Dinasti Kecil Islam di Barat Pada Masa Masa Awal

Advertisement
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Setelah pemerintahan Dinasti Umayyah, digantikan oleh pemerintahan dinasti Abbasiyah. Dinasti Abbasiyah merupakan dinasti kedua dalam sejarah pemerintahan umat Islam. Abbasiyah dinisbatkan kepada al-Abbas paman Nabi Muhammad SAW, Berdirinya dinasti ini sebagai bentuk dukungan terhadap pandangan yang diserukan oleh Bani Hasyim setelah wafatnya Rasulullah SAW. yaitu menyandarkan khilafah kepada keluarga Rasul dan kerabatnya.[1]

Lima tahun setelah berdirinya kekhalifahan Abbasiyah, Abd Al-Rohman muda satu-satunya keturunan dinasti Umayyah yang luput dari pembantaian masal yang menandai naiknya reim baru, tiba disebelah tempat, jauh di daratan Kordova Spanyol satu tahun kemudian, tahun 756 dia mendirikan dinasti yang kelak akan menjadi dinasti yang besar.[2] Ketika itu propinsi pertamanya yang kelak akan mengungguli kemajuan imperium Abbasiyah masih sedang berkembang, begitu pula propinsi-propinsi lain yang segera menyusul. 

Kerajaan Idrisiyah di Maroko (788—974) adalah dinasti Syiah pertama dalam sejarah, mereka menghimpun kekuatannya dari kalangan Ber-Ber yang meskipun kaum Suni, mereka siap mendukung perpecahan. Karena terkepung diantara Fatimiyah Mesir dan Umayah Spanyol, dinasti mereka akhirnya hancur oleh serangan mematikan yang dilancarkan oleh seorang jendral utusan Khalifah Al-Hakam II dari Kordova.[3]

Makalah Dinasti Kecil di Barat Masa Awal Islam

Dinasti Fatimiah merupakan sebuah dinasti yang didirikan di benua Afrika pada penghujung tahun 200 an Hijriah atau sekitar tahun 910 Masehi, dinasti ini berpahaman syiah, dari permulaan pembentukannya dinasti ini bertujuan untuk menjalankan ideologi syiah dan ingin melepaskan diri dari kekuasaan Daulah Abbasiah di Baghdad yang berideologi Sunnah. Kondisi politik dunia Islam ketika Dinasti Fatimiah didirikan agak sedikit tidak terkendali, hal ini bisa di lihat dengan munculnya banyak dinasti-dinasti kecil di berbagai belahan dunia baik di timur dan barat Baghdad.

Di barat Baghdad ada, Dinasti Idrisi di Maroko (172-375 H / 788 M-985 M), Dinasti Aghlabi (184 H-296 H / 800 M-908 M), Dinasti Thulun di Mesir (254 H-292 H / 868 M-967 M), Dinasti Ikhsyidi (323 H- 357 H / 934 M-967 M).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah penulis paparkan, maka penulis menetapkan rumusan masalah sebagai berikut ;

1. Dinasti kecil apa saja yang muncul di barat dan bagaimana peranan peranan negara kecil tersebut?
2. Factor- faktor apa yang menyebabkan munculnya dinasti kecil di barat?

BAB II
PEMBAHASAN

A. DINASTI KECIL DI BARAT 

1. Dinasti kecil di barat

Dinsti kecil sebagian besar berasal dari Arab memecah wilayah kekuasaan Khalifah dari Barat. Diantaranya adalah:[4]

a. Dinasti Idrisi di Maroko (172 H-375 H / 788 M-985 M)

Kerajaan ini didirikan oleh Indris bin Abdullah, cucu Hasan putra Ali. Dia adalah salah seorang tokoh bani Alawiyyin (nisyah Ali bin Abu Thalib). Pada tahun 172 H/788 M, Idris dilantik sebagai imam, dan terbentuklah kerajaan Idrisi dengan ibu kota Walila. Namun masa pemerintahannya hanya bertahan selama 5 tahun.[5]

Selanjutnya Idris bin Idris bin abdullah (Idris II) menggantikan ayahnya sebagai pemerintah (177 H/793 M). Dengan pusat pemerintahannya dipindahkan ke Fez sebagai Ibu kota yang baru pada tahun 192 H.[6]

Ketika Idris II wafat, Pemerintahannya diganti oleh Muhammad Al-Muntashir (213 H / 828 M). Pada masa ini, kerajaan Idrisi berpecah-pecah. Akibatnya kerajaan menjadi lemah, terutama selepas Muhammad Al-Muntashir meninggal, pemerintahannya semakin rapuh.

Kerajaan indrisi adalah kerajaan Syiah pertama dalam sejarah. Zaman kerajaan Indrisi (172-314 H/789-926 M) adalah suatu jangka waktu yang cukup lama dibandingkan dengan kerajaan-kerajaan yang lain. Dalam aspek dakwahnya, Idrisi yang membawa Islam dan mampu meyakinkan penduduk Marocco dan sekitarnya.

2. Dinasti Aghlabi (184 H-296 H / 800 M-908 M).

Dinasti ini didirikan oleh Ibrahim bin Aghlab yang menjadi gubernur di Afrika untuk memerangi orang-orang barbar. Beliau adalah anak pegawai Khurasan, tentara bani Abbasiyah. Pada tahun 179 H/795 M, Ibrahim mendapatkan hadiah di daerah Tunisia dari Khalifah Harun Ar-Rasyid sebagai imbalan kepada jasa-jasanya dan kepatuhannya membayar cukai tahunan.[7]

Pada masa dinasti aghlabiayah, sycilia antara tahun 903/909M, diperintah oleh lima orang amir atau sahib,yang terakhir Ahmad bin Abi Husain. Selama masa enam tahun berjaya, amir-amir aghlabiyah sudah bisa menciptakaan uang sendiri dan menyebut nama-nama mereka disejajarkan dengan khlifah Abbasiyah Bagdad dalam setiap khotbah jum’at di mesjid-mesjid Siciliya.

Pada zaman kepeimpinananya Ibrahim berjaya mengadakan perjanjian damai dengan kerajaan Idrisi, menjadikan kota Qairuwan sebagai ibu kota pemerintahan serta membangun Al-Qadim. Ibrahim berjaya memadamkan pertikaian antara Kharijiyah dan barbar.
Dinasti Bani Aghalab di perintah oleh 11 khalifah, antara lain:[8]

1) Ibrahim (179 H/795 M)
2) Abdullah I (197 H/812 M)
3) Ziyaadatullah (210 H/817 M)
4) Abu Ilqal Al-Aghlab (223 H/838 M)
5) Muhammad I (226 H/841 M)
6) Ahmad (242 H/856 M)
7) Ziyaadatullah II (248 H/863 M)
8) Abu Al-gharaniq Muhammad II (250 H/863 M)
9) Ibrahim II (261 H/875 M)
10) Abdullah II (289 H/902 M)
11) Ziyaadatullah III (290-296 H/903-909 M.

Pada masa Aghlab penduduk Sycilia terdiri berbagai ras dan agama Kristen, Islam, yahudi, Bangsa sycilia, Yunani, Lombar, Arab, Barbar, Persia, Negro.Bangsa Arab menjadi penguasa, mayoritas muslim sycilia berasal dari keturunan Barbar,Arab dan Sycilia (mualafd di Spanyol). Kebanyakan mereka menganut Mazhab maliki. Val masara di dominasi oleh muslim, di Val di Noto umat islam hanya sedikit, sedangkan di Val Demone di tempati oleh banyak kristen. Dan pada zaman daulah Fatimiyah, salah seorang gubernurnya ali bin Ahmad bin Alfawaris, menumbangkan Gubernur aghlabiyh terakhir, Ahmad bin Husain,pada tahun 909M, pada tahun itu di Afrika memang ada pergolakan dan Dinasti Aghlabiyah jatu ketangan Dinasti Fatimiyah.[9]

3. Dinasti Thulun di Mesir (254 H-292 H / 868 M-967 M)

Pendiri dinasti Thulun yang berumur pendek (868-905) di Mesir dan Suriah adalah Ahmad Ibn Thulun,[10] ayahnya seorang Turki dari Fraghanah. Pada 817 dipersembahkan oleh penguasa Samaniyah di Bukhara sebagai hadiah untuk Al-Ma’mun pada 868, Ahmad berangkat ke Mesir sebagai pimpinan tentara untuk gubernur Mesir. Disini ia berusaha segera mendapatkan kemerdekaan dirinya, ketika menghadapi tekanan keuangan karena adanya pemberontakan Wangsa Zanj. 

Khalifah Al-Mu’tamid (870-892) meminta bantuan finansial komandan pasukannya yang seorang Mesir itu, tetapi permintaan ini tidak dipenuhi. Peristiwa ini menjadi titik balik yang mengubah sejarah kehidupan Mesir selanjutnya. Peristiwa ini juga menandai bangkitnya sebuah negara merdeka di lembah sungai Nil yang kedaulatannya bertahan selama abad pertengahan hingga saat itu, sebagian kekayaan Mesir diberikan ke Baghdad dan sebagian lainnya merasuk disaku para gubernur yang datang silih berganti.[11]

Ketiaka ia menginjakkan kakinya pertama kali di kairo, Ahmad Ibn Thulun merasa fusthat karena ibu kota Mesir dan kawasan al-Askar sudah tidak memadai lagi, kemudian dia berinisiatif membuka dan mengembangkan satu kota baru sebagai ibu kota. Dan di kawasaa ini, Ahmad ibn Thulun mendirikan kompleks istanah yang menyatu dengan bangunan masjid. Masjid inilah kelak mashur dengan nama masjid ibn Thulun, dan masih banyak lagi peninggalan Dinasti Thuluniyah lainnya yang tak kalah pentingnya adalah masjid al-tannur yang terletak dipuncak bukit muqaththam dan sebagainya.

Pada masa pemerintahan ahmad Ibn Thulun tidak hanya terhenti disitu saja. Beberapa proyek perbaikan dan renovasi terhadap meninggalan masa sebelumnya juga di lakukan, seperti perbaikan saluran air dan perbaikan menara Alexandria.[12]

4. Dinasti Ikhsyidi (323 H- 357 H / 934 M-967 M)

Tidak lama berselang setelah tuntasnya pemberontakan Abbasiyah di Mesir dan Suriah, muncul lagi dinasti Turki lain yang masih keturunan Fraghanah,[13] yakni Iksidiyah yang didirikan di Fusthta. Pendiri dinasti ini adalah Muhammad Ibn Thughj (935-946) setelah membereskan kekacauan di Mesir mendapatkan anugrah gelar kebangsawanan ala Iran, Ikhsyid dari Khalifah Al-Radi pada tahun 939. 

Dua tahun kemudian dinasti Iksidiyah mengikuti langkah Thulun sebelumnya memasukkan wilayah Suriah-Palestina ke dalam negara semi-independen yang dipimpinnya. Tahun berikutnya Mekah dan Madinah juga dimasukkan ke dalam wilayahnya. Selama menerpa abad sejak saat itu, nasib Hijaz, satu wilayah sengketa antara timur dan barat, berada dalam kekuasaan Mesir. Seperti raja-raja lainnya, penguasa Ikhsidiyah terutama sebagai pendiri dinasti, menghabiskan uang negara dengan boros dan berlebihan demi kesenangan orang-orang dekatnya.

Diceritakan bahwa jatah harian untuk dapur Muhammad mencakup seratus ekor domba, limaratus unggas, seribu burung dara dan seratus guci gula-gula. Ketika diungkapkan secara puitis kepada Kafur bahwa gempa bumi yang sering terjadi pada masa itu adalah disebabkan tarian hura-hura yang dilakukan bangsa Mesir, orang Abisinia yang yang berbangga hati menghadiahkan uang seribu Dinar kepada penyair yang “Ahli Seismograf” itu. 

Selama periode kekuasaannya, dinasti Ikhsidiah tidak memberikan kontribusi apapun bagi kehidupan seni dan sastra di Mesir maupun Suriah. Selain itu, tidak ada karya-karya publik yang lahir dari tangan mereka. Refresentasi terakhir dinasti ini adalah seorang anak lelaki berusia sebelas tahun, Abu Al-Fawaris Ahmad, yang pada tahun 969 kehilangan kekuasaan atas negerinya dan menyerah kepada jendral tenar dari dinasti Fatimiyah, Jawhar.[14]

Pada saat dinasti-dinasti kecil sebagian besar berasal dari Arab memecah wilayah kekuasaan khalifah dari Barat, proses yang sama telah terjadi di Timur terutama dilakukan oleh orang Turki dan persia.

Pada tahun 358H/969M, Kerajaan Iksidiyah sejarahnya dalam kerajaan ini, serta ilmu pengetahuan dan budayanya, kemudian lahirlah ilmuan seperti abu Ishaq al-mawazi, Hasan Ibn Rasyid al-Mishri dll. Ikhsidiyah juga mewariskan bangunan mega seperti Istana al-Mukhtar di Raudah dan Taman Bustan al-Kafuri.[15]

B. FAKTOR-FAKTOR MUNCULNYA DINASTI KECIL DI BARAT 

Munculnya dinasti-dinasti kecil yang berada di Barat dikarenakan beberapa faktor antaranya:[16]

a. Luasnya wilayah kekuasaan daulat Abbasiyah sementara komunikasi pusat dengan daerah sulit dilakukan. Bersamaan dengan itu, tingkat saling percaya di kalangan para penguasa dan pelaksana pemerintahan sangat rendah.

b. Dengan profesialisasi angkatan bersenjata, ketergantungan khalifah kepada mereka sangat tinggi.

c. Keuangan negara sangat sulit karena biaya yang dikeluarkan untuk tentara bayaran sangat besar. Pada saat kekuatan militer menurun, khalifah tidak sanggup memaksa pengiriman pajak ke Baghdad.


BAB III
KESIMPULAN

Dari berbagai pemaparan materi diatas maka penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:

Dinasti-dinasti kecil yang muncul pada masa daulah Abbasiyah di barat

1. Dinasti kecil di barat: dinasti thulun, dinasti iksidiyah, dinasti idrisiyah dan dinasti aghlabiyah.

2. Munculnya dinasti-dinasti kecil yang berada di Barat dikarenakan beberapa faktor antaranya:

a. Luasnya wilayah kekuasaan daulat Abbasiyah sementara komunikasi pusat dengan daerah sulit dilakukan. Bersamaan dengan itu, tingkat saling percaya di kalangan para penguasa dan pelaksana pemerintahan sangat rendah.

b. Dengan profesialisasi angkatan bersenjata, ketergantungan khalifah kepada mereka sangat tinggi.

c. Keuangan negara sangat sulit karena biaya yang dikeluarkan untuk tentara bayaran sangat besar. Pada saat kekuatan militer menurun, khalifah tidak sanggup memaksa pengiriman pajak ke Baghdad.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah,Taufik, Ensiklopedi Dunia Islam, Jilid. II; Jakarta: PT. Ikhtiar Baru 

Van Hoeve, T.t

Amstrong, Karem. Islam dan Sejarah Singkat (terjemahan A. Short History). Yogyakarta: Jendela. 2005.

A. Hasyimy, Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta; Bulan Bintang, 1979.

D. G Kampouroglous, Sosial science abstracts, 1930

Glasse, Chril, Ensiklopedi Islam, PT. Raja Grafindo Persada; Jakarta: 1999

Ibn Taghri-Birdi, al-Nujum Al-Zahirah Fi Mulk Mishr Wa Al-Qahirah, Leiden: 1855

Ibn Sa’id, Al-Mughrib Fi Hula Al-Maghrib, Leiden: 1899 

Lane-Poole, Stanley, The mohammadan dinasties (londen: 1893) h. 35 dan E. De Zambaur, Manuel de geneologie et de chronologie pour histoiri the islam, hanover: 1927 .

Mubarak Jaih, Sejarah Peradaban Islam, bandung; CV. Pustaka Islamika, 2008.

Philip, K. Hitti,. History of Arabs (terjemahan). Jakarta: Serambi Ilmu Semesta. 2006

.Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam III. Jakarta: Al-Husna Zikra. 2000 

Sunanto, Musyfirah, Sejarah islam klasik, Jakarta cet 1. 2001

W. Montgomery, Watt. Kejayaan Islam. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya. 1990.

Yatim, Badry. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2007.


Catatan Kaki

[1]Chril Glasse, Ensiklopedi Islam, (Cet.II, PT. Raja Grafindo Persada; Jakarta: 1999) h. 1 

[2]Ibid ., H. 4-5 

[3] K. Hitti, Philip. History of Arabs (terjemahan). Jakarta: (Serambi Ilmu Semesta. 2006). H.570 

[4] K. Hitti, Philip. History of Arabs (terjemahan). Jakarta: (Serambi Ilmu Semesta. 2006). H.573 

[5] Lihat Stanley Lane-Poole, The mohammadan dinasties (londen: 1893) h. 35 dan E. De Zambaur, Manuel de geneologie et de chronologie pour histoiri the islam (hanover: 1927) h. 65. 

[6]Kota ini di bangun oleh Idris Ibn Abi Zar, (Al-Fasi), Rawd al-Qirtas Fi Akhbar Al-Mulk Al-Maghrib (Upsala, 1843) h. 15. 

[7] D. G Kampouroglous, Sosial science abstracts, (Jilid II, 1930) h. 273 

[8] Tentang para penguasa Aghlabiyah lainnya, lihat Lane-poole, h. 37,zambaur h. 67-68. 

[9] Musrifah sunanto, Sejarah Islam Klasik (perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam), Cet 3,Jakarta: Kencana, 2007. H 161-162. 

[10] Ibn Taghri-Birdi, al-Nujum Al-Zahirah Fi Mulk Mishr Wa Al-Qahirah (Jilid. II; Leiden: 1855) h. 1, Taufik Abdullah, Ensiklopedi Dunia Islam (Jilid. II; Jakarta: PT. Ikhtiar Baru Van Hoeve, T.t) h. 108 

[11] Yatim, Badry. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: (Raja Grafindo Persada. 2007). H.280 

[12] http://numesir. Com/index.php?option=com content viw=article.id=26:jejak peninggalan thuluni.catid=10: safarihistori.itemik=9.

[13] Ibn Sa’id, Al-Mughrib Fi Hula Al-Maghrib, (Leiden: 1899) h. 5. 

[14] K. Hitti, Philip. History of Arabs (terjemahan). Jakarta: (Serambi Ilmu Semesta. 2006). H.577 

[15] A. Hasyimy, Sejarah Kebudayaan Islam (Jakarta; Bulan Bintang, 1979), h. 34. 

[16] A. Hasyimy, Sejarah Kebudayaan Islam,( Jakarta; Bulan Bintang, 1979) h.34 



0 Response to "Dinasti Kecil Islam di Barat Pada Masa Masa Awal"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!