Maqashid Syariah Asy-Syatibi

Advertisement
Tongkronganislami.net - Imam Syatibi membahas tentang Maqasid al-Syari’ah ini dalam kitab al-Muwafaqat juz II sebanyak 350 halaman (menurut buku cetakan al-Maktabah al-Taufiqiyyah yang ditahkik oleh Abdullah Dirraz). Persoalan yang dikemukakan di dalamnya sebanyak 62 masalah.

Imam Syatibi membagi al-maqasid ini kepada dua bagian penting yakni: Maksud Syari’ (qasd al-syari’) dan Maksud Mukallaf (qasd al-mukallaf). Maksud Syari’ kemudian dibagi lagi menjadi 4 bagian yaitu:

Maqashid Syariah Yusuf Qardawi

1. Qasd al-Syari’ fi Wad’i al-Syari’ah (maksud syari dalam menetapakan syariat). 

Bagian ini ada 13 permasalahan yang dikemukakan. Namun semuanya mengacu kepada suatu pertanyaan: “Apakah sesungguhnya maksud syari dengan menetapkan syariat-Nya itu?”

Menurut Imam Syatibi, Allah swt. menurunkan syariat (aturan hukum) tiada lain selain untuk mengambil kemaslahatan dan menghindari kemadaratan (jalb al-masalih wa dar’u al-mafasid). Dengan bahasa yang lebih mudah, aturan-aturan hukum yang Allah swt. tentukan hanyalah untuk kemaslahatan manusia itu sendiri. Syatibi kemudian membagi maslahat ini kepada tiga bagian penting yaitu daruriyyat (primer), hajiyyat (skunder) dan tahsiniyyat (tersier,lux)

Maqasid atau maslahat yang darurat adalah sesuatu yang mesti ada demi terwujudnnya kemaslahatan agama dan dunia. Apabila hal ini tidak ada, akan menimbulkan kerusakan bahkan hilangnya hidup dan kehidupan seperti makan, minum, shalat, puasa dan ibadah-ibadah lainnya. Yang termasuk maslahat atau maqasid al-daruriyyat ini ada lima yaitu: agama (al-din), jiwa (al-nafs), keturunan (al-nasl), harta (al-mal) dan akal (al-‘aql).

Cara untuk menjaga kelima tersebut, dapat ditempuh dengan dua cara yaitu:

1. Dari segi adanya (min nahiyyat al-wujud) yaitu dengan cara manjaga dan memelihara hal-hal yang dapat melanggengkan keberadaannya.

2. Dari segi tidak ada (min nahiyyat al- ‘adam) yaitu dengan cara mencegah hal-hal yang menyebabkan ketiadaannya.

Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh berikut ini:

a. Menjaga agama dari segi al-wujud misalnya shalat dan zakat.
b. Menjaga agama dari segi al-‘adam misalnya jihad dan hukuman bagi orang murtad.
c. Menjaga jiwa dari segi al-wujud misalnya makan dan minum.
d. Menjaga jiwa dari segi al-‘adam misalnya hukuman kisas dan diyat.
e. Menjaga akal dari segi al-wujud misalnya makan dan mencari ilmu.
f. Menjaga akal dari segi al-‘adam misalnya had bagi peminum khamr.
g. Menjaga keturunan dari segi al-wujud misalnya nikah.
h. Menjaga keturunan dari segi al-‘adam misalnya had bagi pezina dan muqz\if.
i. Menjaga harta dari segi al-wujud misalnya jual beli dan mencari rizki.
j. Menjaga hata dari segi al-‘adam misalnya riba, memotong tangan pencuri.

Urutan kelima daruriyyat ini bersifat ijtihadi bukan naqli, artinya disusun berdasarkan pemahaman para ulama terhadap nas yang diambil dengan cara istiqra. Dalam merangkai kelima daruriyyat tersebut (ada juga yang menyebutnya dengan al-kulliyyah al-khamsah), Imam Syatibi terkadang lebih mendahulukan akal dari pada keturunan, terkadang keturunan terlebih dahulu kemudian akal dan terkadang keturunan lalu harta dan terakhir akal. Namun, satu hal yang perlu dicatat bahwa dalam susunan yang manapun Imam Syatibi tetap selalu mengawalinya dengan agama dan jiwa terlebih dahulu.

Cara kerja dari kelima daruriyyat tersebut adalah masing-masing harus berjalan sesuai dengan urutannya. Menjaga agama harus lebih didahulukan daripada menjaga yang lainnya; menjaga jiwa harus lebih didahulukan dari pada akal dan keturuan, dan begitu seterusnya. Salah satu contoh yang dapat dikemukakan adalah membunuh diri atau menceburkan diri dalam kebinasaan adalah sesuatu yang dilarang sebagaimana bunyi teks dalam surat al-Baqarah. Akan tetapi kalau untuk kepentingan berjihad dan kepentingan agama Allah, menjadi boleh karena sebagaimana telah disinggung di atas bahwa menjaga agama harus didahulukan dari pada menjaga jiwa. Oleh kerena itu, sebagian besar para ulama membolehkan istisyhad para pejuang Palestina dengan pertimbangan hukum di atas.

Maslahat al-hajiyyat adalah sesuatu yang sebaiknya ada agar dalam melaksanakannya leluasa dan terhindar dari kesulitan. Kalau sesuatu ini tidak ada, tidak akan menimbulkan kerusakan atau kematian hanya saja akan mengakibatkan masyaqah dan kesempitan. Misalnya, dalam masalah ibadah adalah adanya rukhsah; salat jama dan qasar bagi orang yang dalam perjalanan.

Maslahat al-tahsiniyyat adalah sesuatu yang sebaiknya ada demi sesuainya dengan keharusan akhlak yang baik atau dengan adat. Kalau sesuatu ini tidak ada, tidak akan menimbulkan kerusakan atau hilangnya sesuatu juga tidak akan menimbulkan masyaqah dalam melaksanakannya, hanya saja dinilai tidak pantas dan tidak layak menurut ukuran tatakrama dan kesopanan. Di antara contohnya adalah bersuci, menutup aurat dan hilangnya najis.

2. Qasd al-Syari’ fi Wad’i al-Syari’ah li al-Ifham (maksud Syari’ dalam menetapkan syariatnya ini adalah agar dapat dipahami).

Bagian ini merupakan pembahasan yang paling singkat karena hanya mencakup lima masalah. Dalam menetapkan syariat, Syari’ bertujuan agar mukallaf dapat memahaminya, itulah maksud dari bagian kedua.

Ada dua hal penting yang dibahas dalam bagian ini. Pertama, syariat ini diturunkan dalam Bahasa Arab sebagaimana firman Allah swt. dalam Q.S. Yusuf ayat 2; Q.S. al-Syu’ara:195. Oleh kerena itu, untuk dapat memahaminya harus terlebih dahulu memahami seluk beluk dan gaya (uslub) bahasa Arab. 

Dalam hal ini, Imam Syatibi berkata: “Siapa orang yang hendak memahaminya, ia seharusnya memahami dari sisi lidah Arab terlebih dahulu karena tanpa ini tidak mungkin dapat memahaminya secara mantap. Inilah yang menjadi pokok dari pembahasan masalah ini”.

Dengan bahasa lebih mudah, di samping mengetahui bahasa Arab, untuk memahami syariat ini juga dibutuhkan ilmu-ilmu lain yang erat kaitannya dengan lisan Arab seperti usul fikih, mantiq, ilmu ma’ani dan yang lainnya. Karenanya, tidaklah heran apabila selain bahasa Arab, usul fikih termasuk salah satu persyaratan pokok yang harus dimiliki seorang mujtahid.

Kedua, bahwa syariat ini ummiyyah, maksudnya untuk dapat memahaminya tidak membutuhkan bantuan ilmu-ilmu alam seperti ilmu hisab, kimia, fisika dan ilmu eksat lainnya. Hal ini dimaksudkan agar syariat mudah dipahami oleh semua kalangan manusia. Apabila untuk memahami syariat ini memerlukan bantuan ilmu lain seperti ilmu alam, setidaknya ada dua kendala besar yang akan dihadapi manusia umumnya, yaitu kendala dalam hal pemahaman dan dalam pelaksanaan. Syariat mudah dipahami oleh siapa saja dan dari bidang ilmu apa saja karena ia berpangkal kepada konsep maslahah.

Di antara landasan bahwa syariat ini ummiyyah adalah karena pembawa syariat itu sendiri (Rasulullah saw.) adalah seorang yang ummi sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah swt. Q.S. al-Jumu’ah: 2, al-Araf ayat 158, al-Ankabut 48 dan keterangan-keterangan lainnya.

Ada kecenderungan berlebihan dari sebagian ulama yang tidak sesuai dengan sifat syariat ummiyyah ini, lanjut Syatibi, yaitu bahwa al-Qur’an mencakup semua bidang keilmuan, baik keilmuan lama ataupun modern. Al-Qur’an menyinggung dan sesuai dengan berbagai disiplin ilmu, namun tidak berarti al-Qur’an mencakup semuanya, itu semua hanyalah isyarat saja dan bukan sebagai legitimasi semua disiplin ilmu.

3. Qasd al-Syari’ fi Wad’i al-Syari’ah li al-Taklif bi Muqtadaha

Bagian ini dimaksudkan bahwa maksud Syari’ dalam menentukan syariat adalah untuk dilaksanakan sesuai dengan yang dituntut-Nya. Masalah yang dibahas dalam bagian ini ada 12 masalah, namun semuanya mengacu kepada dua masalah pokok yaitu:

Pertama, pembebanan yang di luar kemampuan manusia (al-taklif bima la yutaq). Pembahasan ini tidak akan dibahas lebih jauh karena sebagaimana telah diketahui bersama bahwa tidaklah dianggap taklif apabila berada di luar batas kemampuan manusia. Dalam hal ini Imam Syatibi mengatakan: “Setiap taklif yang di luar batas kemampuan manusia, maka secara Syar’i taklif itu tidak sah meskipun akal membolehkannya”

Apabila teks Syari’ ada redaksi yang mengisyaratkan perbuatan di luar kemampuan manusia, maka harus dilihat pada konteks, unsur-unsur lain atau redaksi sebelumnya. Misalnya, firman Allah: “Dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim”. Ayat ini bukan berarti larangan untuk mati karena mencegah kematian adalah di luar batas kemampuan manusia. Maksud larangan ini adalah larangan untuk memisahkan antara keislalman dengan kehidupan di dunia ini karena datangnya kematian tidak akan ada yang mengetahui seorangpun. 

Kedua, pembebanan yang di dalamnya terdapat masyaqah, kesulitan (al-taklif bima fih masyaqqah). Persoalan inilah yang kemudian dibahas panjang lebar oleh Imam Syatibi. Menurut Imam Syatibi, dengan adanya taklif, Syari’ tidak bermaksud menimbulkan masyaqah bagi pelakunya (mukallaf). Tetapi sebaliknya di balik itu ada manfaat tersendiri bagi mukallaf. Bila dianalogikan kepada kehidupan sehari-hari, obat pahit yang diberikan seorang dokter kepada pasien, bukan berarti memberikan kesulitan baru bagi sang pasien akan tetapi di balik itu demi kesehatan pasien itu sendiri pada masa berikutnya.

4. Qasd al-Syari’ fi Dukhul al-Mukallaf Tahta Ahkam al-Syari’ah

Pembahasan bagian terakhir ini merupakan pembahasan paling panjang mencakup 20 masalah. Namun semuanya mengacu kepada pertanyaan: “Mengapa mukallaf melaksanakan hukum syariat?” Jawabannya adalah untuk mengeluarkan mukallaf dari tuntutan dan keinginan hawa nafsunya sehingga menjadi seorang hamba yang dalam istilah Imam Syatibi disebut: hamba Allah yang ikhtiyaran dan bukan yang idtiraran. Atau dalam istilah Dr. Ahmad Zaid: Ikhrajul ‘abd min da’iyat al-hawa ila dairat al-‘ubudiyyah.

Untuk itu, setiap perbuatan yang mengikuti hawa nafsu, maka batal dan tidak ada manfa’atnya. Sebaliknya, setiap perbuatan harus senantiasa mengikuti petunjuk Syari’ dan bukan mengikuti hawa nafsu.

Demikian sekilas tentang Maqasid al-Syari’ah menurut Imam Syatibi. Gambaran tersebut tentunya tidak memberikan pemahaman yang menyeluruh tentang Maqasid al-Syari’ah itu sendiri, namun paling tidak tergambar bahwa rumusan Imam Syatibi ini lebih sistematis dan lengkap dibandingkan rumusan-rumusan para ulama usul sebelumnya. 

Apa yang tertulis dalam al-Muwafaqat khususnya dan karya-karta Imam Syathibi lainnya betul-betul telah mempengaruhi pemikiran para ulama berikutnya semisal Muhammad Abduh, Muhammad Rasyid Ridha, Abdullah Darraz, Muhammad Thahir bin Asyur dan ‘Allal Fasy.

Sumber Tulisan, Lihat Abu Ishaq al-Syatibi, Al-Muawafaqat fi Usul al-Syari’ah, juz 1 (Kairo: Dar al-Taufiqiyyah, 2003)



0 Response to "Maqashid Syariah Asy-Syatibi"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!