Menghadirkan Kedamaian dalam Diri Sendiri

Advertisement
Tak satu pun agama yang memberikan toleransi terhadap kekerasan, baik terhadap diri sendiri ataupun orang lain. Bukan semata-mata ajaran agama itu yang melarang, melainkan karena kekerasan bertentangan dengan fitrah manusia dan nilai-nilai kemanusiaan. 

Kekerasan akan menghancurkan manusia dan peradabannya yang telah dibangun sejak permulaan manusia itu ada. Manusia dan peradabannya selalu mendambakan terbangunnya perdamaian dan kedamaian sejati, bukan perdamaian yang dibuat-buat (semu) karena berbagai motif yang terselubung dan tidak bertanggung jawab. Perdamaian yang diharapkan adalah perdamaian yang didasarkan cinta kasih sesama sebagai makhluk Tuhan, yang mempunyai beban dan tanggung jawab sama di muka bumi, yaitu mewujudkan perdamaian itu sendiri.

Karena peradaban manusia selalu diwarnai pertentangan dan kepentingan, maka Tuhan memberi petunjuk berupa agama untuk membimbing manusia kepada jalan yang benar atau jalan perdamaian. Peradaban dan budaya yang tidak dibimbing oleh agama akan membawa sengsara dan pertentangan. Ini terbukti dengan semakin hilangnya nilai-nilai kemanusiaan dan kebersamaan akibat modernisasi yang tidak dibarengi dengan peneguhan keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Sikap kebersamaan dan gotong-royong telah diganti dengan sikap individualistis, sikap saling tolong-menolong dan membantu berubah menjadi saling bermusuhan (antagonistik), serta spiritualitas murni digantikan dengan spiritualitas semu yang serba formalis. 

Inilah yang membawa manusia kepada kekacauan dan ketidakstabilan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Islam sangat menganjurkan umatnya untuk mewujudkan perdamaian di dunia ini. Bahkan, perdamaian itu merupakan sebagian dari pokok keberagamaan umat. Iman sebagai inti dari agama mengandung tiga pengertian, yakni al-iman (percaya kepada keesaan Allah), al-amanah (sikap jujur), dan al-aman (menghadirkan keamanan dan kedamaian).
meraih ketenangan dalam islam

Orang yang menyatakan beriman kepada Allah dituntut mampu melaksanakan tiga makna tersebut, yaitu: percaya, jujur, dan damai. Orang beriman yang hanya percaya kepada Allah namun tidak bersikap jujur dan malah berbuat kerusakan dan kekerasan berarti keimanannya tidak sempurna. 

Manusia harus utuh dalam beragama, tidak setengah-setengah, serta tidak memilah dan memilih dalam melaksanakan perintah agama. Allah dengan tegas menyatakan dalam surat al-Baqarah ayat 208:

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan, sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata”. 

Orang yang menghendaki kesempurnaan agama (total beragama) harus mampu menghadirkan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat, karena kedamaian itu merupakan bagian dari ajaran agama, bahkan menjadi identitas bagi agama Islam. Nabi bersabda: 

“Yang dikatakan orang Islam itu adalah orang di mana orang lain (muslim lain) merasa selamat dari tangan dan lisannya”. 

Sehingga, Islam ketika dalam peperangan pun mempunyai etika yang sangat agung, misalnya dilarang membunuh wanita dan anak-anak, dilarang merusak tanaman dan benda lain, serta tidak boleh membunuh masyarakat sipil. Islam menganjurkan agar umatnya menjadi pihak yang bertahan bukan yang mulai melakukan kekerasan atau peperangan. Banyak ayat yang mendukung perdamaian ini, misalnya kandungan surat an-Nisâ: 90-91, al-Baqarah: 224, asy-Syûrâ: 40, dan lain-lain. 

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zhalim”. 

Meskipun Allah pernah melarang umat Islam melakukan perdamaian seperti dalam surah Muhammad ayat 35, “Janganlah kamu lemah dan minta damai, padahal kamulah yang di atas dan Allah (pun) beserta kamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi (pahala) amal-amalmu”, namun konteks larangan damai ini adalah tatkala musuh menyerang dan tidak mau diajak damai. Sekali lagi, Islam menganjurkan agar melakukan perdamaian dulu. Jika perdamaian itu tidak bisa dilakukan, maka Islam baru melarang mengalah atau mundur dari peperangan. Inilah sikap lunak dan tegas dalam Islam. 

Mahmud Muhammad Thaha, ulama asal Maroko mengatakan bahwa shalat seorang muslim tidak sempurna manakala tidak menghadirkan jiwa (khusyu’) dalam takbiratul ihram dan salam. Kehadiran jiwa saat takbiratul ihram berarti pengakuan secara jujur dan ikhlas akan kekuasaan Tuhan sebagai pencipta dan dirinya sebagai hamba yang sebenarnya. Kehadiran jiwa saat salam berarti aplikasi kehambaan individu di hadapan masyarakat untuk selalu melahirkan keselamatan (salam), kedamaian, dan ketentraman.

Perdamaian dan kedamaian itu dapat berhasil apabila dimulai dari pribadi masing-masing. Ibda’ bi nafsik (mulailah dari dirimu sendiri), demikian sabda Nabi. Memulai perdamaian dari diri sendiri berarti harus mampu menghadirkan kedamaian dalam jiwa dan menjauhkannya dari kerusakan dan kehancuran. Allah berfirman: 

“Nafkahkanlah hartamu di jalan Allah dan janganlah kamu merusak dirimu sendiri dengan tanganmu, serta berbuat baiklah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik”. 

Diri kita pun harus dipenuhi hak-haknya, hak jasmani dan ruhani, serta harus dijauhkan dari hal-hal yang merusak jasmani dan rohani itu. 

Sebagai makhluk sosial, manusia diwanti-wanti oleh Islam agar mewujudkan perdamaian dan menjauhkan kerusakan dalam lingkup sosial kemasyarakatan. Allah sangat mengecam kerusakan yang dilakukan umat manusia di muka bumi ini. “Telah tampak kerusakan di muka bumi akibat ulah tangan manusia”. Dalam hal ini, menjaga lingkungan dari kerusakan adalah sebagian dari ajaran Islam untuk mewujudkan kebersamaan dan kedamaian bersama. 

Menghadirkan kedamaian pada diri sendiri dan masyarakat tidak akan bernilai tanpa dilandasi dengan ketakwaan kepada Allah dan kepatuhan kepada Rasulullah Saw, karena perintah perdamaian dan larangan berbuat kerusakan adalah perintah Allah dan perilaku yang dilakukan oleh Nabi. “Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku (Nabi), maka Allah akan mencintaimu dan memafkan dosa-dosamu”, demikian Allah menegaskan dalam firman-Nya. Artinya, sebagai umat Muhammad, kita harus berperilaku mengikuti pola perilaku yang diajarkannya, yaitu akhlak karimah (perilaku yang baik), di mana beliau adalah contoh yang terbaik (uswatun hasanah). Barakallâhu lî wa lakum. 

Sumber : Disunting dari Buletin Jum'at Masjid Agung At-Tin, yang ditulis oleh Prof. Dr. H. Ahmad Sukardja, SH.



0 Response to "Menghadirkan Kedamaian dalam Diri Sendiri"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!