Hukum dan Penjelasan Hadis Semir Rambut Hitam dalam Ajaran Islam

Advertisement
Hukum dan Penjelasan Hadis 
Semir Rambut Hitam dalam Ajaran Islam

Tongkronganislami.net - Pembahasan hadits tentang semir menjadi salah satu kajian yang penting. Informasi yang sampai kepada kita, baik itu perkataan, perbuatan maupun penetapan Nabi Muhammad SAW sangatlah beragam. Jika diperhatikan lebih lanjut, akan ditemukan beberapa teks hadits yang tampak bertentangan. Bahkan terkadang hadits-hadits tersebut dapat dikatakan problematis.

Sejauh pencarian yang dilakukan terdapat beberapa hadits yang secara lahiriah melarang seseorang untuk mewarnai rambut dengan warna hitam. Larangan tersebut lahir dari ucapan langsung Rasulullah SAW. Hadits tersebut adalah:

Hadits riwayat Imam Muslim nomor: 3925. Adapun kualitas hadits ini adalah hasan.

و حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ أُتِيَ بِأَبِي قُحَافَةَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ وَرَأْسُهُ وَلِحْيَتُهُ كَالثَّغَامَةِ بَيَاضًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيِّرُوا هَذَا بِشَيْءٍ وَاجْتَنِبُوا السَّوَاد

Diriwayatkan dari Abu Thahir telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahb dari ibn Juraij dari Abi Jubair dari Jabir bin Abdullah telah berkata: Aku datang bersama Abu Quhafah pada hari fath al-makkah yang rambut dan kepalanya seperti al-tsaghama[1] yang berwarna putih , dan Rasul pun berkata Rubahlah itu dengan sesuatu dan jauhilah yang warna hitam ( HR. Imam Muslim no.3925)

Ketika ditakhrij dan mencari teks-teks lain, ditemukan hadits-hadits yang hampir sama baik dari lafadz maupun maknanya. Dan hadits-hadits tersebut terdapat pada:

No
Mukharrij
Nomor Hadits
Kualitas hadits
1
Imam Al-Nasa’i
 4989
 Hasan
2
Imam Al-Nasa’i
5147
Hasan
3
Imam Abu Dawud
3672
Hasan
4
Imam Ibnu Majah
3614
Hasan
5
Imam Ahmad
13882
Hasan

1. Imam Al-Nasa’i hadits no. 4989 (hadits ini berkualitas hasan)

أَخْبَرَنَا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ قَالَ أَخْبَرَنِي ابْنُ جُرَيْجٍ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ أُتِيَ بِأَبِي قُحَافَةَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ وَرَأْسُهُ وَلِحْيَتُهُ كَالثَّغَامَةِ بَيَاضًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيِّرُوا هَذَا بِشَيْءٍ وَاجْتَنِبُوا السَّوَادَ

Telah menceritakan kepada kami Yunus bin ‘Abdi al-‘A’la berkata: Diriwayatkan dari Ibnu Wahab dari Ibnu Juraij dari Abi Zubair dari Jabir berkata: Aku datang bersama Abu Quhafah pada hari fath al-makkah yang rambut dan kepalanya seperti al-tsaghama yang berwarna putih , dan Rasul pun berkata Rubahlah itu dengan sesuatu dan jauhilah yang warna hitam (HR.Imam al-Nasa’i no. 4989 )

2. Imam Al-Nasa’i hadits no. 5147( hadits ini berkualitas hasan )

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى قَالَ حَدَّثَنَا خَالِدٌ وَهُوَ ابْنُ الْحَارِثِ قَالَ حَدَّثَنَا عَزْرَةُ وَهُوَ ابْنُ ثَابِتٍ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَبِي قُحَافَةَ وَرَأْسُهُ وَلِحْيَتُهُ كَأَنَّهُ ثَغَامَةٌ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيِّرُوا أَوْ اخْضِبُوا

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdi al-‘A’la berkata: Diriwayatkan dari Khalid Ibnu al-Harits dari ‘Azrah Ibnu Tsabit dari Abi Zubair dari Jabir telah berkata: Aku datang bersama Abu Quhafah yang rambut dan kepalanya seperti al-tsaghama, maka Nabi SAW. Bersabda: Rubahlah atau warnailah (HR. Imam al-Nasa’i no. 5147)

3. Imam Abu Dawud hadits no. 3672 (hadits ini berkualitas hasan)

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ السَّرْحِ وَأَحْمَدُ بْنُ سَعِيدٍ الْهَمْدَانِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ أُتِيَ بِأَبِي قُحَافَةَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ وَرَأْسُهُ وَلِحْيَتُهُ كَالثَّغَامَةِ بَيَاضًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيِّرُوا هَذَا بِشَيْءٍ وَاجْتَنِبُوا السَّوَاد

Diriwayatkan dari Ahmad bin ‘Amr bin al-Sarh dan Ahmad bin Sa’id al-Hamdani berkata: Diriwayatkan dari Ibnu Wahab dari Ibnu Juraij dari Abi Zubair dari Jabir bin ‘Abdillah berkata: Aku datang bersama Abu Quhafah yang rambut dan kepalanya seperti al-tsaghama yang berwarna putih , dan Rasul pun berkata Rubahlah itu dengan sesuatu dan jauhilah yang warna hitam (HR. Imam Abu Daud no. 3672)

4. Imam Ibnu Majah hadits no. 3614 (hadits ini berkualitas hasan)

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ ابْنُ عُلَيَّةَ عَنْ لَيْثٍ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ جِيءَ بِأَبِي قُحَافَةَ يَوْمَ الْفَتْحِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَأَنَّ رَأْسَهُ ثَغَامَةٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اذْهَبُوا بِهِ إِلَى بَعْضِ نِسَائِهِ فَلْتُغَيِّرْهُ وَجَنِّبُوهُ السَّوَادَ

Diriwayatkan dari Abu Bakar bin Abi Syaibah dari Isma’il bin ‘Ulayyah dari Laits dari Abi Zubair berkata: Dia datang bersama Abi Quhafah pada hari fath al-Makkah kepada Nabi SAW. Yang rambutnya seperti al-tsagamah. Maka Rasulullah SAW. Bersabda: pergilah kalian kepada sebagian perempuan, maka rubahlah dan jauhilah warna hitam (HR. Imam Ibnu Majah no. 3614)

5. Imam Ahmad hadits no. 13882 (hadits ini berkualitas hasan).

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنْ لَيْثٍ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ أُتِيَ بِأَبِي قُحَافَةَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْفَتْحِ كَأَنَّ رَأْسَهُ ثَغَامَةٌ بَيْضَاءُ فَقَالَ غَيِّرُوهُ وَجَنِّبُوهُ السَّوَادَ

Diriwayatkan dari ‘Abdu al-Razzaq dari Ma’mar dari Laits dari Abi al-Zubair dari Jabir berkata: Aku datang bersama Abu Quhafah kepada Rasulullah SAW. Pada hari fath al-Makkah yang kepalanya seperti al-tsaghama yang berwarna putih , Rasul pun berkata Rubahlah dan jauhilah yang warna hitam (HR.Imam Ahmad no. 13882 )

Secara keseluruhan, kualitas para perawi yang meriwayatkan hadits tersebut mempunyai kredibilitas dan integritas yang mumpuni. Meskipun terdapat beberapa rawi yang belum masuk dalam kategori shahih, kategori hasan patut disandangkan pada mereka.

Ketersambungan sanadnya juga dalam kategori muttashil yaitu sampai kepada Rasulullah SAW. Sehingga, jika mardud ataupun maqbul menjadi pertanyaan, maka hadits-hadits tersebut merupakan hadits yang maqbul. Dengan demikian, sebagai konsekuensi logis, pemaknaan dan pemahaman hadits perlu didalami lebih serius untuk dapat mengamalkannya pada kehidupan sehari-hari.

Penjelasan Hadis Semir Rambut Hitam dalam Ajaran Islam
Rambut Pirang /  Caradesain.com
Hal yang menarik adalah penemuan bahwa ternyata terdapat hadits yang tidak mengharamkan secara tidak langsung. Terdapat dua hadits riwayat Imam Muslim dan Imam Ahmad yang didalamnya tidak mencantumkan pengecualian hitam dalam pewarnaan rambut. Kedua hadits itu adalah:

1. Imam Muslim hadits no. 3924 ( hadits ini berkualitas hasan).

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا أَبُو خَيْثَمَةَ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ أُتِيَ بِأَبِي قُحَافَةَ أَوْ جَاءَ عَامَ الْفَتْحِ أَوْ يَوْمَ الْفَتْحِ وَرَأْسُهُ وَلِحْيَتُهُ مِثْلُ الثَّغَامِ أَوْ الثَّغَامَةِ فَأَمَرَ أَوْ فَأُمِرَ بِهِ إِلَى نِسَائِهِ قَالَ غَيِّرُوا هَذَا بِشَيْءٍ

Diriwayatkan dari Yahya bin Yahya dari Abu Khaitsamah dari Abi Zubair dari Jabir berkata: Aku datang bersama Abu Quhafah atau datang pada tahun fath al-Makkah atau hari fath al-Makkah yang rambut dan kepalanya seperti al-tsaghama....(HR. Imam Muslim no. 3924)

2. Imam Ahmad hadits nomor. 14114,( hadits ini berkualitas hasan).

حَدَّثَنَا حَسَنٌ وَأَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ قَالَا حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ أَحْمَدُ فِي حَدِيثِهِ حَدَّثَنَا أَبُو الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ أُتِيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَبِي قُحَافَةَ أَوْ جَاءَ عَامَ الْفَتْحِ وَرَأْسُهُ وَلِحْيَتُهُ مِثْلُ الثَّغَامِ أَوْ مِثْلُ الثَّغَامَةِ قَالَ حَسَنٌ فَأَمَرَ بِهِ إِلَى نِسَائِهِ قَالَ غَيِّرُوا هَذَا الشَّيْبَ قَالَ حَسَنٌ قَالَ زُهَيْرٌ قُلْتُ لِأَبِي الزُّبَيْرِ أَقَالَ جَنِّبُوهُ السَّوَادَ قَالَ لَا

Diriwayatkan dari Hasan dan Ahmad bin ‘Abdi al-Malik berkata: dari Zuhair dari Jabir berkata Ahmad dalam haditsnya, dari Abu Zubair dari Jabir berkata: Aku datang kepada Rasulullah SAW. Bersama Abi Quhafah atau datang pada tahun fath al-Makkah yang rambut dan kepalanya seperti al-tsaghama..........(HR. Imam Ahmad no. 14114)

Sama halnya dengan hadits-hadits sebelumnya, kualitas hadits ini (hadits yang tidak menyertakan pengecualian warna hitam dalam pewarnaan rambut) masuk pada kategori hasan yang bisa diterima sebagai hujjah.

Kedua hadits diatas menunjukkan adanya kontradiksi antar hadits (Ikhtilaf al-Hadits), tidak adanya pengecualian dilarangnya hitam membuat peniliti harus mendamaikannya. Pendalaman background hadits dan analisis sosio-historis teks menjadi keniscayaan yang fundamental.

Hadits tentang Bahan Semir Rambut

Setelah melakukan penelusuran melalui berbagai kitab hadits, diperoleh dua macam semir rambut yang dianjurkan penggunaannya oleh Rasulullah SAW.

Hadits riwayat Imam Al-Tirmidzi no. 1675, berkualitas hasan.

حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ نَصْرٍ أَخْبَرَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ الْأَجْلَحِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِي الْأَسْوَدِ عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَحْسَنَ مَا غُيِّرَ بِهِ الشَّيْبُ الْحِنَّاءُ وَالْكَتَمُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَأَبُو الْأَسْوَدِ الدِّيلِيُّ اسْمُهُ ظَالِمُ بْنُ عَمْرِو بْنِ سُفْيَانَ

Diriwayatkan dari Suwaid bin Nashr telah menceritakan kepada kami ibn Mubarak dari al-Ajlah dari Abdullah bin Buraidah dari abi al-Aswad dari Abu Dzar dari Nabi SAW berkata: sesungguhnya sebaik-baik sesuatu yang digunakan untuk merubah warna uban adalah al-Hina dan al-Katm[2], Abu Isa berkata ini merupakan hadits hasan shahih, begitu juga Abu al-Aswad al-Diliy yang namanya Zhalim bin ‘Amr bin Sufyan. ( HR. Imam al-Tirmidzi no. 1675).

Ketika hadits tersebut ditakhrij, ditemukan hadits-hadits lain dengan variasi matan yang tidak begitu signifikan. Berikut hasil takhrijnya:

No
Mukharrij
Nomor Hadits
Kualitas hadits
1
Imam Ahmad
 20345
 Shahih
2
Imam Al-Nasa’i
4990
Shahih
3
Imam Al-Nasa’i
4991
Hasan
4
Imam Al-Nasa’i
4992
Hasan
5
Imam Al-Nasa’i
4993
Hasan
6
Imam Abu Dawud
3673
Shahih
7
Imam Ibnu Majah
3612
Hasan

Hadits Pendukung

1. Hadits riwayat Bukhari no. 3203, berkualitas shahih.

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ صَالِحٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ قَالَ أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى لَا يَصْبُغُونَ فَخَالِفُوهُمْ

Telah diriwayatkan dari ‘Abdul aziz bin Abdullah berkata telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Sa’d dari Shalih dari ibn Syihab telah berkata, Abu Salamah bin Abdurrahman, sesungguhnya Abu Hurairah r.a. berkata sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda sesungguhnya orang Yahudi dan Nasrani tidak mewarnai rambut maka berbedalah kalian dengan mereka. ( HR. Imam al-Bukhari no.3203)

2. Hadits riwayat Al-Nasa’i no. 4983, berkualitas shahih.

أَخْبَرَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا عَمِّي قَالَ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ صَالِحٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ قَالَ أَبُو سَلَمَةَ إِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ح و أَخْبَرَنَا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى قَالَ أَنْبَأَنَا ابْنُ وَهْبٍ قَالَ أَخْبَرَنِي يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَخْبَرَهُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى لَا تَصْبُغُ فَخَالِفُوهُمْ أَخْبَرَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ أَنْبَأَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ قَالَ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِهِ

Diriwayatkan dari ‘Ubaidillah bin Sa’ad bin Ibrahim berkata: telah diriwayatkan dari pamanku dari Ubay dari Shalih bin Ibnu Syihab berkata: dari Abu Salamah, bahwasanya Abu Hurairah berkata: Rasulullah SAW. Bersabda. Telah menceritakan kepada kami dari Yunus bin ‘Abdi al-‘A’la dari Ibnu Wahab dari Yunus dari Ibnu Syihab dari Abi Salamah dari ‘Abdirrahman dari Abi Hurairah........

Dari hadits di atas, bisa kita dapatkan keterangan bahwa Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk menyemir rambut, karena orang Yahudi dan Nasrani tidak memperkenankan menyemir rambut atau merombaknya, dengan anggapan bahwa berhias dan mempercantik diri itu dapat menghilangkan arti beribadah dan beragama, seperti yang dikerjakan oleh para rahib dan ahli-ahli Zuhud yang berlebih-lebihan.

Dengan kata lain, di zaman Rasulullah SAW dulu, orang Yahudi dan Nasrani cenderung ‘cuek’ dengan rambutnya. Mereka tidak mengurus rambutnya dengan baik. Namun Rasulullah SAW melarang taqlid pada suatu kaum dan mengikuti jejak mereka, apalagi mengikuti adat kebiasaan orang Yahudi dan Nasrani, melainkan supaya selamanya kepribadian umat Islam itu berbeda, lahir dan batin.

Asbabul Wurud Hadis Semir Rambut Hitam dalam Islam

Diriwayatkan dari sahabat Jabir bahwa suatu ketika seorang sahabat nabi yang bernama Abu Quhafah datang kepada rasul, sedang rambut dan jenggotnya berwarna putih maka kemudian Rasulullah SAW memerintahkannya untuk merubah warna rambutnya. Riwayat ini menunjukkan bahwa hadits ini dikhitabkan kepada Abu Quhafah yang datang menemui Rasul, Abu Quhafah bernama Utsman beliau merupakan ayah dari Abu Bakar al-Shiddiq dan masuk Islam pada saat Fath al-makkah[3].

Dalam satu riwayat pula dikatakan: ”Sesungguhnya seorang Yahudi dan Nasrani tidak mewarnai rambut mereka, maka berbedalah dari mereka.” Riwayat ini mengindikasikan adanya pertautan antara penampilan orang yahudi dan Nasrani dengan penampilan orang Islam.

Term-Term Penting

Memahami hadits-hadits tentang semir rambut, kita tidak dapat terlepas dari term-term dibawah ini:

خضب bisa juga dikatakan الخضاب adalah sesuatu yang digunakan untuk mewarnai baik dari pohon pacar, jenis tumbuh-tumbuhan ataupun yang lainnya.[4] Pada dasarnya, term tersebut berlaku bagi setiap jenis bahan yang dipakai untuk mewarnai. Dan juga tidak terbatas hanya pada satu warna tertentu baik warna hitam, kuning dan sebagainya. Sinonim dari kata ini adalah صبغ akan tetapi kata ini lebih identik dengan mewarnai pakaian, hal ini dapat dipahami dari kata الصباغ atau الصابغ yang berarti tukang celup.[5]

الحناء, yang dalam bahasa Indonesia disebut juga dengan pohon inai, yaitu pohon yang biasa digunakan untuk mewarnai rambut, dikenal juga dengan sebutan pacar. Hinna’ menghasilkan warna merah pada rambut. Pada beberapa literatur ditemukan kandungan tannin serta materi seperti perekat pada hinna’, yang memiliki efek menghentikan perdarahan dan antiseptik.

Konon dengan mengoleskan bubuk daun henna pada luka maka perdarahan dapat berhenti dengan sendirinya. Hinna’ juga tidak mengandung ammonia, zat kimia yang bersifat basa, terdapat dalam perwarna rambut, berperan sebagai pembuka cuticle dan membiarkan pewarna rambut masuk ke dalam bagian cortex rambut.

الكتم, merupakan pohon Yaman yang mengeluarkan zat pewarna hitam kemerah-merahan, yang dapat digunakan untuk mewarnai rambut. Akan tetapi, tumbuhan ini hanya tumbuh di dataran tinggi padang pasir, sehingga sangat sedikit dan sulit untuk mendapatkannya.

Dikatakan, jika kedua bahan di atas dicampurkan, warna yang dihasilkan adalah hitam, jika komposisi katam lebih banyak dari hinna’. Dan jika sebaliknya, maka warna kemerahanlah yang akan muncul.[6]

Pemaknaan Hadits Semir Rambut Hitam dalam Islam

Masalah kerapian, kebersihan dan kesucian menjadi salah satu kajian yang terdapat pada agama kita, Islam sangat memperhatikan masalah ini. Tuntunan maupun ajaran untuk hidup bersih memiliki posisi yang cukup penting, hal ini ditandai dengan adanya kitab-kitab hadits maupun Fiqh yang selalu mendahulukan bab al-Thaharah dalam pembahasannya.

Penampilan manusia pun diatur oleh Allah dimulai dengan adanya tuntutan untuk senantiasa bersih dan suci ketika akan beribadah dengan firmanNya pada surah al-A’raf ayat 31 yang berbunyi:

يَا بَنِي آَدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Artinya: Hai Adam, pakailah pakaianmu yang indah disetiap memasuki masjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.( QS. Al-A’raf : 31)

Tidak hanya mengenai masalah ‘ubudiyyah saja, lebih dari itu masalah kebersihan juga harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Upaya tersebut dilakukan demi menjaga hubungan serta etika dalam pergaulan yang berimplikasi pada harmonisnya stabilitas sosial.

Hadits riwayat Jabir yang menjelaskan tentang perintah mewarnai rambut, menceritakan bahwa sahabat Nabi yang bernama Abu Quhafah datang kepada Nabi dengan rambut putih yang berantakan. Rambut tersebut diumpamakan dengan kata الثَّغَامَةِ yang berarti tumbuh-tumbuhan yang buahnya berwarna putih seperti salju.[7] Dikatakan juga bahwa kata tersebut berarti pepohonan yang buahnya putih yang menyerupai uban.[8] Jika dipahami, dengan latar belakang tersebut salah satu tujuan perintah Rasulullah SAW untuk mewarnai rambut adalah menjaga kesehatan rambut dan mencegahnya dari kerusakan.[9]

Ketika Rasulullah SAW melihat kondisi itu, beliau mengatakan (غَيِّرُوا هَذَ بِشَيْءٍ) artinya ”rubahlah itu dengan sesuatu”. Dalam Hasyiyah al-Sanadi li al-Suyuthi disebutkan bahwa hal ini dilakukan jika rambut yang beruban terlihat tidak bagus dan tidak sesuai dengan tabi’at.[10] Hadits yang berhubungan dengan peristiwa ini hampir semuanya meggunakan lafadz غَيِّرُوا, hanya pada riwayat al-Nasa’i yang menyebutkan غَيِّرُوا أَوْ اخْضِبُوا.[11] Dilihat dari term yang digunakan, pewarnaan rambut ternyata dilakukan untuk merubah rambut yang sudah dipandang tidak bagus, bukan untuk menghiasinya. Jika pewarnaan rambut digunakan untuk menghiasi ataupun memperindah rambut, mungkin formula kata yang dipakai bukanlah غَيِّرُوا, tapi bisa memakai زينوا atau تزينوا dan yang lainnya.

Kemudian, meskipun formulasi yang digunakan adalah kalimat perintah secara langsung, perintah untuk merubah uban dengan mewarnainya bukanlah suatu kewajiban yang harus benar-benar dilakukan, akan tetapi perintah tersebut hanya berarti petunjuk saja (al-Irsyad). Hal itu juga dapat dipahami dari formulasi lain dari riwayat yang lain juga yaitu فَلْتُغَيِّرْهُ.

Ibnu Qayyim al-Jauzi berpendapat bahwa pada dasarnya upaya untuk merubah uban merupakan hal yang sah-sah saja. Hanya saja terdapat dua hal yang dilarang oleh Nabi Muhamad SAW dalam upaya merubahnya, yaitu: 1) mencukur habis rambut, dan 2) mewarnai rambut dengan warna hitam. Bagi Ibnu Qayyim, pewarnaan rambut dengan warna hitam tidak sesuai sunnah Rasulullah SAW dan para sahabatnya.[12]

Untuk lafadz هَذَا, lafadz tersebut mengandung makna uban yang putih, yaitu rambut milik Abu Quhafah.[13] Pemakaian lafadz tersebut cukup membatasi pada rambut, karena sesuai kaedah kebahasaan, lafadz tersebut tidak dapat menunjukkan arti َلِحْيَة (jenggot) yang notabene berbentuk muannats. Sedang untuk lafadz بِشَيْءٍ, pemakainnya sebagai nakirah menunjukkan tidak terkhususnya pada salah satu warna tertentu dan tidak ada pengecualian apapun.[14] Jika ada pengecualian, hal tersebut dapat dipahami dari perkataan sesudahnya yang kemudian menjadi perdebatan serius.

Sebagaimana telah dijelaskan diatas, penggalan hadits yang berbunyi وَاجْتَنِبُوا السَّوَاد telah menjadikan perbedaan pendapat dikalangan para ulama’.Tidak disertakannya lafadz tersebut dalam hadits riwayat Imam Muslim nomor 3924 dan adanya penegasan dari sahabat yang bernama Zubair dalam hadits Imam Ahmad bin Hambal nomor 14114 menjadikan hadits tersebut tampak bertentangan yang mengharuskan adanya penyelesaian. Pada dasarnya, hadits-hadits diatas, meskipun terdapat sedikit perbedaan ternyata bersumber pada satu sahabat saja. Sahabat itu adalah Jabir bin Abdullah bin Amr bin Harm (w. 78 H).

Dalam kitab al-Muntaqa fi Syarh al-Muwattha’, dijelaskan bahwa redaksi hadits yang didalamnya terdapat kata وَاجْتَنِبُوا السَّوَاد merupakan hadits yang kurang tepat. Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan dari Laits bin Abi Sulaim, beliau mengatakan bahwa diantara sahabat-sahabat Nabi, ada yang mewarnai rambut mereka dengan warna hitam seperti ‘Uqbah bin Amir dan beberapa sahabat lainnya.[15]

Beberapa ulama juga berpendapat bahwa meskipun terdapat beberapa redaksi hadits tidak tercantum kata tersebut, itu tidak menjadikan dibolehkannya semir warna hitam, karena sesungguhnya kata بِشَيْءٍ menunjukkan arti selain hitam. Pendapat ini mungkin dapat mendamaikan kedua redaksi yang agak bertentangan, dalam artian memang di dalam hadits tersebut terbersit adanya larangan penggunaan pewarna hitam untuk rambut.

Meskipun problem kontradiksi telah terselesaikan, pemaknaan hadits tetap harus dilakukan. Pemahaman hadits tentang larangan semir rambut hitam sebenarnya telah dibahas panjang lebar oleh para ulama terdahulu. Formulasi larangan yang menggunakan kata وَاجْتَنِبُوا menyebabkan adanya penafsiran dan pendapat yang berbeda dikalangan ilmuwan Islam, khususnya para ulama klasik. Diantara pendapat-pendapat itu adalah:

1. Pendapat yang mengatakan bahwa lafadz tersebut menunjukkan arti larangan secara mutlak. Artinya pewarnaan rambut dengan semir hitam adalah haram. Hal ini didasarkan atas qaidah ushuliyah yang menunjukkan bahwa pada dasarnya larangan menunjukkan arti haram.[16]

2. Pendapat yang mengatakan bahwa lafadz tersebut menunjukkan arti larangan yang hanya bersifat makruh. Mereka berpendapat bahwa jika terdapat suatu larangan yang menyendiri tanpa adanya petunjuk-petunjuk keharamannya maka hukumnya adalah makruh. Qaidah ushuliyah mengatakan

 الكراهةالآصل في النهي

3. Larangan tersebut dikecualikan bagi orang-orang yang hendak berperang. Pewarnaan rambut dirasa boleh untuk menumbuhkan rasa kepercayaan diri yang tinggi serta memberikan ketakutan tersendiri bagi musuh.[17]

Analisis Sosio-Historis Masa Nabi yang Pernah Melakukan Semir Rambut


Pemahaman mengenai hadits akan dirasa lebih lengkap jika pemahaman tersebut disertai oleh konteks sosio-historis yang terjadi. Situasi dan kondisi yang terjadi sangat mempengaruhi pola dan gaya suatu hadis. Untuk dapat memahami arti dan makna suatu hadits, pembawaan hadits terhadap kondisi sosial yang berkembang menjadi hal yang fundamental. Selain untuk memahami situasi masyarakat yang terjadi pada saat itu, upaya ini juga dilakukan sebagai batu pijakan dalam memaknainya dalam konteks kekinian.

Didalam memahami hadits tentang semir, informasi tentang diri Nabi secara pribadi menjadi data yang penting untuk dikaji dan kemudian dihubungkan dengan hadits yang tertera diatas. Seperti yang diriwayatkan oleh sahabat Umar bin Khattab, beliau menginformasikan bahwa rambut Rasulullah SAW tidak disemir. Pendapat ini juga dilontarkan oleh Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Ka’ab dan beberapa sahabat yang lain.[18] Suatu hadits menyebutkan bahwa rambut Nabi Muhammad tidaklah beruban kecuali beberapa helai darinya dan tidak pernah disemir. Hadits tersebut adalah:

وَعَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ قَالَ : سُئِلَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ عَنْ خِضَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : { إنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ شَابَ إلَّا يَسِيرًا وَلَكِنَّ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ بَعْدَهُ خَضَّبَا بِالْحِنَّاءِ وَالْكَتَمِ } مُتَّفَقٌ عَلَيْه[19]ِ 

Diriwayatkan dari Muhammad bin Sirin berkata: Anas bin Malik ditanya tentang ....Rasulullah SAW. Maka dia berkata: bahwasanya Rasulullah SAW. Tidak memiliki uban kecuali sedikit, namun Abu Bakar dan ‘Umar .....manyemir rambutnya dengan hina’ dan katam.(Muttafaq ‘alaih)

Hadits diatas juga menginformasikan bahwa khalifah Abu Bakar r.a dan Umar bin Khatab r.a mewarnai keduanya mewarnai rambut mereka masing-masing. Kemudian, diriwayatkan juga bahwa mayoritas sahabat Nabi Muhammad SAW mewarnai rambut mereka dengan warna kuning seperti Ibnu Umar, Abu Hurairah dan para sahabat yang lain.[20]

Tidak hanya warna kuning, beberapa riwayat menyebutkan bahwa terdapat beberapa sahabat Nabi yang ternyata juga mewarnai rambutnya dengan warna hitam beliau adalah Uqbah bin Amir. Nama kunyahnya adalah Abu Amir, Beliau adalah sahabat besar salah satu penulis al-Qur’an yang mushafnya tersebar di Mesir. Wafat diusianya yang ke-58 pada masa pemerintahan Muawwiyah bin Abu Sufyan.[21] Dilihat dari sejarahnya yang dipandang bagus, jika perbuatannya dalam mewarnai rambut adalah salah maka seharusnya dia telah mendapat teguran dari Nabi ataupun sahabat yang lain.

Hal yang mengejutkan datang dari kedua cucu Nabi SAW, diriwayatkan bahwa keduanya mewarnai rambutnya dengan warna hitam. Sama halnya dengan kasus Uqbah bin Amir, cucu seorang rasul, Hasan dan Husain, yang notabene merupakan garis keturunan seorang rasul juga melakukan hal yang sama, yaitu dengan menyemir rambut mereka dengan warna hitam.[22] Hal ini tentu menimbulkan tanda tanya besar mengenai dilarangnya menyemir atau mewarnai rambut dengan warna hitam. Jika memang pewarnaan rambut dengan warna hitam dilarang, apakah mungkin cucu Nabi “ingkar” terhadap larangan tersebut??

Problem Pengetahuan Nabi ; problem identitas

“Ucapan maupun sikap Nabi Muhammad haruslah dipilah-pilah terlebih dahulu”, kiranya itulah yang diungkapkan oleh Imam al-Qarafi. Upaya ini–lanjutnya–tidak terlepas dari posisi Nabi yang terkadang berperan menjadi hakim (qadhi), mufti, pemimpin masyarakat, bahkan manusia biasa.[23] Hal ini yang kemudian dikembangkan dan dikonsepsikan oleh Muhadditsun untuk memahami posisi dan kedudukan sunnah yang tidak dapat terpisah dari pengetahuan Nabi.

Pengetahuan Nabi tentang semir dan segala yang terkait denganya hanyalah terbatas pada masa Nabi dan pada kaum sebelumnya. Jika Nabi memberikan penjelasan tentang semir yang berhubungan dengan masa setelahnya, maka terdapat dua kemungkinan yang dapat ditangkap. Pertama, penjelasan itu merupakan keyakinan dan pengetahuan Nabi diluar kapasitas dirinya sebagai manusia, pengetahuan itu bisa datang dari Allah sebagai wahyu yang diberikan kepadanya. Kedua, penjelasan itu merupakan spekulasi Nabi terhadap kondisi masa yang akan datang sesuai pengetahuan pada zaman dimana Nabi hidup.

Terdapat beberapa hadits yang menjelaskan ucapan Nabi Muhamad SAW tentang keadaan kaum pada akhir zaman prihal semir rambut. Hadits tersebut adalah:

حَدَّثَنَا أَبُو تَوْبَةَ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ عَنْ عَبْدِ الْكَرِيمِ الْجَزَرِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَكُونُ قَوْمٌ يَخْضِبُونَ فِي آخِرِ الزَّمَانِ بِالسَّوَادِ كَحَوَاصِلِ الْحَمَامِ لَا يَرِيحُونَ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ[24]

Diriwayatkan dari Abu Taubah, telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari abdul karim al-jazari dari Sa’id bin Jubair dari Ibn Abbas telah berkata, telah bersabda Rasulullah SAW akan ada suatu kaum pada akhir zaman yang mewarnai rambut mereka dengan warna hitam seperti anak-anak burung merpati dan mereka tidak akan mencium bau surga sedikit pun. ( HR. Imam Abu Daud no.3678)

Hadits ini merupakan hadits dengan mukharrij Imam Abu Daud nomor: 3678. hadits tersebut juga terdapat pada Imam Ahmad nomor: 2341 dan Imam al-Nasa’i nomor: 4988.

Dalam kitab Bayan Musykil Atsar al-Tahawi dijelaskan bahwa larangan pewarnaan rambut hitam tidak terlepas dari pengetahuan Nabi. Pada saat itu salah satu perbuatan kaum yang tercela adalah mengecat rambut mereka dengan warna hitam. Kemudian, warna rambut hitam pada saat itu identik dengan identitas Fir’aun. Sehingga, pada dasarnya larangan semir hitam bukanlah dikarenakan semir hitam itu sendiri, tetapi larangan itu disebabkan perbuatan itu dianggap rutinitas orang-orang yang tercela terlebih Fir’aun.[25]

Hal yang menarik dari hadits diatas adalah perumpamaan semir rambut hitam dengan حَوَاصِلِ الْحَمَامِ yang artinya seperti anak-anak burung merpati. Simbol seorang berambut hitam adalah anak-anak burung merpati. Jika diperhatikan, kondisi anak-anak burung merpati memang jelek dan berantakan. Simbol tersebut menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah orang-orang yang rambutnya tidak tertata rapi. Logikanya, jika seseorang yang tidak dapat menjaga kerapian dan kebersihan rambutnya maka dia dapat diidentifikasi sebagai seorang yang tidak memperdulikan agama. Mandi ataupun wudhu saja tidak dilakukan, bagaimana dia melaksanakan shalat. Jelaslah bahwa yang dimaksud dari perumpamaan hadits diatas adalah orang-orang yang tidak memperdulikan agama.

Mengenai perumpamaan tersebut (قَوْمٌ يَخْضِبُونَ فِي آخِرِ الزَّمَانِ بِالسَّوَادِ كَحَوَاصِلِ الْحَمَامِ ), Sa’ad bin Abi Waqash dan sahabat lain yang menyemir rambut mereka dengan warna hitam mengatakan ungkapan tersebut tidak menunjukkan dilarangnya pewarnaan rambut dengan warna hitam, akan tetapi, ungkapan tersebut menunjukkan sifat prilaku kaum pada akhir zaman nanti. Sedangkan, untuk masalah hadits yang berbunyi وَاجْتَنِبُوا السَّوَاد -lanjutnya- itu hanya berlaku bagi orang-orang yang rambutnya sudah beruban, sehingga hadits tersebut tidak berlaku bagi semua orang secara keseluruhan.[26]

Mengapa Semir Warna Hitam Dilarang?

Berangkat dari kontroversi hadits dari Jabir mengenai batasan warna semir yang diperbolehkan oleh Rasulullah saw, timbullah pertanyaan: Atas dasar apa Rasulullah melarang menyemir rambut dengan warna hitam? Berikut akan dipaparkan mengenai berbagai pendapat ulama’ tentangnya.

Mengenai pelarangannya, dalam Fathul Barri dijelaskan bahwa orang arab yang pertama-tama menggunakan semir hitam adalah Abdul Muthalib. Selain itu, orang yang biasa memakai semir hitam adalah Fir’aun. Analisis kami, Rasulullah saw memerintahkan sahabat menjauhi warna hitam adalah agar umatnya tidak tampak menyerupai penampilan Fir’aun.

Dalam kitab syarah Tuhfatul Ahwadzi bi Syarhi Jami’ al-Tirmidzi disebutkan tiga riwayat yang dha’if berkaitan dengan pelarangan warna hitam.

Pertama, riwayat Abi Darda’ dari Ibnu Luhai’ah disebutkan bahwa orang yang menyemir rambutnya dengan warna hitam, maka Allah akan menghitamkan wajahnya di hari kiamat. Tetapi ia (Ibnu Luhai’ah) dipandang dha’if oleh Imam al-Hafidz. Kedua, riwayat Thabrani dan al-Hakim dari Ibnu Umar: Kuning adalah warna semir untuk orang mu’min, merah untuk muslim, dan hitam untuk orang kafir”.

Al-Manawi mengatakan dalam Taisir-nya: Dia (Ibnu Umar) itu seorang yang munkar. Ketiga, riwayat dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya: “Barang siapa yang merubah warna putih menjadi hitam, Allah tidak akan memandangnya.” Hadits ini dha’if karena adanya rawi yang dha’if bernama Muhammad bin Muslim Al-‘Anbariy, sebagaimana disebutkan dalam Mizan Al-I’tidal dan Lisan Al-Mizan.

Adapun hadits tentang umat akhir zaman yang tidak akan dapat mencium wangi surga, kita dapat memandangnya dengan dua pemahaman. Pertama, bahwa penyebabnya bukan dikarenakan mereka gemar menyemir rambut mereka dengan warna hitam, akan tetapi dikarenakan perbuatan mereka sendiri yang amat tercela. Kedua, bisa jadi, sewaktu menyatakan hadits tersebut, image rambut bercat hitam di mata Rasulullah saw itu buruk. Maka, kemudian beliaupun menganalogikan umat yang berprilaku tercela itu sebagai orang-orang yang bercat rambut hitam.

Az-Zuhri pernah berkata: `Kami menyemir rambut dengan warna hitam apabila wajah masih nampak muda, tetapi kalau wajah sudah mengerut dan gigi pun telah goyah, kami tinggalkan warna hitam tersebut.`[27] Pernyataan ini mengindikasikan bahwa orang-orang yang tidak terlalu tua tidaklah berdosa baginya jika menyemir rambut dengan warna hitam. Sedang bagi orang yang sudah tua, ubannya sudah merata baik di kepalanya ataupun jenggotnya, tidaklah layak menyemir dengan warna hitam.

Dalam banyak riwayat juga disebutkan bayak sahabat, seperti: Saad bin Abu Waqqash, Uqbah bin Amir, Hasan, Husen, Jarir dan lain-lain, yang menyemir hitam rambutnya. Dan dapat kita prediksikan, usia mereka (para sahabat menyemir rambut dengan warna hitam) tidaklah setua usia Abu Quhafah. Maka kebolehan menyemir rambut dengan warna hitampun masih berlaku bagi mereka. Sedang, dari kalangan para ulama ada yang berpendapat tidak boleh menyemir dengan warna hitam kecuali dalam keadaan perang, dengan alasan agar dapat menakutkan musuh, sehingga jika mereka melihat tentara-tentara Islam, semuanya masih nampak lebih muda.[28]

Unsur-Unsur Kimia dalam Semir Rambut

1) Arylamines

Arylamines merupakan senyawa kimia yang terdapat pada cat rambut permanen, dan dikenal termasuk zat karsinogen bagi kandung kemih. Akan tetapi, terdapat tambahan informasi bahwa bahan ini sudah mulai ditinggalkan oleh perusahaan-perusahaan pembuat cat rambut setelah tahin 1980-an, karena terbukti berdampak buruk pada kesehatan, yakni terjangkitnya kanker kandung kemih.

Dalam penelitian yang pernah dilakukan, arylamines dari produk cat rambut terbukti menyebabkan kanker pada binatang percobaan. Arylamines pertama kali terserap melalui kulit, kemudian lewat aliran darah dalam proses metabolisme tubuh, akan melewati kandung kemih sebelum dapat dikeluarkan lewat cairan urine dari dalam tubuh. Senyawa kimia arylamines umumnya lebih banyak dikandung dalam dalam cat rambut jenis permanen dibanding dengan cat rambut jenis lainnya.

Yang perlu dicatat, laporan terjangkitnya kanker kandung kemih pada pemakai cat rambut permanen mulai menurun sejak awal abad ke-21, setelah para produsen cat rambut mengganti komponennya dengan yang lebih aman bagi kesehatan.[29]

2) Paraphenylenediamine

Paraphenylenediamine (PPD) adalah zat kimia yang dipergunakan secara luas sebagai salah satu komponen dalam cat rambut permanen. Zat ini juga dapat ditemukan pada tekstil atau bulu binatang yang dicelup, kosmetik-kosmetik berwarna gelap, tato temporer, tinta fotokopi dan printer, dan lain-lain. PPD dipilih karena stabilitasnya yang baik terhadap temperatur tinggi dan daya tahan kimiawinya. Akan tetapi, PPD mengandung unsur karsinogen, yakni pemicu tumbuhnya kanker, yang potensial, dan membuat PPD banyak diperbincangkan para ilmuwan mengenai “keikutsertaannya” dalam pembuatan cat rambut permanen.[30]

Dalam pembuatan cat rambut, PPD ditambahkan pada hinna’ murni, yang hasil pencampuran tersebut kemudian disebut “black henna”. Komponen ini dipergunakan oleh hampir seluruh merk cat rambut permanen di pasaran. Makin gelap warna yang dihasilkan, berarti konsentrasi PPD didalamnya makin tinggi. Walau namanya “pewarna rambut herbal” atau “pewarna rambut alami”, hampir setiap cat rambut permanen, meski bebas ammonia, tetap mengandung PPD. Penggunaan hinna’ murni atau indigo, merupakan satu-satunya jalan untuk menghindari kontaminasi PPD.

Akan tetapi, setelah dilakukan sejumlah penelitian oleh the United States Environmental Protection Agency (EPA) mengenai pengaruh PPD terhadap kesehatan. EPA melaporkan bahwa tikus-tikus dan kucing-kucing percobaan, setelah disisipkan PPD dalam makanan mereka, mengalami penurunan berat badan dengan mudah. Tetapi, mereka melanjutkan, tidak diketemukan adanya tanda-tanda keracunan ataupun tanda-tanda lainnya, yang –katanya– ditemukan pada penelitian-penelitan sebelum mereka oleh lembaga lain. Selain itu, tidak didapatkan informasi mengenai penggunaan PPD yang berdampak pada reproduksi, perkembangan ataupun karsinogenitas pada manusia. Maka, EPA tidak mengklasifikasikan PPD sebagai zat yang bereaksi terhadap karsinogen.[31]

Image “Rambut Berwarna” di Masyarakat

Kita dapat memahami bahwa warna asli rambut orang Arab adalah kemerahan. Oleh karena itu, Rasulullah saw mencegah Abu Quhafah menyemir rambutnya yang telah putih dengan warna hitam. Maka, jika hadits mengenai semir rambut dibawa ke masyarakat kita, yang notabene berambut hitam, apakah pantas jika seorang tua yang sudah memutih seluruh rambutnya, memiliki rambut merah, atau kuning? Apalagi, image masyarakat terhadap “rambut berwarna” (kuning, biru, merah, dan lain-lain) cenderung negatif, malah hampir selalu dikaitkan dengan sosok yang kurang berpendidikan, kurang beretika, ataupun “berandal”.

Di Indonesia, pewarnaan rambut dengan menggunakan semir hitam bukan menjadi hal yang meresahkan masyarakat, rambut asli masyarakat Indonesia yang berwarna hitam menjadikan pewarnaan satu warna tersebut menjadi hal yang tidak memunculkan banyaknya perbincangan dikalangan masyarakat. Berbeda ketika pewarnaan rambut dilakukan dengan warna selain hitam, pewarnaan menggunakan warna kuning, merah, biru dan sebagainya akan menjadi bahan perbincangan serius dikalangan masayarakat kita. Pewarnaan dengan menggunakan warna tersebut akan menimbulkan image yang tidak bagus dari semua kalangan. Baik kalangan akademik maupun kalangan masyarakat biasa.

Kondisi semacam ini sangat jauh berbeda dengan budaya arab (khususunya zaman Nabi), hadits yang memperbolehkan semir rambut dengan warna selain hitam berlaku pada masyarakat arab pada waktu itu. Dan akan sulit direalisasikan di negeri Indonesia terlebih jika uban orang tua harus berganti warna menjadi kuning ataupun merah. Hal ini menunjukkan bahwa hadits tersebut lebih bersifat temporal dan bukan universal.

Kesimpulan

Dari pembahasan singkat diatas, terdapat beberapa kesimpulan sederhana tentang hadits dibolehkannya menyemir rambut dan dilarangnya penggunaan warna hitam, yaitu:

1. Diperbolehkannya mewarnai rambut pada dasarnya ditujukan untuk menjaga kerapian dan kesehatan rambut, bukan untuk hiasan atau lainnya.

2. Larangan menyemir rambut dengan warna hitam bersifat temporal dan lokalistik. Dilihat dari latar belakang serta kondisi masyarakat pada zaman Nabi, menyemir rambut warna hitam identik dengan orang-orang yang tercela ataupun Fir’aun. Sehingga jika ternyata pada zaman sesudahnya bahkan pada zaman kontemporer terjadi perubahan perspektif terhadap “orang yang tercela”, maka pemahaman harus sesuai perspektif zaman tersebut. Mafhum muwafaqahnya, jika pewarnaan rambut dengan menggunakan warna kuning, merah, biru atau yang lainnya menunjukkan perbuatan orang-orang tercela sebaiknya perbuatan tersebut tidak dilakukan. Terlebih bagi orang-orang yang berada pada masyarakat yang sensitif terhadap orang yang rambutnya “disemir”. Di Indonesia, misalnya.

3. Larangan pewarnaan rambut dengan warna hitam bersifat simbolik, dari hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas[32], perumpamaan orang yang mewarnai rambutnya dengan warna hitam ibarat anak-anak burung merpati. Simbol tersebut menunjukkan bahwa yang dimaksud orang-orang yang tidak dapat mencium aroma surga adalah orang-orang yang tercela yang tidak memperhatikan agama, yang disimbolkan dengan orang-orang yang mewarnai rambut dengan warna hitam.

4. Meskipun bahan yang digunakan dalam pewarnaan rambut pada zaman modern terbilang lebih aman, tetapi didalamnya terdapat beberapa zat yang tidak menyehatkan beberapa organ tubuh manusia. Sehingga pewarnaan rambut lebih baik tidak dilakukan.

Cacatatn Kaki

[1] Dalam kamus al-Munawwir dijelaskan bahwa al-Tsagama adalah nama tumbuh-tumbuhan di Arab yang berwarna putih ( Surabaya: Pustaka progressif, 2002 ) hlm. 151

[2] Kedua terma diatas ( al-hina dan al-Katm) akan dijelaskan pada pembahasan selanjutnya.

[3] CD-ROM al-Maktabah al-Syamilah, Abu Zakariya Yahya bin Syarf al-Nawawi, Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajaj, (Beirut: Dar ihya’ al-turath al-Arabi,tt)

[4] CD-ROM al-Maktabah al-Syamilah, Muhammad bin Mukram bin Mandzur al-Afriqi al-Mishri, Lisan al-Arab, (Beirut: Dar Shadir,tt)

[5] Ahmad Warson Munawwir, Kamus al-Munawwir, cetakan II, (Surabaya: Pustaka Progressif, 2002), hlm.762.

[6] CD-ROM al-Maktabah al-Syamilah, Muhammad bin Abd ar-Rahman bin Abd al-Rahim al-Mubarakfuri Abu al-‘Ala, Tuhfah al-Ahwadzi bi Syarh Jami’ al-Tirmidzi, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah,tt) , (4/450)

[7] CD-ROM al-Maktabah al-Syamilah, Nuruddin bin Abd al-Hadi Abu al-Hasan al-Sanadi, Hasyiah al-Sindi ‘ala al-Nasa’i, (Halab: Maktab al-Matbuat al-Islamiyah,tt) , No. 4989

[8] CD-ROM al-Maktabah al-Syamilah. Muhammad Syam al-Haq al-Adhim Abadi Abu al-Tayyib. Aun al-Ma’bud fi Syarh Sunan Abi Dawud. (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah,tt), no. 3672.

[9] CD-ROM al-Maktabah al-Syamilah, Ahmad bin Ali bin Hajar Abu al-Fadl al-Asqalani al-Syafi’i, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, (Beirut: Dar al-Makrifah,tt)

[10] Lihat: CD-ROM al-Maktabah al-Syamilah, Nuruddin bin Abd al-Hadi Abu al-Hasan al-Sanadi, Hasyiah...No. 4989

[11] Hadits al-Nasa’i no. 5147.

[12] Ta’liqat Ibnu Qayyim dalam, Aun al-Ma’bud fi Syarh ... no. 3672.

[13] CD-ROM al-Maktabah al-Syamilah. Muhammad Syam al-Haq al-Adhim Abadi Abu al-Tayyib. Aun...no. 3672.

[14] CD-ROM al-Maktabah al-Syamilah. Muhammad Syam al-Haq al-Adhim Abadi Abu al-Tayyib. Aun...no. 3672.

[15] CD ROM al-Maktabah al-Syamilah, Al-Zarqani, Al-Muntaqa qa Syarh al-Muwattha’, Bab. Al-hadits Qalahu Yahya.

[16] Qaidah tersebut adalah: الآصل في النهي للتحريم Salah satu pengikut pendapat ini adalah Imam Nawawi penulis kitab Syarh shahih Muslim. Lihat: Al-Nawawi, Syarh..no. 3925.

[17] CD-ROM al-Maktabah al-Syamilah. Muhammad Syam al-Haq al-Adhim Abadi Abu al-Tayyib. Aun...no. 3614.

[18] CD-ROM al-Maktabah al-Syamilah, Abu Zakariya Yahya bin Syarf al-Nawawi. Al-Minhaj...no. 3925.

[19] Hadits ini ditemukan pada kitab Nail al-Authar, CD ROM. Al-Maktabah al-Syamilah. Hadits no. 139.

[20] CD-ROM al-Maktabah al-Syamilah, Abu Zakariya Yahya bin Syarf al-Nawawi. Al-Minhaj...no. 3925.

[21] Ibnu Hajar al-Asqalani, Tahdzib al-Tahdzib, CD ROM. Maktabah al-A’lam wa Tarajim al-Rijal.

[22] CD-ROM al-Maktabah al-Syamilah, Al-Thahawi, Bayan Musykil al-‘Atsar, (Beirut: Dar al-Makrifah,tt), Hadits Nomor: 3699

[23] Pengantar Prof. Dr. M. Quraisy Syihab dalam Muhammad al-Ghazali, al-Sunnah al-Nabawiyah baina Ahli al-Fiqh wa ahli al-Hadits, terj. Muhammad al-Baqir, Studi Kritis Atas Hadits Nabi SAW, (Bandung: Mizan, 1994), hlm. 9.

[24] CD-ROM, Mausu’ah al-Kutub al-Tis’ah, Abu Daud, Sunan Abi Daud, hadits no.3678.

[25] CD-ROM al-Maktabah al-Syamilah, Al-Thahawi, Bayan... Hadits Nomor: 3699.

[26] CD-ROM al-Maktabah al-Syamilah, Muhammad Syam al-Haq al-Adhim Abadi Abu al-Tayyib. Aun...bab. Ma Ja’a fi Khidhab al-Sawad. hadits no. 3679.

[27] CD-ROM al-Maktabah al-Syamilah, Muhammad bin Abd ar-Rahman bin Abd al-Rahim al-Mubarakfuri Abu al-‘Ala, Tuhfah... ,(4/450)

[28] CD-ROM al-Maktabah al-Syamilah, Muhammad bin Abd ar-Rahman bin Abd al-Rahim al-Mubarakfuri Abu al-‘Ala, Tuhfah...(4/449)

[29] http://www.iptek.net.id/ind/berita/berita_lst.php?id=61.html
[30] http: en.wikipedia.org/wiki/P-Phenylenediamine.html
[31] http: dermnetnz.org/dermatitis/paraphenylenediamine-allergy.html

[32] Yaitu hadits: حَدَّثَنَا أَبُو تَوْبَةَ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ عَنْ عَبْدِ الْكَرِيمِ الْجَزَرِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَكُونُ قَوْمٌ يَخْضِبُونَ فِي آخِرِ الزَّمَانِ بِالسَّوَادِ كَحَوَاصِلِ الْحَمَامِ لَا يَرِيحُونَ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ


0 Response to "Hukum dan Penjelasan Hadis Semir Rambut Hitam dalam Ajaran Islam"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!