Hasil Hisab Muhammadiyah 2016: Penetapan Awal Ramadhan, 1 Syawal (Idul Fitri), 10 Dzulhijjah (Idul Adha) 1437 H / 2016 M

Advertisement
Awal Ramadhan, Lebaran Idul Fitri (1 Syawal), dan Idul Adha (10 Dzulhijjah ) 1437 H / 2016 M Versi Muhammadiyah

Pada tanggal 18 April 2016, Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengeluarkan maklumat terkait dengan penetapan awal puasa ramadhan, hari lebaran Idul Fitri, hari arofah dan hari lebaran idul adha. Penetapan ini didasarkan pada hasil hisab hakiki wujudul hilal yang sejauh ini menjadi metode yang dilakukan oleh Majelis Tarjih Muhammadiyah.

Berbeda dengan metode yang dilakukan oleh ormas lain seperti Persis yang menggunakan imkan rukyat. Meskipun demikian penetapan awal Ramadhan yang dilakukan oleh Persis sesuai dengan yang ditetapkan oleh ormas Muhammadiyah. Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementrian Agama akan menetapkan awal ramadhan setelah melakukan metode rukyatul hilal di beberapa titik di Indonesia yang diputuskan dalam sidang isbat.

Hasil Hisab Awal Ramadhan dan Hari Lebaran Muhammadiyah

Isi Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah 
1437 H / 2016 M

Senin, 6 Juni 2016 adalah hari Awal Puasa Ramadhan (1 Ramadhan 1437 H) 
6 Juli 2016 adalah hari Lebaran Idul Fitri (1 Syawal 1437 H)
11 September 2016 adalah hari Hari Arofah (9 Dzulhijjah 1437)
12 September 2016 adalah hari Lebaran Idul Adha (10 Dzulhijjah 1437 H) 

Terkait dengan hasil hisab Muhammadiyah dapat di download pada maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah No 01/MLM/I.0/E/2016 Penetepan Muhammadiyah: Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah 1437 H

Menurut Muhammadiyah penggunan metode hisab wujud al-hilal merupakan metode yang paling tepat digunakan pada zaman modern ini. Metode hisab ini menggunkan tiga barometer utama, yaitu: terjadi ijtimak (konjungsi), ijtimak harus terjadi saat sebelum matahari tenggelam, dan matahari yang tenggelam terebut berada di atas ufuk. Terkait dengan alasan Muhammadiyah menggunakan matode hisab dapat dilihat pada beberapa alasan berikut:

1. Penggunaan hisab merupakan semangat Al-Qur'an: (QS Ar-rahman: 5) dan (QS Yunus: 5)

2. Penggunaan metode rukyat pada zaman Nabi SAW adalah perintah beralasan yaitu umat yang ummi yang tidak memungkinkan menggunakan metode hisab.

3. Metode hisab dapat memprediksi hari raya dengan cepat, hingga memudahkan membuat kalender Islam. Berbeda dengan metode rukyat belum mampu membuat kalender Islam, karena tidak dapat melihat jauh ke depan.

4. Metode hisab dapat menyatukan umat Islam secara global. Berbeda dengan metode rukyat yang tidak dapat mengcover seluruh daerah di dunia.

4. Metode hisab tidak menimbulkan masalah terkait dengan puasa Arafah.

Untuk lebih jelasnya terkait dengan argumentasi Muhammadiyah di atas dapat membaca tulisan Prof Syamsul Anwar, ketua Majelis Tarjih Muhammadiyah pada artikel Alasan Muhammadiyah dalam Metode Hisab. Pada artikel tersebut diterankan beberapa dalil yang melandasi metode hisab lebih unggul dibandinkan dengan metode rukyat.

Update: Jadwal Imsyakiyah Ramadhan Versi Muhammadiyah 



0 Response to "Hasil Hisab Muhammadiyah 2016: Penetapan Awal Ramadhan, 1 Syawal (Idul Fitri), 10 Dzulhijjah (Idul Adha) 1437 H / 2016 M"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!