Cara Sahabat Menerima dan Menyampaikan Hadis Rasulullah SAW

Advertisement
Cara Sahabat Menerima Hadis Nabi SAW - Hadis-hadis yang ada sekarang ini, adalah hasil jerih payah ulama terdahulu. Sahabat adalah pionir tongkat estafet pertama dalam penyebaran hadis-hadis Nabi. Baik itu perkataan, perbuatan, taqrir, hingga segala hal yang terkait dengan pribadi Nabi. Apa yang disaksikan oleh para sahabat itulah yang sampai kepada generasi setelahnya.

Hadis yang diterima oleh sahabat cepat tersebar dimasyarakat. Karena para sahabat pada umumnya sangat berminat untuk memperoleh hadis Nabi kemudian menyampaikan kepada orang lain.

Para sahabat sangat bersemangat menghadiri majelis-majelis Nabi. Sambil tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Mereka menghadiri majelis Nabi secara begantian kerena kondisi yang tidak memungkinkan hal tersebut. Sebagaimana pengakuan sahabat Nabi sendiri, misalnya sebagai berikut:

‘Umar bin Khattab telah membagi tugas dengant etangganya untuk mencari berita terkait dengan Nabi. Kata ‘Umar, bila tetangganya hari ini menemui Nabi, maka ‘Umar pada esok harinya menemui Nabi. Siapa yang bertugas menemui Nabi dan memperoleh berita yang berkenaan dengan Nabi, maka dia segera menyampaikan berita itu kepada yang tidak bertugas.[1]

Dengan demikian sahabat yang jumlahnya sangat banyak tidak sama dalam tingkat kebersamaan mereka dengan Nabi. Diantara mereka ada yang sehari-harinya bergaul, dan bertemu dengan Rasul, tapi tak sedikit pun karena alasan tertentu tidak dapat bertemu dan bergaul langsung dengan Nabi. Mengingat keanekaragaman keadaan para sahabat, maka cara menerima hadis dari Nabi pun berbeda.[2] Cara para sahabat menerima hadis Nabi dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Secara Langsung dari Nabi

Maksudnya bahwa para sahabat merupakan saksi primer terhadap segala sesuatu yang terkait dengan Nabi. Selain melalui majelis-majelis Nabi. Pada cara ini juga mempunyai bentuk-bentuk lain. Diantaranya:

a. Melaluli peristiwa-peristiwa yang terjadi pada diri Nabi, kemudian beliau menjelaskan hukumnya hingga tersebar dikalangan kaum muslimin melalui saksi primer. Adakalanya sahabat yang merupakan saksi primer jumlahnya banyak sehingga berita tentang hukum itu tersebar dengan cepat, dan adakalanya sedikit sehingga beliau perlu mengutus sahabat yang lain untuk menyampaikan hal tersebut kepada kaum muslimin. Misalnya, hadis yang diriwayatkan oleh ‘Umar bin al-Khattab. bahwa Rasululullah melihat seorang berwudhu untuk melakukan shalat. Namun ia tidak membasuh bagian kuku kakinya. Lalu beliau bersabda, (ارجع فأحسن وضوئك) “Ulangilah, dan sempurnakanlah wudhumu.”

b. Penjelasan Nabi terhadap persoalan yang dialami oleh sahabat.

Tidak ada batas dan penghalang antara mereka dan beliau. Sehingga dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh ‘Ali r.a. bahwa pernah seorang A’raby datang dari tempat yang jauh hanya untuk meminta penjelasan mengenai ruwaihah (kentut kecil), kemudian Rasulullah bersabda:

ان الله لا يستحيي من الحق اذا فعل احدكم فاليتوضأ ولا تأتوا النساء في اعجازهن

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak merasa malu (menjelaskan) kebenaran jika salah seorang diantara kamu kentut maka hendaklah ia berwudhu dan janganlah kamu mendatangi istri melalui dubur mereka.”[3]

c. Melalui kejadian dan peristiwa yang dialami para sahabat dan mereka menyaksikan tindakan Rasulullah.

Hal ini banyak terjadi pada diri beliau. Misalnya, menyangkut masalah shalat, puasa, haji. Saat dalam perjalanan, dan saat berdiam di rumah. Misalnya hadis yang diriwayatkan oleh Salim bin ‘Abdullah dari ayahnya Abdullah bin ‘Umar bahwa ia melihat Rasulullah saw., Abu Bakar, serta ‘Umar berjalan di depan jenazah.[4]

2. Secara Tidak langsung Dari Nabi
Pada bagian ini, sahabat menerima hadis secara tidak langsung dari Nabi. Baik itu mendengar, melihat atau menyaksikan langsung segala sesuatu yang berkaitan dengan Nabi saw. Akan tetapi terkadang mereka hanya sebagai saksi sekunder.[5] Hal ini disebabkan oleh beberapa hal yaitu:

a. Kondisi tempat tinggal yang berjauhan dari tempat tinggal Nabi.[6] Hal ini memungkinkan sahabat tidak dapat menerima hadis langsung dari Nabi akan tetapi menanyakannya kepada para sahabat yang lain.

b. Kesibukan para sahabat dalam mengurus kebutuhan hidup dan keperluan sehingga mereka terkadang tidak sempat datang ke majelis Nabi, akan tetapi meskipun tidak hadir mereka tetap bisa menerima hadis Nabi dengan bertanya kepada sahabat yang menghadiri majelis tersebut.[7]

c. Merasa malu untuk bertanya langsung kepada Nabi, karena masalah yang ditanyakan kepada Nabi, menyangkut masalah yang sangat pribadi. Sahabat yang memiliki masalah demikian, biasanya minta tolong kepada sahabat lainnya untuk menanyakan kepada Nabi. Sebagaimana riwayat Ali bin Abi Thalib, ia berkata, “Saya adalah laki-laki yang sering mengeluarkan madzi. Saya malu menanyakan hal itu kepada Rasulullah karena status putrinya (sebagai istriku). Maka saya meminta al-Miqdad bin al-Aswad menanyakan hal itu kepada beliau. Beliau menjawab, Ia harus membasuh kemaluannya lalu berwudhu.[8]

Berdasarkan hal tersebut, maka dapat dipahami bahwa terdapat tiga unsure yang berperan dalam pemeliharaan Sunnah yaitu: [1] kepribadian Rasulullah; [2] Sunnah dilihat dari sisi materinya; [3] Para sahabat.[9]

Cara Sahabat Menyampaikan Hadis Nabi SAW


Cara Sahabat Menyampaikan Hadis Rasulullah SAW - Pada zaman Nabi, tidak semua hadis ditulis oleh para sahabat. Hadis Nabi yang disampaikan oleh sahabat kepada periwayat lain lebih banyak berlangsung secara lisan. Hadis Nabi yang memungkinkan untuk diriwayatkan secara lafal (Riwayah bi al-lafzi) oleh sahabat sebagai saksi pertama, hanyalah hadis dalam bentuk sabda. Sedangkan hadis yang tidak berbentuk sabda, hanya dimungkinkan untuk diriwayatkan secara makna (Riwayah bi al-ma’na ). Hadis yang dalam bentuk sabda pun sangat sulit diriwayatkan secara lafal. Bukan hanya disebabkan karena tidak mungkin seluruh sabda Nabi itu dihafal secara harfiah, melainkan juga karena kemampuan hafalan dan tingkat kecerdasan sahabat tidak sama.[10] Berdasarkan hal tersebut, maka dalam hal transfer hadis, sahabat menempuh dua cara. Yaitu:

a) Periwayatan secara lafal (Hadis riwayah bi al-lafz)

Periwayatan hadis secara lafal adalah “periwayatan hadis yang redaksi atau matannya persis seperti yang diperoleh dari Rasulullah saw.[11] Maksudnya bahwa hadis yang diterima diriwayatkan dengan mempertahankan lafalnya sesuai redaksi yang disampaikan oleh Nabi.[12] Para sahabat ketika meriwayatkan hadis menempuh jalan ini. Mereka berusaha agar dalam periwayatan hadis selalu sesuai dengan lafaz yang disampaikan oleh Nabi. Diantara para sahabat yang paling menuntut periwayatan hadis sesuai dengan lafal asli dari Nabi adalah Ibnu ‘Umar, ‘Abdullah bin ‘Umar, dan Sa’id bin Arqam.[13] Periwayatan hadis secara lafal sangat sedikit disinggung pada buku-buku hadis yang ada.[14] Contoh periwayatan hadis secara lafal:

وعن انس رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله صلي الله عليه وسلم يقول : إن الله عز وجل قال اذا ابتليت عبدي بجبيبتيه فصبر عوضته منها الجنة, يريد عينيه

(رواه البخاري) 

Terjemahnya: Dari Anas r.a. berkata: saya mendengar Rasulullah saw. Bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: “Apabila aku menguji salah seorang hamba-Ku dengan buta pada kedua matanya kemudian ia sabar, maka Aku akan menggantikannya dengan surga “yang dimaksudkan adalah kedua matanya.” (H.R. Bukhari).[15]

b) Periwayatan secara makna (Hadis riwayah bi al-ma’na)

Periwayatan secara makna adalah periwayatan hadis dengan melakukan perubahan dari segi lafal. Baik dari segi pendahuluan dan pengakhiran sebuah kata, atau dengan cara penggunaan sinonim.[16] Mereka yang memperbolehkan periwayatan hadis secara makna, secara terpaksa meriwayatkan sebagian hadis dengan kata-kata mereka sendiri. Terkadang mereka menggunakan kalimat “Atau seperti yang Rasulullah katakana” dan kalimat lain yang sejenis.[17]Diantara sahabat yang membolehkan hal tersebut ialah ‘Aisyah r.a. dan Hasan al-Bashri dari golonan tabi’in.

Mengenai hal ini, mereka yang memperbolehkan periwayatan hadis bi al-ma’na menetapkan syarat-syarat tertentu. Mereka hanya memperbolehkan n periwayatan hal itu dalam keadaan darurat. Misalnya, lafal Rasulullah itu hilang dari ingatan perawi, padahal saat itu periwayatannya sangat dibutuhkan. Maka periwayatan hadis bi al-ma’na dalam keadaan darurat itu hanya diperbolehkan sebatas kadar darurat.[18] Perbedaan redaksi dalam periwayatan makna ini tetap menjaga makna dan secara utuh, hal itu diqiyaskan dengan kisah-kisah masa lalu yang terdapat dalam al-Qur’an. kisah-kisah tersebut berulang diberbagai ayat dan surah dengan lafal yang berbeda. Demikian halnya Sunnah Rasul yang membolehkan cara periwayatan seperti itu, ketika Rasululullah saw. mengirim utusannya dengan membawa surat beliau, kemudian mereka menerjemahkan surat-surat itu kedalam bahasa selain bahasa Arab sesuai dengan kaum yang dituju.

Dengan demikian, walaupun seluruh hadis Nabi tidak mungkin dihafal oleh para sahabat, tetapi tidak berarti bahwa tidak ada sabda Nabi yang telah berhasil dihafal dan kemudian diriwayatkan secara harfiah oleh para sahabat. Ada kondisi tertentu yang memberi peluang sehingga sahabat dapat menghafal dan meriwayatkan sabda Nabi secara harfiah. Diantara kondisi tersebut, ialah:

1) Nabi dikenal fasih dalam berbicara dan isi pembicaraannya berbobot. Nabi senantiasa menyesuaikan sabdanya dengan bahasa (dialek), kemampuan intelektual, dan latar belakang budaya audience-nya.

2) Untuk sabda-sabda tertentu, Nabi menyampaikannya secara berulang, tiga atau dua kali.

3) Tidak sedikit sabda Nabi yang disampaikan dalam bentuk jawami’ al-kalim, yakni ungkapan singkat namun sarat makna.

4) Diantara sabda Nabi ada yang disampaikan dalam bentuk do’a, zikir dan bacaan tertentu dalam ibadah.

5) Orang-orang Arab sejak dahulu dikenal dengan daya ingatnya yang kuat.

6) Kalangan sahabat Nabi ada yang dikenal dengan sungguh-sungguh berusaha menghafal hadis Nabi secara lafal. Misalnya, Abdullah bin Umar bin al-Khattab.[19]

Mayoritas ulama berpendapat bahwa kebolehan muhaddis meriwayatkan hanya apabila mereka memahami dan mengetahui dengan benar tentang bahasa Arab beserta segala seluk beluknya, makna-makna dan kandungan yang terdapat dalam hadis yang dimaksud serta memahami kata yang bisa merubah makna dan kata yang tidak merubahnya. Karena yang menjadi kebutuhan dasar mereka adalah makna yang terkandung dari lafal hadis tersebut.[20]

Catatan Kaki

[1] Lihat al-Bukhari, Juz I, h. 28; Juga al-‘Asqalani, Fath al-Bari, Juz I, h. 185-186, lihat juga M. Ajjaj al-Khatib, Hadis Nabi sebelum di bukukan, (Cet. I; Jakarta: PT. Gema Insani Press, 1999), h. 87.

[2] Departemen Agama RI, Ulum al-Hadis, (Cet. I; PT. Departemen Agama RI, 1998), h. 68.

[3]Musnad Imam Ahmad, Hadis ke-655, Juz II, pada suatu kali Rasulullah saw. Bersabda “في ادبارهن”, lihat Ibid, h. 92.

[4] Musnad Imam Ahmad, h. 247, hadis ke-653, Juz II, melalui isnad sahih, lihat Ibid.,h. 96. Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib, Ushul al-Hadis, ‘Ulumuhu wa Musthalahatuhu, (Cet. ..; Beirut: PT. Dar al-Fikr, 1998), h. 70.

[5] M. Syuhudi Ismail, M. Syuhudi Ismail, Kaedah keshahihan Sanad Hadis, Telaah Kritis dan Tinjauan dengan Pendekatan Ilmu Sejarah (Cet. II; Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1995), h. 36.

[6] Departemen Agama RI, op. cit., h. 76.

[7] Lihat Ibid.

[8] M. ‘Ajjaj al-Khatib,op. cit.,h. 91. Lihat juga Musnad Imam Ahmad, h. 39, hadis ke-606 dan h. 46, hadis ke-618, Juz II melalui sanad shahih. Fath al-Bari, h. 294 dan 394, Juz I, dan Shahih Muslim, H. 247, hadis ke 17-19, Juz I.

[9] Ibid, h. 98.

[10] Lihat M. Syuhudi Ismail, op. cit., h. 79.

[11] Lihat Departemen Agama RI, op. cit., h. 46.

[12] Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib, Ushul al-Hadis, ‘Ulumuhu wa Musthalahatuhu, (Beirut: PT. Dar al-Fikr, 1998), h. 70.

[13] Lihat, Ibid.

[14] Lihat, M. Syuhudi Ismail, op. cit., h. 79.

[15] Muslich Shabir, Terjemah Riyadusshalihin, ed. 2 (Semarang: PT. Karya Toha Putra Semarang, 2004), h. 34.

[16] Lihat Departemen Agama RI, op. cit., h. 46.

[17] Subhi Shalih, ‘Ulum al-hadis wa musthalahatuhu, (Cet. I, Beirut; PT. Dar al-‘Ilmi li al-malayin, 1998), h. 86.

[18] Lihat, M. ‘Ajjaj al-Khatib, op. cit., h. 170, 171.

[19] Lihat, M. Syuhudi Ismail, op. cit., h. 79,80,81.

[20] Imam Abu ‘Amr Usman bin Abdurrahman As-Zahrazuri, Muqaddimah Ibn Shalah fi Ulum al-hadis, (Cet. I; Beirut: PT. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2003), h. 236.


0 Response to "Cara Sahabat Menerima dan Menyampaikan Hadis Rasulullah SAW"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!