Tokoh Hadis Kontemporer: Nashiruddin Al-Albani dan Msyuhudi Ismail

Advertisement
Sebelum berbicara lebih jauh mengenai tokoh-tokoh hadis kontemporer, pertanyaan pertama yang mesti dijawab adalah kapan batas awal dan akhir masa kontemporer.? Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan makna kontemporer dengan: “pada waktu yang sama; semasa; pada masa kini”.[1] Jadi dari sini dipahami bahwa kontemporer adalah masa kekinian. 

Hanya saja defenisi singkat seperti itu masih menyisakan tanda tanya besar dan keraguan karena makna kekinian sendiri belum jelas. Karena itulah ada yang menyamakan antara istilah kontemporer dan modern, di mana arti modern itu sendiri tidak jauh dari “sesuatu yang berhubungan dengan kekinian (present)”. 

Tetapi sekali lagi, defenisi singkat itu tetap melahirkan tanda tanya sampai manakah batasan kontemporer.? Pada akhirnya kontemporer akan kembali kebatasan waktu, bila batas akhir dari kontemporer itu tidak terbatas, maka perlu ditandai garis tegas batas awal dari kontemporer.

Merujuk kepada periodisasi penyusunan hadis Nabi, misalnya Nawir Yuslem membagi periodisasi tersebut ke dalam lima fase, yaitu :

1. Hadis pada abad pertama hijriah
2. Hadis pada abad ke-2 hijriah (masa penulisan dan pembukuan hadis secara resmi)
3. Hadis pada abad ke-3 hijriah (masa pemurnian dan penyempurnaannya)
4. Hadis pada abad ke-4 sampai ke-7 hijriah (masa pemeliharaan, penertiban, penambahan, dan penghimpunannya)
5. Hadis pada Abad ke-7 hijriah sampai sekarang (masa pensyarahan, penghimpunan, peng-takhrij-an dan pembahasan).[2]

Khusus untuk periode terakhir atau abad ke-7 Hijriah sampai sekarang, Nawir menjelaskan bahwa periode ini dimulai sejak Kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad ditaklukkan oleh oleh tentara Tartar (656 H/1258 M), yang kemudian Kekhalifahan Abbasiyah tersebut dihidupkan kembali oleh Dinasti Mamluk dari Mesir setelah mereka berhasil menghancurkan bangsa Mongol tersebut. Akan tetapi, pada permulaan abad ke-8 H, Usman Kajuk mendirikan kerajaan di Turki di atas puing-puing peninggalan Bani Saljuk di Asia Tengah, sehingga bersama-sama dengan keturunannya Usman berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil yang ada disekitarnya dan selanjutnya membangun Daulah Usmaniyah yang berpusat di Turki.[3] Dengan berhasilnya mereka menaklukkan Konstantinopel dan Mesir serta meruntuhkan Khilafah Abbasiyah, maka berpindahlah pusat kekuasaan Islam dari Mesir ke Konstantinopel. 

Pada abad ke-13 H (awal abad ke-19 M), Mesir, dengan dipimpin oleh Muhammad Ali, mulai bangkit untuk mengembalikan kejayaan Mesir. Namun, Eropa yang dimotori oleh Inggris dan Perancis semakin bertambah kuat dan berkeinginan besar untuk menguasai dunia. Mereka secara bertahap mulai menguasai daerah-daerah Islam, sehingga pada abad ke-19 sampai awal abad ke-20 M hampir seluruh wilayah Islam dijajah oleh bangsa Eropa. Kebangkitan kembali umat Islam baru dimulai sekitar pertengahan abad ke-20 M.
Tokoh Hadis Kontemporer M Syuhudi Ismail

Berdasarkan fakta dan sejarah di atas, penulis berkesimpulan bahwa makna dan batasan masa kontemporer dimulai sejak kebangkitan umat Islam pasca penjajahan bangsa Eropa yaitu pertengahan abad ke-20 M sampai sekarang.

Berdasarkan pengertian dan batasan kontemporer sebelumnya, penulis akan mengemukakan beberapa tokoh hadis yaitu; Nasiruddin Al-Albani dan M. Syuhudi Ismail.

Profil Nasiruddin Al-Albani, Tokoh Hadis Kontemporer

Biografi Singkat Al-Albani

Nama lengkapnya adalah Muhammad Nashiruddin bin al-Haj Nuh bin Adam Najati, nama julukanya “al-Albani” disandarkan kepada negeri kelahiranya Albania[4]nama kunyahnya adalah abu Abdirahman.[5] 

Al-Bani dilahirkan pada tahun 1333 H bertepatan pada tahun(1914 M) di kota Ashqodar (Asyqudarah/Shkodra), ibu kota lama repbublik Albania. Ia tumbuh dan berkembang di tengah keluarga miskin yang jauh dari kekayaan, akan tetapi terkenal akan ketekunan dan keseriusan mereka terhadap ilmu, khususnya ilmu agama dan ahli ilmu (ulama). Ayah al-Albani, yaitu al-Haj Nuh, adalah lulusan lembaga pendidikan ilmu-ilmu syariat di ibu kota negara Turki Usmani (yang kini menjadi Istanbul). Setelah al-Albani menyelesaikan studinya ia kembali ketanah kelahiranya al-Albania untuk mendedikasikan ilmunya untuk agama dan tanah airnya.[6] Ia wafat pada hari Jumat malam, 21 Jumada Tsaniyah 1420 H, atau bertepatan dengan tanggal 1 Oktober 1999, di Yordania.

Karir Akademik, Guru-guru dan Murid Al-Albani

Ketika Raja Ahmet Zogu naik tahta di Albania dan mengubah sistem pemerintahan menjadi pemerintah sekuler, Syeikh Nuh amat mengkhawatirkan dirinya dan diri keluarganya. Akhirnya, ia memutuskan untuk berhijrah ke Syam (Suriah, Yordania dan Lebanon sekarang). Ia sekeluarga pun menuju Damaskus.

Setiba di Damaskus, Syeikh al-Albani kecil mulai aktif mempelajari Bahasa Arab. Ia masuk madrasah yang dikelola Jum'iyah al-Is'af al-Khairiyah hingga kelas terakhir tingkat Ibtida'iyah. Selanjutnya, ia meneruskan belajarnya langsung kepada para syeikh ulama. Ia mempelajari al-Qur’an dari ayahnya sampai selesai, selain mempelajari pula sebagian fiqih madzhab, yakni madzhab Hanafi, dari ayahnya.

Syeikh al-Albani juga mempelajari ketrampilan memperbaiki jam dari ayahnya sampai mahir betul, sehingga ia menjadi seorang ahli yang mahsyur. Ketrampilan ini kemudian menjadi salah satu mata pencariannya.

Pada umur dua puluh tahun, al-Albani mulai mengonsentrasikan diri pada ilmu hadis lantaran terkesan dengan pembahasan-pembahasan yang ada dalam majalah al-Manar, sebuah majalah yang diterbitkan oleh Syeikh Muhammad Rasyid Ridha. Kegiatan pertama dibidang ini ialah menyalin sebuah kitab berjudul al-Mughni 'an Hamli al-Asfar fi Takhrij ma fi al-Ishabah min al-Akhbar, sebuah kitab karya al-Iraqi, berupa takhrij terhadap hadis-hadis yang terdapat pada Ihya' Ulumuddin karangan Imam Al-Ghazali. Kegiatan Syeikh Al-Albani dalam bidang hadis ini ditentang oleh ayahnya yang berkomentar, "Sesungguhnya ilmu hadis adalah pekerjaan orang-orang pailit."[7]

Namun, Syeikh al-Albani justru semakin menekuni dunia hadis. Pada perkembangan berikutnya, Syeikh al-Albani tidak memiliki cukup uang untuk membeli kitab. Karenanya, ia memanfaatkan Perpustakaan azh-Zhahiriyah di sana (Damaskus), di samping juga meminjam buku dari beberapa perpustakaan khusus. Karena sibuknya, ia sampai-sampai menutup kios reparasi jamnya. Ia tidak pernah beristirahat menelaah kitab-kitab hadis, kecuali jika waktu salat tiba.

Akhirnya, kepala kantor perpustakaan memberikan sebuah ruangan khusus di perpustakaan untuk beliau. Bahkan kemudian ia diberi wewenang untuk membawa kunci perpustakaan. Dengan demikian, ia menjadi leluasa dan terbiasa datang sebelum pengunjung lain datang. Begitu pula, ketika orang lain pulang pada waktu salat zhuhur, ia justru pulang setelah salat isya’. Hal ini dijalaninya sampai bertahun-tahun.

Disamping itu beliau juga rutin memberikan ceramah dan kajian- kajian keislaman baik dalam masalah aqidah, fikih maupun hadis, hingga kemudian beliau diminta oleh pihak Jami’ah Islamiyah Madinah untuk mengajar di kampus tersebut, setelah kurang lebih tiga tahun beliau pindah ke Yordania yang tidak lama kemudian beliau balik lagi ke Madinah.

Walaupun banyak yang kagum kepadanya bukan berarti tidak ada aral melingtang dihadapanya, dari kritikan sampai harus tinggal di dalam jeruji besi telah beliau alami bahkan hingga berulang dua kali beliau harus tinggal di bui , akan tetapi hal itu tidak membuat beliau surut dalam menegakkan kebenaran.[8]

Adapun diantara guru-guru beliau adalah sebagai berikut:

a. Syaikhnya yang pertama adalah ayahnya, al-Haj Nuh al-Najati, yang telah menyelesaikan belajar Syariah di Istanbul dan kembali ke Albania sebagai seorang ulama Hanafiyah. Dibawah bimbingan ayahnya inilah al-Albani belajar qur’an, tajwid dan Bahasa Arab, dan juga fikih Hanafiyah.

b. Kemudian belajar Fikih Hanafiyyah lebih lanjut dan Bahasa Arab dari Syaikh Sa’id al-Burhani.

c. Al-Albani memiliki ijazah hadis dari allamah syaikh Muhamad Raghib at-Tabagh yang kepadanya beliau mempelajari ilmu hadis, dan mendapatkan hak untuk menyampaikan hadis darinya.

d. Al-Albani memiliki ijazah tingkat lanjut dari Syaikh Bahjatu al-Baytar (ijazah serupa juga dimiliki murid Syaikh al-Albani, yaitu Syaikh Ali Hasan Al-Halabi)

e. Al-Albani juga mengikuti pelajaran dari Imam Abdul Fattah dan Syaikh Taufiq al-Barzah.[9]

Adapun tentang Murid-Murid beliau sangatlah banyak, penulis hanya akan menyebutkan beberapa muridnya, diantaranya: Syaikh Hamdi ibn Abdul Majid ibn Ismail al-Salafy, Syaikh Abdur Rahman ‘Abdul Khaliq, Dr. Umar Sulaiman al-Asyqor, Ustadz Khoirun Wa’il, Syaikh Muhammad ‘id Abbasy, Syaikh Muhammad Ibrahim Syakrah, Syaikh Abdur Rahman Shamad, Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’I, Syaikh Zuhair Syawisy, Syaikh ‘Ali Hasan Syawisy, Syaikh Muhammad jamil Zainu, Syaikh Abdur Rahman al-Albani, Syaikh Ali Hasan.[10] 

Kitab-kitab karya al-Albani

Kesungguhan Syaikh Muhammad Nashirudin al-Albani selama kurang lebih enam puluh tahun dalam menekuni ilmu hadis dan ilmu ke-islaman lainya telah membuahkan karya-karya besar dan monumental, dalam bidang aqidah, fiqih, manhaj dan lainya. Karya-karya beliau amat banyak, diantaranya ada yang sudah dicetak, ada yang masih berupa manuskrip dan ada yang mafqud (hilang), semua berjumlah 218 judul.[11] Adapun karya-karyanya yang sudah dicetak antara lain

a. Adabuz-Zifaf fi As-Sunnah al-Muthahharah
b. Al-Ajwibah an-Nafi’ah ‘ala as’ilah masjid al-Jami’ah
c. Silisilah al-Ahadis ash Shahihah
d. Silisilah al-Ahadis adh-Dha’ifah wal maudhu’ah
e. At-Tawasul wa anwa’uhu
f. Ahkam Al-Jana’iz wabida’uha

Adapun untuk karyanya yang belum dicetak antara lain :

a. Al-Ayatu wa al-Hadisu fi Dzami al-Bid’ah
b. Ahadis al-Isra’ wa Al-Mi’raj
c. Ahadis at-Tahari wa al-Bina’ ‘ala al-Yakin fi al-Salat
d. Ahkam al-Rikaz
e. Al-Hadis al-Maudhuah fi Umahat al-Kutub al-Fiqhiyah

Adapun karya beliau yang hilang adalah Mukhtashar Shahih Muslim 

Di samping itu, beliau juga memiliki kaset ceramah, kaset-kaset bantahan terhadap berbagai pemikiran sesat dan kaset-kaset berisi jawaban-jawaban tentang pelbagai masalah yang bermanfaat. Selanjutnya Syeikh al-Albani berwasiat agar perpustakaan pribadinya, baik berupa buku-buku yang sudah dicetak, buku-buku foto copian, manuskrip-manuskrip (yang ditulis oleh beliau sendiri ataupun orang lain) semuanya diserahkan ke perpustakaan Jami’ah tersebut dalam kaitannya dengan dakwah menuju al-Kitab was Sunnah, sesuai dengan manhaj Salafush Shalih (sahabat Nabi Radhiyallahu ‘anhum), pada saat beliau menjadi pengajar disana.[12]

Profil Kitab Silsilah Al-Hadis Al-Dhaifah wa al-Maudhuah wa Atsaruha As-Sayyi’ fi al-Umah.

a. Identifikasi Kitab.

Kitab karya Syaikh Nashirudin al-Albani yang akan dibahas ini berjudul Silsilah Al-Hadis Al-Dhaifah wa al-Maudhuah wa Atsaruha As-Sayyi’ fi al-Umah. buku ini cetakan kedua diterbitkan oleh Maktabah Dar al-Ma’arif li Nasyri’ wa Tauzi’ tahun 1420/ 2000 sebanyak lima jilid. Walaupun kitab ini juga diterbitkan oleh al-Maktab al-Islamy damaskus dan Maktabah al-Ma’arif Riyadh. Adapun untuk rincian tentang bab-bab bisa dilihat langsung pada buku tersebut.[13] 

b. Manhaj Nashirudin al-Albani dalam kitab Silsilahnya.

1) Latar Belakang Penulisan Kitab.

Adapun yang mendorong al-Albani untuk meneliti hadis dan konsentrasi di dalamnya berawal dari ketertarikanya pada tulisan Sayyid Rasyid Ridha yang dimuat dalam majalah al-Manar yang membahas tentang Kitab Ihya’ Ulumuddin serta memberikan kritikan di dalamnya. Baik dari sisi tasawuf ataupun tentang hadis-hadis dhaif.[14] Tidak ketinggalan juga buku yang sama membahas tentang kitab Ihya’ yang berjudul al-Mugni ‘an Hamli Asfar fi Takhrij ma lil Ihya’ minal Akhbar karya Abu Fadl Zainuddin al-Iroqi.

2) Sumber-Sumber Tulisan

Adapun beberapa sumber tulisan yang sangat berperan dalam penyusunan kita al-Albani sebagaimana yang dituliskan dalam muqodimahnya[15] yaitu:

a) Kitab al-Maqosid al-Hasanat fi Bayan Katsir min Hadis al-Musyatharat ‘ala al-Sinah karya al-Sakhawy

b) Kitab Nasb al-Rayyah li Ahadis al-Hidayyah karya al-Hafidz al-Zaila’iy

c) Kitab al-Mugni ‘an Hamli Asfar fi Takhrij ma lil Ihya’ minal Akhbar karya Abu Fadl Zainuddin al-Iroqi.

d) Kitab al-Talkhis al-Habir fi Takhrij Ahadis al-Rafi’ al-Kabir karya al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolani. 

e) Kitab Takhrij Ahadis al-Kasyaf, dan Takhrij Ahadis al-Syifa’ karya al-Suyuti.

3) Sistematika Penulisan.

Dengan mencermati judul buku al-Albani yang berjudul Silsilah Al-Hadis Al-Dhaifah wa al-Maudhuah wa Atsaruha As-Sayyi’ fi al-Umah,maka dapat dilihat bahwa sitematika pembahasanya mencakup dua pokok, yakni hadis- hadis dhoif (lemah) dan hadis-hadis Maudhu’ (palsu).

Adapun sistematika penulisan kitab Silsilah Al-Hadis Al-Dhaifah wa al-Maudhuah wa Atsaruha As-Sayyi’ fi al-Umah, adalah sebagai berikut:

a) Tidak menggunakan metode abjad sesuai urutan abjad, tetapi ditulis apa adanya sesuai apa yang dianggap perlu.
b) Penyusunan hanya didasarkan pada nomor urut hadis.
c) Dalam penulisan bab juga tidak mengikuti sistematika bab.
d) Menuliskan matan hadis tanpa menyebutkan rentetan sanadnya.
e) Mentakhrij hadis dan menjelaskan sumber hadis tersebut.
f) Menyebutkan satu hadis, kemudian menjelaskan kedhaifanya atau kemaudhuanya dan menghukumi hadis tersebut. Misalnya hadis ini dhaif atau hadis ini maudhu’.
g) Menyebutkan periwayat yang bermasalah, dan menjelaskan sebab-sebab kedhaifan/kemaudhuanya berdasarkan pemahaman kritikus hadis, serta memberikan keputusan pada periwayat tersebut.

h) Beliau juga mengangkat dua hadis yang derajatnya lemah menjadi shahih karena ada faktor yang dapat menguatkanya.[16]

M. Syuhudi Ismail, Tokoh Hadis Kontemporer

Nama lengkapnya adalah Muhammad Syuhudi Ismail, dilahirkan di Lumajang, Jawa Timur pada tanggal 23 April 1943. Setelah menamatkan Sekolah Rakyat Negeri di Sidoarjo, Jawa Timur (1955), ia meneruskan pendidikannya ke Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) 4 tahun di Malang (tamat 1959); Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN) di Yogyakarta (tamat 1961); Fakultas Syari’ah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, cabang Makassar (kemudian menjadi IAIN Alauddin Makassar), berijazah Sarjana Muda (1965). Setelah itu, ia pun hijrah ke Makassar yang dulunya masih disebut Ujung Pandang untuk melanjutkan kuliah di Fakultas Syari’ah IAIN Alauddin Ujung Pandang (tamat 1973); Studi Purna Sarjana (SPS) di Yogyakarta (Tahun Akademi 1978/1979) dan Program pascasarjana pada Fakultas Pascasarjana IAIN “Syarif Hidayatullah” Jakarta (tamat 1985).[17]

Mengenai riwayat pekerjaanya, ia pernah menjadi pegawai Pengadilan Tinggi Agama (Mahkamah Syar’iyyah Propinsi) di Ujung Pandang (1962-1970); Kepala Bagian kemahasiswaan dan Alumni IAIN Alauddin Ujung Pandang (1973-1978); Sekretaris KOPERTAIS Wilayah VIII Sulawesi (1974-1982) dan Sekretaris al-Jami’ah IAIN Alauddin Ujung Pandang. Di samping itu, ia aktif pula berkecimpung dibidang pendidikan, terutama dalam kegiatannya sebagai staf pengajar di berbagai perguruan tinggi Islam di Ujung Pandang, di antaranya pada Fakultas Syari’ah IAIN Alauddin Ujung Pandang (sejak 1967), Fakultas Tarbiyah UNISMUH Makassar di Ujung Pandang dan Enrekang (1974-1979), Fakultas Ushuluddin dan Syari’ah di Universitas Muslim Indonesia (UMI) Ujung pandang (1976-1982) dan Pesantren IMMIM Tamalanrea Ujung Pandang (1973-1978).

Di samping tugas-tugasnya di atas sebagai pegawai dan pengajar, ia juga giat membuat karya tulis dalam bentuk makalah, penelitian, bahan pidato, artikel, maupun diktat, baik untuk kepentingan kalangan IAIN Alauddin sendiri atau untuk forum ilmiah lainnya, juga untuk dimuat dalam majalah atau surat kabar yang terbit di Makassar atau Jakarta. Bahkan karya tulisnya dalam bentuk buku, di antaranya:

1. Pengantar Ilmu Hadis
2. Menentukan Arah Kiblat dan Waktu Salat
3. Kaidah Kesahihan Hadis; Telaah Kritis dan Tinjauan dengan Pendekatan Ilmu Sejarah
4. Metodologi Penelitian Hadis Nabi
5. Hadis Nabi yang Tekstual dan Kontekstual; Telaah Ma’ani al-Hadits tentang Ajaran Islam yang Universal, Temporal, dan Lokal.

Dari keterangan mengenai riwayat hidupnya, khususnya karya-karya tulisnya di atas dan beberapa bukunya yang lain, Syuhudi Ismail memang lebih memfokuskan dirinya pada bidang keilmuan hadis. 

Dari buku-buku dan tulisannya yang berbicara tentang hadis menunjukkan karakter[18] berpikir Syuhudi yang “terkadang” sulit dimiliki oleh orang lain. Sekalipun karakter seperti itu sangat dibutuhkan dalam mengaplikasikan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil’alamin. Hal ini dapat dilihat pada karyanya “Hadis Nabi yang Tekstual dan Kontekstual”, di sana ia menekankan pada pemahaman hadis yang seharusnya memperhatikan situasi dan kondisi masyarakat yang dihadapi Nabi serta status dan fungsi Nabi ketika menyampaikan sebuah riwayat.

Salah satu alasan yang digunakan oleh Syuhudi adalah sebuah argumen bahwa apabila ajaran Islam yang sesuai dengan segala waktu dan tempat itu dihubungkan dengan berbagai kemungkinan persamaan dan perbedaan masyarakat maka berarti dalam Islam ada ajaran yang berlakunya tidak terikat oleh waktu dan tempat, di samping itu ada juga yang terikat oleh waktu dan atau tempat tertentu. Jadi dalam Islam, ada ajaran yang bersifat Universal, ada yang temporal dan ada yang lokal.[19] Demikian pula dengan fungsi dan status Nabi harus menjadi pertimbangan karena al-Qur’an sendiri atau setidaknya fakta sejarah membuktikan bahwa Nabi Muhammad saw memiliki peran dan fungsi yang beraneka ragam, antara lain sebagai rasul, kepala Negara, pemimpin masyarakat, panglima perang, hakim dan pribadi. Sehingga ini berarti pemahaman dan penerapan hadis harus dikaitkan dengan peran Nabi tatkala hadis tersebut itu terjadi.[20]

Sebagai contoh hadis yang disampaikan oleh Nabi perannya sebagai manusia biasa atau pribadi:

حدثنا يحيى بن يحيى قال قرأت على مالك عن ابن شهاب عن عباد بن تميم عن عمه : أنه رأى رسول الله صلى الله عليه و سلم مستلقيا في المسجد واضعا إحدى رجليه على الأخرى

Artinya: “…. Rasulullah saw berbaring di dalam masjid sambil meletakkan kaki yang satu di atas kaki yang lain”.[21]

Syuhudi Ismail mengomentari hadis di atas dengan mengatakan bahwa hadis tersebut memberi petunjuk tentang cara berbaring Nabi ketika itu, yakni dengan meletakkan kaki yang satu di atas kaki yang lain. Pada saat itu tampaknya Nabi sedang merasa nyaman dengan berbaring dalam posisi seperti yang digambarkan oleh hadis di atas. Perbuatan itu dilakukan oleh Nabi dalam kapasitas beliau sebagai pribadi.[22]

Di samping karakter berpikir dalam memahami hadis, Syuhudi Ismail juga mempunyai keistimewaan kaitannya dengan penelitian kualitas hadis. Sebab dari sekian banyak kaidah dan ketentuan yang telah ditetapkan ulama terdahulu dalam menilai suatu hadis, ia ramu kembali dan pada akhirnya berkesimpulan bahwa kaidah kesahihan hadis terbagi dua, yaitu kaidah mayor dan kaidah minor.

Kaidah mayor dipahami sebagai kaidah pokok kesahihan hadis dan itulah yang disebutkan dalam defenisi hadis.[23] Sedangkan rincian atau kriteria untuk melihat kaidah mayor itu disebut dengan kaidah minor.[24] Misalnya untuk meneliti kualitas matan hadis, kaidah mayornya adalah; a) tidak ada syaz\ di dalamnya, b) tidak ada ‘illah di dalamnya. Sedangkan tolak ukur untuk mengetahui syaz\ dan ‘illah-nya matan hadis, itulah yang disebut sebagai kaidah minor. Khusus untuk syaz\ matan hadis, kaidah minornya adalah : a) sanad hadis bersangkutan tidak menyendiri, b) matan hadis bersangkutan tidak bertentangan dengan matan hadis yang sanadnya lebih kuat, c) matan hadis bersangkutan tidak bertentangan dengan al-Qur’an, dan d) matan hadis bersangkutan tidak bertentangan dengan akal dan fakta sejarah.[25]

Demikian beberapa bukti kecakapan dan keahlian Syuhudi Ismail dalam bidang hadis yang menunjukkan bahwa ia tidak hanya menerima hadis begitu saja, namun ia telah melakukan beberapa kritik terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kaidah kesahihan hadis yang oleh kalangan ulama hadis dianggap sudah final, dan hal yang paling menonjol dalam pemikirannya adalah langkah-langkah metodologis penelitian sanad dan matan hadis, serta pemahaman hadis Nabi yang tidak hanya terpaku pada pemahaman tekstual, tetapi perlu mempertimbangkan kontekstual hadis, baik dilihat dari segi bentuk matan dan cakupan makna, latar belakang terjadinya, maupun dilihat dari fungsi dan kedudukan Nabi Muhammad saw sebagai sumber informasi. Pemahaman hadis secara tematik dengan menggunakan pendekatan holistik.[26] 

Wajar bila Syuhudi dianggap sebagai seorang intelektual dan ulama Indonesia yang cukup besar pengaruhnya, khususnya dalam bidang hadis, sehingga ia digelari sebagai Nasir al-Sunnah atas tanggapan-tanggapannya terhadap kelompok inkar al-sunnah. Sekaligus ia selalu dijadikan rujukan oleh para peneliti hadis khususnya di Indonesia terkait dengan kegiatan penelitian hadis Nabi.

Kesimpulan

1. Kontemporer dimaknai secara umum dengan, “kekinian”, “waktu sekarang” dan dimaknai secara khusus yaitu masa pertengahan abad 20 sampai sekarang. Pembahasan tentang pemikiran tokoh-tokoh hadis kontemporer adalah tokoh yang berperan dengan karya dan pemikirannya yang hidup pada masa kontemporer sesuai dengan pengertian sebelumnya.

2. Al-Albani bernama lengkap Muhamad Nashirudin bin Nuh bin Adam Najati, Al-Albani adalah nama julukanya yang disandarkan pada tanah kelahiranya, beliau dilahirkan dikota Asy Qudarah tahun 1914 M, al-Albani mempunyai banyak guru dan yang paling pertama dan paling berperan terhadap dirinya adalah ayahnya yang juga sekaligus gurunya. Begitu pula beliau mempunyai banyak murid diantaranya Syaikh Muqbil bin Hadial-Wad’I, al-Albani juga mempunyai banyak karya ilmiyah diantaran ya kitab Silisilah al-Ahadis ash Shahihah dan Silisilah al-Ahadis adh-Dha’ifah wal maudhu’ah, yang dalam bukunya albani menyebutkan tentang latar belakang penyusunan kitab tersebut, sumber-sumber tulisan, dan sistematika penulisanya. Al-Albani meninggal pada hari jum’at malam sabtu tanggal 1 Oktober 1999 di Yordania. Albani dalam mempelajari secara otodidak di perpustakaan dan menghabiskan banyak waktu untuk membaca kitab-kitab hadis, ia terinspirasi majalah al-Manar yang diterbitkan oleh Muhammad Rasyid Ridha. Albani sangat keras (tasyadduh) dalam menilai sebuah hadis khususnya mengenai akidah. 

3. M. Syuhudi Ismail, Tokoh hadis jebolan Fakultas Syari’ah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, cabang Makassar. Di samping karakter berpikir sangat luas dalam memahami hadis, kritis terhadap periwayatan hadis, Syuhudi Ismail juga mempunyai keistimewaan kaitannya dengan penelitian kualitas hadis. Dari sekian banyak kaidah dan ketentuan yang telah ditetapkan ulama terdahulu dalam menilai suatu hadis, ia ramu kembali dan pada akhirnya berkesimpulan bahwa kaidah kesahihan hadis terbagi dua, yaitu kaidah mayor dan kaidah minor.

Catatan Kaki

[1]Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1997), Edisi II, h. 728. 

[2]Nawir Yuslem, Ulumul Hadis (Jakarta: Mutiara Sumber Widya, 2001), h. 87-142. 

[3]Ibid., h. 142. 

[4] Albania adalah salah satu negeri Balkan yang terletak di Eropa. 

[5] Mubarak BM.Bamuallim, Biografi Syaikh al-Albani Mujadid dan Ahli Hadis Abad ini (Bogor: Pustaka Imam Syafi’I,2003), h. 13 

[6] Ashim Abdurrahman al-Qoryuti, Tarjamah Mujazah li fadhilah al-Muhadis as-Syaikh Abi ‘Abdurahman Muhammad Nashirudin al-Albani wa adhwa’u ala hayatihi al-Ilmiyyah, (Jeddah: Dar al-Madani, t.th), h. 3 

[7] Ibid, h. 5 
[8] Mubarak BM.Bamuallim, op. cit. h. 13 

[9] Lihat Muhammad Ibrahim Syaibani, Hayatu al-Albani wa Atsaruha wa Tsanau al-Ulama alaihi, juz I, (Cet. I; t.tp: Maktabah al-Sadawwi, 1997), h. 65-66 

[10] Ibid, h. 94-105 

[11] Lihat Umar Abu Bakar, op. cit, h. 123-136. 
[12] Ibid 

[13] Lihat Muhammad Nashirudin al-Albani, Silsilah Al-Hadis Al-Dhaifah wa al-Maudhuah wa Atsaruha As-Sayyi’ fi al-Umah. Jil I, II, III, IV, V ( Cet. II; Riyadh; Maktabah al-Ma’arif li Nasyr wa al-Tauzi’, 2000) 

[14] Mubarak Bamuallim, op. cit. h. 170 

[15] Lihat Muhammad Nashirudin al-Albani, op. cit. h. 48 

[16] Lihat Ibid, h. 5-6 

[17]M. Syuhudi Ismail, Kaidah Kesahihan Sanad Hadis, h. 269. 

[18]Karakter yang dimaksud di sini adalah upaya Syuhudi untuk membumikan hadis nabi sesuai dengan prosedur dan proporsinya masing tanpa harus mempertentangkan antara beberapa riwayat yang tampaknya berbeda namun sebenarnya sejalan bila dikaji lebih jauh. Karakter seperti ini mungkin semakna dengan istilah tasamuh dan tawazun dalam hadis. 

[19]M. Syuhudi Ismail, Hadis Nabi yang Tekstual dan Kontekstual; Telaah Ma’anial-Hadits tentang Ajaran Islam yang Universal, Temporal dan Lokal (Jakarta: Bulan Bintang, 1994), h. 3-4. 
[20]Ibid. 

[21]Abu al-Husain Muslim bin hajjaj ibn Muslim al-Qusyairi al-Naisaburi, al-Jami’ al-Sahih (Beirut: Dar Ihya’ al-Turas al-‘Arabi, tth), jil. III, h. 1662. 

[22]M. Syuhudi Ismail, Hadis Nabi yang Tekstual, h. 46. 

[23]Hadis sahih adalah hadis yang bersambung sanadnya (ittisal al-sanad), perawinya harus adil dan dhabit, serta tidak ada syaz dan ‘illah di dalamnya. Lihat Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib, Usul al-Hadis‘Ulumuhu wa Mustalahuhu (Beirut: Dar al-Fikr, 1989), h. 304. 

[24]M. Syuhudi Ismail, Kaidah Kesahihah, h. 123. 

[25]Lihat M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi (cet. II; Jakarta: Bulan Bintang, 2007), h. 113-134. 

[26]Arifuddin Ahmad, Paradigma Baru Memahami Hadis Nabi; Refleksi Pemikiran Pembaruan Prof. Dr. Muhammad Syuhudi Ismail (Jakarta: Renaisan, 2005), h. v-vi.


0 Response to "Tokoh Hadis Kontemporer: Nashiruddin Al-Albani dan Msyuhudi Ismail"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!