Ternyata ada Hadis Pelarangan Syair, Apakah termasuk Puisi dan Sajak di dalamnya?

Advertisement
Ternyata ada Hadis Pelarangan Syair
Apakah termasuk Puisi di dalamny?

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَأَنْ يَمْتَلِئَ جَوْفُ أَحَدِكُمْ قَيْحًا خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمْتَلِئَ شِعْرًا

“Dari Nabi Saw, beliau bersabda: "Lambung seseorang penuh dengan nanah lebih baik daripada penuh dengan syair".

Hadis tentang pelarangan bersyair memiliki asbab al-wurud sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muslim dari riwayat Abu Said al-Khudri beliau berkata:

بينا نحن نسير مع رسول الله صلى الله عليه وسلم بالعرج إذ عرض شاعر ينشد فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : خذوا الشيطان , أو أمسكوا الشيطان , لأن يمتلئ جوف رجل قيحا خير له من أن يمتلئ شعرا 

"Ketika kami sedang berjalan bersama Rasulullah Saw di al-'Araj, tiba –tiba seorang penyair membacakan syair kepada kami Rasul pun berkata : "Tahan Syaitan itu, dan peganglah........,lalu beliau bersabda: "Lambung seseorang penuh dengan nanah lebih baik daripada penuh dengan syair". 

Ibnu Baththal berkata: sebahagian ulama berpendapat bahwa syair yang dimaksud dalam hadis adalah syair-syair yang mengandung hujatan terhadap Rasulullah Saw. Akan tetapi Abu ubaid secara pribadi berdasarkan kesepakatan ulama menganggap bahwa penafsiran tentang makna syair adalah penafsiran yang salah sebab kaum muslimin telah sepakat bahwa satu kalimat yang mengandung hujatan kepada Rasulullah Saw maka akan menjadikan kufur. Akan tetapi dikalangan sebahagian ulama melarang syair dan bersyair secara mutlak hal tersebut didasarkan perkataan Rasulullah Saw: "tahan Syaitan itu" dan firman Allah: 

وَالشُّعَرَاءُ يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوُونَ

Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat.” (Q.S. al-Syu'ara' : 224)

An-Nawawi berkata : syair itu hukumnya boleh selama tidak terdapat didalamnya hal-hal yang keji dan sejenisnya. Al-Mubarakfury berkata: yang dimaksud dengan memenuhi (perutnya dengan syair) adalah ketika syair telah menguasainya dimana dia lebih disibukkan dengannya dari al-Qur'an dan ilmu-ilmu Islam lainnya, maka hal tersebut menjadi syair yang tercela apapun bentuknya . Maka dari itu Imam al-Bukhary dalam shahihnya memberikan bab khusus tentang syair dengan nama bab dibencinya syair ketika lebih mendominasi manusia dari al-Qur'an dan dzikir kepada Allah. Jadi apabila seseorang menjadikan al-Qur'an dan Ibadah kepada Allah sebagai kesibukan utama, maka baginya boleh untuk membuat syair dan melantunkankannya selama syair tersebut, tidak bertentangan dengan aturan-aturan syari'at.

Nah Bagaimanakah dengan Puisi, yang merebak di Masyarakat Indonesia? Apakah di larang Juga?

Untuk menengahi permasalahan ini, ada baiknya meembedakan syair dan puisi. Syair merupakan salah satu dari berbagai macam puisi lama. Menurut sejarahnya, syair berasal dari negara Iran (awalnya dikenal dengan sebutan Persia). Kata syair itu sendiri berasal dari bahasa Arab, Syu'ur, yang berarti perasaan. Lambat laun kata syu’ur berkembang menjadi kata syi’ru yang berarti puisi jika dijabarkan secara umum. Dalam dunia sastra Melayu, termasuk yang berkembang di Indonesia saat ini, syair dipahami sebagai puisi secara umum.

Berikut ini adalah pengertian puisi menurut beberapa ahli:

Menurut Kamus Istilah Sastra (Sudjiman, 1984), puisi merupakan ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait.
Watt-Dunton (Situmorang, 1980:9) mengatakan bahwa puisi adalah ekpresi yang kongkret dan yang bersifat artistik dari pikiran manusia dalam bahasa emosional dan berirama.
Carlyle mengemukakan bahwa puisi adalah pemikiran yang bersifat musikal, kata-katanya disusun sedemikian rupa, sehingga menonjolkan rangkaian bunyi yang merdu seperti musik.
Samuel Taylor Coleridge mengemukakan puisi itu adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah.
Ralph Waldo Emerson (Situmorang, 1980:8) mengatakan bahwa puisi mengajarkan sebanyak mungkin dengan kata-kata sesedikit mungkin.
Putu Arya Tirtawirya (1980:9) mengatakan bahwa puisi merupakan ungkapan secara implisit dan samar, dengan makna yang tersirat, di mana kata-katanya condong pada makna konotatif.
Herman J. Waluyo mendefinisikan bahwa puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya.

Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa puisi adalah karya sastra yang menggambarkan perasaan dan pemikiran penulisnya, yang disusun dengan berbagai keterikatan, baik jumlah bait, larik, maupun rima yang dihasilkan dan pada akhirnya menciptakan sebuah keindahan estetika dalam perasaan pembacanya.

hukum puisi dan syair dalam islam
Hukum puisi dan syair (foto: bahasa.aquila-style.com)
Sajak adalah juga salah satu jenis karya sastra yang juga dimaknai seperti puisi. Hanya saja bentuknya lebih bebas dan tidak lagi terikat oleh keteraturan bait, larik, atau rima. Bentuk sajak tergantung pada penulisnya. Namun sajak bukanlah sesuatu yang hanya ditulis asal-asalan. H.B. Jassin, menjelaskan bahwa sajak adalah suara hati penyairnya, sajak lahir daripada jiwa dan perasaan tetapi sajak yang baik bukanlah hanya permainan kata semata-mata. Sajak yang baik membawa gagasan serta pemikiran yang dapat menjadi renungan masyarakat. Hal yang hampir serupa diungkapkan oleh Abdul Hadi W.M., beliau mengatakan bahwa sajak ditulis untuk mencari kebenaran. Beliau juga menambahkan bahwa dalam sajak terdapat tanggapan terhadap hidup secara batiniah. Oleh sebab itu menurut beliau, di dalam sajak harus ada gagasan dan keyakinan penyair terhadap kehidupan, atau lebih tepat lagi, nilai kemanusiaan.

Dalam ajaran Islam, tidak ada larangan untuk menulis syair, puisi, ataupun sajak. Allah SWT berfirman:

وَالشُّعَرَاء يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوُونَ. أَلَمْ تَرَ أَنَّهُمْ فِي كُلِّ وَادٍ يَهِيمُونَ. وَأَنَّهُمْ يَقُولُونَ مَا لا يَفْعَلُونَ. إِلاَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَذَكَرُوا اللَّهَ كَثِيرًا وَانتَصَرُوا مِن بَعْدِ مَا ظُلِمُوا

“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap- tiap lembah. Dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)? Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman.” (QS. Asy-Syu’ara`: 224-227)

Dalam hadist dibawah ini juga dijelaskan diperbolehkannya menulis dan membaca syair.

إِنَّ مِنْ الشِّعْرِ حِكْمَةً

“Sesungguhnya di antara syair itu ada yang merupakan hikmah.” (HR. Al-Bukhari no. 6145)

Dari Al-Bara` bin ‘Azib radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Hassan bin Tsabit pada perang Quraizhah:

اهْجُ الْمُشْرِكِينَ فَإِنَّ جِبْرِيلَ مَعَكَ

“Seranglah kaum musyrikin (dengan syairmu), karena Jibril bersamamu.” (HR. Al-Bukhari no. 6153 dan Muslim no. 2486)

Namun, meskipun demikian, sebagaiaman yang kami sebutkan di atas. Ada satu hadist yang meriwayatkan tentang keburukan dalam bersyair (baik membaca ataupun menulis). Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

لَأَنْ يَمْتَلِئَ جَوْفُ أَحَدِكُمْ قَيْحًا يَرِيهِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَمْتَلِئَ شِعْرًا

“Sesungguhnya perut salah seorang di antara kalian penuh dengan nanah hingga merusak ususnya, itu lebih baik daripada perutnya penuh dengan syair (sajak).” (HR. Al-Bukhari no. 6154 dan Muslim no. 2258)

Maksud dari hadist diatas adalah kita boleh saja bersyair, tapi jangan terlalu sering, sampai membuat kita lupa mengkaji dan mempelajari Al-Qur'an serta sumber2 ilmu agama yang lain.

Kesimpulannya, kita sebagai umat islam diperbolehkan menulis atau membaca syair yang berisi kebaikan dan ajakan membentuk akhlaq yang lebih baik. Syair itu baik jika dapat melembutkan hati dan menanamkan perilaku positif terhadap pembacanya, terlebih lagi yang dapat meningkatkan ketaqwaan seseorang. Tetapi kita harus ingat bahwa kita juga tidak diperbolehkan terlalu sering menulis atau membaca puisi, karena mengkaji ilmu2 agama dalam Al-Qur'an dan hadist lebih diutamakan.