Tips Islami, Panduan Cara Memilih Pasangan Hidup (suami & Istri)

Advertisement

Perkawinan diibaratkan sebagai kontrak yang suci dan merupakan tiang utama pembentukan suatu keluarga yang baik. Begitu pentingnya perkawinan ini, maka Islam menentukan sejumlah aturan dan tindakan untuk mengokohkan rumah tangga yang dibentuk itu. Sebagian dari tindakan itu wajib diusahakan sejak pra pernikahan, sebagian lagi ada yang mesti dijaga sejak selesainya akad nikah guna memudahkan jalan bagi suami isteri untuk membina rumah tangga, sedangkan tindakan lain yang mesti diusahakan adalah tatkala adanya gangguan dan goncangan terhadap rumah tangga.1

 Panduan Cara Memilih Pasangan Hidup

Ajaran Islam sebagaimana yang terdapat dalam Q.S. al-Nur (24): 32 menerankan bahwa terdapat anjuran untuk mencari pasangan (suami atau istri) yang berperilaku baik (shalih) dan masih lajang. Al-Qur’an juga memberikan penekanan terhadap perlunya membentuk keluarga sakinah, mawaddah dan penuh rahmat. Untuk merealisasikan hal tersebut terdapat beragam upaya dalam menentukan keberadaan rumah tangga yang baik, salah satu diantaranya memilih pasangan yang sesuai dengan tuntunan Islam. Dalam Al-Qur’an dinyatakan bahwa hidup berpasang-pasang dan hidup berjodoh adalah naluri segala makhluk, termasuk manusia.2 Sebagaimana Firman Allah dalam surat adz-Dzariyah ayat 49 sebagai berikut: 

Artinya: “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah” (QS. adz-Dzariyah (51): 49) 

Selain itu juga disebutkan dalam Firman Allah SWT yang berbunyi: Artinya: “Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui” (QS. Yasin (36): 36) 

Sebagai salah satu rukun perkawinan, adanya calon suami atau istri, maka kedudukan keduanya menjadi sangat penting. Perempuan dan lelaki yang dapat dinikahi mempunyai kriteria tertentu sebagaimana dijelaskan oleh Nabi Muhammad saw. dalam sebuah hadisnya yang menyebutkan perempuan dinikahi karena empat hal. Walaupun khitab hadis tersebut terhadap perempuan, namun esensi kriterianya juga dapat diterapkan dalam teknik memilih jodoh yang baik bagi laki-laki. 

Adapun bunyi teks hadis adalah sebagai berikut: Artinya: Perempuan dinikahi karena empat faktor. Karena hartanya, nasabnya, kecantikannya dan karena agamanya. Maka menangkanlah wanita yang mempunyai agama, engkau akan beruntung. (HR. Bukhari, Muslim, al-Nasa’i, Abu Dawud, Ibn Majah, Ahmad ibn Hanbal, dan al-Darimi dari sahabat Abu Hurairah ra) 

Hadis di atas mengisyaratkan tentang cara memilih jodoh yang baik. Eksplorasi lebih jauh atas hadis-hadis tentang mencari pasangan ternyata tidak demikian adanya. Ada hadis yang hanya mencukupkan tiga syarat yakni harta benda, kecantikan dan agama. Namun, kesemuanya sabda Nabi Muhammad saw. tersebut lebih mengutamakan kebaikan dari sisi agama. Ulama banyak yang memberikan syarat tertentu dalam memilih jodoh dalam pernikahan. Tentu satu dengan yang lainnya berbeda dalam menginterpretasikah hadis di atas. Bahkan ada yang mencukupkan diri syarat wanita yang dinikahi adalah mempunyai akhlak yang baik. 

Pada suatu saat Nabi Muhammad saw. melarang perkawinan terhadap wanita yang dilandasi dengan kecantikan, dan harta benda. Lebih lanjut Rasulullah saw. memberikan penyelesaian yang terbaik dengan kriteria agama dengan mengibaratkan terhadap budak wanita yang hitam legam yang beriman lebih utama untuk dinikahi. Sifat perempuan yang baik juga pernah dituturkan oleh Nabi Muhammad saw. yang menggambarkan seorang wanita yang dapat menyenangkan suaminya ketika dipandang dan melakukan apa yang diperintahkan suami adalah sosok wanita yang baik. Di samping itu wanita yang tidak pernah menyalahi terhadap suaminya dalam hal harta benda dan hal-hal yang dibenci suaminya. 

Permasalahan tersebut menjadi penting karena calon mempelai merupakan sesuatu yang penting karena dari sinilah rumah tangga nanti dibangun. Sekilas nampak bahwa wanita sebagai obyek hadis tersebut. Namun, jika ditelusuri secara mendalam, terdapat hadis lain yang memfokuskan masalah dengan memilih jodoh yang berspektif gender di mana perempuan juga dapat beperan dalam menentukan jodohnya. Hadis yang terakhir tidak banyak diekspos dan dalam kajian fiqh cenderung dimasukkan dalam permasalah perwalian yang di mana hak tersebut disandang kaum laki-laki. 

Untuk mendudukkan bagaimana tuntunan Islam tentang pencarian jodoh sebagaimana tersebut dalam hadis, maka penulisan makalah ini dipandang perlu untuk dilakukan mengingat banyak orang yang mencari pasangan dengan melandasi pikiran terhadap landasan normatif seperti yang terdapat al-Qur’an dan hadis. 

1. Kaidah Umum Memilih Pasangan (jodoh)

Terdapat rambu-rambu yang berlaku umum bagi lelaki dan perempuan dalam memilih pasangan yang menjadi hak dan kewajiban mereka.3 Kaedah tersebut diantarannya:

a. Berdoa 

Artinya: “Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami anugrahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al-Furqan (25): 74). 

b. Calon Pasangan yang Asing (al-Ightirab: Tidak Ada Ikatan Darah dan Keluarga) 

Artinya: Janganlah kalian menikahi perempuan (yang masih mempunyai) ikatan keluarga, karena anak (yang akan lahir nantinya) memiliki fisik yang kurus (dhawiy).4 

Para ulama memberikan peringatan untuk tidak menikahi sanak famili, khususnya kerabat yang sangat dekat. Larangan ini disebabkan karena pernikahan yang seperti ini akan melahirkan anak yang mewarisi sebagian sifat lemah kedua orang tuanya. Sehingga memilih pasangan yang asing merupakan solusidari masalah ini karena, akan mewarisi sifat-sifat yang kuat pada generasi yang baru, dan akan membentuk jalinan satu hubungan keluarga yang baru. 

c. Al-Istikharah 

Artinya: Rasulullah saw. Pernah mengajari Ami untuk ber-istikharah di semua perkara seperti halnya beliau mengajari kami satu surah dari al-Qur’an. “Rasulullah bersabda: jika salah seorang antara kalian bimbang terhadap satu masalah, maka ruku’lah (shalatlah) dua rakaat yang bukan shalat fardhu (shalat sunnah) . . .” (HR. Bukhari) 

Mengambil keputusan untuk menikah adalah salah satu masalah terpenting di dalam kehidupan manusia, lelaki dan perempuan. Semua laki-laki maupun perempuan memiliki hak untuk menikahi seseorang yang merelakan dirinya untuk dijadikan pasangan. Doa istikharah yang di dalamnya terdapat permohonan untuk pertolongan dan taufik dari Allah SWT untuk memilihkan pasangan terbaik baginya. Juga tersurat dalam doa ini permohonan agar dimudahkan segala urusan dan dilapangkan dada jika terdapat kebaikan di dalamnya, atau permohonan untuk menghindarkan masalah jika terdapat keburukan dari bahaya urusan agama dan dunia. Setelah melakukan proses ini diharapkan nantinya seorang yang mencari pendamping hidup akan merasa berada di dalam tuntunan Allah SWT dan akan melangkah dengan hati yang lapang dada. Baik setelah atau sebelum melakukan resepsi nikah. 

d. Sosok istri dan Suami Terbaik 

Artinya: Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang patut (kawin) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan dengan karunia-Nya. Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. An-Nur (24): 32) 

2. Hadis Pedoman Memilih Pasangan Bagi Lelaki 

Artinya: Seorang wanita dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena keturunanya (nasab), karena kecantikannya dank karena agamanya. Maka utamakanlah agama. Hal itu akan menghalangi tanganmu. (HR. Bukhari, Muslim, al-Nasa’i, Abu Dawud, Ibn Majah, Ahmad ibn Hanbal, dan al-Darimi dari sahabat Abu Hurairah ra). 

Artinya: “Janganlah kalian menikahi seorang perempuan karena kecantikan, boleh jadi kecantikan mereka akan merusak mereka. Dan jangan pula karena hartanya, boleh jadi harta mereka akan menjadikan mereka membangkang. Nikahilah mereka karena agama. Dan sesungguhnya seorang budak perempuan hitam legam yang baik agamanya lebih utama untuk dinikahi” (HR. Ibnu Majah) 

Artinya:“Lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari kalian dan jangan kalian melihat kepada orang yang lebih dari kalian karena hal itu melindungi agar kalian tidak memandang rendah nikmat Allah SWT terhadap kalian” (HR. At-Thabrani) 

Artinya: “Barangiapa menikahi seorang wanita karena kemuliannya (martabat/kedudukan) 

Allah tidak menambah baginya kecuali kehinaan, dan barangsiapa yang mengawini seorang wanita karena hartanya, maka Allah tidak akan menambah baginya kecuali kefakiran, dan barang siapa yang mengawini wanita karna keturunan, maka Allah tidak menambah baginya kecuali kerendahan, dan barang siapa yang mengawini seorang wanita, ia tidak mengawininya kecuali untuk menundukkan pandangannya, menjaga kemaluannya atau menyambung silaturrahim, maka allah akan memberkahinya dalam (perkawinannya dengan) wanita itu dan memberkahi wanita itu dalam perkawinan dengan dirinya.” (HR. At-Thabrani) 

Artinya: “Hendaklah kamu memilih perempuan-perempuan yang masih gadis, kerana mereka lebih lembut kata-katanya, lebih mampu melahirkan anak yang ramai dan lebih reda dengan sedikit kesenangan”. (HR. Bukhari) 

Artinya: “Nikahilah wanita penyayang dan yang dapat memiliki anak kerana sesungguhnya aku berbangga dengan ramainya kamu (sebagai umatku).” (HR. Abu Daud) 

3. Hadis Pedoman memilih pasangan bagi perempuan 

Artinya: Jika datang seseorang lelaki yang engkau ridai agama dan akhlaknya, maka nikahlah ia (dengan anakmu). Karena jika engkau tidak melakukannya, maka (akan timbul) fitnah di muka bumi dan (tampak) kerusakan yang luas. (HR. Tirmidzi) 

Artinya: “Cukuplah seseorang itu berdosa bila ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Abu Dawud). 

Artinya: “Dari Fathimah binti Qais radhiyallahu ‘anha, ia berkata: ‘Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu aku berkata, “Sesungguhnya Abul Jahm dan Mu’awiyah telah melamarku”. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Adapun Mu’awiyah adalah orang fakir, ia tidak mempunyai harta. Adapun Abul Jahm, ia tidak pernah meletakkan tongkat dari pundaknya”.” (HR. Bukhari-Muslim) 

4. Analisis Hadis Memilih Pasangan Hidup 

Setiap orang berharap pernikahan yang ia telah laksanakan berlangsung seumur hidup. Saat menikah, setiap orang tentu menaruh harapan besar pernikahannya akan langgeng, tidak bubar di tengah jalan. Tidak pernah terlintas dalam benak siapapun saat menikah, akan adanya keinginan untuk segera menyudahi pernikahannya. Adalah sangat aneh, kalau ada yang berpikiran demikian, sedangkan pernikahan itu atas pilihannya sendiri. 

Dalam memilih pasangan hidup seorang tidak berpikir secara dangkal. Dan tidak cukup dengan berpikir secara mendalam, namun hendaknya ia berpikir secara mustanir (cemerlang). Ketika seorang melihat pasangan yang tampang atau cantik parasnya, lalu memutuskan untuk menikah karena alasan tersebut, maka saat itu ia telah menuruti pikiran dangkalnya. Namun jika seorang melihat segik fisiknya dan tergerak untuk menjadikan pasangan hidup dan ia merasa belum cukup sehingga ia berusaha mencari tahu bagaimana keluarga, kekayaanya, kebiasaanya, siapa teman-temannya, dan bagaimana perilaku mereka, lalu dari semua informasi itu, ia baru mengambil keputusan apakah melanjutkan kenginan menikah atau tidak, maka saat itu ia telah berpikir secara mendalam. Namun yang demikian belum cukup. Seseorang harus memutuskan dengan berpikir secara mustanir yaitu berusaha mencari backround keluarga pasangan, teman- temanya, kebiasaanya, pendidikannya, masa lalunya, kelakuan akhalknya, dakwah islamnya, serta bagaimana perilaku muamalahnya, lalu seseorang tersbut mencari bagaimana seharusnya tuntunan islam memilih pasangan maka hal itu dapat dikatakan berpikir secara mustanir.5 

Sebelum menganalisis sejumlah pertimbangan memilih pasangan sebagaimana yang telah kami sebutkan dalam beberapa hadis di atas, harus dipastikan terlebih dahulu bahwa orang yang dipilih bukan termasuk orang yang haram untuk dinikahi atau haram untuk menikahi. Karena jika termasuk orang-orang yang haram untuk dinikahi atau haram untuk menikahi, maka sejumlah pertimbangan itu menjadi tidak diperlukan. Karena bagaimanapun keduanya haram untuk menikah. Jadi kepastian tentang ini hal ini merupakan informasi pertama yang harus didapatkan sampai pada tingkat yang meyakinkan. 

Memilih sesuatu artinya membandingkan sesuatu dengan suatu pertimbangan atau standar penilaian. Sesuatu yang dipilih adalah yang paling sesuai dan paling memenuhi pertimbangan. Dalam memilih sesuatu hal utama yang harus ada terlebih dahulu adalah sejumlah pertimbangan dan standar penilaian. Tanpa pertimbangan dan standar ini, maka pemilihan itu akan menjadi pemilihan sembarang dan bukan berdasar pilihan terbaik. 

Dalam memilih pasangan, pertimbangan yang harus digunakan antara lain: pertimbangan faktor aku dan faktor dia. Faktor aku adalah faktor-faktor orang yang akan memilih. Sedangkan faktor dia adalah faktor-faktor pertimbangan yang ada pada orang yang akan dipilih. Faktor aku dan faktor dia masing-masing terdiri dari faktor diri dan faktor sekitar. Faktor diri meliputi: tujuan dan orientasi hidup; pola pikir; karakter; tabiat; status dan posisi. Dan faktor sekitar meliputi; orang tua dan keluaga; kebiasaan keluarga; lingkungan tumbuh; jaringan dan sebagainya. Yang kesemuanya itu telah tertuang dalam hadis yang telah pemakalah sebutkan di atas. 

Pertimbangan tersebut merupakan pertimbangan ideal. Sekalipun untuk memutuskan meminang atau menerima pinangan tidak mesti semua pertimbangan terpenuhi atau sudah dipertimbangkan, akan tetapi cukup pertimbangan utama. Bahkan sejumlah pertimbangan kadang harus diabaikan, jadi pertimbangan di atas hanya bersifat kondisional. 

Sebagaimana yang telah kami sebutkan di atas Rasulullah saw. menjelaskan realita yang terjadi bagaimana seseorang memilih calon pasangan hidupnya seraya menunjukkan bagaimana yang seharusnya. Rasulullah saw. bersabda: 

Artinya: Seorang wanita dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena keturunanya (nasab), karena kecantikannya dank karena agamanya. Maka utamakanlah agama. Hal itu akan menghalangi tanganmu. (HR. Bukhari, Muslim, al-Nasa’i, Abu Dawud, Ibn Majah, Ahmad ibn Hanbal, dan al-Darimi dari sahabat Abu Hurairah ra) 

Jika dalam diri seseorang perempuan terdapat empat karakter tersebut, ia adalah sosok perempuan yang paling istimewa. Namun, jika salah satu karaker tersebut hilang, tetapi karakter agamanya masih ada, sifat tersebut akan menutupi yang menjadi kekurangan dirinya. Akan tetapi sebaliknya, jika yang tidak ada dalam diri perempuan adalah sifat agama, kekurangan tersebut tidak dapat menutupi kekurangan lainnya. Bahkan anugerah nikmat dan kelebihan pada diri perempuan akan berubah menjadi bencana. Seseorang lelaki yang menikahi perempuan karena pertimbangan keistimewaan yang lain, seperti harta, kecantikan, dan nasab maka akan tertimpa malapetaka. Hal ini disebabkan, karena sifat agama yang kuat dapat meluruskan dirinya dan mencegah dari sikap menguasai nikmat yang ia miliki. 

Hadis ini memberikan penjelasan bahwa yang disukai dan mendorong para lelaki untuk tertarik dan menikahi seorang perempuan adalah empat hal, dan yang menjadi urutan terakhir adalah kebaikan agama. Maka nabi saw. memerintahkan kepada para lelaki bahwa jika mereka mendapati adanya kebaikan agama maka jangan berpaling darinya. Namun jika ia berpaling dari kebaikan agama, maka lelaki tersebut akan tertimpa kebangkrutan dan kemiskinan. 

Allah SWT menjelaskan bahwa sifat kecintaan kepada keindahan, perhiasan, dan kekayaan memang melekat dalam penciptaan manusia. Allah SWT berfirman yang Artinya: “Dijadikan indah (dalam pandangan) bagi manusia kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak berupa emas, perak dan kuda kuda pilihan, dan binatang ternak, dan sawah lading. Itu semua merupakan perhiasan dnia. Dan di sisi Allaha tempat kembali segala sesuatu” (QS. Ali ‘Imran (3): 14) 

Kecintaan terhadap apa yang diingini dalam ayat maupun yang terdapat dalam hadis adalah tabiat mendasar manusia. Sehingga wajar jika dalam memilih pasangan hidup seseorang melihat kecantikan, ketampanan, kekayaan, dan keturunan. Kecintaan tersebut oleh Yahya Abdurrahman dinamakan gharizah an-naw dan gharizah al-baqa’.6 Yaitu secara nampak mengutamakan sesuatu yang lebih maupun kurang (memiliki tujuan lain). Semisal menikahi seseorang karena alasan cantik atau tampan, kaya, keturunan ningrat tanpa mempertimbangkan agama. Atau malah sebaliknya terlihat zahir menikahi seseorang yang miskin untuk mengentaskan dari kemiskinan, sehingga masyarakat memberi pujian sebagai orang yang peduli. Yang nampak zahir dia adalah orang baik namun dibalik yang ia lakukan ada maksud lain. 

Rasulullah saw. melarang seorang memilih pasangan yang mengutamakan harta dan kecantikan saja. Sebagaimana dalam hadis yang berbunyi: 

Artinya: “Janganlah kalian menikahi seorang perempuan karena kecantikan, boleh jadi kecantikan mereka akan merusak mereka. Dan jangan pula karena hartanya, boleh jadi harta mereka akan menjadikan mereka membangkang. Nikahilah mereka karena agama. Dan sesungguhnya seorang budak perempuan hitam legam yang baik agamanya lebih utama untuk dinikahi” (HR. Ibnu Majah) 

Menyikapi banyak dan sedikitnya harta yang akan mendatangkan ketentraman, kecukupan, sebenarmya ukuranya bukan semata jumlah, akan tetapi lebih kepada bagaimana seseorang menyikapi harta tersebut. Perolehan harta tersebut juga diharuskan sesuai dengan tuntunan islam sehingga dapat menjaga perasaan tentram dalam memanfaatkannya. 

Sikap terhadap harta yang menentukan kebahagiaan diantaranya qanaah yaitu memiliki perasaan cukup terhadap apa yang dimiliki, disertai rasa syukur kepada Allah SWT. 7Namun hal ini sulit direalisasikan pada kondisi masyarakat yang terkepung dengan pandangan materialistik. Salah satu langkah tepat untuk menghadapi hal ini, nabi Saw. memberikan pertimbangan dalam sabdanya: 

Artinya:“Lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari kalian dan jangan kalian melihat kepada orang yang lebih dari kalian karena hal itu melindungi agar kalian tidak memandang rendah nikmat Allah SWT terhadap kalian” (HR. At-Thabrani) 

Berkaitan dengan keturunan, harta dan ketinggian kedudukan, Rasulullah saw. Juga memberikan peringatan dalam sebuah hadis: 

Artinya: “Barangiapa menikahi seorang wanita karena kemuliannya (martabat/kedudukan) Allah tidak menambah baginya kecuali kehinaan, dan barangsiapa yang mengawini seorang wanita karena hartanya, maka Allah tidak akan menambah baginya kecuali kefakiran, dan barang siapa yang mengawini wanita karna keturunan, maka Allah tidak menambah baginya kecuali kerendahan, dan barang siapa yang mengawini seorang wanita, ia tidak mengawininya kecuali untuk menundukkan pandangannya, menjaga kemaluannya atau menyambung silaturrahim, maka allah akan memberkahinya dalam (perkawinannya dengan) wanita itu dan memberkahi wanita itu dalam perkawinan dengan dirinya.” (HR. At-Thabrani) 

Kebanggaan dan tolak ukur kemuliaan didasarkan keturunan, kebangsawanan, dan kedudukan ini merupakan tolak ukur jahiliyah. Rasulullah saw. Telah menghapus tradisi tersebut dengan praktek pernikahan Zaid bin haritsah dengan Zainab binti Jahsyi. Selain itu dalam sebuah riwayat juga disebutkan saudara perempuan Abdurrahman bin ‘Awf telah diperistri oleh Bilal bin Rabbah seorang sahabat mantan budak dan berkulit hitam yang memiliki ketakwaan dan kesalehan.8 

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-Bazzar, Ibn Majah, dan al-Baihaqiy di atas, Rasul saw. melarang seorang menikahi wanita karena kecantikan maupun harta. Kemudian memperingatkan akibat yang mungkin muncul jika seseorang menikahi wanita karena ketinggian martabat, kedudukan, kekayaan dan nasabnya. Namun larangan dan peringatan itu tidak berarti tidak boleh. Para ulama sepakat bahwa hadis Rasulullah saw tersebut bukan menunjukkan keharaman. Tetapi peringatan konsekuensi buruk yang dapat terjadi. Jika seseorang menikahi seorang wanita karena ketiga faktor di atas, tidaklah berdosa. 

Selain keempat faktor di atas, pertimbangan lain dalam memilih pasangan (calon istri) dapat digunakan selama tidak bertentangan dengan Al-Qur’an maupun sunnah shahih. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Daud Al-Fattani dalam bukunya Idah Albab li Murid an- Nikah bil as-Sawab9: Mengutamakan wanita yang masih gadis dan sempurna akal. Sabda Nabi saw.: 

Artinya: “Hendaklah kamu memilih perempuan-perempuan yang masih gadis, kerana mereka lebih lembut kata-katanya, lebih mampu melahirkan anak yang ramai dan lebih reda dengan sedikit kesenangan”. (HR. Bukhari) 

Dari hadis tersebut dapat dipahami bahwa seseorang lelaki dianjurkan untuk mencari pasangan yang masih gadis. Namun anjuran ini tidak bersifat mutlak. Kerena ada sebuah riwayat dari Jabir bin Abdullah yang artinya: “Wahai Jabir, apakah engkau menikah? Aku menjawab: “benar”. Rasulullah saw. Bertanya: gadis atau janda?” aku jawab: “akan tetapi janda wahai Rasulullah” Nabi bertanya: “kenapa engkau tidak mengawini seorang gadis yang engkau bisa bermain dengannya dan dia bisa bermain denganmu, engkau bisa membuatnya tertawa dan dia bisa membuatmu tertawa?” jawabku: “sesungguhnya Abdullah (yakni bapaknya jabir) meninggal dunia dan meninggalkan sembilan anak perempuan dan aku tidak ingin mendatangkan bagi mereka yang semisal dengan mereka (sama-sama gadis), maka aku lebih suka mendatangkan bagi mereka seorang wanita yang bisa mengurus dan mendidik mereka” Nabi bersabda: “kalau begitu semoga Allah mencurahkan berkahnya kepadamu”. 

Dari hadis di atas terdapat anjuran menikahi seorang gadis, akan tetapi dengan pertimbangan tertentu seperti yang telah dialami Jabir, maka menikahi seorang janda yang sudah memiliki pengalaman mengurus anak, adalah lebih baik dan lebih tepat. Kondisi demikian terutama bagi seorang perjaka yang memiliki tanggungan adik-adik perempuan yang masih membutuhkan pengasuhan pendidikan intensif. Hal ini juga berlaku bagi seorang duda yang memiliki anak. Bagi mereka tentu lebih tepat jika menikahi janda yang memiliki pengalaman mengasuh dan mendidik anak. Memilih janda dilakukan sebagai pertimbangan bahwa mereka memiliki pengalaman dan kesabaran lebih dibandingkan seorang gadis. Tetapi hal ini tidak selalu demikian, banyak gadis yang memiliki pengalaman mengasuh dan mengurus anak sekaligus memiliki kesabaran. 

Selain itu Daud Al-Fattani juga menyebutkan hendaknya Memilih wanita yang subur dan al-Wadud (penyayang) Rasulullah Saw. bersabda : 

Artinya: “Nikahilah wanita penyayang dan yang dapat memiliki anak kerana sesungguhnya aku berbangga dengan ramainya kamu (sebagai umatku).” (HR. Abu Daud) 

Di antara hal yang perlu diperhatikan ketika memilih pendamping hidup adalah memilih seorang wanita yang subur. Kesuburan seseorang perempuan dapat diketahui dengan melihat keluarganya seperti adik perempuan, saudara ibunya dan sebagainya. Lelaki yang berpotensi mempunyai anak yang banyak juga dapat diketahui dengan melihat kepada keluarganya. 

Dalam memilih calon suami, seseorang perempuan dapat melakukan beragam cara. Seperti memilih secara langsung. Sebagaimana ketika Khadijah ra., ummul mu’minin, menyampaikan keinginannya untuk mempersuamikan Rasululla saw10. Cara memilih suami juga dapat dilakukan secara sindiran, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh anak Nabi Syu’aib yang termaktub dalam firman-Nya: Salah seorang dari kedua wanita itu berkata, “ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya. (QS. Al- Qashash (28): 26) 

Seseorang wali atau ayah dari anak perempuan dapat meminang seseorang lelaki untuk anak gadisnya atau perempuan yang berada di bawah perwaliannya, sebagaimana termaktub di dalam al-Qur’an: Berkatalah dia (Syu’aib): “sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salsah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberkatimu. Dan kamu insyaAllah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik.” (QS. Al-Qashash (28): 27). 

Menurut kebiasaan yang berlaku, seseorang perempuan dapat memilih calon pasangannya dengan menyetujui lamaran lelaki yang paling pertama. Rasulullah saw. Bersabda: 

Artinya: Jika datang seseorang lelaki yang engkau ridai agama dan akhlaknya, maka nikahlah ia (dengan anakmu). Karena jika engkau tidak melakukannya, maka (akan timbul) fitnah di muka bumi dan (tampak) kerusakan yang luas. (HR. Tirmidzi) 

Hadis di atas menegaskan kepada perempuan dan wali-walinya tentang cara memilih suami yang baik. Ukuran pilihan terbaik bagi perempuan dalam memilih suami adalah karena agamanya. Karena jika menyalahi standar ukuran ini, maka akan timbul suatu fitnah dan kerusakan. Sebagaimana yang telah dijelaskan di dalam hadis Nabi di atas. Satu hal yang tidak diragukan lagi, bahwa standar dalam mencari suami, pada banyak kasus, tidak mempedulikan aspek agama dan akhlak. Namun, yang diperhatikan justru masalah harta, materi, dan ketampanan secara fisik saja. Perilaku sikap seperti ini merupakan suatu aib yang memiliki bahaya yang besar. 

Salmah bin Said pernah menceritakan satu kisah, ia menuturkan, seorang lelaki pernah bertanya kepada Hasan Al-Bashri ra., “Saya memiliki seorang anak gadis, yang menyerahkan urusan lamarannya, tetapi dengan siapa saya akan menikahkannya?” Hasan Al-Bashri menjawab, “Nikahkanlah ia dengan seorang lelaki yang tunduk dan takut kepada Allah SWT. karena lelaki yang menyayangi dan mencintainya akan memuliakannya, tetapi jika ia membencinya, ia tidak akan menzaliminya.” 

Perempuan yang memiliki keutamaan (fadhilah) hendaknya mengetahui bahwa mereka tampak cantik di mata para muttaqin. Ar-Rafi’I berkata Sebagaimana dikutip oleh At-Thair11, “Menurut orang-orang bijak dan cerdas, semua istri yang fadhilah memiliki kecantikan yang sejati. Jika mencintai mereka bukanlah suatu keharusan, maka mengasihi dan menyayanginya adalah keharusan. Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, terdapat beragam cara bagi perempuan dalam memilih pasangan. Dalam buku Risalah hitbah karangan Yahya Abdurraahman disebutkan berbicara secara langsung tidak dibolehkan berkhalwat, sehingga perlu didampingi oleh orang terpercaya. Bagi seorang perempuan hal ini mungkin berat untuk dilakukan, sehingga dapat ditempuh cara lain seperti berbicara melalui telpon ataupun mengirim surat. 

Selain itu dalam memilih pasangan, ada satu kriteria yang penting untuk diperhatikan. Yaitu calon suami memiliki kemampuan untuk memberi nafkah. Karena memberi nafkah merupakan kewajiban seorang suami. Islam telah menjadikan sikap menyia-nyiakan hak istri, anak-anak serta kedua orang tua dalam nafkah termasuk dalam kategori dosa besar. Rasulullah saw. Bersabda: 

Artinya: “Cukuplah seseorang itu berdosa bila ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya. (HR. Abu Dawud). 

Rasulullah saw. membolehkan bahkan menganjurkan menimbang faktor kemampuan memberi nafkah dalam memilih suami. Seperti kisah pelamaran Fathimah binti Qais radhiyallahu ‘anha: 

Artinya: “Dari Fathimah binti Qais radhiyallahu ‘anha, ia berkata: ‘Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu aku berkata, “Sesungguhnya Abul Jahm dan Mu’awiyah telah melamarku”. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Adapun Mu’awiyah adalah orang fakir, ia tidak mempunyai harta. Adapun Abul Jahm, ia tidak pernah meletakkan tongkat dari pundaknya”. (HR. Bukhari-Muslim) 

Dalam hadits ini Rasulullah saw. tidak merekomendasikan Muawiyah ra. karena miskin. Maka ini menunjukkan bahwa masalah kemampuan memberi nafkah perlu diperhatikan. Namun kebutuhan akan nafkah ini jangan sampai dijadikan kriteria dan tujuan utama. Jika sang calon suami dapat memberi nafkah yang dapat menegakkan tulang punggungnya dan keluarganya kelak itu sudah mencukupi. Karena Allah dan Rasul-Nya mengajarkan akhlak zuhud (sederhana) dan qana’ah (menyukuri apa yang dikarunai Allah) serta mencela penghamba dan pengumpul harta. Rasulullah saw. bersabda, 

Artinya: “Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamishah dan celakalah hamba khamilah. Jika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah.” (HR. Bukhari). 

Selain itu, bukan juga berarti calon suami harus kaya raya. Karena Allah pun menjanjikan kepada para lelaki yang miskin yang ingin menjaga kehormatannya dengan menikah untuk diberi rizki. 

Artinya: “Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kalian. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya.” (QS. An Nur: 32) 

Kesimpulan 

Dari makalah di atas, dapat disimpulkan bahwa menikah adalah anjuran nabi SAW. Banyak hikmah yang dipetik dari ikatan perkawinan. Namun, banyak faktor pula yang menjadikan pernikahan berjalan dengan indah sehingga terjalinnya keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah. Salah satu yang mempengaruhinya adalah tergantung dalam memilih jodoh. 

Banyak hadits-hadits yang berkaitan dalam memilih jodoh dan yang paling terkenal adalah hadits tentang empat kriteria memilih pasangan hidup yang ideal yaitu karena hartanya, karena nasabnya, karena kecantikannya, dan karena agamanya, dan sebaik-baik pilihan adalah yang baik agamanya. 

Selain tentang kriteria pemilihan jodoh, hal yang tidak kalah penting untuk membina keluarga yang bahagia adalah dengan terlaksanakannya peminangan yang benar. Meminang sendiri difungsikan untuk menjaga kedua mempelai dari fitnah-fitnah yang biasa mucul sebelum akad nikah berlangsung. Sehingga apa yang diinginkan kedua mempelai menyempurnakan agama dengang menikah berjalan lancar sehingga dapat terciptanya keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah hingga hayat menjemput. 

Daftar Pustaka 

Sayyid Sabiq. Fiqih Sunnah, Bandung: al-Ma’arif, 1980. 
Syaltut, Mahmud. 1986. Al-Islam Aqidah wa Syari’ah, Kairo: Dar al-Qalam. 1986. 
Abdurrahman, Yahya. Risalah Khitbah Panduan Islami dalam m#emilih Pasangan dalamMeminang. Bogor: Al-Zahra Press, 2013. 
Al-Fattani, Daud. Idah Al-Bab li Murid an-Nikah bil As-Sawab. Baghdad: al-Muarif. tt 
Al Mundziri, Targhib dan Tarhi, Pen. Izzudin Karimi, Mustofa Aini, Kholid Samhudi, Jakarta: Pustaka Sahifa. 2007. 
Ash-Shon'ani, Imam Muhammad bin Isma'il bin Amir Al-Yamani Muhaqqiq. Subulus As-Salam. 
Riyadh: Maktabah Nazar Musthofa Al-Baz. 1995. 
Ath-Thahir, Fathi Muhammad. Petunjuk Mencapai Kebahagiaan dalam Pernikahan, Jakarta: Amzah. 2005. 
Ibnu Hisyam, Tahzibu Sirati, Kairo: Al-Falah, tt.



0 Response to "Tips Islami, Panduan Cara Memilih Pasangan Hidup (suami & Istri)"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!