Perkembangan Kajian Hadis di Perguruan Tinggi Agama Islam

Advertisement
Perkembangan kajian hadis di Indonesia diakui memiliki latar belakang sejarah yang panjang. Namun demikian, ternyata kajian terhadap hadis baru mendapatkan perhatian lebih intens lagi ketika hadis menjadi bagian dari mata kuliah yang diajarkan di Perguruan Tinggi Islam yang mulai didirikan pasca Indonesia merdeka. 

Sedikit banyak makalah ini akan mencoba mengungkan bagaimana kemudian perkembangannya, dan apa saja faktor yang melatar belakangi laju perkembangan kajian terhadap hadis di Perguruan Tingi Islam Indonesia itu sendiri. 

Sebagaimanana diutarakan oleh Mahmud Yunus, Perguruan Tinggi Islam yang pertama kali di Indonesia adalah Sekolah Islam Tinggi yang didirikan oleh Persatuan Guru-guru Agama Islam di Indonesia (PGAI) di Padang dan dipimpin oleh Mahmud Yunus sendiri. 

Sekolah Islam Tinggi tersebut dibuka secara resmi pada tanggal 9 Desember 1940, terdiri dari dua fakultas; Fakultas Syari’ah (Agama Islam) dan Fakultas Pendidikan dan Bahasa Arab dengan masa studi empat tahun, dua tahun untuk mencapai sarjana muda dan dua tahun berikutnya untuk mencapai sarjana lengkap dengan gelar doktorandus.kurikulum yang diajarkan kebanyakan mencontoh kurikulum yang dipakai di Universitas Al-Azhar Kairo.[1]

Perkembangan Kajian Hadis di Universitas
foto:blog.umy.ac.id

Namun lembaga ini bertahan sampai tahun 1942, ketika tentara Jepang memasuki kota Padang (Maret 1942) dan menduduki Pemerintahan Indonesia, Sekolah Islam Tinggi ini pun terpaksa ditutup karena pemerintah Jepang hanya memperbolehkan penyelengaraan sekolah/madrasah dari tingkat yang tendah sampai menengah saja. Dengan demikian, berakhirlah riwayat Sekolah Islam Tinggi PGAI di Padang.[2] 

Lembaga semacam ini kemudian muncul kembali dengan dibukanya Sekolah Tinggi Islam (STI) di Jakarta pada masa pendudukan Jepang, tanggal 8 Juli 1945 dengan tujuan untuk menghasilkan ulama-ulama intelek yang tidak hanya mempelajari ilmu pengetahuan agama secara luas tetapi juga memiliki pengetahuan umum yang diperlukan dalam masyarakat modern. 

Ketika Jakarta dikuasai tentara Belanda (sekutu), maka STI dipindahkan ke Yogyakarta pada tahun 1946 dan selanjutnya berganti nama menjadi Universitas Islam Indonesia (UII) pada 22 Maret 1948 dengan membuka beberapa fakultas; agama, hukum, ekonomi, dan pendidikan.[3] 

Kemudian pada tahun 1950, Fakultas Agama UII diserahkan kepada Kementrian Agama dan dijadikan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) pada tahun 1951 berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 1950 yang ditanda tangani oleh Presiden RI. Selanjutnya pada bulan Juni 1957 di Jakarta dibuka Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) oleh Departemen Agama berdsarkan Penetapan Menteri Agama No. 1 Tahun1957 dengan tujuan untuk mendidik dan mempersiapkan pegawai negeri, guru agama pada sekolah lanjutan atas, atau menjadi petugas di bidang pendidikan di lingkungan Departemen Agama. 

Pada bulan Mei 1960 Departemen Agama menggabungkan PTAIN dan ADIA menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) dengan empat fakultas; Adab (Sastra Arab), Syari’ah, Tarbiyah dan Ushuluddin yang masing-masing ditempuh selama lima tahun, tiga tahun pertama untuk tingkat sarjana muda dan dua tahun setelahnya untuk spesialisasi (sarjana lengkap). Dan kajian hadis di IAIN merupakan materi kajian pokok yng menjadi komponen inti mata kuliah.[4] 

Perkembangan Kajian Hadis di PTAI 

1. Perkembangan Literatur

Secara umum,kajian hadis di IAIN dan perguruan tinggi Islam lainnya dapat dibagi menjadi dua fase; pertama, sebelum 1970-an dan kedua, tahun 1970-an sampai sekarang. 
Sebelum tahun 1970-an 

Pada masa ini, Muh. Tasrif menyatakan bahwa kajian hadis masih menggunakan literatur yang sangat terbatas. Literatur yang tersedia pada masa ini, dapat dikatakan, hampir sama dengan yang digunakan di pesantren dan madrasah.[5] 

Tetapi kondisi tersebut jelas sudah lebih maju dari keadaan pra-kemerdekaan, ketika pada saat itu yang tersedia kebanyakan adalah kitab-kitab sekunder dan tersier saja. Bukan berarti tidak ada kitab-kitab primer atau pokok, hanya saja akses ke kitab-kitab tersebut baru dimiliki oleh beberapa orang tertentu saja. Hal ini logis karena pada masa ini pun sudah banyak alumni perguruan tinggi Timur Tengah yang pulang ke tanah air.
Kajian Hadis Tahun 1970-an Sampai Sekarang 

Kajian hadis pada masa 1970-an telah menggunakan literatur yang mencakup kitab-kitab primer atau induk. Tersedianya literatur tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. 

1. Dibukanya program Postgraduate Course pada tahun 1971 untuk jurusan fiqh dan tafsir bagi sarjana IAIN, dengan masa studi tiga bulan. Program ini selanjutnya ditingkatkan menjadi Studi Purna Sarjana dengan masa studi satu tahun, dan merupakan cikal bakal program Pascasarjana di IAIN. 

2. Banyaknya alumni perguruan tinggi Timur Tengah yang pulang ke tanah air dengan membawa kitab-kitab berbahasa Arab, termasuk di dalamnya kitab-kitab hadis. 

3. Dipermudahnya impor buku-buku dari luar negeri, termasuk Timur Tengah. Peningkatan jumlah literatur hadis ini pada gilirannya juga menjadikan kajian hadis di IAIN maupun PTAIS yang lain lebih berkembang. Kajian-kajian tersebut tertuang dalam bentuk materi kurikulum yang tersusun secara sistematis dan terprogram dalam beberapa tingkat.[6] 
Perkembangan Kurikulum 

Seluruh mahasiswa di semua fakultas mendapatkan materi hadis dan ‘Ilm Mustalah al-Hadis yang sama, kecuali mahasiswa yang mengambil jurusan Tafsir dan Hadis yang pada awalnya berada di Fak. Syari’ah. Materi hadis yang sama itu berupa kajian terhadap hadis-hadis yang terkait dengan dasar-dasar Islam; akidah, syari’ah, dan akhlak. Adapun materi ‘Ilm Mustalah al-Hadis berupa pengenalan teori-teori kritik hadis, sekalipun tidak sampai pada operasionalisasi teori-teori tersebut. Sedangkan mahasiswa yang mengambil jurusan Tafsir dan Hadis mendapatkan materi yang lebih banyak lagi. Di bidang materi hadis mereka mendapatkan kajian hadis-hadis yang terkait dengan persoalan-persoalan syari’ah secara detail; ibadah, muamalah, peradilan, munakahat, dan jinayat. Sedangkan dalam materi ‘Ilm Mustalah al-Hadis, mahasiswa mendapatkan teori-teori kritik hadis sekaligus operasionalisasinya. Materi tersebut lebih jauh juga berkaitan dengan fiqh al-hadis, yaitu memandang ajaran-ajaran hadis tidak secara mutlak, tetapi perlu diinterpretasikan sesuai dengan kepentingan manusia. 

Dalam kurikulum Fak. Syari’ah, misalnya, yang disusun oleh sebuah tim yang berada dibawah bimbingan Prof. Dr. T. M. Hasbi Ash-Shiddieqy, materi hadis terdiri dari: Pengantar Ilmu Hadis, Hadis Ahkam, Hadis Tasyri‘, ‘Ulum al-Hadis, Ma‘ani al-Hadis, dan Pembahasan Kitab-kitab Hadis. Materi-materi ini disampaikan pada empat tingkat, yaitu propaedeuse, kandidat, bakaloreat (masing-masing 1 tahun), dan doktoral (2 tahun). 

Materi Pengantar Ilmu Hadis diperuntukkan untuk tingkat propaedeus. Materinya terdidi dari definisi istilah-istilah (mustalah al-hadis), sejarah hadis (masa Nabi saw sampai abad V), kedudukan dan macam-macam ilmu hadis, ‘Ilm Mustalah al-Hadis, dan Rijal al-Hadis (terutama sahabat). 

Selanjutnya, materi Hadis Ahkam diberikan untuk tingkat kandidat, bakaloreat, dan dotoral I dan II (semua jurusan). Materi Hadis Ahkam untuk tingkat kandidat terdiri dari hadis-hadis ibadah, Usul al-Hadis, ‘Ilm Rijal al-Hadis, dan Rijal al-Hadis (terutama tabi‘in). Sedangkan untuk tingkat bakaloreat, materinya mencakup hadis tentang munakakhat, muamalah, Usul al-Hadis, dan Rijal al-Hadis (terutama ulama abad II dan III H). 

Sedangkan untuk tingkat doktoral I, materinya mencakup hadis-hadis faraid, hudud dan‘uqubah, qada’, Usul al-Hadis, dan Rijal al-Hadis (terutama ulama abad IV sampai VII H). Sedangkan untuk tingkat doktoral II (semua jurusan), materinya mencakup hadis-hadis tentang pemerintahan, jihad, Usul al-Hadis, dan Rijal al-Hadis (ulama abad VIII H dan seterusnya). 

Sedangkan materi Hadis Tasyri‘ hanya diperuntukkan untuk jurusan Hadis tingkat doktoral I dan II. Untuk tingkat doktoral I, materinya meliputi hadis-hadis ibadah (taharah, shalat, shalat jenazah, zakat, puasa, haji, dan sembelihan), hadis-hadis ahwal syakhsiah (nikah dan talak), dan hadis-hadis muamalah (jual beli dan pengupahan). Untuk tingkat doktoral II, hadis-hadis pidana (hudud), peradilan, pemerintahan, dan jihad. 

Selanjutnya, materi ‘Ulum al-Hadis hanya diperuntukkan untuk jurusan hadis tingkat doktoral I dan II. Materinya untuk tingkat doktoral I terdiri dari pertumbuhan ilmu-ilmu hadis, tahqiq makna hadis dan sunnah, definisi hadis dan sunnah serta pembagiannya, kedudukan sunnah dalam syariat Islam, tugas sunnah, ‘Ilm Mustalah al-Hadis (pembagian hadis menjadi sahih, hasan, da‘if, mursal, dan maudu‘), ‘Ilm Rijal al-Hadis, dan Rijal al-Hadis (ulama abad IV sampai VII H). Adapun materi untuk tingkat doktoral II mencakup riwayat, syahadat, hal ihwal riwayat, kitab-kitab hadis, jarh dan ta‘dil, ta‘arud dan tarjih, fiqh al-hadis, adab al-ada’ wa al-tahammul, pedoman ahli hadis, perbedaan pendapat tentang hadis, dan Rijal al-Hadis (terutama abad VII dan seterusnya). 

Mata kuliah Ma‘ani al-Hadis diberikan pada jurusan Hadis tingkat doktoral I. Materinya terdiri dari makna hadis musykil, garib, dan majazi. Dan terakhir, materi Membahas Kitab-kitab Hadis diberikan untuk jurusan Hadis tingkat doktoral I dan II, terdiri dari Sahih al-Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abi Daud, Sunan al-Nasa’i, Sunan al-Tirmizi, Sunan Ibn Majah, Muatta’ al-Imam Malik, dan al-Jami‘ al-Sagir karya al-Suyuti. 

Peralihan Jurusan Tafsir dan Hadis Ke Fakultas Usuluddin 

Materi kurikulum yang telah di sebut tidak berubah sampai sekitar tahun 1986, terutama sebelum dipindahnya jurusan Tafsir dan Hadis ke Fakultas Ushuluddin. Yang berbeda di antaranya adalah adanya penambahan daftar literatur. Ketika jurusan Tafsir dan Hadis berpindah dari Fak. Syari’ah ke Fak. Ushuluddin pada 1990, ada beberapa perubahan materi dalam bidang kajian hadis. Yang menonjol di antaranya adalah: 

(1) Perubahan penekanan materi Hadis dari hadis-hadis hukum kepada hadis-hadis akidah (begitu pula untuk fakultas-fakultas lain, misalnya hadis-hadis pendidikan untuk Fak. Tarbiyah, dan seterusnya). 

(2) Penambambahan literatur dengan beberapa literatur baru. 

(3) Materi ‘Ulum al-Hadis juga mencakup teori dan praktek penelitian hadis (penelitian sanad dan matan hadis) yang sebelumnya belum dilakukan secara memadai. 
Perkembangan-perkembangan selanjutnya 

Kemudian materi hadis untuk jurusan Tafsir dan Hadis kurikulum 1998, terdiri dari ‘Ulum al-Hadis dan materi Hadis (baik sebagai mata kuliah dasar keahlian (MKDK) maupun sebagai mata kuliah keahlian (MKK) yang disajikan secara lebih komprehensif. 

Selanjutnya, dilihat dari segi literatur yang digunakan, kurikulum IAIN terutama sejak tahun 1970-an, jauh lebih kaya dibandingkan dengan sebelumnya. Di bidang Ilmu Hadis, literatur tersebut tidak hanya bersentuhan dengan teori kritik hadis pada tingkat dasar, tetapi sudah pada tingkatan lanjutan. Begitu pula dengan materi hadisnya juga telah menggunakan hampir seluruh kitab primer dan sekaligus turunannya. Literatur syarh juga menjadi bahan acuan dalam kurikulum ini.[7] Perkembangan selanjutnya dapat dirasakan pada saat ini. 

Tidak hanya itu, dari segi pemikiran kajian hadis di Perguruan Tinggi khususnya, juga mengalami perkembangan. Selain faktor-faktor yang telah disebutkan pada sub bab sebelumnya, ada faktor lain yang turut mendukung laju perkembangan tersebut, di antaranya: 

(1) Pengiriman dosen-dosen untuk belajar di Barat 
(2) Terbukanya akses bebas informasi, baik melalui media cetak maupun elektronik. 

Setidaknya, dua faktor di atas harus diakui memiliki andil cukup besar dalam memajukan pemikiran seputar kajian hadis di Perguruan Tinggi. Karena selain memperluas wacana, para pwngkaji juga bersinggungan dengan problem-problem yang dimunculkan di Barat yang tentu berbeda dengan mainstream Timur Tengah.[8] 

Kesimpulan 

Kajian hadis di perguruan tinggi Islam memang memiliki perkembangan panjang, bermula dari Sekolah Islam Teknologi PGAI di Padang yang kemudian terus berkembang dengan munculnya Sekolah Tinggi Islam di Jakarta yang merupakan cikal bakal berdirinya IAIN, kajian hadis ditempatkan pada posisi penting. 

Kiranya selesai sudah makalah ini ditulis. Tak lupa penulis mengucapkan terimakasih kepada bapak Dr. H. Agung Danarta, M.Ag. selaku dosen mata kuliah Hadis Indonesia. Juga kepada pihak-pihak yang turut mengulurkan tangannya membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini. Tak lupa, penulis juga sadar betul bahwa makalah ini jauh dari sempurna, karenanya tegur sapa dan kritik dari pembaca sangat penulis harapkan. Terima kasih. 

Daftar Pustaka

Azra, Azyumardi. Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999. 

Jabali, Fuad dan Jamhari (ed.). IAIN & Modernisasi Islam di Indonesia. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2002. 

Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga. Buku Kurikulum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga Press, 2005. 

_______. Kompetensi Program Studi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga Press, 2006. 

Tasrif, Muh. Kajian Hadis Di Indonesia. Ponorogo: STAIN Ponorogo Press, 2007. 

Yunus, Mahmud. Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia. Jakarta: Mutiara Sumber Widya, 1995. 

Zuhairini, dkk. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 1992. 


Catatan Kaki

[1] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: Mutiara Sumber Widya, 1995), hlm. 117. Lihat juga, Muh. Tasrif, Kajian Hadis di Indonesia (Ponorogo: STAIN Ponorogo Press, 2007), hlm. 28. 

[2] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, hlm. 121. 

[3] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, hlm. 228. Lihat juga, Azyumardi Azra, Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 169-170. Bandingkan, Muh. Tasrif, Kajian Hadis di Indonesia, hlm. 28. 

[4] Zuhairini, dkk. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), hlm. 197. Lihat juga, Muh. Tasrif, Kajian Hadis di Indonesia, 28-29. Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, 288. Azyumardi Azra, Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 170. 

[5] Muh. Tasrif, Kajian Hadis di Indonesia; Sejarah dan Pemikiran, hlm. 29. 

[6] Muh. Tasrif, Kajian Hadis di Indonesia; Sejarah dan Pemikiran, hlm. 29. 

[7] Disarikan dari berbagai sumber. Lihat lebih lanjut, Muh. Tasrif, Muh. Tasrif, Kajian Hadis di Indonesia; Sejarah dan Pemikiran, hlm. 29-33. 

[8] Fuad Jabali dan Jamhari (ed.). IAIN & Modernisasi Islam di Indonesia. (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2002), hlm. 141-143.