Tidak ditemukan Perintah Sunat (khitan) dalam Islam, Sejak Zaman Nabi Ibrahim hingga Sekarang

Advertisement
Tidak ditemukan Perintah Sunat (khitan) dalam Islam, Sejak Zaman Nabi Ibrahim hingga Sekarang

Dalam dekade akhir ini kajian keislaman semakin empuk, hangat, gurih dan banyak bermunculan seiring dengan kehadiran wacana gender dalam studi Islam (baca: Islamic Studies). Diskursus tersebut merupakan sebuah konsekuensi logis dari tuntutan kemanusiaan atas berbagai kebutuhan kehidupan keseharian-nya. 

Dalam masalah keagamaan hal yang demikian untuk dapat lebih membumikan pesan-pesan yang ada di dalam dasar idealnya (al-Qur’an dan hadis). Perbedaan gender bukan merupakan suatu masalah yang serius manakala tidak menimbulkan berbagai persoalan seperti ke-senjangan keadilan. Namun, pada kenyataannya adanya perbedaan gender acapkali menyebabkan adanya persoalan ketidakadilan baik di pihak laki-laki sendiri dan bahkan juga kebanyakan terjadi terhadap perempuan. 

Salah satu diskursus yang tak henti-hentinya menimbulkan perdebatan dan pro-kontra di kalangan para cendikiawan muslim tempo dulu ~untuk tidak menyebut klasik~ hingga para cendikiawan yang hidup di zaman sekarang adalah masalah khitan perempuan. Khitan bukanlah hal asing di kalangan umat Islam karena pada dasarnya khitan ~dalam arti yang umum~ merupakan sunnah Nabi Muhamad SAW yang mengikuti syariat Nabi Ibrahim AS.

Al Qur-an sendiri tidak menyebutkan istilah khitan secara eksplisit baik untuk khitan laki-laki maupun perempuan. Al Quran hanya menyebutkan: “hendaklah kamu mengikuti tradisi nabi Ibrahim” . Berangkat dari ayat tersebut sebagaian ahli tafsir kemudian menyebut khitan sebagai salah satu tradisi Nami Ibrahim dan umatnya. Tidak hanya itu, mainstream mayoritas kaum muslimin menunjukkan bahwa khitan perempuan adalah perlu. Pandangan tersebut tentunya tidak sembarangan muncul melainkan contoh bentuk pemahaman hadis Nabi.

Sebenarnya tidak terlalu banyak perbedaan pemahaman tentang khitan laki-laki. Hal ini dapat disinyalir bahwa khitan laki-laki dapat mendatangkan manfaat yang begitu nyata yakni untuk menyempurnakan ibadah seorang hamba. Dengan memotong kuncup dari dzakar seseorang dapat dengan mudah membesihkan kemaluannya sehingga akan mendatangkan kebersihan dan kesucian dalam ibadah, karena ibadah (shalat misalnya) mensyaratkan kesucian badan, pakaian dan tempat. 

Berbeda dengan khitan perempuan, Secara logika pemotongan salah satu bagian tubuh perempuan yang paling sensitive yakni (ujung klitoris) sangat sulit dimengerti, apa guna (maslahat) nya? Pemotongan ujung klitoris boleh jadi justeru malah dapat menghilangkan kenikmatan seksual perempuan.

Adanya ketimpangtindihan dan ketidakadilan gender ~untuk memberanikan diri berekspresi~ dalam kasus di atas, perlu diadakan sebuah kajian yang spesifik, kritis, selektif dan transformatif. Salah satu tujuannya tidak lain adalah untuk kemaslahatan ~dalam bahasa al-Syatibi kita kenal li masalih al-ibad fi daraini~ umat manusia sendiri. Dalam bahasa yang lebih keren untuk menghindari ketidakadilan gender serta mewujudkan persamaan (equality), keadilan (arab; ‘adālah), HAM dan menjaga lingkungan hidup.

Berangkat dari beberapa pengantar di atas tulisan ini mencoba membongkar kebekuan dan menyuarakan kembali teks-teks hadis yang terkait dengan menggunakan perangkat keilmuan “Ma’anil Hadist”. Ada beberapa poin yang mendasari tulisan ini, yaitu:

a. Pemaknaan Khitan berdasarkan redaksi hadits Nabi.
b. Telaah sosio historis kemunculan hadits seputar Khitan, khususnya Khitan perempuan.
c. Khitan perempuan dalam berbagai perspektif.
d. Maqasid al-Syari’ah yang terkandung dalam hadits tentang Khitan.

Redaksi Hadits Seputar Khitan 
Beserta Takhrij dan Tahqiq Hadits

Setelah melakukan penelusuran teks hadits-hadits dengan tema khitan dalam CD Mausu’ah al-Hadis al-Syarif, didapatkan empat macam hadits yang berbicara seputarnya, yaitu:

1. Khitan Sebagian Dari Fitrah (Shahih Bukhari: 5823)

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ قَزَعَةَ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْفِطْرَةُ خَمْسٌ الْخِتَانُ وَالِاسْتِحْدَادُ وَنَتْفُ الْإِبْطِ وَقَصُّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ

Artinya: Telah bercerita kepadaku Yahya Bin Qaza’ah, telah bercerita kepadaku Ibrahim Bin Sa’ad dari Ibnu Syihab dari Sa’id Bin Musayyab dari Abi Hurairah R.A. dari Nabi SAW, beliau bersabda: “ Fitrah itu ada lima macam, yaitu : khitan, memotong bulu di sekitar kemaluan, mencabut bulu ketiak, mencukur kumis dan memotong kuku (H.R. Imam Bukhori)

Kualitas Rawi 
No
Nama
Urutan periwayat/sanad
Kualitas
1.
Abu Hurairah
I/V
Diterima
2.
Sa’id ibn Musayyab
II/IV
Diterima
3.
Ibn Syihab
III/III
Diterima
4.
Ibrahim ibn Sa’d
IV/II
Diterima
5.
Yahya ibn Qaza’ah
V/I
Diterima
6.
Imam Bukhari
VI/Mukharij al-hadis
Diterima
Hadits ini adalah Hadits Ahad yang Aziz, sebab ada beberapa Syahid dan Muttabi’ yang meriwayatkan hadis ini. Berikut daftar Syahid dan Muttabi’nya:

Tingkatan Rawi Nama Syahid/Muttabi’
Tingkatan Rawi
Nama
Syahid/Muttabi’
I
Abu Hurairah
‘A’isyah
II
Sa’id ibn Musayyab
Abdullah, Abu Sa’id
III
Ibn Syihab
Sa’id, Umar
IV
Ibrahim ibn Sa’d
Hasyim ibn Basyir, Ma’mar ibn Rasyid, Yunus ibn Yazid, Sufyan bin Uyainah.
V
Yahya ibn Qaza’ah
Ahmad, Ibn Ja’far, Abdurrazaq, Mu’tamar, Abdullah, Amr ibn Muhammad, Ibn Harb, Muhammad, Musaddad, Abdullah, Ali ibn Abdullah
Kitab lain yang memuat hadis di atas:
Kitab
Nomor Hadits
Muslim
377,378
Turmudzi
2680
Nasa’i
10, 11, 5130
Abu Daud
3666
Ibn Majah
288
Ahmad
6835, 6963, 7479, 8953, 9945
Malik
14362
2. Hadits Bertemunya Dua Khitan (Ibn Majah: 600)

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ الطَّنَافِسِيُّ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدِّمَشْقِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ أَنْبَأَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الْقَاسِمِ أَخْبَرَنَا الْقَاسِمُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ إِذَا الْتَقَى الْخِتَانَانِ فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ فَعَلْتُهُ أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاغْتَسَلْنَا

Artinya: telah bercerita kepadaku ‘Ali bin Muhammad al Thanafisy dan Abdurrahman Bin Ibrahim Al Dimasyqy, mereka berkata telah bercerita kepadaku Al Walid Bin Muslim, telah bercerita kepadaku Al Auza’i, telah membawa berita kepadaku Abdurrahman Bin Qasim, telah mengabariku Qosim Bin Muhammad dari ’Aisyah, yakni istri Rasulullah SAW. Ia (‘Aisyah) berkata: “ Ketika dua khitan (kedua alat kelamin laki-laki dan perempuan) telah bertemu maka diwajibkan mengerjakan mandi, Aku dan Rasulullah menjalankan perbuatan tersebut (ibadah suci jima’) kemudian kami mandi bersama. (H.R. Imam Abu Daud)

Kualitas Rawi
No
Nama
Urutan periwayat/sanad
Kualitas
1.
‘Aisyah
I/VI
Diterima
2.
Qasim ibn Muhammad
II/V
Diterima
3.
Abdurrahman ibn Qasim
III/IV
Diterima
4.
‘Auza’i
IV/III
Diterima
5.
Walid ibn Muslim
V/II
Diterima
6.
Abdurrahman ibn Ibrahim
VI/I
Diterima
7.
Ali ibn Muhammad
VI/I
Diterima
8.
Ibn Majah
VII/Mukharij al-hadis
Diterima
Hadits ini adalah Hadis Ahad yang Masyhur, sebab ada beberapa Syahid dan Muttabi’ yang meriwayatkan hadis ini. Berikut daftar Syahid dan Muttabi’nya:

Tingkatan Rawi Nama Syahid/Muttabi’
Tingkatan Rawi
Nama
Syahid/Muttabi’
I
‘Aisyah
Umar ibn Khattab, Utsman ibn Affan
II
Qasim ibn Muhammad
Ummu Kultsum, Abdullah, Abdul Aziz, Sa’id ibn Musayyab, Abdullah ibn Rabbah, Ibn Abdurrahman
III
Abdurrahman ibn Qasim
Muhammad ibn Muslim, Sa’id ibn Musayyab, Salim, Qatadah, Yahya ibn Sa’id, Ali ibn Zaid, Abdullah ibn Rabah, Amir, Jabir
IV
‘Auza’i
Hamid, Tsabit, Muhammad ibn Muslim, Tsabit ibn Aslam, Sufyan ibn Sa’id, Syu’bah ibn al-Hajjaj, Isma’il, Sa’id,
V
Walid ibn Muslim
Abdul Wahab, Muhammad ibn Ja’far, Ibn Dakin, Waki’ ibn al-Jarah, Hamad ibn Salamah, Hisyam, ‘Iyadh
VI
Abdurrahman ibn Ibrahim
Ali ibn Muhammad, Muhammad ibn al-Mutsanna, Abdullah, Abdul A’la, Mudzafar, Ibn Muslim, Yazid ibn Harun
Kitab lain yang memuat hadis di atas
Kitab
Nomor Hadits
Muslim
526, 527
Turmudzi
101
Ahmad
23075, 23514, 23673, 23767, 23688, 24120, 24714, 24832, 25086
Malik
92, 93, 94
3. Hadits Dianjurkannya Khitan Bagi Perempuan (Ahmad: 19794)

حَدَّثَنَا سُرَيْجٌ حَدَّثَنَا عَبَّادٌ يَعْنِي ابْنَ الْعَوَّامِ عَنِ الْحَجَّاجِ عَنْ أَبِي الْمَلِيحِ بْنِ أُسَامَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْخِتَانُ سُنَّةٌ لِلرِّجَالِ مَكْرُمَةٌ لِلنِّسَاءِ

Artinya: Telah bercerita kepadaku Suraij, telah bercerita kepadaku ‘Abbad yakni Ibnul Awwam dari Hajjaj dari Abi Malih Bin Usamah dari ayahnya bahwa sesungguhnya Nabi SAW telah bersabda: ” Khitan bagi perempuan merupakan sunnah bagi laki-laki dan kemuliaan bagi perempuan” (H.R. Imam Ahmad).

Hadits ini tergolong Hadits Ahad yang Ghorib, sebab tidak ada Syahid dan Muttabi’. Hadits ini hanya diriwayatkan oleh satu rawi di setiap tingkatan. Hadis ini juga hanya dikeluarkan oleh satu Mukharrij yakni Imam Ahmad ibn Hanbal. Berikut tabelnya:

Kualitas Rawi
No
Nama
Urutan periwayat/sanad
Kualitas
1.
Usamah
I/V
Diterima
2.
Abu al-Malih ibn Usamah
II/IV
Diterima
3.
Al-Hajjaj
III/III
Ditolak
4.
Abbad ibn Awwam
IV/II
Diterima
5.
Suraij
V/I
Diterima
6.
Ahmad
VI/Mukharij al-hadis
Diterima
4. Hadits Tradisi Khitan di Masa Nabi (Abu Daud: 4587)

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدِّمَشْقِيُّ وَعَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ عَبْدِ الرَّحِيمِ الْأَشْجَعِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا مَرْوَانُ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حَسَّانَ قَالَ عَبْدُ الْوَهَّابِ الْكُوفِيُّ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ الْأَنْصَارِيَّةِ أَنَّ امْرَأَةً كَانَتْ تَخْتِنُ بِالْمَدِينَةِ فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُنْهِكِي فَإِنَّ ذَلِكَ أَحْظَى لِلْمَرْأَةِ وَأَحَبُّ إِلَى الْبَعْلِ قَالَ أَبُو دَاوُد رُوِيَ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بِمَعْنَاهُ وَإِسْنَادِهِ قَالَ أَبُو دَاوُد لَيْسَ هُوَ بِالْقَوِيِّ وَقَدْ رُوِيَ مُرْسَلًا قَالَ أَبُو دَاوُد وَمُحَمَّدُ بْنُ حَسَّانَ مَجْهُولٌ وَهَذَا الْحَدِيثُ ضَعِيفٌ

Artinya: ” Telah bercerita kepadaku Sulaiman Bin Abdirrahman al Dimasyqiy dan Abdul Wahhab Bin Abdirrahman Al Asyja’i, mereka berkata telah bercerita kepada kami Marwan telah bercerita kepadaku Muhammad Bin Hassan, Abdul Wahhab Al Kufi berkata dari Abdul Malik Bin Umair dari Ummi ‘Athiyyah al Anshoriyyah bahwasannya seorang perempuan (telah-sedang) berkhitan di Madinah, kemudian Rasulullah SAW berkata kepadanya : janganlah terlalu (banyak) dalam memotong (klitoris) karena hal itu dapat memberi kenikmatan bagi perempuan dan disukai suami. Abu Daud berkata hadis ini diriwayatkan dari Ubaidillah Bin Amr dari Abdul Malik berupa makna dan sanadnya. Abu Daud berkata hadis ini tidahklah kuat dan sungguh telah diriwayatkan secara mursal. Abu Daud dan Muhammad Bin Hassan berkata hadis ini majhul dan hadis ini dloif.

Hadis ini tergolong Hadits Ahad yang Ghorib, sebab selain tidak ditemukannya Syahid yang turut meriwayatkan hadits ini- karena shahabat yang meriwayatkan hanya Ummu Athiyah- dan hanya ditemukan satu Muttabi’ yaitu di tingkat ke lima- Sulaiman ibn Abdurrahman sebagai Muttabi’nya Abdul Wahab ibn Abdurrahman, juga hanya dikeluarkan oleh satu Mukharrij yaitu Abu Daud. Berikut daftarnya:

Kualitas Rawi
No
Nama
Urutan periwayat/sanad
Kualitas
1.
Ummu Athiyah (Nasibah)
I/V
Diterima
2.
Abdul Malik
II/IV
Diterima
3.
Abdul Wahab
III/III
Diterima
4.
Muhammad ibn Hassan
IV/III
Ditolak
5.
Marwan
V/II
Diterima
6.
Abdul Wahab ibn Abdirrahman
VI/I
Diterima
7.
Sulaiman ibn Abdirrahaman
VI/I
Diterima
8.
Abu Daud
VII/Mukharij al-hadis
Diterima
Dari penelitian hadis di atas, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
Hadits
Kuantitas Periwayat
Kualitas Hadits
Khitan Sebagian Dari Fitrah
Ahad Aziz
Shahih
Hadits Bertemunya Dua Khitan
Ahad Masyhur
Shahih
Hadits Dianjurkannya Khitan Bagi Perempuan
Ahad Ghorib
Dha’if
Hadits Tradisi khitan di masa Nabi
Ahad Ghorib
Dha’if
Analis Matan Hadis Sunat (khitan) Manusia

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, bahwa ada empat macam kategori hadits yang bercerita tentang khitan. Setelah dilakukan penelitian tentang kualitas hadits tersebut, ditemukan dua di antaranya dhaif. Sementara itu, untuk melakukan kritik matan terhadap hadits-hadits tersebut, ada tiga langkah metodologis yang perlu dilakukan:

a. Meneliti matan dengan melihat kualitas sanadnya
b. Meneliti susunan lafal matan yang semakna
c. Meneliti kandungan matan

Untuk langkah pertama, telah dilakukan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya dan hasil akhirnya diketahui dua matan di antara hadits tersebut (dua hadits terakhir), sanadnya dha’if sehingga tidak dapat dilakukan penelitian matan lebih lanjut. Adapun sisanya, dua hadits pertama yang kualitas sanadnya diterima, akan memasuki tahapan kedua yaitu diteliti lafal matan yang semakna.

Hadits pertama yang mengatakan khitan termasuk salah satu fithrah, redaksinya menyebutkan bahwa fithrah itu ada lima macam. Sementara itu, setelah ditakhrij dalam Kutub al-Tis’ah, ada juga yang redaksinya menyebutkan sepuluh macam. Kemudian letak urutan dan penyebutan khitan pun tidak semuanya sama antar satu hadits dengan hadits lainnya. Klasifikasi dan susunan redaksinya dapat digambarkan menjadi di bawah ini:

a. Redaksi yang menyebutkan fithrah itu ada lima macam dan khitan di urutan pertama ada sepuluh buah, di Shahih Bukhari ada dua hadits, Shahih Muslim ada satu hadits, Sunan an-Nasa’i ada dua hadits, Abu Daud ada satu hadits, dan Musnad Ahad ada empat hadits.

b. Redaksi yang menyebutkan fithrah ada lima macam, salah satunya khitan yang terletak di urutan kedua terdapat di Sunan Ibn Majah, Sunan at-Turmudzi, dan Musnad Ahmad, masing-masing satu. Total ada tiga hadits.

c. Redaksi yang menyebutkan fithrah ada lima macam, salah satunya khitan di urutan kelima terdapat dalam Sunan an-Nasa’i sebanya tiga hadits dan Musnad Ahmad satu hadits.

d. Redaksi yang menyebutkan fithrah ada sepuluh macam, salah satunya khitan terdapat dalam Sunan an-Nasa’i, Sunan Abu Daud, dan Musnad Ahmad masing-masing satu.

Sedangkan hadits kedua tentang wajib mandi apabila bertemu dua khitan juga memiliki redaksi yang bermacam-macam. Berbagai redaksi itu dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 

a. Redaksi memakai lafadz ( اذا اصاب) ada satu hadits dalam Musnad Ahmad.

b. Redaksi ( التقي ) terdapat dalam Sunan at-Turmudzi satu hadits, Ibn Majah dua hadits, dan dalam Musnad Ahmad ada tujuh hadits. 

c. Redaksi hadits dengan ( جاوز ) terdapat dalam Sunan At-Turmudzi ada empat hadits, Musnad Ahmad tiga hadits, dan Muwatha’ Imam Malik dua hadits. Total ada sembilan hadits.

d. Redaksi hadits ( قعد بين شعبها الاربع و الزق الختان بالختان ) hanya ditemukan satu hadits dalam riwayat Abu Daud.

e. Redaksi ( مس ) hanya ditemukan satu hadits dalam Muwatha Imam Malik.

Kelima redaksi tersebut pada intinya menunjukkan makna yang sama yaitu melakukan hubungan suami istri disertai orgasme atau tidak.

Kemudian langkah terakhir dalam kritik matan adalah meneliti kandungan matan. Adapun suatu hadits dikatakan kandungan matannya dapat diterima apabila:

1. Tidak bertentangan dengan al-Qur’an, hadits mutawatir dan ijma’.
2. Tidak bertentangan dengan amalan kebiasaan ulama salaf.
3. Tidak bertentangan dengan dalil yang sudah pasti.
4. Tidak bertentangan dengan hadits ahad yang kualitas keshahihannya lebih kuat.
5. Tidak bertentangan dengan akal sehat.

Secara jelas di dalam ayat al-Qur’an tidak ditemukan perintah untuk melakukan khitan baik untuk laki-laki maupun perempuan. Perintah khitan ini sebenarnya sering dikait-kaitkan dengan Nabi Ibrahim, bapak para nabi, yang pernah diperintahkan untuk menjalankan khitan. Oleh karenanya, pelaksanaan khitan dianggap sebagai bentuk mengikuti syariat Nabi Ibrahim yang hanif. Hal ini termaktub dalam Q.S. an-Nahl 123-124:

 ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ .إِنَّمَا جُعِلَ السَّبْتُ عَلَى الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ وَإِنَّ رَبَّكَ لَيَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ.

Begitu juga dalam Q.S. al-An’am ayat 90

أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهِ قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرَى لِلْعَالَمِينَ

Ini tidak salah, karena para ulama pun menganggap hal ini termasuk salah satu dari syar’u man qablana yang perlu dijaga. Namun, ini sebenarnya lebih terfokus pada khitan untuk laki-laki. Sementara untuk khitan perempuan masih tidak ada kejelasan yang pasti dari ulama-ulama fiqh maupun hadits karena hadits yang berbicara tentang hal ini dha’if dari segi sanadnya. 

Walaupun hadits dhaif bisa dipakai untuk fadha’il al-a’mal tapi pelaksanaan khitan bagi perempuan ini bukanlah termasuk dalam pembahasan ini. Apalagi kemudian diketahui bahwa pelaksanaan khitan bagi perempuan tidak sedikit pun membawa maslahat bahkan dianggap suatu tindak kriminal terkait hak asasi seorang perempuan. 

Oleh karenanya, wajar apabila di beberapa negara tertentu, orang yang mengkhitan dan terkait di dalamnya mendapat hukuman yang berat. Namun, selama praktek khitan ini masih dalam taraf kewajaran, tidak menyakiti perempuan, atau hanya dilakukan secara simbolis saja maka ini sah-sah saja.

Adapun mengenai dua hadits pertama yang bernilai shahih dan dapat diterima di atas, walau berbicara tentang masalah khitan, mengatakan bahwa khitan itu memang ada tapi di sana juga tidak disebutkan secara gamblang tentang hukum khitan terutama bagi perempuan. Jadi secara syar’i dapat dikatakan bahwa tidak ada satu pun dalil yang jelas yang menunjukkan bahwa perempuan wajib dikhitan. 

Tidak ada hadist sahih yang menjelaskan hukum khitan perempuan. Ibnu Mundzir mengatakan bahwa tidak ada hadist yang bisa dijadikan rujukan dalam masalah khitan perempuan dan tidak ada sunnah yang bisa dijadikan landasan. Semua hadist yang meriwayatkan khitan perempuan mempunyai sanad dlaif atau lemah

Kajian Seputar Makna Sunat (khitan)

Setelah dilakukan penelusuran terhadap berbagai sumber baik itu dari kamus, syarh al-hadits, dan sebagainya, dapat ditarik beberapa definisi seputar lafadz khitan, yaitu:

 Khitan dengan harakat kasrah pada huruf kha’dan sukun pada taa’(alkhithnu) adalah bentuk masdar (infinitif noun) dari kata khatana yang berarti ”memotong”. 

 Sedangkan kata al-khatnu dengan fathah pada huruf kha’dan sukun pada taa’ yang juga bentuk masdar (infinitif noun) dari kata khatana adalah memotong suatu bagian khusus dari anggota badan yang khusus pula. 

 Dalam riwayat Yunus, Muslim, dan dalam kamus al-Muhith disebutkan bahwa al-khitan adalah merupakan hasil pekerjaan orang yang mengkhitan, atau merupakan tempat khitan. 

 Menurut Al-Mawardi berkata ”khitan wanita adalah memotong kulit yang ada di bagian paling atas kemaluannya, di atas tempat masuknya penis, seperti klitoris atau seperti jeger ayam jantan, pemotongan itu hendaklah dilakukan pada bagian atasnya saja dan jangan sampai menghabisinya.

 Al-Khatnu untuk laki-laki sedangkan Al-khafdh untuk perempuan. 

 Imam Nawawi dan dalam Lisanul ‘Arab berkata ”khitan laki-laki disebut dengan ‘idzar, sedangkan khitan perempuan disebut dengan khifdh”.

 Abu Syamah berkata ”dalam pengertian ahli bahasa, semuanya bisa disebut dengan ‘idzar, sedangkan khifdh khusus untuk wanita”.

 Istilah khitan merupakan istilah yang lazim dipakai dalam masyarakat atas peristiwa atau prosesi pemotongan sebagian organ kelamin baik laki-laki aupun perempuan. Term khitan sendiri berasal dari bahasa arab, secara etimologis kata khitan mempunyai arti memotong. Sedangkan secara istilah khitan merupakan suatu pemotongan pada pada bagian tertentu atas alat kelamin laki-laki maupun perempuan. 

Khitan bagi perempuan disebut juga khifd. Secara kebahasaan istilah khifdh dapat diartikan dengan menurunkan atau merendahkan. Makna tersebut dapat diasumsikan bahwa tujuan dari khitan bagi perempuan adalah menurunkan libido seksual. Hal yang lebih jauh dari khitan perempuan adalah adanya penjagaan diri atas keperawanan perempuan hingga sampai masa pernikahannya.

Kemudian, apabila makna khitan dirujuk pada empat kategori hadits yang telah dijelaskan sebelumnya maka didapatkan kesimpulan bahwa:

a. Pada kategori hadits pertama, khitan masih bermakna terlalu umum karena disejajarkan dengan memotong bulu kemaluan, memotong kuku, memotong bulu ketiak, dan lainnya yang termasuk bagian dari fithrah. Tujuan khitan dalam hadits ini dan fithrah lainnya adalah membersihkan badan dari kuman penyakit. 

b. Pada hadits kedua, khitan dimaksudkan untuk menjelaskan alat kelamin. Penyebutan dua khitan di dalamnya tidak berarti menjelaskan adanya khitan terhadap perempuan di masa Nabi.

c. Pada hadits ketiga dan keempat, walaupun di dalamnya disinggung tentang khitan perempuan di zaman Rasul, ini tidak berarti menerangkan bahwa khitan perempuan merupakan sunnah Nabi. Selain itu, hadits ini dha’if sehingga tidak bisa diamalkan.

Analisis Sosio Historis Hadis Sunat (khitan)
Kajian Sabab Wurud Al-Hadits

Pada hadits keempat disebutkan bahwa ada seorang juru khitan perempuan di Madinah hendak melakukan tugasnya. Pada saat itu Nabi berkata agar jangan berlebihan dalam memotong organ kelamin perempuan karena akan mengurangi nikmatnya berhubungan suami-istri. Sebagai seorang rasul, Nabi melakukan koreksi terhadap tradisi yang ada di masyarakat Arab saat itu. Namun, bukan berarti apabila dikatakan demikian, khitan perempuan termasuk sunnah Nabi. 

Tidak ada bukti jelas bahwa orang-orang (perempuan) terdekat Nabi seperti istri-istri dan anak-anak beliau yang melakukan khitan. Tak ada satupun riwayat shahih yang menjelaskannya. Bahkan secara implisit, dalam hadits tersebut Nabi sebenarnya melarang khitan perempuan apabila itu ditujukan untuk menyakiti mereka, misal, sebagai upaya pengebirian hasrat seksual mereka.

Sunat (khitan) dalam Berbagai Perspektif

Prosesi khitan dari masa ke masa semakin mengalami pergeseran sehingga menyebabkan maqasid al-syari’ah yang diusungnya pun semakin hilang. Pada bagian ini, penulis coba mengulas bagaimana khitan dalam Sunnah Nabi dan khitan dalam sudut pandang tradisi dan adat istiadat. 

Khitan dalam Sunnah Nabi

Setelah mencari dan meneliti makna Khitan dari beberapa kamus dan pendapat para ulama’, dapat diambil kesimpulan bahwa sedikitnya ada dua makna Khitan yang sesuai dengan hadis-hadis yang berbicara tentang Khitan.

Pertama, Khitan bermakna memotong Qulfah (Kulup atau glands), yaitu kulit yang menutupi kepala dzakar atau penis sampai hasyafah atau tudung yang menutupi kepala penis terbuka sepenuhnya untuk laki-laki, sedang untuk perempuan adalah memotong bagian kulup atau kerudung (selaput) klitoris. Khitan yang bermakna memotong ini sesuai dengan hadis Nabi, antara lain:

 لَا تُنْهِكِي فَإِنَّ ذَلِكَ أَحْظَى لِلْمَرْأَةِ وَأَحَبُّ إِلَى الْبَعْلِ
 الْخِتَانُ سُنَّةٌ لِلرِّجَالِ مَكْرُمَةٌ لِلنِّسَاء
 الْخِتَانُ وَالِاسْتِحْدَادُ وَنَتْفُ الْإِبْطِ وَقَصُّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ

Kedua, khitan diartikan sebagai bagian dari alat kelamin, laki-laki ataupun wanita yang jika keduanya bertemu dengan masuknya zakar (alat kelamin laki-laki/penis) ke dalam alat kelamin wanita (farj/vagina) maka wajib mandi besar bagi keduanya. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi Muhammad yaitu:

عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ إِذَا الْتَقَى الْخِتَانَانِ فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ فَعَلْتُهُ أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاغْتَسَلْنَا

Kalau di atas diuraikan mengenai pengertian khitan sesuai dengan Sunnah Nabi, maka mengenai karakteristik khitan yang sesuai dengan Sunnah Nabi yaitu:

a) Khitan merupakan salah satu dari perilaku fitrah manusia, selain mencukur bulu kemaluan, kumis, bulu ketiak, dan memotong kuku. Dalam hadis lain disebutkan pula berkumur, membersihkan hidung dengan air, dan bersiwak. Hal ini menandakan bahwa khitan merupakan salah satu amalan dimana pelakunya telah memenuhi tuntunan Nabinya yang bisa dilakukan untuk mencapai fitrah (kebersihan fisik maupun psikis).

b) Pada saat Nabi dikhitan dahulu, keluarga beliau mengadakan sebuah pesta atau perayaan yang wajar dilakukan sebagai rasa syukur dan gembira atas karunia yang didapatkan, dalam hal ini adalah kelahiran. Akan tetapi tidak ada dalil yang memerintah maupun melarang, baik dari al-Qur’an ataupun Sunnah, diadakannya walimatulkhitan.

c) Khitan dianjurkan pada anak yang masih berumur 7 hari, sebagai ittiba’ pada Nabi, usia 40 hari atau 7 tahun sebab pada umur inilah mulai diperintahkannya kewajiban shalat. Meskipun ada beberapa ulama’ yang tidak membatasi waktu untuk khitan.

d) Ada do’a-do’a yang diajarkan oleh Nabi dalam perayaan-perayaan, termasuk perayaan khitan.

Namun, pada dasarnya semua karakterisik di atas ditujukan pada khitan untuk laki-laki. Pembahasan mengenai khitan laki-laki saat ini hanya menyisakan perbedaan hukum antara disunnahkan dan diwajibkannya Khitan itu. Kedua pendapat ini meskipun berbeda akan tetapi keduanya sama-sama sepakat bahwa Khitan untuk laki-laki memanglah bagian dari sunnah Nabi Muhammad SAW.

Akan tetapi, diskursus tentang Khitan perempuan sampai saat ini masih sangat diperdebatkan kebolehan dan ketidakbolehannya. Hal ini bisa dimaklumi sebab tidak ada satu dalil pun, baik dari al-Qur’an dan al-Sunnah yang menginstruksikan Khitan untuk perempuan. 

Dalil-dalil dari al-Sunnah memang ada yang menyinggung Khitan bagi perempuan. Akan tetapi secara keseluruhan tidak ada yang menyuruh langsung untuk khitan bagi perempuan.

Untuk lebih memahami bagaimana khitan dalam perspektif Sunnah Nabi, ada baiknya kita mengetahui macam-macam khitan untuk perempuan, karena menurut Abd. Rachman Assegaf khitan perempuan itu ada tiga macam, antara lain:

a. Pemotongan dalam bentuk circumcision yang berarti cutting the prepuce or the blood of the clitoris atau memotong kulup atau kerudung (selaput) klitoris. Khitan jenis ini tidaklah sampai pada merusak fisik atau nafsu syahwat perempuan.

b. Pemotongan bentuk excision yang berarti the removal of the clitoris and either teh labia minora, or part of it atau memotong klitoris dan sebagian atau keseluruhan labia minora. Pemotongan ini bisa menimbulkan penderitaan, pendarahan, infeksi, luka dan dalam waktu panjang dapat menyebabkan rasa nyeri saat kencing dan menstruasi, sedang dalam hubungan seksual si perepuan akan sulit mencapai kepuasan, sebab klitoris merupakan bagian sensitif dan pusat syahwat perempuan.

c. Pemotongan bentuk infabulation yang berarti removing the whole of the clitoris, the labia minora and part of labia majora atau memotong seluruh bagian klitoris, labia minora, dan sebagian labia majora. Khitan ini biasa disebut dengan Khitan gaya Fir’aun (pharaonic circumsicion). Akibat yang ditimbulkan sangat berat, antara lain: infeksi saluran kencing, ginekologis, frigiditas, keguguran, haid yang menyakitkan, abses, kanker, dan lain-lain. 

Berikut gambar kelamin mulai dari yang normal (belum dikhitan) sampai dengan pemotongan bentuk ketiga:

Perintah sunat dan khitan dalam hadis

Gambar pertama menunjukkan alat kelamin yang belum dikhitan. Selaput klitoris masih lengkap beserta yang lainnya. Gambar yang kedua atau gambar A menunjukkan bentuk pemotongan yang pertama, yaitu: circumcision. 

Dari gambar tersebut kita dapat melihat bahwa yang dipotong hanyalah sebagian selaput klitoris atau seluruhnya tetapi tidak memotong bagian lainnya. Gambar ketiga atau gambar C menunjukkan bentuk pemotongan yang kedua, yakni: excision. Klitoris dan sebagian atau bahkan seluruh bagian labia minora terlihat terpotong di gambar tersebut. 

Sedangkan gambar yang keempat atau gambar D menunjukkan bentuk pemotongan ketiga, yakni: infabulation. Bentuk pemotongan ini tidak menyisakan klitoris, labia minora, hingga labia majora.

Sesuai dengan hadis Nabi, yang dimaksud dengan khitan perempuan adalah bentuk pemotongan yang pertama, yakni memotong sebagian selaput atau kerudung klitoris dengan tidak berlebihan, agar terhindar dari beberapa penyakit akibat berlebihnya memotong klitoris.

 لَا تُنْهِكِي فَإِنَّ ذَلِكَ أَحْظَى لِلْمَرْأَةِ وَأَحَبُّ إِلَى الْبَعْلِ
 الْخِتَانُ سُنَّةٌ لِلرِّجَالِ مَكْرُمَةٌ لِلنِّسَاءِ

Tradisi Sunat (khitan) di Indonesia

Tradisi khitan telah ditemukan jauh sebelum Islam datang, berdasarkan penelitian etnolog ditunjukkan bahwa khitan sudah pernah dilakukan masyarakat pengembala di afrika dan asia barat daya, suku semit (Yahudi dan Arab) dan Hamit. Mereka yang dikhitan tidak hanya laki-laki tetapi juga kaum perempuan, 

Dengan demikian khitan merupakan sesuatu yang lazim dilaksanakan. Bahkan pada zaman nabi pun tradisi khitan telah ada , Tidak dipungkiri disekitar kita juga masih dapat ditemukan tradisi khitan dikarenakan terkait dengan uacara adat dan tema budaya setempat baik di daerah pedesaan maupun perkotaan, tradisi khitan baik bagi laki-laki maupun perempuan sudah tidak asing lagi bahkan seolah-olah sudah membudaya. 

Dalam masyarakat melaksanaan khitan sering dibarengi dengan upacara tertentu atau pesta perayaan untuk menandai bahwa purta-putrinya telah menginjak dewasa. Akibatnya, unsur tradisi dan budaya lokal ikut mewarnai corak ajara Islam tentang khitan. Tidak jarang tradisi kitan oleh sebagia orang ditambah dengan prosesi yang mengarah pada mitos dalam bentuk khurafat, yang tidak ada sama sekali tuntunannya dari Nabi s.a.w. 

Namun bagi orang yang cukup pendidikan dan pengetahuannya tentang ajara Islam, tradisi khitan tidak sampai demikian bila di ilustrasikan dalam bentuk skema, pratek khitan dapat dipolakan sebagai berikut
Dalil Perintah Khitan Laki-Laki
Untuk mengetahui sejauh mana praktek khitan tersebut sesuai atau tidak dengan tuntunan nabi atau hanya sebagai radisi saja yang dipenuhi dengan hal-hal mitos, dapat diukur dengan indikator karakteristik khitan yang dilangsungkan itu tidak dijumpai nilai-nilai dan ajaran Islam atau lebih banyak diimbuhi ritual dan prosesi yang mengarah pada syirik, tahayul,bid’ah maka dapat dikatakan bahwa upacara khitan tesebut mengandung unsur mitos.

Upaya pelestarian terhadap adat istiadat setempat memang perlu terus didukung agar masyarakat tersebut tidak tercabut dari akar budayanya. Akan tetapi tidak kurang pentingnya adalah memperhatikan bagaimana tradisi khitan itu dapat terlaksana tanpa mereduksi tuntunan atau Sunnah Nabi. 

Artinya, tradisi khitan berjalan menurut adat setempat tanpa diimbuhi dengan unsur mitos. Bila unsur mitos tetap berlangsung, akibatnya masyarakat akan semakin sulit membedakan mana yang Sunnah Nabi dan mana pula yang mitos. Bisa jadi unsur mitos tersebut dikemudian hari akan dianggap sebagai bagian dari Sunnah, itu sebabnya maka masyarakat kita membutuhkan sosialisasi yang benar tentang praktek khitan.

Khitan Wanita ditinjau dari Kacamata Medis

Pembahasan tentang khitan perempuan sampai sekarang masih menyisakan perdebatan panjang baik dari segi hukum maupun pada prakteknya. Imam Mawardi mengatakan bahwa khitan pada perempuan yang dipotong adalah kulit yang berada di atas vagina perempuan yang berbentuk mirip cengger ayam. 

Yang dianjurkan adalah memotong sebagian kulit tersebut bukan menghilangkannya secara keseluruhan. Imam Nawawi juga menjelaskan hal yang sama bahwa khitan pada perempuan adalah memotong bagian bawah kulit lebih yang ada di atas vagina perempuan.

Namun pada penerapannya banyak kesalahan dilakukan oleh umat Islam dalam melaksanakan khitan perempuan, yaitu dengan berlebih-lebihan dalam memotong bagian alat vital perempuan. Seperti yang dikutib Dr. Muhammad bin Lutfi Al-Sabbag dalam bukunya tentang khitan bahwa kesalahan fatal dalam melaksanakan khitan perempuan banyak terjadi di masyarakat muslim Sudan dan Indonesia. 

Kesalahan tersebut berupa pemotongan tidak hanya kulit bagian atas alat vital perempuan, tapi juga memotong hingga semua daging yang menonjol pada alat vital perempuan, termasuk clitoris sehingga yang tersisa hanya saluran air kencing dan saluran rahim. Khitan model ini di masyarakat Arab dikenal dengan sebutan “Khitan Fir’aun”.

Beberapa kajian medis membuktikan bahwa khitan seperti ini bisa menimbulkan dampak negatif bagi perempuan baik secara kesehatan maupun psikologis, seperti menyebabkan perempuan tidak stabil dan mengurangi gairah seksualnya. Bahkan sebagian ahli medis menyatakan bahwa khitan model ini juga bisa menyebabkan berbagai pernyakit kelamin pada perempuan. 

Secara umum, gangguan kesehatan yang diakibatkan dari khitan perempuan adalah pendarahan hebat, infeksi lokal dan panggul, shock karena kesakitan, dan gangguan pembuangan urine. Bentuk gangguan ini dapat terjadi terus-menerus bahkan bertahun-tahun seperti gangguan ketika menstruasi, gangguan hubungan seksual, gangguan selama dan setelah melahirkan, kemandulan, nyeri yang menetap, dan gangguan kesehatan jiwa. 

Menurut dr. Rini Sekartini, SpA dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta, secara medis sunat pada anak laki-laki, yaitu berupa pemotongan kulit kepala penis, memang bermanfaat. Ia menjelaskan, “Lapisan kulit penis terlalu panjang, sehingga sulit dibersihkan. Kalau tidak dibersihkan, kotoran yang biasa disebut smegma akan mengumpul, dan sering menimbulkan infeksi pada penis. 

Bahkan bisa memicu timbulnya kanker leher rahim pada perempuan yang disetubuhinya. Selain itu secara medis juga membuktikan, bagian kepala penis peka terhadap rangsangan karena banyak mengandung saraf erotis. Ini membuat kepala penis yang tidak disunat lebih sensitive daripada yang disunat. Jadi, sunat ternyata juga membantu mencegah terjadinya ejakulasi dini.

Di negara lain, misalnya Amerika Serikat, walau masih controversial, mereka juga melakukan sunat pada bayi laki-laku yang baru lahir. Tujuannya, antara lain untuk mengurangi risiko infeksi saluran kemih, penyakit menular seksual, dan pencegahan terhadap kanker penis.

Nah, berbeda dengan anak laki-laki, masih menurut dr. Rini, secara medis sunat pada anak perempuan (female genetical mutilation, FGM) ini, tidak ada manfaatnya. Praktik amputasi’alat kelamin perempuan yang terjadi selama ini pada dasarnya memang tidak terlepas dari nilai kultur masyarakat. Sebagian masyarakat meyakini, perempuan memiliki nafsu seksual lebih tinggi dibanding lelaki. Makanya, menurut mereka, cara efektif untuk mereduksi nafsu seksual perempuan ini adalah dengan melakukan tindakan sunat,” jelas dr. Rini.

Di beberapa komunitas memang ada anggapan, perempuan tidak berhak menikmati kepuasan sekual sebab dia hanya pelengkap kepuasan seksual lelaki.Di luar masalah kultur, yang pasti bila tindakan ini tidak dilakukan dengan hati-hati dan tepat, justru menimbulkan komplikasi, baik akut maupun kronis,”lanjut dr. Rini. Dampak dan komplikasinya telah dijelaskan sebelumnya.

Kontekstualisasi Hadis dengan Apa Yang berkembang di Masyarakat

Dalam bahasa agama, syariat Islam senantiasa sejalan dengan fitrah manusia. Di dalam banyak hadis dijelaskan bahwa di antara beberapa fitrah manusia adalah khitan. Khitan akan menjadi tema yang menarik untuk dibahas ketika dihubungkan dengan perempuan karena bentuk redaksi hadis yang berkaitan dengan khitan tampak memberikan stressing yang berbeda di antara laki-laki dan perempuan. Apalagi jika khitan dikaitkan dengan produk budaya tertentu tentu akan menghasilkan sebuah pemahaman yang berbeda juga.

Sebagian orang ~masuk di dalamnya ulama’ dan para pakar keilmuan~ yang tidak sepakat dengan disyariatkannya khitan perempuan berargumen bahwa khitan bagi perempuan tersebut bisa melanggar hak asasi manusia, karena bisa berdampak negatif bagi si perempuan tersebut dan dapat menghalangi reaksi seksual bagi perempuan yang dikhitan. Pemahaman seperti ini tentunya sejalan dengan pandangan dunia medis yang menafikan fungsi khitan bagi perempuan. 

Sebaliknya mereka yang sepakat dengan disyariatkannya khitan bagi perempuan menandaskan alasannya pada pemahaman mereka terhadap ajaran Islam. menurut mereka agama, Islam mengajarkan kepada hambanya untuk berperilaku proporsional. Salah satunya adalah bagaimana bisa mengendalikan diri, termasuk mengendalikan hawa nafsu. 

Khitan bagi perempuan diharapkan bisa menjadi rem bagi perempuan untuk mengontrol hawa nafsunya. Di sisi lain, yang harus digaris bawahi, khitan bagi perempuan yang diajarkan oleh syariat Islam bukanlah sebagaimana dipersepsikan orang yang menentangnya. Khitan bagi perempuan menurut ajaran Islam cukup dilakukan dengan hanya menghilangkan selaput (jaldah/colum/praeputium) yang menutupi klitoris, dan tidak boleh dilakukan secara berlebihan, seperti memotong atau melukai klitoris (insisi dan eksisi). Hal ini sebagaimana hadis rasul SAW:

عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ الْأَنْصَارِيَّةِ أَنَّ امْرَأَةً كَانَتْ تَخْتِنُ بِالْمَدِينَةِ فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُنْهِكِي فَإِنَّ ذَلِكَ أَحْظَى لِلْمَرْأَةِ وَأَحَبُّ إِلَى الْبَعْلِ 

Dari Ummu ‘Athiyyah r.a. diceritakan bahwa di Madinah ada seorang perempuan tukang sunat/khitan, lalu Rasulullah SAW bersabda kepada perempuan tersebut: “Jangan berlebihan, sebab yang demikian itu paling membahagiakan perempuan dan paling disukai lelaki (suaminya)”. (HR. Abu Daud dari Ummu ‘Atiyyah r.a.)

Salah satu cendikiawan yang sepakat dengan adanya khitan perempuan adalah Prof. Syaikh Wahbah Az-Zuhaili. Di dalam bukunya “Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuhu” ia berkata: “Khitan pada perempuan ialah memotong sedikit mungkin dari kulit yang terletak pada bagian atas farj (klitoris). Dianjurkan agar tidak berlebihan, artinya tidak boleh memotong jengger yang terletak pada bagian paling atas dari farj, demi tercapainya kesempurnaan kenikmatan waktu bersenggama”. 

Dengan begitu menjadi jelaslah, bahwa praktik khitan perempuan yang dilakukan secara berlebihan, yang kemudian memicu reaksi PBB sehingga mengeluarkan pelarangan praktik khitan seperti itu, sangatlah tidak sesuai dengan ajaran Islam. 

Terlepas dari pro-kontra khitan bagi perempuan perlu diketahui bahwa terbentuknya tradisi khitan perempuan sesungguhnya tidak dapat dilepaskan dari stigma tentang perempuan dalam budaya patriarki. Anggapan bahwa perempuan adalah penggoda dan pemilik syahwat besar telah menyumbangkan banyak mitos dalam kehidupan perempuan, termasuk pada tradisi khitan. Dengan dikhitan daya seksual perempuan dapat dibatasi (terbendung) dan ia dianggap tidak akan lagi menjadi sumber penggoda bagi lak-laki. 

Stigma di atas tentu saja sangat menjerumuskan ~dan terlalu memojokkan kaum wanita sebagai pusat hawa nafsu~ karena laki-laki itu sendiri dapat menjadi sumber penggoda bagi perempuan. Nafsu seksual itu sendiri memang sudah menjadi naluri dalam diri manusia, baik laki-laki dan perempuan. Tidak ada bukti ilmiah bahwa perempuan yang tidak dikhitan memiliki nafsu seksual yang tidak terkendali.

Khitan pada perempuan memang bermasalah ~untuk sekedar menilai~ mulai dari cara pandang hingga teknik yang dipergunakan. Dalam sebuah diskusi di Jakarta (Mei/2005), Lies Marcoes-Natsir menyatakan bahwa cara pandang ini cukup berbahaya karena ditujukan untuk mengontrol dan menundukkan perempuan. Jika dilihat dari pandangan ini, maka khitan perempuan menjadi bermasalah, karena dapat mengukuhkan suatu cara pandang yang bias jender. 

Masalah kian membesar apabila setelah ditinjau dari aspek kesehatan (sebut saja medis cs) ternyata khitan pada perempuan sama sekali tidak memberikan manfaat. Hal ini diakui oleh Hj. Tuti Astiyah, salah seorang pakar ilmu kebidanan di Bandung, dalam tulisannya di Kompas (Mei/2003). Dalam beberapa kali aktivitasnya membantu proses persalinan, ia menemukan sejumlah perempuan yang bagian dalam vaginanya tersayat luka sehingga dapat merusak selaput dara atau hymen. 

Lebih lanjut menurut Tuti, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah melaporkan banyaknya temuan komplikasi akibat khitan bayi perempuan di negara-negara Afrika, seperti infeksi dan adanya fistula pada daerah yang dilakukan penyunatan. 

Berbeda dengan khitan laki-laki yang dilakukan dalam bentuk seragam di berbagai tempat, khitan perempuan memiliki variasi bentuk beragam tergantung adat istiadat setempat. Ketidaksamaan ini pada akhirnya banyak menyumbangkan efek negatif pada khitan perempuan. (Lihat: Diskursus Khitan Perempuan).

Akan tampak lebih bermasalah lagi andaikan khitan perempuan masih tetap dilakukan dengan dalih beberapa hadis yang berkenaan dengannya, karena pada hakikatnya secara kualitatif hadits yang menjadi dasar perlunya khitan perempuan menurut sejumlah ulama, seperti Imam Abu Daud (salah seorang mukharrij hadis tentang khitan perempuan), Imam Ibnu Munzir, Imam al Syaukani dan Sayid Sabiq adalah lemah (baca: Dhaif). 

Dengan nada kritik yang sangat tajam Sayid Sabiq mengatakan : “Semua hadits yang berkaitan dengan khitan perempuan adalah dhaif (lemah), tidak ada satupun yang sahih (valid). Kalau demikian adanya, salah satu pernyataan Nabi misalnya hadis yang bercerita tentang Ummi ‘Athiyyah seharusnya dapat diinterpretasikan sebagai respon Nabi atas budaya khitan yang masih berakar kuat dalam tradisi masyarakat Arab khususnya penduduk Madinah pada waktu itu sambil berusaha melakukan reduksi atasnya secara persuasive dan bertahap (tadrijiy). 

Soalanya penghapusan budaya secara serta merta akan menimbulkan resistensi yang besar dari masyarakat. Dengan begitu pernyataan itu juga dapat mengarah pada upaya penghapusannya terutama ketika praktek khitan perempuan tersebut menurut pertimbangan kesehatan (medis) tidak memberikan manfaat apalagi menyakiti atau merusak anggota tubuh. 

Mungkin dapat dikatakan bijak apabila hadis-hadis yang berbicara soal khitan perempuan diartikan secara umum sebagai salah satu usaha Nabi untuk menghilangkan budaya khitan bagi perempuan yang sudah mendarah daging di dunia Arab pada waktu itu. Berangkat dari pemahaman ini mungkin dapat diambil sebuah benang merah bahwa semangat yang dibawa ~dengan kata lain maqashid syariyyah~ beberapa hadis yang terkait masalah khitan perempuan bukanlah anjuran mengkhitani perempuan melainkan semangat menghilangkan budaya khitan perempuan yang terjadi masa itu. Sehingga khitan perempuan bukanlah sebagai suatu sunnah yakni amaliyyah syar’iyyah yang dianjurkan berdasarkan tuntunan Nabi Muhammad SAW. Berbeda halnya dengan khitan laki-laki.

Pendapat di atas mungkin dikatakan terlalu berani karena dalam kontinuitas keilmuan yang dimulai dari zaman sahabat hingga ulama’ mujtahidin dan sampai sekarang dijumpai pendapat yang mewajibkan khitan bagi perempuan. Salah satunya adalah madzhab imam syafi’i. hal ini dapat dijumpai dalam berbagai literatur kitab fikih madzhab syafi’iyyah, sebut saja misalnya kitab fathul muin. Dalam kitab tersebut dijelaskan anggota yang wajin dikhitan dari wanita sebagai berikut: 

(قوله: والمرأة الخ) أي والواجب في ختان المرأة قطع جزء يقع عليه اسم الختان وتقليله أفضل لخبر أبي داود وغيره أنه (ص) قال للخاتنة: أشمي ولا تنهكي فإنه أحظى للمرأة وأحب للبعل أي لزيادته في لذة الجماع، 

Yang diwajibkan dalam mengkhitan perempuan adalah memotong bagian yang harus dikhitan. Diutamakan dalam mengkhitan perempuan untuk menggores sedikit saja dari bagian yang harus dikhitan, berdasarkan hadis riwayat Abu Daud dan lainnya: bahwa rasulullah SAW berkata pada tukang khitan perempuan: Khitanlah, dan jangan berlebihan, sebab yang demikian itu paling membahagiakan perempuan dan paling disukai lelaki (suaminya), karena menambah nikmatnya bersenggama. 

Aktivis perempuan sedunia dalam Konferensi Beijing (1995) telah menyatakan penolakan atas praktek khitan berlebihan karena itu melanggar HAM. Tidak ketinggalan juga WHO melarangnya, karena khitan perempuan dapat merusak hak reproduksi perempuan dan merampas kesehatan serta kepuasan seksual. 

Di Indonesia, Departemen Kesehatan secara terang-terangan menyatakan dukungannya. Disusul oleh Kementrian Pemberdayaan Perempuan (KPP) yang menegaskan bahwa khitan perempuan bukan bagian dari tradisi negeri ini. 

Kesimpulan

Ada beberapa hal yang patut digarisbawahi dalam tulisan seputar khitan ini, yaitu:

a. Pada dasarnya khitan berasal dari tradisi Arab, yang telah ada sejak zaman Nabi Ibrahim. Jika dikatakan demikian, maka khitan yang dimaksud adalah khitan untuk kaum laki-laki saja. Dan ini memang sesuai dengan sunnah Nabi Muhamad karena pada prakteknya Rasulullah SAW. memang dikhitan.

b. Adapun mengenai khitan perempuan, sejarah banyak mencatat bahwa salah satu bentuk penindasan terhadap perempuan terwujud dengan dilakukannya khitan terhadap mereka. Pada zaman Fir’aun misalnya, semua daging yang menonjol pada alat kelamin perempuan dipotong hingga yang tersisa hanya saluran air kencing dan saluran rahim, ini membawa dampak pada adanya pengebirian terhadap seksualitas perempuan dan juga menyebabkan munculnya penyakit kelamin pada mereka. Ini jelas-jelas merugikan kaum perempuan. 

Dalam tradisi Arab, khitan pada perempuan juga dilakukan namun tidak diketahui secara pasti gimana prosesnya. Tapi kemudian muncullah hadits yang memperingatkan bahwa dalam memotong alat kelamin perempuan tersebut jangan berlebihan. Dari hadits ini dapat disimpulkan bahwa khitan perempuan hanya tradisi Arab yang boleh dilakukan dan boleh juga tidak, seandainya dilaksanakan maka syaratnya jangan berlebihan dan menyakiti perempuan, tapi seandainya tidak dilakukan pun tidak masalah. 

c. Secara medis pun, tidak ditemukan manfaat dari pelaksanaan khitan yang berlebihan terhadap perempuan, malah mengundang berbagai gangguan kesehatan. Adapun apabila ditinjau dari segi tradisi, terutama di Indonesia, khitan perempuan sudah tak dianggap aneh, menjadi kebiasaan. Sebenarnya hal ini tidak masalah asalkan dalam hal memotong tidak berlebihan, bahkan ternyata kadang dalam pelaksanaannya khitan perempuan itu dilakukan hanya secara simbolis atau seremonial saja dan ini tak masalah lagi.

d. Terkait bahwa khitan perempuan dianggap melanggar HAM, penulis merasa tidaklah demikian. Memang kalau proses khitan terhadap perempuan dilakukan secara berlebihan, memotong kesemua bagian alat vitalnya misalnya, yang menyebabkan gairah seksualnya berkurang ataupun lenyap atau juga membuat trauma sepanjang hidupnya dan dampak buruk bagi kesehatannya, dalam hal ini Islam juga sepakat tidak membenarkannya apalagi ini terkait dengan hak asasi perempuan memperoleh kepuasan ketika melakukan hubungan seks.

Namun, apabila khitan yang dilakukan terhadap mereka wajar-wajar saja, walau pada prosesinya mungkin menyisakan rasa sakit, ini tidak apa-apa. Wajar kan pada saat prosesi pemotongan terasa sakit, pada laki-laki juga begitu, karena lama-kelamaan rasa sakit itu akan berangsur-angsur hilang dan sembuh juga. 

e. Sekali lagi penulis tekankah bahwa permasalahan yang paling krusial seputar khitan perempuan ini hanya terletak pada pelaksanaan prosesinya. Khitan pada perempuan pada dasarnya boleh asalkan dibarengi dengan cara yang benar. “Ada tidaknya suatu hukum tergantung pada ‘illatnya. Bila ‘illat berubah maka hukum pun akan berubah.” Khitan perempuan yang tadinya boleh-boleh saja akan berubah hukumnya menjadi haram apabila ‘illatnya adalah khitan tersebut membawa dampak buruk terus menerus bagi kejiwaan seorang perempuan.

Akhirnya, tulisan ini tiba di penghujungnya. Sebagai manusia biasa, penulis sadar bahwa makalah ini belum mencapai kesempurnaannya. Masih banyak yang harus dikoreksi dan diperbaiki. Oleh karenanya, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran konstruktif guna perbaikan di kemudian hari. Terimakasih.

Sumber Tulisan

Al-Qur’an al-Karim.
Al Hadis Al Syarif “min” CD Mausu’atul Hadis Al Syarif.
Al-‘Ain juz 1. CD-Rom: Al-Maktabah Al-Syamilah
Al-Asqalani, Ibn Hajar. Fath al-Bari. Al-Maktabah al-Syamilah
Al-Barudi, Syaikh Imad Zaki. Tafsir Al-Qur’an al-Adzhim li an-Nisa. Terj. Samson Rahman. Jakarta Timur:Pustaka al-Kautsar.
Al-Jamal, Ibrahim Muhammad. Fiqh Wanita. Terj. Anshari Umar Sitanggal. 1986. Semarang: Asy-Syifa.
Al-Nawawi. Syarh al-Nawawi ala Muslim. Al-Maktabah al-Syamilah.
Al-Qamus al-Muhith juz 3. CD-Rom: Al-Maktabah Al-Syamilah 
Al Zuhaili, Wahbah. al Fiqh al Islami wa Adillatuhu I dan III. Damaskus: Daar al-Fikr al-Islami.
Fiqh al-Sunnah. Al-Maktabah al-Syamilah.
Lisan al-‘Arab juz 13. CD-Rom: Al-Maktabah Al-Syamilah.
PSW IAIN Sunan Kalijaga, Telaah Ulang Wacana Seksualitas. PSW IAIN Sunan Kalijaga, Depag RI dan McGill-IISEP-CIDA.

Artikel telah dipublikasikan di Universitas Islam negri Sunan Kalijaga Oleh Wuwun Khairun Nisa, Muhammad Makmun, Diyan Yusril, Wardatun Nadhiroh, dan Dewi Chodijah. Mudahan bermanfaat.