’) atau perwujudan dari syariah. Fikih harus responsif terhadap persoalan-persoalan disekitarnya, oleh karena itu formulasi fikih tidak terlepas dari pengaruh-pengaruh bersifat kultural, dan karenanya, masa berlakunya bersifat temporal sesuai dengan kebutuhan ruang dan zaman tertentu. Konsekuensinya, perubahan dan perbedaan fatwa dan opini hukum dapat terjadi dengan perubahan waktu, tempat, situasi tujuan, niat dan adat istiadat. Hal tersebut adalah suatu keniscayaan sehingga fikih sebagai perwujudan syariah memiliki adaptabilitas dengan dinamika kehidupan sosial yang setiap saat terus berubah dan berkembang.

Letak penting fikih bagi syariah adalah syariah sebagai ajaran yang yakini, selalu up to date (salih likulli zaman wa makan), hanya bisa dibuktikan melalui fikih. Konsep-konsep fikih yang ideal –dan untuk kategori hukum yang behubungan dengan kategori kemasyarakatan umumnya bersifat global—harus diterjemahkan dalam tatarab praktis, wujud nyata atau dibumikan dalam realitas sosial, hal tersebut dapat decapai melalui fikih.

Dengan demikian, pengembangan syariah sangat tergantung pada fungsi dan pola fikih. Pengamalan hukum-hukum fikih adalah bagian dari pengamalan syariah juga, dengan kata lain fikih adalah bagian dari syariah, tetapi bukan syariah itu sendiri.

Catatan Kaki
[1]Ibnu Munzur, op.cit., jilid 8, h. 253.
[2]Jalaluddin al-Suyuti, al-Munzir (Kairo: tth.), h. 638.
[3]Muhammad Bassam Rusydi al-Zaini, al-Mu’jam al-Mufahras lima’ani al-Qur’an (Bairut: Dar al-Fikr al-Mu’as}ir, 1995), h. 905.
[4]Ibnu Saad, al-Thabaqat al-Kubra, (Beirut; 1959), h. 363.
[5]Orang Arab Badwi pernah meminta kepada Rasul agar mengutus kepala suku mereka untuk mengajarkan mereka masalah agama. Dari sana dapat dipahami bahwa orang Badwi tidak hanya minta diajari masalah hukum saja, tetapi seluruh aspek yang berhubungan dengan masalah agama. Lihat Ibnu Hisyam, al-Sirah (Kairo: 1329), hal. 32.
[6]Abu Hanifah an-Numan bin Tsabit al-Kufiy, al-Syarah al-Masyir ala al Fiqhain al-Asbah wa al-Akbar al-Mansubain li Abi Hanifaf, (Maktabah al-Furqan, 1999), h. 163.
[7]Alyasa Abu Bakar, Ahli Waris Sepertalian Darah, (Jakarta: INIS, 1998), hl. 7.
[8]Wahbah al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh (Dimaskus: Dar al-Fikr, tt.), h. 14.
[9]Saifuddin al-Amidi, Ah}kam fi Us}ul al-Ah}kam (Kairo: Muassasah al-Halabi, 1967), h. 8.

Pembahasan ruang lingkup pengertian fikih dapat memuat segala hal. mudahan artikel singkat ini membentu anda. 

0 Response to "Ruang Lingkup Pengertian Fikih"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!