Hukum Azan dan Iqomah Saat Pemberangkatan Haji

Advertisement
Studi Matan Hadis Azan dan Iqamah ketika hendak bersafar (haji) dengan metodologi Muhammad Zuhri
Oleh: Qoem Aulassyahied

Tongkronganislami.net - Tradisi mengumandangkan ażan dan iqâmah ketika walîmah as-Safar, atau ketika hendak berangkat haji meupakan tradisi yang sudah lumrah di beberapa daerah utamanya daerah basis kelompok naḥdiyyîn. Hal ini, karena kalangan naḥdiyyîn meyakini bahwa mengumandangkan ażan dan iqâmah merupakan hal yang dianjurkan oleh Islam. dalam sebuah situs resminya, terdapat penjelasan yang cukup panjang dalam menjelaskan dalil dan istidlâl dari dalil itu sehingga menghasilkan fatwa bahwa mengumandangkan ażan dan iqâmah untuk bersafar haji adalah sunnah[1].

Selain menganjurkan, ternyata tidak sedikit juga yang menganggap hal itu bid’ah. Seperti yang tertera dalam beberapa tulisan yang termuat di internet, bahwa Abdullah bin bâz menganggap hal itu tidak dianjurkan dan tidak diperintahkan oleh Rasulullah. Di samping itu, pada kenyataanya anjuran mengumandangkan ażan ketika hendak bersafar haji tidak menjadi topik kitab-kitab hadis.

Dalam tulisan ini, akan coba diulas salah satu hadis yang dijadikan sebagai sandaran kaum yang menganjurkan ażan dan iqâmah ketika ber-haji. Kajian ini berupaya untuk lebih memahami secara tepat dan komperhensif hadis tersebut dari sudut matan hadisnya agar mendapatkan pemahaman yang utuh.

Dalam upaya analisis ma’an al-Hadiṡ akan digunakan metodologi yang ditawarkan Muhammad Zuhri. Dipilihnya metode Muhammad Zuhri karena menurut penulis, Muhammad Zuhri memberikan cara pendekatan dalam memahami hadis dengan konsep yang sedikit kompleks dan dengan urutan pemahaman yang sistematis. 
Perintah Azan dan Iqomah Saat Akan Haji
Haji Ke Baitulah / Samaa.tv
Konsep Ma'anil Hadis Dengan Nalar Induktif Menurut Muhammad Zuhri

Menurut Muhammad Zuhri salah satu cara dalam menggali makna hadis secara tepat dan komperhensif adalah dengan menggunakan pisau analisis ilmiah. Yaitu dengan menempatkan teks, dalam hal ini hadis, sebagai data empiris yang dibentangkan bersama teks-teks lain agar “berbicara sendiri-sendiri” selanjutnya ditarik kesimpulan darinya. Pisau analisis ini disebut nalar induktif[2].

Pada dasarnya nalar induktif yang popular sebagai metode analisis kontemporer telah ada rumusannya pada kajian hukum Islam, utamanya ijtihad uṣûl fiqih yang dikenal dengan ijtihad ist’qrâ'i

Dalam kaijian tafsir, metode ini juga dikenal dengan metode mauḋu’i, seperti yang dipopulerkan oleh al-Farmawi. Kesemuanya memberikan sebuah alur pemahaman bahwa dalam memahami sebuah teks maka harus mendatangkan teks-teks yang memiliki tema atau kandungan yang sama selain dari teks yang dikaji. Cara ini dapat mengantarkan kita untuk mendapatkan validitas. Baik itu validitas terhadap teks itu sendiri –berlaku hanya bagi dalil ẓanni al-Wurûd, atau pada validitas pemahaman terhadap teks tersebut.[3]

Secara aplikasi, jika diterapkan pada hadis, maka teks dari hadis tersebut, mula-mula harus dihadapkan pada ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan arti hadis yang sedang diteliti. Hal ini karena hadis adalah catatan kehidupan Rasulullah yang berfungsi menjelaskan atau menjadi contoh bagaimana melaksanakan ajaran al-Qur’an. Kalau al-Qur’an itu bersifat konsep, maka hadis bersifat operasional dan praktis. Karena itu, ketika diragukan sebuah hadis, maka diperbolehkan untuk mengambil sikap bahwa hadis tersebut tidak akan bertentangan dengan kandungan al-Qur’an[4].

Di samping menghadapkan dengan al-Qur’an, hadis juga perlu dihadapkan dengan matan hadis lain. Hal itu karena banyak hadis yang diriwayatkan bi al-ma’na dan tidak sedikit pula hadis memiliki kesamaan namun melalui jalur berbeda. 

Adanya perbedaan tersebut tidak menutup kemungkinan terdapat informasi yang saling berbeda antara satu hadis dan hadis lainya. Dalam arti satu hadis memuat satu informasi namun informasi tersebut tidak terdapat dalam hadis lain meski dalam tema yang sama, atau juga informasinya saling berkaitan. 

Terhadap kasus pertama, maka dengan mengumpulkan hadis-hadis satu tema akan melahirkan pandangan yang luas dan informasi yang komplit, hal itu tentu saja akan sangat membantu menyimpulkan sebuah pemahaman yang tepat terhadap matan hadis dan penerapan yang tepat pula. Terhadap kasus yang kedua, pengumpulan seperti itu juga membantu kita untuk mengetahui, mana hadis yang syâż dan mana hadis yang ṡiqah.[5]


Analisi dan Pembahasan Matan Hadis Azan dan Iqomah Ketika Hendak Safar Haji
Salah satu hadis yang dijadikan sandaran dalil bagi kelompok yang menganjurkan melakukan ażan dan iqâmah –dan merupakan hadis yang kami teliti- di sini adalah sebagai berikut:

حدثنا محمود بن غيلان حدثنا وكيع عن سفيان عن خالد الحذاء عن أبي قلابة عن مالك بن الحويرث قال : قدمت على رسول الله صلى الله عليه و سلم أنا وابن عم لي فقال لنا إذا سافرتما فأذنا وأقيما وليؤمكما أكبركما[6]

Dilihat dari segi sanad, maka hadis ini –sesuai dengan penilitan rijâl al-Hadiṡ penulis- berniliai ḥasan. Hal ini karena ada dua indikasi yang bisa memberikan kecacatan kecil pada sanadnya. 

Pertama, Maḥmud bin Gailân dalam empat kitab rijâl al-Hadiṡ, : Tahżîb al-Kamâl fî Asmâ Kutub al-Rijâl karya Jamaluddin al-Ḥajjâj Yûsuf al-Mizzi, Tahżîb al-Tahżîb karya ‘Aḥmad bin ‘Âli bin Ḥajar Syihâb al-Dîn al-‘Asqalâni as-Syâfi’i, Taqrȋb at-Tahżȋb karya ‘Aḥmad bin ‘Ali bin Ḥajar al-‘Aṡqalâni dan Mausu’ah Rijâl al-Kutub al-Tis’ah karya ‘Abd al-Gaffâr Sulaiman al-Bandarî dan Sayyid Kurdi Ḥasan, tidak dicantumkan sebagai guru dari at-Tirmiżi, asumsi penulis, bahwa Maḥmud bin Gailân adalah guru at-Tirmiżi yang tidak popular.

Indikasi kecacatan yang kedua adalah: perawi Khâlid al-Khazzâ’i dinilai kurang ṡiqah kaazrena dari ke-empat kitab rijâl al-Hadiṡ yang kami sebutkan di atas, tidak luput dari memberikan komentar tercela –dengan lafal yang ringan- terhadap perawi tersebut. Meski terdapat juga ulama yang menilai baik, tapi melihat seimbangnya penilaian tersebut, ditambah dengan informasi târikh ar-Ruwwât-nya yang sedikit janggal, yaitu beliau diklaim mengikuti gerakan politik dan hafalannya berubah ketika memasuki masa tua, menambah ketercacatan dari perawi tersebut.

Dilihat dari segi matan, maka menurut penulis, terdapat kata yang musykil, yang perlu diketahui maknanya secara tepat agar bisa mendapatkan pemahaman yang baik. Kata yang musykil di situ adalah lafal فأذنا dan أقيما. Lafal فأذنا merupakan kata perintah yang berasal dari kata kerja ażżana أذَن atau âżana آذَن. Keduanya sama-sama memiliki arti memberitahu, mengumumkan, memberi izin atau secara khusus ażan[7]. Pengertian ini senada dengan penjelasan lafal yang diberikan oleh Muslim:

فأذن أي أعلم بالرحيل و في بعض النسخ فأذن بلا مد و بذال مشددة و هو بمعناه

Adapun lafal آذَن adalah pemberitahuan akan sebuah pemberangkatan, dalam sebagian tulisan juga, ditulis أذَن tanpa panjangnya huruf “a” dan bertasydidnya huruf “żal”, dengan makna yang sama.

Pengertian secara bahasa tadi, memberikan kesimpulan, bahwa jika lafal فأذنا, diartikan perintah Rasulullah untuk memberitahukan pemberangkatan mereka yang hendak berhaji, maka itu sedikit janggal karena tidak memiliki hubungan dengan lafal selanjutnya yaitu أقيما. Sehingga menurut penulis, arti dari lafal secara bahasa yang paling cocok adalah Rasulullah menyuruh untuk ber-ażan, lalu setelah itu ber-iqâmah. 

Persoalan selanjutnya adalah, apakah pengertian secara teks tersebut sudah tepat, sehingga maksud dari hadis ini adalah dianjurkannya orang yang hendak berhaji untuk ażan dan iqâmah? ataukah terdapat makna lain yang lebih tepat dalam memahaminya?

Secara nalar induktif, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengklarifikasi hadis tersebut pada ayat-ayat al-Qur’an tentang haji. Dalam al-Qur’an terdapat banyak ayat-ayat yang berkaitan tentang baitullah, Mekkah, kisah penyembelihan, syiar-syiar Allah dalam haji dan segala hal yang berkaitan dengan ibadah haji. Adapun ayat-ayat yang berkaitan dengan proses haji diantarnya:

Surah al-Baqarah, ayat: 196 – 203:

وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ فَإِنْ أُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ وَلا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِنْ رَأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِنْ صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ فَإِذَا أَمِنْتُمْ فَمَنْ تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ ذَلِكَ لِمَنْ لَمْ يَكُنْ أَهْلُهُ حَاضِرِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (١٩٦) الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلا رَفَثَ وَلا فُسُوقَ وَلا جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الألْبَابِ (١٩٧) لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلا مِنْ رَبِّكُمْ فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِنْ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ (١٩٨)ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (١٩٩) فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاقٍ (٢٠٠) وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (٢٠١) أُولَئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ (٢٠٢) وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ لِمَنِ اتَّقَى وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ (٢٠٣)

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan 'umrah karena Allah, jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) korban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban, apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan 'umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat, tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna, demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjid al-Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya; (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafaṡ, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal; Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari 'Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy'ar al-Haram. Dan berżikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat; Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak ('Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang; Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berżikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berżikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat; Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”; Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian daripada yang mereka usahakan, dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya; Dan berżikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang. Barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya, dan barangsiapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosa pula baginya, bagi orang yang bertakwa. Dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya.”

al-Ḥaj, ayat: 26 – 37:

وَإِذْ بَوَّأْنَا لإبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ (٢٦) وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ (٢٧) لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الأنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ (٢٨) ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ (٢٩) ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَأُحِلَّتْ لَكُمُ الأنْعَامُ إِلا مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الأوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ (٣٠) حُنَفَاءَ لِلَّهِ غَيْرَ مُشْرِكِينَ بِهِ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ (٣١) ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ (٣٢) لَكُمْ فِيهَا مَنَافِعُ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ مَحِلُّهَا إِلَى الْبَيْتِ الْعَتِيقِ (٣٣) وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الأنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ (٣٤) الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَالصَّابِرِينَ عَلَى مَا أَصَابَهُمْ وَالْمُقِيمِي الصَّلاةِ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (٣٥) وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ كَذَلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (٣٦)لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ (٣٧)

“Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): "Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku' dan sujud; Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh; Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir; Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan ṭawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah); Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta; Dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh; Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati; Bagi kamu pada binatang-binatang hadyu itu ada beberapa manfaat, sampai kepada waktu yang ditentukan, kemudian tempat wajib (serta akhir masa) menyembelihnya ialah setelah sampai ke Baitul Atiq (Baitullah); Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah); (Yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka; Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi'ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur; Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS: 22: 26-37).

Rangakaian ayat-ayat tentang haji yang dipaparkan di atas, memberikan gambaran umum proses haji mulai dari permulaan hingga selesainya haji ditunaikan. Pada kelompok ayat pertama, diberitahukan bahwa bagi orang-orang yang bertekad untuk menunaikan haji, maka hendaknya ia menjauhi rafaṡ, yaitu tidak berkata jorok, perkataan yang menimbulkan birahi dan perbuatan yang tidak senonoh[8], tidak berbuat fasik dan bertengkar dalam melakukan ibadah haji dan diperintahkan untuk senantiasa berbuat baik. 

Sementara pada kelompok ayat kedua, dijelaskan bahwa orang-orang yang berhaji, akan datang dari segenap penjuru dunia dengan berjalan kaki, mengendarai unta dan berbagai macam sarana transport lainnya. Hendaknya pula bagi orang yang berhaji untuk membersihkan diri-diri mereka, memenuhi nazar-nazar mereka, menjauhi perkataan dusta dan ikhlas kepada Allah swt.

Berdasarkan informasi dari dua kelompok ayat ini, tidak ada satupun ayat yang menyuratkan anjuran melakukan ażan dan iqâmah ketika hendak melakukan safar haji. Dalam ayat tersebut, memang terdapat anjuran untuk memperbanyak pengucapan zikir, tapi menurut penulis, jika ażan dan iqâmah dalam hal ini digolongkan sebagai sebuah zikir maka itu terlalu dipaksakan, karena anjuran untuk berzikir dalam ayat itu tidak hanya ketika hendak berhaji, tapi juga sedang dan setelah berhaji.

Berdasarkan itu semua, maka setelah menghubungkannya dengan ayat-ayat al-Qur’an mengenai haji, terdapat dua opsi kesimpulan; 

Pertama, bahwa memang ażan dan iqâmah itu bukan sebuah anjuran ketika hendak berhaji, sehingga pemaknaan lafa فأذنا dan أقيما harus dimaknai lain. 

Kedua, hadis itu berfungsi sebagai tafṣil atau perinci dari hal-hal yang harus dilakukan ketika haji, sehingga ażan dan iqâmah termasuk perbuatan baik yang dianjurkan ketika hendak berhaji.

Analisis selanjutnya untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam dan komperhensif, sebagaimana dalam pola nalar induktif adalah, mengaitkan hadis dengan hadis-hadis lainnya yang memiliki makna sama. Dalam pencarian hadis dengan makna yang sama, penulis menggunakan kata kunci أَذِّنَا وَأَقِيمَا. Berdasarkan kata kunci ini, didapatkan hadis-hadis yang berkaitan sebagai berikut:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا أَبُو شِهَابٍ عَنْ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ قَالَ انْصَرَفْتُ مِنْ عِنْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَنَا أَنَا وَصَاحِبٍ لِي أَذِّنَا وَأَقِيمَا وَلْيَؤُمَّكُمَا أَكْبَرُكُمَا

Telah bercerita kepada kami Aḥmad bin Yunus telah bercerita kepada kami Abu Syihâb dari Khâlid Al Hażżâ'i dari Abu Qilâbah dari Malik bin Al Huwairiṡ berkata; Aku berpamitan pulang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lalu Beliau bersabda kepada kami, aku dan sahabatku: "Ażanlah lalu qamat dan hendaklah yang menjadi imam siapa yang paling tua usianya diantara kalian berdua".[9]

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ خَالِدٍ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ وَهُوَ أَبُو سُلَيْمَانَ أَنَّهُمْ أَتَوْا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ وَصَاحِبٌ لَهُ أَوْ صَاحِبَانِ لَهُ فَقَالَ أَحَدُهُمَا صَاحِبَيْنِ لَهُ أَيُّوبُ أَوْ خَالِدٌ فَقَالَ لَهُمَا إِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَأَذِّنَا وَأَقِيمَا وَلْيَؤُمَّكُمَا أَكْبَرُكُمَا وَصَلُّوا كَمَا تَرَوْنِي أُصَلِّي

Telah menceritakan kepada kami Muḥammad bin Ja'far, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Khâlid dari Abu Qilâbah dari Malik bin Huwairiṡ yaitu Abu Sulaiman bahwa mereka datang menemui Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam, ketika itu di samping beliau ada seorang sahabat, -atau dua orang sahabat, lalu salah satu dari keduanya berkata -Ayyub atau Khalid-, lalu beliau bersabda kepada keduanya: "Apabila datang waktu shalat, maka kumandangkanlah, dan dirikanlah shalat, hendaklah orang yang lebih tua diantara kalian menjadi imam, lalu shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat."[10]

حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ هِلَالٍ الصَّوَّافُ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ عَنْ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ قَالَ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا وَصَاحِبٌ لِي فَلَمَّا أَرَدْنَا الِانْصِرَافَ قَالَ لَنَا إِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَأَذِّنَا وَأَقِيمَا وَلْيَؤُمَّكُمَا أَكْبَرُكُمَا

Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Hilâl Aṣ-Ṣawwâf berkata, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai' dari Khalid Al-Hażżai` dari Abu Qilâbah dari Malik Ibn al-Huwairiṡ ia berkata, "Aku bersama dengan seorang temanku datang menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka ketika kami akan pergi beliau bersabda kepada kami: "Jika waktu shalat tiba, maka ażan dan iqâmahlah kalian, dan hendaklah yang paling besar dari kalian menjadi imam. "[11]

خْبَرَنَا حَاجِبُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْمَنْبِجِيُّ عَنْ وَكِيعٍ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ قَالَ أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا وَابْنُ عَمٍّ لِي وَقَالَ مَرَّةً أَنَا وَصَاحِبٌ لِي فَقَالَ إِذَا سَافَرْتُمَا فَأَذِّنَا وَأَقِيمَا وَلْيَؤُمَّكُمَا أَكْبَرُكُما

Telah mengabarkan kepada kami Ḥâjib bin Sulaiman Al Manbiji dari Waki' dari Sufyân dari Khâlid al-Ḥażża'i dari Abu Qilâbah dari Malik bin Al-Huwairiṡ dia berkata; "Aku pernah datang kepada Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam bersama anak pamanku -pada kesempatan lain ia berkata, "bersama temanku"- lantas Nabi Shallallahu'alaihi wasallam bersabda, 'Jika kalian berdua melakukan perjalanan, maka ażan dan iqâmahlah, dan hendaknya yang paling tua menjadi imam bagi yang lain'[12]

Berdasarkan semua hadis-hadis ini, terdapat informasi lebih lengkap dari hadis sebelumnya, di mana dalam sunan Ibnu Mâjah dan Sunan an-Nasâ’i terdapat tambahan lafal إِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ, yang menunjukkan bahwa lafal فَأَذِّنَا وَأَقِيمَا adalah ażan dan iqâmah disebabkan masuknya waktu shalat, bukan karena hendak berhaji. Sehingga hadis di atas, tidak menunjukkan adanya anjuran untuk melakukan ażan dan iqâmah ketika hendak berhaji, melainkan ketika masuk waktu sholat sementara dalam perjalanan.

Begitu pun dengan penjelasan yang diberikan oleh ulama mengenai hadis-hadis ini. Diantaranya syarh dalam kitab Fatḥ al-Bâri[13]


حدثنا مسدد : ثنا يزيد بْن زريع : ثنا خَالِد ، عَن أَبِي قلابة ، عَن مَالِك ابن الحويرث ، عَن النَّبِيّ ( ، قَالَ : ( ( إذا حضرت الصلاة فأذنا وأقيما ، وليؤمكما أكبركما ) ) .وقد تقدم هَذَا الحَدِيْث فِي ( ( أبواب الأذان ) ) ، خرجه البخاري هناك من حَدِيْث الثوري ، عَن خَالِد الحذاء ، ولفظ حديثه : أتى رجلان النَّبِيّ ( يريدان السفر ، فَقَالَ النَّبِيّ ( : ( ( إذا أنتما خرجتما فأذنا وأقيما ، وليؤمكما أكبركما ) ) .وخرجه هناك - أيضاً - من حَدِيْث أيوب ، عَن أَبِي قلابة ، عَن مَالِك بْن الحويرث ، قَالَ : أتيت النَّبِيّ ( فِي نفر من قومي ، فأقمنا عنده - فذكر الحَدِيْث - ، وفي أخره : ( ( فإذا حضرت الصلاة فليؤذن أحدكم ، وليؤمكم أكبركم ) ) .فرواية أيوب تدل عَلَى أنهم كانوا جماعة ، فلا يحتج بِهَا عَلَى أن الاثنين جماعة ، وإنما يحتج لذلك برواية خَالِد الحذاء ؛ فإنه ذكر فِي روايته أنهما كانا اثنين ، وأن النَّبِيّ ( أمرهما أن يؤمهما أكبرهما ، فدل عَلَى أن الجماعة تنعقد باثنين .
Telah mengabarkan kepada kami musaddad, telah memberitahukan pada kami Yazîd bin Zurai’, memberitakan kepada kami Khâlid, dari Abi Qilâbah, dari Malik Ibn al-Huwairiṡ, Dari Nabi saw, bersabda : “apabila telah datang waktu Shalat maka hendaknya kalian berdua mengumandangkan ażan dan iqâmah, dan hendaknya yang paling tua di antara kalian menjadi imam. 

Hadis ini sudah ada sebelumnya pada bab pembahasan “bab-bab ażan”.(yaitu) Hadis diriwayatkan oleh Bukhari, yang berasal dari hadisnya aṡ-Ṡauri, dari Khalid al-Hażża’i, lafal hadisnya sebagai berikut: “dua orang laki-laki mendatangi Nabi saw, di mana keduanya hendak bersafar. Maka bersabdalah Rasulullah, “apabila kalian berdua keluar bersafar, maka hendaknya kalian ażan dan beriqâmah (menegakkan shalat) dan hendaknya yang paling tua di antara kalian menjadi imam. Dan di dalam bab itu juga terdapat hadis dari Ayub, dari Malik al-Huwairiṡ, ia berkata “aku mendatangi Nabi saw (saat itu aku bersama kaumku). Lalu kami melaksanakan shalat bersama beliau, lalu beliau menyebutkan hadis, yang diakhirnya, Ia bersabda “ dan apabila telah datang waktu shalat maka hendaknya salah satu diantara kalian ażan dan yang paling tua menjadi imam

Dalam riwayat Abu dawud ini menunjukkan bahwa pada saat itu mereka dalam kelompok, sehingga hadis ini tidak bisa dijadikan ḥujjah bahwa dua orang sudah disebut sebagai jama’ah. Adapun riwayat yang dijadikan ḥujjah bahwa dua orang sudah disebut jama’ah adalah riwayat milik malik al-Huwairiṡ, karena pada saat itu dia dua orang dan Nabi menyuruh yang paling tua di antara mereka menjadi imam, sehingga hadis ini menunjukkan ukuran jama’ah itu dua orang.

Dalam konteks keterangan ini, bahwa yang diperbincangkan dalamnya adalah masalah ukuran jama’ah dalam shalat, artinya lafal فأذنا وأقيما bukan ketika hendak bersafar, tapi ketika waktu shalat telah masuk.

Juga dalam kitab at-Tamhîd limâ fi al-Muwaṭṭa min al-Ma’âni wa al-Asânid[14]:

….أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال له ولصاحبه "إذا كنتما في سفركما فأذنا وأقيما وليؤمكما أحدكما" وهو قول أهل الظاهر ولا أعلم أحدا قال بقوله من فقهاء الأمصار إلا ما روى أشهب عن مالك وما روي عن الأوزاعي فيمن ترك الإقامة دون الأذان وهو قول عطاء ومجاهد وقال الثوري تجزئك الإقامة في السفر عن الأذان وإن شئت أذنت وأقمت وتكفيك الإقامة وإن صليت بغير أذان ولا إقامة أجزتك صلاتك وقال الشافعي وأبو حنيفة وأصحابهما وهو قول أبي ثور وأحمد وإسحاق والطبري إذا ترك المسافر الأذان عامدا أو ناسيا أجزأته صلاته وكذلك لو ترك الإقامة عندهم لم تكن عليه إعادة صلاته وقد أساء إن تركها عامدا وهو تحصيل مذهب مالك أيضا

…Rasulullah bersabda padanya dan pada sahabatnya, “jika kalian berdua dalam keadaan safar, maka hendaknya kalian ażan dan iqâmah, dan hendaknya yang paling tua diantara kalian menjadi imam, ini merupakan pendapat ahli Zâhir, dan aku tidak mengetahui satu pun fuqaha kota besar yang menjadikan hadis ini sebagai pegangan atas pendapat mereka kecuali hadis yang diriwayatkan oleh Asyhâb dari mâlik dan hadis yang diriwayatkan oleh al-Awzâ’i mengenai orang yang meninggalkan iqâmah. Ini (juga) pendapat ‘Aṭa dan Mujâhid. Aṡ-Ṡauri berpendapat bahwa beriqâmah (ketika hendak shalat) dalam perjalan tanpa ażan itu sudah cukup. Jika kamu ingin ażan dan iqâmah hal itu boleh. Iqâmah itu sudah cukup untukmu, jika kamu melakukan shalat tanpa ażan dan tanpa iqamah, itu pun juga boleh. Syâfi’i, Abu Hanîfah dan sahabat-sahabatnya berpendapat –dan ini juga pendapat yang dipegangi aṡ-Ṡaur, Aḥmad, Ishâq dan Ṭabari, bahwa apabila orang yang sedang bersafar tidak ażan secara sengaja ataupun karena lupa, maka shalatnya tetap sah. Sehingga apabila iqamah ditinggalkan maka tidak wajib baginya untuk mengulangi shalat, akan tetapi meninggalkan iqâmah secara sengaja merupakan hal yang tidak baik. Pendapat ini juga dipegangi oleh mâlik.

Penjelasan dalam kitab ini juga tentang hukum meninggalkan ażan dan iqâmah ketika melakukan shalat saat sedang bersafar. Berbagai macam ulama memberikan komentar mengenai hal tersebut yang semuanya dalam satu konteks yaitu shalat ketika safar. Hal ini kembali menguatkan bahwa lafal فأذنا وأقيما tidak menunjukkan anjuran ażan dan iqâmah ketika hendak berhaji.

Juga dalam kitab Syarh Ṣaḥîḥ al-Bukhâri[15]:

….قال النَّبِيِّ عليه السلام : ( إِذَا حَضَرَتِ الصَّلاةُ ، فَأَذِّنَا وَأَقِيمَا ، ثُمَّ لِيَؤُمَّكُمَا أَكْبَرُكُمَا ) . اختلف العلماء فى أقل اسم الجمع ، فذهب قوم إلى أن الاثنين جمع ، واستدلوا بهذا الحديث ، وقالوا : كل جماعة قليلة كانت أو كثيرة ، فالمصلى فيها له سبع وعشرون درجة ، قال إبراهيم النخعى : إذا صلى الرجل مع الرجل لهما أجر التضعيف خمس وعشرون درجة ، وهما جماعة . وقالت طائفة : الثلاثة جماعة ، روى ذلك عن الحسن البصرى ، وقال إسماعيل بن إسحاق : فى حديث أبى بن كعب ، أن النبى ، عليه السلام ، قال : ( صلاة الرجل مع الرجل أزكى من صلاة الرجل وحده ) دليل أن صلاة الرجل مع الرجل فى معنى الجماعة .

…Nabi saw bersabda: “jika telah datang waktu Shalat, makan hendaknya kalian berdua ażan dan iqâmah kemudan hendaknya yang paling tua di antara kalian menjadi imam. Para ulama berselisih pendapat mengenai ukuran jama’ah paling kecil. Sekelompok berpendapat bahwa dua orang itu sudah dianggap jama’ah. Mereka berpegang pada dalil ini. Sementara yang lain berpendapat, bahwa semua shalat yang dilakukan secara berjama’ah baik itu sedikit maupun banyak maka orang yang shalat dalam jama’ah itu mendapatkan pahala sebesar dua puluh tujuh derajat, Ibrahim an-Nakha’i berpendapat: apabila seorang laki-laki shalat dengan seorang lainnya, maka bagi mereka pahala yang berlipat, yaitu dua puluh lima derajat, dan keduanya sudah disebut berjama’ah. Sementara sekelompok lainnya berpendapat: tiga orang itulah disebut jama’ah, pendapat ini diriwayatkan dari Ḥasan al-Biṣri. Sedangkan Isma’il bin Ishâq berpendapat bahwa hadis yang diriwayatkan oleh Ubay bin Ka’ab: Rasulullah bersabda “shalat seorang laki-laki bersama laki-laki lainya itu lebih utama dari pada shalatnya secara sendirian”, menunjukkan bahwa shalatnya seorang laki-laki dengan seorang lainnya sudah masuk dalam makna berjama’ah.

Penjelasan dalam kitab ini berbicara tentang pertentangan ukuran minimal dalam shalat berjama’ah dengan berpegang pada hadis-hadis yang sedang diteliti sekarang. Keterangan ini semakin menguatkan bahwa lafal فأذنا وأقيما tidak bisa berpengertian melakukan ażan dan iqâmah ketika hendak bersafar, baik itu safar untuk haji maupun safar untuk lainnya.
Penjelasan Hadis Azan dan Iqomah Saat Safar Haji
Azan / Alartemag.be
Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, yaitu dengan menganalisa kata-kata kunci yang dianggap musykil, lalu mengaitkannya dengan ayat-ayat yang berkaitan dengan topik yang sedang dibicarakan dan menghubungkannya pula dengan hadis-hadis yang se-tema, dapat disimpulkan bahwa menjadikan hadis yang diteliti di atas sebagai pegangan dalam menganjurkan ażan dan iqâmah ketika hendak bersafar merupakan hal yang salah, karena mengartikan lafal فأذنا وأقيما dengan arti “melakukan ażan dan iqâmah ketika hendak bersafar adalah arti yang tidak sesuai dengan konteks hadis”. 

Arti yang sebenarnya dalam hadis tersebut, dikaitkan dengan konteks yang ada adalah ber-ażan dan ber-iqâmah ketika datang waktu shalat saat sedang bersafar. Maka melakukan ażan dan iqâmah ketika hendak bersafar baik haji maupun safar lainnya dengan menganggap hal itu dianjurkan berdasarkan hadis yang diteliti di atas adalah hal yang diada-adakan dan tidak memiliki sandaran.

Nalar induktif dalam memahami matan suatu hadis yang ditawarkan oleh Muh. Zuhri ternyata mampu dengan baik membantu menyimpukan pemahaman secara tepat dan komplit sehingga bisa mengambil hukum dengan tepat pula

Penutup


Tentunya kajian terhadap ma’ân al-Hadis sangat banyak, disebabkan banyak pula tawaran metodologis yang ditawarkan oleh ulama-ulama lainya. Untuk itu penelitian terhadap hadis ini atau hadis-hadis lain yang sama dengan yang dikaji oleh penulis sekarang sangatlah menarik untuk dilakukan, agar menambah wawasan intelektual, dan menambah kelimuan dalam menjawab masalah-masalah yang tengah berkembang sekarang

Daftar Bacaan


Al-Bagdâdi, Syihâb ad-Dîn, Fatḥ al-Bâri, Arab Saudi: Dâr Ibn al-Jauzi, 1422, Maktabah Syamilah, V. 4.83

al-Bikri al-Qurṭûbi, Ibn al-Baṭṭâl, Syarh Ṣaḥîḥ al-Bukhari, Riyaḋ : Maktabah ar-Rasyd, 2003, Software Maktabah Syamilah, V. 4.83

Al-Bukhari, Ibrâhîm bin Al-Mugîrah, Al-Jâmi’ aṡ-Ṡaḥîḥ, Mesir : Dâr as-Sya’b, Maktabah Syamilah, V. 4.83

Al-Qazwaini, Muḥammad bin Yazîd, Sunan Ibn Mâjah, Maktabah Abi al-Mu’âṭî, Maktabah Syamilah, V. 4.83

An-Nasa’i, Syu’aib bin ‘Ali, Sunan al-Kubrâ, Muassasah ar-Risâlah, Maktabah Syamilah, V. 4.83

At-Tirmiżi, Abu ‘Îsa, Al-Jâmi’ aṡ-Ṡaḥîḥ Sunan at-Tirmiżi, Beirut : Dâr Iḥyâ’ at-Turaṡ, Maktabah Syamilah, V. 4.83

Ibn ‘Âṣim an-Namiri, ‘Abd al-Bar, At-Tamhîd lima fî al-Muwaṭṭa’ min al-Ma’âni wa al-Asânid, Muassasah al-Qurṭûbi, Software Maktabah Syamilah, V. 4.83

www.nu.or.id

Zuhri, Muhammad, Tela’ah Matan Hadis, Sebuah Tawaran Metodologis, Yogyakarta: LESFI, 2003

Catatan Kaki

[1] Selengkapnya dapat dilihat di www.nu.or.id

[2] Muhammad Zuhri, Tela’ah Matan Hadis, Sebuah Tawaran Metodologis, (Yogyakarta : LESFI, 2003) hlm. 65
[3] Ibid.

[4] Ibid, hlm, 66
[5] Ibid, hlm. 72

[6] Sunan at-Tirmżi, bab al-Ażan fi as-Safar, juz 1, hlm.399, no hadis 205 (tidak ada di Mizan al-I’tidâl)

[7] Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir, (Surabaya: pustaka progressof, 1997), hlm. 15
[8] kementerian Agama, Syamil al-Qur’an edisi tajwid, (Jakarta: Sygma, 2010), hlm. 32

[9] Ṣaḥîḥ al-Bukhâri, jilid ke-empat, bab kitab bid’i al-Waḥyi, hlm. 33, No. Hadis. 2848 (Software Maktabah as-Syamilah versi 3.48)

[10] Musnad Imam Aḥmad, jilid ke-5, bab Baqiyyah Hadîṡ mâlik bin al-Huwairiṡ, hlm. 53, no Hadis. 20549 (Software Maktabah as-Syamilah versi 3.48)

[11] Sunan Ibnu Mâjah, Bab Man Ahaqqu bi al-Imâmah, hlm. 313, no Hadis. 979 (Software Maktabah as-Syamilah versi 3.48)

[12] Sunan an-Nasâ’i, jilid ke-dua, bab ażan al-Munfaridina fi as-Safar, hlm. 8, no Hadis. 634 (Software Maktabah as-Syamilah versi 3.48)

[13] Fatḥ al-Bâri, jilid ke-empat, bab al-Kalâm iża uîimat aṣ-Ṣalâh, hlm. 51, (Software Maktabah as-Syamilah versi 3.48)

[14] At-Tamhîd limâ fi al-Muwaṭṭa’ min al-Ma’âni wa al-Aâanid, jilid ke-sembilan, bab al-Ḥadîṡ aṡ-Ṡâliṡ, hlm. 279 (Software Maktabah as-Syamilah versi 3.48)

[15] Syarḥ Ṣaḥîḥ al-Bukhâri, jilid ke-2, bab Ṣalâh al-Jamâ’ah wa al-Imâmah, hlm. 283 (Software Maktabah as-Syamilah versi 3.48)


0 Response to "Hukum Azan dan Iqomah Saat Pemberangkatan Haji"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!