Makalah Dinasti Gaznawi, Munculnya Islam di Afganistan

Advertisement
Makalah Dinasti Gaznawi, Munculnya Islam di Afganistan
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Ketika kembali mempelajari sejarah bahwa munculnya dinasti Gaznawi saling terkait dinasti-dinasti sebelumnya mulai dari dinasti Buwaihi yang penganut-penganut papan atas pengikut Mukta’zilah menduduki posisi penting di kesultanan sehingga hampir otomatis aktifitas-aktifitas penganut Asy’ariah tertekan hingga dinasti Buwaihi digulingkan oleh Tughril dari Dinasti Saljuk pada 1055 M, bahkan Abu Nasr Muhammad bin Mansyur Al Kunduri (Wafat 456 H).[1]

Kebangkitan dinasti Ghaznawi mempresentasikan kemenangan pertama Turki dalam persaingan dengan Iran untuk mencapai kekuasaan dalam Islam. Ghaznawi tidak ditopang dengan angkatan bersenjata, maka semuanya segera menemui kehancuran. Wilayah kekuasaan disebelah timur berangsur-angsur memisahkan diri dan muncullah dinasti-dinasti muslim independen, di utara dan barat seperti dinasti Khan dari Thurkistan dan Saljuk dari Persia.[2]

Gaznawi adalah nama sebuah dinasti yang berpusat di kota Gazna dan berkuasa di wilayah Afghanistan dan India Utara. Dinasti itu didirikan oleh Subektegin, yang berasal dari Turki menjadi panglima dan gubernur Bani Saman. Dinasti itu berusia lebih dari 200 tahun (366 H/977 M-582 H/1186 M) di Iran Timur dan di wilayah yang sekarang menjadi Afghanistan sehingga waktu yang lama, amir Gaznawi menyandang gelar amir, sekalipun sejarawan menyebut mereka sultan.[3]

Alibtakin adalah seorang dari mantan budak orang-orang Turki yang memiliki posisi terhormat di kalangan Samaniyun. Dia diangkat sebagai penguasa di kota Herat dan Ghaznah. Mulailah pamornya mencorong dan mendirikan pemerintahan. Wilayah pemerintahannya meluas ke Afghanistan, Punjab dan Pakistan. Pada tahun 366-387 H/976-997 M, yang berkuasa adalah seorang Mamluk dikenal dengan sebutan Sabaktakin, seorang panglima perang Alibtakin yang kemudian dinikahkan dengan putrinya. Dia sebenarnya dianggap mendirikan pemerintahan ini dalam bentuk yang sebenarnya. Pengaruhnya meluas hingga ke Timur dan menjadikan Peshawar sebagai ibu kota negaranya. Sultan Mahmud al-Ghaznawi digantikan oleh anak-anaknya, Ismail kemudian Mahmud, Mahmudlah yang dianggap sebagai sultan paling terkemuka dalam pemerintahan Ghaznawiyah. Dia menyerang Samaniyun dan mengalahkan mereka sehingga menguasai Khurasan. 

Oleh karena itu, pemerintahannya menjadi besar di kawasan dunia Islam bagian Timur. Setelah itu, melakukan penyerbuan ke India dan berhasil menaklukkan beberapa kota dan menjadikan penduduknya memeluk Islam. Sultan Mahmud berhasil menghancurkan berhala-berhala. Dia adalah penguasa muslim pertama yang berhasil menguasai sebagian besar wilayah India, kemudian menguasai Kashmir dan sebagian besar kawasan Asia Tengah, Asfahan dan sebagian besar Iran.[4]

Mahmud al-Ghaznawi dikenal sebagai penguasa yang adil, sangat cinta, menghormati ilmu dan ulama. Sultan Mahmud memiliki dua anak, Mas’ud dan Muhammad. Sultan memberikan wasiat bahwa yang berkuasa setelah dirinya adalah anaknya yang bungsu (Muhammad). Kebijakan ini menimbulkan peperangan sengit antara dua orang bersaudara. Kemudian, pemerintahan ini menjadi lemah hingga akhirnya berhasil dihancurkan oleh orang-orang Saljuk dan orang Ghauri.[5]

Dinasti Gaznawi di Afganistan

Kondisi itulah yang mendorong penguasa di daerah maju selangkah membentuk pemerintahan otonom yang secara duniawi telah merdeka, tetapi dari aspek agama masih mengakui kekhalifahan ‘Abbâsiyah di Baghdad. Penguasa daerah yang muncul sebagai pemerintah otonom adalah dinasti Samaniyah di Transoxania dan dinasti Ghaznawi di Afghanistan. 

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, penulis mengemukakan masalah pokok yaitu bagaimana perkembangan politik dinasti Ghaznawi sebagai daerah otonom yang sudah merdeka dari kekuasaan Khalifah ‘Abbâsiyah di Baghdad, walaupun secara spiritual masih mengakui keagamaan khalifah di Baghdad. Merujuk pada masalah pokok di atas, penulis menganggap perlu adanya submasalah yang dijadikan sebagai sentral dalam pembahasan makalah ini yaitu:

1. Bagaimana proses berdirinya dinasti Gaznawi?
2. Bagaimana perubahan kemajuan dinasti Gaznawi?
3. Bagaimana proses kemunduran dinasti Gaznawi?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Proses Berdirinya Dinasti Ghaznawi

Cikal bakal berdirinya dinasti Ghaznawi diawali oleh Alpatigin (seorang keturunan Turki yang menjadi perwira militer pada dinasti Samaniyah di Transoxania Asia Tengah). Ia diangkat sebagai gubernur di Khurasan Asia Tengah pada tahun 955 M. Pada tahun 1962 M Alpatigin melakukan ekspansi ke arah timur, tepatnya ke Afghanistan bagian timur. Wilayah ini Alpatigin berhasil menaklukkan dan menguasai kota Ghazna beserta daerah-daerah di sekelilingnya.

Pada tahun 963 M Alpatigin meninggal dunia dan digantikan oleh anaknya yang bernama Ishâq. Ishâq yang kurang cakap dalam memerintah akhirnya harus merelakan tahta kekuasaanya jatuh ke tangan keturunan Turki yang lain, yaitu Baltigin yang kemudian digantikan pula oleh Piri. Tahun 977 M Piri diserang oleh seorang perwira yang bernama Sabuktigin, tidak lain adalah menantu dari Alpatigin. Sabuktigin selanjutnya berkuasa sampai tahun 997 M. 

Sabuktigin memiliki power dan kekuasaan, dia masih menganggap kekuasaannya berada di bawah dinasti Samaniyah. Buktinya pada tahun 933 M dia masih mau memberikan bantuan militer kepada dinasti Samaniyah dalam menghadapi pemberontakan. Anaknya yang bernama Mahmud dibiarkannya menjadi gubernur Khurasan di bawah dinasti Samaniyah. Sehingga, sejak dari Alpatigin sampai Sabuktigin dan para penggantinya tetap dianggap sebagai gubernur. Walaupun ada juga perwira yang melakukan desersi terhadap dinasti tersebut, tetapi secara umum dianggap bahwa Ghazna adalah bagian dari wilayah dinasti Samaniyah.

Para sejarawan berbeda pendapat dalam menentukan siapa sebenarnya yang mendirikan dinasti Ghaznawi. Jurji Zaidân menganggap Alpatigin sebagai pendiri dinasti Ghaznawi, sedangkan Philip K. Hitti berpendapat bahwa Sabuktigin adalah the real founding dinasti Ghaznawi. Menurut hemat penulis, kedua pendapat tersebut dapat dibenarkan, paling tidak Alpatigin adalah sebagai perintis berdirinya dinasti Ghaznawi, sementara Sabuktigin mampu membentuk kekuatan dinasti yang mapan dan wilayah yang luas sehingga kemudian diakui keberadaannya oleh Baghdad.

Masa pemerintahannya, Sabuktigin mampu memperluas daerah kekuasaannya sampai daerah perbatasan India. Bahkan dia dapat mengalahkan Raja Jaipal dari dinasti Rajput di Punjab dalam dua kali penyerangan, kemudian menguasai daerah perbatasan Kabul. Pada tahun 997 M, Mahmud melanjutkan penaklukan Samaniyah yang telah dilakukan ayahnya. Kerajaan Ismaili, Sindh, dan Buwayhid bisa dikatakan, pada masa pemerintahan Mahmud, dinasti ini mencapai puncak kejayaannya. Mahmud mengadakan ekspedisi ke Utara India selama 17 tahun dan mendirikan kotanya di sana.

Dari perbatasan Kurdistan ke Samarkand, dari Laut Kaspia ke Vamuna, Ia menciptakan wilayah kekuasaan baru. Kekayaan yang ia bawa dari ekspedisi India ini sangatlah berlimpah. Namun, setelah dirinya wafat, tidak ada satu sultan pun yang dapat menjadikan dinasti ini mencapai kejayaannya seperti yang dilakukan Mahmud. Di bawah kepemimpinan anak Mahmud. Masud I, dinasti ini kehilangan kepercayaan dirinya. Pada masa Masud, sebagian teritorial di bagian barat direbut oleh dinasti Saljuk pada pertempuran yang menyebabkan pembatasan kekuasaan.[6]

Setelah Sabuktigin wafat pada tahun 977 M/387 H, pemerintahan dipegang oleh putranya Ismail Ibn Sabuktigin. Ismail hanya memerintah hanya tujuh bulan, dia dinilai lemah dan kemudian digantikan oleh saudaranya Mahmud ibn Sabuktigin yang sebelumnya adalah gubernur Khurasan. Mahmud Ibn Sabuktigin adalah tokoh terbesar dalam sejarah perkembangan dinasti Ghaznawi, dia terkenal dengan gelar Sultan Mahmud al-Ghaznawi (387-421 H /997–1030 M). Pada masa 30 tahun pemerintahan Sultan Mahmud al-Ghaznawi, banyak membawa perubahan kemajuan di berbagai aspek. Seperti bidang politik, ekonomi, ilmu pengetahuan dan sastra. 

B. Kemajuan Dinasti Ghaznawi

1. Aspek Politik

Kemajuan yang dicapai dinasti Ghaznawi, terutama di bawah pemerintahan Sultan Mahmud al-Ghaznawi dapat dilihat dalam beberapa aspek. Pada masa Sabuktigin, wilayah dinasti Ghaznawi diperluas dengan ditaklukannya beberapa wilayah di Sijistan dan Kusdar. Disamping itu ia mampu mempertahankan Transoxania dan Iran bagian barat dari serbuan Bani Saljuk.

Masa pemerintahan Sultan Mahmud al-Ghaznawi, kemajuan bidang politik mencapai puncaknya. Ghazna yang semula adalah kerajaan kecil, yang di sana-sini terdapat reruntuhan bangunan akibat perang, ia bangun kembali menjadi kota yang megah yang kelak menjadi pusat kebudayaan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Kerajaan tersebut menjadi luas, dari pinggir laut Kaspia di utara hingga sungai Gangga di India, dari sungai Ozus di Amudarya (Asia Tengah) sampai sungai Indus (pesisir selatan India).

Sultan Mahmud al-Ghaznawi adalah panglima perang perkasa, dia lebih banyak berada di medan perang daripada duduk di istana kebesarannya. Sejarah mencatat, lewat peperangan yang dilakukan mampu menaklukan wilayah Khurasan (1012 M), dataran tinggi Pamir (1000 M), Peshawar, Khasmir dan Bathinda (1004 M), Punjab (1006 M), Kangra (1009), Delhi (1015), Mathura, Kanauj (1019), dan Gujarat (1026). 

Sejak tahun 1009 M, Sultan Mahmud memusatkan perhatian untuk menaklukkan anak benua India, yaitu Somnat, tempat pujaan umat Hindu dalam wilayah Gujarat (Khatiawar). Di Somnat Sultan Mahmud membinasakan kerajaan Gurajat, menghancurkan Pagoda yang amat terkenal dengan keindahannya, sehingga Sultan Mahmud sang penakluk digelari “The Idol Brooker” (penghancur berhala). Begitu besar dan bernilainya kuil suci itu bagi umat Hindu, sampai 2000 orang Brahmin dibutuhkan untuk merawatnya. Selanjutnya Sultan Mahmud mengganti agama Brahmana dengan Islam. 

Boleh dikatakan pada masa itu dibuat pertama kalinya Islam mampu menguasai anak benua India. Diperkirakan selama pemerintahan Sultan Mahmud telah melakukan 17 kali ekspedisi untuk memperluas daerah kekuasaannya. Keberhasilan Sultan Mahmud dalam melakukan perluasan wilayah kekuasaan dan membangun kekuatan militer dan politik, membuat khalifah ‘Abbâsiyah di Baghdad Al-Qadîr Billâh memberikan penghargaan kepadanya dengan gelar Yamîn ad-Dawlah. Prestasi Sultan Mahmud yang gemilang tersebut di samping buah dari kecakapannya memerintah, juga ditunjang oleh beberapa faktor, antara lain adalah:

a) Faktor geografis, Ghazna sebagai ibu kota terletak di dataran tinggi yang amat srategis untuk mengamati dan mengontrol lalu lintas ke India

b) Pertentangan raja-raja di India, sehingga mereka tidak mempunyai kesatuan dalam menghadapi serangan Sultan Mahmud, seperti yang terjadi pada masa pemerintahan Sabuktigin ketika ia menaklukan Punjab dari dinasti Rajput

c) Faktor ideologis tentara Mahmud yang didorong oleh semangat jihad dan kefanatikan terhadap pemimpin yang kharismatik. Di samping itu mereka juga mengharapkan ghanîmah, harta rampasan perang yang tidak sedikit.

2. Aspek Ekonomi

Penaklukan terhadap daerah-daerah yang kaya dan subur memberikan dampak yang sangat besar terhadap kemajuan dinasti Ghaznawi di bidang ekonomi. Harta rampasan yang melimpah dan restribusi pajak yang dikumpulkan dari seluruh daerah taklukan, mampu menghidupkan berbagai aktivitas perekonomian, sehingga dikatakan dinasti ini menjadi kerajaan yang makmur. Kemajuan bidang ekonomi memberi dampak yang tidak kecil terhadap perkembangan peradaban, kebudayaan, ilmu pengetahuan, termasuk di bidang militer.

3. Aspek Ilmu Pengetahuan dan Sastra

Kemajuan di bidang pengetahuan yang dicapai dinasti Ghaznawi salah satunya merupakan buah dari kebijakan Sultan Mahmud yang memaksa para sarjana kenamaan untuk tinggal dan berkarya dalam wilayah pemerintahannya. Bahkan banyak yang di tempatkan di istananya. Hebatnya kebijakan itu diiringi dengan pemberian fasilitas yang cukup bagi mereka untuk perkembangan ilmu pengetahuan dan sastra. Sultan Mahmud menyediakan anggaran yang tidak kecil. Tidak kurang dari 400.000,- ringgit emas setiap tahun disediakan untuk keperluan pendidikan, termasuk di antaranya untuk para penyair dan kaum terpelajar. 

Sultan Mahmud juga membangun perguruan tinggi yang diberi nama Unsuri, yang kemudian ternyata mampu mencetak banyak sarjana dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Keberhasilan ini membuat nama Sultan Mahmud menjadi harum dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan pada abad ke-11 Masehi. Penyair-penyair yang lahir pada masa pemerintahan Sultan Mahmud yang terkenal di antaranya adalah As’adi Thûsiy, guru dari al-Firdawsi, sastrawan yang dikenal lewat karyanya Syah-mana dan al-Farukhi, keduanya menetap dan berkarya di Ghazna. Ilmuwan lain yang terkenal di antaranya adalah Rayhân Muhammad al-Birûni (973-1048 M), yang telah menulis berbagai kitab dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan, seperti Ilmu Alam, Matematika, Astronomi, Sejarah, dan lain lain. Karyanya yang termasyur adalah Tahqîq fî al-Hind (penelitian di India). 

Para ilmuwan sezaman menunjukkan kekaguman terhadap buku itu mengingat Al Biruni lebih dikenal sebagai astronom dari pada sejarawan, sosiolog atau antropolog. Melalui buku tersebut, Al Biruni membuktikan dirinya sebagai ilmuwan spesialis namun berpengetahuan. Sebelum menulis “Kitabul Hind”, Al Biruni telah menulis buku khusus tentang sejarah bangsa-bangsa zaman purba berjudul “Al Ardhul Baqiyah anil Qurnil Khaliyah”. Bukunya telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris sejak Abad XIX menjadi “Chronology of Ancient Nations” (cetakan terbaru tahun 1993). Ia juga menulis buku astronomi yang dipersembahkan bagi sultan Mas’ud al Gaznawi berjudul “Al Qanunul Mas’udi fil Hai’ah wan Nujum” (1030).

Pendapat Al Biruni dalam buku tersebut benar-benar baru dan orisinal menurut ukuran zamannya sebab telah berhasil menyelesaikan masalah-masalah yang masih diperdebatkan para ilmuwan, terutama mengenai perputaran bumi (rotasi), penetapan garis lintang (latitude), garis bujur (longitude) serta hipotesa-hipotesa tentang alam semesta yang bersifat relatif. Besar kemungkinan teori relativitas Einstein diilhami hipotesa-hipotesa Al Biruni.[7]

Mengenai bidang seni arsitektur, kemajuannya dapat diketahui melalui kemegahan arsitektur istana Ghazna. Mesjid dan menara di kota Ghazna, yang memiliki nilai seni tinggi. Kenyataan ini menjadi indikator yang kuat bahwa perhatian pemerintah terhadap perkembangan agama, ilmu pengetahuan, dan peradaban sangat tinggi. Sampai hari ini monumen sejarah tersebut masih dapat dilihat. 

Setelah kekuasaan dinasti Gaznawi memudar, lalu berdirilah kesultanan Delhi yakni beberapa kesultanan yang berkuasa tahun 1206 M hingga 1526 M. Ada lima dinasti Islam yang berkuasa silih berganti di era kesultanan Delhi yaitu:

1. Dinasti Mamluk (1206 M-1290 M)

Setelah Muhammad Ghuri meninggal, karena tidak punya anak laki-laki dan tidak ada yang datang menguasai Delhi dari Ghur, disamping itu Ghuri merdeka dari perbudakan kepada bekas budak dan panglima I perangnya, Quthubuddin Aibek, maka naiklah Aibek menjadi pengganti Ghuri dengan gelar sultan pada tahun 1206 M, dinasti yang pertama Aybek dirikan, disebut dengan awal kekuasaan Turki di India. Setelah Aybek wafat, puteranya Aram Shah menjadi sultan, namun karena tidak cakap dan tidak mempunyai kemampuan sama sekali dalam urusan negara, maka pembesar istana mengangkat menantu Aybek yaitu Altamasy (Iltutmish 1211-1236), dia seorang raja Islam yang besar, pandai mengatur negara dan berjasa bagi negaranya dalam hal perluasan kekuasaan Islam ke sebelah Utara (Malawa) serta menyelamatkan negerinya dari serangan Mongol. 

Sebelum wafat, Iltutmish menunjuk putrinya Raziya sebagai pengganti dengan alasan semua anak laki-lakinya tidak ada yang mampu. Namun para pembesar istana keberatan dengan sultan perempuan mengangkat saudaranya Rukunuddin Firuz, dan ternyata ia tidak mampu maka Raziya diangkat kembali. Pada sejarah Islam, sultana Raziya merupakan perempuan pertama yang berkuasa tahun 1240, terjadi pemberontakan dimana-mana yang menolak sultan perempuan, pada akhirnya Razia jatuh dari kekuasaan diganti oleh Bahram Shah, putera dari Iltutmish. Namun sama halnya dengan Rukunuddin, ia pun tak mampu memimpin. 

Kemudian digantikan oleh pamannya Nasiruddin Mahmud sebagai sultan, Nasiruddin adalah sultan yang saleh dan paling baik pribadinya diantara penguasa-penguasa abad 13 M. Ia digantikan oleh Balban, dia pun berjasa dapat menahan serangan bangsa Mongol yang kedua ke India. Berkat jasanya itu dia diakui sebagai penguasa dengan memakai gelar sultan.

2. Dinasti Khilji (1290 M - 1320 M)

Pada 1290 M, hilanglah dinasti awal kekuasaan Turki, dan setelah Balban wafat, tidak ada lagi pengganti yang kuat yang dapat mempertahankan kekuasaan mereka, sehingga masuklah kekuatan baru dari Afganistan, yaitu dinasti Khalji. Sultan pertama adalah Malik Firuz dengan nama sultan Jalauddin Firuz naik tahta. Sultan adalah seorang yang taat beragama dan banyak didukung pula oleh para ulama. Kemudian pada tahun 1296 M, Alauddin Khalji naik tahta, setelah membunuh paman dan mertuanya sendiri yaitu Jalaluddin Khalji dan mendapat dukungan dari para bangsawan. Ia seorang penakluk India yang sejati, pada masanya untuk pertama kali hampir seluruh India dapat dikuasai termasuk wilayah yang paling jauh di Selatan. Penggantinya Quthubuddin Mubarak Khalji (1316-1320).

3. Dinasti Tughlaq (1320 M - 1413 M)

Tahun 1320 M, dinasti Tughlaq didirikan oleh Ghazi Malik dengan gelar Ghiyasuddin Tughlaq setelah membunuh Khusru dan pengikutnya. Beberapa wilayah dikuasainya antara lain Bidar dan Warrangal pada tahun 1323, Bangla pada tahun 1324 M. Pada tahun 1325 Ghazi Malik meninggal dunia dan digantikan oleh Juan Khan dengan gelar Muhammad Ibn Tughlaq, Muhammad Ibn Tughlaq wafat, dan digantikan oleh Firuz Shah. Selama kepemimpinannya tidak terjadi peperangan serius dan penaklukan besar. Setelah kematian Firuz Shah pada tahun 1388, penggantinya tidak ada yang mampu. Nashiruddin Muhammad Tughluq adalah orang terakhir dalam dinasti Tughluq.

4. Dinasti Sayyid (1414 M - 1451 M)

Setelah Khizr Khan berhasil menguasai Delhi, ia mengangkat dirinya sebagai sultan. Ia seorang yang berani dan sangat mampu dalam urusan pemerintahan. Khizr Khan wafat pada tahun 1421 M, yang kemudian digantikan oleh Mubarak Shah, namun ia terbunuh pada 1434 M oleh seorang bangsawan bernama Sadrul Mulk. Keponakan Mubarak Shah, Muhammad Shah naik tahta. Ia membalas kematian pamannya dengan menangkap dan membunuh Sadrul Mulk. Muhammad Shah memimpin selama 12 tahun, yang kemudian digantikan oleh anaknya Alauddin Alam Shah.

5. Dinasti Lodhi (1451 M - 1526 M)

Sultan Lodi adalah satu-satunya sultan Delhi yang berasal dari suku bangsa Pathan. Bahlul Lodi naik tahta pada tahun 1451, aksinya yang menonjol adalah penaklukan Jaunpur. Ia berkuasa selama 38 tahun dan meninggal pada 1389 M. Nizam Khan, putera kedua Lodi yang menggantikan dengan gelar Sikander Lodi. Ia seorang administrator ulung, Nizam Khan meninggal pada tahun 1517 M setelah berhasil memimpin selama 28 tahun. Sikander Lodi merupakan raja yang paling mampu dan paling besar dalam dinasti Lodi. 

Setelah kematian Sikandar Lodi, putranya Ibrahim Lodi naik tahta akan tetapi terjadi pemberontakan dari adiknya sendiri, Jalal Khan. Selama kepimpinannya, Ibrahim Lodi banyak menangkap dan memenjarakan bangsawan yang menentangnya. 

Hal inilah yang semakin memicu lebih banyak lagi pemberontakan. Pada tahun 1526 M, Babur menyerang India dan terjadi pertempuran sengit di Panipath dimana Lodi terbunuh dalam pertempuran ini dan kekuasaannya beralih ke tangan Babur, yang mendirikan dinasti Mughal.

C. Kemunduran Dinasti Ghaznawi

Awal kemunduran dinasti Ghaznawi dimulai sejak putranya Muhammad ibn Mahmud diangkat menggantikan bapaknya Sultan Mahmud yang wafat pada tahun 1030 M. Muhammad ibn Mahmud tidak disenangi oleh kalangan tentara, sehingga terjadi perebutan tahta dengan adiknya Mas’ûd ibn Mahmud. Ternyata Mas’ûd ibn Mahmud adalah pemimpin yang lemah dan tidak mampu melanjutkan keberhasilan yang telah dicapai oleh bapaknya. Penyerbuan Bani Saljuk ke beberapa propinsi dinasti Ghaznawi di Persia memberikan dampak yang besar terhadap dinasti Ghaznawi dalam menuju gerbang kehancurannya. Kondisi ini terjadi pula perbedaan pendapat tajam antara sultan dengan dewan kesultanan. Para personil dewan menginginkan agar perhatian pemerintah lebih difokuskan untuk merebut kembali wilayah-wilayah yang dicaplok oleh Bani Saljuk dan wilayah-wilayah yang mencoba memisahkan diri. Namun ia menghendaki dan memutuskan melanjutkan penaklukan ke India. Sementara penyerbuan yang dilakukan Bani Saljuk telah menyebar dan sampai ke Khurasan. Berita-berita penyerbuan Bani Saljuk ini pada akhirnya memaksa sultan Mas’ûd menarik kembali pasukannya dari India.

Pada tahun 1040 M sultan Mas’ûd mengalami kekalahan besar di Khurasan dalam menghadapi serangan Bani Saljuk. Kekalahan ini merupakan titik klimaks kehancuran dinasti Ghaznawi di Persia. Sultan Mas’ûd sendiri yang kehilangan semangat sempat melarikan diri, yang akhirnya kembali ke istana. Namun dalam perjalanan dia justru dibunuh oleh tentaranya. 

Sejak tahun 1040 sampai dengan 1050 M pertempuran terus berlangsung antara dinasti Ghaznawi dengan Bani Saljuk, tetapi akhirnya terjadi gencatan senjata selama setengah abad. Sementara itu Afganistan tetap diakui sebagai bagian dari wilayah Ghaznawi. Di samping menghadapi serangan Bani Saljuk, ancaman terbesar yang dihadapi Ghaznawi saat itu juga datang dari suku-suku Ghuzz dan Ghûr. Sebagai suku pengembara yang sebelumnya pernah jadi kekuatan inti dari tentara Bani Saljuk, akhirnya mereka juga melawan kepada Bani Saljuk. Kekuatan dan mobilitas tentara suku pengembara ini kemudian benar-benar melumpuhkan kekuatan Ghaznawi di bagian Utara. Kemudian munculnya suku Ghûr sebagai kekuatan baru yang juga mengincar bagian wilayah kekuasaan Ghaznawi semakin melemahkan dinasti ini. Ini mengakibatkan posisi Lahore sebagai ibukota kedua Ghaznawi semakin penting bagi para penguasanya.

Pada tahun 1173 M kota Ghazna direbut oleh tentara Ghûr, membuat seluruh penguasa Ghaznawi terpaksa pindah ke Lahore dan menjadikannya sebagai pusat pemerintahan yang baru. Namun pada tahun 1187 M Lahore juga direbut oleh pasukan Ghûr di bawah pimpinan Ibn Syâm, sehingga penguasa terakhir dinasti Ghaznawi yaitu Khasrav Malim ikut terbunuh. Walaupun dinasti Ghaznawi telah dihancurkan oleh suku Ghûr, akan tetapi sebagai penguasa di sebagian besar wilayah anak benua India, dinasti Ghaznawi banyak menentukan masa depan Islam di Asia Selatan. Orang-orang Ghaznawi mampu mendirikan pemerintahan yang populer dan relatif stabil selama hampir dua abad.[8]

Tahun 421 Hijriah, Mahmud Ghaznawi, raja ketiga dari dinasti Ghaznawi di Iran, meninggal dunia. Mahmud Ghaznawi tahun 387 merebut kekuasaan dari saudaranya, Ismail. Raja Ghaznawi mengalahkan raja-raja Shafari, Samani, Ali Buyeh,dan Ali Ziyar sehingga menguasasi wilayah utara dan timur Iran. Secara bertahap, wilayah kekuasaan Ghaznawi semakin meluas. Akhirnya, setelah 34 tahun berkuasa, Shah Ghaznawi meninggal dunia akibat sakit.[9]

Kekayaan yang dibawa kembali dari ekspedisi India untuk Ghazni sangat besar, dan sejarawan kontemporer (misalnya Abolfazl Beyhaghi, Firdausi) memberikan deskripsi bersinar dari kemegahan ibu kota, serta para penakluk dukungan. Meskipun ada beberapa kebangkitan penting dalam Ibrahim, kekaisaran tidak pernah mencapai sesuatu seperti kemegahan yang sama dan kekuasaan. Ini segera dibayangi oleh Saljuk dari Iran. 

Kerajaan Ghaznavid tumbuh untuk menutupi masa kini Iran, Afganistan, Pakistan, barat laut India, dan Ghaznawi yang dikreditkan dengan menyebarkan Islam ke benua India, akumulasi kekayaan melalui merampok kota di India, penghargaan dari India menuntut raja-raja dinasti Ghaznawi juga diuntungkan dari posisi mereka sebagai perantara sepanjang rute perdagangan antara Cina dan Mediterania.[10]

Putranya Mahmud sudah komandan dari pasukan Samanid di Khorasan selama ayahnya masih hidup, amir terakhir dihadapkan dengan invasi oleh Turki Qarakhanids dari stepa Asia batin, mau tak mau bergantung pada Sebüktigin dan Mahmud untuk menahan serangan ini. Pada kematian Sebüktigin itu, Mahmud menegaskan haknya untuk berhasil dalam Ḡazna lebih dari seorang saudara, Esma ʿIl (399/998). Dia diamankan dari legitimasi khalifah Abbasiyah al-Qader kekuasaan independen dan serangkaian gelar kehormatan, termasuk satu yang ia menjadi terkenal, Yamin al-Dawlah.

Menjelang akhir hidup Mahmud, ia melakukan penaklukan ke arah barat di utara Persia, target utama di sini menjadi cabang dari dinasti Buyid yang berkuasa di ray. Dengan dalih perang suci anti-Shi ite, ia berbaris melawan Ray di 420/1029, Jadi kematiannya, Mahmud telah memperjuankan kerajaan yang paling kuat dan luas dikenal di dunia Islam sejak masa kejayaan kekhalifahan Abbasiyah.

Putranya Masʿud, setelah menyisihkan saudaranya Muhammad, mengambil alih kerajaan ini (421/1030) ditambah pasukan besar. Meskipun secara pribadi berani, Masʿud penilaian UD lebih rendah daripada dari ayahnya, dan perilaku yang sewenang-wenang terangsang antagonisme dalam tentara dan birokrasi sipil yang terganggu efisiensi dari mesin militer dan administrasi yang harus menemukan pengenaan pajak. Ia melanjutkan kebijakan ayahnya berkampanye di India dan Persia, secara pribadi memimpin tentara pada kesempatan, seperti dalam serangan terhadap ʿqal di-al-ʿAdra dari Hansi ke barat laut Delhi. 

Mas Udʿ III pejuang tentara antusias yang aktif di India melawan orang kafir. Tampaknya Mas ud, seperti sisa dinastinya, dipekerjakan rampasan perang dan harta kuil India untuk mempercantik Ḡazna modal dan untuk membangun taman-taman dan istana. Berdekatan dengan menara Masʿud (sebelumnya, dan keliru, dikaitkan dengan sultan Mahmud). Tanda-tanda kelemahan di negara bagian itu menjadi jelas ketika Masud III meninggal pada 1115, diikuti perang saudara. Saljuk, melihat kesempatan mereka, dibantu satu pangeran terhadap yang lain. Para kandidat yang menang Shirzad naik tahta sebagai pengikut Saljuk. Selama abad kedua belas, Ghurids dari Afghanistan Barat meningkat cepat dalam kekuasaan dan pengaruh dan membentuk sebuah negara merdeka mereka sendiri. Pada 1151, raja Ghurid, Alauddin Hussain menyerbu dan menangkap Ghazni. Dinasti Ghaznawi modal mereka bergeser ke Lahore dan memerintah sampai 1186 ketika Lahore benteng terakhir mereka turun ke raja Ghurid, Muhammad Ghori. Dengan penangkapan Lahore, aturan dinasti Ghaznawi berakhir.[11]

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Cikal bakal berdirinya dinasti Ghaznawi diawali oleh Alpatigin (seorang keturunan Turki yang menjadi perwira militer pada dinasti Samaniyah). Pada tahun 1962 M Alpatigin melakukan ekspansi ke arah timur, tepatnya ke Afghanistan bagian timur. Wilayah ini Alpatigin berhasil menaklukkan dan menguasai kota Ghazna beserta daerah-daerah di sekelilingnya. Tahun 963 M Alpatigin meninggal dunia dan digantikan oleh anaknya bernama Ishâq, kemudian digantikan lagi oleh Piri. Tahun 977 M Piri diserang oleh seorang perwira yang bernama Sabuktigin, yang tidak lain adalah menantu dari Alpatigin. Para sejarawan berbeda pendapat dalam menentukan siapa sebenarnya yang mendirikan dinasti Ghaznawi. Menurut hemat penulis, Alpatigin adalah sebagai perintis berdirinya dinasti Ghaznawi, sementara Sabuktigin mampu membentuk kekuatan dinasti yang mapan dan wilayah yang luas sehingga kemudian diakui keberadaannya oleh Baghdad.

2. Kemajuan dinasti Ghaznawi dicapai terutana di bawah pemerintahan sultan Mahmud al-Ghaznawi yang meliputi tiga aspek antara lain: 

a). Aspek Politik: Pemerintahan sultan Mahmud al-Ghaznawi, kemajuan bidang politik mencapai puncaknya. Ghazna yang semula adalah kerajaan kecil, yang terdapat reruntuhan bangunan akibat perang, ia bangun kembali menjadi kota yang megah yang kelak menjadi pusat kebudayaan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Kerajaan tersebut menjadi luas, dari pinggir laut Kaspia di utara hingga sungai Gangga di India, dari sungai Ozus di Amudarya (Asia Tengah) sampai sungai Indus (pesisir selatan India).

b). Aspek Ekonomi: Harta rampasan yang melimpah dan restribusi pajak yang dikumpulkan dari seluruh daerah taklukan, mampu menghidupkan berbagai aktivitas perekonomian, sehingga tidak berlebihan bila dikatakan dinasti ini menjadi kerajaan yang makmur. Kemajuan bidang ekonomi sudah barang tentu memberi dampak yang tidak kecil terhadap perkembangan peradaban, kebudayaan, ilmu pengetahuan, termasuk di bidang militer.

c). Aspek Ilmu Pengetahuan dan Sastra: Merupakan buah dari kebijakan sultan Mahmud yang memaksa para sarjana kenamaan untuk tinggal dan berkarya dalam wilayah pemerintahannya, pemberian fasilitas yang cukup bagi mereka untuk perkembangan ilmu pengetahuan dan sastra, menyediakan anggaran untuk keperluan pendidikan, para penyair dan kaum terpelajar. 

3. Kemunduran dinasti Ghaznawi dimulai sejak putranya Muhammad ibn Mahmud diangkat menggantikan bapaknya sultan Mahmud, perebutan tahta dengan adiknya Mas’ûd ibn Mahmûd, Mas’ûd ibn Mahmud adalah pemimpin yang lemah dan tidak mampu melanjutkan keberhasilan yang telah dicapai oleh bapaknya, Penyerbuan Bani Saljuk ke beberapa propinsi dinasti Ghaznawi di Persia, perbedaan pendapat tajam antara sultan dengan dewan kesultanan, sultan Mas’ûd sendiri yang kehilangan semangat sempat melarikan diri, pertempuran terus berlangsung antara dinasti Ghaznawi dengan Bani Saljuk, gencatan senjata selama setengah abad, menghadapi serangan Bani Saljuk, ancaman terbesar yang dihadapi Ghaznawi saat itu juga datang dari suku-suku Ghuzz dan Ghûr, munculnya suku Ghûr sebagai kekuatan baru yang juga mengincar bagian wilayah kekuasaan Ghaznawi semakin melemahkan dinasti ini, perang saudara.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Taufik. Ensiklopedi Tematis Dunia Islam. Cet. II; Jakarta: Perpustakaan Nasional RI, 2003.

http://bataviase.co.id/node/813686, 30 Oktober 2011, Pukul 11.30 WITA.

http://danankphoenix.wordpress.com/2010/03/20/dinasti-dinasti-kecil-di-barat-dan-timur-baghdad/,

http://pentascerita.wordpress.com/2011/08/22/al-biruni.

http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en%7Cid&u=http://en.wikipedia.org/wiki/Ghaznavids

http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en%7Cid&u=http://www.iranicaonline.org/articles/ghaznavids, tanggal 19 Oktober 2011.

http://www.al-hadj.com/Ind/default.php?part=kal&url=mei/23mei.htm

K Hitti, Philip. History of the Arabs. London: Redweed Burn Limited, 1974. 

Nasution, Harun. Pembaharuan dalam Islam. Cet. IX; Jakarta: Bulan Bintang,1992.

al-‘Usairy, Ahmad. al-Tarikh al-Islami. terj. Samson Rahman. Sejarah Islam. Cet. VI; Jakarta: Akbar Media Nusantara, 2008. 


0 Response to "Makalah Dinasti Gaznawi, Munculnya Islam di Afganistan"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!