Yuk Kenali Sejarah Pembukuan Hadis (Kodifikasi Sunnah) dari Zaman Klasik hingga Zaman Modern

Advertisement
Sejarah Pembukuan Hadis (Kodifikasi Sunnah) dari Zaman Klasik hingga Zaman Modern 
Oleh: Sitti Asiah

Nabi Muhammad adalah figur sentral yang senantiasa menarik untuk dipahami dan diteladani semua aspek kehidupannya bagi setiap penganutnya di sepanjang zaman. Tidak dapat dipungkiri bahwa di samping sebagai penyampai wahyu dan ajaran islam, eksistensi Nabi secara otoritatif selalu dilekatkan dan dipersandingkan dengan Allah. Di dalam banyak ayat, umat islam diperintahkan untuk taat kepada Allah dan rasul-Nya, Nabi Muhammad.

Fenomena yang begitu rumit dalam proses pelestarian hadits, telah menjadi sorotan serius dari para orientalis untuk melemahkan sendi-sendi islam. Secra umum, mereka berpendapat bahwa dalam perkembangan hadits telah terjadi sedemikian banyak kesimpansiuran dan perbedaan di kalangan ahli hadits terhadap hadits yang diriwayatkannya dimana pada akhirnya menghasilkan sekian banyak karya yang tidak sesuai dengan tradisi masa awal. 

Belumlagi ditambah dengan adanya hadits-hadits ajaib yang berlebihan dan tidak masuk akal. Catatan-catatan hadits adalah merupakan produk abad ke-3 sampai 9 H. Dan seiring dengan perkembangan mazhab teologi dan fiqih, perhatian terhadap haditspun terus membesar pada setiap generasi.[1]
Sejarah Penelitian Hadis nabi
Sahih Bukhari (foto: play.google.com)
Sungguh gelap jalan yang dilalui oleh mereka yang mempelajari hadits, jika mereka menempuh pelajaran hadits tanpa mempelajari sejarah pertumbuhan dan perkembangan hadits.[2] Dengan demikian dapat dapat dipahami bahwa dalam mempelajari hadits maka yang paling pertama di kaji adalah sejarah pertumbuhan dan perkembangannya. Sehingga dengan begitu ilmu-ilmu hadits dapat di pertanggung jawabkan secarah ilmiah. 

Mempelajari sejarah pertumbuhan dan perkembangan hadits sangat di perlukan karena di pandang satu bagian dari pelajaran hadits yang tidak boleh dipisahkan. 

Mempelajari periode-periode ilmu dan betapa masa yang telah mendukung pandangan-pandangan (teori-teori) ilmu dan tidak memperhatikan daya upaya ulama dalam melahirkan teori-teori. Dalam mempelajari para ahli hadits yang telah menetapkan asas-asas ilmu. 

Mereka diteliti dengan mendalam,agar nyatalah jalan-jalan yang telah mereka lalui dan pokok-pokok dasar yang telah mereka wujudkan,serta ukuran-ukuran dan timbangan-timbangan yang telah mereka pergunakan, yang menyampaikan mereka kepada natijah-natijah yang telah mereka peroleh.[3]

Apabila kita pelajari dengan seksama suasana dan keadaan-keadaan yang telah dilalui hadits sejak dari zaman tumbuhnya hinggah sekarang ini dapatlah kita menarik sebuah garis merah bahwa hadits Rasul sebagai dasar hukum yang kedua telah melalui enam masa dan sekarang telah menempuh periode ke tujuh: 

Masa pertama: masa wahyu dan pembentukan hukum serta dasar-dasarnya dari permulaan nabi diangkat hingga beliau wafat pada tahun 11 hijriah. Masa kedua: masa membatasi riwayat, masa khulafau Rasyidin (12 H – 40 H). Masa ketiga: masa berkembangannya riwayat dan periwayatan dari kota ke kota untuk mencari hadits, yaitu masa sahabat kecil dan tabi’in besar (41 H sampai akhi abad pertama H). Masa ke empat: masa pembukuan hadits (dari permulaan abad kedua H hingga akhirnya). 

Masa kelima: masa mentashithkan hadits dan menyaringnya (awal abad ketiga hinga akhir). Masa ke enam: masa menapis kitab-kitab hadits dan menyusun kitab-kitab jami¢ yang khusus (dari abad ke empat hingga jatuhnya Baghdad tahun 656 H). 

Masa ketujuh: masa membuat syarah[4], membuat kitab-kitab takhrij, menentukan hadits-hadits hukum dan membuat kitab-kitab jami¢ yang umum serta membahas hadits-hadits zahwa-id ( 656 H hingga dewasa ini).[5]

Dalam sejarah penghimpunan dan kodifikasi hadits mengalami perkembangan yang agak lamban dan bertahap dibandingkan dengan perkembangan kodifikasi al-Qur’an. Hal ini wajar saja karena al-qur’an pada masa Nabi sudah tercatat semuanya sekalipun sangat sederhana, dan mulai dibukukan pada masa Abu Bakar yang sekalipun dalam penyempurnaannya dilakukan pada masa Utsman Bin Affan yang disebut dengan tulisan Utsmani. 

Sedangkan penulisan hadits pada masa Nabi secara umum justru malah dilarang. Masa pembukuannyapun terlambat sampai pada abad ke 2 H dan mengalami kejayaan pada abad 3 H. Penghimpunan dan pengkodifikasian Hadits mengalami proses perkembangan yang lamban, melibatkan banyak orang dari masa ke masa dan menghadapi kendala serta permasalahan yang banyak.[6]

Masa Kelahiran Hadits

Nabi dalam melaksanakan tugas sucinya yakni sebagai Rasul, berdakwah menyampaikan dan mengajarkan risalah islamiyah kepada umatnya. Nabi sebagai sumber hadits menjadi figur sentral yang mendapat perhatian para sahabat. Segala aktifitas Nabi seperti perkataan, perbuatan dan segala keputusannya diingat dan disampaikan kepada sahabat lain yang tidak menyaksikannya, karena tidak seluruh sahabat dapat hadir di majelis Nabi dan tidak seluruhnya selalu menemaninya.

Bagi mereka yang hadir dan mendapatkan hadits dari Nabi berkewajiban menyampaikan apa yang dilihat dan didengar dari Rasulullah baik ayat-ayat al-qur’an maupun hadits dari Rasulullah.[7] Sebagian sahabat dari tempat-tempat yang jauh mendatangi Nabi hanya untuk menanyakan tentang hukum syar’i. Salah satu contohnya yaitu diberitakan kepada Al-Bukhari dalam shahinya dari Uqbah ibn Al Harits, bahwa seorang wanita menerankan kepadanya (Uqbah), bahwa dia telah menyusui Uqbah dan istrinya. 
Sejarah Pembukuan Hadis dari zaman Klasik Hingga Modern
Ilustrasi Youtube.com
Mendengar itu Uqbah yang tinggal di Mekah terus berangkat menuju ke Madinah. Sesampainya kepada Nabi, Uqbah pun bertanya tentang hukum-hukum Allah mengenai seseorang yang memperistrikan saudara sesusuannya, tanpa mengetahuinya,kemudian baru diterankan oleh yang menyusui mereka, maka nabi menjawab kaifa waqad qila (betapa, padahal telah diterangkan orang). Mendengar itu Uqbah serta merta menceraikan istrinya, kemudian istrinya itu menikah dengan orang lain.[8] Hal Itu membuktikan bahwa betapa kesungguhannya para sahabat untuk mendapatkan hadits dari Rasulullah SAW.

Kemurnian hadits pada masa kelahirannya pada umumnya masih terjaga, susunan bahasanya sangat sistematis, sehingga hadits yang diucapkan oleh Rasul sangat indah susunan bahasanya.[9] Sahabat menerima hadits langsung dari Nabi lalu menghafalnya.Masa kelahiran hadits terjadi pada periode pertama yakni pada masa Rasul dari tahun 13 SH - 11 H. Adapun sahabat-sahabat yang banyak menerima hadits dari Rasulullah SAW, yaitu:

a.) As-Sabiqunal awwalun, seperti Khulafa empat dan Abdullah Ibnu Mas’ud. 
b.) Abu Hurairah, yang bersungguh-sungguh menghafal hadits. 
c.) Anas Ibn Malik, yang banyak menerima hadits daripara shabat nabi dan 
d.) Aisyah dan Ummu Salamah, yang erat hubungannya dengan nabi.[10]

Masa Penulisan Hadits 

Beberapa sahabat nabi dengan motifasinya tinggi mencatat hadis-hadits sebanyak-banyaknya berdsarkan segala yang didengar dari nabi dan ada juga sebagian sahabat mencatat sebahagian saja.[11] Para sahabat menulis hadits sesuai dengan kemampuannya, dan perlu juga diketahui bahwa tidak semua sahabat saw khawatir akan adanya sahabat yang mencampur adukkan hadits dengan firman Allah swt.[12]

Berbicara tentang proses penulisan hadits, penulis akan mengangkat suatu kisah adanya sahabat Nabi yang mengajukan keberatannya terhadap pekerjaan yang 

dilakukan oleh Abdullah ibn Amr Ibn Ash. Mereka berkata kepada Abdullah ibn Amr bahwa anda selalu menulis apa yang anda dengar dari nabi padahal ia kadang-kadang dalam keadaan marah, lalu nabi menuturkan sesuatu yang tidak dijadikan syari’at. Maka Abdullah bertanya kepada Nabi apakah boleh dia menulis hadits-hadits nabi? 

Untuk lebih jelasnya dalam hadits Rasulullah Saw menjelaskannya, yakni: 

أَخْبَرَنَا مُسَدَّدْ عَنْ يَحْيَى عَنْ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ الْأَخْنَسِ قَال حَدَّثَنيْ الْوَلِيُدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ عَنْ يُوْسُفَ بْنِ مَالِكِ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ: اُكْتُبْ كُلُّ شَيْءٍ أَسْمَعَهُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أُرِيْدُ حَفْظُهُ فَنَهْتَنِيْ قُرَيْشَ وَقَالُوْا تَكْتُبْ كُلُّ شَيْءٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَرَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيُهِ وَ سَلَّمَ بَشَرً يَتَكَلَّمُ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَاءِ فَأَمْسَكْتُ عَنِ الْكِتَابِ فَذَكَرَتْ ذَلِكَ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَأَوْمَا بِأَصْبِعِهِ إِلَى فِيْهِ وَقَالَ اُكْتُبْ فَوَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ مَا خَرَجَ مِنْهُ اِلَّا الْحَقُّ.

Artinya:  “Dari Musaddad dari Yahya dari Ubaidillah ibn al-Akhnasy dari al-Walid ibn Abdillah dari Yusuf ibn Malik dari Abdullah ibn Amr berkata “Saya menulis setiap apa yang saya dengar dari Rasulullah saw supaya saya menghafalnya. Lalu Quraisy melarangku dan berkata “engkau menulis setiap sesuatu yang engkau dengar dari Rasulullah saw. padahal beliau hanyalah mnusia yang berbicara, baik para waktu marah maupun pada waktu bahagia, lalu aku berhenti menulis lalu saya melapor kepada Rasulullah saw. lalu Rasulullah member isyarat dengan jari-jarinya di mulutnya seraya berkata “Tulislah demi Zat yang jiwaku dalam genggamannya, tidak ada yang keluar dari mulutku kecuali kebenaran”. (HR. Ad-Darimi).[13]

Melihat pada hadits tersebut jelaslah bahwa pada masa Rasulullah saw. memang sudah ada sahabat yang dibolehkan menulis hadits yakni pada abad pertama Hijriah. Namun demikian pendapat yang dominan dikalangan para sarjana dan ilmuan bahwa hadits-hadits itu hanya disebarkan lewat mulut ke mulut secara lisan sampai akhir abad pertama hijriah. 

Sedang orang yang pertama kali mempunyai ide untuk menulis hadits adalah Khalifah Umar Bin Abdul Azis, dimana beliau mengirimkan surat kapada Abu Bakar bin Muhammad bin Hazm, yang mengatakan bahwa periksalah dan tulislah semua hadits-hadits nabi, sunnah-sunah yang telah dikerjakan, atau hadits tetang umroh, karena saya khawatir hal itu akan punah.[14]

Ketika kita mencermati kedua pebedaan pandangan tersebut maka menurut hemat penulis pandangan yang pertama, memang sudah ada sahabat yang menulis hadits, namun hadits itu belum dikumpulkan menjadi sebuah buku artinya hanya beberapa hadits yang ditulis yang langsung didengar dari Rasulullah saw. nanti pada masa khalifah Umar bin Abdul Azis dikumpulkan hadits-hadits untuk dibukukan.

Masa Pembukuan Hadits 

Bertolak pada dua sub bahasan di atas, dapat dipahami bahwa pada abad pertama hijriah, mulai dari zaman Rasul, masa Khulafau Rasyidin hingga akhir abad pertama Hijriah hadits-hadits itu berpindah dari mulut ke mulut. Masing-masing perawi meriwayatkannya berdasarkan pada kekuatan hafalannya. Pada masa itu mereka belum terdorong untuk membukukannya, karena hafalan mereka terkenal kuat. Di samping itu Umar bin Katab perrnah ingin mencoba menghimpun hadits selama bermusyawarah dan beristikharah selama satu bulan dia berkata:

“Sesungguhnya aku punya hasrat menulis sunnah, aku telah menyebutkan satu kaum sebelum kalian yang menulis bebersps buku kemudian mereka sibuk dengannya dan meninggalkan kitab Allah. Demi Allah sesungguhnya aku tidak akan mencampuradukkan kitab Allah dengan sesuatu yang lain selamanya.”

Ketika tugas Khalifah dipegang oleh Umar bin Abdul Azis yang dinobatkan dalam tahun 99 H seorang khalifah dari dinasti Umayyah yang terkenal adil dan wara’, sehingga beliau dikenal khalifa Rasyidin yang ke lima, tergeraklah hatinya untuk membukukan hadits, beliau sadar bahwa para perawi yang membendaharakan hadits dalam kepalanya semakin lama semakin banyak yang meninggal. 

Olehnya itu timbul kekhawatiran pada diri Umar bin Abdul Azis apabila hadits tidak dibukukan dari para perawinya, maka mungkinlah hadits-hadits itu akan lenyap dari permukaan bumi dibawa bersama oleh para penghafalnya ke alam barzah. Untuk mencapai maksud mulia itu, pada tahun 100 H. Khalifah meminta kepada Gubernur Madinah. 

Abu Bakar Ibn Muhammad ibn Amr Ibn Hazm (w. 117 H) yang menjadi guru Ma’mar, Al Laits, Al Auza’y, Malik Ibn Ishaq dan Ibn Abi Dzi’bin supaya membukukan hadits Rasul yang terdapat pada penghafal wanita yang paling terkenal, Amrah binti Abdir Rahman ibn Sa’ad ibnu Zurarah ibn Ads, seorang ahli fiqih, murid Aisyah ra.(107 H atau 725 M) seorang pemuka Tabi’y dan salah serang fuqaha madinah yang tujuh.[15] 

Selain Amrah binti Abdir rahman, khalifah Umar bin Abdul Aziz juga menyuruh untuk mengumpulkan hadits dari koleksi Ibnu Hazm sendiri dan dari al-Qasim ibn Muhammad ibn Abu Bakar al-Shiddiq (w.107 H), seorangpemuka tabi’in dan salah seorang dari fuqaha yangtujuh.[16]

Ibnu Hazm melaksanakan tugas tersebut dengan baik, dan tugas yang serupa juga dilaksanakan oleh Muhammad ibn Syihab al-Zuhri (w. 124 H), seorang ulama besar di hijaz dan syam. Dengan demikian kedua ulama tersebutlah yang merupakan pelopor dalam kodifikasi hadits berdasarkan perintah Umar bin Abdul Aziz.[17]

Ada beberapa faktor yang mendorong Umar bin Abdul Aziz mengambil inisiatif untuk memerintahkan para gubernur dan pembantunya untuk mengumpulkan dan ,menuliskan hadits, diantaranya adalah:

1.) Tidak adanya lagi penghalang untuk menuliskan dan membukukan hadits, yaitu kekhawatiran bercampurnya Hadits dengan al-Qur’an karena al-Qur’an waktu itu telah dibukukan dan disebarluaskan.

2.) Munculnya kekhawatiran akan hilang dan lenyapnya hadits karena banyaknya para sahabat yang meninggal dunia akibat usia lanjut atau karena seringnya terjadi peperangan.

3.) Semakin maraknya kegiatan pemalsuan hadits yang dilatarbelakangi oleh perpecahan politik dan perbedaan mazhab di kalangan umat islam.

4.) Karena telah semakin luasnya daerah kekuasaan islam disertai dengan semakin banyak dan kompleksnya permasalahan yang dihadapi oleh umat islam, maka hal tersebut menuntut mereka untuk mendapatkan petunjuk-petunjuk dari hadits Nabi saw selain petunjuk al-Qur’an sendiri.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa masa pembukuan hadits terjadi pada zaman Khalifah Umar bin Abdul Azis, yakni pada abad ke dua Hijriah. Adapun kitab-kitab yang terkenal di abad ke II, yaitu:

a.) Al Muaththa’, yang disusun oleh Imam Malik atas permintaan khalifah Abu Ja’far al-Mansur
b.) Musnad al-Syafi’iy, karya Imam al-Syafi’I yaitu berupa kumpulan hadits yang terdapat dalam kitab al-Umm.
c.) Mukhtaliful Hadits, karya Imam Syafi’iy yang isinya mengandung pemabahsan tentang cara-cara menerima hadits sebagai hujjah dan cara-cara mengkompromikan hadits yang kelihatannya kontradiktif satu sama lain.
d.) Al-Sirat al-Nabawiyah, oleh Ibnu Ishaq. Isinya antara lain tentang perjalanan hidup nabi saw dan peperangan-peperangan yang terjadi pada zaman Nabi.[18]

Adapun ciri kitab-kitab hadits yang ditulis pada abad 2 ini adalah:

1. Pada umumnya menghimpun hadits-hadits Rasul saw serta fatwa-fatwa sahabat dan tabi’in. Yang hanya menghimpun hadits-hadits Nabi adalah kitab yang disusun oleh Ibnu Hazm.

2. Himpunan hadits masih bercampurbaur antara berbagai topic yang ada, seperti yang menyangkut bidang tafsir, sirah, hokum, dan sebagainya dan belum dihimpun berdasarkan topic-topik tertentu.

3. Di dalam kitab hadits belum dijumpai pemisahan antara hadits-hadits yang berkualitas Shahih, Hasan, dan Dha’if.[19]

Masa Pentashihan Hadits 

Untuk mentashihkan hadits dibutuhkan pengetahuan yang luas tentang tarikh Rijal Hadits, tanggal lahir dan wafat para perawi, agar dapat diketahui, apakah dia bertemu dengan orang yang ia riwayatkan haditsnya atau tidak. 

Sebagai mana dibutuhkannya pengtahuan yang mendalam tentang perawi-perawi hadits sejak zaman shahabi hingga zaman Al Bukhari umpamanya bagaimana nilai kebenaran dan kepercayaan perawi-perawi itu nilai-nilai hafalan mereka, siapa yang benar dapat dipercayai, siapa yang tertutup keadaanya ,siapa yang dusta dan siapa yang lalai. 

Al Bukhari mempunyai dua keistimewaan, yaitu hafalan yang sungguh kuat yang jaran kita temukan bandingannya, teristimewa dalam bidang hadits, serta keahlian dalam meneliti kedaan perawi-perawi yang nampak kita lihat dalam kitab tarikhnya yang disusun untuk menerangkan kedaan-keadaan perawi hadits.[20] 

Jadi dalam pentashihhkan hadits perlu penelitian yang mendalam mengenai Rijal hdits yang trkait dengan perawi hadits baik dari sahabat, tabi’in maupun dari ankatan-ankatan sesudahnya. Dengan ilmu ini dapatlah kita ketahui kedaan para perawi yang menerima hadits dari Rasulullah dan kedaan para perawi yang menerima hadits dari sahabat dan setrusnya.

Al-Bukhari dalam menghadapi perawi-perawi yang lemah dan tercela menggunakan kata-yang sopan sekali. Al-Bukhari dalam mengumpulkan hadits-hadits shahih kedalam buku jami’nya yang memakai beberapa syarat ykni mengisyaratkan sanad yang yang mustasil , serta perawi-perawi yang muslim, yang bersifat benar, tidak suka bertadlis dan tidak berobah akal, adil, kuat hafalannya, tidak ragu-ragu dan baik pula iktikadnya.[21]

Hadits yang shahih dengan kata lain penyampaian sabda, perilaku atau persetujuan nabi dengan tepat harus diamalkan oleh segenap umat, meskipun jika hanya memiliki satu atau sedikit isnad (ahad). Hadits tersebut menyampaikan kemunkinan (zahn) bukan kepastian (yaqin). 

Selanjutnya hadits-hadits shahih yang mengandung peristiwa-peristiwa historis atau yang memberikan uraian-uraian tentang orang atau situasi harus diterima sebagai shahih secara historis.[22] Dengan begitu dapat difahami bahwa dalam mentashihkan hadits harus melalui beberapa tinjauan termasuk didalamnya tinjauan historis.

Masa pentashihan hadits terjadi pada abad ke III Hijriah. Pada abad ketiga hijriah ini kegiatan yang dilakukan oleh para ulama hadits dalam rangka memelihara kemurnian hadits Nabi adalah:

1. Perlawatan ke daerah-daerah.
2. Pengklasifikasian hadits kepada: Marfu’, Mawquf, dan Maqthu’.
3. Penyeleksian kualitas hadits dan pengklasifikasiannya kepada Shahih, Hasan dan Dha’if.

Adapun bentuk penyusunan hadits pada periode ini, yaitu:

a.) Kitab Shahih. Kitab ini menghimpun hadits-hadits shahih. Bentuk penyusunannya adalah berbentuk mushannaf .[23] Isinya menyangkut masalah Fiqh, aqidah, akhlak, sejarah dan tafsir. Contoh kitab Shahih adalah: 1) Shahih Bukhari dan (2) Shahih Muslim.

b.) Kitab Sunan. Di dalam kitab ini selain dijumpai hadits-jadits shahih , juga didapati hadits yang berkualitas dha’if dengan syarat tidak terlalu lemah dan tidak munkar. Bentuk penyusunannya dalam bentuk mushannaf, dan hadits-haditsnya terbataspada masalah fiqh (hukum). Contoh-contohnya adalah: (1) Sunan Abu Dawud. (2) Sunan al-Tirmidzi. (3) Sunan an-Nasa’i. (4) Sunan Ibnu Majah, dan (5) Sunan al-Darimi. 

c.) Kitab Musnad. Di dalam kitab-kitab ini hadits-hadits disusun berdasarkan nama perawi pertama. Urutan perawi pertama ada yang berdasarkan urutan kabilah, seperti mendahulukan bani Hasyim dari yang lainnya, ada yang berdasarkan nama sahabat yang menurut urutan memeluk islam dan ada yang menurur urutan yang lainnya, seperti urutan huruf hijaiyah (abjad) atau lainnya. Pada umumnya di dalam kitab jenis ini tidak dijelaskan kualitashaditsnya. Contoh kitab Musnad ialah : (1) Musnad Ahmad bin Hanbal, (2) Musnad Abu al-Qasim al-Baghawi, dan (3) Musnad Utsman ibn Abi Syaibah.[24]

Masa Pengkajian Hadits 

Pada masa Nabi saw, sahabat, maupun tabi’in belum terdapat tempat-tempat pendidikan khusus atau perguruan-perguruan tinggi dengan sistem pengajaran yang teratur dan pasti. Begitu pula dengan metoda pengajarannya yang pada waktu itu belum ada metode mengajar yang pasti yang layak untuk diikuti. Metode belajar mengajar pada saat itu adalah bebas, dimana pelajar atau murid bebas memilih guru dan guru pun bebas menerima ata menolak murid. Bahkan metode mengajar seorang guru dapat berlainan apa bila muridnya atau situasinya tidak sama.

Para sahabat juga selalu memperhatikan tingkah laku, perbuatan, ucapan, dan gerak-gerik Nabi saw dengan cermat. Mereka tampak berkemauan keras untuk menghafal sabda-sabda nabi yang mereka dengar dan berusaha mengamalkan hal yang mereka pelajari. Oleh karena itu tidak ada kesempatan belajar yang mereka peroleh kecuali mereka mesti memanfaatkannya. 

Anas bin Malik berkata ”suatu ketika kami duduk bersama Nabi saw, jumlah kami kurang lebih enam puluh orang. Nabi saw. menyampaikan haditsnya kepada kami. Setelah ia pergi untuk suatu keperluan. Kami mendiskusikan kembali masalah yang beliau sampaikan tadi sampai hal itu mantap seperti tertanam dalam hati kami”.[25] 

Ini menunjukkan bahwa ketika sahabat mendapatkan sebuah hadits dari Nabi saw, maka para sahabat mengkajinya dengan menggunakan metode diskusi untuk memahami hadits itu secara mendalam sehingga betul-betul menjadi pedoman hidup dan melekat pada diri mereka.

Ada beberapa metode pembelajaran hadits, yaitu mengajarkan hadits secara lisan, membacakan hadits dari suatu kitab, metode soal-jawab dan metode imla’. Mengajarkan hadits secara lisan nampak pada abad ke dua Hijriah dan berlangsung lama setelah abad ke dua. Murid pada waktu itu tinggal bersama-sama gurunya dalam waktu yang lama, dengan cara inilah mereka memperoleh hadits dari gurunya. Metode membacakan hadits dari suatu kitab, metode ini terbagi menjadi tiga macam, yaitu:

a. Guru membacakan kitabnya sendiri dan murid mendengarkannya,
b. Guru membacakan kitab yang lain dan murid mendengarkannya dan
c. Murid membacakan suatu kitab dan guru mendengarkannya.

Metode soal -jawab adalah suatu metode dimana murid membacakan pangkal dari suatu hadits, kemudian gurunya menruskan hadits itu selenkapnya. Surat-surat Nabi Saw yang banyak itu, perjanjian-prjanjian dan dokumen-dokumen lainnya, begitu pula hadits-hadits yang lain telah beliau imla’kan kepada para sahabat.[26]

Apabila dibandingkan dengan metode-metode pengajaran hadits sejak abad ke dua dan sesudahnya, maka metode-metode yang disebutkan termasuk tidak popular, bahkan sebagian jarang dipakai.

Hadits Pada Masa Kontemporer 

Masalah kontemporer adalah berbagai permasalahan yang berkembang dalam masyarakat modern yang memerlukan landasan yuridis atas keberadaannya.[27] Hadits pada masa kontenporer tentunya menimbulkan berbagai macam perbedaan pendapat dikalangan para ulama tergantung bagaimana proses pengkajian mereka masing-masing dan tinjauannya.

Perlu juga diketahui bahwa masa kontemporer yaitu sejak tahun 652 H hingga sekarang atau abad ketujuh Hijriah sampai sekarang,dengan alasan bahwa masa itu ulama sudah berusaha menertibkan isi kitab-kitab hadits, menyaringnya dan menyusun kitab-kitab takhrij, serta membuat kitab-kitab jami’ yang umum, kitab-kitab yang mengumpulkan hadits hukum, mentakhrijkan hadits-hadits yang terkenal dalam masyarakat. 

Pada masa itu juga ulama mengumpulkan hadits-hadits yang tidak terdapat di dalam kitab-kitab sebelumnya kedalam kitab tertentu. Ini membuktikan bahwa para ulama sudah memiliki pemikiran-pemikiran moderen.

Pada periode ini, umumnya para ulama hadits mempelajari kitab-kitab hadits yang telah ada, dan selanjutnya mengembangkan atau meringkasnya sehingga menghasilkan jenis karya sebagai berikut:

a. Kitab Syarah. Yaitu, kitab hadits yang memuat uraian dan penjelasan kandungan hadits dari kitab tertentu dan hubungannya dengan dalil-dalil lain yang bersumber dari al-qur’an, hadits, ataupun kaidah-kaidah syara’ lainnya. Di antara contohnya adalah:

1.) Fath al-Bari, oleh Ibnu Hajar al-Asqalani, yaitu syarah kitab Shahih al-Bukhari.
2.) Al-Minhaj, oleh al-Nawawi, yang mensyarahkan kitab Shahih Muslim.
3.) ‘Aun al-Ma’bud, oleh Syams al-Haq al-Azhim al-Abadi, syarah Sunan Abu Daud.

b. Kitab Mukhtashar. Yaitu kitab yang berisi ringkasan dari suatu hadits, seperti Mukhtashar Shahih muslim, oleh Muhammad Fu’ad al-Baqi.

c. Kitab Zawa’id. Yaitu kitab yang menghimpun hadits-hadits dari kitab-kitab tertentu yang dimuat oleh kitab tertentu lainnya. Di antara contohnya adalah Zawa’id al-Sunan al-Kubra, oleh al-Bushiri, yang memuat hadits-hadits riwayat al-Baihaqi yang tidak termuat dalam Al-Kutub al-Sittah.

d. Kitab Takhrij. Yaitu, kitab yang menjelaskan tempat-tempat pengambilan Hadits-hadits yang dimuat dalam kitab tertentu dan menjelaskan kualitasnya. Contohnya adalah, Takhrij al-Hadits al-Ihya’, oleh al-‘Iraqi. Kitab ini men-takhrij hadits-hadits yang terdapat di dalam kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din karya Imam al-Gazali.

e. Kitab Jami’. Yaitu, kitab yang menghimpun hadits-hadits dari beberapa kitab Hadits tertentu, seperti Kitab Al-Lu’lu’ wa al-Marjan, karya Muhammad Fu’ad al-Baqi. Kitab ini menghimpun Hadits-hadits Bukhari dan Muslim.

f. Kitab yang membahas masalah tertentu, seperti masalah hukum. Contohnya, Bulugh al-Maram min Adillah al-Ahkam oleh Ibnu Hajar al-‘Atsqalani dan koleksi hadits-hadits hukum oleh T.M. Hasbi Ash-Shiddiqi.[28]

Apabila diteliti secara seksama pada uraian di atas, maka dapat dipahami bahwa hadits pada masa kontemporer mengalami perkembangan termasuk perkembangan penkajian ulumul hadits. Sehingga terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama.

Kesimpulan

Beranjak dari pembahasan pada bab sebelumnya maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Masa kelahiran hadits yaitu pada masa Rasulullah SAW yakni pada periode pertama atau dari tahun 13 S.M. hingga 11 H. Kemurnian hadits pada masa kelahirannya pada umumnya masih terjaga, susunan bahasanya sangat sistematis, sehingga hadits yang diucapkan oleh Rasul sangat indah susunan bahasanya.[29] Sahabat menerima hadits langsung dari Nabi lalu menghafalnya. Dan diantara tokoh-tokoh pada masa itu ialah Khulafa empat, Abu Hurairah, Anas bin Malik, Aisyah dan Ummu Salamah. 

2. Masa penulisan hadits yaitu pada masa Rasulullah SAW sampai pada pertengahan abad ke dua hijriah. Para sahabat menulis hadits sesuai dengan kemampuannya, salah satunya adalah Abdullah ibn Amr Ibn Ash.

3. Masa pembukuan hadits dimulai sejak masa khalifah Umar bin Abdul Azis yakni pada abad kedua hijriah. Dengan beberapa faktor pendorong, yaitu:

a.) Tidak adanya lagi penghalang untuk menuliskan dan membukukan hadits, yaitu kekhawatiran bercampurnya Hadits dengan al-Qur’an karena al-Qur’an waktu itu telah dibukukan dan disebarluaskan.

b.) Munculnya kekhawatiran akan hilang dan lenyapnya hadits karena banyaknya para sahabat yang meninggal dunia akibat usia lanjut atau karena seringnya terjadi peperangan.

c.) Semakin maraknya kegiatan pemalsuan hadits yang dilatarbelakangi oleh perpecahan politik dan perbedaan mazhab di kalangan umat islam.

d.) Karena telah semakin luasnya daerah kekuasaan islam disertai dengan semakin banyak dan kompleksnya permasalahan yang dihadapi oleh umat islam, maka hal tersebut menuntut mereka untuk mendapatkan petunjuk-petunjuk dari hadits Nabi saw selain petunjuk al-Qur’an sendiri.

Adapun kitab-kitab yang terkenal di abad ke II, yaitu: Al Muaththa’, Musnad al-Syafi’iy, Mukhtaliful Hadits dan Al-Sirat al-Nabawiyah.

4. Masa pentashihan hadits yaitu pada abad ke tiga hijriah. Pada abad ketiga hijriah ini kegiatan yang dilakukan oleh para ulama hadits dalam rangka memelihara kemurnian hadits Nabi adalah:

Perlawatan ke daerah-daerah.
Pengklasifikasian hadits kepada: Marfu’, Mawquf, dan Maqthu’.
Penyeleksian kualitas hadits dan pengklasifikasiannya kepada Shahih, Hasan dan Dha’if.
Masa penkajian hadits yaitu sejak abad pertama hijriah dibuktikan munculnya tokoh-tokoh kritikus hadits dari abad ke abad.

5. Hadits pada masa kontemporer mengalami perkembangan khususnya perkembangan dalam pengkajian hadits, masa kontenporer yakni pada tahu 652 H. sampai sekarang. Pada periode ini, umumnya para ulama hadits mempelajari kitab-kitab hadits yang telah ada, dan selanjutnya mengembangkan atau meringkasnya sehingga menghasilkan jenis karya:

Kitab Syarah. Yaitu, kitab hadits yang memuat uraian dan penjelasan kandungan hadits dari kitab tertentu dan hubungannya dengan dalil-dalil lain yang bersumber dari al-qur’an, hadits, ataupun kaidah-kaidah syara’ lainnya. Di antara contohnya adalah:

Fath al-Bari, oleh Ibnu Hajar al-Asqalani, yaitu syarah kitab Shahih al-Bukhari.
Al-Minhaj, oleh al-Nawawi, yang mensyarahkan kitab Shahih Muslim.
‘Aun al-Ma’bud, oleh Syams al-Haq al-Azhim al-Abadi, syarah Sunan Abu Daud.

Kitab Mukhtashar. Yaitu kitab yang berisi ringkasan dari suatu hadits, seperti Mukhtashar Shahih muslim, oleh Muhammad Fu’ad al-Baqi.

Kitab Zawa’id. Yaitu kitab yang menghimpun hadits-hadits dari kitab-kitab tertentu yang dimuat oleh kitab tertentu lainnya. Di antara contohnya adalah Zawa’id al-Sunan al-Kubra, oleh al-Bushiri, yang memuat hadits-hadits riwayat al-Baihaqi yang tidak termuat dalam Al-Kutub al-Sittah.

Kitab Takhrij. Yaitu, kitab yang menjelaskan tempat-tempat pengambilan Hadits-hadits yang dimuat dalam kitab tertentu dan menjelaskan kualitasnya. Contohnya adalah, Takhrij al-Hadits al-Ihya’, oleh al-‘Iraqi. Kitab ini men-takhrij hadits-hadits yang terdapat di dalam kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din karya Imam al-Gazali.

Kitab Jami’. Yaitu, kitab yang menghimpun hadits-hadits dari beberapa kitab Hadits tertentu, seperti Kitab Al-Lu’lu’ wa al-Marjan, karya Muhammad Fu’ad al-Baqi. Kitab ini menghimpun Hadits-hadits Bukhari dan Muslim.

Kitab yang membahas masalah tertentu, seperti masalah hukum. Contohnya, Bulugh al-Maram min Adillah al-Ahkam oleh Ibnu Hajar al-‘Atsqalani dan koleksi hadits-hadits hukum oleh T.M. Hasbi Ash-Shiddiqi.

Daftar Pustaka

Abd Rahman ,Abu Muhammad al-Darimi, Abdullah ibn. Sunan al-Darimi, Vol. I, Bairut: Dar al-Kitab al-Arabi, 1407 H. 

Ahmad, Arifuddin. Memahami Hadits Nabi, Cet. I, Jakarta: Renaisans, 2005

As-Shahih, Subih. Membahas Ilmu-Ilmu Hadits, cet.I, Jakarta: Pustaka Firdaus,1993

Ash Shiddieq, Hasbi. sejarah Pengantar Ilmu Hadits, cet. II, Jakarta: Bulan Bintang,1993

____________________, Sejarah Dan Pengantar Ilmu Hadits, cet. IV, semarang: Pustaka Reski Putra,1999

____________________ ,Pokok-Pokok Ilmu Dirayah Hadits, cet.VI, Jakarta: Bulan Bintang, 1994

Azmi, M. M. Hadits Nabi Dan Sejarah Kodifikasinya, cet. II, Jakarta: Firdaus, 1994

Darmalaksana, Wahyudin. Hadits Di mata Orientalis, cet. II, Bandung: Benang Merah Pres, 2004

Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Ed. II, Balai Pustaka

Fayyad, Muhammad Ali. Metodologi penetapan Keahahihan Hadits, Cet. I, Bandung: Pustaka setia, 1998

Hasan Ilyas, Kontrofersi Hadits Di Mesir. Cet. I, Bandung: Mizan, 1999

Majid Khon, Abdul ,Ulumul Hadis. Cet. 4, Jakarta: Amzah, 2010

yuslem, Nawir. Ulumul Hadits, Jakarta: Mutiara Sumber Widya, 2001


Catatan Kaki


[1]M. Alfatih Suryadilaga, Ulumul Hadits (Cet. I; Yogyakarta: Teras, 2010), h. 81-83. 

[2]Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis, (Cet. II; Jakarta: Bulan Bintang, 1993), h. 45 

[3]T. M. Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah dan Perngantar Ilmu Hadis, (Cet IV; Semarang: Pustaka Reski Putra, 1999), h. 26 

[4] Yakni penjelasan hadits yang baik yang berkaitan dengan sanad dan matan, terutama maksud dan makna matan haditas atau pemecahannya jika terjadi kontradiksi dengan ayat atau dengan hadits lain. 

[5]T.M. Hasbi Ash Shiddieqy, Op. Cit. 

[6] Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis (Cet. 4; Jakarta: Amzah, 2010), h.41 

[7] Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis (Cet. 4; Jakarta: Amzah, 2010), h.41-42 

[8]T. M. Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah dan Perngantar Ilmu Hadis, (Cet IV; Semarang: Pustaka Reski Putra, 1999). 32 

[9]M. Hasbi Ash Shiddieqy, Pokok-Pokok Ilmu Dirayah Hadits (Cet VI; Jakarta: Bulan Bintang, 1994), h. 40 

4T.M. Hasbi Ashiddieqy, op cit. h. 27. 

[11]Ibid, h.32-33 

[12]Subih As-shalih, Membahas Ilmu-Ilmu Hadis (cet. 1; Jakarta: Pustaka Firdaus, 1993), h. 24. 

[13] Abdullah ibn Abd Rahman Abu Muhammad al-Darimi, Sunan al-Darimi (Cet. I; bairut: Dar al-Kitab al-Arabi, 1407 H), vol. 1 h. 136. 

[14] Subhi Ashalih, op. cit., h. 38 

[15]M. M. Azami, Hadits Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya (Cet. I; Jakarta: Pustaka Firdaus,1994), h. 106 

[16]N awir yuslem, Ulumul Hadits (Jakarta: Mutiara Sumber Widya, 2001), h. 129 

[17]Ibid., 

[18] N awir yuslem, Op.Cit., h.131 

[19] Ibid., h. 132 

[20]M.M. Azami, Op. cit. h. 60 

[21] Ibid. h. 70 

[22] Ibid. h. 73. 

[23] Yaitu penyajian berdasarkan bab-bab masalah tertentu sebagaimana metode kitab-kitab fiqh. 

[24] Ibid., h. 136-137 

[25] Op. Cit. h. 443 

[26] Ibid, h. 445 

[27] Arifuddin Ahmad, Memahami Hadis Nabi ( Cet I; Jakarta: Renaisans, 2005), h. 221 

[28] N awir yuslem, Op.Cit., h. 144-145 

[29]M. Hasbi Ash Shiddieqy, Pokok-Pokok Ilmu Dirayah Hadits (Cet VI; Jakarta: Bulan Bintang, 1994), h. 40 

4T..M. Hasbi Ashiddieqy, op cit. h. 27.