Tradisi Manaqiban Syekh Samman pada Masyarakat Betawi

Advertisement

Tradisi Manaqiban Syekh Samman
(Studi Kasus pada Masyarakat Betawi di desa Kampung Janis, Pekojan Jakarta Barat)
oleh: Lina Halimah (07530056)

A. Pendahuluan

Di kalangan masyarakat Betawi di pantai Jakarta, warisan kebudayaan Islam tampak dari nilai-nilai agama yang telah terintegrasi ke dalam nilai budaya suku bangsa mereka. Sejalan dengan penerimaan sebagian unsur-unsur kebudayaan Arab melalui proses akulturasi sejak beberapa generasi lampau. Pada masa itulah orang-orang Arab dipandang elit oleh masyarakat Betawi, apalagi orang Arab keturunan Nabi Muhammad saw yang disebut Sayyid atau Habib. Mereka ini amat dihormati bukan hanya karena keturunan Nabi Muhammad saja, melainkan juga karena jasa mereka dalam penyebaran Islam. Betapa pentingnya keberadaan habib di mata orang Betawi, sehingga banyak orang Betawi yang belajar di Timur Tengah.[1] Terhitung sejak abad ke-17 dan abad ke-18, sejak jumlah orang Indonesia yang menuntut ilmu di Haramayn semakin banyak,[2] maka berbagai aliran tarekat pun mulai tumbuh dan berkembang di Tanah air, tak terkecuali dalam masyarakat Betawi di Jakarta.

Salah satu tarekat yang berkembang di masyarakat Betawi adalah tarekat Sammaniyah. Sammaniyah adalah sebuah tarekat yang penamaannya mengacu kepada pendirinya yakni Muhammad ibn Abdul Karim al-Madani al-Syafi’i, atau lebih dikenal dengan nama Syekh Muhammad Samman (1130-1189 H/1718-1775 M). Tarekat ini merupakan gabungan dari berbagai tarekat seperti Khalwatiyah, Qadiriyah, Naqsabandiyah dan Sadziliyah.[3] Sejalan dengan perkembangan tarekat, banyak pula masyarakat Betawi yang mengamalkan ajaran tarekat, seperti pembacaan Ratib Samman dan Manaqib Syekh Muhammad Samman. Hal ini dapat dilihat dari corak keagamaan, pembacaan Barzanji di setiap perayaan pernikahan, khitanan dan lainnya.

Tradisi Manaqiban Syekh Samman pada Masyarakat Betawi

Perkembangan tarekat Sammaniyah selanjutnya mengalami pergeseran, karena dari sudut geografis, Betawi merupakan pusat informasi dan transportasi, yang tentunya selalu mengalami perubahan. Tarekat yang pada akhir abad ke-18 sangat berkembang dan dianut oleh sebagian besar masyarakat Betawi, saat ini dapat dikatakan sudah jarang pengikutnya. Akan tetapi, kegiatan pembacaan Manaqib Samman masih sering dilakukan oleh masyarakat Betawi. Menurut mereka, merupakan suatu keharusan bila seseorang bernazar dan menginginkan suatu maksud (hajat) untuk membaca hikayat Syekh Samman. Dengan demikian, maka tak heran jika kitab Manaqib Syekh Samman ini dapat ditemukan di hampir setiap rumah warga Betawi di desa Kampung Janis Pekojan Jakarta Barat.

Berangkat dari asumsi di atas, penulis mencoba melakukan penelitian mengenai penggunaan ayat-ayat al-Qur’an dalam pelaksanaan tradisi Manaqiban serta sejauh mana pemahaman yang dimiliki masyarakat Betawi mengenai kegunaan ayat-ayat tersebut.

B. Manaqib Syekh Muhammad Samman

Manaqib berasal dari bahasa Arab yang berarti sifat kebaikan seseorang.[4] Dalam perkembangannya, istilah ini sering disebut juga dengan hikayat, yakni sejarah orang-orang shaleh yang sudah dikenal masyarakat sebagai tokoh besar. Di dalam manaqib tersebut dikisahkan mengenai sejarah lahir, sifat-sifat luhur yang dimiliki, kekaramahan dan perjuangan semasa hidupnya.[5]

Adapun Sammaniyah merupakan sebuah tarekat yang didirikan oleh Muhammad ibn Abdul Karim al-Samman, seorang guru tarekat kenamaan di Madinah. Muhammad Samman dilahirkan dari sebuah keluarga Quraisy pada tahun 1130 H/1718 M dan wafat pada 1189 H/1775 M. Ia melewati masa hidupnya dengan menetap di Madinah. Tarekat yang dianutnya ialah Qadiriyah. Ia menerima tarekat Qadiriyah dari seorang Syekh tarekat bernama Syekh Muhammad Tahir, di samping itu juga ayahnya adalah pemegang tarekat yang sama.[6]

Sebelum mendirikan tarekat tersendiri, Muhammad Samman mempelajari dan mendalami berbagai tarekat kepada guru-guru terbesar di zamannya. Namun, ia bukan hanya ahli di bidang tasawuf, akan tetapi juga mempelajari ilmu-ilmu Islam lainnya. Tersebut oleh Bruinessen dalam karyanya, bahwa guru-gurunya antara lain: Muhammad al-Daqaq, Sayyid Ali al-Athar, Ali al-Kurdi, Abdul Wahhab al-Thantawi dan Sa’id Hilal al-Makki; yang kelimanya merupakan ulama fiqh terkenal.[7]

Kitab-kitab manaqib Syekh Samman masuk ke Indonesia seiring dengan tersebarnya tarekat Sammaniyah, diperkirakan sekitar awal abad ke-19. Sampai saat ini, kitab manaqib tersebut masih ditulis dengan mempergunakan aksara Arab Melayu.

Disebutkan bahwa manaqib tersebut pada awalnya ditulis oleh Syekh Shiddiq ibn Umar Khan al-Madani, guru Abdul Shamad al-Palimbani dan Muhammad Nafis. Sebelum menulis sejarah hidup Syekh Samman, ia telah menulis syarh dari ­al-Nafahāt al-Ilāhiyyāh karya Syekh Muhammad Samman. Ia lalu menulis riwayar hidup gurunya dengn judul Manaqib al-Kubra, yang di dalamnya banyak diceritakan tentang keajaiban-keajaibannya. Kitab hikayat ini kemudian beberapa kali diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu dengan berbagai tambahan, yang pertama kali oleh Muhammad Muhyiddin ibn Syihabuddin al-Palimbani dengan judul Hikayat Syekh Muhammad Samman.[8]

Berikut inti ajaran yang terkandung dalam Manaqib Syekh Samman:

1) Memperbanyak shalat dan dzikir
2) Berlemah lembut kepada fakir miskin
3) Menjauhkan diri dari hal-hal yang bersifat duniawi
4) Menggantikan akal basyariyah dengan akal rubbaniyah
5) Tauhid kepada Allah dalam dzat, sifat dan af’al-Nya

Ajaran yang terkandung dalam Manaqib Samman yang lainnya ialah anjuran agar kaum Muslimin membiasakan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw.[9] Doa shalawat ini dibaca empat kali seusai shalat subuh.

Menurut Snouck Hurgronje, Ratib Samman dan Manaqib Samman sangat populer di Kepulauan Indonesia pada abad yang lalu, dan dilaksanakan dengan gerakan badan menurut cara tertentu. Lafaz-lafaz yang diucapkan dalam ritual tersebut ditentukan oleh Syekh Muhammad Samman. Diceriterakan bahwa orang yang membaca dan mendengarkan Manaqib tersebut dianggap berpahala dan bahkan tidak sedikit yang bernazar jika membacanya akan mendapatkan keberuntungan.

Diakui bahwa masyarakat Betawi lebih memilih sosok Syekh Muhammad Samman sebagai tawasul untuk mencapai tujuan dunia dan akhirat, berbeda dengan masyarakat Jawa Timur yang memiliki kecenderungan untuk bertawasul kepada Syekh Abdul Qadir Jaelani. Hal ini disebabkan antara lain:

1) Dari perspektif geografis, Jakarta terhitung dekat dengan Palembang. Pada zaman dahulu, komunikasi antara alim ulama’ di Jakarta dan Palembang terjalin dengan amat baik, dan hal ini berpengaruh pada kegiatan keagamaan di kedua tempat tersebut, yakni mereka sama-sama bersumber pada sosok wali yang sama, Syekh Muhammad Samman.

2) Banyaknya orang Betawi yang belajar ke Mekkah

3) Naskah yang dirujuk oleh masyarakat Betawi menggunakan bahasa Arab Melayu, berbeda dengan tarekat Naqsabandiyah dan Qadiriyah yang Manaqib-nya menggunakan bahasa Arab.

C. Asal Usul Tradisi

Pada tahun 1186 H/1773 M, Abdurrahman al-Batawi, Muhammad Arsyad dan Abdul Wahab al-Bugisi kembali ke nusantara. Saat bersilaturahmi dengan Syekh Abdul Qahar, mereka juga mengadakan pembaharuan, dan tentunya memperkenalkan tarekat Sammaniyah kepada masyarakat Betawi asli yang saat itu dominan di Jakarta.[10] Perlu diketahui bahwa di Jakarta Selatan, Kuningan, ulama yang aling terkemuka saat itu adalah KH. Abdul Mughni (1860-1935 M), yang merupakan salah satu orang Betawi hasil didikan Timur Tengah. Sepulangnya ke Tanah Air, ia menyebarkan ilmu-ilmu yang diperolehnya di Mekkah, yakni Ratib Samman dan Syair Burdah, dan mengajarkannya kepada mrid-muridnya yang datang dari seluruh pelosok Jakarta.[11] Maka, dapat disimpulkan bahwa tokoh yang paling berperan besar dalam penyebaran tarekat Sammaniyah dan ajaran-ajarannya di kalangan Masyarakat Betawi ialah Syekh Abdurrahman al-Batawi dan KH. Abdul Mughni.

Menurut Ibu Aminah, kebiasaan membaca Manaqib Samman di masyarakat Betawi ini bermula dari:[12]

1) Keluarga secara turun temurun
2) Lingkungan masyarakat yang melazimkan mengadakan kegiatan tersebut
3) Lingkungan pendidikan informal (misal: pengajian)
4) Lingkungan pendidikan formal (misal: madrasah, sekolah keagamaan)

D. Deskripsi Tradisi

1. Teknis Pelaksanaan
Dalam kegiatan keagamaan, pelaksanaan Manaqiban di Kampung Janis, Pekojan Jakarta Barat hanya dilaksanakan apabila ada perayaan syukuran seperti kelahiran anak, kesembuhan dari penyakit, dan seusai pesta pernikahan. Pelaksanaannya tidak dilakukan secara rutin dan dilaksanakan tergantung pada si empunya hajat.

Untuk mengadakan acara Manaqiban, lazimnya undangan datang dari si empunya hajat, dengan memberikan berita atau pengumuman ke setiap Majlis Ta’lim sekitar rumahnya, atau tempat-tempat si empunya hajat mengikuti pengajian. Kegiatan ini hampir tidak pernah dilaksanakan secara perorangan, karena pada umumnya Manaqiban merupakan upacara besar di desa ini.

Ketika pembacaan Manaqib mulai dilaksanakan, si empunya hajat mempersiapkan peralatan seperti kitab Samman, minyak wangi, kembang campur, segelas air putih dan surat Yasin. Biasanya, si empunya hajat mengundang tetangga untuk menghadiri acara tersebut dengan menyediakan makanan dan minuman sesuai dengan kemampuan orang yang melaksanakannya.

Pelaksanaan Manaqiban ini biasanya dipimpin oleh seorang guru ngaji atau seorang tokoh terkemuka dalam masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan. Kegiatan ini dilaksanakan selama kurang lebih dua jam dengan prosesi acara sebagai berikut:

1) Pembukaan. Di dalam Pembukaan biasanya dijelaskan maksud dan tujuan dilaksanakannya acara Manaqiban tersebut.
2) Setelah diawali Pembukaan dari si empunya hajat, dilanjutkan dengan membaca kitab Samman
3) Bersama-sama membaca surat al-Fatihah yang ditujukan kepada Nabi Muhammad saw, para sahabat dan auliya’ Allah. Kemudian dilanjutkan dengan membaca surat al-Ikhlash 3 kali, al-Falaq, al-Nas, al-Baqarah ayat 1-7, 163, 255, 285 dan 286, lalu membaca surat Yasin.
4) Membaca tahlil, lalu membaca doa (doa arwah dan doa Samman), dan yang terakhir Maulid.
5) Setelah pembacaan selesai dilakukan, orang-orang yang hadir berdiri, kemudian salah seorang memercikkan wewangian ke telapak tangan.

Dalam pelaksanaan Manaqiban ini, si empunya hajat menyediakan kembang dan minyak wangi, walau tidak menjadi suatu keharusan. Hal ini, menurut narasumber, pada dasarnya hanya dimaksudkan untuk mengharumkan ruangan saja, agar suasana menjadi lebih menyenangkan. Adapun penyediaan air putih dalam gelas atau kendi yang diletakkan di tengah ruangan, air ini memang diperuntukkan bagi para tamu undangan. Selain itu, terdapat pula segelas air yang dikhususkan untuk diminum oleh si empunya hajat atau salah satu keluarganya seusai upacara Manaqiban selesai, dengan maksud untuk mengambil berkah dari upacara tersebut.

Mengenai sajian bagi tamu undangan, menurut Ibu Nunung, seorang sesepuh Betawi yang seringkali memimpin upacara Manaqiban ini, biasanya jaman dahulu para empunya hajat hampir selalu menyediakan roti tawar, gula batu, kopi, teh, bahkan tumpeng serta ayam bakakak. Akan tetapi, pada masa sekarang tidak lagi, karena para emupnya hajat cenderung menginginkan hal-hal yang lebih praktis. Menurutnya, adanya hidangan makanan dan minuman ini dimaksudkan agar menjadi daya tarik bagi para undangan agar lebih bersemangat dalam mengikuti upacara, dan juga dimaksudkan sebagai sedekah, sebagaimana yang terekam dalam kitab Manaqib Syekh Samman.[13]

Menurut Ustadzah Muhayah, kebanyakan masyarakat yang mengikuti kegiatan ini adalah bapak-bapak dan ibu-ibu (orang tua). Jarang sekali ada anak-anak muda (remaja) yang mau ikut bergabung dalam pelaksanaan acara tersebut. Hal ini, menurutnya, dikarenakan mereka (para remaja) menganggap bahwa acara tersebut hanya untuk orang tua atau orang yang sudah menikah saja, di samping itu mereka merasa ilmu yang mereka miliki belum sepadan untuk membaca manaqib.[14]

2. Tujuan Pelaksanaan

Tujuan dilaksanakannya kegiatan pembacaan Manaqib Samman ini yakni sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah atas rizki dan karunia yang dilimpahkan kepada kita. Menurut Ustadzah Muhayah, kegiatan ini sangat baik karena memiliki tujuan yang baik dalam pengungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta. Kegiatan inipun dapat menjalin kebersamaan dan kekeluargaan yang erat antar sesama Muslim dan para tetangga.[15]

Lebih jelas lagi, penyelenggaraan Manaqiban yang biasa dilakukan oleh masyarakat Betawi ini memiliki tujuan tertentu, antara lain:

1) Sebagian besar bermaksud untuk melaksanakan nazar karena Allah.[16] Hal ini menurut Bpk. Nashruddin didasarkan atas dalil dari al-Qur'an, yakni Q.S. al-Insan: 7.

يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا

”Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.”

2) Adapun dari mereka bermaksud untuk bertawasul kepada Syekh Muhammad Samman, karena Allah. Bertawasul kepada Waliyullah pada hakikatnya bertawasul dengan amal shalehnya.[17] Hal ini didasarkan pada Q.S. al-Maidah: 35, yang menurut mereka merupakan dalil kebolehan bertawasul.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.”

3) Untuk bertabaruk kepada Syekh Muhammad Samman, dengan harapan mereka akan mendapatkan rahmat dan barakah dari Allah swt. Bertabaruk pada dasarnya sama dengan tawasul. Bertabaruk boleh dilakukan kepada para waliyullah, ulama’ dan orang-orang shaleh, dengan keyakinan bahwa manfaat dan madharatnya berada di tangan Allah semata.[18]

Ustadz Ma’muri, salah seorang tokoh pemuka agama Betawi menyatakan bahwa upacara Manaqiban ini mengandung keutamaan bagi masyarakat Betawi pada khususnya, antara lain:[19]

1) Selain bertujuan untuk memenuhi nazar, pembacaan Manaqib Samman secara bersama-sama juga dimaksudkan untuk mempererat tali persaudaraan (ukhuwah islamiyah).

2) Menambah wawasan tentang kekaramahan para wali. Di dalam upacara Manaqiban, guru atau tokoh agama menerangkan berbagai macam hal mengenai kelebihan-kelebihan dan karamah-karamah yang dimilikinya.

3) Menambah kecintaan kepada para ulama’ dan orang shaleh.

3. Landasan Pelaksanaan

Saat penulis menggali informasi dari masyarakat Betawi yang merupakan pelaku dari upacara Manaqiban tersebut mengenai hal apa yang melandasi mereka membaca ayat-ayat al-Qur’an tertentu dalam upacara, yang dapat penulis peroleh adalah bahwa mereka membaca ayat-ayat tersebut karena itulah yang tercantum dalam kitab Manaqib Syekh Samman, tak lebih.[20] Generasi setelahnya bahkan hanya memahami bahwa akan kurang ’afdhal’ dan kurang ’mantap’ jika upacara Manaqiban tidak diiringi dengan pembacaan ayat-ayat al-Qur’an, terutama Surat Yasin.[21]

Lain kepala maka lain pemikiran. Ketika penulis berusaha meng-crosscheck-nya kepada narasumber lain, yakni Bpk. Nashruddin, penulis memperoleh keterangan yang lebih kaya. Menurutnya, memang benar bahwa hampir keseluruhan prosesi Manaqib tersebut didasarkan pada ajaran Syekh Samman yang terangkum dalam Manaqib-nya.[22]

Adapun mengapa hanya beberapa ayat tertentu dari al-Qur’an yang dibaca, menurutnya ayat-ayat tersebut menimbulkan pengaruh yang jauh lebih kuat ketika dibaca dibandingkan saat membaca ayat-ayat al-Qur’an yang lainnya. Hal ini dikarenakan ayat-ayat tersebut memiliki keistimewaan dan karakteristik yang lebih khusus dibandingkan dengan ayat-ayat yang lain. Surat Yasin, menurutnya, dipilih karena adanya hadis yang menyatakan bahwa surat tersebut (Yasin) merupakan ’hati’ dari al-Qur’an.[23] Adapun pembacaan Q.S. al-Baqarah ayat 163 dan 255 (ayat Kursi), menurutnya dilakukan karena ayat tersebut sudah terbukti ’ampuh’ dalam hal menolak bala dan kesialan, sebagaimana halnya dengan Mu’awidzatain. Akan tetapi, syarat terpenting yang harus dimiliki adalah keyakinan yang kuat dalam diri pembacanya, agar apa yang mereka baca dapat benar-benar tersampaikan pada Allah.[24]

Sedang landasan pelaksanaan Manaqiban itu sendiri, menurutnya, didasarkan pada Q.S. Lukman:15, mengenai keharusan berada di belakang orang-orang yang selalu berada dalam jalan kembali kepada Allah swt.

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

”Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Selain itu, terdapat pula hadis Qudsi yang menyebutkan keutamaan para wali Allah: ”Barangsiapa memusuhi waliku sungguh kuumumkan perang kepadanya, tiadalah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan hal-hal yg fardhu, dan Hamba-Ku terus mendekat kepada Ku dengan hal hal yg sunnah baginya hingga Aku mencintainya, bila Aku mencintainya maka aku menjadi telinganya yg ia gunakan untuk mendengar, dan matanya yg ia gunakan untuk melihat, dan menjadi tangannya yg ia gunakan untuk memerangi, dan kakinya yg ia gunakan untuk melangkah, bila ia meminta pada-Ku niscaya kuberi permintaannya....” [25]

Pada dasarnya, ajaran-ajaran tarekat Sammaniyah tersebut secara kuat berlandaskan kepada ajaran ketauhidan dan keimanan. Kitab-kitab yang ditulis oleh tokoh-tokoh tarekat tersebut membahas secara komprehensif dan mendalam bagaimana mentauhidkan Allah pada af’al nama, sifat-sifat yang melekat pada zat, dan pada zat Allah itu sendiri. Pemahaman seperti inilah yang penting dan paling ditekankan dalam tarekat.

E. Analisis

Menurut Sidi Gazalba, masyarakat tradisional berpedoman ke belakang kepada tradisi yang terbentuk di masa lalu. Dalam hal ini, masyarakat Betawi pun demikian, mereka dengan kuat berpegang teguh kepada ajaran yang mereka terima dari guru, yang mana berasal dari warisan rentetan beberapa generasi sebelumnya.[26]

Dengan mengacu kepada tradisi, pengajian kitab-kitab di masjid-masjid oleh seorang (atau lebih) guru yang hingga kini masih hidup di kalangan masyarakat Betawi, dapat diperkirakan bahwa selain sebagai tempat peribadatan, masjid juga berfungsi sebagai tempat pengajaran dan penyebaran Islam. Dengan proses itulah perkembangan Islam semakin kokoh. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa kecenderungan yang kuat mempertahankan tradisi sangat menentukan tersebarnya pemahaman Islam di tengah masyarakat Betawi.

Mengingat berbagai pernyataan dan argumen yang dikemukakan para narasumber, menurut penulis apa yang warga Betawi coba lestarikan selama ini bukanlah hal yang ’omong kosong’ semata. Ayat-ayat al-Qur’an yang dipergunakan dalam tradisi Manaqiban memang merupakan ayat-ayat ’pilihan’, meminjam istilah Bpk. Nashruddin, yang memang telah dikenal luas oleh masyarakat awam sekalipun dan lazim dipergunakan dalam berbagai kegiatan keagamaan di masyarakat. Ayat-ayat tersebut terbukti tak hanya dipergunakan dalam tradisi Manaqiban saja, melainkan juga dalam rangkaian prosesi penyambutan jabang bayi (nujuh bulanan, aqiqah), selamatan pernikahan, dan banyak lagi. Al-Qur’an terbukti telah ikut berperan memenuhi sisi-sisi kehidupan manusia.

Adapun mengenai alasan peletakan air di tengah-tengah majelis Manaqiban, hal ini dirasa merupakan sesuatu yang logis dan dapat dipahami. Air, sebagai komponen utama penyusun makhluk hidup dan alam semesta ini, telah diyakini oleh sebagian besar orang dapat menerima dan memahami perkataan dan ungkapan baik. Berbagai penelitian ilmiah mutakhir telah banyak dilakukan dengan mengungkap kebenaran asumsi ini. Jika perkataan baik saja dapat memberikan pengaruh positif pada air, maka dapat kita bayangkan pengaruh yang dapat ditimbulkan oleh ayat-ayat al-Qur’an terhadap air.

Menggaris bawahi pernyataan Bpk. Nashruddin mengenai ’keyakinan diri yang kuat’, penulis rasa hal ini bukan tanpa alasan. Tak hanya membaca al-Qur’an, yang memang jika melaksanakannya pun sudah menjadi amalan baik dengan pahala tertentu, segala sesuatu jika dikerjakan setengah-setengah niscaya tak akan dicapai hasil yang sempurna. Jika seseorang melakukan sesuatu tanpa didasari keyakinan, mungkin bisa dikatakan bahwa perbuatannya itu sia-sia belaka.

Sementara itu, diantara kekeramatan Syekh Muhammad Samman yang diceritakan dalam Manaqib Samman antara lain: ”Barang siapa menyerukan namanya tiga kali akan hilang kesusahan dunia akhirat, barang siapa ziarah ke makamnya dan membacakan al-Qur’an serta berdzikir, Syekh Muhammad Samman mendengarnya. Syekh Muhammad Samman pernah mengatakan bahwa sejak ia dalam kandungan ibunya, ia sudah menjadi wali. Barang siapa yang memakan makanannya pasti masuk surga, barangsiapa memasuki langgarnya diampuni Allah dosa-dosanya.”[27]

Terdapat banyak pula ucapan Syekh Samman (atau ucapan yang ’diduga’ berasal darinya) yang terlihat banyak dilebih-lebihkan, sehingga menimbulkan keragu-raguan bagi pembaca yang kritis. Salah satu ucapannya adalah:

”Barang siapa yang menyeruku (Ya Samman) tiga kali, niscaya dengan lekas aku menolong akan kesusahan dunia dan akhirat bagi orang yang menyeru.”

”Barang siapa yang membaca Manaqib Syekh Muhammad Samman RA pada tiap-tiap tahun dengan orang banyak, disertai dengan membaca al-Qur’an dan tahlil serta sedekah, terutama dikerjakan pada hari wafatnya, niscaya dihiaskan oleh Allah akan rizkinya yang halal, serta dibukakan hatinya kepada jalan akhirat dan disampaikan oleh Allah segala hajatnya dari urusan dunia dan akhirat.”

Jika itu memang benar ucapan yang dikeluarkan dari Syekh Samman, tampaknya ada semacam pengkultusan terhadap dirinya dan mengesampingkan Allah sebagai Tuhan tempat bergantung. Ungkapan seperti itu tentunya sangat mengkhawatirkan jika masyarakat awam yang membaca Manaqib Syekh Samman meyakininya. Oleh karena itu, perlu adanya peranan tokoh agama dan alim ulama’ yang dapat memberikan penjelasan dan pengertian kepada masyarakat awam mengenai kandungan kitab tersebut secara gamblang dan menyeluruh. Akan tetapi, bahkan sampai saat ini masih banyak warga Betawi yang memahami ungkapan tersebut apa adanya, meskipun sebagian yang lain memahami bahwa yang dimaksudkan ungkapan tersebut ialah bertalian dengan tawasul, memohon kemudahan dari Allah dengan menggunakan tawasul Syekh Muhammad Samman.

F. Kesimpulan

- Tradisi Manaqiban Sammaniyah telah ada dan membudaya di kalangan masyarakat Betawi khususnya desa Kampung Janis, Pekojan Jakarta Barat, sejak awal abad ke-19 dan tetap lestari hingga saat ini, meski tradisi tersebut telah banyak menemui pergeseran dan perubahan dari generasi ke generasinya.

- Tradisi ini umumnya diselenggarakan dengan motif memenuhi nazar salah seorang warga kampung, atau sebagai rasa syukur pada Allah karena permintaannya telah terpenuhi.

- Ayat-ayat al-Qur’an yang dibaca pada upacara Manaqiban ini antara lain: al-Fatihah, al-Baqarah ayat 1-7, 163, 255, 285 dan 286, surat Yasin, al-Ikhlash, al-Nas dan al-Falaq. Sebagian masyarakat memahaminya hanya sebatas bahwa ayat-ayat al-Qur’an tersebut itulah yang merupakan warisan Syekh Samman dan wajib untuk dibaca, tidak lebih, meskipun ada segolongan masyarakat yang tampaknya benar-benar memahami tujuan dan hikmah dibalik pembacaan ayat-ayat tersebut.

Daftar Bacaan

Atceh, Abu Bakar. Pengantar Ilmu Tarekat cet. IX. Solo: Ramadhani. 1993.

Azra, Azyumardi. Jaringan Ulama’ Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Cet. I. Bandung: Mizan. 1994.

Berg, L. W. C. Van Den. Hadramaut dan Koloni Arab Nusantara. Jakarta: INIS. 1989.

Bruinessen, Martin Van. Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat. Bandung: Mizan. 1995.

CD-ROM Mausu’ah al-Hadis al-Syarif.

Gazalba, Sidi. Islam dan Perubahan Sosial Budaya; Kajian Islam tentang Perubahan Masyarakat. Jakarta: Pustaka al-Husna. 1983.

Habsyi, Husin al. Kamus al-Kautsar Lengkap Arab-Indonesia. Bangil, tt.

Thaha, Idris. “Islam dan Masyarakat Betawi”, dalam Kompas, Minggu, 13 Juli 2003.



0 Response to "Tradisi Manaqiban Syekh Samman pada Masyarakat Betawi"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!