Hukum Membayar Fidyah dengan Uang

Advertisement
Tongkronganislami.net - Salah satu sendi ajaran Islam yang diatur secara kompleks adalah puasa. Tentunya telah diketahui, aturan-aturan puasa sudah sedemikian jelas telah diatur dalam nash-nash zahir, baik itu yang terdapat dalam al-Qur'an, maupun dalam hadits-hadits Rasulullah, pengaturan itu hingga menentukan tebusan bagi siapa yang dengan secara khilaf merusak puasanya, atau sengaja namun segera menyesal dan mau menebus puasanya yang rusak tadi. kententuan tersebut dalam islam disebut fidyah.

Salah satu ketentuan fidyah yang secara implisit telah diatur oleh nash al-Qur'an (al-Baqarah: 184) ialah, memberi makan orang miskin. Secara jelas, nash ini menunjukkan bahwa yang dipakai untuk menebus adalah makanan yang diberikan untuk orang miskin. Namun pada masa sekarang, dimana orang-orang melakukan banyak hal dengan uang, mereka menggunakan uang juga dalam hal membayar fidyah, padahal di zaman Nabi serta para sahabat, praktek membayar fidyah hanya memakai makanan saja. Oleh karenanya, apakah membayar fidyah (memberi makan orang miskin) dengan uang dibolehkan?

Berdasarkan masalah ini, penulis mencoba untuk menganalisa hukum penggunaan uang sebagai pembayaran fidyah, hal ini menurut penulis tidak kalah pentingnya dengan masalah kontemporer lainnya, karena secara langsung bisa kita temukan keresahan, kegelisahan dan kebimbangan masyarakat mengenai masalah ini di mana mereka takut tebusan yang mereka lakukan tidak seusai syariat islam, juga tidak sedikit oran-orang yang faham agama Islam memberi jawaban yang berbeda mengenai hal ini (hasil penelitian lapangan, penulis menemukan beberapa pertanyaan yang sama di beberapa pengajian mengenai masalah ini)

Berdasarkan urutan nalar dalam fiqih, mula-mula kita melihat dan menganalisa masalah fidyah ini dari penalaran bayani-nya, yaitu melihat dalil yang menjadi dasar dari pemberlakuan fidyah tersebut. Maka dalam masalah ini, harus diperjelas makna lafadzh at-tho'am pada ayat yang mendasari pemberlakuan fidyah, yaitu al- Baqarah ayat 184 :

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya: (yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barang siapa diantara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa) pada hari-hari lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan orang miskin. Tetapi barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya jika kamu mengetahui.

Ayat di atas menunjukkan kata at-tho'am berpengertian umum, artinya segala yang dapat dimakan termasuk makanan masak, mentah, buah-buahan, biji-bijian atau lain sebagainya yang telah diamalkan Rasulullah berseta para sahabatnya. 
Hukum Membayar Fidyah dengan Uang
Fidyah / Lazisalharomain.com
Dalam tafsir al-Manar, mengenai ayat ini, Muh Abduh memberikan tafsiran mengenai fidyah, bahwa fidyah merupakan rukhsah (keringanan) bagi orang yang tidak mampu lagi berpuasa selamanya atau dalam jangka waktu yang lama, seperti orang tua yang telah renta atau orang sakit yang susah diharapkan kesembuhannya, berdasarkan hadits yang terdapat dalam sunan ad-Daruqhutni jilid 3 halaman 194 dan al-Silsilah as-Shohihah al-Mujalladat al-Kamilah bab 1606, juz 4, halaman 108

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ رُخِّصَ لِلشَّيْخِ الْكَبِيرِ أَنْ يُفْطِرَ وَيُطْعِمَ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا ، وَلاَ قَضَاءَ عَلَيْهِ

Artinye: Dari Ibnu Abbas ia berkata: diberi keringanan bagi orang yang sudah sangat tua, untuk tidak berpuasa dan (hendaknya) ia memberikan makan pada orang miskin tiap hari, dan tidak ada qadha (pengganti) baginya.

Menurut orang hijaz kata tha'am berarti biji-bijian seperti gandum, beras dan sebagainya. Lalu pada hadits riwayat al-Bukhari dari Abu Hurairah disebut "itha'mu sittina miskinan", artinya memberi makan 60 orang miskin dapat dengan memberikan kurma yang telah masak yang disebut tamar.

Kemudian, jika kita telusuri lagi pada kata at-tho'am dalam ayat lain, semisal dalam surat al-Ma'un ayat 3 :

وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ

Artinya: Dan tidak mendorong untuk memberi makan orang miskin 

Muhammad Abduh memberikan penafsiran bahwa ayat ini mendorong orang untuk membenarkan agama itu dengan membantu orang-orang fakir. Selanjutnya beliau menyebutkan pula. Bahwa ayat seperti ini disebutkan juga dalam surat al-Fajr ayat 17 dan 18, yang artinya: "sekali-kali tidak demikian, sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim dan mengajak memberi makan orang miskin", masih menurut Abduh, sebaik-baik jalan untuk memuliakan anak yatim dan mengajak memberi makan orang miskin ialah dengan menolong orang-orang fakir dan menutupi kebutuhan.

Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan, kata-kata at-tho'am (sebagaimana yang dijelaskan oleh abduh) tidak hanya berkisar pada makanan saja, melainkan mendorong untuk memberikan bantuan sesuai dengan kebutuhan si fakir dalam rangka menolongnya, artinya, bantuan itu bisa berupa apa saja sesuai kebutuhan si fakir, termasuk sejumlah uang. Pengertian ini juga didukung oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya jilid ke 4 halaman 393 terbitan dar al-Kutub al-Ilmiyah, ketika menafisrkan surat al-Insan ayat ke 8:

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

Artinya: Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan"

Dalam menafsirkan ayat ini, Imam al-Hafizh Ibnu Katsir, mengaitkannya dengan hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dan telah dishohihkan oleh Nasaruddin al-Bani:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم يَا رَسُولَ اللهِ أَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ قَالَ : أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ حَرِيصٌ تَأْمُلُ الْغِنَى وَتَخْشَى الْفَقْرَ 

Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, Ia berkata, bertanya seorang lelaki pada Nabi saw, "wahai Rasulullah saw sedekah apa yang paling utama?" Nabi saw menjawab: "engkau bersedekah dan pada saat itu dalam keadaan sehat lagi sangat mengingnkan harta, yaitu engkau berharap menjadi kaya dan khawatir menjadi miskin"

Kemudian Ibnu Katsir menjelaskan lebih terperinci lagi, yaitu keadaan seseorang mencintai harta lagi sangat membutuhkan dan menginginkannya. Di sini menunjukkan bahwa, pemberian makanan termasuk sedekah yang meliputi harta yang sangat dicintai, bisa berupa apa saja, termasuk uang.

Analisis selanjutnya bisa dilihat dari tafsiran Muhammad Abduh mengenai fidyah ini, bahwa fidyah itu merupakan rukhsah bagi orang yang tak sanggup lagi berpuasa. Jadi, dikarenakan adanya orang yang nantinya tidak bisa berpuasa seperti halnya orang tua renta atau berpenyakit yang susah diharapkan kesembuhannya, maka Allah memberlakukan fidyah kepada mereka, untuk itu, sejatinya fidyah tidak lagi menjadi sebuah kesulitan bagi orang yang tidak bisa melakukan ibadah asal, sehingga, dengan memakai nalar ta'lili uang pun bisa menggantikan dan disamakan dengan makanan dalam hal membayar fidyah tersebut, dikarenakan unsur memberi peringanan terhadap orang yang membayar juga bisa dijangkau oleh uang, bahkan untuk zaman sekarang dimana orang bertransaksi pasti memakai uang, muka uang sangatlah relevan dan hukumnya dibolehkan sebagai pembayaran fidyah, hal ini berdasarkan kaedah ushul fiqih:

الحكم يدو ر مع علته وجودا وعدما

Artinya: Hukum itu berlaku berdasarkan ada tidak adanya illat

Lalu jika dilihat dari segi kemanfaatan, maka uang lebih utama dibanding hanya sekedar membayar fidyah dengan makanan, karena pada dasarnya fidyah tidak hanya masuk dalam daerah ta'abbudi semata melainkan juga mumalah karena fidyah tidak hanya bertujuan untuk menjadi pengganti puasa bagi orang yang tidak mampu lagi berpuasa, tetapi juga sebagai bentuk pertolongan kepada fakir miskin. sehingga yang harus lebih dipertimbangkan adalah kemashlahatan objek pembayarannya yaitu orang miskin, karena fidyah, selain sebagai pengganti juga merupakan bentuk dari sedekah, sementara tujuan sedekah adalah menolong dan membantu menutupi kebutuhan fakir miskin, untuk itu, perlu adanya kesesuaian antara barang yang disedekahkan dengan kebutuhan orang yang disedekahi. Dan untuk zaman sekarang, tentunya uang lebih diperlukan oleh fakir miskin yang memiliki masalah atau kesusahan, tidak hanya berkisar pada makanan saja. 

Hal ini juga, membolehkan pemakaian uang dalam hal membayar fidyah berdasarkan nalar istislahi-nya, yaitu memberi kemashlahatan berupa kemudahan pembayaran bagi pembayar, juga menjadi sedekah yang lebih bermanfaat bagi orang yang diberi sedekah yang pada keadaannya tidak hanya kesusahan makanan. Adanya kebolehan penggantian makanan dan uang yang berdasarkan kebutuhan fakir miskin dizaman sekarang juga bisa berdasarkan kaedah ushul fiqih:

لا ينكر تغيّر الأحكام بتغيّر الأزمنة والأمكنة

Artinya: tidak dingkari perubahan hukum itu disebabkan oleh perubahan zaman dan tempat. [1]

Kesimpulan
Dilihat dengan kacamata bayani, maka uang sebagai alat pembayaran fidyah merupakan hal yang dibolehkan karena seusai dengan analsis diatas, ternyata makna at-tha'am juga mencakup bantuan selain makanan. 

Kemudian jika dilihat dengan nalar ta'lili maka kebolehannya pun tidak dipermasalahkan, karena rukhsah yang terkandung dalam pemberlakuan fidyah juga bisa dipenuhi oleh uang, bahkan jika melihat dengan nalar istislahi maka akan memperkuat kebolehan memakai uang dalam hal membayar fidyah, sebab uang lebih bisa mencapai segi kemashlahatan bagi pembayar fidyah maupun si penerima fidyah yang dikontekstualisasikan dengan masa dan keadaan masyarakat sekarang.

Daftar Bacaan

Tim pp muhammadiyah majlis tarjih muhammdiyah, Tanya jawab agama 2, suara muhammadiyah, 2003, Yogyakarta

Ridha, rasyid.tafsir al-manar (maktabah syamilah)

Katsir, Ibnu, 2008, Tafsir Ibnu Katsir, Darul Kutub Ilmiyah, Damaskus

Haroen nasrun.ushul fiqh I cetakan ke 2 penerbit logos

Bukhari al, tt, Şahih al Bukhari, Dār al-Kotob, Beirut ( al-Maktabah asy Syamilah )

Daruqhutni, sunan daruqhutni (maktabah asy Samilah)

Catatan Kaki

[1] Nasrun haroen. Ushul fiqh I cetakan ke dua penerbit logos hlm: 143



0 Response to "Hukum Membayar Fidyah dengan Uang "

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!