Makalah Dinasti Fatimiyah, Awal Mula Dinamika umat Islam di Afrika Utara dan Mesir

Advertisement
Makalah Sejarah: Dinasti Fatimiyah
Mallingkai Ilyas

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang 

Fatimiyah adalah penguasa Syiah yang berkuasa di berbagai wilayah di Maghrib, Mesir, dan Syam dari 909 hingga 1171. Negeri ini dikuasai oleh Ismailiyah salah satu cabang Syi'ah. Pemimpinnya juga para imam Syiah, jadi mereka memiliki kepentingan keagamaan terhadap Ismailiyyun. Kadang dinasti ini disebut pula dengan Bani Ubaidillah, sesuai dengan nama pendiri dinasti. Setelah penaklukan Mesir sekitar 971 M, ibukotanya dipindahkan ke Kairo. Di masa Fatimiyah, Mesir menjadi pusat kekuasaan yang mencakup Afrika Utara, Sisilia, pesisir Laut Merah Afrika, Palestina, Suriah, Yaman, dan Hijaz. Mesir juga berkembang menjadi pusat perdagangan luas di Laut Tengah dan Samudera Hindia, yang menentukan jalannya ekonomi Mesir selama Abad Pertengahan Akhir yang saat itu dialami Eropa.[1] 

Kemajuan Fatimiyah dalam administrasi negara lebih berdasarkan pada kecakapan daripada keturunan, toleransi dikembangkan kepada non-Muslim seperti orang-orang Kristen dan Yahudi, yang mendapatkan kedudukan tinggi dalam pemerintahan dengan berdasarkan pada kemampuan.[2] 

Bagimanapun juga, dinasti Fatimiyah merupakan salah satu warna dari perjalanan dinamika umat Islam di Afrika Utara dan Mesir. Dalam rentang beberapa periode, dinasti ini telah mengukirkan nama harumnya bagi kemajuan dan kebesaran serta kejayaan Islam. Meskipun kedinastian ini menganut aliran Syi’ah Ismailiyah, tapi masih dalam bingkai Islam. Oleh karena itu, peran dan sumbangannya bagi kebesaran nama Islam harus tetap dijunjung tinggi dan dihargai. 

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan penjelasan-penjelasan yang terurai dalam latar belakang masalah, pemakalah dapat merumuskan beberapa rumusan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana sejarah munculnya dinasti Fatimiyah?
2. Mengapa dinasti Fatimiyah mencapai kejayaan dan apa saja bukti-buktinya?
3. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan kemunduran dinasti Fatimiyah?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Berdirinya Dinasti Fatimiyah

Dinasti Fatimiyah berdiri pada tahun 909 hingga 1171 Masehi. Saat itu kondisi Dinasti Abbasiyah di Baghdad melemah dan tidak mampu lagi mengatur daerah kekuasaannya yang luas. Kelahiran dinasti ini dimulai dengan adanya gerakan dari cabang kaum Syi’ah Imamiyah – yaitu Syi’ah Ismailiyah– yang bereaksi terhadap khalifah-khalifah Abbasiyah yang mengadakan penyelidikan kepada kaum Syi’ah Ismailiyah. Penyelidikan itu mengharuskan golongan yang setia kepada Ismail bin Ja’far harus meninggalkan kota kecil di wilayah Hamah daerah Syria menuju Afrika Utara.

Kaum Syi’ah Ismailiyah itu sendiri muncul karena berselisih paham dengan Syi’ah Imamiyah tentang imam yang ketujuh. Menurut kaum Imamiyah, imam yang ketujuh adalah Putra Ja’far yang bernama Musa al-Kazhim, sedangkan menurut Ismailiyah imam yang ketujuh adalah Putra Ja’far yang bernama Isma’il. Sehingga meskipun Ismail sudah meninggal, kaum Isma’iliyah tidak mau mengakui penobatan Musa al-Kazhim sebagai imam. Menurut mereka hak atas Ismail sebagai imam tidak dapat dipindahkan kepada yang lain walaupun sudah meninggal.[3] 
Sejarah Keruntuhan Dinasti Fatimiyah
Peninggalan Dinasti Fatimiyah (Foto: Umrohcairo.com)

Sejak pemimpin ketujuh mereka, Ismail meninggal, aktivitas aliran Ismailiyah dimulai. Di sini `mereka mulai melancarkan propaganda politik untuk memperoleh dukungan rakyat. Gerakan ini dipimpin oleh seorang orator handal Ismailiyah bernama Abu Abdullah, yang dikenal dengan sebutan al-Syi’i. Propaganda mereka meliputi: akan memperbaiki kehidupan ekonomi dan sosial kemasyarakatan, munculnya al-Mahdi yang akan membebaskan rakyat dari penindasan dan teror, menyatakan bahwa mereka akan lebih dekat kepada Nabi dari pada Dinasti Umayyah dan Abbasiyah.[4] 

Setelah memperoleh banyak dukungan dan berhasil menegakkan pengaruhnya di Afrika Utara, Abu Abdullah al-Husain menobatkan Sa’id ibn Husain al-Salamiyah sebagai penggantinya. Selanjutnya Sa’id berhasil merebut kekuatan dan berhasil mengusir penguasa dinasti Aghlabiyah yang terakhir yaitu Ziyadatullah III dari Tunisia disusul dengan pendudukannya pada tahun 909 M. Inilah awal berdirinya Dinasti Fatimiyah di Afrika Utara yang dipimpin oleh Sa’id Husain al-Salamiyah yang bergelar “Ubaidillah al-Mahdi”.[5]

Dengan demikian resmilah berdiri sebuah dinasti baru yang bernama Dinasti Fatimiyah dengan Ubaidillah al-Mahdi sebagai khalifah pertama, pendukung Ubaidillah adalah suku-suku Barbar yang berpindah-pindah, yang juga telah menjadi pengikut Syi’ah Ismailiyah. Mereka bersikap melawan kaum Aghlabiyah yang terdiri dari suku bangsa Arab aliran sunni dan terikat dengan penguasa Abbasiyah. Suku Barbar ini berpotensi untuk memberontak terhadap penguasa di Baghdad, karena masih satu keturunan dengan penguasa Bani Umayyah yang digulingkan Bani Abbasiyah di Baghdad.[6] 

Itulah alasan mengapa Tunisia dijadikan basis untuk membangun kekuasaan dunia Islam baru, guna menggeser kekuasaan Abbasiyah. Di Afrika Utara, kekuasaan mereka segera menjadi besar. Tahun 909 mereka dapat menguasai Dinasti Rustamiyah dan menyerang Bani Idrisyiyah yang sedang menguasai Maroko. Perang antar daerah kekuasaan Islam antar dinasti menjadi fenomena yang tidak dapat diselesaikan oleh Abbasiyah sebagai rezim yang berkuasa.

Fokus Dinasti Fatimiyah yang pertama adalah mengambil kepercayaan umat Islam bahwa mereka adalah keturunan Fatimiyah, puteri Rasulullah dan Isteri dari Ali bin Abi Thalib. Para khalifah Fatimiyah merujuk asal-usul mereka kepada pasangan suami isteri ini. Sebagaimana diketahui, dinasti ini berakar pada Syi’ah Ismailiyah, para pengikutnya mengharapkan kemunculan Imam al-Mahdi. 

Mereka mengakui diri mereka adalah keturunan Nabi melalui Ali dan Fathimah lewat garis Ismail putera Ja’far al-Shadiq. Namun kalangan Sunni menolak asal-usul tersebut dan biasanya mereka menyebut Dinasti Ubaidi yang keturunan Ubaidillah, khalifah pertama Dinasti Fatimiyah, bahkan ada yang menuduh mereka keturunan Yahudi, sebagaimana tuduhan kepada Ubaidillah secara pribadi.

Walaupun berambisi untuk mengalahkan kekuasaan Daulah Abbasiyah, namun Fatimiyah tidak menyerang Baghdad, mereka malah terus meningkatkan propaganda dan berusaha untuk menduduki Mesir. Ketika Dinasti Fatimiyah dipimpin oleh Khalifah al-Mu’iz, Mesir sedang berada dalam kondisi kacau dan lemah. 

Melihat hal tersebut, maka pada tahun 969, Jauhar atas perintah khalifah menyerbu Fusfat, yang merupakan titik pertahanan paling lemah. Segera setelah itu, dia menyatakan Mesir sebagai benteng kekuatan Ismailiyah.

Setelah Mesir dapat dikuasai, maka fokus politik Dinasti Fatimiyah selanjut adalah mendirikan ibu kota baru yang terletak di Fusfat bagian Utara, yang mereka sebut dengan al-Qahirah, yang berarti sang penakluk. Sejak itu penampilan Fusfat semakin cemerlang dan mampu menjadi pesaing Kota Baghdad sebagai pusat peradaban maupun pemerintahan di Timur Tengah. Disamping itu, dinasti ini juga berupaya untuk menyebar luas ideologi Fatimiyah ke Palestina, Syiria dan Hijaz.[7] 

Keberadaan Dinasti Fatimiyah berbeda dengan dinasti-dinasti kecil lainnya. Dinasti Fatimiyah mengklaim diri sebagai kekhalifahan yang memegang pimpinan politik dan spiritual tertinggi. Mereka tidak mengaku bagian dari Abbasiyah, mereka melepaskan diri dari Baghdad, tidak hanya dari segi politik, tetapi juga spiritual. Sementara dinasti-dinasti kecil lainnya walaupun secara politik melepas dari dinasti Abbasiyah, namun secara spiritual mereka tetap terikat. Inilah yang membedakan Dinasti Fatimiyah dengan dinasti-dinasti lokal lainnya.

Dinasti Fatimiyah berkuasa selama 262 tahun, dari tahun 297 H/ 909 M sampai tahun 567 H/ 1171 M. Selama itu berkuasa 14 orang khalifah, yaitu:

1. ‘Ubaidillah al Mahdi (909-934 M) 8. Al-Musthansir (1035-1094 M)
2. Al-Qa’im (934-946 M) 9. Al-Musta’li (1094-1101 M)
3. Al-Manshur (946-952 M) 10. Al-Amir (1101-1130 M)
4. Al-Mu’izz (952-975 M) 11. Al-Hafizh (1130-1149 M)
5. Al-‘Aziz (975-996 M) 12. Al-Zhafir (1149-1154 M)
6. Al-Hakim (996-1021 M) 13. Al-Faiz (1154-1160 M)
7. Al-Zhahir (1021-1035 M) 14. Al-‘Adhid (1160–1171 M)[8]

B. Masa Kejayaan Dinasti Fatimiyah

1. Keadaan Politik

Pada masa Dinasti Fatimiyah, terutama pada waktu kekuasaan Abu Manshur Nizar al-Aziz, kehidupan masyarakat selalu diliputi oleh kedamaian. Hal ini merupakan imbas dari keadaan pemerintahan yang damai. Al-Aziz adalah khalifah Fatimiyah yang kelima sejak berdirinya dinasti ini di Tunisia, dan khalifah pertama yang memulai pemerintahan di Mesir.

Simbolisme istana yang penting diekspresikan dalam upacara, kesenian arsitektur, dan agama Islam. Di dalam istana terdapat sebuah ruangan besar untuk mengajarkan keyakinan Ismailiyah. Para hakim, misionari, qari al-Quran, dan imam shalat secara reguler hadir dalam berbagai upacara di dalam istana.[9]

Periode ini menandai munculnya era baru dalam sejarah bangsa Mesir, yang untuk pertama kalinya sepanjang sejarah, menjadi penguasa absolut dengan kekuatan besar dan penuh yang didasarkan atas prinsip keagamaan. Usaha untuk menegakkan penyatuan kepemimpinan agama dan politik jelas terlihat. Prinsip kepemimpinan yang mengharuskan seorang imam harus menjadi sosok yang adil, yang bisa menjauhkan umat dari siksaan, suara kebenaran, yang bersinar seperti matahari dan bercahaya seperti bintang, dan menjadi pilar agama, rizki, dan kehidupan manusia, telah berhasil menjulangkan popularitas sang khalifah. Nama sang khalifah senantiasa disebut-sebut dalam khutbah-khutbah Jumat di sepanjang wilayah kekuasaannya yang membentang dari Atlantik hingga Laut Merah, di Yaman, Mekah, Damaskus, dan bahkan di Mosul.[10]

Di bawah kekuasaan al-Aziz, Fatimiyah berhasil mendapatkan tempat tertinggi sebagai negara Islam terbesar di kawasan Mediterania Timur. Ia telah berhasil menjadikan negaranya sebagai lawan tangguh bagi kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad.

Strategi promosi Fatimiyah yang gencar dilakukan untuk mengagungkan agama diwujudkan dengan memasyarakatkan pemuliaan terhadap keluarga Ali. Pemuliaan terhadap imam yang masih hidup disejajarkan dengan pemuliaan terhadap kalangan syuhada dari keluarga nabi. Pemerintah membangun sejumlah bangunan makam keluarga Ali untuk meningkatkan kegiatan perziarahan.

Selain berhasil mewujudkan kemakmuran, strategi lain yang dijalankannya adalah memberikan toleransi yang tak terbatas kepada umat Kristen. Keadaan ini sama sekali tidak pernah dirasakan oleh masyarakat pada periode-periode sebelumnya.

2. Bidang Sosial

Mayoritas khalifah Fatimiyah bersikap moderat dan penuh perhatian kepada urusan agama nonmuslim. Selama masa ini, pemeluk Kristen Mesir diperlakukan secara bijaksana, hanya khalifah al-Hakim yang bersikap agak keras terhadap mereka. Orang-orang Kristen Kopti dan Armenia tidak pernah merasakan kemurahan dan keramahan melebihi sikap pemerintah Muslim. 

Pada masa al-Aziz bahkan mereka lebih diuntungkan daripada umat Islam dimana mereka ditunjuk menduduki jabatan-jabatan tinggi di istana. Demikian pula pada masa al-Muntashir dan seterusnya, mereka hidup penuh kedamaian dan kemakmuran. Sebagian besar jabatan keuangan dipegang oleh orang-orang Kopti. 

Pada khalifah generasi akhir, gereja-gereja Kristen banyak yang dipugar, pemeluk Kristen pula banyak yang diangkat sebagai pegawai pemerintahan. Demikian semua ini menunjukkan kebijaksanaan penguasa Fatimiyah terhadap kaum kristiani.[11]

3. Sistem Administrasi Pemerintahan Dinasti Fatimiyah

Sistem administrasi pemerintahan Dinasti Fatimiyah tidak begitu berbeda dengan sistem administrasi Abbasiyah, sekalipun pada masa ini muncul beberapa jabatan yang berbeda. Khalifah menjabat sebagai kepala negara baik dalam urusan keduniaan maupun spiritual. Khalifah berwenang mengangkat dan sekaligus menghentikan jabatan-jabatan di bawahnya.[12] 

Administrasi internal kerajaan dibentuk oleh Ya’kub ibn Killis yang wafat tahun 991 M, seorang wazir atau menteri pada kekhalifahan al-Mu’iz dan al-Aziz. Ya’kub adalah seorang Yahudi yang masuk Islam. Berkat kecakapannya dalam bidang administrasi, ia berhasil meletakkan dasar-dasar ekonomi sehingga Dinasti Fatimiyah mencapai kemakmuran pada awal pemerintahannya.

Pengelolaan negara dilakukan dengan mengangkat para menteri. Fatimiyah membagi kementrian menjadi dua kelompok yaitu: pertama, kelompok militer yang terdiri atas tiga jabatan pokok: (1) Para amir, yang terdiri atas para perwira tertinggi dan para pengawal khalifah; (2) Para perwira istana yang terdiri atas para ahli (ustadz) dan para kasim; (3) Komando-komando resimen yang masing-masing menyandang nama berbeda seperti Hafizhiyah, Jususyiyah, Sudaniyah, atau yang disebut dengan nama khalifah, wazir, atau suku. 

Para wazir atau menteri juga terdiri atas beberapa kelas, yang tertinggi adalah menteri keamanan yang mengatur tentara dan urusan perang, kemudian menteri dalam negeri, menteri urusan rumah tangga yang menyambut tamu-tamu kehormatan utusan luar negeri, dan yang terakhir adalah menteri sekertaris negara yang terdiri atas para qadhi yang juga menjadi kepala percetakan uang; menteri pengawas pasar yang mengawasi ukuran dan timbangan dalam Tingkatan pegawai yang paling rendah adalah para pegawai di departemen sekretariat negara yang terdiri atas para pegawai sipil, termasuk para pedagang dan sekretaris dari berbagai departemen.[13] Selain pejabat pusat, di setiap daerah terdapat pejabat setingkat gubernur yang diangkat oleh khalifah untuk mengelola daerahnya masing-masing. Administrasi pemerintahan dikelola oleh pejabat setempat.[14]

4. Perkembangan Ekonomi Pemerintahan Dinasti Fatimiyah

Dalam membahas masalah perkembangan ekonomi akan dibicarakan mengenai kehidupan masyarakat dan keadaan negara dilihat dari kemajuan ekonomi dan kemakmurannya. Seperti yang telah disinggung di awal, masyarakat pada masa pemerintahan Dinasti Fatimiyah hidup dengan damai. Kekuasaan rezim Syi’ah tetap memberi toleransi kepada masyarakat, baik kepada golongan Koptik maupun kepada masyarakat umum yang bermazhhab Sunni.

Sebenarnya masa keemasan dalam sejarah dinasti ini di Mesir dimulai pada periode al-Mu’iz dan mencapai puncaknya pada periode al-Aziz, tetapi pada periode sesudahnya yaitu masa al-Munthashir masih menunjukkan bahwa Mesir merupakan negara Islam paling maju.

Khalifah al-Aziz hidup di kota Kairo yang mewah dan gemerlap, dikelililngi beberapa masjid, istana, jembatan, dan kanal-kanal yang baru dibangun. Pada prosesi ibadah, misalnya idul fitri, dia biasa berkeliling dengan pasukannya dengan memakai pakaian berornamen brokat dan dilengkapi dengan pedang dan sabuk emas. Tenda yang dipakai oleh khalifah dihiasi mutiara.

Kegemilangan Mesir pada masa al-Muntashir ini dapat tergambar sebagaimana dideskripsikan oleh Nasir al-Khusrawi, salah seorang pengembara Ismailiyah berkebangsaan Persia yang mengunjungi Mesir antara tahun 1046-1049 M.[15] Ia menyaksikan khalifah pada sebuah festival tampak sangat mempesona dengan pakaian kebesarannya. 

Istana khalifah dihuni 30.000 orang, di antara mereka terdapat 12.000 orang pelayan dan 1.000 orang pengawal berkuda dan pengawal jalan kaki. Khalifah muda yang dilihatnya pada sebuah perayaan menunggangi kuda, dinaungi oleh pelayan dengan payung yang dihiasi batu-batu mulia. Di tepi Sungai Nil terdapat tujuh buah perahu berukuran 150 kubik dengan 60 tiang pancang sedang berlabuh. 

Khalifah memiliki 20.000 rumah di ibu kota, hampir semuanya dibangun dengan batu bata, dengan ketinggian hingga lima atau enam lantai. Ia juga memiliki ribuan toko yang masing-masing bisa menghasilkan dua hingga sepuluh dinar perbulan. Jalan-jalan utama diberi atap dan diterangi lampu. Para penjual toko menjual dengan harga yang telah ditetapkan. 

Jika ada seorang pedagang yang curang, ia akan dipertontonkan di sepanjang jalan kota sambil membunyikan lonceng dan mengakui kesalahannya. Bahkan begitu amannya kota, toko perhiasan atau tempat penukaran uang tidak pernah dikunci saat ditinggal oleh pemiliknya. Kota Fusthat memiliki tujuh masjid besar; Kairo memiliki delapan buah.[16] 

Seluruh kota merasakan ketenangan dan kemakmuran dengan ungkapannya yang antusias, “Bahkan aku tidak bisa memperkirakan kekayaan kota ini, dan tidak pernah sekali pun aku melihat satu tempat yang lebih makmur dari kota ini.”[17]

Khalifah al-Muntashir hidup dalam kemewahan dan kesenangan. Dia mewarisi harta yang berlimpah dari para pendahulunya. Kekayaan khalifah terbukti dengan ditemukannya warisan harta sangat berharga yang tersebar di antara tentara-tentara Turki berupa vas-vas kristal, piring-piring berlapis emas, tempat tinta yang terbuat dari gading dan kayu eboni, gelas-gelas berbahan gading, cermin-cermin dari baja, payung dengan gagang terbuat dari emas dan perak, papan catur dengan bidak terbuat dari emas dan perak, belati berhiaskan mutiara, dan pedang-pedang berukir indah.[18]

5. Perkembangan Ilmu Pengetahuan Pemerintahan Dinasti Fatimiyah

Dinasti Fatimiyah memiliki perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan. Khalifah al-Aziz sendiri adalah seorang penyair dan sangat menyenangi pendidikan. Pada masanya dikembangkanlah Masjid Agung al-Azhar menjadi universitas sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam tertua.

Khalifah al-Hakim melakukan pembangunan pusat pembelajaran Dār al-Hikmah (rumah kebijaksanaan) dan Dār al-‘Ilm (rumah ilmu) pada tahun 1005 yang melakukan pengkajian ilmu-ilmu keislaman, astronomi, dan kedokteran. Dia menyediakan dana yang besar untuk mengembangkan institusi ini, di antaranya digunakan untuk menyalin berbagai naskah, memperbaiki buku, dan pemeliharaan umum lainnya. Bangunan tersebut ditempatkan berdekatan dengan istana kerajaan. Di dalam bangunan itu terdapat sebuah perpustakaan dan ruang-ruang pertemuan.

Al-Hakim juga membangun sebuah observatorium karena ketertarikannya pada perhitungan-perhitungan astrologi. Alat untuk mengukur tanda-tanda zodiak yang terbuat dari tembaga didirikan oleh al-Hakim di atas dua menara.

Beberapa tokoh ilmuwan yang terkenal pada masa ini di antaranya ‘Ali ibn Yunus. Dia adalah seorang astronom paling hebat yang menciptakan tabel astronomi. Juga ada Abu ‘Ali al-Hasan ibn al-Haitsam (bahasa Latin, Alhazen) yang merupakan peletak dasar ilmu fisika dan optik. Ia menulis tidak kurang dari seratus karya yang meliputi bidang matematika, astronomi, filsafat, dan kedokteran. 


Karya terbesarnya adalah Kitāb al-Manāzhir mengenai ilmu optik. Kitab ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan ilmu optik dan menjadi rujukan utama hampir semua penulis tentang optik pada Abad Pertengahan. Tokoh lainnya adalah ‘Ammar ibn ‘Ali al-Maushili yang menghasilkan karya al-Muntakhab fi ‘Ilaj al-‘Ain (Karya Pilihan tentang Penyembuhan Mata) dan Ibn ‘Isa yang menghasilkan karya Tadzkirah.[19] Dalam karya ‘Ammar ini dijelaskan dasar-dasar operasi katarak yang merupakan penemuannya yang berharga dalam bidang kesehatan.

Dalam perkembangan berikutnya, pada masa al-Muntashir, terjadilah kemunduran dalam bidang ilmu pengetahuan dengan banyaknya buku-buku yang hilang dari perpustakaan kerajaan yang telah didirikan sejak masa al-‘Aziz yang ketika itu memiliki kurang lebih 200.000 buku dan 2.400 Al-Qur’an.[20] Berkurangnya koleksi perpustakaan ini sebagai akibat peristiwa perebutan rampasan perang pada tahun 1068. Naskah-naskah berharga itu digunakan sebagai bahan bakar untuk membakar rumah-rumah dan kantor-kantor orang Turki.

6. Perkembangan Seni dan Arsitektur Pemerintahan Dinasti Fatimiyah

Seni dan arsitektur pada masa Fatimiyah menghasilkan karya yang bernilai sangat tinggi berupa berbagai kerajinan, baik di bidang tekstil, keramik, benda seni dari kayu, benda logam, dan batu kristal. Pada produk tekstil kita bisa menemukan motif-motif hewan dengan pose konvensional. Beberapa contohnya ditemukan di Barat yang dibawa ke sana pada masa Perang Salib.

Seni keramik masa ini mengikuti pola-pola Iran. Beberapa contoh produk keramiknya merupakan bukti kemunculan pertama keramik ala Cina di wilayah Arab Timur. Produk keramik yang dibuat oleh orang-orang Mesir sangat bagus dan menakjubkan.

Benda seni dari kayu adalah berupa papan-papan kayu berukir yang digambari lukisan beberapa makhluk hidup seperti rusa yang diserang oleh monster, kelinci yang diterkam oleh elang, dan beberapa pasang burung yang saling berhadapan.

Seperti juga pada produk kayu, koleksi perunggu memperlihatkan hal yang sama. Kebanyakan produknya berupa cermin atau pedupaan. Koleksi perunggu yang paling terkenal adalah patung griffin dengan tinggi 40 inci, yang sekarang berada di Pisa.

Benda kristal dinasti Fatimiyah menurut pakar sejarah seni di situs simerg.org merupakan salah satu mahakarya peradaban Islam paling indah. Ornamen yang ditampakkan pada batu kristal tersebut menunjukkan karya seni dengan citarasa yang tinggi. Salah satu ciri khasnya adalah bentuk-bentuk batu kristal yang umumnya mengambil model ikan sebagai simbol kehidupan. 

Banyak juga yang berisi tulisan dari Imam-imam Syi’ah Isma’iliyah. Salah satu peninggalan yang terkenal terdapat di Basilica Venesa yang berisi tulisan al-Aziz yang hidup sekitar tahun 975-996 Masehi. Batu kristal lainnya berisi tulisan Imam al-Hakim yang berada di Chatedral of Fermo, Italia.

Berbagai benda kuno berupa keramik dan kristal peninggalan Dinasti Fatimiyah pada tahun 2004 ditemukan di dalam kapal karam berusia 1000 tahun di Pantai Utara Cirebon. Sekitar 271.381 benda kuno yang menghebohkan publik Indonesia tersebut dilelang oleh Kementrian Kelautan RI pada 5 Mei 2010 yang kemungkinan nilai jualnya mencapai 750 milyar sampai trilyunan rupiah.[21]

Seni arsitektur publik Fatimiyah merupakan bentuk pengembangan dari aspek-aspek seremonial istana kerajaan. Ibu kota Fatimiyah, al-Qahirah atau Cairo yang dibangun pada tahun 969, merupakan sebuah kota kerajaan yang dirancang sebagai wujud bagi kebesaran kerajaan.[22] Masjid Agung al-Azhar dan al-Hakim dibangun dengan sejumlah menara dan kubah yang melambangkan sifat ketinggian para imam dan mengingatkan pada Kota Suci Makkah dan Madinah. Bagian tengah al-Azhar dibangun dengan batu bata yang memiliki sudut mihrab. 

Masjid al-Hakim memiliki kopula dari tembok yang menyokong sebuah tambur besar berbentuk segi delapan di atas ruangan shalati. Di Masjid al-Aqmar ditemukan ciri khas arsitektur Islam yaitu ceruk stalaktit. Tiang masjid ini menampilkan disain kaligrafi bergaya Kufi yang kubus dan tegas. Ciri khas lain yang menjadi tradisi pada masa ini adalah bangunan makam para pendiri masjid yang dihubungkan dengan masjid. Selain bentuk bangunan, kemegahan gedung-gedung periode Fatimiyah dilengkapi juga dengan pintu-pintu gerbang berukuran sangat besar yang dibangun oleh arsitek-arsitek dengan rancangan ala Bizantium.

C. Masa Kemunduran Dinasti Fatimiyah

Faktor-faktor penyebab kemunduran dinasti Fatimiyah adalah akumulasi dari masalah-masalah yang bermunculan khususnya di masa paruh kedua, di mana suatu faktor dapat menyebabkan faktor­-faktor yang lain. Di antara faktor-faktor yang paling menonjol adalah sebagai berikut:

Pertama, melemahnya para khalifah, khususnya sejak al­-Mustansir, ia adalah urutan khalifah yang ketujuh. Jika seluruh khalifah Fatimiyah berjumlah 14 orang, maka, dapatlah dikatakan bahwa tujuh khalifah yang pertama kuat-kuat, sedang tujuh berikutnya rata-rata lemah. Kelemahan ini disebabkan karena sewaktu dinobatkan menjadi khalifah usia mereka masih sangat muda, seperti khalifah-khalifah: Al-Hakim berusia sebelas tahun, al-­zahir berusia enam belas tahun, al-Amir disebut masih "berusia hijau", al-Zafir berusia tujuh belas tahun, al-Faiz dikatakan "berusia balita", dan al-Azid, khalifah terakhir, dinobatkan dalam usia sembilan tahun.

Lemahnya para khalifah ini menyebabkan tampilnya "orang-­orang kuat" dan berpengaruh sebagai pemegang kekuasaan yang sebenarnya, dan khalifah hanya sebagai boneka. "Orang-orang kuat" itu misalnya, Barjawan, seorang gubernur Al-Hakim, Sitt al-Mulk, bibi Al-Zahir, dan Al-Afzal perdana menteri Al-Amir. Tampilnya "orang-orang kuat" ini mengakibatkan kecemburuan di pihak saudara­-saudara para khalifah, dan membuat keadaan pemerintahan diktator dan tidak stabil.

Di samping itu, lemahnxa para khalifah disebabkan oleh intrik di sekitar istana sendiri yang bersumber pada perasaan tidak adil jika terjadi pengangkatan khalifah berdasarkan "kelompok kepentingan" yang kuat, dan bukan berdasarkan suatu sistem atau melalui wasiat. Sebagai contoh, Nizar, kakak Al-Musta'li, merasa kecewa berat karena Al-Musta'li, adiknya itu, diangkat menjadi khalifah pengganti bapaknya Al-Mustanshir yang wafat. 

Ia merasa bahwa dia adalah yang lebih berhak untuk jabatan itu daripada adiknya. Akhirnya, ia memutuskan untuk menjadi gerakan oposisi terhadap adiknya yang dikenal dengan gerakan Assasin yang dipimpin oleh Al-Hasan bin al-Sabah. Gerakan ini belakangan berhasil membunuh dua orang khalifah, Al-Musta'li dan Al-Amir.

Kedua, perpecahan dalam tubuh militer. Dalam tubuh militer terdapat tiga unsur kekuatan. Pertama, unsur bangsa Barbar yang sejak sangat awal ikut berjuang mendirikan Dinasti Fatimiyah. Kedua, unsur bangsa Turki yang berhasil masuk karena didatangkan oleh khalifah Al-Aziz. Ketiga, unsur kekuatan bangsa Sudan yang didatangkan oleh khalifah Al-Mustanshir. Tiga faksi ini selalu bersaing dan sesekali terlibat dalam peperangan antar mereka. 

Peperangan terbuka yang paling dahsyat adalah peperangan antara unsur Turki dan unsur Barbar. Sedang khalifah yang lemah tidak mampu berbuat apa-apa. Hal ini menyebabkan kontrol milter terhadap wilyah-wilayah menjadi lemah. Akhirnya, wilayah-wilayah dinasti yangdemikian luas menjadi berkurang secara berangsur-angsur karena melepaskan diri atau dikuasai oleh dinasti yang lain.

Ketiga, bencana alam. Kekeringan yang melanda Mesir di samping menimbulkan penderitaan rakyat karena kelaparan, wabah penyakit, perampokan dan lainnya, juga, bagi negara, menyebabkan lumpuhnya perekonomian agraris yang hasilnya justru merupakan sumber devisa utama Mesir. Kekurangan pangan yang melanda Mesir, memaksa khalifah meminta bantuan kepada Konstantin Monomachus untuk mengirim bahan-bahan makanan ke Mesir.

Kelemahan yang menyebabkan terjadinya kemunduran dalam dinasti Fatimiyah, pada gilirannya memancing datangnya serangan dari pihak luar, yakni panglima Shalahuddin dari dinasti Ayyubiyah. Karena prestasinya dalam Perang Salib, maka ia mudah mendapatkan simpati masyarakat luas yang akhirnya dapat rnenaklukkan dinasti Fatimiyah dengan mudah pula.[23] 

BAB III
PEENUTUP

Selama dua abad lebih menguasai Mesir, keberadaan Dinasti Fatimiyah telah memberikan sumbangan peradaban yang besar. Kemajuan terbesar adalah memberikan ruang berkembangnya ilmu pengetahuan di dunia Islam yang melahirkan banyak ilmuwan dengan didirikannya Dār al-Hikmah dan Dār al-‘Ilmi dan keberadaan Universitas al-Azhar sebagai pusat pengkajian ilmu pengetahuan yang masih terasa hingga kini.

Kemajuan lain yang dicapai oleh Dinasti Fatimiyah adalah tertatanya sistem administrasi pemerintahan yang membuahkan kemakmuran. Catatan sejarawan tentang kecemerlangan Mesir saat itu dan jejak peninggalannya berupa karya-karya seninya yang bernilai sangat tinggi, membuktikan kebenaran fakta tersebut.

Dinasti Fatimiyah juga terkenal dengan toleransi beragamanya. Para penguasa Fatimiyah tidak mencoba melakukan tekanan agar penganut Sunni menyeberang ke Syi’ah Ismailiyah. Mereka juga sangat menghargai kemerdekaan agama Kristen maupun Yahudi. Satu-satunya pengecualian adalah pada masa khalifah al-Hakim.

Kemunduran Dinasti Fatimiyah bukan hanya disebabkan oleh faktor eksternal berupa serangan dari pasukan luar, melainkan juga karena masalah internal yang tidak dapat diselesaikan seperti berkurangnya kesetiaan publik kepada penguasa yang dianggap berprilaku aneh, banyaknya campur tangan para wazir akibat penguasa yang belum cukup umur, dan timbulnya perselisihan dalam suksesi pemerintahan.

DAFTAR PUSTAKA

http://atmonadi.com/dailylife/hotissue/2010/05/05/heboh-harta-karun-1000-tahun-misteri-kristal-dinasti-fatimiyyah-mesir/ diakses 30 Januari 2013

Ahmad, Zaenal Abidin, Sejarah Islam dan Umatnya, Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1979.

Amin, Samsul Munir, Sejarah Peradaban Islam, Edisi I., Cet. I; Jakarta: Amzah, 2009.

Glase, Cyrel, Ensiklopedia Islam, Jakarata: PT. Raja Grafindo Persada, 2002.

Hakim, Moh. Nur, Sejarah dan Peradaban Islam, Malang: UUM Press, 2004.

Harun, Maidir dan Firdaus, Sejarah Peradaban Islam, Padang: IAIN Imam Bonjol Press, 2002.

Hitti, Philip K., History of Arabs; From the Earliest Times to the Present, diterjemahkan oleh R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi dengan judul History of The Arabs, Cet. I; Jakarta: PT Serambi Ilmu Sentosa, 1429 H/2008 M.

Karim, M. Abdul, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Cet. I; Yogyakarta; Pustaka Book Publisher, 2007.

Lapidus, Ira M., A History of Islamic Societies, diterjemahkan oleh Ghufron A. Mas’adi dengan judul Sejarah Sosial Umat Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1999.

Mubarak, Jaih, Sejarah Peradaban Islam, Cet. I; Bandung: Pustaka Islamika, 2008. 

Maryam, Siti dkk., Sejarah Peradaban Islam: Dari Masa Klasik Hingga Modern, Cet. I; Yogyakarta: LESFI, 2003.

Sunanto, Musyrifah, Sejarah Islam Klasik: Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam, Cet. III, Jakarta: Kencana, 2007.

Su’ud, Abu, Islamogy, Sejarah, Ajaran dan Peranannya dalam Peradaban Umat Manusia, Jakarta: Rineka Cipta, 2003. 

Wikipedia, Ensiklopedia Bebas. http://id.wikipedia.org/wiki/Kekhalifahan_Fatimi yah/ diakses 30 Januari 2013.

Catatan Kaki

[1]http://id.wikipedia.org/wiki/Kekhalifahan_Fatimiyah/ diakses 30 Januari 2013. 

[2]M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, (Cet. I; Yogyakarta; Pustaka Book Publisher, 2007), h. 191. 

[3]Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik: Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam (Cet. III, Jakarta: Kencana, 2007) h. 141 

[4]Maidir Harun dan Firdaus, Sejarah Peradaban Islam, (Padang: IAIN Imam Bonjol Press, 2002), hal. 80-81. 

[5]Siti Maryam dkk., Sejarah Peradaban Islam: Dari Masa Klasik Hingga Modern (Cet. I; Yogyakarta: LESFI, 2003), h. 264 

[6]Abu Su’ud, Islamogy, Sejarah, Ajaran dan Peranannya dalam Peradaban Umat Manusia (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), hal. 19. Lihat juga Cyrel Glase, Ensiklopedia Islam, (Jakarata: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), hal. 97. 

[7]Zaenal Abidin Ahmad, Sejarah Islam dan Umatnya, (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1979), hal. 109. 

[8]Philip K. Hitti, History of Arabs; From the Earliest Times to the Present, diterjemahkan oleh R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi dengan judul History of The Arabs (Cet. I; Jakarta: PT Serambi Ilmu Sentosa, 1429 H/2008 M), h. 795 

[9]Ira M. Lapidus, A History of Islamic Societies, diterjemahkan oleh Ghufron A. Mas’adi dengan judul Sejarah Sosial Umat Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1999), h. 536. 

[10]Philip K. Hitti, Op.cit., h. 791 

[11]Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, Edisi I (Cet. I; Jakarta: Amzah, 2009), h. 265 

[12]Ibid., h. 264 

[13]Philip K. Hiti, Op.cit., h. 800 

[14]Jaih Mubarok, Sejarah Peradaban Islam (Cet. I; Bandung: Pustaka Islamika, 2008), h. 191 

[15]Samsul Munir Amin, Op.cit., h. 265. 

[16]Philip K. Hitti, Op.cit., h. 798 

[17]Ibid., h. 799 

[18]Ibid. 

[19]Ibid., h. 803 

[20]Ibid. 

[21]http://atmonadi.com/dailylife/hotissue/2010/05/05/heboh-harta-karun-1000-tahun-misteri-kristal-dinasti-fatimiyyah-mesir/ diakses 30 Januari 2013 

[22]Ira M. Lapidus, Op.cit., h. 536 

[23]Moh. Nur Hakim, Sejarah dan Peradaban Islam, (Malang: UUM Press, 2004), h. 107-109


Makalah Dinasti Fatimyah Telah dipresentasikan dalam Seminar Kelas Mata Kuliah Sejarah Peradaban Islam Semester I Konsentrasi Sejarah Peradaban Islam Program Magister UIN Alauddin Makassar.