Khutbah Idul Adha Haji, Qurban dan Solidaritas Sosial

Advertisement
Khutbah Idul Adha 2016: Haji, Qurban dan Solidaritas Sosial
Oleh : Dr. Mursalim Junaid, M. Ag.

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الَلَّهُ أَكْبَرُ 9× سُبْحانَ مَنْ جَعَلَ أوّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لِلَّذِى ِبِبَكّةً مُبَاَرَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِيْنَ ورََفَعَ للمُؤْمِنِيْنَ عَلَماً بِالتَّكْبِيْرِ والتَّهْلِيْلِ والتَّحْمِيْدِ شِعَارًا لِهَذَا الديْنِِ وجَعَلَ أَعْظَمَ شَعّائِرِهِ حَجَّ بَيْتِهِ الحَراَمِ بِحَرَمِهِ الاَميِنِ سُبْحَانَ ربِّ العِزّةِ عمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى المُرْسَلِيْنَ. وَالْحَمْدُ لِلَهِ رَبِّ العّالَمِيْنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ الَّلهُ الْعَزِيْزُ الرّحِيْمُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ النَّبيُّ الكريمُ. اللهمَّ صلِّ وسلِّمْ على محمّدٍ الرسولِ السَّنَدِ العظِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الابْرَرِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَا أَيّهَا المُخْلِصِيْنَ إتّـقُوْا اللهََ حَقَّ تُقَاتِهِ واعْلَمُوْا أنَّ اللهَ مَعَ المُتّقِيْنَ

الله أكبر الله أكبر ألله أكبر ولله الحمد

Pada hari ini (tgl 10 Dzul Hijjah) kita umat Islam melangsungkan Hari Raya, dan dipagi hari yang mulia serta penuh berkah ini, kita bersama ratusan juta umat Islam lainnya diseluruh dunia melaksanakan shalat ‘Idul Adha, baik dilapangan terbuka atau dimesjid-mesjid. Semuanya duduk sama rendah berdiri sama tinggi, menurut aba-aba sang Imam, meletakkan kepala diatas tanah, bersujud. Semua mengakui betapa kecil dan lemahnya manusia dihadapan Allah yang Maha Besar.

Shalat ‘Id ini merupakan ikrar bersama di bawah satu naungan dan satu aba-aba untuk menjunjung kalimat Allah yang luhur. Semua bertekad untuk mengabdikan diri hanya kepada Allah, Dzat yang Maha Adil, demi mencapai kehidupan yang penuh ridla dan ampunan Allah.

Di hari yang mulia ini pula, puluhan juta Kaum Muslimin sedang melaksanakan ibadah haji di tanah suci Mekah, mereka datang berbondong-bondong dari berbagai penjuru dunia, ibadah ini merupakan kongres tahunan umat Islam Internasional, dan sekaligus sebagai pernyataan bahwa semua manusia adalah hamba-hamba Allah yang sama kedudukan, harkat dan martabatnya, tanpa membeda-bedakan ras dan warna kulit, tanpa melihat apakah ia pejabat atau rakyat biasa, semuanya sama, memakai pakaian putih tanpa dijahit, semuanya siap untuk memenuhi panggilan Allah.

Mengadakan perjalanan untuk menunaikan ibadah haji, sebagaimana diketahui, wajib dilakukan setiap Muslim yang memiliki kemampuan (istita`ah), baik dari segi kemampuan financial (keuangan), kesehatan dan kejiwaan, begitu juga kesejahteraan keluarga yang ditinggalkan. Bukan setelah kembali berhaji justru malah stress karena dililit oleh utang. Karena ada di antara kalangan saudara-saudara kita naik ke tanah suci bukan karena adanya kemampuan seperti di atas tetapi didorong oleh hawa nafsu ikut-ikutan dari keluarganya atau tentangganya atau maelo riaseng hajji kalamanna minreng doi narekko menremui haji. Hal itulah kewajiban ibadah haji ini dijelaskan dalam firman Allah SWT Surat Ali Imran (3) ayat 97.

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.

Mengadakan perjalanan ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji yang juga disebut sebagai “rihlah mubarakah” (perjalanan penuh berkah), bukan hanya sekadar pergi untuk pemenuhan kewajiban Islam sesuai dengan perintah Allah SWT. Dan, bahkan hal “kesanggupan” atau “kemampuan” (istita`ah) yang disebutkan dalam ayat tersebut lebih daripada sekedar soal kemampuan pendanaan dan hal-hal bersifat material dan fisik lainnya. Tetapi juga mencakup kemampuan dalam hal-hal yang bersifat spiritual dan psikologis. 

Karena itulah, meski kita sering menyaksikan banyak orang yang memiliki kemampuan material dan fisik, tetapi tetap belum melaksanakan ibadah haji. Di sinilah kemampuan itu berkaitan juga dengan hal-hal bersifat spiritual seperti yang tercermin misalnya dalam ungkapan “panggilan Nabi Ibrahim” terlihat memiliki konteksnya yang lebih jelas. 

Dan sebab itu pulalah seharusnya kita selalu memanjatkan doa agar setiap kita dan Muslimin dan Muslimat lainnya memiliki kemampuan untuk mendapat “panggilan Nabi Ibrahim”, pergi ke Tanah Suci menunaikan ibadah haji. Dan untuk mendapatkan kemampuan menerima “panggilan Nabi Ibrahim”, maka hendaklah kita senantiasa meningkatkan kualitas rohaniah dan spiritualitas kita melalui berbagai ibadah dan amal saleh dalam berbagai aspek kehidupan kita.

Khutbah Idul Adha Singkat Judul Haji Qurban dan Solidaritas Sosial
Selamat Hari Raya Idul Adha / Deviantart.net
Muslimin dan Muslimat Rahimakumullah;
Selanjutnya, ibadah haji jelas lebih daripada sekadar pelaksanaan secara sempurna seluruh tata cara formal ritual haji seperti ditentukan hukum Islam (fiqh) yang mencakup pemakaian pakaian ihram, wukuf di Padang Arafah, melempar jumrah, tawaf, sa`i dan lain-lain. Jika semua ketentuan fiqhiyah ini dilaksanakan sebaik-baiknya sesuai rukun, syarat, dan tata urutannya, maka tentu saja secara formal ibadah haji yang dilaksanakan telah sah.

Tetapi lebih dari itu, ibdah haji mengandung makna kemanusiaan dan pengalaman nilai-nilainya tidak hanya terbatas pada persamaan nilai kemanusian. Ia mencakup seperangkat nilai-nilai luhur yang seharusnya menghiasi jiwa pemiliknya.

Pengamalan-pengamalan dalam manasik haji tidak hanya dimaknai sebagai sebuah amalan rirual belaka akan tetapi mengandung makna-makna yang sangat dalam.

Ibadah haji dimulai dengan niat sambil menanggalka pakaian biasa dan mengenakan pakaian ihram, yaitu dengan menggunakan dua helai pakaian yang berwrna putih-putih dan pada saat itu tidak ada lagi perbedaan-perbedaan manusia, baik perbedaan status sosialnya, warna kulitnya, bangsanya, semuanya melebur menjadi satu.. Simbol ini memberikan makna bahwa pada dasarnya manusia tidak ada perbedaan antara satu dengan yang lainnya di hadapan Allah.

Ka’bah yang dikunjungi mengandung pelajaran yang amat berharga dari segi kemanusiaan. Di sana, misalnya, ada Hijr Isma’il yang arti harfiahnya “pangkuan Ismail”. Di sanalah Isma’il putra Ibarahim pernah berada dalam pangkuan ibunya yang bernama Hajar, seorang wanita hitam, miskin bahkan budak, yang konon kuburannnya berada di tempat itu. 

Budak wanita ini ditempatkan Tuhan di sana untuk menjadikan pelajaran bahwa Allah memberi kedudukan untuk seseorang bukan karena keturunanannya atau status sosialnya, tetapi karena kedekatannya kepada Allah dan usahanya untuk Hajar (berhijrah) dari kejahatan menuju kebaikan dari keterbelakangan menuju peradaban.

Sa’i adalah lari-lari kecil dari bukit Shafa menuju ke bukit Marwah. Sa’i arti harfiahnya adalah uasaha, Shafa artinya adalah kesucian dan ketegaran, ini sebagai lambang bahwa untuk mencapai tujuan hidup ini harus dengan usaha sungguh-sungguh yang dimulai dengan kesucian dan ketegaran dan harus diakhiri di Marwah yang berarti Ideal manusia, sikap menghargai, bermurah hati, dan memaafkan orang lain. Artinya adalah tugas manusia berupaya semaksimal mungkin dengan bersih serta ketegaran hati untuk menghargai karya orang dan memaafkan bila ada kesalahan.

Kemudian wukuf di Arafah, padang yang luas lagi gersang. Di sanalah mereka menemukan ma’rifah (pengetahuan) sejati tentang dirinya, akhir perjalanan hidupnya serta di sana pula ia menyadari langkah-langkahnya selama ini. 

Di sana pula ia menyadari bahwa betapa besar dan agungnya Allah yang kepada-Nya bersembah seluruh makhluk, sebagaimana diperagakan secara miniatur di padang Arafah. Kesadaran-lesadaran itulah yang mengantarkannya di padang Arafah untuk menjadi ‘arif (sadar) dan mengatahui.

Menurut Ibn Sina, apabila kearifan telah menghiasi diri seseorang, maka Anda akan menemukan orang itu “selalu gembira, banyak senyum karena hatinya telah gembira sejak ia mengenal Tuhan” Di mana-mana ia melihat satu saja, melihat Yang Mahasuci itu. Semua makhluk dipandangnya sama. 

Ia tidak akan mengintip-intip kelemahan atau mencari-cari kesalahan orang. Ia tidak akan cepat tersinggung walau melihat yang mungkar sekalipun. Karena jiwanya selalu diliputi oleh rahmat dan kasih sayang. Demikanlah gambaran singkat makna-makna dibalik simbol-simbol amalan-amalan di dalam ibadah haji. 

Hal itulah yang diharapkan di dalam pelaksanaan ibdah haji sehingga apa yang pernah dijanjikan oleh Nabi sebagai haji mabrur dengan ganjarannya adalah surga. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

“Dan haji mabrur itu tidak ada balasannya kecuali surga”.

Mabrur-nya haji tidak diukur dari cara memperoleh bekal/rezeki. Tidak juga dari tempat tinggal atau dari tingkat kepayahannya dalam melaksanakan haji. Haji adalah perjalanan ruhani dari rumah-rumah yang selama ini mengungkung mereka menuju Rumah Tuhan. Haji yang mabrur adalah haji yang berhasil mencampakkan sifat-sifat hewaniah dan menyerap sifat-sifat rabbaniyyah (ketuhanan). Untuk menjadi Haji yang mabrur itu perlu transformasi spiritual seperti yg digambarkan oleh percakapan antara Zainal Abidin (Seorang sufi besar) dengan Asy-Syibli yang baru datang kembali dari menunaikan ibadah haji. Zainal Abidin bertanya kepadanya,

"Ketika engkau sampai di miqat dan menanggalkan juga pakaian berjahit, apakah engkau berniat menanggalkan juga pakaian kemaksiatan dan mulai mengenakan busana ketaatan?"

"Apakah juga engkau tanggalkan riya' (suka pamer, maelo roaseng), kemunafikan, dan syubhat ?"

"Ketika engkau ber-ihram, apakah engkau bertekad mengharamkan atas dirimu semua yang diharamkan oleh Allah?"

"Ketika engkau menuju Makkah, apakah engkau berniat untuk berjalan menuju Allah ?"

"Ketika engkau memasuki Masjid Al-Haram, apakah engkau berniat untuk menghormati hak-hak orang lain dan tidak akan menggunjingkan (menceritrekan kejelakan) sesama umat Islam ?"

"Ketika engkau sa'i, apakah engkau merasa sedang lari menuju Tuhan diantara cemas dan harap ?"

"Ketika engkau wuquf di Arafah, adakah engkau merasakan bahwa Allah mengetahui segala kejahatan yang engkau sembunyikan dalam hatimu ?"

"Ketika engkau berangkat ke Mina, apakah engkau bertekad untuk tidak mengganggu orang lain dengan lidahmu, tanganmu, dan hatimu ?"

"Dan ketika engkau melempar jumrah, apakah engkau berniat memerangi Iblis selama sisa hidupmu ?"

Ketika itu, Asy-Syibli menjawab "tidak", Zainal Abidin mengeluh, " Ah ...., engkau belum miqat, belum ihram, belum thawaf, belum sa'i, belum wuquf, dan belum sampai Mina." Asy-Syibli menangis. Pada tahun berikutnya, dia berniat merivisi manasik hajinya.

Kata “mabrur” dalam hadits ini memiliki keterkaitan dengan kata al-birr yang berarti “kebajikan” atau “perbuatan baik” yang dikerjakan atas dasar taqwa kepada Allah SWT. Kata al-birr ini sering sekali digunakan di dalam banyak ayat al-Qur’an. Salah satunya yang sangat relevan dengan khutbah kali ini adalah firman Allah yang artinya:

“Kamu tidak akan mendapat kebajikan sebelum kamu mendermakan sebagian harta yang kamu cintai dan apa yang engkau nafkahkan sesuatu Maka sesungguhnya Allah mengetahui-Nya”. (Qs. Ali Imran: 92)

Bagi mereka yang memiliki kemampuan pendanaan, pengeluaran biaya untuk menunaikan ibadah haji dapat dipandang sebagai sebuah bentuk “derma”, “infaq” atau “shadaqah” seorang pribadi kepada Allah SWT. Karena seluruh dana yang dibelanjakan untuk keperluan ini hanyalah untuk mencapai keredhaan Allah, bukan untuk tujuan dan niat lain.

Tetapi lebih dari itu, al-birr dalam ayat di atas juga mengandung makna mendermakan atau menginfaqkan harta yang dicintai kepada orang-orang yang membutuhkan. Mendermakan harta—sekalipun mungkin hanya sebagian kecil dari yang kita miliki—tidak selamanya mudah. Apalagi jika harta yang dimiliki itu diyakini diperoleh secara halal dengan usaha-usaha yang sah, halal yang sering sekali tidak selalu mudah atau bersusah payah. Namun, di sinilah letak kunci prinsip ajaran Islam bahwa harta yang kita miliki itu adalah “ujian”; ujian apakah kita akan dikuasai dan diperbudak atau diatur oleh harta, sehingga tidak mau mendermakan sebagian kecil daripadanya. Atau sebaliknya, kita sang pemilik justru yang mengendalikan harta itu, dan mengeluarkan sebagian daripadanya, sehingga dapat mendatangkan manfaat yang maksimal baik bagi diri, masyarakat, dan agama Allah.

الله أكبر الله أكبر ألله أكبر ولله الحمد

Kemampuan mengendalikan harta dan, sebaliknya, tidak dikuasai harta atau bahkan apa saja yang dicintai seseorang dalam kehidupannya—termasuk anak, keluarga dan karib kerabat—merupakan salah satu tujuan dan ibadah qurban yang juga dilaksanakan dalam rangkaian hari raya Id al-Adha ini.

Lebih jauh lagi, kewajiban melaksanakan ibadah qurban tidak lain merupakan ungkapan rasa syukur dan terimakasih kepada Allah SWT atas berbagai rezeki dan nikmat yang telah diberikan kepada hambaNya yang beriman dan berislam. Perintah itu terkandung dalam Surat al-Kautsar (108), yang artinya:

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berqurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah (orang) yang terputus”.
Kaum Muslimin dan Muslimat yang dirahmati Allah SWT;
Maka jelas bahwa ibadah qurban dan ibadah haji yang mabrur semestilahnyalah tercermin pula dalam meningkatnya perbuatan al-bir pasca pelaksanaan haji atau ketika sudah kembali ke kampung halamannya, yaitu termasuk di dalamnya adalah memberikan dan meningkatkan derma, infaq dan shadaqah, atau mengorbankan sebagian yang kita miliki kepada mereka yang membutuhkan. Jika semua hal ini dapat kita lakukan, maka kita dapat mewujudkan solidaritas sosial atau kesetiakawanan di dalam masyarakat kita.

Kebutuhan untuk meningkatkan perwujudan dan realisasi mabrur dan al-birr yang menghasilkan solidaritas sosial itu jelas terasa sangat mendesak di tanah air kita dalam beberapa tahun terakhir; persisnya sejak mulai berlangsungnya multi-krisis, mulai krisis moneter, krisis ekonomi yang selanjutnya disusul krisis politik, yang tak kalah pentingnya untuk harus diselesaikan adalah krisis moral yang melanda sebagian nasyarakat kita. hingga kini masih terus berlanjut. 

Sekarang ini diperkirakan terdapat sekitar 37 juta orang Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan, sehingga tidak mampu mememuhi kebutuhan-kebutuhan pokok untuk hidup secara baik, sehat dan layak. yang sebagian besarnya adalah saudara kita yang seiman. Keadaan yang masih serba sulit itu bertambah lagi dengan terjadinya kenaikan harga berbagai kebutuhan hidup, karena pencabutan subsidi oleh pemerintah.

Artinya adalah untuk keluar dari persoalan di atas diharapkan semua pihak, khususnya para pemimpin kita benar-benar memposisikan dirinya sebagai pemimpin dengan memberikan contoh tauladan bagi yang rakyatnya. Bukan sebaliknya, menjadikan suasana krisis ini untuk mencari keuntungan di atas penderitaan rakyat. Rakyat dijual, di atas namakan untuk kepentingan pribadi kelompok, partai dan sebagainya dalam rangka mendapatkan jabatan. Tidak menjadikan orang-orang lemah sebagi obyek eksploitasi.

Dalam kesempatan suasana hari raya kurban ini kita semua dituntut untuk introspeksi diri, kita semua dituntut untuk membangun kebersamaan, bukan keserakahan apapun kapasitanya dan kedudukannya. Melalui idul kurban ini kita jadikan sebagai sarana pembiasan memberi kepada orang lain, sekaligus menjadikan sarana untuk menjauhkan diri dari sifat tamak, loba, dan serakah. Karena terjadinya penyimpangan dalam kehidupan sosial yang berupa eksploitasi kaum lemah dan rakyat adalah berawal dari sifat tamak, loba dan serakah. 

Sifat-sifat tersebut selalu mengalahkan segala cara mulai tingkatan penipuan, korupsi, kolusi sampai kepada tindakan yang sadis lainnya. Untuk itulah dengan cara seperti ini umat Islam diajarkan budaya memberi dan menjauhi budaya mengambil hak orang lain. Menumbuhkan budaya peduli orang lain, bukan budaya mempreteli orang lain.

Oleh karena itu, haji yang mabrur memberikan juga pengertian bahwa di dalam melaksanakan ibadah tidak hanya bertumpu pada ibadah ritual-personal semata, tetapi juga memperhatikan ibadah sosial dalam arti bahwa ibadah haji itu bukan hanya sebatas di Tanah Suci Mekan, tetapi memberikan dampak positif, baik pada diri sendiri maupun kepada orang lain. Karena kedua ibadah tersebut berjalan secara beriringan, saling terkait antara satu dengan yang lainnya. Namun, diakui pula masih ada di antara saudara-saudara kita kaum muslimin masih mementingkan ibadah ritual-personal atau ibadah mahdhah, ibadah sosial masih sangat minim pelaksanaannya. 

Hal ini dapat dilihat adanya sebagian saudara-saudara kita sudah berkali-kali naik haji dan umrah mungkin tidak disadari, keluarganya, tetangganya ada yang tidak bisa atau susah menyambung hidupnya, demikian juga ada jutaan anak-anak bangsa kita yang putus sekolah, karena kekurangan biaya. Dan itu jauh lebih berharga dan bermakna dan pahalanya besar jika harta itu diberikan kepada mereka yang membutuhkan dari pada dipergunakan untuk ke tanah suci berkali-kali.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa Lillahi-l-Hamd;
Sebaliknya, ketidak pedulian kita pada realisasi mabrur dan al-birr dapat mengakibatkan terjadinya pelestarian kemiskinan. Dan kemiskinan tidak hanya dapat memunculkan kerawanan sosial, tetapi juga mengakibatkan munculnya “the lost generation”, lenyapnya generasi bangsa yang memiliki kemampuan intelektual dan kecerdasan. Dalam konteks Islam, “the lost generation” juga berarti hilangnya generasi muda yang memiliki `aqidah dan keimanan. Kemiskinan dan kefakiran sebagaimana sudah diperingatkan Rasulullah SAW memang dapat menimbulkan kekufuran, sebagaimana dikemukakan dalam hadits:

كاد الفقر أن يكون كفرا

“Hampir saja kefakiran (kemiskinan) itu menjadikan kekufuran”.

Karena itu, dalam kesempatan Idul Adha ini, marilah kita kembali meneguhkan keislaman dan keimanan kita; memperkuat solidaritas sosial kita; dan mengulurkan bantuan kita kepada anak-anak bangsa yang hidup dalam kenestapaan. Dengan begitu, kita semua dapat mengambil hikmah Idul Adha dan Idul Qurban untuk selanjutnya merealisasikan secara aktual dalam berbagai aspek kehidupan kita.

جَعَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِمَّنْ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ وَيَتَّبِعُوْنَ اَحْسَنَهُ

Khutbah Idul Adha Kedua


الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر ولله الحمد. الحمد لله رب العالمين حمدا يوافي نعامه ويكافي مزيده ياربنالك الحمد كما ينبغي لجلا ل وجهك الكريم وعظيم سلطانك اللهم صل وسلم وبارك علي محمد وعلي ال محمد كما صليت وسلمت وباركت على إبراهيم أما بعد فيا أيها المسلمون، أوصيكم وإياي نفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون.

Marilah kita akhiri khutbah ini dengan memanjatkan doa dengan khusyu’ ke haribaan Allah SWT.

Ya Allah ya Tuhan kami, pada hari ini kami datang untuk menyatakan puji dan syukur kepada-Mu, serta memohon ampunan atas berbagai kesalahan yang kami perbuat, kesalahan kedua orang tua kami, saudara-saudara kami, dan para pemimpin kami.

Ya Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Limpahkanlah rasa kasih sayang-Mu kepada kami, sehingga kami dapat mewujudkan persaudaraan di antara kami dan menjauhkan sifat tamak, serakah dan mementingkan diri sendiri. Dengan kasih sayang-Mu itu kami mendambakan terwujudnya masyarakat yang harmonis, saling percaya mempercayai, tolong menolong, saling menghargai terbuka bertanggung jawab dan saling mencintai.

Ya Allah Yang Maha Pengampun. Sungguh banyak kesalahan dan kekhilafan yang telah kami perbuat yang menyebabkan Engkau murka kepada kami. Ampunilah Ya Allah segala kesalahan dan kekhilafan kami ini, sehingga terbuka berbagai kemudahan bagi kami untuk menghadapi berbagai masalah yang kami hadapi.

Ya Allah Yang Maha Mendengar. Dengarkan dan kabulkanlah permohonan kami ini.

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات برحمتك ياأرحم الرحمين . ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الأخرة حسنة وقنا عذاب النار 




0 Response to "Khutbah Idul Adha Haji, Qurban dan Solidaritas Sosial"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!