Inilah Tata Cara Sholat Jum'at Nabi SAW, Beserta Do'a dan Bacaanya

Advertisement
Tata Cara Sholat Jum'at Nabi SAW - Kata Jum’at berarti mengumpulkan, menghimpunkan.19 Berlainan dengan di atas, dalam Tafsir Ibnu Katsir, kata al-jumu’ah dinamakan jumu’ah yang artinya berkumpul.Dalam Ensiklopedi Islam Indonesia makna asal jum’at adalah perkumpulan, Perhimpunan, persahabatan, kerukunan dan persatuan. Juga berarti pekan atau segenggam.

Kata Jum’at menurut Al-Fara’ dapat dibaca jum’at, jumu’ah, jama’ah dan ketiga kata tersebut menunjukan sifat hari yang berarti saat berkumpulnya manusia. Sementara jumhur ulama lebih cenderung membaca dengan bacaan jumu’ah.

Dari pengertian kata shalat dan kata Jum’at di atas bila digabung menjadi shalat Jum’at maka memunculkan hipotesa yang mengarah kepada dua pengertian yaitu, pertama, bila kata Jum’at dimaksudkan sebagai hari, maka shalat Jum’at adalah shalat yang dilakukan pada hari Jum’at. Kedua, bila kata Jum’at dimaksudkan seperti pada arti asal Jum’at yaitu berkumpul atau berhimpun, maka interpretasi terhadap shalat Jum’at adalah shalat yang dilaksanakan dengan cara berjama’ah.
Bacaan Serta Doa SholatJumat

Pengertian shalat Jum’at dalam al-Qur’an dapat dilihat dari surat al Jumu’ah ayai 9 : Dari ayat tersebut secara detail tidak menyebutkan tentang bagaimana sesungguhnya shalat Jum’at yang semestinya namun hanya mengandung perintah untuk melaksanakan shalat Jum’at.

Pada umumnya pengertian shalat Jum’at menurut fuqaha’ adalah shalat dua rakaat, dengan berjama’ah di masjid pada waktu dzuhur pada setiap hari Jum’at sesudah khutbah Jum’at. Pengertian ini adalah pengertian yang didasarkan dari realita historis-empiris20 yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ketika melaksanakan shalat Jum’at beserta sahabat- sahabatnya. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi SAW yang memberikan petunjuk pelaksanaan dalam shalat: Artinya: “Shalatlah kamu sekalian sebagaiman kamu melihat aku shalat”. (HR. Bukhari dan Muslim)21

Dasar Hukum Pelaksanaan Sholat Jum’at

1. Al-Qur'an

Islam adalah agama yang bersumberkan dari wahyu yang diyakini termanifestasi dalam wujud teks yaitu Al-Qur'an dan As- Sunnah. Al-Qur'an berisi tentang pesan-pesan Syar’i sebagai referensi dalam menentukan suatu hukum yang sebagian bersifat rinci dan sebagian masih bersifat global (mujmal). Oleh karena globalnya petunjuk-petunjuk dalam al-Qur'an maka sudah seharusnya memerlukan penjelasan-penjelasan yang bersifat memerinci (tafsil).

Al-Qur'an sebagai sumber pertama dalam istinbath hukum dan tidak diragukan keabsahan nashnya secara naqli. Semua madzhab fiqh sepakat menempatkan al-Qur'an sebagai sumber pertama dan utama dalam wacana penetapan hukum Islam (tasyri’ Islami), sedangkan As- Sunnah merupakan sumber kedua yang bersifat naqli. Penggunaan As- Sunnah ini dilakukan setelah istinbath al-hukm tidak ditemukan dalam

Al Qur'an atau dapat juga penggunaannya sebagai komplemen terhadap al Qur'an. Dalam Al Qur’an yang menjelaskan tentang kewajiban shalat Jum’at adalah QS.al Jumu’ah ayat 9 yang berbunyi;

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman apabila telah diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at. Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik jika kamu mengetahuinya”.(QS. Al-Jumu’ah: 9)22

2. Al Hadits

As Sunnah sebagai sumber hukum yang kedua setelah al- Qur'an juga memuat tentang dasar pelaksanaan shalat Jum’at. Dalam hadits banyak yang menerangkan tentang bagaimana pelaksanaan shalat Jum’at, diantaranya yaitu:

Artinya: “Dari Thariq bin Syihab dari nabi SAW. bersabda: shalat Jum’at wajib bagi setiap muslim dengan berjamaah kecuali bagi empat orang yaitu hamba sahaya, wanita, anak kecil, dan orang sakit”. (HR. Abu Daud) 

Dalam hadits lain juga disebutkan tentang kewajiban shalat jumat Artinya: “Dari Hafsah r.a berkata:bahwasanya Nabi SAW bersabda: pergi ke Jum’at wajib bagi setiap yang sudah bermimpi (baligh)”.(HR. An-Nasa’i)24 

3. Al-Ijma

Berdasarkan dari surat al-jumu’ah ayat 9-10 dan kemudian dikuatkan oleh hadits-hadits diatas, kaum muslimin (ijma) bahwa shalat Jum’at hukumnya fardlu A’in, kewajiban bagi masing-masing individu muslim yang sudah memenuhi kriteria baligh, kecuali bagi empat orang yaitu wanita, musafir, hamba sahaya dan anak-anak. Dan dalam pelaksanaannya harus dilakukan dengan berjama’ah dengan didahului khutbah.

Meskipun demikian, tidak seluruh ulama sepakat shalat Jum’at itu wajib. Ibnu Rusyd mengemukakan bahwa pendapat yang ganjil berasal dari Imam Malik yang menyatakan shalat Jum’at adalah sunnah25. Sebab perbedaan pendapat ini adalah kemiripan shalat Jum’at dengan shalat Ied, berdasarkan pada hadits Nabi “Inna Haadzaa Yaumun Ja’alahullahu Iedan” (Ini adalah suatu hari yang Allah menjadikannya sebagai hari raya). 

Syarat dan Rukun Sholat Jum’at

1. Syarat-syarat Wajib Sholat Jum’at

Setiap ibadah di samping mengandung nilai-nilai religius, juga merupakan perwujudan adanya rasa penghambaan kepada Allah SWT. setiap shalat tidak terlepas dari syarat-syaratnya supaya ibadah shalat yang dikerjakan menjadi syah. Begitu juga dengan shalat jum’at, kalangan fuqaha sepakat persyaratannya meliputi syarat-syarat shalat wajib kecuali waktu dan adzan sebab kedua persyaratan itu masih diperdebatkan para ulama.

Dalam hal syarat shalat jum’at ini Ulama fiqh (empat Imam Madzhab) memabgi syarat shalat jum’at kedalam kategori syarat wajib dan syarat sah. Syaarat wajib shalat jum’at sama dengan shalat yang berlaku dalam masalah shalat fardhu lainnya.

Adapun syarat-syarat wajibnya shalat jum’at adalah sebagai berikut: Dalam hal syarat wajib ini para fuqaha madzhab syafi’I mengemukakan bahwa shalat jum’at diwajibkan atas orang yang memenuhi tujuh syarat, yaitu : Islam, baligh, berakal, merdeka, laki- laki, berbadan sehat, dan penduduk asli tempat jum’at dilaksanakan atau sedang menetap dirumah26.

Sementsara madzhab Maliki berpendapat bahwsa syarat wajib shalat jum’at seperti syarat wajibnya shalat yang lain, hanya saja dalam madzhab ini ada beberapa tambahan, yaitu : pertama laki-laki, wanita tidak diwajibkan shalat jum’at, akan tetapi jika wanita ikut dalam jama’ah shalt jumat maka shalatnya sah. Kedua adalah merdeka, artinya bukan budak. Ketiga tidak adanya udur yang membolehkan meninggalkan shalat jum’at. Keempat orang yang melihat, artinya bahw orang buta yang kesulitan daatang sendiri dan tidak punya penuntun, tidak diwajibkan shalat jum’at. Kelima bulkan oran grenta. Keenam adalah waktu shalat jum’at tidak terlalu panas dan juga tidak terlalu dingin. Ketujuh tidk takut dari orang dhalim yang akan membahayakan dirinya.27

Kemudian dalam madzhab Hanafi dalam menentukan shalat wajib shalat jum’at, sebagian dari syarat tersebut adalah sebagaimana syarat yang dikemukakan oleh Maliki dan Syafi’i. Seperti merdeka (bukan budak), laki-laki, tidak adanya udzur yang membolehkan meninggalkan shalat jum’at tidak waktu panas atau dingin yang sangat.28 

a. Islam

Islam adalah persyaratan yang harus dipenuhi dalam setiap ibadah termasuk shalat jum’at, sehingga bagi umat Islam wajib melaksanakannya sebagaimana sabda Nabi SAW:  Artinya: “Dari Thariq bin Syihab bahwasannya Rasulallah SAW, telah bersabda: shalat jum’at hak wajib atas orang muslim dengan berjama’ah kecuali empat golongan: hamba sahaya, orang perempuan, anak kecil dan orang sakit”. (HR. Abu Daud).

b. Berakal Sehat 

Orang yang berakal sehat wajib mendirikan shalat jum’at kecuali bagi orang gila, ayan dan mabuk. Akan tetapi orang mabuk masih dibebani shalat dzuhur setelah sembuh sebagai pengganti shalat jum’at. Sebagaimana sabda Nabi SAW: 

Artinya: “Dari Ali ra. Nabi Muhammad bersabda, dihilangkan dari umatku tiga perkara yaitu orang tidur hingga ia terbangun dan anak kecil hingga ia berakal dan orang gila hingga ia sadar”. (HR. Abu Daud).

c. Baligh 

Di wajibkan melaksanakan shalat jum’at bagi seorang muslim yang sudah baligh (dewasa), anak kecil yang belum cukup umur (belum bermimpi dan keluar mani) tidak wajib mendatangi shalat jum’at. Sabda Nabi SAW:

Artinya: “Dari Ibnu Umar Bin Harsah istri Nabi SAW bersabda pergi shalat jum’at di wajibkan atas tiap-tiap orang yang telah bermimpi atau baligh”. (HR. an-Nasa’i).

d. Merdeka 

Shalat jum’at wajib bagi setiap orang yang merdeka, bagi seorang budak tidak diwajibkannya kecuali jika ia mendapat izin dari majikannya. Maka shalatnya syah dan tidak diwajibkannya dengan shalat dzuhur.

e. Laki-laki

Seorang wanita banci tidak diwajibkan Shalat jum’at di karenakan seorang wanita tidak aman dan dikhawatirkan menimbulkan fitrah dan kerusakan apabila berjama’ah di masjid, tetapi apabila seorang wanita sudah melakukan shalat jum’at maka tidak perlu shalat dzuhur lagi.

f. Sehat

Bagi orang sakit tidak diwajibkan pergi ke masjid untuk shalat jum’at di khawatirkan akan bertambah parah sakitnya atau takut akan mempersulit proses penyembuhannya (udzur).

g. Mukim32

Orang musafir tidak dikenakan kewajiban shalat jum’at apabila dalam perjalanannya membutuhkan jarak dan waktu yang panjang sesuai dengan jarak yang telah ditentukan oleh syar’i. Tetapi orang yang wajib shalat jum’at haram melakukan safar meninggalkan negerinya setelah tergelincirnya matahari pada hari jum’at kecuali ia yakin akan dapat melaksanakannya di perjalanan. Hukum ini berlaku juga bagi orang yang dalam perjalanan sebelum tergelincir matahari sebab kewajiban shalat tersebut terkait dengan hari jum’at.33 

2. Syarat Sah Sholat Jum’at 

Sudah menjadi kesepakatan para ulama bahwa syarat sah shalat jum’at seperti halnya syarat sah shalat fardhu, yaitu menutup aurat, suci, menghadap kiblat, dikerjakan ditempat yang boleh digunakan untuk shalat, dan menghindari perbuatan-perbuatan dan ucapan-ucapan yang tidak termasuk perbuatan dan ucapan shalat. 

Syarat sah di atas merupakan persyaratan umum sebagaimana syarat yang diberlakukan pada shalat-shalat makdubah yang lain. Akan tetapi untuk shalat jum’at masih ada beberapa tambahan persyaratan (persyaratan khusus) yang akan membedakan shalat jum’at dengan shalat lainnya. Secara umum syarat-syarat sah shalat jum’at yang banyak terdapat kitab-kitab fiqh adalah sebagai berikut :

a. Sum'at Dilaksanakan secara berjamaah

Imam empat madzhab menyatakan bahwa shalat jum’at harus dilaksanakan dengan secara berjamaah.34 Ini berarti shalat jum’at tidak sah dilaksanakan dengan sendirinya (munfarid) menurut empat madzhab tersebut. Muhammad Syarbini al Khatib dalam Mughn al Muhtajnya, mengemukakan bahwa yang disyaratkan berjama’ah itu hanya untuk raka’at pertama saja35.

Memang betul bahwa jumhur ulama mempunyai kecenderungan bahwa berjamaah salah satu syarat yang harus dipenuhi agar shalat jum’at memenuhi kriteria absah. Akan tetapi lain dengan apa yang menjadi penjelasannya Hasby ash Shiddieqi dalam buku Pedoman Shalatnya, bahwa shalat jum’at itu bukan diwajibkan atas jamaah tetapi diwajibkan atas masing-masing pribadi. Dengan perngertian baik dikerjakan sendiri-sendiri maupun dikerjakan secara berjamaah.36

b. Jumlah Jamaah 

Dalam hal jumlah jamaah shalat jum’at, para ulama beragam pendapat. Sebagaimana dalam kitab-kitab kalangan Syafi’iah mensyaratkan jumlah jamaah harus 40 orang yang mukallaf, merdeka, dan laki-laki.37

Sementara Imam Malik mensyaratkan lebih sedikit daripada Imam Syafi’I yaitu 20 Jamaah. Meskipun demikian An Nakhai Ahlu ad Dhahir dan Al Hasan ibnu Hay berpendapat bahwa shalat jum’at sah dengan 2 orang. Lain halnya dengan apa yang diungkapkan oleh Ibnu Hazm dan Abdil Barr bahwa shalat jum’at sah dengan seorang diri.38 

c. Didirikan dikawasan pemukiman yang tepat

Syarat sah yang dimaksud ini adalah dilakukan di Khittatil Balad, yaitu suatu kawasan pemukiman tetap yang dihuni oleh sekelompok masyarakat. Yang dalam konteks sekarang secara administratif ditandai dengan KTP baik itu kota, desa, dusun, atau pedukuhan yang disana ada bangunan perumahan penduduk. 

d. Sholat Jum'at Dilakukan setelah masuk waktu

Waktu shalat jum’at adalah waktu shalat dhuhur, yaitu dari tergelincirnya matahari samapai bayangan sesuatu telah menjadi sama setelah bayangan waktu istiwa’.

Al Malikiah menjelaskan bahwa waktu shalat jum’at adalah dari sejak tergelincirnya matahari sampai dengan terbenamnya, yaitu sekiranya dapat menjumpakannya secara utuh dengan khutbahnya sebelum matahari terbenam.39

Sedang Hanafilah menggambarkan bahwa waktu shalat jum’at adalah mulai dari naiknya matahari sekedar satu tombak, dan selesai dengan terjadinya bayangan sesuatu menjadi sama selain waktu tergelincirnya matahari.40 

e. Didahului dengan dua kali khutbah Jum'at

Oleh para fuqaha khutbah dijadikan sebagai syaratnya shalat jum’at, kecuali oleh Syafiiyah. Menurutnya khutbah itu termasuk fardhu atau rukunnya shalat jum’at, akan tetapi sebaliknya Hasbi Ash Shiddiqie dengan menyetir pendapatnya Al Hasan Al Bisri, Daud al Zahiri dan Al Juwaini, bahwa khutbah dalam shalat jum’at itu hukumnya hanyalah sunnah saja, bukanlah fardhu.41 Jadi khutbah bukan termasuk salah satu syaratnya shalat jum’at, yang berarti tanpa khutbah pun shalat jum’at tetap sah dilaksanakan. Hal ini bila berpegang pada pendapat Hasbi yang mensunnahkan khutbah.

f. Tidak adanya dua shalat jum’at dalam suatu pemukiman

Menutrut jumhur ulama termasuk Syafiiyah kecuali ulama Hanafiyah berpendapat bahwa shalat jum’at lebih dari satu dalam satu daerah atau satu kampung yang punya nama sendiri-sendiri, tidak diperbolehkan.42 Apabila terjadi ta’addudil jum’at (jum’atan lebih dari satu) maka yang sah adalah yang terlebih dahulu memulainya. Pendapat Syafi’iah tersebut sering kali menjadi sumber perdebatan di sebagian pedesaan ketika akan membangun dua masjid dalam suatu wilayah. Kemudian biasanya mereka memakai parameter dalam jarak antara satu masjid yang lama dengan yang akan dibangun. b2. Rukun Shalat Jum’at7 Sama halnya denga syarat-syarat shalat jum’at diatas, rukun (fardhu)43.

Shalat jum’at tidak berbeda dengan rukun-rukun shalat maktubah yang lain. Para ulama pun beragam dlam memformulasikan rukun-rukun shalat jum’at tersebut. Rukun tersebut adalah sebagai berikut :

1) Niat

Para ulama bermufakat bahwa eksistensi niat berimplikasi terhadap sahnya suatu shalat, karena niat sebagai kepalanya ibadah (ra’si al Ibadah).44 Perbedaan pendapat para ulama terletak pada kedudukan niat. Abu Hanifah dan Imam Ahmad bin Hambal mendudukkan niat sebagai syarat perbuatan. Sedangkan Imam Syafi’i mendudukkannya sebagai rukun perbuatan. Akibat dari perselisihan ini, membawa dampak hukum seperti dalam hal melafadzkan niat atau talafudin niat (membaca ushalli dalam shalat). Bagi Abu Hanifah dan Imam Ahmad bin Hambal menyatakan bid’ah ketika membaca Ushalli, karena Nabi tidak pernah membacanya. Lain halnya dengan Imam Syaf’i yang menyatakan sunnah ketika membaca niat45

2) Berdiri bagi yang kuasa ketika shalat

Maksudnya adalah shalat fardhu46 itu diharuskan berdiri, akan tetapi bila seseorang dalam keadaan tertentu dikarenakan sakit ataupun cacat, maka dibolehkan dengan duduk apabila tidak kuasa duduk, maka boleh shalat boleh dengan berbaring. Jika tidak kuasa berbaring maka menggunakan isyarat kedipan mata. Bila dengan yang terakhir ini tidak mampu berarti shalat itu tidak dengan gerakan fisik melainkan dengan hati. Hal tersebut memang menggambarkan bahwa dalam kondisi apapun shalat wajib dilaksanakan. Lain dengan shalat fardhu, shalat sunah boleh dikerjakan dengan posisi duduk walaupun mushalli mampu untuk berdiri.

3) Takbiratul Ikhram

Bagi Imam Malik lafadz takbiratul ihram tidak lain adalah allahu akbar bagi imam syafi’i boleh membaca allahu akbar ataupun allahu al-akbar sedangkan abu hanifah menyatakan bahwa ketika takbir boleh membaca lafadz apasaja yang bermakna pengagungan, seperti allahi al-a’zom.

Bagi ulama syafiiyah takbiratul ihram ini dibaca bersamaan dengan niat serta semua huruf dalam takbiratul ihram harus biasa didengar oleh dirinya sendiri. 

4) Membaca surat al Fatihah

Dalam hal membaca surat al Fatihah ini, permasalahan muncul terutama terhaap permulaan surat ini, yakni bacaan basmallah. Perdebatan ini bermula dari sebuah pertanyaan tentang bacaan basmallah, apakah dia termasuk dari suarat bacaan al Fatihah atau tidak. Abu Hanifah, Al Tsaury dan Ahmad mengungkapkan basmallah dibaca bersamaan dengan al Fatihah pada setiap rakaat shalat secara pelan-pelan. Bagi Syafi’i basmallah harus dibaca sesuai dengan konteksnya, dalam artian ketika seorang imam melaksankan berjamaah shalat maghrib, Isya dan subuh, maka basmallah dibaca keras. Namun sebaliknya imam harus membaca pelan-pelan ketika melaksanakan shalat dhuhur dan ashar. Karena basmallah menurut Syafi’i merupakan bagian dari surat al Fatihah.48 

5) Ruku49 dengan tuma’ninah

Di dalam ruku’ ini harus ada diam sejenak dalam ruku’ (tuma’ninah). Ruku’ disepakati kefardhuannya oleh para ulama.50 Mengingat ayat al Qur’an : Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, ruku’ dan sujudlah kamu….” (QS. Al Haj:77)51 

6) I’tidal dengan tuma’ninah

Adalah berdiri tegak yang memisahkan antara perbuatan ruku’ dan sujud. I’tidal dalam ruku’ menrutu syafi’i adalah wajib. Akan tetapi menurut Abu hanifah menjadi tidak wajib52.

Untuk sahnya perbuatan I’tidal ini ada beberapa syarat yang harus Dipenuhi, pertama adalah mushalli benar-benar melakukannya tanpa ada maksud lain, kecuali adalah ibadah. Maksud lain tersebut menghindari sesuatu yang jatuh. Kedua dalam I’tidal harus tenang selama kira-kira bacaan tasbih. Ketiga tidak terlalu lama berdiri dalam I’tidal, karena I’tidal merupakan rukun yang pendek.

7) Sujud dengan tuma’ninah

Anggota-anggota sujud adalah muka, dua telapak tangan, dua lutut, dan dua telapak kaki, kesemuanya anggota badan harus menempel pada tangan.

Persoalan mendasar pada sujud adalah tentang batasan kalimat Yang harus dibaca pada saat sujud maupun ruku’. Syafi’i, Hanifah dan Ahmad mensyatkan bahwa bacaan sujud adalah subhana rabbiaya a’la sebanyak tiga kali.53 Kemudian Abu Hanifah menambahkan bahwasanya didalam shalat tidak boleh berdoa selain lafadz-lafadz al Qur’an, namun Imam Malik dan Syafi’I membolehkannya.54

8) Duduk diantara dua sujud dengan tuma’ninah

Duduk diantara dua sujud ini menurut Ibnu Rusyd mayoritas pendapat menyatakan sebagai sunnah, bukan kefardhuan. Namun mayoritas ulama menyatakan fardhu.55

9) Duduk pada takhyat akhir

Sama halnya dengan tersebut di atas, Ibnu Rusyd menyatakan bahwa duduk yang akhir ini adalah sebuah kefardhuan diutarakan oleh mayoritas jumhur dan tidak fardhu diutarakan oleh minoritas.56

10) Membaca takhyat

Tashyahut akhir ini merupakan salah satu rukun qauliyah (bila melihat pada pengklasifikasian yang dilakukan Syafi’i kefi’liyah dan qauliyah) yang dibaca ketika duduk yang terakhir sebelum salam. Jika Malik dan Abu Hanifah menyatakan tasyahut itu tidak wajib, maka Syafi’i dan Ahmad mengutarakan tasyahut itu sekelompok rukun yang wajib57

11) Membaca shalawat

Hasbi mengungkapakan bahwa sebagian ulama menetapkan shalawat kepada Nabi dalam tasyahut akhir (kedua) adalah sunnah dan bukan wajib58. Bagi Syafi’iyah shalawat diharuskan dibaca ketika tasyahut akhir.

12) Membaca salam terakhir

Adalah ucapan mushalli dengan menengok ke kanan. Salam ini merupakan salah satu rukun yang mengakhiri perbuatan shalat. Menurut jumhur ulama salam adalah salah satu rukun yang wajib. Abu Hanifah dan beberapa sahabatnya menyatakan salam itu tidak wajib. 

Catatan Tulisan


19 Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, Jakarta: Hida Karya Agung, Cet. VIII, 1990, hlm.91 

20 Maksudnya adalah sunnah (tradisi yang hidup/living tradition) yang dilaksanakan nabi ketika menjalankan shalat jum’at. 

21 Imam Muslim, Shaheh Muslim (terj.), Semarang: CV. Toha Putra, 1999, hlm. 234 

22 Depag RI, op. cit, hlm. 933 

23 Abi Thayyib Muhammad Samsul Haq, AunilMa’bud, Al-Maktabah as-Salafiyyah, t.th, hlm. 394 

24 Abu Abdurrahman Ahmad an-Nasa’i, Sunan Nasa’i, Terj. Bey Arifin Dkk, Semarang: Asy syifa, 1992, hlm. 111 

25 Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, wahinayah al Mukhtasid, Juz I, Beirut: Dar al Kutub al Alamiyah, t.th., hlm. 113 

26 Abu al Walid Muhammad bin Ahmad bin Rusydi al Kurtubi, Bidayatul Mujatahid wa nihayah al Muqtasid, Juz I, Surabaya: Al Hidayah, t.th., hlm. 112 

27 Muhammad al Zuhri, Anwar Al Masalib, Indonesia: Dar Ihya al Kutub al Arabiyah, t.th., hlm. 85 

28 Abdurrahman al Jaziri, op. cit., hlm. 348 

29 Abi Thayyib Muhammad Samsul Haq, loc. cit 

30 Ibid., hlm. 390 

31 Abu Abdurrahman Ahmad an-Nasa’i, loc. cit 

32 Lahmuddin Nasution, Fiqh I, Jakarta: PT. Lentera Basritama, 1996, hlm. 97 

33 Ibid. 

34 Abu Al Walid Muhammad bin Ahmad Muhammad bin Ahmad bin Rusyd al Qurtubi, op. cit., hlm. 115 

35 Muhammad al Khatib asy Sarbini, Mughni al Muhtaj, Juz I, tanpa penerbit: Dar al Fikr, t.th., hlm. 282 

36 Hasbi Ash Shiddiqie, op. cit., hlm. 527, 

37 Abi Yahya Zakaria al Anshari, Fathul Wahab, Juz I, Semarang: CV. Toha Putra, t.th., hlm. 75 

38 Hasbi Ash Shiddiqie, Koleksi Hadits-hadits Hukum 4, Jakarta: Yayasan TM. Hasbi Ash Shiddiqie, Cet V, 1994, hlm. 261 

39 Abdurrahman al jaziri, op. cit., hlm. 342 

40 Ibid. 

41 Nouruzzaman Shiddiqie, Fiqh Indonesia Penggagas dan Gagasannya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet. I, 1997, hlm. 186. Juga Sayid Sabiq, Fiqh Sunah, (terj.) Mahyudin Syaf, Bandung: PT. Al Ma’arif, Cet. 20, t.th., hlm. 323 

42 Tim redaksi Tanwirul Afkar, Fiqh Rakyat Pertautan Fiqh dengan Kekuasaan, Yogyakarta: LkiS, Cet. I, 2000, hlm. 310 

43 Bahwasanya ungkapan fardhu dipakai oleh Taqiyudin Abi Bakar bin Muhammad Huseini dalam mengemukakan fardhu-fardhu atau rukun shalat. (Taqiyuddin Abi Bakar bin Muhammad Huseini, Kifayatul Ahyar, Juz I, Sirkah an Nur Asiyah, t.th., hlm. 148 

44 Abu al Walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Rusyd al Qurtuby, op. cit., hlm. 86 

45 Muslih Utsman, Kiadah-kaidah Ushuliyah dan Fiqhiyah Pedoman Dasar dalam Istinbath hukumIslam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, Cet. I, 1996, hlm. 109 

46 Dalam shalat fardhu memang diharuskan berdiri kecuali ada halangan. Kalau shalat sunnah boleh mengerjakan dengan duduk meskipun mampu untuk berdiri (Hasbi Ash Shiddiqie, op. cit., hlm. 185) 

47 Abu al Walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Muhammad bin Rusyd al Qurtubi, op. cit., hlm. 88 

48 Abu Al Walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad, op. cit., hlm. 89 

49 Menurut syara’ ruku’ adalah menunduk seukuran yang memungkinkan seseorang mushalli meletakkan telapak tangannya pada lututnya. Hal tersburt merupakan ukuran minimal, ruku’ yang sempurna adalah menunduk sehingga punggung menjadi rata. 

50 Hasbi Ash Shiddiqie, op. cit., hlm. 187 

51 Depag RI, op. cit., hlm. 175 

52 Abu al Walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Rusyd al Qurtubi, op. cit., hlm. 97 

53 Ibid., hlm. 93 

54 Ibid. 

55 Ibid., hlm. 98 

56 Ibnu Rusyd memanng tidak menyebutkan siapa saja ulama yang termasuk kedalam kelompok jumhur ataupun kelompok non jumhur.

Edisi Khusus!

Mudahan tulisan Tata Cara Sholat Jum'at Nabi SAW, Beserta Do'a dan Bacaanya bermanfaat bagi para pembaca. Terima Kasih