Makalah Filsafat: Epistemologi Intuisionisme

Advertisement
Contoh Makalah Filsafat: Epistemologi Intuisionisme

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pandangan tentang realitas seperti yang dipahami oleh kedua bentuk rasionalime dan emperisme, didasarkan pada penyempitan realitas menjadi terbatas pada alam tabi’i, yang dianggap satu-satunya tingkat realitas.[1] Penyempitan demikian merupakan akibat dari reduksi daya dan kemampuan fakultas kognitif dan indera kepada lingkup realitas lahiriah saja. Dalam sistem ini, ilmu dianggap abash hanya jika ia terkait dengan tatanam peristiwa-peristiwa (fisik) alam kejadian serta hubungan-hubungan yang terdapat di dalamnya; dan tujuan penelitian hanyalah menggambarkan dan mensistematisasi apa yang terjadi di alam, yakni keseluruhan objek-objek dan kejadian-kejadian dalam ruang dan waktu. Alam-alam tabi’i, diungkapkan dalam istilah-istilah naturalistik dan rasional yang tegas, yang telah dikosongkan dari makna ruhaniah atau tafsiran simboliknya, dan karenanya mereduksi asal-usul dan realitasnya semata-mata pada kekuatan-kekuatan alamiah belaka.[2]

Dan kemudian munculla penyangkalan intuisi dan otoritas yang mengatakan bahwa rasionalisme yang filosofis maupun yang sekular,dan emperisme cenderung menyangkal otoritas dan intuisi sebagai sumber dan metode ilmu yang sah, rasionalisme dan empirisme bukannya menyangkal adanya otoritas dan intuisi kepada nalar dan pengalaman inderawi. 

Rumusan Masalah

Berdasarkan pembahasan di atas, dalam makalah ini dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut;

1. Pengertian Epistimologi Intuisionisme ? 
2. Lahirnya Epistimologi Intuisionisme dan Tokoh Penganutnya?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Epistemologi Intuisionisme

Dalam Kamus Ilmiah dinyatakan bahwa Intuisionisme adalah suatu anggapan bahwa ilmu pengetahuan dapat dicapai dengan pemahaman langsung. Aggapan bahwa kewajiban moral tidak dapat disimpulkan sendiri tanpa pertolongan dari Tuhan. Intuisi tertinggi tersebut menangkap objek secara langsung tanpa melalui pemikiran.[3]

Intuisionisme menunjukkan kecenderungan untuk mengutamakan intuisi dalam pengetahuan manusia. Umumnya para pembelah pandangan ini melebih-lebihkan nilai pengetahuan intuitif bahkan mempertalikan dengan manusia cara-cara mengetahui yang kemungkinan-kemungkinan kodrat manusia. Disini yang dimaksud intuisi bukan intuisi dalam arti biasa,melainkan tindakan-tindakan pengetahuan yang lebih tinggi yang sungguh atau diandaikan mendekati kesiapan dan kepenuhan intuisi ruhani. Pendekatan semacam ini kurang lebih terjadi dalam pemahaman kreatif mengenai hubungan-hubungan diantara hal-hal, khususnya kadang-kadang pendekatan ini terjadi dalam individu-individu yang mendapat karunia yang tinggi. Namun demikian, sebagian besar, intuisi ini mengandaikan keakraban dengan obyek dalam waktu lama dan melalui pertimbangan dan karenanya intuisi dibenarkan melalui pemikiran metodis dikaitkan irasionalisme.

Makalah Filsafat: Epistemologi Intuisionisme

Menurut Henri Bergson, intuisionisme dikaitkan dengan irasionalisme karena intuisionisme mengandaikan didalam manusia suatu penangkapan irasional atau emosional secara langsung terhadap realitas yang suprainderawi. 

B. Lahirnya Epistimologi Intuisionisme dan Tokoh Penganutnya

Intuisionisme muncul pada permulaan tahun 1920-an dalam kaitan dengan polemik tentang prinsip-prinsip teoritis matematika. Menurut intuisionisme, pemikiran matematis yang tepat/pasti dilandasi intuisi konstruksi logis, semua matematika dilandasi intuisi semacam ini. Dan karenanya, objek-objek matematis tidak ada secara terpisah dari pasangan-pasangan logisnya. Untuk menghindari paradoks-paradoks, bukti matematis harus didasarkan logika ketat, penjelasan intuitif. Bukti ini benar jikalau seseorang mengerti secara intuitif setiap tahapnya, yang dimulai dari titik-titik keberangkatan dan aturan-aturan penalaran. Itulah sebabnya dapat diterapkan hukum-hukum logis dan aturan-aturan pada akhirnya diputuskan oleh intuisi [4]. 

Aliran intuisi ini lahir sebagai reaksi kritik terhadap aliran rasionalisme dan empirisme, tokoh aliran ini adalah Henri Bergson (1854-1941). Henri Bergson berpendapat bahwa tidak hanya indera yang terbatas, tetapi akalpun demikian, objek-objek yang kita tangkap itu selalu berubah.

Dari pendapat diatas dapat dipahami bahwa indera dan akal memiliki keterbatasan dalam memahami suatu objek. Indera dan akal dapat memahami suatu objek jika ia mengkonsentrasikan dirinya pada objek tersebut. Dengan menyadari keterbatasan indera dan akal, Bergson mengembangkan satu kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki manusia, yaitu intuisi. Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatakan melalui proses penalaran tertentu. Ini merupakan penalaran hasil evolusi pemahaman tertinggi dan intuisi tersebut menangkap objek secara langsung tanpa melalui pemikiran.

Bagi intuisionisme, pengalaman lain (pengalaman bathiniah) disamping pengalaman yang dihayati melalui indera. Tesa yang dikembangkan oleh paham ini ternyata memiliki sisi yang memberatkan melalui penerjemahan kedalam simbol-simbol, sehingga kita akan berbicara mengenai pengetahuan yang sifatnya subjektif.

Seseorang yang pemikirannya terpusat pada suatu masalah, tiba-tiba saja kita menemukan jawaban atas permasalahan tersebut. Tanpa melalui proses berfikir yang berlaku, tiba-tiba saja sudah sampai pada suatu kesimpulan (Jawaban) suatu permasalahan yang dipikirkan yang artinya intuisi ini bekerja dalam keadaan yang tidak sepenuhnya sadar.

Suatu masalah yang sedang kita pikirkan yang kemudian kita tunda karena menemui jalan buntu, tiba-tiba muncul dibenak kita lengkap dengan jawabannya, kita merasa yakin bahwa itulah jawaban yang kita cari, namun kita tidak bisa menjelaskan bagaimana caranya sampai di sana.[5]

Disini yang dimasukkan intuisi bukan intuisi secara dalam arti biasa, melainkan tindakan-tindakan pengetahuan yang lebih tinggi yang sungguh-sungguh atau diandaikan mendekati kesiapan dan kepenuhan intuisi rohani. Pendekatan semacam ini kurang lebih terjadi dalam pemahaman kreatif mengenai hubungan-hubungan diantara hal-hal, khususnya kadang-kadang pendekatan ini terjadi dalam individu-individu yang mendapat karunia yang tinggi. Namun demikian, sebagian besar intuisi ini mengandaikan keakraban dengan obyek dalam waktu lama dan melalui pertimbangan, dan karenanya intuisi harus dibenarkan melalui pemikiran.[6] Pada akhirnya lahirlah aliran intuisi ini sebagai reaksi kritik terhadap aliran rasionalisme dan emperisme, tokoh aliran ini adalah Henri Bengson (1854-1941).[7] 


Dari pendapat diatas dapat dipahami bahwa indra dan akal memiliki keterbatasan dalam memahami suatu objek. Indra dan akal juga dapat memahami suatu objek jika ia mengkonsentrasikan dirinya pada objek tersebut. Dan karenanya, mereduksi asal-usul realitasnya semata-mata pada kekuatan-kekuatan alamiah belaka.

Penyangkalan Intuisi dan Otoritas

Intuisi sebagai sumber dan metode ilmu yang sah[8]. rasionalisme dan emperisme bukanya menyangkal adanya otoritas dan intuisi, tetapi mereduksi otoritas dan intuisi kepada nalar dan pengalaman inderawi, adalah benar bahwa pada mulanya, otoritas dan intuisi, penalaran dan pengalaman selalu berasal dari seorang yang menalari dan mengalami, tetapi ini tidak kemudian berarti bahwa karena itu otoritas dan intuisi dapat direduksi kepada nalar dan pengalaman inderawi belaka. Jika kita menerima bahwa pada tingkat kesadaran manusia normal saja nalar dan pengalaman inderawi memiliki tingkat-tingkat yang batasnya dapat dikenali, maka tidak berdasarlah kalau menganggap bahwa tidak ada tingkat-tingkat pengalaman dan kesadaran manusia yang lebih tinggi, yang melampoi batas-batas akal dan pengalaman normal, dimana ada tingkatan intelektual dan ruhaniah, serta pengalaman yang batas-batasnya hanya di ketahui oleh tuhan.

Mengenai Intuisi, kaum rasionalis, sekularis, emperis, dan psikolog pada umumnya telah menyempitkannya pada pengamatan inderawi dan menyimpulan logis yang telah amat lama direnungkan oleh pikiran, yang maknanya tiba-tiba saja terpahamkan, atau intuisi direduksi pada bangunan emosional dan indera laten, yang terbebas seketika dalam proses pemahaman yang tiba-tiba. Meskipun demikian, karena hepotesis dan teori, sains, menurut mereka, mensyaratkan adanya hubungan antara teori atau hipotesis tersebut dengan fakta hasil pengamatan, dan karena kecondongan terhadap salah satunya tidak ditentukan oleh suatu kriteria kebenaran objektif, maka kebenaran itu sendiri diupayakan sedemikian hingga dapat mendukung fakta-fakta, maka kecondongan demikian hanya ditentukan oleh pertimbangan-pertimbangan subjektif dan selera semata, yang bergantung pada kesepakatan umum.

Kebergantungan terhadap kesepakatan umum ini telah menciptakan kecenderungan untuk menganggap masyarakat, ketimbang individu, sebagai yang tertinggi, nyata, dan memiliki otoritas. Paham konvensionalisme ini mereduksi semua bentuk institusional sebagai ciptaan dari apa yang disebut “pikiran kolektif” masyarakat. Ilmu sendiri, dan bahkan bahasa, tidak lebih dari sekadar ungkapan, dan alat pikiran kolektif yang tak bisa di perbincangkan, yang disebut masyarakat.

Keraguan

Keraguan akhirnya ditiggikan posisinya menjadi metode epistemologi. Melalui metode inilah kaum rasionalis dan sekolaris percaya bahwa mereka akan mencapai kebenaran. Yang mengantar mereka kepada kebenaran adalah hidayah (petunjuk Ilahi), bukan keraguan .

Keraguan adalah pergerakan antara dua yang saling ketergantungan tanpa ada kecenderungan pada salah satunya. Ia merupakan keadaan yang tak bergerak di tengah-tengah dua hal yang bertentangan tanpa kecondongan hati terhadap salah satunya. Kalau hati lebih condong pada yang satu, bukan pada yang lainnya, sementara tidak menolak yang lainnya tersebut, maka keadaan ini dugaan.

Jadi yang dipersepsi oleh indera-indera itu bukanlah realitas sesungguhnya dalam dirinya sendiri, melainkan Sesutu yang menyerupai atau merupakan representasi dari realitas itu, sebagaimana yang tertangkap oleh indera-indera itu. Yang disebut realitas lahiriah adalah sesuatu terhadapnya pancaindera yang melakukan kerja abstraksi, yang menghasilkan rupa. Demikian juga dalam hubungannya dengan makna, yang merupakan representasi realitas yang di tanamkan ke dalam diri, karena telah menyarikan dan membebaskan (melakukan abstraksi) aksiden-aksiden yang melekat padannya, yang bukan merupakan hakekatnya seperti kualitas, kuantitas,ruang, dan posisinya. Sedangkan makna adalah apa yang dipersepsikan oleh indera batin dari objek inderawi tanpa terlebih dahulu dipersepsi indera lahir.

Akal dan Intuisi

Mengenai “akal yang sehat” kita tidak memaksudkannya dalam artinya yang hanya terbatas pada unsur-unsur inderawi, atau pada fakultas mental yang secara logis mensistematisasi dan menafsirkan fakta-fakta pengalaman inderawi menjadi citra akliah yang dapat dipahami setelah melalui proses abstraksi, atau yang melaksanakan kerja abstraksi fakta-fakta dan data inderawi serta hubungan keduanya, dan mengaturnya dalam suatu aturan yang menghasilkan hukum-hukum, sehingga menjadikan alam dapat dipahami. Sesungguhnya, akal memang adalah semua ini, tetapi lebih dari itu, kita berpendapat bahwa semua ini hanyalah merupakan salah satu aspek akal. Dalam artinya yang lebih luas dan penuh, akal ini bekerja selaras,bukan bertentangan. Akal adalah suatu ubstansi ruganiah yang melekat dalam organ ruhaniah pemahaman yang kita sebut hati atau kalbu,yang merupakan tempat terjadinya intuisi.[9]

Eksistensi waktu dan intensitas waktu oleh manusia diukur dengan alat-alat yang berbeda, yaitu dengan “intelek” dan intuisi. Intelek mengana lisa, menghitung, dan mengukur, dan membandingkan. Intuisi adalah unsur yang menangkap kebebasan, elan vital dan keberlangsungan. “keberlangsungan”hanya dialami sebagai keseluruhan. Seperti suatu melodi didengar sebagai keseluruhan dan tidak sebagai deretan bunyi-bunyi yang terpisah satu sama lain. Intuisi membebaskan manusia dari ketertutupan waaktu matematis. Keberlangsungan tidak ada, melainkan menjadi keberlangsungan tidak dapat ditangkap dalam kategori-kategori tetap.

Intuisi ini merupakan milik eksklusifia manusia. Berkat intuisinya dunia terbuka untuk manusia. Intuisi adalah kekuatan yang terus menerus mendorong kita untuk memperbaharui pola-pola statis. Itu juga berlaku untuk moral dan agama institusional.[10]

Pengetahuan atau pemahaman instinktif, bawaan tanpa menggunakan alat indera,pengalaman biasa, dan rasio kita. Intuisi telah dianggap sember pengetahuan yang benar dan pasti, dan sebagai satu-satunya sumber pengatahuan tentang alam-alam wujud seperti tentang bentuk-bentuk ideal, tentang tuhan.

Intuition (Kant) secaraumum, proses menginderai ,atau tidak menginderawan. Ada dua jenis Intuisi:[11]

1. Intuisi emperis (a posteriori) melalui alat indera.

2. Intuisi murni atau formal (a priori), yang menyusun apa yang diberikan oleh intuisi emperus menjadi sensasi yang memiliki kwalitas wujud dalam ruang dan waktu. Anschouung adalah kata bahasa jerman untuk intuisi yang digunakan oleh Kant, yang memiliki konotasi penampakan; persepsi; sesuatu yang hadir dan diorganisir pikiran secara langsung dan cepat. 

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat dipetik dari pembahasan makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Intuisionisme, bukan hanya indera yang memiliki keterbatasan, tetapi akalpun juga demikian. Objek- objek yang kita tangkap itu adalah objek yang selalu berubah. Dengan menyadari keterbatasan indera dan akal, aliran intuisionisme mengembangkan suatu kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki manusia yaitu intuisi. Intuisi ini merupakan hasil evolusi pemahaman yang tertinggi. Dan intuisi tersebut menangkap objek secara langsung tanpa melalui pemikiran.

B. Saran

Mengingat makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun penulis harapkan dari berbagai pihak demi pengembangan penulis kedepannya. Akhirnya, semoga makalah ini memberi manfaat kepada pembaca. 

DAFTAR PUSTAKA

Harry Hamersma. Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern, Cet. V; jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama. 1992.

Louis O. Kattsoff. Pengantar Filsafat, Cet. 1X; Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004.

Lorens Bagus. Kamus Filsafat, Cet. IV; Jakarta: PT.Gremedia Pustaka Utama), 2005.

Rahmat Jalaluddin. Tim Penulis Rosda, Kamus Filsafat. Cet. 1; Bandung: Remaja Rosda Karya. 1995.

Syed Muhammad Naquib Al-attas, Diterjemahkan Dari Islam And The Philosophyof Science, Cet. 1; Bandung: Mizan Anggota IKAPI, 1995.

http://sanadthkhusus.blogspot.com/2011/05/teori-teori-epistemologi.html, 

Catatan Kaki

[1] Saiful Musani, Diterjemahkan dari Islam and the Philosophy of Science (Cet. 1. Bandung: Misan Anggota IKAPI), h. 28. 

[2] Ibid., h. 29. 

[3]http://sanadthkhusus.blogspot.com/2011/05/teori-teori-epistemologi.html, 

[4] Lorens Bagus, Kamus Filsafat (Cet. IV; Jakarta: PT.Gremedia Pustaka Utama, 2005 ),h.369. 

[5] http://sanadthkhusus.blogspot.com/2011/05/teori-teori-epistemologi.html, 

[6] Ibid., Kamus Filsafat, h. 368-369 . 
[7] http.,Op. Cit., h. 1. 

[8] Syed Muhammad Naquib Al-attas, Diterjemahkan Dari Islam And The Philosophyof Science (Cet. 1; Bandung: Mizan Anggota IKAPI, 1995), h. 29-30. 

[9] Ibid., h. 28-29. 

[10] Harry Hamersma. Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern, (cet. V; jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama. 1992), h. 104-105. 

[11] Jalaluddin Rahmat. Tim Penulis Rosda, Kamus Filsafat. (Cet. 1; Bandung: Remaja Rosda Karya, 1995), h. 113.



0 Response to "Makalah Filsafat: Epistemologi Intuisionisme"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!