Cara Nabi SAW Menyampaikan Hadis Kepada Shabat

Advertisement
Cara Nabi SAW Menyampaikan Hadis Kepada Shabat - Sebelum membahas mengenai bentuk-bentuk periwayatan hadis, perlu kiranya untuk diketahui terlebih dahulu defenisi dari periwayatan hadis itu sendiri. 

Kata al-Riwayah adalah masdar dari kata kerja rawa yang dapat berarti al-naql (penukilan), al-zikr (penyebutan) dan al-fatl (pintalan) dan al-istiqa (pemberian minum sampai puas). Kata al-riwayah dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan sebagai periwayatan atau sesuatu yang diriwayatkan.[1] Imam as-Suyuthi menyebutkan bahwa hakikat periwayatan ialah proses mentransfer sunnah dan semacamnya serta penyandaran terhadap rangkaian periwayatannya.[2]

Kata al-Riwayah dalam peristilahan ilmu hadis adalah kegiatan penerimaan dan penyampaian hadis, serta penyandaran hadis kepada rangkaian para periwayatnya dengan bentuk-bentuk tertentu. Berdasarkan defenisi ini, orang yang telah menerima hadis dari seorang periwayat namun tidak menyampaikan hadis tersebut kepada orang lain maka dia tidak dapat disebut sebagai orang yang telah melakukan periwayatan hadis.

Demikian juga halnya ketika seseorang menyampaikan hadis yang diterimanya kepada orang lain tetapi dalam proses penyampaian tersebut tidak menyebutkan rangkaian para periwayatnya, maka orang tersebut tidak dapat pula disebut orang yang telah melakukan periwayatan hadis.[3]

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa ada tiga unsur yang harus dipenuhi dalam penerimaan hadis, yaitu :

1. Aktifitas penerimaan hadis dari periwayat
2. Transfer hadis yang telah diterima orang lain
3. Menyertakan rangkaian periwayat dalam proses transfer hadis tersebut.[4]

Berdasarkan penjelasan tersebut, maka pembahasan ini dibagi ke dalam dua bahagian yaitu cara Nabi dalam menyampaikan hadis kepada sahabat dan metode yang digunakan sahabat dalam hal menerima dan menyampaikan hadis.

Tata Cara Rasulullah Menyampaikan Hadis kepada Sahabat

Cara Nabi Menyampaikan Hadis Kepada Sahabat

Muhammad dalam sejarah kebhidupannya tidak hanya tampil sebagai seorang Rasul dan kepala Negara. Ia dalam banyak keadaan memasyarakat. Hal itu yang menjadi salah satu sebab yang memudahkan kaum muslimin saat itu dapat dengan mudah merekam segala sesuatu yang berkenaan dengan Rasul.

Apabila model interaksi Rasul tersebut dikaitkan dengan bentuk-bentuk hadis yang terdiri dari sabda, perbuatan, taqrir, serta hal ihwalnya, maka dapat dikatakan bahwa hadis-hadis tersebut disampaikan dalam berbagai peristiwa yang meliputi:

a. Secara lisan di majelis-majelis Rasul

Rasulullah mengadakan majelis-majelis dan kesemuanya merupakan majelis ilmu yang berhubungan dengan pengajaran Islam, dan di dalamnya Nabi menyampaikan hadis. Sebagaimana riwayat yang disebutkan Imam Bukhari dari Abu Sa’id al-Khudry:


قالت النساء للنبي صلي الله عليه وسلم غلبنا عليك الرجال فاجعل لنا يوما من نفسك فوعدهن يوما لقيهن فيه فوعظهن فكان فيما قال لهن : ما منكن تقدم ثلاثة من أولادها إلا كان لها حجابا من النار. فقالت إمرءة : واثنتين؟ فقال واثنتين. (رواه البخاري عن ابي سعيد الخدري)

Terjemahnya: Kaum wanita berkata kepada Nabi, “ kaum pria telah mengalahkan kami (untuk memperoleh pengajaran) dari anda. Karena itu, mohon anda meluangkan satu hari untuk kami (kaum wanita).” Maka Nabi menjanjikan satu hari untuk memberikan pengajaran kepada kaum wanita itu. (Dalam majelis itu) Nabi memberi nasehat dan menyuruh mereka untuk berbuat baik. Nabi bersabda kepada kaum wanita “Tidaklah seseorang diantara kalian ditinggal mati oleh tiga orang anaknya, melainkan ketiga anak itu menjadi dinding baginya dari ancaman api neraka.

Lalu seorang wanita bertanya, “Dan (bagaimana jika yang meninggal) dua orang saja?” Nabi menjawab, “Dua orang anak juga (menjadi dinding baginya dari ancaman api neraka)”. (H.R. Bukhari dari Abu Sa’id al-Khudry).[5]

b. Secara lisan dan perbuatan

Pada bagian ini Rasul melakukan sesuatu kemudian menjelaskan kepada sahabat maksud hal tersebut. Sebgaimana yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Aisyah yang berbunyi :


أن رسول الله صلي الله عليه وسلم دات ليله في المسجد فصلي بصلاته ناس ثم صلي من القابلة فكثر الناس ثم اجتمعوا من الليلة الثالثة او الرابعة فلم يخرج اليهم رسول الله فلما اصبح قال قد رأيت الدي صنعتم ولم يمنعني من الخروج إليكم الا إني قد خشيت ان بفرض عليكم. ودالك في رمضان. (رواه البخاري عن عائشة)

Terjemahnya: Pada suatu malam Rasulullah shalat di mesjid. Lalu orang-orang ikut shalat bersama Nabi. Pada malam berikutnya, Nabi shalat lagi di mesjid, orang-orang yang ikut shalat bersama Nabi semakin banyak. Kemudian pada malam ketiga atau keempat, orang-orang berkumpul lagi (untuk shalat berjamaah bersama Rasulullah), akan tetapi Rasulullah tidak keluar (dari kediamannya). Pada waktu subuh Rasulullah bersabda, “sesungguhnya saya telah melihat apa yang kalian lakukan. Dan tidak ada sesuatu yang menghalalngi saya untuk keluar menjumpai kalian kecuali saya sungguh khawatir kalian akan menyangka bahwa shalat malam tersebut diwajibkan atas kalian.” (peristiwa tersebut terjadi pada bulan Ramadan). (H.R. Bukhari dari Aisyah).[6]

c. Berupa teguran terhadap salah seorang sahabat


Diantara cara Nabi menyampaikan hadis kepada sahabatnya melalui teguran terhadap salah seorang sahabat secara langsung mengenai suatu perkara. Kemudian Nabi menyampaikan hal tersebut dalam suatu majelis. Diantaranya ialah hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Abu Hamid al-Sa’idi:


ان رسول الله استعمل عاملا فجائه العامل حين فرغ من عمله فقال له : يا رسول الله هدا لكم وهدا اهدي لي, فقال له : افلا قعدت في بيت ابيك و امك فنظرت ايهدي لك ام لا. ثم قام رسول الله عشية بعد الصلاة فتشهد واثني علي الله بما هو اهله ثم قال اما بعد فما بال العامل نستعمله فيأتينا فيقول هدا من عملكم.... الخ

(رواه البخاري عن حميد الساعدي)[7] 

d. Berupa jawaban Nabi terhadap pertanyaan salah seorang sahabat

Berkenaan dengan hal ini, sahabat menanyakan langsung kepada Nabi tentang suatu perkara terkait dengan permasalahan dalam agama. Kemudian Nabi memberikan jawaban dan menjelaskan sesuatu yang mereka pertanyakan. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Aisyah:


ان إمرءة سألت النبي عن غسلها من المحيض فأمره كيف تغتسل, قال خدي فرصة من مسك فتطهري بها. قالت كيف؟ قال, سبحان الله تطهري! فاجتدبتها الي فقلت : تتبعي بها اثر الدم (رواه البخاري عن عائشة)[8] 

e. Taqrir Nabi terhadap ijtihad sahabat yang belum pernah dicontohkan langsung oleh Nabi

Nabi meminta penjelasan kepada salah seorang sahabat yang melakukan ijtihad mengenai perkata yang belum pernah dilakukan oleh Nabi. Kemudian Nabi tidak mengomentari ijtihad sahabat tersebut. Riwayat yang menyatakan hal tersebut ialah, bahwa ‘Amr bin al-‘Ash (w. 43 H = 664 M) ketika menjadi panglima perang dipeperangan Zat al-Zalazil, suatu malam ia bermimpi bersenggama dan keluar sperma.

Ketika masuk waktu subuh, ‘Amr lalu bertayammum dan tidak mandi janabah karena udara terlalu dingin. Ia menjadi imam shalat subuh pada hari itu. Lalu sahabat melaporkan peristiwa tersebut kepada Nabi. Lalu Nabi meminta penjelasan mengenai perkara tersebut. Kemudian ‘Amr menyatakan bahwa dia mendengar firman Allah, An-Nisa : (29):


ولا تقتلوا انفسكم إن الله كان بكم رحيما..... 

Terjemahnya: … Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah Maha penyayang kepadamu”.[9]

f. Penyampaian hadis Nabi melalui tulisan

Banyak riwayat yang menyatakan bahwa Nabi telah berkirim surat ke berbagai kepala Negara dan pembesar daerah non Islam. Surat-surat itu berisi ajakan memeluk Islam. Dalam berbagai riwayat juga dinyatakan bahwa perjanjian damai Hudaibiyah antara Nabi dengan orang-orang musyrik mekah dibuat secara tertulis.[10]

g. Melalui hal ihwal Nabi

Terkait dengan hal ini, Nabi menyampaikan hadis melalui penggambaran kondisi tubuh Nabi yang dikemukakan oleh sahabat. Sebagaimana deskripsi al-Barra’ mengenai hal ihwal Nabi, yang diriwayatkan Imam Bukhari :

كان رسول الله صلي الله عليه وسلم احسن الناس وجها واحسنه خلقا ليس باالطويل ولا بالقصير
(رواه البخاري عن البراء)

Terjemahnya: Rasulullah adalah seorang yang paling elok parasnya dan ciptaan (Tuhan) yang paling indah (postur tubuhnya) tidak terlalu jangkung dan juga tidak pendek (H.R. Bukhari).[11]

Dari penjelasan di atas, hal itu memberikan pemahaman bahwa cara Nabi dalam menyampaikan hadisnya tidak terkait dengan satu cara saja . keragaman tersebut menimbulkan beberapa akibat. Diantaranya ialah : [a] hadis yang berkembang dalam masyarakat jumlahnya banyak; dan [b] perbendaharaan dan pengetahuan sahabat mengenai hadis Nabi tidak sama. Ada sahabat yang banyak mengetahui langsung proses munculnya suatu hadis dan ada juga sebaliknya. Jadi kalangan sahabat ada yang berstatus saksi primer dan ada yang berstatus saksi sekunder.[12]

Catatan Kaki

[1] M. Syuhudi Ismail, Kaedah keshahihan Sanad Hadis, Telaah Kritis dan Tinjauan dengan Pendekatan Ilmu Sejarah (Cet. II; Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1995), h. 23. Lihat juga Buthrus al-Bustani, Kitab Quthr al-Muhith (Jilid, .., Maktabah Libnan [t.th], h.820-821; Luwis Ma’luf, al-Munjid fi al-lughah al-‘arabiyah al-mu’ashara (Beirut: Dar al-Masyriq, 1973), h. 289.

[2] Imam As-Suyuthi, Taqrib ar-rawi fi taqri an-nawawi, (Cet.; Kairo: PT. Dar al-Hadis, 2004), h. 24.

[3] Ibid.
[4] Ibid, h. 24.
[5] Ibid., h. 30.
[6] Ibid., h. 31.
[7] Ibid., h. 32

[8]Ibid.,h. 33.
[9] Ibid., h. 34.
[10] Ibid.
[11] Ibid., h. 36.
[12] Ibid., h. 36.


0 Response to "Cara Nabi SAW Menyampaikan Hadis Kepada Shabat"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!