Menelusuri Konsep Ahl Al-Hadis dan Ahl Ar-Ra'yi dalam Pemikiran Hukum Islam

Advertisement
Menelusuri Konsep Ahl Al-Hadis dan Ahl Ar-Ra'yi 
dalam Pemikiran Hukum Islam
Muh Nur

Terjadinya konflik politik yang dimulai pada masa pemerintahan Usman bin Affan dan berlanjut pada masa Ali bin Abi Thalib yang kemudian tampuk kekuasaan beralih pada Muawiyah bin Abi Sufyan membawa warna tersendiri dalam perkembangan fikih Islam dan para fukaha, baik mereka yang menetap di Hijaz[1] (Mekkah dan Madinah, khususnya Madinah) ataupun mereka yang hijrah ke berbagai daerah terutama mereka yang hijrah ke Irak. 

Tingkat intelektual dan penguasaan nas para sahabat semakin menambah khasanah fikih pada periode sighar al-sahabah, tabi’in, dan tabi’ al-tabi’in. Aktifitas ijtihad yang semula jarang ditemukan pada masa Nabi saw., mulai marak digunakan pada masa berikutnya.

Sejarah perkembangan hukum Islam pada masa sighar al-sahabah dan tabi’in, dilihat dua kubu ulama yang terkesan kontras perbedaannya dalam berijtihad. Dua golongan tersebut adalah mereka ahl al-hadis yang berpusat di Madinah dan ahl al-ra’y yang berpusat di Kufah (Irak).

1. Bagaimana faktor-faktor yang menyebabkan munculnya ahl al-hadis dan ahl al-ra’y?
2. Bagaimana karakteristik ijtihad ahl al-hadis dan ahl al-ra’y?
3. Bagaiman solusi atas perbedaan ini?
Konsep pemikiran ahl al-hadis dan ahl-ar-ra'yi
Hukum Islam (foto: muslim.or.id)
Namun sebelum menjelaskan ke tiga komponen di atas, Pemahaman awal yang pembaca haru mesengrti yaitu penegertian Ijtihad. Kata ijtihad berasal dari kata al-juhd yang berarti al-masyaqqah dan al-taqah. Dikatakan bahwa ijtihad secara bahasa digunakan sebagai makna pengerahan daya kemampuan untuk merealisasikan sesuatu yang menjadi tujuan. Pengertian ijtihad menurut ulama ushul adalah pengerahan kemampuan dari seorang mujtahid untuk mengetahui hukum-hukum syariat dengan jalan istinbat[2].

Pasca wafatnya Rasulullah saw. ijtihad merupakan khasanah keilmuan yang terus berkembang mulai dari masa sahabat-sahabat besar sampai pada masa setelah mereka. Aktifitas ini juga pernah dijumpai pada masa Nabi saw. hidup namun tidak sebanyak ijtihad pada masa-masa setelah wafatnya Nabi saw. Karena pada masa ini Nabi berperan sebagai syarik, ketika para sahabat menjumpai suatu kasus bisa langsung ditanyakan kepada Nabi tanpa perlu adanya pertimbangan bahwa apa yang Nabi katakan kebenarannya bernilai asumtif (zanni). 

Kebutuhan akan ijtihad semakin dirasakan oleh generasi setelah Rasulullah. Hal ini disebabkan karena telah wafatnya Rasulullah saw. Sebagai sumber rujukan umat yang darinya dapat kita ketahui adanya wahyu-wahyuTuhan baik berupa wahyu al-matluw maupun wahyu ghairu matluw yang di antaranya mencakup keterangan hukum-hukum ‘amaliyah praktis umat. 

Keberadaan ijtihad dalam Islam sangatlah dibutuhkan mengingat pada masa setelah kenabian masalah-masalah yang dihadapi umat semakin kompleks dan menuntut adanya aktivitas tersebut untuk menjawab berbagai problematika umat. Tujuan dari diadakannya ijtihad tidak lain untuk merealisasikan konsep Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam, Islam yang salih li kulli zaman wa makan[3].

Diantara dalil yang melegitimasi aktifitas ijtihad adalah Sunah Nabi saw.:

إذا حكم الحاكم فاجتهد ثم أصاب فله أجران وإذا حكم فاجتهد ثم أخطأ فله أجر[4]

Artinya: Jika seorang hakim membuat keputusan (menghukumi) dengan berijtihad kemudian benar, maka baginya dua pahala, jika menghukumi dengan berijtihad dan ternyata salah, maka baginya satu pahala. "HR.Bukhari dan Muslim".

Selain itu terdapat pula kisah sahabat Mu’az bin Jabal ketika diutus oleh Nabi sebagai kadi di Yaman, dari kisah tersebut kemudian dijadikan landasan argumentasi untuk melakukan ijtihad.[5]

Menyebarnya para sahabat baik pada masa Nabi atau al-Khulafa’ al-Rasyidun kerberbagai daerah untuk berdakwa dengan bekal pengetahuan sumber-sumber hukum, baik al-Qur’an maupun sunah serta kecerdasan intelektual yang berbeda-beda kualitasnya dan juga dikarenakan pengaruh lingkungan tempatmereka tinggal, menyebabkan adanya corak-corak yang berbeda di antara sahabat dalam memutuskan hukum suatu kasus. 

Hal yang demikian terus berlangsung pada generasi-generasi setelah sahabat. Bahkan perbedaan di antara mereka dapat dikatakan sangatlah kontras. Para fukaha yang berdomisili diwilayah Hijaz cenderung produk-produk hukumnya lebih diwarnai oleh sumber-sumber hukum yang mengacu pada teks. Bagi para fukaha di luar Hijaz terutama mereka yang ada Irak sangatlah kental dengan penggunaan rakyu mereka dalam menghukumi suatu kasus. 

Alasan umum bagi golongan Hijaz karena mereka hidup di kota tempat Nabi tinggal, terdapat banyak warisan hadis dan kehidupan di daerah tersebut masih homogen sehingga mereka sudah merasa cukup dengan melimpahnya hadis untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Sedangkan di Irak tidaklah demikian adanya. 

Jumlah sahabat yang meriwayatkan hadis dan hijrah ke Irak tidak sebanyak mereka yang menetap di Hijaz, padahal dengan penduduk yang heterogen dan berbagai aktivitas muamalah di Irak, banyak timbul berbagai masalah-masalah baru yang tidak dijelaskan secara jelas oleh nas dan kasus tersebut harus segera dicarikan solusi hukumnya. Hal tersebut menyebabkan para fukaha Irak cenderung memberikan porsi lebih terhadap akal mereka dalam berijtihad.[6]

Menelusuri Konsep Pemikiran Ahl al-Hadis

Para sahabat yang tinggal di kota Madinah, di antaranya Zaid bin Sabit, Ummu Mukminah ‘Aisyah, Abdullah bin Umar bin al-Khathab, mereka adalah orang-orang yang terkenal tidak condong kepada rakyu dan tetap berpegang dengan sunah di samping hafalan yang banyak. Corak dari sebagian sahabat inilah yang kemudian ditiru oleh para murid-murid mereka dan menjadi cikal bakal lahirnya madrasah hadis di negeri Hijaz.

Manhaj para sahabat yang cenderung memegangi hadis dalam istinbat hukum ini ternyata menarik minat sebagian ulama tabi’in yang kemudian meniru corak fikih mereka. Diantaranya fuqaha kalangan tabi’in yaitu Said bin al-Musyyab, Kharrijah bin Zaid bin Tsabit, Urwah bin al-Zubair, Sulaiman bin Yasar, Ubaidillah bin Utbah bin Masud, Al-Qasim bin Muhammad, AbuBakar bin Abdurrahman bin al-Harits. 

Nama-nama inilah yang terkenal sebagai pendiri aliran Madinah dan populer dengan sebutan fukaha sab’ah[7] corak ke tujuh pakar fikih ini serta fukaha tabaqah kedua dan tabaqah ketiga Hijaz yang merupakan akar atau rujukan utama mazhab Maliki yang didirikan Imam Malik.[8]

1. Faktor Penyebab Kemunculan Aliran Ahl al-Hadis

Sebelum menguraikan corak fikih atau karakteristik mazhab ahl al-hadis, kiranya perlu untuk diketahui faktor apa saja yang menyebabkan lahirnya aliran ahl al-hadis ini. Menurut analisis latar belakang yang memengaruhi corak ijtihad mereka di antaranya adalah: 

Pertama, penduduk Hijaz mewarisi kekayaan hadis dan asar dari para sahabat yang banyak tinggal di Hijaz, seperti ketetapan Abu Bakar, Umar, Usman, dan lain-lain. 

Kedua, negeri Hijaz yang secara geografis berada di pedalaman semenanjung Arab, relatif tidak menemukan banyak dinamika perubahan sosial. 

Ketiga, banyaknya hadis dan asar yang mereka terima serta ditunjang oleh dinamika sosial yang lebih statis menyebabkan mereka kurang menggunakan daya analisis. Oleh karena itu, ulama Hijaz lebih mencukupkan diri dengan memegangi teks-literalis nas dalam menghukumi suatu kasus yang muncul di tengah-tengah mereka. 

Keempat, pengaruh dari guru mereka dalam memberikan porsi terhadap rakyu sangatlah sedikit yaitu hanya dalam keadaan yang membutuhkan untuk dipergunakan. Di antaranya adalah Abdullah bin Umar yang sangat tergantung pada hadis dan asar dan sangat hati-hati dalam menggunakan rakyu.

Berikut adalah faktor-faktor penyebab kemunculan aliran ahl al-hadis yang kami kutip dari Rasyad Hanan Khalil:

Komitmen para ulama Madinah terhadap sunah dan tidak mengambil logika (rakyu) yang kemudian melahirkan madrasah ahli hadis disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya sebagai berikut:

a. Banyaknya para sahabat yang menghafal hadis Rasulullah saw. di Madinah karena yang menetap dikota ini ternyata lebih banyak daripada yang berhijrah ke negeri lain. Dengan demikian, sangat mudah untuk mendapat hadis Nabi saw. 

Di negeri Hijaz, selain di situ juga menetapnya tiga khalifah yang menjadikan Madinah sebagai pusat pemerintahan, fatwa dan qhada mereka sangat terkenal, mereka juga bebas dari fitnah Khawarij dan Syiah, serta kelompok radikal. Oleh sebab itu, tidak ada pemalsuan hadis di kota Madinah yang kemudian dinisbatkan kepada Rasulullah saw., semua ini memudahkan mereka untuk menguasai hadis sehingga tidak perlu mengambil pendapat pribadi.

b. Sedikitnya problematika yang muncul, karena syariat turun di negeri ini selama dua puluh tiga tahun sehingga semua bisa diberikan corak Islam yang murni. Munculnya masalah baru yang tidak ada nas-nya sangat sedikit sekali, terutama pada masyarakat yang pada saat itu (zaman tabi’in) mereka hidup dalam suasana perkampungan dan tidak perlu menggunakan pendapat pribadi.

c. Para tabi’in yang ikut dengan gaya guru-gurunya dari kalangan sahabat seperti Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Umar, dan Aisyah. Mereka ini sangat terkenal berkomitmen tinggi dengan sunah dan tidak memakai pendapat pribadi.[9]

2. Corak Fikih Pada Madrasah Ahl al- Hadis

Para ulama Hijaz (Mekkah-Madinah) yang dari kalangan tabi’in dipelopori oleh Said al-Musayyab dalam ijtihadnya lebih banyak bersandar kepada sunah dan asar sahabat. Mereka jarang menggunakan rakyu dalam metode ijtihadnya.

Di antara pakar sejarah hukum Islam adalah Dr. Rasyid Hanan Khalil yang menyebutkan corak fikih bagi madrasah ahl al-hadis dibangun di atas prinsip-prinsip sebagai berikut:

a. Ulama ahl al-hadis lebih mengutamakan sunah daripada logika. Mereka tidak menggunakan rakyu kecuali dalam masalah yang tidak ada nas-nya dalam al-Qur’an, sunah, Ijmak, ataupun pendapat sahabat.

b. Para pengikut aliran ini sangat komitmen dalam melaksanakan nas zahir dan tidak begitu mempertimbangkan illat dan hikmah pensyariatan sebuah hukum.

c. Mereka para ahl al-hadis tidak menggunakan pendapat pribadi, kecuali jika sangat terpaksa dan membatasinya dalam masalah realitas hidup yang memang perlu mendapat jawaban. Adapun masalah-masalah yang bersifat iftiradhi (pengandaian) mereka tidak menggunakannya.[10]

Menelusuri Konsep Pemikiran Ahl al-Ra’yi 

Aliran rakyu adalah mereka para fukaha Irak yang dalam metode ijtihadnya banyak dipengaruhi oleh metode berpikir sahabat Umar bin Khatab dan Abdullah bin Mas’ud yang keduanya terkenal sebagai sahabat yang banyak menggunakan rakyu sebagai dasar penentuan hukum syariat.[11]

Dedi Supriyadi menyebutkan di antara para sahabat yang hijrah dari Madinah ke Kufah adalah Ibnu Masud, Abu Musa al-Asy’ariy, Sa’ad bin AbiWaqash, Amar bin Yasir, Huzdaifah bin al-Yaman, Anas bin Malik. Jumlah mereka semakin bertambah banyak terlebih setelah terjadi pembunuhan terhadap sahabat Usman bin Affan. 

Dipaparkan pula berkat jasa dari para sahabat yang tinggal di Kufah sebagian penduduk negeri itu berhasil dibina menjadi ulama dan meneruskan gagasan aliran rakyu. Di antara mereka yang termasuk tabaqah pertama madrasah Kufah adalah: Alqamah bin Qais al-Nakha’i, al-Aswad bin Yazid al-Nakha’i, Abu Maisarah ’Amr bin Syarahil al-Hamdani, Masyruq bin al-Ajda’ al-Hamdani, Ubaidah al-Salmani, dan Syuraih bin al-Harits al-Kindi. 

Sedangkan ulama tabaqah keduanya adalah: Hammad bin Abi Sulaiman, Mansur bin al-Mu’tamir al-Salmani, al-Mughirahbin Muqsim al-Dhabbi, dan Sulaiman bin Mahran al-A’masy.[12]

1. Faktor Penyebab Kemunculan Aliran Ahl al-Ra’yu

Mengacu pada pembahasan ahl al-hadis, sebelum menyelami corak fikih aliran ini, terlebih dahulu penulis paparkan berbagai faktor kemunculannya. Di antara faktor yang melatar belakangi munculnya madrasah ini adalah sebagai berikut:

a. Para Sahabat Nabi yang tinggal di Kufah tidak sebanyak yang tinggal di Hijaz, sehingga kekayaan hadis dan asar yang mereka terima tidak sebanyak yang diterima penduduk Hijaz.

b. Di Kufah mulai marak para pemalsu hadis, terutama dari kelompok Syiah Rafidah, sehingga ulama Kufah lebih hati-hati dan lebih selektif dalam menerima hadis.

c. Kufah adalah kota yang lebih ramai dibanding Hijaz, berdekatan dengan wilayah Persia yang sebelum memeluk agama Islam, penduduknya sudah mempunyai peradaban dan cara berpikir yang maju (rasional). Di samping itu di Kufah merupakan pusat pergerakan kaum Syiah dan Khawarij. Jadi di Kufah mengalami dinamika perubahan sosial yang lebih tinggi yang menuntut pemikiran daripada sekadar mengandalkan teks hadis.

d. Menurut ulama Kufah, hukum syariah memiliki makna logis (maqul al-ma’na) sehingga mereka berusaha meneliti alasan-alasan dari setiap penetapan hukum dan menggali hikmah yang terkandung di dalamnya.

e. Ulama Kufah mengikuti metode ijtihad guru mereka dari sahabat Nabi Abdullah bin Mas’ud yang dikenal mengikuti Umar bin Khattab yang banyak menggunakan daya analitis memperhatikan karinah, maqasid al-syari’ah dan pertimbangan kemaslahatan.[13]

2. Corak Fikih Aliran Ahli al-Ra’yu

Letak geografis, peradaban suatu negeri, dan tingkat intelektual masyarakat memiliki peran penting dalam pembentukan karakteristik seseorang terkait dengan pola pikir ulama fikih.

Pada pembahasan ahli hadis telah penulis paparkan karakteristik ijtihad mereka yang di antaranya mereka (ahl al-Hijaz) sangatlah berhati-hati dalam memegangi nas dan terkesan tidak mau berpaling pada rakyu kecuali dalam keadaan darurat. 

Berbeda dengan ahli al-hadis, mayoritas fukaha di Irak kebanyakan memberikan porsi lebih terhadap rakyu mereka. Berikut adalah corak fikih pada madrasah ahl al-ra’yu yang kami kutip dari buku Tarikh Tasyri' karya Rasyad Hanan Khalil:[14]

a. Para ahli rakyu memberikan perhatian khusus terhadap pencarian 'illat al-hukm (ilat hukum) dan hikmah al-tasyri' (hikmah pensyariatan). Hal ini karena mereka menganggap bahwa syariat Islam adalah syariat yang ma'qul al-ma’na, ia datang untuk mewujudkan kemaslahatan hamba sehingga perlu dicari rahasia apa yang tersimpan dalam nas yaitu berupa ilat diterapkannya syariah.[15]

b. Mereka sangat selektif dalam menerima hadis ahad. Karena kelihaian mereka dalam menalar suatu permasalahan, fukaha Irak tidaklah takut berbicara dengan pendapat pribadi karena mereka menguasainya, terutama di Irak ditemukan banyak hadis palsu yang mengharuskan para ulama untuk lebih selektif dalam menyaring sunah.

c. Penggunaan rakyu tidak hanya terbatas pada masalah-masalah yang sudah terjadi, akan tetapi juga terhadap berbagai permasalahan iftiradhiyah (pengandaian) yang belum terjadi atau justru mustahil terjadi dan mereka sudah menuangkan logika (rakyu) di dalamnya.

Titik Temu dan Perbedaan Antara Dua Mazhab Fikih

Masing-masing dari kedua mazdhab fikih tersebut mempunyai pandangan yang berbeda dalam metode penggalian hukum. Meskipun demikian, kedua belah pihak sepakat bahwa sumber hukum utama adalah al-Kitab dan sunah. Semua hukum yang bertentangan dengan kedua sumber tersebut wajib ditolak dan tidak diamalkan.[16]

Tidak ada perbedaan antara dua mazhab fikih tersebut seputar al-Qur’an dan sunah kecuali dalam sebagian masalah di luar kerangka penggunaan al-Qur’an dan sunah sebagai hujjah, seperti dalam cara menafsirkan atau mentakwilkan al-Qur’an dan mengeluarkan pendapat tentangnya. Sunah juga telah disepakati oleh kedua mazhab fikih sebagai hujjah baik itu berupa sunah yang mutawattir, masyhur ataupun ahad.

Perbedaan antara keduanya terletak pada penggunaan rakyu, mazhab ahl al-hadis sedikit menggunakannya dan menganggapnya sebagai salah satu dasar menetapkan hukum Islam, berbeda dengan ahl al-ra’yu.

Dua Imam Mazhab (Hanafi dan Maliki)
Pengaruh Dua Kubu Orientasi Fikih (Hijaz dan Irak)

1. Imam Hanafi

Imam Abu Hanifah yang dikenal dengan sebutan Imam Hanafi bernama asli Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit bin Zauti al-Kufi, lahir diIrak pada tahun 80 Hijriah (699 M). Mazhab fikihnya dinamakan Mazhab Hanafi. 

Suatu saat ayahnya (Tsabit) diajak oleh kakeknya (Zauti) untuk berziarah ke kediaman sahabat Ali r.a. yang saat itu sedang menetap di Kufah akibat pertikaian politik yang mengguncang umat Islam pada saat itu, Ali r.a. mendoakan agar keturunan Tsabit kelak akan menjadi orangorang yang utama di zamannya, dan doa itu pun terkabul dengan hadirnya Imam Hanafi.[17]

Pada permulaan abad kedua Abu Hanifah banyak belajar kepadaAtha’ bin Abi Rabah dan Nafi’ Maula ibnu Umar. Pada zamannya, Abu Hanifah adalah kepala bagi kelompok ahl al-ra’yu.

Adapun dasar-dasar imam Hanafi dalam menggali hukum dapat diketahui dari ungkapan beliau sendiri. Berikut adalah ungkapan beliau yang meringkas manhaj berpikirnya yang penulis kutip dari buku Islam Bila Mazdahib karya Dr. Mustofa Muhammad Syak’ah:

Aku memegangi kitab Allah. Jika tidak kutemukan di dalamnya maka dengan sunah rasulullah saw. Jika tidak dalam kitabullah dan sunah rasulullah saw., kuambil pendapat para sahabat Rasulullah saw., kuambil pendapat siapa saja dari mereka yang kukehendaki, kutinggalkan pendapat siapa saja dari mereka yang kukehendaki, danaku tidak akan menyimpang dari pendapat mereka ke pendapat orang selain mereka.[18]

Masih dari sumber yang sama, ditegaskan bahwa bagian terakhir dari ucapan imam Abu Hanifah adalah langkah pertama penggunaan rakyu serta memberikan hak atas ra’yu dalam membandingkan antar pendapat dan memilih sebagian atas sebagian yang lain. 

Lebih lanjut Dr.Muhammad Syak’ah mengatakan bahwa Abu Hanifah dalam bidang ra’yu menegaskan ketika datang padanya pendapat tabi’in maka beliau akan mengajukan pendapat sendiri sebagaimana mereka mengajukan pendapat masing-masing.[19] 

2. Imam Malik 

Nama lengkap beliau adalah Malik bin Anas bin Malik bin Abu Amir. Dia belajar di Madinah di antaranya kepada Rabi’ah al-Ra’yu, Nafi’Maula Ibnu Umar dan Ibnu Syihab al-Zuhri. Beliau adalah ahl al-hadis dan ahli fikih di zamannya. Sebagian dari para ulama berkata “hadis yang paling sahih adalah hadis yang diriwayatkan oleh Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar, kemudian Malik dari Ibnu Zinad dari A’raj dari Abu Hurairah”[20]

Imam negeri Hijaz, Guru Besar kota Madinah inilah yang kemudian dikenal sebagai generasi tabi’in al-tabi’in yang corak fikihnya banyak didominasi oleh pola pikir ahl al-hadis. Meskipun dikatakan demikian, imam Malik dalam ber-istidlal juga menggunakan berbagai metode yang berafiliasi pada rakyu.

Metode-metode istidlal yang dipakai imam Malik adalah berpegang teguh pada al-Kitab, sunah, ijmak ahli madinah, fatwa sahabat, kias,al-istih{san, maslahah mursalah, sadd al-zara’i, istishab, dan syar’u man qablana.[21]

Kesimpulan

Dari ulasan diatas, kiranya dapat ditarik beberapa poin penting sebagai berikut:

1. Sesudah masa sahabat, penetapan fikih dengan menggunakan sunah dan rakyu semakin berkembang dan meluas. Dalam kadar penerimaan dua sumber itu terlihat kecenderungan mengarah pada dua bentuk. 

Pertama, adalah fukaha yang dalam menetapkan hukum lebih banyak menggunakan hadis Nabi dibandingkan dengan menggunakan rakyu, Kelompok ini disebut ahl al-hadis, aliran ini lebih banyak tinggal di wilayah Hijaz, khususnya Madinah. 

Kedua, adalah ulama yang dalam menetapkan hukum lebih banyak menggunakan sumber rakyu atau ijtihad daripada hadis. Kelompok ini disebut ahl al-ra’yi yang sebagaian besar berada di wilayah Irak, khususnya Kufah dan Basrah.

2. Diantara faktor-faktor munculnya kedua madrasah ini (ahl al-hadis dan ahl al-ra’yu) adalah kuantitas para sahabat yang menetap di Hijaz dan Irak, keadaan masyarakat, kekayaan asar (hadis dan fatwa sahabat),dan sifat fanatik pada para guru masing-masing. Faktor-faktor tersebut memberikan pengaruh terhadap corak masing-masing dua aliran fikih.

3. Kebalikan dari ahl al-ra’y, corak fikih ahl al-hadis cenderung lebih mengutamakan sunah daripada logika. Mereka tidak menggunakan rakyu 

Imam negeri Hijaz, guru besar kota Madinah inilah yang kemudiandikenal sebagai generasi tabi’in al-tabi’in yang corak fiqhnya banyak didominasi oleh pola pikir ahli hadits. Meskipun dikatakan demikian,imam Malik dalam beristidlal juga menggunakan berbagai metode yangberafiliasi pada ra’yu.

Metode-metode istidlal yang dipakai imam Malik adalah berpegangteguh pada al-Kitab, al-Sunah, Ijma’ Ahli Madinah, Fatwa sahabat, Qiyas,al-Istihsan, maslahah Mursalah, Sadd al-Dzara’i, Ishtishab, dan Syar’uman qoblana.

Daftar Pustaka

Bik. Khudhari. Tarikh al-Tasyri’ al-Islami, alih bahasa oleh Mohammad Zuhri, Terjemah Sejarah Pembinaan Hukum Islam, Darul Ihya. tt.

Hasan. Khalid Ramadhan. Mu’jam usul al-Fiqh. Mesir: al-Raudhah, 1998.

Rasyad Hanan. Tarikh Tasyri’ al-Islami, alih bahasa oleh Nadirsyah Hawari. Sejarah Legislasi Hukum Islam. Jakarta: Azmah, 2009.

Supriyadi. Dedi. Sejarah Hukum Islam Dari Kawasan Jazirah Arab Sampai Indonesia. Bandung: Pustaka Setia, 2007.

Syak’ah. Musthafa Muhammad. Islam Bila mazdahib, alih bahasa oleh Abu Zaidan al-Yamani dan Abu Zahrah al-Jawi. Islam tanpa mazdhab. Solo: Tiga Serangkai, 2008.

Zein. Muhammad Ma’shum. Arus pemikiran Empat Mazdhab Studi Analisis Istinbath Para Fuqaha. Jombang: Darul Hikmah, 2008.

Al-Zuhailiy, Wahbah. Usul al-Fiqh al-Islami, Beirut: Dar al-fikr, 2005.

Catatan Kaki

[1]Selanjutnya Hijaz yan dimaksud adalah Mekkah dan Madinah, Kufah adalah Irak, Syam adalah Damaskus, Suriah, Bashrah adalah Irak. 

[2]Khalid Ramadhan Hasan, Mu’jam Usul al-Fikih (Mesir, al-Raudhah, 1998), h. 21. 

[3]Islam adalah agama yang menghendaki kemudahan bagi umatnya tidak akan membiarkan produk-produk hukumnya terkesan kaku dan memberatkan umat. Meskipun terkadang jumpai hukum-hukum fikih yang terkesan kaku dan berat untuk diterapkan, janganlah menyimpulkan bahwa Islam tidaklah relevan. Mesti membedakan mana Islam dan mana oknum. Allah swt. Berfirman (QS. al-Baqarah/2: 185).: 

… Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu… 

Dari ayat diatas terlihat jelas wajah Islam yang sangat toleran dengan umatnya dimana syari’ (Allah swt.) tidaklah menghendaki umatnya mengalami kesukaran. Nabi sendiri ketika dihadapkan pada beliau dua hal maka beliau memilih salah satu yang paling ringan diantara keduanya. 

[4]Imam al-Bukhari, Sahih al-Bukhari (Bairut: Dar Ibn Kasir, 1987), j. 6, h. 2676. 

[5]Keterangan lebih jelasnya untuk dua dalil sunah yang dikutip lihat: Wahbah al-Zuhailiy, Usul al-Fiqh al-Islami (Beirut, Dar al-fikr, 2005), juz 1 h. 402. 

[6]Adapun penjelasan lebih detail mengenai faktor-faktor yang melandasi corak pemikiran kedua kubu ulama tersebut akan dipaparkan pada pembahasan ahl al-hadis dan ahl al-ray’i dalam tulisan ini. 

[7]Tujuh ahli fikih ini merupakan tabaqah pertama dalam madrasah Madinah. Umar Sulaiman al-Asyqar sebagaimana dikutip oleh Dedi Supriyadi menyebutkan nama para fuqaha Hijaz tabaqah kedua yaitu: Abdullah bin Abdullah bin Umar, Salim bin Abdullah bin Umar,Aban bin Ustman bin Affan, Ali bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib, Nafi’ Maula Ibnu Umar.Disebutkan pula di antara fuqaha’ Hijaz tabaqah ketiga yaitu: Abu Bakr Muhammad ibn Amr binHazm, Muhammad bin Abu Bakar, Abdullah bin Abi Bakar, Abdullah bin Utsman bin Affan, Ja’far bin Muhammad bin Ali al-Husain, Abdullah bin Qasim bin Muhammad, Muhammad binMuslih bin Syihab al-Zuhri. Dedi Supriyadi, Sejarah Hukum Islam Dari Kawasan Jazirah Arab Sampai Indonesia (Bandung: Pustaka Setia, 2007) h. 84-85. 

[8]Ibid, h. 85. 

[9]Rasyad Hanan Khalil, Tarikh Tasyri’ al-Islami, alih bahasa: Nadirsyah Hawari, TarikhTasyri’ Sejarah Legislasi Hukum Islam (Jakarta: Azmah, 2009), hlm. 93-94. 

[10]Ibid., h. 94-95. 

[11]Muhammad Ma’shum Zein, Arus pemikiran Empat Mazdhab Studi Analisis Istinbath Para Fuqaha (Jombang, Darul Hikmah, 2008), h. 50. 

[12]Dedi Supriyadi, op. cit., h. 86. 

[13]Ibid., h. 86. 

[14]Rasyad Hanan Khalil, op., cit. h. 92-99. 

[15]Terkait ada dan tidaknya illat dalam menetapkan hukum suatu kasus para fuqaha kemudian memformulasikan sebuah kaidah : "Hukum itu berputar beserta 'illatnya, baik dari sisi wujudnya maupun ketiadaan’ilatnya.” 

[16]Dedi Supriyadi, op., cit. h. 86-87. 

[17]http://kolom-biografi.blogspot.com/2009/01/biografi-imam-hanafi.html. 

[18]Musthafa Muhammad Syak’ah, Islam Bila mazdahib, alih bahasa oleh Abu Zaidan al-Yamani dan Abu Zahrah al-Jawi, Islam tanpa mazdhab, (Solo: Tiga Serangkai, 2008), h. 528. 

[19]Ibid. 

[20]Hudhari Bik, Tarikh al-Tasyri’ al-Islami, alih bahasa oleh Mohammad Zuhri, TerjemahTarikh al-Tasyri’ al-Islamiy (Sejarah Pembinaan Hukum Islam) (Darul Ihya, tt.), h. 418-419. 

[21]Muhammad Ma’shum Zein, op. cit., h.145-149.

Mudahan artikel Menelusuri Konsep Ahl Al-Hadis dan Ahl Ar-Ra'yi dalam Pemekirian Hukum Islam dapat membanu memahai mengenai berbagai perbadaan dalam penarikan hukum islam.