Yuk Kenali Metode Tafsir bil Ra'yi, Penafsiran Al-Qur'an Menggunakan Rasio (Akal)

Advertisement
Pengertian Tafsir bi al-Ra’yi 

Kata al-Ra’y berarti pemikiran, pendapat dan ijtihad. Sedangkan menurut definisinya, tafsir bi al-Ra’yi adalah penafsiran al-Qur’an yang didasarkan pada pendapat pribadi mufassir, setelah terlebih dahulu memahami bahasa dan adat istiadat bangsa Arab.[1] 

Tafsir bi al-Ra’yi adalah antonim (lawan) nash dan riwayat. Oleh karena itu, ia dinamakan dengan tafsir bi al-Dirayah (dengan rasio) sebagai antitesis tafsir bi al-Riwayah (dengan riwayat). Dan makna al-Ra’yi adalah ijtihad dan olah pikir serta penelitian dalam memahami al-Qur’an dalam batas pengetahuan tentang bahasa Arab dan dalam kerangka kewajiban yang harus dipenuhi oleh penafsir al-Qur’an dari perangkat syarat keilmuwan dan akhlak.[2] 

Berdasarkan pengertian etimologi, Ra’yi berarti keyakinan (i’tiqad), analogi (qiyas), dan ijtihad. Dan ra’yi dalam terminologi tafsir adalah ijtihad. Dengan demikian, tafsir bi al-Ra’yi disebut juga tafsir bi al-Dirayah. Sebagaimana di definisikan Husen Adz-Dzahabi adalah tafsir yang penjelasannya diambil berdasarkan ijtihad dan pemikiran mufassir yang telah mengetahui bahasa Arab dan metodenya, dalil hukum yang ditunjukkan, serta problema penafsiran, seperti asbab an-nuzul, nasikh-mansukh, dan sebagainya. Al-Farmawi mendefinisikan tafsir bi al-Ra’yi sebagai penafsiran al-Qur’an dengan ijtihad setelah mufassir yang bersangkutan mengetahui metode yang digunakan orang-orang Arab ketika berbicara dan ia pun mengetahui kosakata Arab beserta muatan artinya.[3] 

Menurut al-Shabuni, tafsir bi al-Dirayah berarti tafsir yang berdasarkan ijtihad dengan berpegang kepada prinsip-prinsip yang benar dan kaidah-kaidah yang benar, yang umum berlaku, yang wajib dimiliki kepada siapa saja yang mau terjun langsung ke dalam dunia menafsirkan al-Qur’an, atau siapa saja yang mau menyingkap keterangan-keterangan arti ayat-ayat al-Qur’an. 

Istilah ra’yun dekat maknanya dengan ijtihad (kebebasan penggunaan akal) yang didasarkan atas prinsip-prinsip yang benar, menggunakan akal sehat dan persyaratan yang ketat. Wajib bagi seseorang mufassir memperhatikan secara teliti tentang subyek penafsiran kitab suci. Al-Qurthubi menyatakan barangsiapa yang mengucapkan sesuatu berdasarkan pikiran dan kesannya tentang al-Qur’an atau memberikan isyarat-isyarat dengan sengaja tentang prinsip dasar, ia patut dicap telah melakukan kesalahan dan penyimpangan, dan kepribadian orang tersebut tidak dapat dipercaya. 

Perlu dicatat, hadis meyatakan: Barangsiapa sengaja berdusta kepadaku maka mereka adalah tempat baginya, Barangsiapa menafsirkan al-Qur’an berdasarkan pikirannya, maka ia akan menempati neraka (H.R Turmudzi): dan barangsiapa yang menafsirkan al-Qur’an dengan pikirannya maka ia telah melakukan kesalahan.[4] 

Dari definisi di atas, perlu ditekankan bahwa yang dimaksud ijtihad di sini, bukan hanya semata-mata ijtihad, atau karena hobi, akan tetapi mempergunakan akal dalam mufassir tersebut sudah dapat mengetahui ungkapan-ungkapan bahasa Arab dari berbagai aspeknya, seperti kebiasaan-kebiasaan orang-orang Arab mengungkapkannya, atau pemakaian kata tersebut, mengetahui asbab an-nuzul, mengetahui nasikh-mansukh dari ayat-ayat al-Qur’an.[5] 
Makalah Tafsir Bid-Diroyah, Penafsiran Al-Quran Dengan Akal
Al-Qur'an (Foto: Abuzahra.org)

Sejarah Kemunculan Tafsir bi al-Ra’yi 

Tafsir bi al-Ra’yi muncul sebagai corak penafsiran belakangan setelah tafsir bi al-Ma’tsur muncul walaupun sebelum itu ra’yu dalam pengertian akal sudah digunakan para sahabat ketika menafsirkan al-Qur’an. Apalagi kalau kita melihat bahwa salah satu sumber penafsiran pada masa sahabat adalah ijtihad. 

Di antara sebab yang memicu kemunculan corak tafsir bi al-Ra’yi adalah semkain majunya ilmu-ilmu keislaman yang diwarnai dengan kemunculan ragam disiplin ilmu, karya-karya para ulama, berbagai metode penafsiran, dan pakar-pakar di bidangnya masing-masing. Akibatnya, karya tafsir seorang mufassir sangat diwarnai oleh latar belakang ilmu yang dikuasainya. 

Di antara mereka, ada yang lebih menekankan telaah balaghah seperti az-Zamakhsyari, telaah hukum-hukum syara’ seperti al-Qurthubi, telaah keistemewaan bahasa, seperti Abi As-Su’ud, atau qira’ah seperti An-Naisaburi dan An-Nasafi, telaah madzhab-madzhab kalam dan filsafat, seperti Ar-Razi dan telaah lainnya. Hal ini dapat dipahami sebab di samping sebagai seorang mufassir, seseorang dapat saja ahli dalam bidang fikih, bahasa filsafat, astronomi, kedokteran, atau kalam.
Kemunculan tafsir bi al-Ra’yi dipicu oleh hasil interaksi umat Islam dengan peradaban Yunani yang banyak menggunakan akal. Oleh karena itu, dalam tafsir bi al-Ra’yi, peranan akal sangat dominan.[6] 

Pendek kata, berbagai corak tafsir bi al-Ra’yi muncul dikalangan ulama-ulama mutaakhirin, sehingga di abad modern lahir lagi tafsir menurut tinjauan sosiologis dan sastra Arab seperti Tafsir al-Manar, dan dalam bidang sains muncul pula karya Jawahir Thanthawi dengan judul Tafsir al-Jawahir. Melihat, perkembangan tafsir bi al-Ra’yi yang demikian pesat, maka tepatlah apa yang dikatakan Manna’ Al-Qaththan bahwa tafsir bi al-Ra’yi mengalahkan perkembangan al-ma’tsur. 

Meskipun, tafsir bi al-Ra’yi berkembang dengan pesat, namun dalam menerimanya para ulama terbagi dua, ada yang membolehkan dan ada pula yang melarangnya. Tapi setelah diteliti, ternyata kedua pendapat yang bertentangan itu hanya bersifat lafzhi (redaksional). Maksudnya kedua belah pihak sama-sama mencela penafsiran yang berdasarkan ra’yi (pemikiran) semata (hawa nafsu) tanpa mengindahkan kaedah-kaedah dan kriteria yang berlaku. Penafsiran serupa inilah yang diharamkan oleh Ibn Taymiyah. Sebaliknya, keduanya sepakat membolehkan penafsiran al-Qur’an dengan ijtihad yang berdasarkan al-Qur’an dan sunnah Rasul serta kaedah-kaedah yang mu’tabarat (diakui sah secara bersama).[7] 

Pembagian Tafsir bi al-Ra’yi 

Selanjutnya para ulama membagi corak tafsir bi al-Ra’yi kepada dua bagian, yaitu tafsir bi al-Ra’yi yang dapat diterima dan tafsir bi al-Ra’yi yang ditolak.[8] 

1. Tafsir bi al-Ra’yi al-Mahmudah 

Tafsir bi al-Ra’yi al-Mahmudah ialah tafsir al-Qur’an yang didasarkan dari ijtihad yang jauh dari kebodohan dan penyimpangan. Tafsir ini sesuai dengan peraturan bahasa Arab. Karena tafsir ini tergantung kepada metodologi yang tepat dalam memahami ayat-ayat al-Qur’an. Barangsiapa yang menafsirkan al-Qur’an berdasarkan pikirannya, dengan memenuhi persyaratan dan bersandarkan kepada makna-makna al-Qur’an, penafsiran seperti ini dibolehkan dan dapat diterima. Tafsir semacam ini selayaknya disebut tafsir yang terpuji atau tafsir yang syah.[9] 

Tafsir bi al-Ra’yi al-Mahmudah (penafsiran dengan akal yang diperbolehkan) dengan beberapa syarat di antaranya: 

a. Ijtihad yang dilakukan tidak keluar dari nilai-nilai al-Qur’an dan As-Sunnah.
b...Tidak berseberangan penafsirannya dengan penafsiran bi al-Ma’tsur.

Seorang mufassir harus menguasai ilmu-ilmu yang berkaitan dengan tafsir beserta perangkat-perangkatnya. Beberapa contoh kitab tafsir yang menggunakan metodologi ini di antaranya: Tafsir Al-Qurthuby, Tafsir Al-Jalalain, Tafsir Al-Baidhawy. 

2. Tafsir bi al-Ra’yi al-Mazmumah 

Tafsir bi al-Ra’yi al-Mazmumah (penafsiran dengan akal yang dicela/dilarang), karena bertumpu pada penafsiran makna dengan pemahamannya sendiri. Dan istinbath (pengambilan hukum) hanya menggunakan akal/logika semata yang tidak sesuai dengan nilai-nilai syariat Islam. Kebanyakan metode ini digunakan oleh para bid’ah yang sengaja menafsirkan ayat al-Qur’an sesuai dengan keyakinannya untuk mengajak orang lain mengikuti langkahnya. Juga banyak dilakukan oleh ahli tafsir periode sekarang ini. 

Di antara contoh kitab tafsir yang menggunakan metode ini adalah Tafsir Zamakhsyary, Tafsir Syiah Itsna Asyariah, Tafsir As-Sufiyah dan Al-Bathiniyyah. Di antara contoh digunakannya akal fikiran dan pendapat bagi penafsiran al-Qur’an yaitu: 

a) Golongan Mu’tazilah berkenaan dengan maksud kalimat maqaman mahmudan[10], .dijelaskan dalam Q.S. al-Isra’/17: 79. Terjemahnya: “Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji.”[11] 

Sementara ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan maqaman mahmudan (tempat yang terpuji) ialah tempat di mana Allah swt akan mendudukkan Muhammad saw di atas ‘arsy sebagai ganjaran atas ketahajjudannya. Sedang ahli tafsir yang menggunakan pendapat (akal) menafsirkan maqaman mahmudan sebagai martabat syafa’at (kedudukan yang memiliki wewenang untuk memberi pertolongan pada hari kiamat). Alasan mereka bersandar pada ucapan at-Thabari yang mengatakan bahwa duduk di atas ‘arsy adalah mustahil.[12] 

b) Penafsiran sebagian mufassir terhadap Q.S. An-Nahl/16: 68. Terjemahnya: Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit di pohon-pohon kayu dan di tempat-tempat yang dibikin manusia.”[13]

Mereka berpendapat bahwa di antara lebah itu, ada yang diangkat sebagai Nabi yang diberi wahyu Allah, dan mereka mengemukakan cerita bohong tentang kenabian lebah. Sementara itu, sebagian berpendapat, bahwa ada tetesan lilin jatuh ke pohon, kemudian tetesan itu dipindahkan oleh lebah untuk dijadikan sarang-sarang dan madu.[14] 

c) Penafsiran sebagian orang terhadap Q.S. Ar-Rahman/ 55: 33. Terjemahnya: Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.”[15] 

Mereka menduga bahwa ayat di atas mengisyaratkan kemungkinan para ilmuwan mendarat di bulan dan planet-planet lain, sedangkan konteks ayat sebelum dan sesudahnya tidak memungkinkan ayat itu mengandung pengertian demikian.[16] 

d) Penafsiran sebagin mufassir terhadap Q.S. Al-Humazah/104: 6-7. Terjemahnya: “(yaitu) api yang sediakan Allah yang dinyalakan, (7) yang membakar sampai ke hati.”[17]

Mereka berpendapat bahwa ayat ini menunjukkan macam-macam sinar yang berhasil ditemukan pada abad XX dan mampu mendeteksi bagian dalam tubuh manusia. Mereka memaknai ayat di atas dengan sesuatu yang tidak mungkin jika di hubungkan dengan ayat sebelum dan sesudahnya. 

Status Tafsir bi al-Ra’yi, Bagaimanakah Tanggapan Ulama?

Tidak bisa dipungkiri kemunculan madrasah-madrasah yang mengajarkan dan mengembangka tafsir yang lebih mengedepankan akal telah menimbulkan kontroversi di kalangan ulama-ulama. Dan secara garis besar, mereka terbagi ke dalam dua kelompok,[18] yaitu: 

a. Kelompok yang menolak 

Menjelang abad II H, corak penafsiran ini belum mendapatkan legitimasi yang luas dari para ulama yang menolaknya. Ulama yang menolak penggunaan corak tafsir ini mengemukakan argumentasi, seperti sebagai berikut: menafsirkan al-Qur’an berdasarkan ra’yi berarti membicarakan firman Allah tanpa pengetahuan. Dengan demikian, hasil penafsirannya hanya bersifat perkiraan semata. Padahal Allah berfirman dalam Q.S. Al-Isra’/17: 36.

Terjemahnya: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya.”[19] 

Oleh karena itu, golongan salaf berkeberatan, enggan untuk menafsirkan al-Qur’an dengan sesuatu yang tidak mereka ketahui. Dari Yahya ibn sa’Id diriwayatkan, dari Sa’id ibn al-Musayyab, apabila ia ditanya tentang tafsir sesuatu ayat al-Qur’an maka ia menjawab: “Kami tidak akan mengatakan sesuatu pun tentang al-Qur’an.”[20]

Ulama salaf yang paling keras menentang tafsir bi al-Ra’yi dalah Ibn Taimiyah. Ia tidak mau mempergunakan ijtihad dalam soal tafsir. Menurutnya, tafsir dengan semata-mata ijtihad haram hukumnya. Pendirian Ibn Taimiyah yang keras ini ialah pada masa itu timbul kaum bathiniyah yang mempergunakan hawa nafsunya dalam menetapkan makna-makna al-Qur’an. Maka untuk membendung aliran tersebut, beliau mempertahankan pokok pendiriannya.[21] 

Lebih lanjut Ibn Taimiyah menegaskan siapapun yang beralih dari madzhab sahabat dari tabi’in serta penafsiran mereka ke sesuatu hal yang menyalahinya. Ia telah melakukan perbuatan salah dan bahkan bid’ah, sebab merekalah yang paling mengetahui tentnag tafsir al-Qur’an dan makna-maknanya sebagaimana mereka pulalah yag lebih mengerti akan kebenaran yang dibawa oleh misi Rasullullah.[22] Rasulullah saw, Bersada, yang artinya sebagai berikut: 

“Siapa saja menafsirkan al-Qur’an atas dasar pikirannya semata, atau atas dasar sesuatu yang belum diketahuinya, maka bersiap-siaplah mengambil tempat di neraka.”[23] 

1. Yang berhak menjelaskan al-Qur’an hanyalah Nabi, berdasarkan firman Allah dalam ..Q.S. An-Nahl/16: 44. “Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab, dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan pada umat menusia apa yang telah diturunkan kepada mereka [829] dan supaya mereka memikirkan.”[24] 

2. Adanya tradisi di kalangan para sahabat dan tabi’in untuk berhati-hati ketika berbicara tentang penafsiran al-Qur’an. Abu Bakar pernah berkata ketika ia ditanya penafsiran al-Qur’an tentang maksud kata al-abb [25], Allah berfirman dalam Q.S. Abasa/80: 31. Terjemahnya: “Dan buah-buahan serta rumput-rumputan.”[26] 

Ia menjawab, “Langit manakah yang menaungiku dan bumi manakah yang akan menyanggaku, jika aku mengatakan tentang Kalamullah sesuatu yang tidak aku ketahui?”[27]

b. Kelompok yang menerima 

Mereka mengemukakan argumentasi seperti berikut ini:

1. Di dalam al-Qur’an banyak ditemukan ayat-ayat yang menyerukan untuk mendalami kandungan al-Qur’an. Umpamanya Allah berfirman dalam Q.S. Muhammad/47: 24. Terjemahnya: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?”[28] 

2. Seandainya tafsir bi al-Ra’yi itu dilarang, lalu mengapa ijtihad itu diperbolehkan? Nabi tidak menjelaskan setiap ayat al-Qur’an. Ini menunjukkan bahwa umatnya diizinkan berijtihad terhadap ayat-ayat yang belum di jelaskan Nabi. 

3....Para sahabat sering berselisih pendapat mengenai penafsiran suatu ayat. Ini menunjukkan bahwa mereka pun menafsirkan al-Qur’an dengan Ra’yi-nya. Seandainya tafsir bi al-Ra’yi dilarang, tentu tindakan para sahabat itu keliru. 

4. .Rasullullah pernah berdoa untuk Ibn ‘Abbas. Yaitu: “Ya Allah, berilah pemahaman agama kepada Ibn ‘Abbas dan ajarilah ia takwil.” 

Seandainya cakupan takwil hanya mendengar dan menuqil riwayat saja, tentunya pengkhususan do’a di atas untuk Ibn ‘Abbas tidak bermakna apa-apa. Dengan demikian, maka takwil yang dimaksud dalam doa tersebut adalah sesuatu di luar penukilan, yakni ijtihad dan pemikiran. 

Syarat-syarat Menjadi Mufassir bi al-Ra’yi 

Seorang mufassir al-Qur’an perlu memiliki kualifikasi (syarat-syarat) dan berbagai bidang ilmu pengetahuan secara mendalam. Untuk menjadi seorang mufassir yang diakui, maka ia harus memiliki kemampuan dalam segala bidang. Al-Suyuthi menyebutkan syarat-syarat dasar sebelum seseorang memulai tafsir al-Qur’an, sebagai berikut:

1. Pengetahuan bahasa Arab dan kaidah-kaidah bahasa 
2. Ilmu Retorika, (ilmu ma’ani, al-bayan, dan al-badi’u) 
3. Ilmu Ushul fiqh, (khas, ‘aam, mujmal, dan mufashshal) 
4. Ilmu asbab al-nuzul (latarbelakang dan hal-hal yang berkenaan dengan turunnya wahyu). 
5. Ilmu nasikh dan mansukh. 
6. Ilmu Qiraah Al-Qur’an. 
7. Ilmu al-mauhibah (gifted Knowledge)[29] 

Kriteria-kriteria diatas haruslah dipenuhi mufassir, agar tidak menimbulkan kekeliruan dalam menafsirkan al-Qur’an. Sementara itu Ali Hasan al-‘Aridh menambahkan mengenai enam hal yang harus dihindari oleh mufassir bi al-Ra’yi yaitu: 

1. Memaksakan diri mengetahui makna yang dikehendaki oleh Allah pada suatu ayat, sedangkan ia tidak memenuhi syarat untuk itu. 

2...Mencoba menafsirkan ayat-ayat yang maknanya hanya diketahui oleh Allah (otoritas Allah semata). 

3. Menafsirkan disertai hawa nafsu dan sikap istihsan (menilai bahwa sesuatu itu baik semata-mata berdasarkan persepsinya). 

4. Menafsirkan ayat-ayat dengan makna-makna yang tidak dikandungnya. 

5. Menafsirkan ayat-ayat untuk mendukung suatu mazhab, dengan cara menjadikan faham mazhab sebagai dasar, sedangkan penafsiran mengikuti paham mazhab tersebut. 

6. Menafsirkan dengan disertai memastikan, bahwa makna yang dikehendaki Allah adalah demikian, tanpa didukung oleh dalil. 

Selama mufassir bi al-Ra’yi memenuhi persyaratan dan menjauhi keenam hal tersebut, dibarengi pula dengan niat dan tujuan yang ikhlas karena Allah, maka penafsirannya dapat diterima dan pendapatnya dikatakan rasional. Namun bila ia tidak memenuhi kriteria di atas berarti ia telah menyimpang dan oleh karena itu penafsirannya ditolak. 

Di samping persyaratan di atas, tafsir bi al-Ra’yi juga harus sesuai dengan tujuan syara’, jauh dari kesesatan dan kebodohan, serta bersandar pada sesuatu yang wajib dijadikan sandaran, sebagaimana yang dikemukakan oleh as-Suyuthi bahwa sandaran yang harus dipedomani tersebut yaitu: 

a. Periwayatan dari Rasullullah, berpegang pada hadis-hadis yang bersumber dari Rasullullah saw, dengan ketentuan ia harus waspada terhadap riwayat yag dhaif (lemah) dan maudhu’ (palsu). 

b. Perkataan sahabat, berpegang pada ucapan sahabat Nabi, karena yang mereka ucapkan menurut peristilahan hadis, hukumnya mutlak marfu’ (shahih atau hasan), khususnya yang berkaitan dengan asbab an nuzul dan hal-hal yang tidak dapat dicampuri oleh ra’yu. 

c. Berpegang pada kaidah bahasa Arab, dan harus senantiasa berhati-hati untuk tidak menafsirkan ayat-ayat yang meyimpang dari makna lafadz yang semestinya. 

Dari uraian di atas terlihat jelas kompleksnya kualifikasi yang harus dimiliki oleh para mufassir bi al-Ra’yi, sehingga bisa dikatakan bahwa mereka harus memiliki nilai lebih dari mufassir biasa, karena selain harus memiliki keahlian di bidang ilmu tafsir mereka juga harus memiliki daya nalar yang tinggi.[30] 

Karya-karya Tafsir bi al-Ra’yi dan Tokoh-tokohnya 

Di antara karya tafsir bi al-Ra’yi adalah sebagai berikut: 

1. Mafatih al-Ghayb, karya Muhammad bin Umar bin al-Husayn al-Razy, wafat pada tahun 606, terkenal dengan Tafsir al-Razi. 

2. Anwar al-Tanzil wa asrar al-Ta’wil, karya ‘Abd Allah bin Umar al-Baydhawi, wafat pada tahun 685, terkenal dengan Tafsir al-Baydhawi.

3. Lubab al-Ta’wil fi Ma’ani al-Tanzil, karya ‘Abd Allah bin Muhammad al-Ma’ruf, wafat pada tahun 741, terkenal dengan Tafsir al-Khazin. 

4. Madarik al-Tanzil wa Haqa’iq al-Ta’wil, karya ‘Abd Allah bin Ahmad al-Nasafi, wafat pada tahun 701, terkenal dengan Tafsir al-Nasafi. 

5. Ghara’ib Al-Qur’an wa Ragha’ib al-Furqan, karya Nizam al-Din al-Hasan Muhammad al-Nisaburi, wafat pada tahun 728, terkenal dengan Tafsir al-Nisaburi. 

6. Irshad al-‘aql al-Salim, karya Muhammad bin Muhammad bin Mustafa al-Tahawi, wafat pada tahun 952, terkenal dengan Tafsir Abi al-Su’udi. 

7. Al-Bahr al-Muhith, karya Muhammad bin Yusuf bin Hayyan al-Andalusi, wafat pada tahun 745, trekenal dnegan Tafsir Abu Hayyan. 

8. Ruuh al-Ma’ani, karya Shahabuddin Muhammad al-Aluusi al-Baghdadi, wafat pada tahun 1270, terkenal dengan Tafsir al-Aluusi. 

9. Al-Siraj al-Munir, karya Muhammad al-Sharbini al-Khatib, wafat pada tahun 977, terkenal dengan Tafsir al-Khatib. 

10. Tafsir al-Jalaalayn, karya I. Jalal al-Din al-Mahali, wafat pada tahun 764, dan II Jalal al-Din al-Suyuti, yang wafat pada tahun 911, terkenal dengan Tafsir al-Jalalayn.[31]

Kesimpulan 

Dari pembahasan mengenai tafsir bi al-ra’yi pada bab sebelumnya penulis menarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: 

1. Tafsir bi al-Ra’yi ialah tafsir yang di dalam menjelaskan maknanya mufassir hanya berpegang pada pemahaman sendiri dan penyimpulan (istinbath) yang di dasarkan pada ra’yu semata yakni bukan pemahaman yang sesuai dengan ruh sya’riah. 

2. Sebab yang memicu kemunculan corak tafsir bi al-Ra’yi adalah semakin majunya disiplin ilmu-ilmu keislaman yang diwarnai dengan kemunculan ragam displin ilmu, karya-karya para ulama, berbagai metode penafsiran, dan pakar-pakar di bidangnya masing-masing. Dan dipicu pula oleh hasil interaksi umat Islam dengan peradaban Yunani yang banyak menggunakan akal. Oleh karena itu, peranan akal sangat dominan. 

3. Para ulama membagi corak tafsir bi al-Ra’yi ini kepada dua bagian, yaitu:

a. Tafsir bi al-Ra’yi al Mahmudah 
b. Tafsir bi al-Ra’yi al-Mazmumah 

4. Secara garis besar, tafsir bi al-Ra’yi terbagi ke dalam dua kelompok, yaitu:

a. Kelompok yang menerima 
b. Kelompok yang menolak 

5. Seorang mufassir ia harus memiliki kemampuan dalam segala bidang, untuk itu diperlukan syarat-syarat dasar sebelum seorang mufassir memulai tafsir al-Qur’an. Dan mengkaji ilmu-ilmu al-Qur’an memiliki banyak manfaat salah satunya adalah tafsir bi al-Ra’yi. 

Daftar Pustaka

Baidan, Nashruddin. Metode Penafsiran al-Qur’an. Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002.

Mashuri, sirojuddin Iqbal, dkk. Pengantar Ilmu Tafsir. Cet. I; Bandung: Angkasa, 1993.

Mudzakir AS. Manna’ Khalil Al-Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an. Cet. VI; Bogor: Pustaka Litera Antar Nusa, 2001.

____________Manna’ Khalil Al-Qattan: Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an. Cet. VIII; Jakarta: PT. Mitra Kerjaya Indonesia, 2004.

Muhammad Ali Ash-Shabuniy. At-Tibyan fi Ulum Al-Qur’an. Cet. I; Alim al-Kutub: Makkah al-Mukarramah, 1985.

Mardan. Al-Qur’an: Sebuah Pengantar Memahami Al-Qur’an Secara Utuh. Cet. I; Jakarta: Pustaka Mapan, 2009.

Muhammad Hafrinda, Metode Tafsir Bi Al-Ra’yi, http://hafrinda212.wordpress.com/2009/05/27/metode-tafsir-bi-al-ra%E2%80%99yi/, diakses pada tanggal 13 November 2011, pukul 20.00 wita.

Qardhawi, Yusuf. Berinteraksi dengan Al-Qur’an. Cet. I; Jakarta: Gema Insani Press, 1999.

Rosihon, Anwar. Ulumul Qur’an, Cet. II; Bandung: Pustaka Setia, 2004.

Thameem, Ushama. Methodologies of the Qur’anic Exegesis, diterjemahkan oleh Hasan Basri dan Amroeni dengan judul Metodologi Tafsir Al-Qur’an: Kajian Kritis, Objektif dan Komprehensif. Cet. I; Jakarta: Riora Cipta, 2000. 

Tulisan Tafsir bil Ra'yi telah dipresentasikan oleh Beti Yanuri Pada seminar Mata Kuliah Ulumul Qur’an Program Magister (S2) UIN Alauddin Makassar.