Sketsa Biografi dan Peta Pemikiran Nasr Hamid Abu Zaid

Advertisement
Dari banyak artikel – artikel dan tulisan – tulisan tentang biografi Nashr Hāmid Abū Zaid, terungkap bahwa dia adalah seseorang akademisi yang memiliki kelebihan dalam ilmu – ilmu kebahasaan. Nashr Hāmid Abū Zaid menyelesaikan kesarjanaannya di jurusan Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Sastra, Universitas Kairo pada 1972, pada usianya yang ke-29. Lima tahun kemudian, di program yang sama ia menyelesaikan program Magisternya, dan pada 1981 ia resmi mendapat gelar Ph.D dalam bidang tersebut.[1]

Ada beberapa fase penting dalam kehidupannya, yang pada akhirnya mempengaruhi corak pemikirannya. Pertama adalah masa kecil Abū Zaid sebagai putra seorang religius sekaligus anggota gerakan Ikhwān al-Muslimīn. Nashr Hāmid telah menghafal al-Qur’an dalam usianya yang ke-8 tahun. Pada waktu itu juga, ia tertarik dengan pemikiran Sayyid Quthb tentang keadilan manusiawi dalam menafsirkan Islam.[2] Dari pemikiran Sayyid Quthb inilah Nashr mulai menemukan semangat kritisme dan konfrontatismenya. Sikap kritis ini juga yang pada akhirnya memberanikan dirinya untuk melakukan kritik terhadap pandangan Ikhwān al-Muslimīn yang kontra sosialisme dan revolusi.

Kedua, adalah pergumulannya dengan teori – teori bahasa dan hermeneutika barat pada kurun waktu 1960 – 1978. Pada 1960 ia aktif dalam jurnal al-Adab pimpinan al-Khullī. Dari hasil diskusi – diskusinya dengan al-Khullī inilah, mulai muncul ketertarikannya terhadap kritik sastrawi. Nashr semakin mampu mengasah ketajaman analisanya dengan teori – teori hermeneutika barat setelah pada 1976 ia mengajar bahasa Arab untuk orang – orang asing di Centre for Diplomats dan di Kementrian Pendidikan.

Buku Karangan Nasr Hamid Abu Zaid

Pada masa ini ia menulis artikel “al-Hirminiyūthīqā wa Mu’dhilāt tafsīr al-Nash, yang menurut pengakuannya merupakan artikel pertama tentang hermenutika dalam bahasa Arab. Ketertarikannya dengan Hermeneutika ini kemudian dimanifestasikan olehnya dalam penyusunan disertasi yang berjudul “Falsafat al-Ta’wīl : Dirāsah fī Ta’wīlal-Qur’ān ‘Inda Muhyiddīn Ibn al-‘Arabī”.[3]

Pada fase ini juga, mulai timbul kegelisahan mendalam pada diri Nashr Hāmid Abū Zaid setelah ia menemukan fakta ironis tentang representasi Islam di Mesir dalam wacana keagamaan yang berubah dari waktu ke waktu : ke arah sosialisme dan nasionalisme Arab pada era 1950 – 1960-an, dan ke arah islam sebagai agama pembangunan dan perdamaian pada tahun 1970-an. dalam pandangannya, perubahan representasi Islam ini disebabkan oleh interpretasi ideologis- tendensius terhadapnya.

Fase ketiga, adalah di antara kurun waktu 1978 hingga sekarang, saat Nashr mulai berani menunjukkan ketidak puasannya itu dalam karya – karya riil yang kontroversial. Fase ini juga menandai kemantapan intelektual serta kedudukan akademisnya, dengan keberhasilannya meraih gelar PhD pada 1981, menjadi profesor tamu di Jepang (1985-1989), dan sampai sekarang menjadi professor di Universitas Leiden. Pada masa ini, telah banyak buku – buku yang dihasilkan. Hampir semuanya mencerminkan pemikiran progressif-kontroversialnya. Yang karenanya pula, ia harus dihujat bahkan diasingkan dari Mesir.

Pada 1993, setelah karya – karya kritisnya terpublikasikan, ia dituduh murtad dan diajukan secara resmi ke pengadilan tingkat Pertama di Gizā. Dua tahun kemudian, Hakim memvonisnya murtad, karenanya ia diancam hukuman mati dan harus bercerai dengan istrinya.[4] Pendapat – pendapat yang dilontarkan Nashr ini bukanlah usahanya untuk menciptakan popularitas semata. Karena ia menyadari –dengan sepenuhnya- tanggung jawab ilmiah yang akan dilimpahkan kepadanya mengenai pemikirannya yang berseberangan dengan pandangan mayoritas di zamannya. Nashr sepenuhnya tahu bahwa beberapa pendahulunya telah mengambil resiko yang sama : kemungkinan dikucilkan dan dihujat.[5]

Dalam karya – karya tersebut, berdasarkan keahliannya dalam ilmu sastra dan linguistik, Nasr Hamid –setelah pergumulan seru dalam kepalanya- ingin mengungkapkan sesuatu hal yang mendasar tentang inti masalah yang sebenarnya dari akumulasi kegelisahan – kegelisahan akademisnya, yaitu tentangtekstualitas al-Qur’an. 

Kesalahan para pendahulunya adalah menganggap/ memposisikan segala bentuk teks sebagai sesuatu yang ahistoris. Sehingga tidak diketemukan sifat kritis dalam membaca “tradisi” (Turats). Padahal menurutnya:” Bagaimana mungkin tradisi yang asalnya adalah daya kritis kita perlakukan sebagai benda mati yang antik ?”.[6]

Dapat disimpulkan bahwa ia berusaha menerapkan methode kritis, yang dalam hal ini sang pengkaji teks harus dapat mengutarakan berbagai kemungkinan-kemungkinan yang dapat dipikirkan dalam studi al-qur’an, yaitu mengkomtekstualisasikan al-Qur’an dengan setting historis.[7] Dengan menggunakan kritik sastra, Abū Zaid memantapkan sebuah teori interpretasi yang dalam pandangannya telah melampaui kecenderungan – kecenderunga ideologis yang selama ini berkembang.[8]

Catatan Kaki

[1] Hilman Lathief, Nashr Hamd Abū Zaid, Kritik teks keagamaan (Yogyakarta : ElSaq Press, 2003) Hal. 39 

[2] Moch Nur Ichwan, Meretas Kesarjanaan Kritis al-Qur’an, Teori Hermeneutika Nashr Hāmid Abū Zaid, (Jakarta : TERAJU, 2003) hal 16-17.

[3] Moch Nur Ichwan, Meretas Kesarjanaan Kritis...Hal. 18 - 19 

[4] Nasr Hamid Abu Zaid, al-Tafkīr fī Zamān al-Takfīir, Dhidd al-Jahl wa al-Zayf wa al-Khurāfah, (Kairo; Sina li al-Nasr, 1995).hlm. 278-293. 

[5] 25 tahun sebelumnya, Muhammad Ahmad Khalafullāh ditolak disertasinya dan beserta profesor pembimbingnya, al-khullī, dimutasikan dari tempat ia bekerja setelah mengajukan karya “al-fann al-Qashashī fī al-Qur’ān al-Karīm”, yang menggunakan pendekatan historis-dedukti dalam memahami kisah – kisah dalam al-Qur’ān. Hal yang sama juga terjadi pada Ali Abdul Razik yang menulis “al-Islām wa Ushūl al-hukm” dan Thaha Husein dengan “Fī Syah al-Jāhilī” yang secara politis dipaksa untuk direvisi pada 1928. Baca : Hilman Lathief, Nashr Hamd Abū Zaid…(Yogyakarta : ElSaq Press, 2003) hal. 40 - 47 

11 Nasr Hamid Abu Zayd, Imam Syafi’i: Modernisme, Eklektisisme, Arabisme ( Yogyakarta:LKIS, 1997), hlm. vii. 

[7] Hilman Lathief, Nashr Hamd Abū Zaid…(Yogyakarta : ElSaq Press, 2003) Hal. 38 

[8] Moch Nur Ichwan, Meretas Kesarjanaan Kritis...Hal. 45


0 Response to "Sketsa Biografi dan Peta Pemikiran Nasr Hamid Abu Zaid"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!