Biografi Syekh Muhammad Adz-Zahabi dan Kitab Al-Kasyif

Advertisement
Biografi Syekh Muhammad Adz-Zahabi dan Kitab “Al Kasyîf Fî Ma’rifati Man Lahû Riwãyah Fî Al Kutub Al Sittah”
Oleh: Makmun

Nama lengkapnya adalah Muhammad Bin Ahmad Bin Ustman Bin Qayamaz Adz-Dzahabi. Adz-Dzahabi juga sering dipanggil Abu Abdillah dengan gelar Syamsuddin. Namun demikian, gelar Adz-Dzahabi lebih dikenal karena kepandaiannya dalam kerajinan emas. Beliau dilahirkan di damaskus pada tahun 673 H dari keluarga yang mulia, karena Bapak dan paman-pamannya adalah para pencari hadis.[1]

Adz-Dzahabi mempelajari qira’at mulai sejak kecil hingga ia berumur dua puluh tahun. Setelah itu beliau tinggal di Iskandariah dan mengajar di sana. Adz-Dzahabi menguasai ilmu hadis dan perawinya serta menulis sejarah besar, sehiangga Ia termasuk penulis yang paling produktif di zamannya. Di sela-sela kesibukannya berkhidmat ilmu, Adz-Dzahabi sering berkeliling dunia untuk memberikan ceramah dimana-mana. Adz-Dzahabi juga memasuki majlis hadis dhãhiriyyah, sukariyyah setelah Ibnu Taimiyyah dan majlis hadis fãdliliyyah yang didirikan oleh menteri Shalahuddin. Penglihatannya terganngu hingga buta sehingga berhenti menulis sampai ajalnya tiba pada tahun 741 H dan dalam buku yang lain disebutkan tahun 748 H..

Pada akhir hayatnya Adz-Dzahabi tinggal di Damaskus seraya membantu mengajar para murid dan menjawab semua pertanyaan yang datang dari berbagai belahan dunia dengan hafalan yang dimilikinya. Di antara guru-guru Adz-Dzahabi adalah Salih, Ibnu Dzahiri, Sahanun, Ibnu Kharat, Ibnu Daqiq Al ‘Ididan yang lainya hingga mencapai 1300 syaikh. Sedang murid-muridnya adalah Al Subaqi, Al Suyuti dan sebagainya.

Imam Al Suyuthi berkata: “ Rumpun dalam perawi hadis dan bagian ilmu hadis dikuasai oleh empat muhaddis yaitu Al Mizzi, Adz-Dzahabi, Al ‘Iraqi dan Ibnu Hajar”. Ibnu Hajar berkata: “ Aku minum air zamzam supaya Aku dapat sampai pada tingkatan derajatnya Imam Adz-Dzahabi dalam hafalannya.” Imam Shafadi berkata: “Dia (Adz-Dzahabi) adalah seorang penghafal hadis beserta rijalnya dan menjelaskan semua kerancuan dalam biografi mereka”.

Di antara karya-karya imam Adz-Dzahabi yang lain adalah Tãrîkh Al Islam Al Kabîr, Siru ‘Alami Al Nubalã’, Tazkiyatu Al Huffãdh, Duwal Al Islãm, Thabaqãt Al Qur’ãn, Mukhtashar Sunan Baihaqi, dan Mukhtasharu Al Mahali Li Ibni Al Hazm.

Mengenal Kitab “Al Kasyîf Fî Ma’rifati Man Lahû Riwãyah Fî Al Kutub Al Sittah”

Biografi Muhammad Ad-Dzahabi dan Resensi Al-Kasyif
Ilustrasi/Yufidia.com

1) Latar Belakang Penulisan 

Sebagaimana turun (nuzûl)-nya al Qur’an dan muncul (wurûd)-nya suatu hadis, setiap karya yang disusun oleh para Ulama’ tidak bisa lepas dari ruang dan waktu (space and time) yang melingkarinya. Ada beberapa sebab, faktor, indikator atau peristiwa yang mendorong munculnya karya tersebut.

Kitab “Al Kasyîf Fî Ma’rifati Man Lahû Riwãyah Fî Al Kutub Al Sittah” yang ditulis oleh Adz-Dzahabi ini muncul setelah beberapa kitab jarh dan ta’dîl selesai disusun oleh para pakarnya. Berawal dari anggapan Adz Dzahabi bahwa kitab Tahdzîbul Kamâl, karya Al-Hafidh Al-Hajjaj Yusuf bin Az-Zaki Al-Mizzi merupakan kitab yang paling terkenal di antara kitab jarh dan ta’dîl yang lain karena secara lengkap kitab tersebut menguraikan hãl-ahwãl para perawi hadis, khususnya para rawi yang mempunyai riwayat dalam Kutub Al Hadîts Al Sittah. Salah satu bukti keagungan karya al mizzi tersebut adalah pujian imam tajuddin al subkiy yang berkata: “(Kitab) itu disepakati Ulama’ belum ada yang menyamainya”.[2]

Keinginan Adz Dzahabi untuk menyusun kitab Al Kasyîf Fî Ma’rifati Man Lahû Riwãyah Fî Al Kutub Al Sittah semakin kuat setelah beliau memandang bahwa karya al Mizzi itu terlalu bertele-tele dan panjang pembahasannya. Al ini karena pada dasarnya al Mizzi mendasarkan kitabnya (Tahdzîbul Kamâl) agar dapat dijadikan sebagai sumber-rujukan (marâji’) oleh para pengkaji hadis yang mampu menyimpulkan hukum-hukum dari perkataan-perkataan ulama’. Sehingga Adz Dzahabi menulis kitab yang ia beri nama Al Kasyîf Fî Ma’rifati Man Lahû Riwãyah Fî Al Kutub Al Sittah, yang merupakan ringkasan dari kitab Tahdzibul-Kamal dengan bentuk yang sederhana tanpa mengurangi isi yang dibutuhkan para pengkaji hadis.[3]

Alasan lain yang mendorong Adz Dzahabi dalan menyusun kitabnya adalah bertambah banyaknya orang yang mempelajari sunnah, akan tetapi para pengkaji rijâl al hadîts ( jarh dan ta’dîl) semakin sedikit padahal informasi mengetahui hal-ihwal perawi sangatlah dibutuhkan. Berangkat dari sinilah Adz Dzahabi bersama ulama’ yang lain ikut tergugah untuk meringkas kitab Tahdzîbul Kamâl, karya Al-Hafidh Al-Hajjaj Yusuf bin Az-Zaki Al-Mizzi.

2) Metode Penulisan

Secara jelas Imam Adz Dzahabi membatasi pembahasannya hanya pada para rawi yang memiliki riwayat dalam kitab hadis primer yang enam (el kutub el sittah) yang tidak ditambahi dan juga tidak dikurangi. Adz Dzahabi tidak menyebutkan para rawi yang mempunyai riwayat di selain kitab 6 tersebut, tidak sebagaimana yang dilakukan oleh Al Mizzi. Adz Dzahabi juga tidak membahas orang yang disebutkan dalam kitab Tahdzîbul Kamâl karena tujuan untuk membedakan dan memberikan stressing peringatan. Hal ini bisa diketahui dengan mudah dengan membaca judul kitab yang disusun oleh Adz Dzahabi, yakni “Al Kasyîf Fî Ma’rifati Man Lahû Riwãyah Fî Al Kutub Al Sittah”.

Contoh 1:

Imam Adz Dzahabi tidak menyebutkan pembahasan bab rawi yang bernama تمام dkk. dalam kitabnya padahal secara jelas nama tersebut terdapat dalam kitab “Tahdzîbul Kamâl” dengan dua bab yakni باب من اسمه تمام وتميم وتوبة dan باب من اسمه تبيع والتلب وتليد akan tetapi Adz Dzahabi hanya membahas bab yang terakhir saja. Ini merupakan konsistensi muallif dalam tidak memasukkan rawi selain yang mempunayi riwayat dalam Al Kutub Al Sittah.

Imam Adz Dzahabi sebagaimana dijelaskan oleh Izzat Ali ‘Idu Atiyyah, muhaqqiq kitab Al Kasyif menulis secara ringkas hal ihwal para perawi dalam kitabnya meliputi nama, nasab, laqab dan tanggal kelahiran atau kematian. Kemudian Ia menjelaskan guru-guru dan murid-murid mereka yang masyhur serta menjelaskan hukum yang diberikan para ulama’ kepada mereka. Namun, realita tetaplah realita, tidak jarang akan kita temui bahwa Adz Dzahabi menguraikan informasi secara ringkas dengan tanpa memberikan informasi tanggal kelahiran/kematian.

Contoh 2 :

حرف الثاء

681- ثابت بن أسلم البناني أبو محمد (1) عن بن عمر وابن الزبير وخلق (2)وعنه الحمادان وأمم (3) وكان رأسا في العلم والعمل يلبس الثياب الفاخرة يقال لم يكن في وقته أعبد منه (4) عاش ستا وثمانين سنة مات 127 ع. (5)

Contoh 3 :

حرف الباء

533- باب بن عمير الحنفي (1) عن نافع وربيعة (2)وعنه الاوزاعي وغيره د (3)

Keterangan:

1).Nama; 2). Data Guru; 3) Data Murid; 4). Penilain (hukum) yang dilontarkan terhadap rawi; 5). Data usia dan tanggal wafat.

Dalam memberikan penilaian terhadap rawi terkadang Imam Al Dzahabi selain menggunakan pendapatnya sendiri juga menyebutkan pendapat sebagaian ulama’ yang pakar dalam ilmu jarh dan ta’dil atau hasil yang mendapat kesepakatan pendapat para ulama’.

5044- محمد بن عثمان بن كرامة العجلي مولاهم عن أبي أسامة وطبقته وعنه البخاري وأبو داود والترمذي وابن ماجة وابن صاعد والمحاملي وابن مخلد صاحب حديث صدوق مات 256 في رجب خ د ت ق .

2470- طلحة بن زيد الرقي عن هشام بن عروة وثور وعنه شيبان بن فروخ وسهل بن حماد الدلال قال أحمد وعلي كان يضع الحديث ق

Penilaian Penulis Terhadap Kitab “Al Kasyîf Fî Ma’rifati Man Lahû Riwãyah Fî Al Kutub Al Sittah”. 

Sebagai sebuah keniscayaan bahwa setiap karya yang sudah ditelorkan akan menjadi bahan bacaan yang secara bebas dapat dimanfaatkan sebagai sumber pengetahuan, dikritisi dan diapresiasi oleh pembaca. Menurut penulis kitab “Al Kasyîf Fî Ma’rifati Man Lahû Riwãyah Fî Al Kutub Al Sittah” memiliki beberapa kelebihan, di antaranya:
Format (sistematika) penulisan yang menggunakan urutan huruf alfabetis akan lebih memudahkan para pembaca dan pengkaji untuk lebih cepat mendapatkan informasi (tarjamah) tentang seorang rawi. 

Simple tapi sempurna, itulah ungkapan yang cocok untuk karya Adz Dzahabi ini. Walaupun hanya sedikit sekali informasi yang berkenaan dengan seorang rawi. Namun, informasinya sangatlah lengkap dan cukup untuk kajian rijâl al had î ts. 

Kekhususan kitab ini dalam mengkaji rawi-rawi yang terdapat dalam Al Kutub Al Sittah tentunya akan memudahkan pelacakan data rawi dalam 6 kitab hadis tersebut. 

Pemberian nama “Al Kasyif” merupaka inisiatif yang hebat. Muallif mencoba menghndari penyebutan nama kitab asal yang menjadi rujukan dan objek ringkasannya.

Namun perlu dicatat bahwa di balik itu semua ~masih menurut penulis~ terdapat beberapa kekurangan yang melekat pada kitab tersebut, yakni: 

Karena terlalu simplenya informasi yang terdapat dalam kitab al dzahabi tersebut, maka terkadang informasi tentang tanggal kelahiran atau kematian juga tidak disebutkan. Ex: 6978- حكيمة عن أمها أميمة وعنها بن جريج د س[5] 

Terkadang Adz Dzahabi tidak memberikan penilaian terhadap rawi. Ini akan lebih banyak dijumpai pada rawi-rawi perempuan. 

Karena kitab ini lebih nerupakan ringkasan, maka data tentang guru dan murid seorang rawi pun sedikit ditampilkan. Sehingga akan sedikit menyulitkan untuk melacak ketersambungan sanad seorang rawi jika informasinya tidak ditemukan.

Kesimpulan


Kitab Al Kasyîf Fî Ma’rifati Man Lahû Riwãyah Fî Al Kutub Al Sittah yang ditulis oleh Al Hafidh Abu Abdillah Muhammad Bin Ahmad Bin ‘Utsman Adz-Dzahabi merupakan rigkasan dari kitab Tahdzîbul Kamâl, karya Al-Hafidh Al-Hajjaj Yusuf bin Az-Zaki Al-Mizzi. Oleh sebab itu kitab ini dapat dikatakan sebagai kitab sekunder, yakni kitab yang disusun berupa penjelasan, ringkasan dari kitab-kitab sebelumnya atau berupa kesimpulan dan kumpulan dari beberapa kitab-kitab sebelumnya.

Kitab ini muncul berawal dari anggapan Adz Dzahabi bahwa kitab Tahdzîbul Kamâl, karya Al-Mizzi merupakan kitab yang paling terkenal di antara kitab jarh dan ta’dil yang lain. Adz Dzahabi menyusun kitab ini dengan bentuk yang sederhana tanpa mengurangi isi yang dibutuhkan para pengkaji hadis karena kitab Tahdzîbul Kamâl itu dirasa terlalu panjang dan bertele-tele.

Adz Dzahabi membatasi pembahasannya hanya pada para rawi yang memiliki riwayat dalam kitab hadis primer yang enam, tidak ada yang ditambah dan sebaliknya. Adz Dzahabi tidak menyebutkan para rawi yang mempunyai riwayat di selain kitab 6 tersebut dan juga tidak membahas orang yang disebutkan dalam kitab Tahdzîbul Kamâl karena tujuan untuk membedakan dan memberikan stressing peringatan.

Di antara kandungan tarjamah kitab ini adalah nama, nasab, laqab dan tanggal kelahiran atau kematian, guru-guru dan murid-murid mereka yang masyhur serta menjelaskan hukum yang diberikan para ulama’ kepada mereka.

Dalam kitabnya Terkadang imam Al dzahabi menyebutkan pendapat sebagaian ulama’ yang pakar dalam ilmu jarh dan ta’dil atau hasil yang mendapat kesepakatan pendapat para ulama’ dan Al dzahabi juga menyebutkan perkiraan ukuran tahun kehidupan para perawi.

Simbol-simbol yang dipakai dalam kitab “al Kasyif” adalah ت خ م س ق ع د . Adapun lafadh-lafadh jarh dan ta’dil yang dipakai oleh al Dzahabi secara global terbagi menjadi enam tingkatan.

Kitab “Al Kasyîf Fî Ma’rifati Man Lahû Riwãyah Fî Al Kutub Al Sittah” layaknya karya manusia lainnya memiliki beberapa kelebihan, di antaranya:
Format (sistematika) penulisan yang menggunakan urutan huruf alfabetis akan lebih memudahkan para pembaca dan pengkaji untuk lebih cepat mendapatkan informasi (tarjamah) tentang seorang rawi. 

Simple tapi sempurna, itulah ungkapan yang cocok untuk karya Adz Dzahabi ini. Walaupun hanya sedikit sekali informasi yang berkenaan dengan seorang rawi. Namun, informasinya sangatlah lengkap dan cukup untuk kajian rijâl al had î ts. 

Kekhususan kitab ini dalam mengkaji rawi-rawi yang terdapat dalam Al Kutub Al Sittah tentunya akan memudahkan pelacakan data rawi dalam 6 kitab hadis tersebut. 

Pemberian nama “Al Kasyif” merupaka inisiatif yang hebat. Muallif mencoba menghndari penyebutan nama kitab asal yang menjadi rujukan dan objek ringkasannya.

Namun perlu dicatat bahwa di balik itu semua ~masih menurut penulis~ terdapat beberapa kekurangan yang melekat pada kitab tersebut, yakni: 

Karena terlalu simplenya informasi yang terdapat dalam kitab al dzahabi tersebut, maka terkadang informasi tentang tanggal kelahiran atau kematian juga tidak disebutkan. Ex: 6978- حكيمة عن أمها أميمة وعنها بن جريج د س 

Terkadang Adz Dzahabi tidak memberikan penilaian terhadap rawi. Ini akan lebih banyak dijumpai pada rawi-rawi perempuan. 

Karena kitab ini lebih nerupakan ringkasan, maka data tentang guru dan murid seorang rawi pun sedikit ditampilkan. Sehingga akan sedikit menyulitkan untuk melacak ketersambungan sanad seorang rawi jika informasinya tidak ditemukan.

Beribu rasa dan warna telah tercicipi dalam pembuatan makalah ini, namun dirasa makalah ini masih sangat jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis sangat membutuhkan kritik dan saran dari para pembaca, baik dalam penyajian makalah maupun dalam presentasinya., agar penulis dapat menjadi pribadi yang progressif. Dan kami mohon maaf atas segala kekurangannya. Allahu a’lamu

Catatan Kaki


[1] Baca: Muhammad Saad Mursi, ‘Udhamaul Islam Ibaru Arba’ati ‘Asyara Qarnan Min Al Zaman, trjm. Khoirul Amru Harahap dan Ahmad Fauzan, (Jakarta: Pustaka Al Kautsar, 2005) hal 376

[2] Adz Dzahabi, Al Kasyîf Fî Ma’rifati Man Lahû Riwãyah Fî Al Kutub Al Sittah, (Qohirah, Darul kutub al haditsiyyah, tt) hal 30 dari mukaddimah muhaqqiq

[3] Adz Dzahabi, Al Kasyîf Fî Ma’rifati Man Lahû Riwãyah Fî Al Kutub Al Sittah, (Qohirah, Darul kutub al haditsiyyah, tt) hal 31 dari mukaddimah muhaqqiq

[4] Suryadi, Metodologi Ilmu Rijal Al Hadis, (Yogyakarta, Madani Pustaka Hikmah, 2003) hal 48-50 dan 58-62

[5] Al Kasyîf Fî Ma’rifati Man Lahû Riwãyah Fî Al Kutub Al Sittah. Al maktabah al syamilah.



0 Response to "Biografi Syekh Muhammad Adz-Zahabi dan Kitab Al-Kasyif"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!