Hukum Mengucapkan Salam Kepada Nonmuslim

Advertisement
Memaknai Hadis Mengucapkan Salam kepada Non Muslim: Tela’ah buku Fiqih Lintas Agama

Tuduhan

Dalam buku fiqih lintas agama yang ditulis oleh beberapa tokoh Paramadina, yaitu Nurcholish Madjid, Kautsar Azhari Noer, Komaruddin Hidayat, Masdar F Mas’udi, Zainul Kamal, Zauhari Misrawi, budhy Munawar-Rachman, Ahmad Gaus AF, dan Mun’im A Sirry (Editor) terdapat satu pembahasan mengenai mengucapkan salam kepada non-muslim.

Setidaknya dalam pemaparan tersebut penulis buku menggunggat hadis-hadis pelarangan memberikan salam kepada non-muslim dengan beberapa alasan. 

Di antaranya: pertama bahwa fenomena perpecahan dan perselisihan agama yang terjadi sekarang salah satunya karena orang beragama, utamanya orang muslim teralu kaku dan eksklusif dalam memandang hukum Islam. salah satunya hukum larangan mengucapkan salam kepada non-muslim, yang sebenarnya adalah hukum tersebut tidak benar karena berbeda dari nilai luhur Islam yang prinsipil. 

Kedua, hadis tentang pelarangan memberikan salam itu diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Sementara bagi penulis buku Abu Hurairah adalah perawi yang bermasalah, sebab. Ia sering meriwayatkan apa yang sebenarnya tidak diucapkan Nabi. Ia juga ceroboh dan pelupa. Ia meriwayatkan banyak dalam waktu singkat, dengan membandingkan riwayat yang diketengahkan oleh aisyah. Ia juga menuduh abu hurairah adalah pemalas dengan bukti bahwa ia menolak pekerjaan yang ditawarkan Umar. 

Terakhir, hadis-hadis yang diriwayatkannya sering bertentangan dengan riwayat yang lebih shahih.
Bolehkah Mengucapkan Salam kepada non muslim
Gambar Buku Fiqih Lintas Agama

Lafadz Salam yang diucapkan kepada non muslim
Salah satu buku yang menjawab beberapa pernyataan keliru pada buku Fiqih lintas Agama
Tanggapan

Berdasarkan pemaparan ringkas di atas, maka setidaknya ada dua masalah yang harus ditanggapi. 
Pertama, bagaimana memaknai hadis tentang pengucapan salam kepada non muslim. kedua bagaimana melihat sosok Abu Hurairah. Insya Allah tulisan ini akan mengulas dua hal ini.

Dalam masalah pertama, penulis tidak memaparkan penjelasan hadis-hadis dalam tema ini secara universal. Akibatnya pemahaman yang didapatkan parsial. Yang harus dilakukan adalah melihat berbagai macam penjelasan yang telah diberikan oleh para ulama. Sebab tentunya masalah ini sudah dibahas telah oleh ulama kita di kitab-kitab karya mereka.

Adapun hadis-hadisnya:

صحيح مسلم (7/ 5)

5789 – حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ – يَعْنِى الدَّرَاوَرْدِىَّ – عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِى طَرِيقٍ فَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ ».

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa`id, telah menceritakan kepada kamu Abdul Aziz-yaitu Al-Darawardi- bersumber dari Suhail dari bapaknya dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bersabda: “jangan memulai salam pada orang yahudi dan nashrani. Jika salah seorang dari kalian bertemu mereka di jalan, maka desaklah ke pinggir”(Hr. Muslim)

سنن الترمذي –طبعة بشار –ومعها حواشي (4/ 357)
12- بَابُ مَا جَاءَ فِي التَّسْلِيمِ عَلَى أَهْلِ الذِّمَّةِ

2700- حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ ، قَالَ : حَدَّثَنَا عَبْدُ العَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ ، عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لاَ تَبْدَأُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى بِالسَّلاَمِ ، وَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِي طَرِيقٍ فَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ.

هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdul `Aziz bin Muhammad, dari Suhail bin Abi Shalih, dari bapaknya, dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah shallallahu `alaihi wassallam bersabda: “Jangan memulai salam pada orang yahudi dan nashrani. Sedangkan jika kalian menjumpai salah seorang dari antara mereka di jalan, maka paksalah mereka ke pinggir”(Hr. Tirmidzi).

صحيح البخاري (الطبعة الهندية) (ص: 3042)
6024 - حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللهِ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ صَالِحٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ دَخَلَ رَهْطٌ مِنَ الْيَهُودِ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا السَّامُ عَلَيْكُمْ قَالَتْ عَائِشَةُ فَفَهِمْتُهَا فَقُلْتُ وَعَلَيْكُمُ السَّامُ وَاللَّعْنَةُ قَالَتْ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَهْلًا يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ أَوَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ قُلْتُ وَعَلَيْكُمْ

Sesungguhnya A’isyah RA istri nabi SAW berkata, “Sekelompok kaum dari Yahudi memasuki ruangan Rasulillah SAW untuk berkata ‘assaamu alaikum’. A’isyah berkata, “Saya memahami kalimat itu. Sontak saya menjawab ‘wa alaikumussaamu wallanah’,” artinya: Semoga kalian juga dilanda kematian dan laknat.Sontak Rasulillah SAW bersabda, “ (Menjawabnya) yang lembut ya A’isyah, sungguh Allah cinta kelembutan dalam perkara semuanya.” A’isyah berkata, “Saya sontak menjawab ‘ya Rasulallah, apa baginda tidak mendengar yang mereka katakan?’. Rasulillah SAW bersabda, “Sungguh saya tadi telah mengucapkan ‘wa alaikum’ kok.”(Hr. Bukhari).

Imam nawawi memberikan beberapa penjelasan mengenai hadis-hadis tersebut, di antaranya. Maksud dari mendesak orang kafir ke pinggir maksudnya adalah menyuruh mereka untuk minggir. Hal ini agar tidak sampai membuat jalan padat dan sesak. Jikapun harus mendesak mereka, tidak sampai mencelakakan mereka seperti terkantuk tembok atau terjatuh ke kanal. (syarh Nawawi ‘Ala Muslim: 14/147).

Sejalan dengan itu, Mubarakfuri juga menerangkan yang dimaksud mendesak adalah menyuruh mereka minggir sampai seperti bersandar di tembok. Kalau tidak bisa, maka mereka disuruh minggir ke pinggir jalan, (Tuhfah al-Ahwazi 5/188).

Dua keterangan ini menunjukkan bahwa hadis-hadis mengenai hal ini, sama sekali tidak menyuruh umat Islam untuk menyakiti orang kafir.

Secara umum, dalam hal mengucapkan salam kepada non muslim ulama berbeda pendapat. Ada yang menyatakan keharamannya berdasarkan hadis ini.

Ada pula yang menyatakan kebolehannya berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas dan Abu Amamah dan Ibn Abi Muhairiz. 

Terdapat pula pendapat yang menyatakan bahwa pelarangannnya tidak sampai jatuh kepada keharaman. Namun pendapat ini dianggap lemah.

Terdapat juga hadis yang terdapat dalam syarah an-nawawi yang berbunyi (an-Nawawi. Syarh Shahih Muslim, 14/145): 

إن سلمت فقد سلم الصالحون، وإن تركت فقد ترك الصالحون

Berdasarkan hadis ini, al-Qamah dan an-Nakh’iy berpendapat bahwa mengucapkan salam itu boleh dalam keadaan darurat.

Mengenai hal ini, Ibnu Hajar memberikan ulasan yang cukup komperhensif. Dalam Fath al-Bari, beliau menyatakan bahwa hukum mengucapkan salam kepada non muslim ada tiga: pertama, haram. Kedua makruh dan ketiga boleh dalam keadaan dharurat seperti seperti hidup dalam keadaan tertekan. 

Ibn Hajjar kemudian memberikan kesimpulan bahwa yang rajih adalah keharamannya. Sebab salam dalam hal ini adalah salam secara syar’i di mana sesama muslim saling menyalami dengan niat mendoakan keselamatan sesama muslim disebabkan keislaman dan keimanan mereka. Sedangkan salam yang tidak syar’i tentu sangat diperbolehkan kepada non muslim.

Masalah yang kedua adalah bagaimana kita menyikapi sosok Abu Hurairah. Pada kenyataannya, jika ditelurusi lebih dalam, tuduhan-tuduhan yang dilayangkan kepada Abu Hurairah telah lama dilontarkan oleh beberapa orang. Sebut saja Abu Rayyah, Ahmad Amin, Fatimah Mernissi dan A.R. Gibbs. 

Tuduhan ini dilandasi oleh kepentingan menolak hadis-hadis yang tidak sesuai dengan ideologi mereka yang berkisar pada feminisme, liberalisme, atau bahkan yang bertujuan untuk merusak ajaran Islam.

Menyadari hal tersebut, ulama-ulama kita juga telah memberikan jawaban dan kritikan atas tuduhan kepada Abu Hurairah. mengenai tuduhan bahwa Abu Hurairah adalah seorang pelupa, maka itu gugur dengan adanya hadis riwayat al-Bukahri bahwa Rasulullah telah mendoakannya agar hafalan Abu Hurairah menjadi kuat. (Shahih al-Bukhari: 77). 

Berbarengan dengan itu, maka hal ini pun menjawab apa yang dituduhkan oleh penulis buku yang menyatakan mustahil Abu Hurairah menghafal hadis dalam waktu yang singkat. Apalagi, perlu disadari bahwa menghafal hadis di zaman para sahabat tidaklah sesusah zaman para ahli hadis hingga sekarang. 

Hal ini karena di zaman sahabat, orang tidak perlu menghafal sanad yang panjang. Bahkan di zaman tersebut orang lebih mudah menghafal hadis dibanding al-Qur’an yang berkisar enam ribu ayat, mengingat hafalan hadis abu hurairah sebanyak lima ribu tiga ratus.

Tuduhan bahwa Abu Hurairah adalah pemalas juga sangat tidak tepat. Hal ini telah dijelaskan oleh Ibn Hajar al-Atsaqalani. Dalam kitabnya al-ishabah fi tamyiz as-shahabah, beliau menerangkan bahwa keterangan mengenai Abu Hurairah menolak permintaan Umar bin Khattab adalah keterangan yang lemah. 

Jika pun diterima, maka keterangan lengkapnya menunjukkan bahwa Abu Hurairah menolak bukan karean malas, tapi karena ia merasa tidak berhak mendapatkan jabatan tersebut. (Ibn Hajar: al-Ishabah fi Tamyiz as-Shahabah 7/442)

Tuduhan terakhir bahwa riwayat Abu Hurairah sering bertentangan dengan riwayat sahabat yang lain juga terlalu gegabah. Sebab yang sebenarnya adalah pertentangan itu bukan dalam hal Abu Hurairah berdusta atas nama Rasulullah. Tetapi hanya dalam hal kesalahan dalam periwayatan atau pemahaman hadis yang terjadi pada periwayatan bi al-makna. 

Artinya pertentangan itu tidak sering terjadi, kalaupun terjadi maka hanya sedikit saja. pada kenyataannya tidak ada satupun sahabat yang menuduh Abu Hurairah sebagai pendusta. Bahkan para sahabat menaruh hormata kepadanya.

*Qaem Aulassyahied


0 Response to "Hukum Mengucapkan Salam Kepada Nonmuslim"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!