Perkembangan Tarekat Naqsyabandiyah serta Ajarannya yang Perlu Anda Ketahui

Advertisement
Tarekat Naqsyabandiyah serta Ajarannya 
yang Perlu Anda Ketahui Oleh: Nazmiah 

Tarekat adalah khazanah kerohanian dalam Islam dan dapat mempengaruhi perasaan dan pikiran kaum muslimin serta memiliki peranan yang sangat penting dalam proses pembinaan mental beragama masyarakat. Selama ini, merasa terbelenggu oleh berbagai kecendrungan materialistis yang orientasinya mengacu kepada kemudahan, kenyamanan dan fasilitas hidup yang menyenangkan serta dapat dinikmati dengan leluasa yang pada kenyataanya tidak selalu mendatangkan kesejahteraan dan kebahagiaan ummat. Namun justru pada sebagian orang yang menganutnya menimbulkan ketenangan jiwa dan kemampuan spritual bagi dirinya.

Salah satu ajaran yang mengarah kepada hal itu adalah ajaran tarekat, khususnya Tarekat Naqsyabandiyah, yang lebih banyak menggunakan pendekatan kerohanian. Di mana tujuannya adalah untuk lebih mengenal akhlak dan ibadah yang merupakan landasan moralitas manusia, karena diperlukan sebagai pedoman dalam upaya menyelesaikan berbagai problema kehidupan manusia dan berserah diri kepada al-Khāliq (Allah). 

Adapun pembahasan yang berkaitan dengan masalah tarekat Naqsyabandiyah cukup luas, seperti silsilah, ajaran dasar, dzkirullah dari tingkatan, kaifiyyat dan adab berzikir, masalah rabithah, berkhalwat (suluk), mursyid, khatam khawajakan, adab murid kepada Syeikh dan kepada dirinya, serta adab kepada teman, wasilah, dan masalah meninggalkan makan daging. 

Pada kesempatan kali ini penulis membatasi masalah yakni yang berkenaan di seputar tarekat, sejarah dan perkembangan tarekat Naqsyabandiyah, ritual tarekat Naqsyabandiyah, rabithah, khatm khwajakan.

Pengertian Tarekat

Kata “tarekat” secara harfiyah “طريقة” berarti “jalan” mengacu kepada suatu sistem latihan meditasi maupun amalan-amalan (muraqabah, zikir, wirid, dan sebagainya) yang dihubungkan dengan sederet guru sufi. Tarekat juga berarti organisasi yang tumbuh seputar metode sufi yang khas.[1] 

Adapun tarekat menurut istilah ulama tasawwuf berarti; (1) Jalan kepada Allah dengan mengamalkan ilmu tauhid, fiqih, dan tasawwuf. (2) Cara atau kaifiyyat mengerjakan sesuatu amalan untuk mencapai suatu tujuan.[2] 

Makna lain dari tarekat yaitu jalan atau petunjuk dalam melaksanakan sesuatu ibadah sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW. dan yang dicontohkan beliau serta dikerjakan oleh para sahabatnya, tabi’in, tabi’ al-tabi’in dan terus turun temurun sampai kepada guru-guru, ulama-ulama secara bersambung dan berantai hingga pada masa kita ini.[3]

Sebuah tarekat biasanya terdiri dari pensucian batin, kekeluargaan tarekat, upacara keagamaan, dan kesadaran sosial. Yang dimaksud pensucian jiwa adalah melatih rohani dengan hidup zuhud, menghilangkan sifat-sifat jelek yang menyebabkan dosa, dan mengisi dengan sifat-sifat terpuji, taat menjalankan perintah agama, menjauhi larangan, taubat atas segala dosa dan muhasabah introspeksi, mawas diri terhadap semua amal-amalnya. Kekeluargaan tarekat biasanya terdiri dari syaikh tarekat, syaikh mursyid, mursyid sebagai guru tarekat, murid dan pengikut tarekat, serta ribath (zawiyah) tempat latihan, kitab-kitab, sistem dan metode zikir. Upacara keagamaan bisa berupa baiat, ijazah atau khirqah, silsilah, latihan-latihan, amalan-amalan tarekat, talqin, wasiat yang diberikan dan dialihkan seorang syaikh tarekat kepada murid-muridnya.[4]

Adapun tujuan dari pengamalan sebuah tarekat yaitu: (a) dengan mengamalkan tarekat berarti mengadakan latihan jiwa (riyadhah) dan berjuang melawan hawa nafsu, membersihkan diri dari sifat-sifat yang tercela dan diisi dengan sifat-sifat terpuji dengan melalui perbaikan budi pekerti dalam berbagai seginya, (b) selalu dapat mewujudkan rasa ingat kepada Allah Dzat Yang Maha Besar dan Maha Kuasa atas segalanya dengan melalui jalan mengamalkan wirid dan zikir dibarengi tafakkur yang secara terus menerus dikerjakan, (c) dari sini timbul perasaan takut kepada Allah sehingga timbul pula dalam diri seseorang itu suatu usaha untuk menghindarkan diri dari segala macam pengaruh duniawi yang dapat menyebabkan lupa kepada Allah, (d) jika hal itu semua dapat dilakukan dengan penuh ikhlas dan ketaatan kepada Allah, maka tidak mustahil akan dapat dicapai suatu tingkat alam ma’rifat, sehingga dapat pula diketahui segala rahasia di balik tabir cahaya Allah dan rasulNya secara terang benderang, (e) akhirnya dapat diperoleh apa yang sebenarnya menjadi tujuan hidup ini.[5]
Ajaran Tarekat Naqsyabandiyah dalam Islam
Ajaran Tarekat Naqsyabandiyah (Foto: republika.co.id)
Setelah kita mengetahui sedikit banyak tentang pengertian tarekat beserta tujuannya, selanjutnya kita akan membahas salah satu tarekat yang berkembang di wilayah Indonesia, tarekat tersebut yaitu tarekat Naqsyabandiyah.

Sejarah dan Perkembangan Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia

Pendiri tarekat Naqsyabandiyah[6] adalah seorang pemuka tasawwuf terkenal yaitu Muhammad bin Muhammad Baha’ al-Din al-Uwaisi[7] al-Bukhari Naqsyabandi[8](717 H/1318 M-791 H/1389 M), dilahirkan di sebuah desa Qashrul ‘Arifan, kurang dari 4 mil dari Bukhara tempat lahir Imam al-Bukhari.[9] Ia belajar tarekat dan ilmu adab dari Amir Sayyid Kulal al-Bukhari (w. 772/1371), tetapi kerohaniannya dididik oleh ‘Abd al-Khaliq al-Ghujdawani (w. 617/1220) yang mengamalkan pendidikan Uwaisi. Pada usia 18 tahun ia pernah dikirim ke al-Samas[10] untuk mempelajari ilmu tasawwuf dari seorang guru yang bernama Baba al-Sammasi (w. 740/1340). 

Mengenai perkembangan tarekat Naqsyabandiyah di nusantara dipelopori oleh Syaikh Yusuf Makassari (1626-1699). Ia menerima ijazah dari Syaikh Muhammad ‘Abd al-Baqi di Yaman kemudian mempelajari tarekat ketika berada di Madinah di bawah bimbingan Syaikh Ibrahim al-Kurani. Syaikh Yusuf berasal dari kerajaan Islam Gowa, Sulawesi Selatan.[11] Mungkin saja Syaikh Yusuf bukan orang pertama yang menganut tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia. Namun, ia adalah orang yang pertama menulis tentang tarekat ini, sehingga kemudian ia dianggap sebagai orang pertama yang memperkenalkan tarekat ini di Indonesia.[12]

Tarekat Naqsyabandiyah yang menyebar di nusantara berasal dari Mekkah, yang dibawa oleh para pelajar yang belajar di sana dan oleh para jema’ah haji. Muhammad Yusuf adalah yang pertama naik haji ke Mekkah dari Kepulauan Riau. Ia telah dibaiat masuk tarekat Naqsyabandiyah oleh Syaikh Muhammad Shalih al-Zawawi.[13]

Di Pontianak sebelum kedatangan ‘Abdullah al-Zawawi sekitar tahun 1884, telah dikenal tarekat Naqsyabandiyah Mazhariyah. Banyak dari pengikut tarekat ini yang pernah tinggal di Makkah beberapa lama, tidak hanya mempelajari fiqih dan aqidah, namun juga belajar tarekat. Orang yang pertama dikenal adalah Utsman al-Puntiani.[14] Namun, yang mengajarkan tarekat di daerah ini bukan Syaikh Utsman, tetapi teman Utsman yang usianya 10 tahun lebih muda dan hidup semasa dengannya, yaitu Isma’il Jabal.

Di Madura, tarekat ini sudah lahir sejak akhir abad ke-19. Terdapat keunikan lain dari tarekat ini yang tidak dijumpai di antara penganut Naqsyabandiyah di Indonesia dan negara lain, yaitu beberapa mursyidnya adalah perempuan. Mereka tidak hanya bertindak sebagai asisten dari para suami yang lebih dominan, tetapi mereka benar-benar mandiri, seperti Nyai Thobibah, ia mendapat ijazah penuh dari Ali Wafa. Syarifah Fathimah di Sumenep adalah mursyid perempuan lain yang mempunyai pengikut yang sangat banyak sampai di Malang Selatan dan Kalimantan Barat.[15]

Tarekat Naqsyabandiyah juga berkembang di daerah Minangkabau. Di antara tokoh yang berpengaruh sebagai Syaikh Naqsyabandiyah adalah Jalaluddin dari Cangking. Tokoh lain yaitu ‘Abd al-Wahhab gelar Syaikh Ibrahim bin Pahad, Tuanku Syaikh labuan di Padang.

Di Jawa Tengah cabang-cabang tarekat Naqsyabandiyah hampir semuanya berasal dari dua khalifah Sulaiman Zuhdi yang berpengaruh, Muhammad Ilyas dari Sukaraja (Banyumas) dan Muhammad Hadi dari Giri Kusomo.[16]

Pada perkembangan selanjutnya tarekat ini tersebar ke beberapa daerah di pulau Jawa, antara lain Rembang, Blora, Banyumas-Purwokerto, Cirebon, Jawa Timur bagian Utara, Kediri dan Blitar.

Ajaran Dasar dan Teknik Spiritual Tarekat Naqsyabandiyah

Penganut tarekat ini mengenal 11 asas tarekat. 8 dari asas itu dirumuskan oleh ‘Abd al-Khaliq Gujdawani, sedangkan 3 merupakan tambahan dari Baha al-Din Naqsyaband.[17] Asas-asas ‘Abd al-Khaliq, yaitu:

(1)Husy dar dam: “sadar sewaktu bernafas”. Suatu latihan konsentrasi: di mana seseorang harus menjaga diri dari kekhilafan dan kealpaan ketika keluar masuk nafas, supaya hati selalu merasakan kehadiran Allah. Hal ini dikarenakan setiap keluar masuk nafas yang hadir beserta Allah, memberikan kekuatan spiritual dan membawa orang lebih dekat kepada Allah. Karena kalau orang lupa dan kurang perhatian berarti kematian spiritual dan mengakibatkan orang jauh dari Allah.

(2)Nazhar bar qadam, “menjaga langkah”. Seorang murid yang sedang menjalani khalwat suluk, bila berjalan harus menjaga langkah-langkahnya, sewaktu duduk memandang lurus ke depan, demikianlah agar tujuan-tujuan (ruhaninya) tidak dikacaukan oleh segala hal di sekelilingnya yang tidak relevan.

(3)Safar dar wathan, “melakukan perjalanannya di tanah kelahirannya”. Maknanya adalah melakukan perjalanan batin dengan meninggalkan segala bentuk ketidaksempurnaannya sebagai manusia menuju kesadaran akan hakikatnya sebagai makhluk yang mulia. Makna lain yaitu berpindah dari sifat-sifat manusia yang rendah kepada sifat-sifat malaikat yang terfuji. (4)Khalwat dar anjuman, “sepi di tengah keramaian”. 


Khalwat bermakna menyepinya seorang pertapa, sementara anjuman dapat berarti perkumpulan tertentu. Berkhalwat terbagi pada dua bagian, yaitu: a. Khalwat lahir, yaitu orang yang bersuluk mengasingkan diri ke sebuah tempat tersisih dari masyarakat ramai. b. Khalwat batin, yakni mata hati menyaksikan rahasia kebesaran Allah dalam pergaulan sesama makhluk.

(5)yad krad, “ingat atau menyebut”. Ialah berzikir terus-menerus mengingat Allah, baik zikr ism al-dzat (menyebut Allah), maupun zikr nafi isbat (menyebut la ilaha illa Allah). Bagi kaum Naqsyabandiyah zikir itu tidak terbatas dilakukan secara berjamaah ataupun sendirian sesudah shalat, tetapi harus terus-menerus supaya di dalam hati bersemayam kesadaran akan Allah yang permanen.

(6)Baz Gasht, “kembali, memperbaharui”. Hal ini dilakukan untuk mengendalikan hati agar tidak condong kepada hal-hal yang menyimpang. Sesudah menghela nafas, orang yang berzikir itu kembali munajat dengan mengucapkan kalimat yang mulia ilahi anta maqshudi wa ridhaka mathlubi (“ya Tuhanku, Engkaulah tempatku memohon dan keridlaan-Mu-lah yang kuharapkan”).

(7)Nigah Dasyt, “waspada”. Ialah setiap murid harus menjaga hati, pikiran, dan perasaan dari sesuatu walau sekejap ketika melakukan zikir tauhid. Hal ini bertujuan untuk mencegah agar pikiran dan perasaan tidak menyimpang dari kesadaran yang tetap akan Tuhan, dan untuk memlihara pikiran dan perilaku agar sesuai dengan makna kalimah tersebut.

(8)Yad Dasyt, “mengingat kembali”. Adalah menghadapkan diri kepada nur Dzat Allah Yang Maha Esa, tanpa berkata-kata. Pada hakikatnya menghadapkan diri dan mencurahkan perhatian kepada nur Dzat Allah itu tiada lurus, kecuali sesudah fana (hilang kesadaran diri) yang sempurna. Tampaknya hal ini semula dikaitkan pada pengalaman langsung Kesatuan dengan Yang Ada (wahdat al-wujud). Ahmad Sirhindi dan pengikut-pengikutnya bahkan mengemukakan dalil adanya tingkat yang lebih tinggi, yakni seorang sufi sadar bahwa kesatuan ini hanyalah bersifat fenomenal, bukan ontologis (wahdat al-syuhud).

Adapun tiga asas lainnya yang berasal dari Syaikh Baha al-Din Naqsyabandi adalah:

(1)Wuquf Zamani, “memeriksa penggunaan waktu”, yaitu orang yang bersuluk senantiasa selalu mengamati dan memperhatikan dengan teratur keadaan dirinya setiap dua atau tiga jam sekali. Apabila ternyata keadaannya terus-menerus sadar dan tenggelam dalam zikir, dan melakukan yang terpuji, maka hendaklah ia bersyukur kepada-Nya. Sebaliknya apabila dalam keadaan lalai dan melakukan perbuatan dosa, maka harus segera minta ampun dan tobat kepada Allah, serta kembali kepada kehadiran hati yang sempurna.

(2)Wuquf ’Adadi, “memeriksa hitungan zikir”, yakni dengan penuh hati-hati (konsentrasi penuh) memlihara bilangan ganjil pada zikir nafi itsbat, 3 atau 5 sampai 21 kali.

(3)Wuquf Qalbi, “menjaga hati tetap terkontrol”. Kehadiran hati serta kebenaran tiada yang tersisa, sehingga perhatian seseorang secara sempurna sejalan dengan zikir dan maknanya. Selain kebenaran Allah dan tiada menyimpang dari makna dan perhatian zikir. Lebih jauh dikatan bahwa hati orang yang berzikir itu berhenti (wuquf) menghadap Allah dan bergumul dengan lafadz-lafadz dan makna zikir.

Mengenai teknik spiritualnya yaitu zikir, yakni berulang-ulang menyebut nama Tuhan ataupun menyatakan kalimah lā ilāha illa Allāh. Tarekat Naqsyabandiyah membedakan dirinya dengan aliran lain dalam hal zikir yang lazimnya adalah zikir diam (khafi, “tersembunyi”, atau qalbi, “dalam hati”), sebagai lawan dari zikir keras (jahr) yang lebih disukai tarekat-tarekat lain. Dan jumlah hitungan zikir[18] yang mesti diamalkan lebih banyak pada tarekat ini daripada tarekat lain.[19] Zikir ini bisa dilakukan berjama’ah, namun mayoritasnya dibaca sendiri-sendiri secara berkesinambungan tanpa mengenal waktu.

Tarekat Naqsyabandiyah mempunyai dua macam zikir, yaitu:

(1)Zikir Ism al-Dzāt, artinya mengingat nama Yang Haqiqi dengan mengucapkan nama Allah berulang-ulang dalam hati, ribuan kali (dihitung dengan tasbih), sambil memusatkan perhatian kepada Allah semata.

(2)Zikir Tauhid, artinya mengingat keesaan. Zikir ini terdiri atas bacaan perlahan diiringi dengan pengaturan nafas, kalimah lā ilāha illa Allāh, yang dibayangkan seperti menggambar jalan (garis) melalui tubuh. Caranya, (1) bunyi lā digambar dari daerah pusar terus ke atas sampai ke ubun-ubun; (2) bunyi Ilāha turun ke kanan dan berhenti di ujung bahu kanan; (3) kata berikutnya illa dimulai dan turun melewati bidang dada sampai ke jantung, dan ke arah jantung inilah kata terakhir Allāh dihunjamkan sekuat tenaga. Orang yang sedang berzikir membayangkan jantung itu mendenyutkan nama Allah, dan memusnahkan segala kotoran.[20] 

Selain dua macam zikir di atas, pengikut tarekat Naqsyabandiyah juga mengamalkan zikir yang lebih tinggi tingkatannya yaitu zikir latha’if. Dengan zikir ini, orang memusatkan kesadarannya (dan membayangkan nama Allah itu bergetar dan memancarkan panas) berturut-turut pada tujuh[21] titik halus pada tubuh. 

Adapun ayat al-Qur’an yang menganjurkan untuk berzikir khafi yang menjadi dalil bagi tarekat Naqsyabandiyah, yaitu:

1. QS. al-Mujadalah: 22 

Artinya: Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau Saudara-saudara ataupun keluarga mereka. meraka Itulah orang-orang yang Telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. mereka Itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.

2. QS. al-Hujurat: 3 

Artinya: Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka Itulah orang-orang yang Telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.

3. QS. al-A’raf: 205 

Artinya: Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.

4. Qs. al-A’raf: 55

Artinya: Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Mengenai hadis Nabi yang menganjurkan supaya berzikir khafi, antara lain:

1. Hadis dalam kitab Ittihaf al-Khairah al-Muhirrah dalam bab adab[22]:

وَقَالَ أَبُو يَعْلَى الْمُوصِلِيُّ : حَدَّثَنَا أَبُو هِشَامٍ الرِّفَاعِيُّ ، حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ ، حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ ، عَنِ الزُّهْرِيِّ ، عَنْ عُرْوَةَ ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم يُفَضِّلُ الصَّلاَةَ الَّتِي بِسِوَاكٍ لَهَا عَلَى الصَّلاَةِ الَّتِي لاَ يَسْتَاكُ لَهَا بِسَبْعِينَ ضِعْفًا ، وَكَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم يُفَضِّلُ الذِّكْرَ الْخَفِيَّ الَّذِي لاَ يَسْمَعُهُ الْحَفَظَةُ بِسَبْعِينَ ضِعْفًا ، وَيَقُولُ : إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ وَجَمَعَ اللَّهُ الْخَلاَئِقَ لِحَسَابِهِمْ ، وَجَاءَتِ الْحَفَظَةُ مِمَّا حَفِظُوا وَكَتَبُوا قَالَ اللَّهُ لَهُمْ : انْظُرُوا هَلْ بَقِيَ لَهُ مِنْ شَيْءٍ ، فَيَقُولُونَ : رَبَّنَا مَا تَرَكْنَا شَيْئًا مِمَّا عَلِمْنَاهُ وَحَفِظْنَاهُ إِلاَّ وَقَدْ أَحْصَيْنَاهُ وَكَتَبْنَاهُ ، فَيَقُولُ اللَّهُ , تَبَارَكَ وَتَعَالَى , لَهُ : إِنَّ لَكَ عِنْدِي خَبِيًّا لاَ تَعْلَمُهُ وَأَنَا أَجْزِيكَ بِهِ وَهُوَ الذِّكْرُ الْخَفِيُّ

Artinya: ...zikir khafi itu melebihi zikir jahr dengan 70 kali ganda. Apabila hari kiamat, Allah mengembalikan semua makhluk ke tempat perhitungannya. Dan Malaikat Penjaga datang membawa apa yang mereka jaga dan mereka catat. Allah berfirman kepada Malaikat Penjaga: “perhatikanlah, masih adakah sesuatu yang tersisa dari hambaKu?, mereka menjawab: tidak satu pun kami tinggalkan dari apa yang kami ketahui dan apa yang kami jaga, melainkan kami batasi dan sudah kami tulis dengan sebenarnya. Maka Allah pun berfirman kepada hamba-Nya: sesungguhnya kebaikanmu ada pada-Ku. Dan Aku akan membalasnya. Kebaikanmu itu adalah zikir khafi”.

2. Hadis al-Baihaqi no. 551[23], Rasulullah SAW. bersabda:

أخبرنا أبو عبد الله الحافظ ثنا أبو العباس محمد بن يعقوب ثنا يحيى بن أبي طالب ثنا علي بن عاصم أخبرني عبد الله بن عثمان بن خثيم عن سعيد بن جبير عن ابن عباس رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : قال الله تعالى : عبدي إذا ذكرتني خاليا ذكرتك خاليا و إن ذكرتني في ملأ ذكرتك في ملأ خير منهم و أكثر

Artinya: wahai hamba-Ku, jika kamu mengingat-Ku di waktu senggang, niscaya Aku ingat kepadamu. Dan jika kamu mengingat kepada-Ku secara berjamaah, niscaya Aku ingat kepadanya dalam kelompok berjamaah yang lebih baik daripada mereka.

3. Hadis riwayat Imam Ahmad no. 1397[24] dalam Musnadnya, Rasulullah SAW. bersabda:

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَبِيبَةَ عَنْ سَعْدِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرُ الذِّكْرِ الْخَفِيُّ وَخَيْرُ الرِّزْقِ مَا يَكْفِي حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ إِسْحَاقَ عَنِ ابْنِ الْمُبَارَكِ عَنْ أُسَامَةَ قَالَ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عُثْمَانَ أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَبِيبَةَ أَخْبَرَهُ قَالَ أَبِي و قَالَ يَحْيَى يَعْنِي الْقَطَّانَ ابْنَ أَبِي لَبِيبَةَ أَيْضًا إِلَّا أَنَّهُ قَالَ عَنْ أُسَامَةَ قَالَ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ ابْنِ لَبِيبَة

Artinya: Zikir yang paling baik adalah zikir khafi (dalam hati), dan rezeki yang paling baik adalah sesuatu yang mencukupi.

-Setelah dilakukan penelitian, ternyata hadis tersebut munqathi’, ada sanad yang terputus antara Sa’d dan Muhammad. Penilaian ulama terhadap Muhammad sendiri adalah dha’if dalam meriwayatkan hadis.

4. Hadis riwayat al-Baihaqi no. 555[25] menyatakan bahwa Rasulullah SAW. bersabda:

ما أخبرنا أبو الحسن محمد بن القاسم ثنا أبو إسحاق إبراهيم بن أحمد بن رجاء ثنا أبو الحسين الغازي ثنا محمد بن حميد ثنا إبراهيم بن المختار ثنا معاوية عن الزهري عن عروة عن عائشة رضي الله عنها : أن النبي صلى الله عليه و سلم قال : الذكر الذي لا يسمعه الحفظة يزيد على الذكر الذي يسمعه الحفظة سبعين ضعفا 

Artinya: zikir yang tidak terdengar oleh Malaikat Penjaga melebihi zikir yang terdengar oleh Malaikat Penjaga. -salah satu rawi hadis di atas dinilai dha’if yaitu Mu’awiyah

Kaifiyat Zikir

Adapun kaifiyat zikir yang diajarkan oleh Syaikh ‘Abd al-Wahab Rokan al-Khalidi Naqsyabandi, sesuai dengan adab yang berlaku di kalangan penganut tarekat, yaitu:

1. Menghimpun segala pengenalan dalam hati
2. Menghadapkan diri (perhatian) kepada Allah.
3. Membaca istigfar sekurang-kurangnya 3 kali.
4. Membaca al-Fatihah dan al-Ikhlash.
5. Menghadirkan roh Syaikh tarekat Naqsyabandiyah.
6. Menghadiahkan pahala bacaan kepada Syaikh tarekat Naqsyabandiyah.
7. Melaksanakan rabithah.

Rabithah 

Rabithah adalah menghadirkan rupa guru atau syaikh ketika hendak berzikir. Hal ini sebagai salah satu kelanjutan dari salah satu ajaran yang terdapat pada tarekat ini yaitu wasilah. Wasilah adalah mediasi melalui seorang pembimbing spiritual (mursyid) sebagai suatu hal yang dibutuhkan untuk kemajuan spiritual.

Ada 6 cara dalam melakukan rabithah, yaitu:

1. Menghadirkannya di depan mata dengan sempurna

2. Membayangkan di kiri dan kanan, dengan memusatkan perhatian kepada rohaniah sampai terjadi sesuatu yang gaib. Apabila rohaniah mursyid yang dijadikan rabithah itu lenyap, maka murid dapat menghadapi peristiwa yang terjadi. Tetapi jika peristiwa itu lenyap, maka murid harus berhubungan kembali dengan rohaniah guru, sampai peristiwa yang dialami tadi muncul kembali.

3. Mengkhayalkan rupa guru di tengah-tengah dahi. Memandang rabithah di tengah-tengah dahi itu menurut kalangan tarekat lebih kuat dapat menolak getaran dan lintasan dalam hati yang melalaikan ingat kepada Allah.

4. Menghadirkan rupa guru di tengah-tengah hati

5. Mengkhayalkan rupa guru di kening kemudian menurunkannya ke tengah hati.

6. Meniadakan dirinya dan menetapkan keberadaan guru.[26]

Adapun dasar hukum rabithah itu adalah al-Qur’an, sunnah dan pendapat para Imam. Dalil al-Qur’an, yaitu: (1) Firman Allah QS. al-Maidah: 35, (2) QS. Ali Imran: 31.

Dalil sunnahnya yaitu salah satu riwayat yang berbunyi:

أن أبابكر الصديق رضي الله عنه شكا للنبي ص م عدم إنفكاكه ص م عنه حتى فى الخلاء[27]

Artinya: Bahwa Abu Bakar al-Shiddiq megadukan halnya kepada Rasulullah SAW. bahwa ia tidak pernah terpisah dari Nabi sampai pun ketika masuk ke dalam WC.

-sejauh ini penulis belum menemukan siapa yang meriwayatkan hadis ini. 

Khatm Khwajakan

Khatm artinya penutup, dan khwajagan berasal dari bahasa Persia, artinya syaikh-syaikh. Khatm khwajagan artinya serangkaian wirid, ayat shalawat, dan doa yang menutup setiap zikir berjama’ah. Khatam dianggap sebagai tiang ketiga Naqsyabandiyah, setelah zikir ism al-dzat dan zikir nafi wa itsbat. Khatam dibacakan di tempat yang tidak ada orang luar, dan pintu harus tertutup. Tidak seorang pun boleh ikut serta tanpa izin terlebih dahulu dari syaikh. Selain itu para peserta khatam haruslah dalam keadaan berwudlu.[28]

Menurut Muhammad Amin al-Kurdi, khatm khwajagan terdiri atas:

1. Pembacaan istigfar 15 atau 25 kali, didahului oleh sebuah doa pendek;
2. Melakukan rabithah bi al-syaikh sebelum berzikir;
3. Membaca 7 kali surah al-Fatihah;
4. Membaca shalawat 100 kali;
5. Membaca surah al-Insyirah 77 kali;
6. Membaca surah al-Ikhlash 1001 kali;
7. Membaca 7 kali surah al-Fatihah;
8. Membaca shalawat 100 kali;
9. Membaca doa;
10. Membaca ayat-ayat tertentu dari alQur’an.[29]

Kesimpulan

Dari pemaparan di atas penulis menyimpulkan: 

§ ciri yang menonjol dari tarekat Nasyabandiyah yang didirikan oleh Muhammad bin Muhammad Baha’ al-Din al-Uwaisi al-Bukhari Naqsyabandi adalah lebih mengutamakan zikir khafi (dalam hati) tanpa mengenal waktu; baik itu waktu pagi, siang, petang, duduk, berdiri dll.

§ Tidak ada manhaj khusus bagi tarekat Naqsyabandiyah dalam memahami hadis Nabi. Adapun hadis yang digunakan sebagai dalil dari ritual mereka pun kualitasnya banyak yang “dha’if”. 

Daftar Pustaka

Mulyati, Sri. Mengenal dan Memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia. Jakarta: Fajar Interpratama Offset, 2005

Sa’id, H.A.Fu’ad Hakikat Tarekat Naqsyabandiyah. Jakarta: PT. Al-Husna Zikra, 1996

Amar, Imron Abu. Di Sekitar Masalah Tariqat (Naqsyabandiyah). Kudus: “Menara” Kudus, 1980

Bruinessen, Martin Van. Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia. Bandung: Mizan, 1992

Ahmad bin Abu Bakar bin Isma’il. Ittihaf al-Khairah al-Muhirrah. Juz 6

CD ROM Mausu’ah al-Hadits al-Syarif

CD ROM al-Maktabah al-Syamilah

Catatan Kaki

[1] Sri Mulyati, Mengenal dan Memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia, (Jakarta: Fajar Interpratama Offset, 2005), hlm. 8 

[2] H.A.Fu’ad Sa’id, Hakikat Tarekat Naqsyabandiyah, (Jakarta: PT. Al-Husna Zikra, 1996), hlm. 6 

[3] Imron Abu Amar, Di Sekitar Masalah Tariqat (Naqsyabandiyah), (Kudus: “Menara” Kudus, 1980), hlm. 11 

[4] Sri Mulyati, Mengenal dan Memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia, (Jakarta: Fajar Interpratama Offset, 2005), hlm. 9 

[5] Imron Abu Amar, Di Sekitar Masalah Tariqat (Naqsyabandiyah), (Kudus: “Menara” Kudus, 1980), hlm. 12-13 

[6] Diambil dari nama pendirinya Baha’ al-Din Naqsabandi. Dalam dunia tarekat diakui bahwa pendiri tarekat adalah para tokoh yang mensistematisasikan ajaran-ajaran, metode, ritus, dan amalan secara eksplisit tarekat tersebut. tetapi tokoh tersebut tidaklah dipandang sebagai pencipta tarekat itu, melainkan hanya mengolah ajaran-ajaran yang telah diturunkan kepada mereka melalui garis keguruan terus sampai kepada Nabi SAW. sendiri. 

[7] Ada pendapat bahwa nama al-Uwaisi dicantumkan di belakang namanya, karena ada hubungan nenek dengan Uwais al-Qarani. (lihat dalam Sri Mulyati, Mengenal dan Memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia, (Jakarta: Fajar Interpratama Offset, 2005), hlm. 257) 

[8] Naqsyaban terdiri dari dua kata yaitu naqsy: ukiran atau gambar yang dicap pada sebatang lilin atau benda lainnya, sedangkan band berarti bendera atau layar besar. Jadi secara harfiyah berarti pelukis atau penjagaan bentuk kebahagiaan hati, penyulam, penghias. Jika nenek moyang mereka adalah penyulam, nama itu mungkin mengacu pada profesi keluarga; jika tidak hal itu menunjukkan kualitas spiritualnya untuk melukis nama Allah di atas hati seorang murid. Berarti juga dikenal sebagai seorang yang ahli dalam memberi lukisan kehidupan yang gaib-gaib. (lihat dalam Sri Mulyati, Mengenal dan Memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia, (Jakarta: Fajar Interpratama Offset, 2005), hlm. 89) 

[9] Lihat dalam H.A.Fu’ad Sa’id, Hakikat Tarekat Naqsyabandiyah, (Jakarta: PT. Al-Husna Zikra, 1996), hlm. 23 dan Sri Mulyati, Mengenal dan Memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia, (Jakarta: Fajar Interpratama Offset, 2005), hlm. 89 

[10] Sebuah desa yang letaknya kira-kira 3 mil dari Bukhara 

[11] Sri Mulyati, Mengenal dan Memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia......., hlm. 95 

[12] Sri Mulyati, Mengenal dan Memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia......., hlm. 96 

[13] Sri Mulyati, Mengenal dan Memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia......., hlm. 98 

[14] Kadang ia dipanggil “al-Sarawaki”. Lahir di Pontianak tetapi ibunya berasal dari Sarawak dan ayahnya dari Banjar, Kal-Sel. 

[15] Sri Mulyati, Mengenal dan Memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia......., hlm. 100 

[16] Sri Mulyati, Mengenal dan Memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia......., hlm. 101 

[17] Martin Van Bruinessen, Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia, (Bandung: Mizan, 1992), hlm. 76 

[18] Tingkatan zikir ada 7: Mukasyafah; zikir menyebut “Allah”5000 kali sehari semalam, Latha’if; 7000-11.000 kali dalam sehari semalam, Nafi’; atas pertimbangan Syeikh ditukar zikirnya dengan kalimat lā ilāha illa Allāh, Wuquf Qalbi, Ahdiah, Ma’iah, Tahlil. 

[19] Martin Van Bruinessen, Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia, (Bandung: Mizan, 1992), hlm. 80 

[20] Martin Van Bruinessen, Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia, (Bandung: Mizan, 1992), hlm. 80, dan Sri Mulyati, Mengenal dan Memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia......., hlm. 106-107 

[21] Tujuh titik tersebut yakni qalb (hati), ruh (jiwa), sirr (nurani terdalam), khafi (kedalaman tersembunyi), akhfa (kedalaman paling tersembunyi), nafs nathiqah (akal budi), kull jasad sebenarnya bukan merupakan titik tetapi luasnya meliputi seluruh tubuh. 

[22] Ahmad bin Abu Bakar bin Isma’il, Ittihaf al-Khairah al-Muhirrah, Juz 6, hal. 388 dalam CD ROM al-Maktabah al-Syamilah 

[23] Lihat dalam CD ROM al-Maktabah al-Syamilah 

[24] Lihat dalam CD ROM Mausu’ah al-Hadits al-Syarif 

[25] Lihat dalam CD ROM al-Maktabah al-Syamilah 

[26] Sri Mulyati, Mengenal dan Memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia......., hlm. 111-112 

[27] A.Fu’ad Sa’id, Hakikat Tarekat Naqsyabandiyah, (Jakarta: PT. Al-Husna Zikra, 1996), hlm. 74 

[28] Sri Mulyati, Mengenal dan Memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia......., hlm. 112 

[29] Sri Mulyati, Mengenal dan Memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia......., hlm. 113