Biografi Lengkap Ahmad bin Hanbal

Advertisement
Tongkronganislami.net - Ia adalah Syaikhul Islam dan Penghulu kaum Muslimin pada masanya, al-Hafizh, al-Hujjah, Imam, Qudwah, orang yang disepakati keagungan kedudukannya oleh yang pro maupun kontra. Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris bin Abdullah bin Hayyan bin Abdullah bin Anas bin Auf bin Qasith bin Mazin bin Syaiban[1] bin Zulal bin Ismail bin Ibrahim. Beliau lahir pada tanggal 20[2] bulan Rabi’ul awal tahun 164 H atau November 780 M di kota Maru/Merv -kota kelahiran ibu- Baghdad.

Beliau wafat pada hari jum’at bulan Rabi’ul Awal[3] tahun 241 H (855 M) di kota kelahirannya, Baghdad. Laqabnya adalah al-Syaibany[4] al-Marwazy[5] al-Dzuhly al-Baghdady. Beliau merupakan keturunan Arab dari suku Bani Syaiban, sementara kunyahnya adalah Abu Abdillah. Ibunya bernama Shafiyyah binti Maimunah binti Abdul Malik al-Syaibany.

Ketika beliau baru berumur tiga tahun. Kakek beliau, Hanbal, berpindah ke wilayah Khurasan dan menjadi wali kota Sarkhas pada masa pemeritahan Bani Umawiyyah, kemudian bergabung ke dalam barisan pendukung Bani Abbasiyah dan karenanya ikut merasakan penyiksaan dari Bani Umawiyyah. Disebutkan bahwa beliau dahulunya adalah seorang panglima. Nasab beliau bertemu dengan nasab Nabi pada diri Nizar bin Ma’ad bin Adnan yang berarti bertemu nasab pula dengan Nabi Ibrahim.

Biografi Lengkap Imam Abu Hanifah

Masa Menuntut Ilmu Ahmad bin Hanbal

Beliau menimba ilmu di kota Baghdad sejak kecil. Saat itu, kota Baghdad telah menjadi pusat peradaban dunia Islam, yang penuh dengan manusia yang berbeda asalnya dan beragam kebudayaannya, serta penuh dengan beragam jenis ilmu pengetahuan. Di sana tinggal para qari’, ahli Hadits, para sufi, ahli bahasa, filosof, dan sebagainya. Beliau sudah disekolahkan kepada seorang ahli qira’at, pada usia yang masih dini beliau sudah bisa menghafal al-Qur’an. Pada usia 16 tahun[6] beliau juga berguru pada Abu Yusuf, seorang Ahl al-Ra’yi dan salah satu sahabat Abu Hanifah dalam bidang Hadits. Abu Yusuf adalah seorang hakim agung pada pemerintahan Bani Abbasiyah.

Imam Ahmad tertarik untuk menulis Hadits pada tahun 179 H. saat berumur 16 tahun. Beliau terus berada di kota Baghdad mengambil Hadits dari syaikh-syaikh Hadits kota itu hingga tahun 186 H. Beliau melakukan mulazamah kepada syaikhnya, Hasyim bin Basyir bin Abu Hazim al-Wasithiy hingga syaikhnya tersebut wafat tahun 183 H. Disebutkan oleh putra beliau bahwa beliau mengambil Hadits dari Hasyim sekitar 300.000 Hadits lebih. Beliau mulai melakukan perjalanan (mencari hadits) ke Kufah pada tahun 183 H, ke Bashrah pada tahun 186 H, ke Makkah pada tahun 187 H, kemudian ke Madinah, Yaman, Syria, dan Mesopotamia pada tahun 197 H.

Imam Ahmad tumbuh dewasa sebagai seorang anak yatim. Ibunya, Shafiyyah binti Maimunah binti Abdul Malik al-Syaibaniy, berperan penuh dalam mendidik dan membesarkan beliau. Untungnya, sang ayah, bernama Muhammad yang berasal dari tentara Marwa, yang mana beliau wafat dalam usia muda, 30 tahun meninggalkan untuk mereka dua buah rumah di kota Baghdad. Yang sebuah mereka tempati sendiri, sedangkan yang sebuah lagi mereka sewakan dengan harga yang sangat murah. 

Dalam hal ini, keadaan beliau sama dengan keadaan syaikhnya, Imam Syafi’i, yang yatim dan miskin, tetapi tetap mempunyai semangat yang tinggi. Keduanya juga memiliki ibu yang mampu mengantar mereka kepada kemajuan dan kemuliaan. Beliau baru menikah setelah berumur 40 tahun[7] dan memiliki dua orang putera yang terkenal ahli dalam bidang Hadits yaitu Shalih dan Abdullah. Kedua anaknya juga ikut peran andil, yakni memasukkan sejumlah Hadits dalam Musnad ayahnya.

Guru-Guru Ahmad bin Hanbal

Guru-gurunya adalah Hasyim, Sufyan bin Uyainah al-Hilaly, Ibrahim bin Sa’d,[8] Jarir bin Abdul Hamid, Yahya al-Qattan dan Waqi’, Abu Daud al-Tayalisy, Abdurrahman bin al-Mahdy,[9] Husyaim bin Basyir,[10] Jawwad, ‘Ubbad bin Ibad al-Mahlaby, Mu’tamar bin Sulaiman al-Taimy, Ayyub bin Najjar, Yahya bin Abu Zaidah, Ali bin Hasyim bin al-Barid, Qarran bin Tamam, Ammar bin Muhammad al-Tsaury, Abu Yusuf, Jabir bin Nuh al-Hammany, Ali bin Gharrab, Umar bin Ubaid al-Thanafisy, dua saudara dari Ya’la, Muhammad, Mutholib bin Ziyad, Yusuf bin al-Majizun, Khalid bin al-Harits, Basyr bin al-Mufadhal, ‘Ibad bin al-Awwam, Abu Bakar bin ‘Iyasy, Muhammad bin Abdurrahman al-Thafawy, Abdul Aziz bin Abdul Shamit al-Ammy, Abdah bin Sulaiman, Yahya bin Abdul Malik bin Abi Ghaniyyah, Nadlar bin Ismail al-Bajaly, Abu Khalid al-Ahmar, Ali bin Tsabit al-Jazary, Abu Ubaidah al-Haddad, Ubaidah bin Humaid al-Hadza’, Muhammad bin Salmah al-Harrany, Abu Muawiyah al-Dlarir, Abdullah bin Idris, Marwan bin Muawiyah, Ghundar, Ibnu ulayyah, Mukhlid bin Yazid al-Harrany, Hafsh bin Ghiyats, Abdul Wahab al-Tsaqafy, Muhammad bin Fudlail, Abdurrahman bin Muhammad al-Mahariby, Walid bin Muslim, Yahya bin Sulaim,[11] Muhammad bin Yazid al-Wasithy, Muhammad bin al-Hasan al-Muzny al-Wasithy, Yazid bin Harun, Ali bin ashim, Syu’aib bin Harb, Miskin bin Bukair, Anas bin ‘iyadl al-Laitsy, Ishaq bin al-Azraq, Muadz bin Muadz, Muhammad bin Basyr, Zaid bin al-Hubbab, Muadz bin Hiayam, Abdul A’la al-Syami, Muhammad bin Abu Ady, Abdullah bin Numair, Abdullah bin Bakr, Muhammad bin Idris, al-Syafi’i, Abu Ashim, Abdur Razzaq, Abu Na’im, Affan, Husain bin Ali al-Ju’fy, Abu al-Nadlr, Yahya bin Adam, Abu Abdurrahman al-Muqri’, Hajjaj bin Muhammad, Abu ‘Amir al-Aqdy, Abdus Shamad bin Abdul Warits, Rauh bin Ubadah, Aswad bin Amir, Wahab bin Jarir, Yunus bin Muhammad, Sulaiman bin Harb, Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’d, Qutaibah bin Sa’id, Ali bin al-Madiny, Abu Bakar bin Abu Syaibah, Harun bin Ma’ruf,[12] dan lain-lain.

Murid-Murid Ahmad bin Hanbal

Murid-muridnya adalah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Muslim bin al-Hajjaj al-Naisabury, Abu Daud, Ibn Mahdi, al-Syafi’i, Abul Walid, Abdur Razaq, Waki’, Yahya bin Ma’in, Ali bin al-Madiny, al-Husai bin Mansyur,[13] Ahmad bin al-Hasan, Ibnu Majah, al-Nasa’i, al-Turmudzi, dua anak beliau (Shalih dan Abdullah), sepupunya (Hanbal bin Ishaq), Abdul Razaq, al-Hasan bin Musa al-Asyab, Abu Abdillah al-Syafi’i, Ali bin al-Madiny, Yahya bin Muayyan, Duhaim, Ahmad bin Shalih, Ahmad bin Abu al-Hawary, Muhammad bin Yahya al-Dzahily, Ahmad bin Ibrahim al-Dauraqy, Ahmad bin al-Farrat, al-Hasan bin al-Shabah al-Bazzar, al-Hasan bin Muhammad bin al-Shabah al-Za’farany, Hajjaj bin al-Syair, Raja’ bin Murajja, Salmah bin Syabib, Abu Qalabah al-Raqasyi, al-Fadhl bin Sahl al’A’raj, Muhammad bin Manshur al-Thusy, Ziyad bin Ayyub, Abbas al-Daury, Abu Zar’ah, Abu Hatim, Harb bin Ismail al-Kirmany, Ishaq al-Kusaj, Abu Bakar al-Atram, Ibrahim al-Harby, Abu Bakar al-Murawwidzi, Abu Zar’ah al-Dimasyqy, Baqy bin Mukhlid, Ahmad bin Ashram al-Mughfily, Ahmad bin Manshur al-Ramady, Ahmad bin Mula’ib, Ahmad bin Abu Khaitsumah, Musa bin Harun, Ahmad bin Ali al-Abbar, Muhammad bin Abdullah Muthayyan, Abu Thalib Ahmad bin Humaid, Ibrahim bin Hani’ al-Naisabury, anaknya (Ishaq bin Ibrahim), Badar al-Maghazily, Zakaria bin Yahya al-Naqid, Yusuf bin Musa al-Harby, Abu Muhammad Fauran, ‘Ubdus bin Malik al-‘Athar, Ya’qub bin Bukhtan, Muhanni bin Yahya al-Syami, Hamdan bin Ali al-Warraq, Ahmad bin Muhammad al-Qadly al-Burty, al-Husain bin Ishaq al-Tustary, Ibrahim bin Muhammad bin al-Harits al-Ashbahany, Ahmad bin Yahya Tsa’lab, Ahmad bin al-Hasan bin Abdul Jabbar al-Shufy, Idris bin Abdul Karimal-Haddad, Umar bin Hafsh al-Sadusy, Abu Abdullah Muhammad bin Ibrahim al-Busanjy, Muhammad bin Abdurrahman al-Samy, Abdullah bin Muhammad al-Baghawy,[14] dan lain-lain.

Mihnah dan Kehidupan Politik Ahmad bin Hanbal

Keteguhan di Masa Penuh Cobaan:

Telah menjadi keniscayaan bahwa kehidupan seorang mukmin tidak akan lepas dari ujian dan cobaan, terlebih lagi seorang alim yang berjalan di atas jejak para nabi dan rasul. Dan Imam Ahmad termasuk di antaranya. Beliau mendapatkan cobaan dari tiga orang khalifah Bani Abbasiyah selama rentang waktu 16 tahun.

Pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah, dengan jelas tampak kecondongan khalifah yang berkuasa menjadikan unsur-unsur asing (non-Arab) sebagai kekuatan penunjang kekuasaan mereka. Khalifah al-Makmun menjadikan orang-orang Persia sebagai kekuatan pendukungnya, sedangkan al-Mu’tashim memilih orang-orang Turki. Akibatnya, justru sedikit demi sedikit kelemahan menggerogoti kekuasaan mereka. Pada masa itu dimulai penerjemahan ke dalam bahasa Arab buku-buku falsafah dari Yunani, Rumania, Persia, dan India dengan sokongan dana dari penguasa. Akibatnya, dengan cepat berbagai bentuk bid’ah merasuk menyebar ke dalam akidah dan ibadah kaum muslimin. Berbagai macam kelompok yang sesat menyebar di tengah-tengah mereka, seperti Qadhariyah, Jahmyah, Asy’ariyah, Rafidhah, Mu’tazilah, dan lain-lain.

Kelompok Mu’tazilah, secara khusus, mendapat sokongan dari penguasa, terutama dari Khalifah al-Makmun. Mereka, di bawah pimpinan Ibnu Abi Daud, mampu mempengaruhi al-Makmun untuk membenarkan dan menyebarkan pendapat-pendapat mereka, di antaranya pendapat yang mengingkari sifat-sifat Allah, termasuk sifat kalam (berbicara). Berangkat dari pengingkaran itulah, pada tahun 212, Khalifah al-Makmun kemudian memaksa kaum muslimin, khususnya ulama mereka, untuk meyakini kemakhlukan al-Qur’an.

Sebenarnya Harun al-Rasyid, khalifah sebelum al-Makmun, telah menindak tegas pendapat tentang kemakhlukan al-Qur’an. Selama hidupnya, tidak ada seorang pun yang berani menyatakan pendapat itu sebagaimana dikisahkan oleh Muhammad bin Nuh, Aku pernah mendengar Harun al-Rasyid berkata, Telah sampai berita kepadaku bahwa Bisyr al-Muraisiy mengatakan bahwa al-Qur’an itu makhluk. Merupakan kewajibanku, jika Allah menguasakan orang itu kepadaku, niscaya akan aku hukum bunuh dia dengan cara yang tidak pernah dilakukan oleh seorang pun?? Tatkala Khalifah al-Rasyid wafat dan kekuasaan beralih ke tangan al-Amin, kelompok Mu’tazilah berusaha menggiring al-Amin ke dalam kelompok mereka, tetapi al-Amin menolaknya. Baru kemudian ketika kekhalifahan berpindah ke tangan al-Makmun, mereka mampu melakukannya.

Untuk memaksa kaum muslimin menerima pendapat kemakhlukan al-Qur’an, al-Makmun sampai mengadakan ujian kepada mereka. Selama masa pengujian tersebut, tidak terhitung orang yang telah dipenjara, disiksa, dan bahkan dibunuhnya. Ujian itu sendiri telah menyibukkan pemerintah dan warganya baik yang umum maupun yang khusus. Ia telah menjadi bahan pembicaraan mereka, baik di kota-kota maupun di desa-desa di negeri Irak dan selainnya. Telah terjadi perdebatan yang sengit di kalangan ulama tentang hal itu. Tidak terhitung dari mereka yang menolak pendapat kemakhlukan al-Qur’an, termasuk di antaranya Imam Ahmad. Beliau tetap konsisten memegang pendapat yang hak, bahwa al-Qur’an itu kalamullah, bukan makhluk.

Al-Makmun bahkan sempat memerintahkan bawahannya agar membawa Imam Ahmad dan Muhammad bin Nuh ke hadapannya di kota Thursus. Kedua ulama itu pun akhirnya digiring ke Thursus dalam keadaan terbelenggu. Muhammad bin Nuh meninggal dalam perjalanan sebelum sampai ke Thursus, sedangkan Imam Ahmad dibawa kembali ke Bagdad dan dipenjara di sana karena telah sampai kabar tentang kematian al-Makmun (tahun 218). Disebutkan bahwa Imam Ahmad tetap mendoakan al-Makmun.

Sepeninggal al-Makmun, kekhalifahan berpindah ke tangan putranya, al-Mu’tashim. Dia telah mendapat wasiat dari al-Makmun agar meneruskan pendapat kemakhlukan al-Qur’an dan menguji orang-orang dalam hal tersebut; dan dia pun melaksanakannya. Imam Ahmad dikeluarkannya dari penjara lalu dipertemukan dengan Ibnu Abi Duad dan teman-temannya. Mereka mendebat beliau tentang kemakhlukan al-Qur’an, tetapi beliau mampu membantahnya dengan bantahan yang tidak dapat mereka bantah. Akhirnya beliau dicambuk sampai tidak sadarkan diri lalu dimasukkan kembali ke dalam penjara dan mendekam di sana selama sekitar 28 bulan? atau 30-an bulan menurut yang lain-. Selama itu beliau shalat dan tidur dalam keadaan kaki terbelenggu.

Selama itu pula, setiap harinya al-Mu’tashim mengutus orang untuk mendebat beliau, tetapi jawaban beliau tetap sama, tidak berubah. Akibatnya, bertambah kemarahan al-Mu’tashim kepada beliau. Dia mengancam dan memaki-maki beliau, dan menyuruh bawahannya mencambuk lebih keras dan menambah belenggu di kaki beliau. Semua itu, diterima Imam Ahmad dengan penuh kesabaran dan keteguhan bak gunung yang menjulang dengan kokohnya.

Sakit dan Masa Wafat Ahmad bin Hanbal

Pada akhirnya, beliau dibebaskan dari penjara. Beliau dikembalikan ke rumah dalam keadaan tidak mampu berjalan. Setelah luka-lukanya sembuh dan badannya telah kuat, beliau kembali menyampaikan pelajaran-pelajarannya di masjid sampai al-Mu’tashim wafat.

Selanjutnya, al-Watsiq diangkat menjadi khalifah. Tidak berbeda dengan ayahnya, al-Mu’tashim, al-Watsiq pun melanjutkan ujian yang dilakukan ayah dan kakeknya. Dia pun masih menjalin kedekatan dengan Ibnu Abi Daud dan teman-temannya. Akibatnya, penduduk Bagdad merasakan cobaan yang kian keras. Al-Watsiq melarang Imam Ahmad keluar berkumpul bersama orang-orang. Akhirnya, Imam Ahmad bersembunyi di rumahnya, tidak keluar darinya bahkan untuk keluar mengajar atau menghadiri shalat jamaah. Dan itu dijalaninya selama kurang lebih 5 tahun, yaitu sampai al-Watsiq meninggal tahun 232 H.

Sesudah al-Watsiq wafat, al-Mutawakkil naik menggantikannya. Selama 2 tahun masa pemerintahannya, ujian tentang kemakhlukan al-Qur’an masih dilangsungkan. Kemudian pada tahun 234 H, dia menghentikan ujian tersebut. Dia mengumumkan ke seluruh wilayah kerajaannya larangan atas pendapat tentang kemakhlukan al-Qur’an dan ancaman hukuman mati bagi yang melibatkan diri dalam hal itu. Dia juga memerintahkan kepada para ahli hadits untuk menyampaikan hadits-hadits tentang sifat-sifat Allah. Maka demikianlah, orang-orang pun bergembira pun dengan adanya pengumuman itu. Mereka memuji-muji khalifah atas keputusannya itu dan melupakan kejelekan-kejelekannya. Di mana-mana terdengar doa untuknya dan namanya disebut-sebut bersama nama Abu Bakar, Umar bin al-Khaththab, dan Umar bin Abdul Aziz.

Menjelang wafatnya, beliau jatuh sakit selama sembilan hari. Mendengar sakitnya, orang-orang pun berdatangan ingin menjenguknya. Mereka berdesak-desakan di depan pintu rumahnya, sampai-sampai sultan menempatkan orang untuk berjaga di depan pintu. Akhirnya, pada permulaan hari Jumat tanggal 12 Rabi’ul Awwal 241 M dalam usia 77 tahun,[15] beliau menghadap kepada rabbnya menjemput ajal yang telah dientukan kepadanya. Kaum muslimin bersedih dengan kepergian beliau. Tak sedikit mereka yang turut mengantar jenazah beliau sampai beratusan ribu orang. Ada yang mengatakan 700 ribu orang, ada pula yang mengatakan 800 ribu orang, bahkan ada yang mengatakan sampai satu juta lebih orang yang menghadirinya. Semuanya menunjukkan bahwa sangat banyaknya mereka yang hadir pada saat itu demi menunjukkan penghormatan dan kecintaan mereka kepada beliau. 

Latar Belakang Pemikiran serta Metode Ahmad bin Hanbal dalam Pengambilan Hukum dalam Mazhab Hanbali

Ahmad bin Hanbal, selain sebagai seorang muhaddits, juga ia terkenal sebagai seorang fuqaha (ahli fiqh) dan menjadi salah satu Imam dari Madzhab Hanbali. Sebagaimana ketiga Imam lainnya; Syafi'i, Hanafi dan Maliki, oleh para muridnya, ajaran-ajaran Imam Ahmad ibn Hanbal dijadikan patokan dalam amaliyah (praktek) ritual, khususnya dalam masalah fiqh. Sebagai pendiri madzhab tersebut, Imam Hanbali memberikan perhatian khusus pada masalah ritual keagamaan, terutama yang bersumber pada Sunnah. 

Menurut Ibnu Qayyim, salah seorang pengikut madzhab Hanbali, ada lima landasan pokok yang dijadikan dasar penetapan hukum dan fatwa madzhab Hanbali antara lain:[16]

  1. Nash (Al-Qur'an dan Sunnah). Jika ia menemukan nash, maka ia akan berfatwa dengan Al-Qur'an dan Sunnah dan tidak berpaling pada sumber lainnya.
  2. Fatwa sahabat yang diketahui tidak ada yang menentangnya. 
  3. Jika para sahabat berbeda pendapat, ia akan memilih pendapat yang dinilainya lebih sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah Nabi SAW. Jika ternyata pendapat yang ada tidak jelas persesuaiannya dengan Al-Qur'an dan Sunnah, maka ia tidak akan menetapkan salah satunya, tetapi mengambil sikap diam atau meriwayatkan kedua-duanya.
  4. Mengambil Hadits mursal (Hadits yang dalam sanadnya tidak disebutkan nama perawinya), dan Hadits dla’if (Hadits yang lemah, namun bukan maudlu')
  5. Qiyas, atau analogi, digunakan bila tidak ditemukan dasar hukum dari keempat sumber di atas. 

Pada awalnya madzhab Hanbali hanya berkembang di Baghdad. Baru pada abad ke-6 H, madzhab ini berkembang di Mesir. Perkembangan pesat terjadi pada abad ke-11 dan ke-12 H, berkat usaha Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) dan Ibnu Qayyim (w. 751 H). Kedua tokoh inilah yang membuka mata banyak orang untuk memberikan perhatian pada fiqh madzhab Hanbali, khususnya dalam bidang muamalah. Kini, madzhab tersebut banyak dianut umat Islam di kawasan Timur Tengah.

Penghormatan Ulama serta Beberapa Tokoh terhadap Imam Ahmad bin Hanbal

Menurut Imam al-Syafi’i: sewaktu beliau meninggalkan kota Iraq, Baghdad, sementara itu tidak aku tinggalkan di kota tersebut orang yang lebih wara’, lebih faqih, dan lebih bertakwa dari pada Ahmad bin Hanbal.

Qutaibah berkata: Sufyan al-Tsauri wafat, maka hilanglah kewara’an ummat. Imam Syafi’i wafat, maka hilanglah sunnah-sunnah dan Imam Ahmad wafat menyebarlah kebid’ahan. Imam Ahmad adalah Ulama’ pewaris Nabi yang benar menempati posisinya sebagai penuntun ummat.

Ishaq bin Rahawaih: Ahmad bin Hanbal adalah Hujjah antara Allah dengan Hamba-Nya di ruang lingkup bumi ini.

Yahya bin Muayyan: Ahmad bin Hanbal adalah seorang yang ahli Hadits, Hafal al-Qur’an, Alim, Wara’, Zuhud, serta berpengetahuan luas. Sebagian dari kita (manusia) menginginkan seperti layaknya Ahmad bin Hanbal yang taqwanya tidak ada yang membandingi dan cara berpikirnya yang logis.

Hilal bin ‘Alâ berkata: Allah swt telah menganugrahkan kepada umat ini dengan empat Imam. Imam Syafi’i, ahli Hadits serta mampu menginterpretasikannya, juga menjelaskan antara yang mujmal dan mufashshal, khusus dan umumnya, nasikh dan mansukhnya. Abi Ubaid yang telah menjelaskan keasingannya. Yahya bin Muayyan telah menghilangkan kebohongan dalam Hadits. Dan Ahmad bin Hanbal yang bersabar dalam mihnah (ujiannya sangat berat), tapi beliau sangat sabar dan istiqamah. Kalaulah tidak ada mereka, maka celakalah ummat ini.

Abu Bakar al-Atsram berkata: “tidaklah aku melihat orang yang paling mengetahui dalam sunnah kecuali Imam Ahmad bin Hanbal”.

Abdurrahman al-Nasâî: “Imam Ahmad bin Hanbal ialah ulama pandai dalam Hadits, fiqh, wara, zuhud dan sabar”

Abdul Wahhab al-Warraq berkata: Aku tidak pernah melihat orang yang seperti Ahmad bin Hanbal. Orang-orang bertanya kepadanya, Dalam hal apakah dari ilmu dan keutamaannya yang engkau pandang dia melebihi yang lain? Al-Warraq menjawab, Dia seorang yang jika ditanya tentang 60.000 masalah, dia akan menjawabnya dengan berkata, “Telah dikabarkan kepada kami atau Telah disampaikan hadits kepada kami”.

Ahmad bin Syaiban berkata: Aku tidak pernah melihat Yazid bin Harun memberi penghormatan kepada seseorang yang lebih besar daripada kepada Ahmad bin Hanbal. Dia akan mendudukkan beliau di sisinya jika menyampaikan Hadits kepada kami. Dia sangat menghormati beliau, tidak mau berkelakar dengannya

Sebagian Ulama’ berpendapat bahwa penganut madzhab Hanbali tidak banyak dikarenakan beliau terlalu keras/ekstrim berpegang pada riwayat. Madzhab Hanbali dipandang tidak dapat mencukupi kebutuhan masyarakat yang menghadapi persoalan yang terus berkembang karena terlalu sempit dalam menggunakan Qiyas, atau istihsan dan Maslahah Mursalah sebagaimana pada madzhab lain.

Menurut Asghar Ali Engineer Imam Abu Hanifah adalah seorang yang liberal dan modernis, sementara Imam Malik seorang yang konservatif (Imam Muhafidhin), Imam Syafi’i seorang moderat dan Imam Ahmad bin Hanbal tergolong kaku dan ortodoks.[17]

Catatan Kaki
[1] Dalam CD-ROM al-A’lam Wa Tarajim al-Rijal. Siyar al-A’lam al-Nubala’. Juz 7, hlm 314 (No. 1876) terdapat penambahan nasab yakni “Syaiban bin Duhl bin Tsa’labah bin ‘Ukabah bin Sha’b bin Ali bin Bakar bin Wail. 

[2] Ibnu Hanbal, Ahmad _____ al-Jami’ al-Musnad. Rabwah al-Pakistan: Idarah al-Mushannifin 

[3] Menurut Abdullah bin Ahmad dan Ahmad bin Abu Khaitsumah bahwasanya Ahmad bin Hanbal lahir pada bulan Rabi’ul Akhir dalam CD-ROM al-A’lam Wa Tarajim al-Rijal. Siyar al-A’lam al-Nubala’. Juz 7, hlm 314 (No. 1876) 

[4] Dosen Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Studi Kitab Hadits. (Yogyakarta: TERAS dan TH-Press, 2003) hlm. 25 

[5] Muhammad Muhammad Abu Zahw. Al-Hadits Wa al-Muhadditsun aw Inayah al-Ummah al-Islamiyah al-Sunnah al-Nabawiyah (Al-Qahirah: al-Maktabah al-Taufiqiyah, 1378 H), hlm. 351 

[6] Ada juga yang mengatakan “pada usia 15 tahun”, yakni bertepatan dengan tahun dimana wafatnya Imam Malik dan Hammad bin Zaid dalam CD-ROM al-A’lam Wa Tarajim al-Rijal. Siyar al-A’lam al-Nubala’. Juz 7, hlm 314 (No. 1876) 

[7] Dijelaskan dalam http://www.kotasantri.com/galeria.php?aksi=DetailArtikel&artid=174 bahwa Pertama kali, ia menikah dengan Aisyah binti Fadl dan dikaruniai seorang putra bernama Saleh. Ketika Aisyah meninggal, ia menikah kembali dengan Raihanah dan dikarunia putra bernama Abdullah. Istri keduanya pun meninggal dan Hanbali menikah untuk terakhir kalinya dengan seorang jariyah, hamba sahaya wanita bernama Husinah. Darinya ia memperoleh lima orang anak yaitu Zainab, Hasan, Husain, Muhammad, dan Said. 

[8] Dijelaskan bahwa Ahmad bin Hanbal belajar dari beliau Cuma sebentar, bisa dibilang pelajaran yang diperoleh pun juga tidaklah banyak. Hal ini terdapat dalam CD-ROM al-A’lam Wa Tarajim al-Rijal. Siyar al-A’lam al-Nubala’. Juz 7, hlm 314 (No. 1876) 

[9] Guru-guru yang telah disebutkan sampai ini adalah keterangan dari Dosen Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Studi Kitab Hadits. (Yogyakarta: TERAS dan TH-Press, 2003) hlm. 26 

[10] Inilah yang dikatakan “Fa aktsar” dalam Dosen Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Studi Kitab Hadits. (Yogyakarta: TERAS dan TH-Press, 2003) hlm. 25 

[11] Beliau hanya mengajar 1 hadits saja, terdapat dalam CD-ROM al-A’lam Wa Tarajim al-Rijal. Siyar al-A’lam al-Nubala’. Juz 7, hlm 314 (No. 1876) 

[12] CD-ROM al-A’lam Wa Tarajim al-Rijal. Siyar al-A’lam al-Nubala’. Juz 7, hlm 314 (No. 1876) 

[13] Dosen Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Studi Kitab Hadits. (Yogyakarta: TERAS dan TH-Press, 2003) hlm. 26 

[14] CD-ROM al-A’lam Wa Tarajim al-Rijal. Siyar al-A’lam al-Nubala’. Juz 7, hlm 314 (No. 1876) 

[15] Ibnu Hanbal, Ahmad _____ al-Jami’ al-Musnad. Rabwah al-Pakistan: Idarah al-Mushannifin 

[16] Dosen Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Studi Kitab Hadits. (Yogyakarta: TERAS dan TH-Press, 2003) hlm. 30 dan dijelaskan pula keterangan pada http://www.kotasantri.com/galeria.php?aksi=DetailArtikel&artid=174 

[17] Dosen Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Studi Kitab Hadits. (Yogyakarta: TERAS dan TH-Press, 2003) hlm. 40



0 Response to "Biografi Lengkap Ahmad bin Hanbal "

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!