Yuk kenali Tanda Sekularisasi dan Islamisai Ilmu Pengetahuan di zaman yang Serba Teknologi

Advertisement

Sekularisasi dalam Ilmu Pengetahuan

Sekularisasi berasal dari dunia barat kristiani, yang muncul dengan diserukan oleh para pemikir bebas agar mereka terlepas dari ikatan gereja, para pemuka agama dan pendetanya. Pada awalnya agama Kristiani lahir di dunia Timur, namun warna Kristiani amat tebal menyelimuti kehidupan dunia Barat. Keadaan ini sejak kekaisaran Romawi Konstantin yang agung (280-337) yang melegalisasikan dalam dalam wilayah imperiumnya serta mendorong penyebarannya merata ke benua Eropa, terutama di abad pertengahan warna Kristiani meyelimuti kehidupan Barat baik politik, ekonomi, sosial, budaya, serta ilmu pengetahuan.

Gambaran gereja (baca : pemuka agama atau pendeta) pada saat itu datang dengan membawa pemikiran menentang akal dan rasio dengan mempertahankan kebekuannya melawan ilu dan kebebasan, tampil dengan menghadapi kemajuan. Sikap keras para aktifis gereja dalam menentang para ahli pikir (ilmuan) yang menorehkan hasil penelitian ilmiyah dan nalarnya karena dinilai bertentangan dengan ajaran-ajaran agama. Hingga gereja memusuhi orang-orang yang menyampaikan teori ilmu pengetahuan yang bertentangan dengan ajarannya, seperti berpendapat bahwa bumi ini bulat dianggap sebuah kekafiran atau keluar dari agama. 

Kepicikan berpikir gereja terhadap orang-orang yang mengemukakan teori atau pandangan keilmuan yang bertentangan dengan ajarannya ternyata melahirkan bentuk kekejaman dengan menyiksa jenazah ilmuan dan membakarnya, yang hidup pun tidak kalah penyiksaan yang diterimanya. Dengan terlepasnya dari para ahli pikir dari tirani gereja, melahirkan sekularisasi di Barat. Pertentangan ini pun berakhir dengan membagi ”hidup” menjadi dua bagian, sebagian diserahkan kepada agama sebagian lagi diserahkan ke pemerintah (penguasa).

islamisasi dan sekularisasi ilmu pengetahuan
foto: mirajnews.com
Sebagaimana ungkapan Isa al Masih dalam Injil : sebagian untuk Allah dan sebagian untuk kaisar. Artinya masing-masing memiliki tugas sendiri-sendiri. Bahwa Kaisar mengatur kehidupan dunia, masyarakat, pemerintahan. Sedangkan tugas Allah yang diwakili gereja berada pada bagian agama atau rohani, sehingga tidak ada intervensi antar keduanya. Meskipun demikian, ilmu pengetahuan dalam kitab tetap ditempatkan sebagai kebutuhan dalam kehidupan manusia.

Sekularisasi secara formal diperkenalkan oleh G.J Holyoake (1817 – 1906 M) merupakan reaksinya terhadap tindakan gereja-gereja yang bersifat otoriter terhadap sains. Sedangkan Galeleo (lahir 1564 M) dipandang sebagai pahlawan sekularisai ilmu penetahuan. Wujud orientasi aliran ini adalah pembebasan berpikir di luar ajaran agama, sehingga mereka mengambil kesimpulan bahwa ilmuan bebas berfikir sesuai dengan profesinya dan bagi agamawan yang tidak respon diberikan kebebasan.

Prinsip rasio dan kecerdasan yang sangat dijunjung tinggi oleh penganut sekularis, karena ilmu pengetahuan bisa berkembang dengan akal pikiran dan penalaran yang tinggi. Dan rasiolah yang melahirkan kebahagian menuju kemajuan, sedangkan agama tidak mampu menjelaskan secara rasio terhadap ilmu pengetahuan karena ia adalah keyakina. Sekularisasi ilmu pengetahuan berarti membuang segala yang bersifat religius dan mistis, karena dipandang tidak relevan dalam ilmu. 

Mitos dan religi disejajarkan dan dipandang sebagai pra ilmu yang hanya bergayut dengan intuisi (dunia rasa). Ini berarti bahwa peran Tuhan dan dan segala yang berbau mitos dan bernuangsa gaib sebagai sesuatu yang berpengaruh ditiadakan. Sehingga sekularisasi bisa juga disebut dengan desakralisasi (melepaskan diri dari segala bentuk yang bersifat sakral).Sekularisme ilmiah memandang bahwa alam ini tidak mempunyai tujuan dan maksud. Karena alam adalah benda mati yang netral. Tujuannya sangat ditentukan oleh manusia. Pandangan ini menyebabkan manusia dengan segala daya yang dimiliki mengeksploitasi alam untuk kepentingan manusia semata.

Sebuah disiplin ilmu juga hendak dipertahankan keobjektifan tujuan maka segala yang terkait dengan agama, pandangan hidup, tradisi dan semua yang bersifat normatif dihindari guna menjaga realitas ilmu sebagai sesuatu yang independen, otonom dan objektif. Hal ini sesuai dengan epistemologi yang digunakan yakni rasionalisme dan empirisme memandang bahwa sumber pengetahuan yang absah adalah empiris (pengalaman). Sebagai konsekuensi dari epistemologi sekuler maka pada tataran aksiologinya ilmu itu bebas nilai (value free of sciences) atau ilmu netral nilai

Friedrick Gogarten menyatakan bahwa sekularisasi adalah pembebasan manusia dari pengaruh ajaran agama dan metafisika. Harvey cok menyebut 3 komponen utama sekularisasi pertama pembebasan alam dari pengaruh ilusi, maksudnya Tuhan. Membebaskan alam dari pengaruh-pengaruh Ilahiah, mencakup penghilangan kepercayaan animistic, dewa-dewa dan magi dari alam, memisahkannya dari Tuhan dan membedakan manusia dengan alam. Dengan sikap ini manusia tidak lagi menganggap alam sebagai kesatuan dengan Tuhan yang menyebakan manusia bebas memanfaatkannya. 

Kedua penghapusan legitimasi kekuasaan dan wewenang politik dari agama, yang merupakan persyaratan pembangunan politik. Ketiga pembangkangan terhadap nilai-nilai, dimaksud bahwa nilai-nilai termasuk nilai agama, terbuka untuk perubahan yang di dalamnya manusia bebas menciptakan perubahan itu dan membenamkan dirinya ke dalam proses evolusi

Dalam konteks teori modernisasi, yang merupakan bagian dari sekularisasi gejala yang semacam ini merupakan perubahan fungsi-fungsi yang integral kepada yang plural. Pluralisme fungsional dianggap sebagai salah satu karakteristik masyarakat modern. Dalam masyarakat ini, kehidupan agama hanyalah salah satu dari beberapa bidang kehidupan umum lainnya. Tentu saja dalam konteks ini, agama tidak lagi bisa memberikan pembenaran fungsi-fungsi ekonomi dan politik. Sebab di samping sistem agama, terdapat sistem lain seperti filsafat, ideologi, etika dan gaya hidup

Pandangan Islam terhadap ilmu menjadi landasan bagi pengembangan ilmu disepanjang sejarah kehidupan ummat Islam, sejak dari zaman klasik sampai sekarang. Sejak kelahirannya, Islam sudah memberikan penghargaan yang begitu besar terhadap ilmu dan menawarkan cahaya untuk mengubah jahiliyah menuju masyarakat yang berilmu dan beradab.

Islamisasi dalam Ilmu Pengetahuan

Proses Islamisasi ilmu pengetahuan pada dasarnya telah berlangsung sejak permulaan Islam hingga zaman kita sekarang ini. Ayat-ayat yang diwahyukan kepada Nabi saw secara jelas menegaskan semangat Islamisasi Ilmu Pengetahuan, yaitu ketika Allah menekankan bahwa Dia adalah sumber dan asal ilmu manusia.

Pada sekitar abad ke-8 masehi, pada masa pemerintahan Daulah Abbasiyah, proses Islamisasi ilmu ini berlanjut secara besar-besaran dengan dilakukannya penerjemahan terhadap karya-karya dari Persia dan Yunani. Salah satu karya besar tentang usaha Islamisasi ilmu adalah hadirnya karya Imam al-Ghazali Tahafut al-Falasifah. Hal yang demikian walaupun tidak menggunakan pelabelan Islamisasi, tetapi aktivitas yang sudah mereka lakukan semisal dengan makna Islamisasi.

Ada dua tokoh yang dianggap sebagai pencetus gagasan Islamisasi Pengetahuan yaitu Ismail Raji al-Faruqi (seorang sarjana yang mendirikan lembaga International Institute of Islam Thought di Amerika Serikat) serta Syed M. Naquib al- Attas (seorang sarjana Budaya Melayu yang membentuk lembaga International Institute of Islam Thought and Civilization di Kuala Lumpur).[1]Gagasan ini timbul sejak dasawarsa 1970-an.

Munculnya ide Islamisasi Ilmu Pengetahuan disebabkan adanya premis bahwa ilmu pengetahuan tidak bebas nilai. Ilmu-ilmu yang terkontaminasi oleh premis demikian dan telah melalui proses sekularisasi dan westernisasi yang tidak lagi sesuai dengan kepercayaan, justru ini akan membahayakan ummat Islam. 

Naquib al-Attas menegaskan bahwa ilmu itu tidaklah bebas nilai tapi sarat akan nilai. Sedangkan al Faruqi menjelaskan bahwa akibat kemunduran ummat Islam, karena adanya system pendidikan yang berusaha menjauhkan ummat Islam dari agamanya sendiri dan dari sejarah kegemilangan yang seharusnya dijadikan kebanggaan tersendiri atas agama Islam. Oleh sebab itu ia memberikan solusi, yaitu perlunya perbaikan system pendidikan yang memadukan antara ilmu-ilmu umum dan agama sebagai langkah membentuk peradaban Islam yang sempurna.[2]

Pada akhir abad 20-an, konsep Islamisasi Ilmu Pengetahuan mendapat kritikan dari kalangan pemikir Muslim sendiri, seperti Fazlul Rahman, Muhsin Muhdi, Abdus Salam Soroush, Bassam Taibi dan lainnya. Fazlul Rahman misalnya mengemukakan bahwa ilmu pengetahuan tidak dapat di Islamkan karena tidak ada yang salah dalam ilmu pengetahuan.[3] 

Dalam realitasnya ternyata memang cukup sulit membedakan mana yang dikategorikan sebagai ilmu yang sekular dan mana ilmu yang bukan sekular,hal ini disebabkan cara pandang masing-masing individu yang sangat beragam dalam memahami kedua hal tersebut 

Walaupun dalam perkembangannya Islamisasi Ilmu Pengetahuan dikritik, tetapi gagasan Islamisasi ini merupakan suatu revolusi epistemologis yang merupakan jawaban terhadap krisis epistemologi yang bukan hanya melanda dunia Islam tapi juga budaya dan peradaban Barat Sekuler. 

Telaah Islamisasi Pengetahuan

1. Telaah Epistemologis

Epistemologi adalah ilmu yang membahas apa pengetahuan itu dan bagaimana cara memperolehnya. Sehingga dapat dipahami bahwa epistemologi mempersoalkan metodologi penerapan ilmu pengetahuan, dalam hal ini proses Islamisasi Ilmu Pengetahuan.

Al-Qur’an merupakan kitab yang sangat sempurna dalam menjelaskan metode pengembangan ilmu. Misalnya perlu mengingat dan menghafal tersirat dalam QS al-Baqarah (2) : 31

Artinya: Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar. 

Di samping perlu mengingat dan menghafal di atas, diperlukan juga metode observasi, eksperimen, demonstrative dan metode intuitif.[4]Hal ini misalnya ketika Allah Swt memperlihatkan kepada Qabil dengan mengirimkan burung gagak menggali tanah untuk menguburkan burung yang mati. 

Dalam pengembangan ilmu dan teknologi, observasi dan meniru kerja ciptaan-Nya merupakan yang lazim misalnya meniru konsep fungsi sayap dan ekor dalam pesawat terbang. Selain observasi yang merupakan landasan pengkajian ilmu pengetahuan semata juga dibutuhkan kemampuan imajinasi, analisa dan sintesa terutama untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang susah untuk dijawab melalui observasi laboratorium.

Sebagai contoh QS al-Ghasyiyah (88): 17-20: Artinya: Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, Dan langit, bagaimana ia ditinggikan?. Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?. Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?.

Untuk menjawab pertanyaan di atas tidak bisa dengan observasi atau eksperimen saja, melainkan diperlukan hipotesa yang membutuhkan proses berfikir dan berimajinasi yang intens. Dalam al-Qur’an disampaikan bahwa masih ada proses pengembangan ilmu dan teknologi yang lebih hakiki yaitu ilham yang diberikan kepada beberapa orang.[5]

Dari keterangan di atas memberikan gambaran kepada ummat Islam untuk melihat sisi lain yang juga menunjang keberhasilan Islam dalam menemukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Dalam Islamisasi Ilmu Pengetahuan mengalami proses yang panjang tentang transformasi ilmu pengetahuan dari dunia Islam ke dunia Barat dalam hubungan timbal balik, baik itu dalam bentuk kajian, penafsiran maupun dalam bentuk penerjemahan.

Kondisi tersebut di atas dapat memungkinkan terjadi karena di dalam al-Qur’an sendiri terdapat banyak ayat yang menjelaskan tentang berbagai macam disiplin ilmu, diantaranya:

a. Yang berhubungan dengan pengetahuan alam terdapat dalam QS Saba’(34) : 10 dan QS al-Hadid (57) : 25.
b. Yang berhubungan dengan geografi terdapat dalam QS al-Baqarah (2) : 22 dan QS ar-Rad (13) :3’.
c. Yang berhubungan dengan kesehatan terdapat dalam QS al-Baqarah (2) :184 dan 222, al Mudatsir (74) : 74, al-Maidah (5) : 6, an-Nisa (4) : 43 dan al-A’raf (7) : 31.
d. Yang berhubungan dengan sejarah terdapat dalam QS Yusuf (12) : 109, al-Ashr (103) : 2, Maryam (19) : 2-15, al-Maidah (5) : 110-120 dan al-Baqarah (2) : 30-39.

Dari keanekaragaman disiplin ilmu di masing-masing bidang dapat diperlihatkan di dunia Barat, maka dalam hal ini Juhaya S Praja mengemukakan pendapatnya bahwa upaya Islammisasi telah menunjukkan hasilnya di Barat. Menurutnya ini adalah gejala aneh, mengapa tidak lahir di dunia Islam?. Alasannya mungkin karena sarjana Muslim yang hidup di dunia Barat menghadapi langsung tantangan dunia nyata terhadap Islam dan ummatnya.[6]

Hal tersebut menunjukkan bahwa Islam memberikan peluang terjadinya proses Islamisasi Ilmu pengetahuan , meskipun tidak dimulai dari tanah kelahirannya. Sehingga dengan epistemologi dapat dijelaskan bagaimana sebuah ilmu pengetahuan disusun menggunakan kajian ijtihadiyah dengan langkah-langkah yang telah teruji seperti mengingat, menghafal, observasi, eksperimen, demonstrative, metode intuitif, mengkaji, imajinasi, analisa dan sintesa serta adanya ilham.

2. Telaah Aksiologis

Istilah Islamisasi ilmu pengetahuan sering dipandang sekelompok pemikir hanya sebagai proses penerapan etika Islam dalam pemanfaatan ilmu pengetahuan dan kriteria suatu jenis ilmu pengetahuan yang akan dikembangkan. Konsekuensi dari epistemologi Islamisasi ilmu pengetahuan, maka aksiologinya yaitu mengandung nilai rohaniah atau moral yang bersumber dari agama (Islam) sifatnya adalah absolute dan kebenarannya bersifat permanen. Hal ini karena bersumber dari Dzat yang absolute (mutlak) yaitu Allah Swt.

Telaah aksiologi sasarannya adalah manfaat dari hasil kajian yang dijadikan bahasan materi, dengan arti bahwa aksiologi diartikan nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh.[7]Dalam hubungannya dengan Islamisasi ilmu pengetahuan, dapat dikatakan bahwa dengan Islamisasi dapat diketahui dengan jelas kalau Islam bukan hanya mengatur segi-segi ritualitas dalam arti shalat, puasa, zakat dan haji saja, melainkan sebuah ajaran yang mengintegrasikan segi-segi kehidupan duniawi termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi.

Selain beberapa hal di atas, juga muncul para filosof dan cendikiawan muslim tidak lain oleh karena mereka bukan hanya menguasai ilmu-ilmu Islam saja tetapi juga menguasai ilmu-ilmu yang datang dari Barat. Dengan ilmu, mereka dapat mempelajari gejala alam dan menciptakan peralatan untuk mengontrol gejala-gejala alam sesuai dengan hukumnya.

Tantangan Ilmu-ilmu Islam di Tengah Perkembangan Ilmu Pengetahuan Moderen

Ketergantungan ummat Islam dalam pendidikan, disadari sebagai faktor terpenting dalam membina ummat hampir tidak dapat dihindari dari pengaruh Barat. Ujung-ujungnya krisis identitas pun tidak terhindarkan oleh ummat Islam. 

Melemahnya orientasi sosial ummat Islam ini secara tidak sadar telah memilah-milah pengertian Islam yang kaffah ke dalam pengertian parsial dalam hakikat hidup bermasyarakat. Islam hanya dipandang dari arti ritual semata, sementara urusan lain banyak didomionasi dan dikendalikan oleh konsep-konsep Barat. Akibatnya, ummat Islam lebih mengenal budaya Barat dari pada budayanya sendiri.

Beberapa faktor yang menjadi tantangan ilmu- ilmu keIslaman di tengah perkembangan sains modern, di antaranya:

1. Ambivalensi Teknologi.

Teknologi bagaimanapun bentuknya akan selalu bersifat ambivalen, yaitu ada untung ruginya.yang dalam bahasa Fiqhinya disebut manfaat dan mudharat bagi manusia dan alam lingkungannya.[8]Dalam lingkungan hidup misalnya dengan muncul istilah pengikisan lapisan ozon, radiasi nuklir, limbah industry, rekayasa genetika dan lainnya. 

Hal ini penting mengingat teknologi pada kenyataannya merupakan alat bagi manusia, sementara dalam kehidupan manusia memiliki tujuan dan cara pencapaiaan yang tentunya harus mengandung nilai agama. Oleh karena itu, seorang ilmuan Muslim harus menyadari ia harus memulai sesuatu, kemanapun ia beranjak, ia harus melangkah dari tradisi ke-Islaman yang merupakan identitasnya.

2. Di kalangan Islam masih banyak yang menekankan studi pustaka dari pada studi atas realitas sosio-kultur. Hal ini mengakibatkan kurang berkembangnya literature-literatur tentang ilmu-ilmu empiris Islam seperti Sosiologi Islam, Antropologi Islam, Psikologi Islam, ekonomi Islam dan sebagainya. 

Hal ini sangat berbeda dengan tokoh ilmuan Muslim di abad renaisans Islam, di mana hasil karyanya dijadikan sumber rujukan dalam studi pustaka. Ini dapat dilihat dari karya Ibn Ya’qub an-Nadim yang berisi tentang ensiklopedia (al-Fihrist), bidang Astronomi oleh Mahani, bidang Zologi oleh ad-Dinawari dan lain sebagainya.[9]

Belum adanya paradigma yang jelas tentang posisi nilai normative, eksistensi dan struktur keilmuan Islam. Sebagai misal dalam mensikapi problematika tantangan modernisasi yang ditandai oleh pesatnya perkembangan industrialisasi, transformasi, canggihnya alat-alat informasi, dan kuatnya paham rasionalisme yang apabila dihadapkan kepada agama, di kalangan muslim belum mampu menyelesaikan dengan cara dialektis tetapi masih bersifat normative. 

Dan para peneliti Muslim masih kurang siap menghadapi atau menolak gagasan-gagasan asing, karena tidak adanya persiapan secara memadai untuk melawan mereka melalui telaah mendalam dan penolakan terhadap promis-promis palsu. Akibat yang ditimbulkan tentang posisi nilai normatif, eksistensi dan struktur keilmuan Islam menjadi tidak jelas. Ada yang datang dari Barat, seperti westernisasi, rasionalisme, sekularisme, gagasan filsafat Barat dan semua yang berbau ke Barat-Baratan semua ditolak bahkan dikafirkannya.[10]

Adapun upaya untuk mengatasi hal tersebut di atas, Ismail Razi al-faruqi melakukan langkah-langkah berikut:

a. Memadukan sistem pendidikan Islam, dikotomi pendidikan umum dan islam harus dihilangkan.
b. Meningkatkan visi Islam dengan cara mengukuhkan identitas Islam melalui dua tahap, yaitu mewajibkan bidang studi sejarah Peradaban Islam dan Islamisasi Ilmu Pengetahuan.

Untuk mengatasi persoalan metodologi, ditempuh langkah-langkah berupa penegasan prinsip-prinsip pengetahuan Islam.

1. Menyusun langkah kerja sebagai berikut:

a. Menguasai disiplin modern.
b. Menguasai warisan khasanah Islam.
c. Membangun relevansi yang Islami bagi setiap bidang kajian atau wilayah penelitian pengetahuan modern.

2. Mencari jalan dan upaya untuk menciptakan sintesis kreatif antara warisan Islam dengan pengetahuan modern.

3. Mengarahkan pemikiran Islam pada arah yang tepat yaitu sunnatullah.[11]

Sementara al-Attas menguraikan bahwa semua ilmu pengetahuan masa kini, secara keseluruhan dibangun, ditafsirkan dan diproyeksikan melalui pandangan dunia, visi intelektual dan persepsi psikologi dari kebudayaan dan peradaban Barat yang saling berkaitan. Kelima prinsip itu adalah:

1. Mengandalkan akal semata untuk membimbing manusia mengarungi kehidupan.
2. Mengikuti dengan setia validitas pandangan dualistis mengenai realitas dan kebenaran.
3. Membenarkan aspek temporal untuk memproyeksi sesuatu pandangan dunia sekuler.
4. Pembelaan terhadap doktrin humanism.
5. Peniruan terhadap drama dan tragedy yang dianggap sebagai realitas universal dalam kehidupan spiritual, atau transedental atau kehidupan batin manusia.[12]

Kelima hal tersebut di atas merupakan prinsip-prinsip utama dalam pengembangan keilmuan Barat, yang dinilai bertentangan dengan nilai-nilai Islam dan harus dihindari oleh ummat Islam.

Demikianlah pembahasan tentang sekularisasi dan Islamiasasi Ilmu pengetahuan serta berbagai tantangannya, yang pada intinya bertujuan untuk memperoleh kesepakatan baru bagi ummat Islam dalam berbagai bidang keilmuan yang sesuai dan metode ilmiah tidak bertentangan dengan norma-norma Islam. 

Di samping itu, Islamisasi ilmu pengetahuan juga bertujuan untuk meluruskan pandangan hidup modern Barat sekuler yang ingin memisahkan antara urusan dunia dan akhirat, terutama dalam masalah keilmuan. Islamisasi ilomu merupakan mega proyek yang belum usai dan perlu untuk diteruskan oleh ummat Islam dari generasi-ke generasi untuk menjawab krisis epistimologis yang melanda dunia saat ini.

Kesimpulan

1. Bahwa proses Islamisasi ilmu pengetahuan pada dasarnya telah berlangsung sejak permulaan Islam yaitu pada Rasulullah sampai sekarang. Adapun orang yang diangap sebagai pencetus Islamisasi Ilmi Pengetahuan adalah Syeikh Naquib al- Attas dan Ismail Raji al-Faruqi.

2. Telaah Islamisasi Ilmu Pengetahuan dapat dilihat dari segi:

a. Epistemologi, yaitu Islamisasi Ilmu Pengetahuan disusun dengan menggunakan kajian ijtihadiyah dengan langkah-langkah yang telah teruji seperti mengingat, menghafal, observasi, eksperimen, demonstrative, metode intuitif, mengkaji, imajinasi, analisa dan sintesa serta adanya ilham.

b. Aksiologi, yaitu Islamisasi Ilmu Pengetahuan mengandung makna nilai rohaniah atau moral yang bersumber dari agama Islam untuk mencapai ridha Allah Swt serta untuk membantu tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi ini.

Daftar Pustaka

Amal, Taufik Adnan, Islam dan Tantangan Modernitas, Studi Atas Pemikiran Hukum Fazlur Rahman, Cet. VI ; Bandung : Mizan, 1996

Arief, Armai, Reformulasi Pendidikan Islam, Cet. I; Jakarta: CRSD Press, 2005.

Bakhtiar, Amsal, Filsafat Ilmu, (Cet.II; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005.

Echols, John M. dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, Cet; XXVI: Jakarta: PT Gramedia, 2005

Ibrahim, Marwah Daud, “Etika, Strategi Ilmu dan Teknologi Masa Depan” (ed.) 

Moeflich Hasbullah, Gagasan dan Perdebatan Islamisasi Ilmu Pengetahuan, Jakarta: Pustaka mCidesendo,2000. 

Ismail, Muhammad Ismail, Tiga Fase Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer, 

www. Hidayatullah.com, 06 Desember 2009.

Karim, Ahmad, al-Gazwu al-Fikr, Kairo: al-Azhar, 1414 H.

Kartanegara, Mulyadi, Menyibak Tirai Kejahilan: Pengantar Epistemologi Islam,  Cet.I;Bandung: Mizan, 2003, 

Nata, Abuddin, Metodologi Studi Islam, Cet. IX; Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 2004.

Raharjo, M. Dawan, Strategi Islamisasi Pengetahuan, (ed.) Moeflich Hasbullah, Gagasan dan Perdebatan Islamisasi Ilmu Pengetahuan, Jakarta: Pustaka, Cidesendo,2000.

Syaefuddin, AM., Desekularisasi Pemikiran, Bandung: Mizan, 1991.

Catatan Kaki

[1] M. Dawan Raharjo, Strategi Islamisasi Pengetahuan, (ed.) Moeflich Hasbullah, Gagasan dan Perdebatan Islamisasi Ilmu Pengetahuan, (Jakarta: Pustaka Cidesendo,2000), h. xii. 
[2] Muhammad Ismail, Tiga Fase Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer,(www. Hidayatullah.com, 06 Desember 2009), h. 1. 
[3] Moh. Suef, Islamisasi Ilmu: Sejarah, Dasar, Pola dan Strategi, (Ululalbab.com, 07 Mei 2009), h. 2. 
[4] Mulyadi Kartanegara, Menyibak Tirai Kejahilan: Pengantar Epistemologi Islam, (Cet.I;Bandung: Mizan, 2003), h. 52. 
[5] Marwah Daud Ibrahim, op. cit, h. 103-105. 
[6] Juhaya S. Praja, Filsafat dan Metodologi Ilmu Dalam Islam dan Penerapannya di Indonesia, Jakarta: Teraju,2002), h. 222. 
[7] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, (Cet.II; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), h,533. 
[8] Dr. Ahmad Karim, al-Gazwu al-Fikr, (Kairo: al-Azhar, 1414 H), h. 35. 
[9] Mehdi Nakosteen, History of Islamic Origins of Western Education A. D. 800-1350 with an Introduction to Medieval Muslim Education, diterjemahkan Joko S. Kahhar dan Supriyanto Abdullah, Kontribusi Islam atas dunia Intelektual Barat: Deskripsi Analisis abad kemasan Islam (Cet. I; Surabaya: Risalah Gusti, 1996), h. 213-217. 
[10] Taufik Adnan Amal, Islam dan Tantangan Modernitas, Studi Atas Pemikiran Hukum Fazlur Rahman (Cet. VI; Bandung: Mizan, 1996), h. 38. 
[11] Juhaya S. Praja, op. cit, h. 72-73. 
[12] Moh. Suef, op. cit, h. 8.